Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 122856 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bambang Parikenan
"Saat ini kepuasan pelanggan bukan hanya dilihat dari sisi fungsionalitas sistem, namun dilihat juga dari sisi stabilitas dan kualitas produk perangkat lunak terhadap fault dan error pada sistem. Kualitas perangkat lunak juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan karakter dan fitur dari suatu perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Berdasarkan konsep tersebut ditemukan bahwa kualitas suatu proyek dapat berhubungan dengan kualitas dari permintaan. pengguna. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen perangkat lunak untuk mengelola teknologi, pengetahuan, dan kebutuhan pengguna terhadap perangkat lunak.

Penelitian ini mencoba untuk mengetahui tingkat kematangan manajemen proyek dan rekomendasi perbaikan yang dapat diterapkan di PT XYZ. Penelitian ini meggunakan framework CMMI-DEV sebagai pengukuran manajemen proyek yang menghasilkan nilai daru suatu level managemen proyek. Setelah itu didapat kesenjangan antara hasil penngukuran saat ini dengan level berikutnya. Untuk memberikan rekomendasi dilakukannya pemetaan terkait hasil pengukuran CMMI-DEV kepada model PMBOK, sehingga dapat memberikan rekomendasi yang diharapkan perusahaan.

Dari hasil penelitian ini didapat tingkat kematangan perusahaan masih pada tingkat 1. Penulis memberikan rekomendasi perbaikan berdasarkan pada tingkat kematangan 2 CMMI-DEV dan dipetakan dengan model PMBOK.


Nowadays customer satisfaction is not only looking for in terms of system functionality, but also in terms of stability and quality of software products against faults and errors in the system. Software quality can also be defined as a set of characters and features of a software that suits the needs of users. Based on this concept it is found that the quality of a project can be related to the quality of demand. the user. Therefore software management is needed to manage technology, knowledge, and user requirements for the software.

This study tries to determine the level of project management maturity and recommendations for improvement that can be applied at PT XYZ. This study uses the CMMI-DEV framework as a measurement of project management that generates value from a level of project management. After that, there is a gap between the results of the current measurement and the next level. To provide recommendations to do mapping related to measurement results of CMMI-DEV to the PMBOK model, so that it can provide recommendations expected by the company.

The result of this study is the company’s maturity level is still at level 1. The author provides recommendations for improvement based on the CMMI-DEV maturity level 2 and is mapped with the PMBOK model.

"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia , 2020
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Evarisma Wulandari
"PT XYZ merupakan salah satu organisasi sektor swasta yang bergerak di bidang penyediaan jasa pengembangan perangkat lunak. PT XYZ memiliki tiga poin Values Proposition yang salah satu poinnya adalah menyediakan perangkat lunak dengan performa dan kehandalan yang tinggi. Pada kenyataannya, berdasarkan data-data pengerjaan proyek perangkat lunak di PT XYZ ditemukan bahwa beberapa hasil pengerjaan perangkat lunak saat ini belum sesuai dengan Values Proposition yang ditawarkan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah CMMI Dev v1.3 dengan menggunakan representasi berkelanjutan. Area Proses dipilih berdasarkan pada CMMI Project Roadmap yakni Project Planning (PP), Project Monitoring and Control (PMC), Requirements Management (REQM), Configuration Management (REQM), dan Process and Product Quality Assurance (PPQA). Penilaian dilakukan menggunakan SCAMPI C dengan bantuan PIID dan Quantitative Assesment. Kerangka penyusunan usulan perbaikan menggunakan IDEAL.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah berupa penilaian kualitas proses pengembangan perangkat lunak di PT XYZ dan usulan perbaikan bagi PT XYZ. Usulan perbaikan didasarkan pada praktik-praktik di dalam CMMI Dev v1.3 yang dapat membantu PT XYZ dalam mengembangkan perangkat lunaknya sehingga poin pada Value Proposition dapat dipenuhi.

PT XYZ is a private sector company that provide Information Technology solution by developing softwares for its partner. PT XYZ has three points of Values Proposition which one of them is to provide high performance and reliability. In fact, based on supporting data of software process development in PT XYZ, there are some software project results that is not fit to the third point of the Values Proposition.
This research uses CMMI-Dev v1.3 with continuous represetation. Process Areas are chosen based on CMMI Project Roadmap. Those process areas are Project Planning (PP), Project Monitoring and Control (PMC), Requirements Management (REQM), Configuration Management (CM), and Process and Product Quality Assurance (PPQA). This research uses SCAMPI C with PIID tools and Quantitative Assesment concept to do the appraisal. Proposal of software process improvement is designed by using IDEAL framework.
Result of this research is a measurement of quality of software development process in PT XYZ and the software process improvement proposal for PT XYZ to be implemented so the Value Proposition that is stated will be fulfilled.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christian Regensius
"Penerapan manajemen proyek yang mengacu kepada best-practice merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan peluang kesuksesan proyek. Ruang lingkup, waktu dan biaya merupakan tiga faktor penting dalam kesuksesan proyek. PT. PQR, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa profesional TI, telah menerapkan praktik manajemen proyek. Akan tetapi, praktik yang dilakukan belum sepenuhnya diterapkan dengan baik. Hal ini terlihat dari 67% proyek TI yang dijalankan mengalami keterlambatan. Evaluasi dibutuhkan untuk mengukur tingkat kematangan penerapan praktik proyek manajemen di PT. PQR, sehingga perbaikan dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tersebut. Pengukuran dilakukan dengan metode Project Management Maturity Model.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa tingkat kematangan manajemen proyek di PT. PQR berada di tingkat satu. Manajemen PT. PQR berharap kematangan penerapan manajemen proyek berada pada tingkat tiga. Rekomendasi perbaikan diberikan berdasarkan kesenjangan antara tingkat kematangan saat ini dan harapan manajemen PT. PQR.

The application of project management, which refers to the best-practice is a key to increase the success-rate of project. Scope, time and cost are the three important factors in the success of project delivery. PT. PQR, a company engaged in the field of IT professional services, has implemented a project management practices. However, implemented practices do not fully applied yet. This is based on the evident that 67% of IT projects has been delayed. Evaluation is needed to measure the maturity level of project management practices in PT. PQR, so that improvements can be made based on the evaluation results. Measurements were made using Project Management Maturity Model.
Based on the research result, it was found that PT. PQR’s maturity level of project management is at level one. Management expect that PT. PQR’s project management maturity is at level three. Recommendations for improvement had been given to overcome the gap between current level of maturity and expectations of PT. PQR’s management.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2014
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Deka Aditia Adam
"Teknologi informasi (TI) telah berkembang pesat di era globalisasi ini.Salah satu faktor pemicu nya adalah peningkatan penggunaan perangkat lunak. Untuk memperoleh kualitas perangkat lunak yang baik, Perusahaan pengembang perangkat lunak membutuhkan proses pengembangan yang lebih baik. Untuk itu penting bagi perusahaan untuk menerapkan perbaikan proses pengembangan perangkat lunak agar memiliki tingkat kompetitif dalam industri perangkat lunak.
Penelitian ini mencoba untuk memberikan evaluasi dari tingkat kematangan proses pengembangan perangkat lunak organisasi saat ini dan analisis untuk menghasilkan rekomendasi yang bisa diterapkan di PT Javan Cipta Solusi. Penelitian ini menggunakan framework CMMI-DEV sebagai model perbaikan prosesnya. Representasi staged dengan kombinasi konsep SCAMPI C dan PIID digunakan untuk melakukanevaluasi di semua area proses di tingkat kematangan 2. Setelah itu proses analisis gap digunakan untukmembandingkan implementasi praktek yang ada dengan praktek standard CMMI sehingga didapatkan rekomendasi yang bisa diterapkan di perusahaan.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa perusahaan berada di tingkat kematangan I. Karena itu Rekomendasi perbaikan prosesnya didasarkan pada tingkat kematangan II.Setelah mendapatkan hasil rekomendasi diharapkan perusahaan bisa tahu kelemahan yang ada dan bagaimana agar bisa mengatasinya.

Information Technology has been rapidly growing in this globalization era. The increasing use of Software is one of the triggering factors. In order to cope with the needs of high quality software, the software company needs to have better process. Hence, it is becoming increasingly important to get involved in software process improvement to gain competitive advantage in software industry.
This research gives the evaluation of current process maturity and the analysis to provide process improvement recommendations in which suitable to be applied in PT Javan Cipta Solusi. It is based on CMMI Dev Framework as software process improvement model. The Staged representation with combination of SCAMPI C and PIID is applied on all maturity 2 process area. Gap analysis comes to compare the current practices with CMMI best practices in order to get the company recommendation.
The outcome of the research is the fact that the company is on maturity level 1. Process improvement recommendations are based on maturity level 2. It is expected that the organization knows better what the current weakness is and how to fill the gap.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2013
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ahlijati Nuraminah
"Scrum merupakan kerangka kerja bersifat agile yang didesain secara sederhana untuk menghasilkan perangkat lunak secara bertahap dan iteratif. Manajemen proyek pengembangan perangkat lunak yang menerapkan Scrum bersifat kolaboratif antara tim pengembang dengan konsumen. PT. XYZ telah menerapkan Scrum sejak 2012, namun dalam pelaksanaanya menemui beberapa permasalahan. Permasalahan utama yaitu tidak tercapainya target waktu pelaksanaan pengembangan perangkat lunak. Penelitian ini mengkaji tentang tingkat kematangan manajemen proyek pengembangan perangkat lunak yang menerapkan kerangka kerja Scrum.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metodologi penelitian kuantitatif menggunakan Scrum Maturity Model. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner terhadap pegawai PT. XYZ yang berperan sebagai Scrum Master pada proyek pengembangan perangkat lunak yang telah menerapkan kerja Scrum. Analisis data dilakukan dengan menilai tingkat kematangan setiap proses pada kerangka kerja Scrum. Hasil analisis tingkat kematangan manajemen proyek pengembangan perangkat lunak digunakan untuk memberikan rekomendasi perbaikan untuk mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu PT. XYZ berhasil mencapai tingkat kematangan 2 Scrum Maturity Model. Tingkat kematangan 2 dicapai melalui sasaran umum Basic Scrum Management dan Software Requirement Engineering. Rekomendasi sasaran perbaikan diberikan untuk memperbaiki proses- proses untuk mencapai tingkat kematangan 3, 4, dan 5. Untuk mencapai tingkat kematangan 3, sasaran perbaikan difokuskan pada perbaikan manajemen hubungan dengan pelanggan dan manajemen iterasi. Sementara itu, untuk mencapai tingkat kematangan 4 sasaran perbaikan direkomendasikan untuk praktik-praktik yang terkait standarisasi manajemen proyek. Untuk mencapai tingkat kematangan 5, sasaran perbaikan direkomendasikan untuk memperbaiki praktik-praktik terkait manajemen kinerja proyek.

Scrum is an agile framework designed for simplicity to produce software incrementally and iteratively. Scrum project management implement collaboration between developer?s team and the consumers. PT. XYZ has implemented Scrum since 2012, but encountered some problems in its implementation. The main problem is the projects don't achieve the time target of software development timeline. This research is aimed to examine the maturity level of project management of software development that implement Scrum frameworks.
This research was conducted using quantitative research methodology using Scrum Maturity Model. Data were collected through questionnaires to employees of PT. XYZ which acts as a Scrum Master on software development projects that have implemented Scrum framework. Data analysis was performed by assessing the maturity level of each process on the Scrum framework. The results of the analysis of project management maturity level of software development process are used to provide recommendations for improvement to achieve a higher level of maturity.
The conclusion from this research is PT. XYZ reached maturity level 2 of Scrum Maturity Model. Maturity level 2 is achieved through a common goal of Basic Scrum Management and Software Requirement Engineering. Recommendations for improvement are given to improve processes to achieve maturity level 3, 4, and 5. To achieve maturity level 3, the recommendation focused on improving customer relationship management and iteration management. Meanwhile, to achieve maturity level 4, the recommendations are to improve practices related to standardization of project management. To achieve maturity level 5, the recommendations are to improve practices related to project performance management.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andreanus Hendy Kurnia Cahyadi
"[Bisnis perangkat lunak kini semakin berkembang. Organisasi pengembang perangkat lunak dituntut untuk memproduksi perangkat lunak yang berkualitas, tepat waktu, tepat biaya dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Namun saat ini masih saja terdapat kasus perangkat lunak yang tidak memiliki kriteria tersebut, salah satunya adalah PT. Gemawida Solusi Komputer yang masih mengalami masalah pada penyampaiaan perangkat lunak terutama mengenai keterlambatan jadwal dan biaya. Masalah tersebut diakibatkan dari tidak adanya kegiatan evaluasi dan perbaikan proses pengembangan perangkat lunak itu sendiri sehingga terjadi masalah-masalah serupa dan dapat merugikan perusahaan. Melalui penelitian ini penulis mencoba mengatasi masalah tersebut dengan kerangka kerja CMMI-DEV versi 1.3 sebagai kerangka kerja perbaikan proses pengembangan perangkat lunak serta dipadukan dengan praktek-praktek Scrum yang sinergi dengan CMMI-DEV. Scrum sendiri adalah suatu metodologi pengembangan perangkat lunak berbasis metodologi tangkas (agile) yang cocok untuk menjawab permasalahan yang ada. Pada penelitian ini akan diukur sejauh mana tingkat kemampuan organisasi dalam proses pengembangan perangkat lunak hanya pada area proses yang berhubungan dengan proyek atau dengan roadmap proyek yang membantu menerapkan CMMI-DEV dengan representasi kontinu (continuous). Area proses yang akan dinilai adalah Project Planning, Project Monitoring and Control, Requirement Management, Configuration Management dan Process and Product Quality Assurance. Setelah diukur maka akan didapatkan rekomendasi perbaikan untuk membantu PT. Gemawidia Solusi Komputer dalam memperbaiki proses pengembangan perangkat lunak. Setelah melakukan penilaian, didapatkan tingkat kapabilitas kelima area proses masih level 0 atau incomplete menyebabkan perlu banyak perbaikan dengan mencari akar permasalahan dengan Fishbone Diagram dan rekomendasi disusun untuk perbaikan tersebut dan setelah rekomendasi dibuat disusun pula prioritas menggunakan Pareto Chart.

Business software is now growing. Software Development Organization are required to produce quality software, on time, on budget and meet customer needs. However at this time there are still cases of software industry that does not have those criteria, one of which is PT. Gemawida Solusi Komputer which still experiencing problems in deliver software especially regarding schedule delays and cost. These problems result from the absence of the evaluation and improvement of the software development process itself, causing similar problems and can be detrimental to the company. Through this study, author try to resolve the issue with the CMMI-DEV framework version 1.3 as a framework for Software Development Process Improvement and combined with the practices of Scrum that synergies with CMMI-DEV. Scrum itself is a software development methodology based on Agile Methodologies which suitable to address existing problems. In this study author will measure the ability of the organization in the process of Software Development only in areas related to the project or the Project Roadmap that helps implement CMMI-DEV with Continuous Representation. Process areas to be assessed are : Project Planning, Project Monitoring and Control, Requirements Management, Configuration Management and Process and Product Quality Assurance. Then after measured it will get recommendations for improvement to help PT. Gemawida Solusi Komputer in improving the Software Development Process. After the assessment conducted, author obtained five area of process capability level is level 0 or incomplete, so it needs a lot of improvement with findings the root of the problem with Fishbone Diagram and prepared recommendations for the improvement and after the recommendation was made then also prepared the priority to using Pareto Chart., Business software is now growing. Software Development Organization are required to produce quality software, on time, on budget and meet customer
needs. However at this time there are still cases of software industry that does not have those criteria, one of which is PT. Gemawida Solusi Komputer which still experiencing problems in deliver software especially regarding schedule delays and cost. These problems result from the absence of the evaluation and
improvement of the software development process itself, causing similar problems and can be detrimental to the company. Through this study, author try to resolve the issue with the CMMI-DEV framework version 1.3 as a framework for Software Development Process Improvement and combined with the practices of Scrum that synergies with CMMI-DEV. Scrum itself is a software development methodology based on Agile Methodologies which suitable to address existing problems. In this study author
will measure the ability of the organization in the process of Software Development only in areas related to the project or the Project Roadmap that helps
implement CMMI-DEV with Continuous Representation.Process areas to be assessed are : Project Planning, Project Monitoring and Control, Requirements Management, Configuration Management and Process and Product Quality Assurance. Then after measured it will get recommendations for improvement to help PT. Gemawida Solusi Komputer in improving the Software Development Process. After the assessment conducted, author obtained five area of process capability level is level 0 or incomplete, so it needs a lot of improvement with findings the root of the problem with Fishbone Diagram and
prepared recommendations for the improvement and after the recommendation was made then also prepared the priority to using Pareto Chart.]"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2015
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Keri Wiroprabowo
"Lembaga ABC adalah lembaga negara yang memiliki tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah serta memiliki tugas untuk melakukan kebijakan moneter secara berkelanjutan konsisten transparan dan mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian Dalam mencapai tujuan dan tugas tersebut diperlukan dukungan Sistem Informasi SI yang handal dan berkualitas tinggi Dukungan SI tersebut diwujudkan dalam Program Kerja Sistem Informasi PKSI yang dilaksanakan dalam tahun anggaran dan dimonitor secara periodik Berdasarkan hasil monitoring Project Management Office PMO Departemen Pengelolaan Sistem Informasi DPSI sebagai pengelola sistem Informasi di Lembaga ABC diindikasi proyek tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan yaitu on time on scope dan on budget serta sesuai dengan kualitas Masalah yang nampak di permukaan adalah 43 PKSI berjalan tidak sesuai rencana dan beberapa Indikator Kinerja Utama IKU terkait PKSI juga mengalami deviasi dari rencana yang diharapkan Sebagai upaya perbaikan atas pelaksanaan PKSI tersebut diperlukan evaluasi secara sistematis dengan melakukan analisis permasalahan pelaksanaan manajemen proyek mengacu pada best practices yaitu Project Management Body of Knowledge PMBoK v5 Setelah permasalahan dipetakan dilakukan analisis tingkat kematangan pelaksanaan manajemen proyek dengan menggunakan kerangka Project Management Maturity Model PMMM Terkait dengan tata kelola governance dilakukan analisis tingkat kapabilitas manajemen proyek menggunakan kerangka COBIT 5 Hasil analisis menyatakan bahwa Lembaga ABC memiliki tingkat kematangan manajemen proyek pada level pertama berdasarkan PMMM dan tingkat kapabilitas manajemen proyek pada level pertama berdasarkan COBIT 5 Hal ini utamanya disebabkan oleh beban SDM DPSI dalam melaksanakan proyek yang tinggi Dengan hasil analisis ini diharapkan ekspektasi dari DPSI Lembaga ABC terhadap PKSI yaitu on time on scope dan on budget serta sesuai dengan kualitas dapat tercapai.

The ABC Institution is a state institution that established with the purpose to achieve and maintain the stability of the Rupiah along with its task to conduct a consistent sustainable and transparent monetary policy as well as reviewing the general policy of the government in the economic field In order to carry out the goal and the task of the institution a reliable and high quality Information System IS is highly needed The mentioned IS support is manifested in the form of ldquo Program Kerja Sistem Informasi rdquo PKSI that implemented in the fiscal year and monitored periodically Based on the Project Management Office PMO monitoring result it is indicated that the projects managed by Departemen Pengelolaan Sistem Informasi DPSI as manager of the Institution rsquo s Information System did not run according to the expectation which is on time on scope and on budget with the appropriate quality The most noticeable issue is that 43 of the PKSI did not go along according to the plan and some of the Indikator Kerja Utama IKU regarding the PKSI is having a deviation from the expected scheme To improve the PKSI implementation a systematic evaluation using analysis of the project management implementation issues has to be conducted by referring to the best practice which is the Project Management Body of Knowledge PMBoK v5 After mapping the problems the maturity level of the project implementation management needs to be analyzed using the Project Management Maturity Model PMMM framework In the governance area the level of project management capability is analyzed using the COBIT 5 framework The result of the analysis states that the ABC Institution not only has the first level project management maturity level according to the PMMM but also the first level of project management capability based on COBIT 5 Referred situation happened because most of personnel in DPSI has an excessive workload By looking at the analysis result it is expected that the DPSI of ABC Institution can achieve their goals within the implementation of PKSI which is on time on scope and on budget with the appropriate quality."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2015
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Gesit Singgih Febyatmoko
"Pada era dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan tingkat persaingan yang semakin tajam dan dinamis, PT XYZ menyadari pentingnya knowledgesebagai aset strategis organisasi. Inisiatif yang sudah dijalankan dalam rangka mewujudkan knowledge sebagai aset strategis, adalah menerapkan Knowledge Management melalui serangkaian knowledge managementsystemyang telah dijalankan.
Namun sayangnya, PT XYZ belum memiliki metode yang efektif untuk mengukur aspek-aspek utama knowledge management. PT XYZ belum bisa mengetahui tingkat kesuksesan penerapan knowledge management saat ini. Pengukuran tingkat kematangan diperlukan untuk membantu PT XYZ supaya fokus dan memprioritaskan aspek-aspek pada knowledge management yang perlu ditingkatkan.
Peneliti menggunakan metodologi General Knowledge Management Maturity Model (G-KMMM) sebagai model kematangan untuk mengukur tingkat kematangan knowledge management. Peneliti menggunakan model G-KMMM yang terdiri dari 5 aspek pengukuran, yaitu Culture, Strategy, Policy, Process, dan Technology. Model G-KMMM terdiri dari lima tingkat kematangan, yaitu initial, aware, defined, managed, dan optimizing.
Pada penelitian ini, peneliti berusaha untuk menjawab pertanyaan penelitian yang muncul dalam penerapan Knowledge Management di PT XYZ yaitu pada tingkat berapa kematangan knowledge management pada organisasi dan rekomendasi strategi yang bisa diberikan untuk meningkatkan tingkat kematangan tersebut.
Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan, aspek Culture telah mencapai level kematangan 3, aspek Strategy pada level kematangan 3, aspek Policy pada level kematangan 2, aspek Process pada level kematangan 2, dan aspek Technology pada level kematangan 3. Rekomendasi strategi juga diusulkan sebagai prioritas indikator-indikator yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan tingkat kematangan knowledge management di PT XYZ.

In an era where the science and technology is rapidly evolving and level of competition becomes more intense and dynamic, PT XYZ realize the importance of knowledge as a strategic asset of the organization. Initiatives have been implemented by the management in order to realize knowledgeas a strategic asset. Knowledge Management is implemented through series of knowledge management systems that have been adopted.
Unfortunately, PT XYZ do not have an effective method for measuring key aspects of knowledge management. PT XYZ can not determine the level of success of the implementation of knowledge management. Measuring the level of maturity is needed to help PT XYZ to focus and prioritize aspects of the knowledge management that needs to be improved.
Researchers used a methodology of General Knowledge Management Maturity Model (G-KMMM) as a model for measuring knowledge management maturity level. Researchers used a model consisting of five aspects of measurement, namely Culture, Strategy, Policy, Process, and Technology. G-KMMM consists of five maturity levels, theinitial, aware, defined, managed, and optimizing.
In this study, researchers attempted to answer the research questions that arise in the implementation of Knowledge Management at PT XYZ ie at what level of knowledge management maturity and recommendations that can be given to increase the maturity level.
Based on the measurement results, aspect of Culture has reached maturity level 3, Strategy aspect on maturity level 3, Policy aspect on maturity level 2, Process aspect on maturity level 2 and Technology aspect on maturity level 3. Recommended strategies are proposed as indicators that need to be improved to increase the maturity level of knowledge management at PT XYZ.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2013
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Singgih Zulfikar Ansori
"Perusahaan teknologi yang bergantung pada aplikasi sebagai bisnis utama tentu memperhatikan proses pengembangan produknya. Agar tetap unggul dalam persaingan dengan kompetitor, perusahaan teknologi begitu memperhatikan kelincahan (agile) dalam perkembangan produk sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar secara adaptif. Proses yang berkualitas dan agile tentu dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan tepat sesuai kebutuhan. Pendekatan dalam proses pengembangan perangkat lunak yang agile salah satunya ialah dengan kerangka kerja Scrum. Scrum merupakan kerangka kerja yang terus mengalami pembaruan dan tertuang dalam Scrum Guide.
Penelitian ini fokus pada penilaian kematangan Scrum dan penyusunan rekomendasi perbaikan implementasi Scrum dengan tempat studi kasus di PT Sepulsa Teknologi Indonesia. Sepulsa telah menerapkan Scrum selama tiga tahun terakhir. Rekomendasi mengenai perbaikan implementasi Scrum diperlukan sebagai langkah lanjutan hasil evaluasi kematangan Scrum dengan melakukan Aprraisal mengikuti Standard CMMI Appraisal Method for Process Improvement (SCAMPI C) berbasis Scrum Maturity Model (SMM) yang telah diperbarui dengan Scrum Guide 2017, lalu membentuk instrumen mengikuti format PST Tools. Penilaian tingkat kematangan di Sepulsa dilakukan pada produk bisnis Archipelago dan produk bisnis BPA. Selanjutnya, praktik- praktik yang belum terpenuhi dari hasil penilaian akan akan disusun rekomendasi perbaikannya dengan pendekatan Demings Plan, Do, Check, Act (PDCA) Cycle dan didasarkan dari Scrum Guide 2017.
Hasilnya tingkat kematangan dinilai mencapai Level 2 dengan nilai pencapaian di sub-goals 2.1 Basic Scrum sebesar 91,67% (Fully Achieved); 2.2 Software Requirements Engineering sebesar 100% (Fully Achieved); 3.1 Customer Relationship Management sebesar 95,46% (Fully Achieved); dan, 3.2 Iteration management sebesar 94,74% (Fully Achieved). Kemudian rekomendasi yang akan dilakukan adalah praktik 3.1.3.4 menjelaskan kondisi Product Backlog Items yang telah selesai oleh Product Owner saat Sprint Review dan praktik 3.2.2.4 Sprint dengan Sprint Goal yang sudah kedaluarsa akan di akhiri segera.

ABSTRACT
Technology companies in which application is the main business certainly focus on the product development process. In order to be excellent in competition with competitors, technology companies concern to agility in the development of products so that they can adaptively to meet the market needs. Great and agile process will produce high-quality and precise products as needed. One of the approaches to reach agile software- development process is the Scrum framework. Scrum is a framework that is continously updated and is contained in the Scrum Guide.
This study focuses on the Scrum maturity assessment and the making of recommendations for improving Scrum implementation at PT Sepulsa Teknologi Indonesia as the case study site. Sepulsa has been implementing Scrum for the past three years. Recommendations for improving Scrum implementation are needed as a further step in the results of Scrum maturity evaluation using the Standard CMMI Appraisal Method for Process Improvement (SCAMPI C) based on the Scrum Maturity Model (SMM) that has been updated with the Scrum Guide 2017 and formed with PST Tools format. Maturity level assessment at Sepulsa was conducted on business products which are called Archipelago and BPA. Furthermore, the mapping of gaps found from the assessment will be compiled using the Scrum Guide 2017 to form improvement recommendations using the Demings Plan, Do, Check, Act (PDCA) Cycle method.
The end result is that achievement scores at sub-goals 2.1 Basic Scrum of 91.67% (Fully Achieved); 2.2 Software Requirements Engineering for 100% (Fully Achieved); 3.1 Customer Relationship Management by 95.46% (Fully Achieved); and, 3.2 Iteration management of 94.74% (Fully Achieved) and level of maturity is considered to reach Level 2. Then the recommendation that will be practiced are practice 3.1.3.4 explaining the condition of the Product Backlog Items that have been completed by the Product Owner when the Sprint Review and practice 3.2.2.4 Sprint with Sprint Goal that has expired will be terminated immediately."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andrianto
"Dewasa kini organisasi pengguna TI semakin kritis dan cerdas dalam mendapatkan sebuah solusi TI dengan kualitas yang baik. Kualitas proses pengembangan yang baik dalam pengembangan solusi TI merupakan sebuah cikal bakal dalam upaya mendapatkan sebuah produk TI yang berkualitas. Bagi organisasi penggiat solusi TI, perhatian terhadap kualitas merupakan salah satu cara untuk dapat tetap bersaing dan bertahan hidup dari persaingan industri ini. PT Sigma Metrasys Solution merupakan organisasi penggiat solusi teknologi informasi skala enterprise, mengalami beberapa permasalahan terkait kualitas perangkat lunak yang dihasilkan. Beberapa aktivitas proses pengembangan perangkat lunak berjalan tanpa prosedur yang tidak standar dan memiliki kelemahan kualitas yang mengakibatkan resiko kegagalan yang cukup tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan usulan perbaikan kualitas proses perancangan perangkat lunak secara terprioritas dengan memanfaatkan kerangka kerja CMMI-Dev 1.2 dengan representasi continuous. Penelitian akan mencakup semua proses area pada project roadmap dengan metode penilaian menggunakan SCAMPI C dan alat bantu PIID and SCAMPI Tools. Usulan perbaikan yang diciptakan akan ditentukan tingkatan prioritasnya menggunakan metode Analitical Hierarchy Process sehingga obyek penelitian mudah dalam melakukan implementasinya.
Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah rekomendasi berdasarkan best practice CMMI yang dibagi berdasarkan process area. Urutan perbaikan proses berdasarkan prioritasnya adalah Process Area Requirement Management, Project Planning, Process and Product Quality Assurance, Project Monitoring dan Control, Configuration Management.

Nowadays, most of IT user has grown significantly to have a better quality IT solution. A good development process is the main foundation to produce a high quality IT product. For them, the attention to drive a high quality IT solution is another way to be able to remain competitive and survive in the industry. PT Sigma Metrasys Solution is one of the enterprise scale company whose have some problem related to the quality of their software product, which some activity in the development process are running without standard procedure and it caused very high risk of failure.
The objective of this research is to propose some input to improve the quality of software design process by continuous utilizing the priority of the framework CMII – Dev 1.2. This research will cover all the areas on the project road map by using SCAMPI C appraisal methods, PIID and SCAMPI tools. The implementation of proposed improvement will be determined by the priorities level based on Analytical Hierarchy Process method.
The result obtained from this research is recommended based on the best practice by CMMI Process area with priority order are Process Area Requirement Management, Project Planning, Process and Product Quality Assurance, Project Monitoring and Control and Configuration Management.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2013
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>