Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 121247 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sabrina Khoirunnisa
"
Penelitian ini membahas pengaruh tekanan dari media sosial terhadap subjective well- being mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di Universitas Indonesia. Subjective well-being, yang mencakup evaluasi kehidupan dan keseimbangan afeksi, rentan terhadap ekspektasi sosial yang dibentuk di media sosial. Tekanan muncul ketika mahasiswa merasa harus menyesuaikan diri dengan standar ideal yang ditampilkan di ruang digital, termasuk cibiran publik terhadap status sebagai penerima bantuan. Berbeda dari studi sebelumnya yang menyoroti dukungan sosial atau keluarga, penelitian ini fokus pada media sosial sebagai faktor eksternal yang memengaruhi subjective well-being mahasiswa. Menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh wawancara dan studi literatur. Data dikumpulkan melalui kuesioner online kepada mahasiswa penerima KIP Kuliah, dengan pengukuran subjective well-being menggunakan Satisfaction With Life Scale (Diener, 1985) dan Positive and Negative Affect Schedule (Watson et al., 1988). Analisis dilakukan berdasarkan dimensi norma yang diinternalisasi, perbandingan sosial, dan pengawasan sosial. Hasil menunjukkan bahwa perbandingan sosial merupakan bentuk tekanan paling signifikan yang memengaruhi subjective well-being. Mahasiswa juga menunjukkan strategi coping seperti menerima perbedaan dan membatasi eksposur. Penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital dalam menjaga kesejahteraan mahasiswa penerima bantuan pendidikan.

This study explores the influence of social media pressure on the subjective well-being of Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) recipients at the University of Indonesia. Subjective well-being, which includes life evaluation and emotional balance, is vulnerable to external factors, particularly social expectations shaped through digital platforms. Pressure emerges when students feel the need to conform to idealized online standards, including criticism linked to their scholarship status. Unlike prior studies that emphasize family or peer support, this research focuses on social media as an external factor affecting students’ psychological well-being. A quantitative method was used, supported by literature review and in-depth interviews. Data were collected through an online questionnaire distributed to KIP Kuliah recipients and measured using the Satisfaction With Life Scale (Diener, 1985) and the Positive and Negative Affect Schedule (Watson et al., 1988). The analysis examined the relationship between social media pressure and subjective well-being through three dimensions: internalized social norms, social comparison, and social surveillance. Results show that social comparison is the most influential pressure on students’ well-being. Students also reported coping strategies such as accepting differences and reducing social media exposure. This study emphasizes the need for digital literacy to help students from disadvantaged backgrounds maintain their well-being."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Damayanti
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi highlight reel media sosial terhadap social well-being mahasiswa FISIP UI. Social well-being merupakan aspek penting dalam well-being individu yang mencerminkan kualitas hubungan sosial serta kemampuan individu untuk berfungsi dalam masyarakat. Media sosial, khususnya melalui representasi highlight reel, menghadirkan gambaran hidup yang dikurasi dan sering kali tidak mencerminkan realitas secara utuh. Di satu sisi, highlight reel bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi karena memperlihatkan pencapaian serta momen terbaik seseorang. Namun, di sisi lain fenomena ini dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap kehidupan sehingga dapat menyebabkan tekanan sosial serta perasaan minder. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui survey yang didukung oleh studi literatur dan wawancara mendalam untuk menganalisis hubungan antara konsumsi highlight reel media sosial dan social well-being pada mahasiswa FISIP UI. Teknik penarikan yang digunakan adalah simple random sampling sehingga populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Hasil penelitian mengungkapkan temuan berbeda dengan rumusan hipotesis awal yang diperkirakan memiliki hubungan negatif signifikan, tetapi ditemukan hasil bahwa tingkat konsumsi highlight reel di media sosial justru memiliki hubungan positif yang signifikan dengan tingkat social well-being mahasiswa FISIP UI. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh konsumsi highlight reel terhadap social well-being bersifat kontekstual, bergantung pada pola konsumsi, kapasitas reflektif individu, serta lingkungan sosial yang melingkupinya.

This study aims to analyze the effect of social media highlight reel consumption on social well-being of FISIP UI students. Social well-being is an important aspect of individual well-being that reflects the quality of social relationships and an individual's ability to function in society. Social media, especially through highlight reel representations, presents a curated picture of life that often does not fully reflect reality. On the one hand, highlight reels can be a source of inspiration and motivation as they showcase a person's achievements and best moments. However, on the other hand, this phenomenon can lead to unrealistic expectations of life that can cause social pressure and feelings of inferiority. This research uses quantitative methods through surveys supported by literature studies and in-depth interviews to analyze the relationship between social media highlight reel consumption and social well-being in FISIP UI students. The withdrawal technique used is simple random sampling so that the population has the same opportunity to be selected. The results of the study revealed different findings from the formulation of the initial hypothesis which was expected to have a significant negative relationship, but it was found that the level of consumption of highlight reels on social media actually had a significant positive relationship with the level of social well-being of FISIP UI students. This can occur because the effect of highlight reel consumption on social well-being is contextual, depending on consumption patterns, individual reflective capacity, and the social environment that surrounds them."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhilah Putri Khairunnisa
"Pada beberapa waktu terakhir, perhatian terhadap subjective well-being mengalami peningkatan, khususnya yang terjadi pada kalangan usia dewasa muda. Salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan fenomena tersebut adalah maraknya penggunaan media sosial, mengingat jumlah dewasa muda di Indonesia yang menggunakan media sosial tergolong besar. Oleh sebab itu, penelitian ini ditujukan untuk melihat peran dari empat dimensi penggunaan media sosial yang terdiri image-based SMU, comparison-based SMU, belief-based SMU, dan consumption-based SMU dalam subjective well-being dewasa muda di Indonesia. Terdapat 125 responden dewasa muda pengguna media sosial yang direkrut dengan metode convenience sampling. Variabel subjective well-being diukur dengan The PERMA-Profiler dan penggunaan media sosial diukur dengan Social Media Use Scale (SMUS) yang sudah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil analisis linear berganda menunjukkan bahwa empat dimensi penggunaan media sosial secara simultan berkontribusi dalam subjective well-being. Ditemukan hanya image-based, comparison-based, dan consumption-based SMU yang memiliki peran signifikan dalam subjective well-being, sedangkan peran dari belief-based SMU tidak signifikan. Temuan ini dapat diartikan bahwa penggunaan media sosial dewasa muda memiliki peran dalam kondisi subjective well-being mereka. Limitasi penelitian diulas lebih lanjut, dan disarankan agar penelitian di masa depan dapat mencoba melakukan kontrol terhadap durasi penggunaan media sosial, serta mempertimbangkan frekuensi dan tujuan penggunaan pada platform media sosial yang berbeda.

Over the past few years, attention to subjective well-being has increased, especially among young adults. One factor that may be related to this phenomenon is the widespread use of social media, given the large number of young adults in Indonesia who use social media. Therefore, this study aimed to look at the role of the four dimensions of social media use consisting of image-based SMU, comparison-based SMU, belief-based SMU, and consumption-based SMU in the subjective well-being of young adults in Indonesia. A total of 125 young adult social media users were recruited using convenience sampling method. Subjective well-being was measured with The PERMA-Profiler and social media use was measured with the Social Media Use Scale (SMUS), which has been adapted to Indonesian. The results of multiple linear analysis showed that four dimensions of social media use simultaneously contributed to subjective well-being. It was found that only image-based, comparison-based, and consumption-based SMU had a significant role in subjective well-being, while the role of belief-based SMU was not significant. This finding can be interpreted that young adults' social media use has a role in their subjective well-being. The limitations of the study were further reviewed, and it was suggested that future research could try to control for the duration of social media use, while also considering the frequency and purpose of use on different social media platforms."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Habib Alvin Aneldi
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktek digital terhadap social well-being mahasiswa di Jabodetabek. Pada penelitian sebelumnya melihat kerangka dari analisis digital well-being sebagai bentuk penggunaan perangkat digital yang mempengaruhi kondisi kesejahteraan subjektif melalui konsumsi konten yang sesuai dengan algoritma mereka yang pada akhirnya berdampak kepada perilaku dalam memenuhi kebutuhan akan social well-being. Dalam memperkaya studi sebelumnya dan menyederhanakan definisi konseptual dari analisis digital well-being, peneliti berusaha untuk menjelaskan social well-being mahasiswa melalui praktek digital yang dilakukan dengan menjelaskan hubungannya terhadap dimensi integrasi, aktualisasi, penerimaan, kontribusi dan koherensi sosial. Praktek digital mampu memberikan pengaruh yang membentuk interaksi mereka dalam menjalankan fungsi di masyarakat sebagai tolak ukur dari social well-being. Sehingga semakin tinggi praktek digital yang dilakukan maka akan semakin tinggi social well-being yang dirasakan oleh mahasiswa dan sebaliknya. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada 210 mahasiswa yang berdomisili di Jabodetabek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa di Jabodetabek memiliki tingkat social well-being yang tinggi dan tingkat praktek digital yang tinggi. Praktek digital berupa penggunaan perangkat digital untuk kebutuhan sosialisasi dan komunikasi digital, hiburan digital dan praktek kreatif serta untuk kebutuhan manajemen diri, informasi, pendidikan dan pekerjaan terbukti berhubungan dengan tingkat social well-being mahasiswa

This study aims to analyze the relationship of digital practice to social well-being of students in Jabodetabek. In previous studies, we saw the framework of digital well-being analysis as a form of using digital devices that affect subjective well-being conditions through consumption of content that is in accordance with their algorithm, which in turn affects behavior in meeting the need for social well-being. Enriching the previous studies and simplifying the conceptual definition of digital well-being analysis, the researcher tries to explain the social well-being of students through digital practice by explaining their relationship to the dimensions of integration, actualization, acceptance, contribution and social coherence. Digital practice is able to provide an influence that shapes their interactions in carrying out functions in society as a benchmark for social well-being. So that the higher the digital practice carried out, the higher the social well-being felt by students and vice versa. This research uses a quantitative approach with data collection techniques through distributing questionnaires to 210 students who live in Jabodetabek. The results show that respondents have a high level of social well-being and a high level of digital practice. Digital practice in the form of using digital devices for digital socialization and communication, creative entertainment and practice, and informational managements is proven to be related to the level of social well-being of students."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Risqa Amanda
"Mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah kerap menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan kampus, meskipun telah mendapatkan dukungan melalui kebijakan afirmatif seperti program beasiswa. Kondisi ini mencerminkan adanya kerentanan psikososial yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka, terutama pada fase perkembangan krusial sebagai mahasiswa yang sedang berada pada tahap emerging adulthood. Pada fase ini, individu sedang berada dalam proses pencarian jati diri, membangun relasi sosial yang bermakna, serta menetapkan arah hidup ke depan. Dalam konteks tersebut, penting bagi mahasiswa untuk memiliki kesejahteraan subjektif, yaitu sejauh mana individu merasa puas terhadap hidupnya dan sering merasakan emosi positif dibandingkan emosi negatif. Persepsi terhadap dukungan sosial menjadi penting karena dapat menumbuhkan rasa aman, diterima, dan terhubung dengan lingkungan. Sementara itu, efikasi diri menggambarkan keyakinan seseorang atas kemampuannya dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. Minimnya kedua faktor tersebut dapat membuat mahasiswa dari keluarga kurang mampu cenderung memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan mahasiswa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif mahasiswa penerima Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) di Universitas Indonesia (UI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2025. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Kesejahteraan Subjektif, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan General Self-Efficacy Scale (GSES). Penelitian ini melibatkan 181 mahasiswa penerima KJMU di Universitas Indonesia sebagai sampel. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan bantuan Microsoft Excel dan SPSS untuk memperoleh gambaran serta hubungan antar variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kesejahteraan subjektif dan dukungan sosial dalam kategori tinggi, sementara efikasi diri dalam kategori sedang. Analisis dengan uji Somers’ D menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif (D = .299, p < .001), begitu pula dengan efikasi diri (D = .255, p < .001). Meskipun kekuatan hubungan berada pada kategori lemah, hasil ini tetap menunjukkan bahwa baik dukungan sosial maupun efikasi diri memainkan peran penting dalam mendukung kesejahteraan subjektif mahasiswa. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi akan adanya dukungan sosial yang memadai serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi penyelenggara beasiswa untuk tidak hanya memberi bantuan finansial, tetapi juga intervensi psikososial, serta mendorong riset lanjutan untuk kesejahteraan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Students from low-income families often face challenges in adapting to campus life dynamics, even with the support of affirmative policies such as scholarship programs. This condition reflects a psychosocial vulnerability that may affect their quality of life, especially during a critical developmental stage, emerging adulthood. At this stage, individuals are in the process of identity exploration, building meaningful social relationships, and setting the direction of their future lives. In this context, subjective well-being becomes crucial. It refers to the extent to which individuals feel satisfied with their lives and frequently experience positive rather than negative emotions. Social support plays an important role by fostering a sense of security, acceptance, and connection to the surrounding environment. Meanwhile, self-efficacy reflects a person’s belief in their ability to face challenges and achieve goals. The lack of these two factors may lead students from low-income families to experience lower levels of subjective well-being compared to their peers. This study aims to identify the relationship between social support and self-efficacy with the subjective well-being of Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) scholarship recipients at Universitas Indonesia (UI). The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design, conducted from February to May 2025. The instruments used included the Subjective Well-Being Scale, the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and the General Self-Efficacy Scale (GSES). A total of 181 KJMU recipient students at Universitas Indonesia participated in the study. The collected data were analyzed using Microsoft Excel and SPSS to obtain an overview and to examine the relationships between the variables. The results showed that most students had high levels of subjective well-being and social support, while self-efficacy was at a moderate level. Analysis using Somers’ D test indicated a positive relationship between social support and subjective well-being (D = .299, p < .001), as well as between self-efficacy and subjective well-being (D = .255, p < .001). Although the strength of these relationships was categorized as weak, the findings demonstrate that both social support and self-efficacy play an important role in supporting students’ subjective well-being. These findings emphasize that having a strong sense of self-efficacy and perceiving adequate social support are essential in enhancing the quality of life among university students, particularly those from underprivileged backgrounds. The results are expected to serve as a basis for designing more inclusive and responsive psychosocial support policies and practices for scholarship recipients."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chatarina Vania Maharani Wicaksono
"Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara penggunaan media sosial dan stres sosial terhadap social well-being. Studi-studi mengenai social well-being di Asia menemukan bahwa aspek non-ekonomi seperti nilai dan norma budaya, tradisi, relasi dan agama yang beragam antar negara memiliki asosiasi terhadap social well-being sehingga aspek tersebut perlu diperhitungkan. Peneliti berargumen bahwa penggunaan media sosial dan stres sosial memiliki hubungan dengan social well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penggunaan media sosial terhadap tingkat social well-being dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres sosial terhadap tingkat social well-being. Fungsi media sosial pada masa pandemi menjadi aspek vital sehingga menjadikan temuan ini berlawanan dengan temuan sebelumnya, media sosial memberikan lebih banyak manfaat secara positif sehingga meredam sisi negatif dari media sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aspek ekonomi masih menjadi faktor yang menentukan kepuasan hidup individu. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah menggunakan data primer yang diambil melalui teknik survei yang disebarkan secara daring pada sampel dari populasi yaitu Jabodetabek yang berusia usia 19 hingga 40 tahun dengan total 419 responden. Peneliti juga menggunakan wawancara mendalam untuk mengumpulkan data pendukung

This study aims to examine the relationship between social media use and social stress on social welfare. Studies on social well-being in Asia find that non-economic aspects such as cultural values and norms, traditions, relations and religions that vary between countries have associations with social well-being, therefore these aspects need to be taken into account. Researcher argue that social media use and social stress have a relationship with social well-being. The results showed that there was a significant relationship between the level of social media use and the level of social well-being and there was no significant relationship between the level of social stress and the level of social well-being. The function of social media during the pandemic is an important aspect so that this finding is contrary to previous findings, social media provides more benefits in a positive way so that it is viewed negatively than social media. The research findings show that the economic aspect is still a factor that determines individual life satisfaction. The method used in this quantitative research is to use primary data taken through survey techniques that are boldly distributed to a sample of the population, namely Jabodetabek aged 19 to 40 years with a total of 419 respondents. Researchers also use indepth interview to collect supporting data."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clarissa Rhea Resqia
"Masa quarter life crisis yang terjadi pada usia 20-29 tahun menjadi tantangan bagi kesejahteraan subjektif pekerja dewasa muda. Tantangan dapat diatasi apabila individu memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik yaitu dengan strategi koping. Strategi koping terdiri atas tiga jenis, yaitu problem focused, emotion focused, dan dysfunctional. Penelitian ini melihat pengaruh jenis strategi koping terhadap kesejahteraan subjektif pada 86 pekerja berusia 20-29 tahun di Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan alat ukur the PERMA-Profiler yang mengukur kesejahteraan subjektif dan Brief COPE yang mengukur strategi koping. Hasil penelitian menggunakan analisis regresi linear berganda dengan metode stepwise menunjukkan bahwa strategi koping jenis emotion focused memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 35,8% (R = 0,358; p<0,05), one-tailed. Adapun jenis strategi koping problem focused dan dysfunctional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif. Temuan ini menekankan pentingnya jenis strategi koping emotion focused, seperti dukungan emosional, penilaian positif, penerimaan, dan agama untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pekerja di masa quarter life crisis.

The quarter life crisis period that occurs at the age of 20-29 years is a challenge for the subjective well-being of young adult workers. Challenges can be overcome if individuals have the ability to solve problems well, namely with coping strategies. Coping strategies consist of three types, namely problem focused, emotion focused, and dysfunctional. This research looked at the influence of types of coping strategies on subjective well-being in 86 workers aged 20-29 years in Indonesia. Data was collected through a questionnaire with the PERMA-Profiler measuring tool which measures subjective well-being and Brief COPE which measures coping strategies. The results of research using multiple linear regression analysis with the stepwise method show that emotion focused coping strategies have a positive and significant influence on subjective well-being by 35.8% (R = 0.358; p<0.05), one-tailed. The types of problem focused and dysfunctional coping strategies do not have a significant influence on subjective well-being. These findings emphasize the importance of emotion focused coping strategies, such as emotional support, positive appraisal, acceptance, and religion to improve workers' subjective well-being during the quarter life crisis."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Herwibowo
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi kebebasan dalam waktu luang dengan subjective well-being pada mahasiswa Universitas Inonesia. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia pada program studi S1. 126 responden penelitian diminta mengisi instrumen penelitian, yaitu perceived freedom in leisure short form (Witt & Ellis, 1985), Satisfaction With Life Scale (Diener et al, 1985), dan Positive Affect ? Negative Affect Scale (Watson & Tellegen, 1985) secara online. Penelitian menemukan adanya korelasi positif antara persepsi kebebasan dalam waktu luang dan affect balance (r=-0,500, p<0,05) serta korelasi positif antara persepsi kebebasan dalam waktu luang dan kepuasan hidup (r= 0,203, p<0,05). Analisis tambahan menunjukkan bahwa terdapat data kontrol ,yakni jenis kelamin, berpengaruh terhadap hasil penelitian.

This research aimed to find the correlation between perceived freedom in leisure and subjective well-being among students of University of Indonesia. 126 respondents were asek to fill our instruments, perceived freedom in leisure short form (Witt & Ellis, 1985), Satisfaction With Life Scale (Diener et al, 1985), dan Positive Affect ? Negative Affect Scale (Watson & Tellegen, 1985) through internet. The finding of this research is that there is a positive correlation between perceived freedom in leisure and affect balance (r=-0,500, p<0,05) and also positive correlation between perceived freedom in leisure and life satisfaction (r= 0,203, p<0,05). Additional analyses showed that gender did have influence the result of this study."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S57033
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Awwalisa Sarfinah
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat besaran kontribusi perceived social support terhadap subjective well-being pada remaja panti asuhan di Jakarta. Remaja panti asuhan dipilih karena mereka menghadapi kondisi kehidupan yang berbeda dengan remaja secara umum. Partisipan dalam penelitian ini adalah 130 remaja berusia 11 ndash; 21 tahun yang berasal dari 11 panti di Jakarta. Pengambilan data dilakukan dengan meminta partisipan untuk mengisi kuesioner perceived social support dan subjective well-being. Perceived social support diukur dengan menggunakan alat ukur Multidimensional Scale of Perceived Social Support yang dikembangkan oleh Gregory D. Zimet 1988 . Subjective well-being diukur dengan menggunakan dua alat ukur yang berbeda. Alat ukur Satisfaction With Life Scale yang disusun oleh Ed Diener 1985 digunakan untuk mengukur komponen kognitif kepuasan hidup. Alat ukur Positive Affect and Negative Affect Schedule PANAS yang dikembangkan oleh Watson, Clark, Tellegan 1988 digunakan untuk mengukur afeksi positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceieved social support berkontribusi secara signifikan terhadap komponen afeksi positif subjective well-being R2 = 0,146, p = 0,000, namun tidak berkontribusi secara signifikan terhadap komponen kognitif kepuasan hidup subjective well-being R2 = 0,019, p = 0,328 dan terhadap komponen afeksi negatif subjective well-being R2 = 0,027, p = 0,478. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perceived social support yang dimiliki oleh remaja panti asuhan, maka semakin tinggi juga afeksi positif subjective well-being yang dimilikinya.

This research paper is conducted to investigate the contribution of perceived social support in subjective well being among the orphanage adolescents in Jakarta. The adolescent orphanages are selected because they have different living conditions with adolescents in general. The research subjects are 130 adolescents between 11 ndash 21 years old who lived in 11 orphanage in Jakarta. The data is collected by asking participants to fill out perceived social support and subjective well being questionnaires. Perceived social support was measured by Multiple Scale of Perceived Social Support constructed by Gregory D. Zimet 1988. Subjective well being was measured using two different instruments. Cognitive component life stastisfaction of subjective well being was measured by Satisfaction With Life Scale constructed by Ed Diener 1985. Affective component positive and negative affection was measured by Positive Affect and Negative Affect Schedule PANAS constructed by Watson, Clark, Tellegan 1988 . The result of this research showed that perceived social support has significantly contributed to positive affect component of subjective well being R2 0,146, p 0,000 but perceived social support has no significant contribution to cognitive component or life satisfaction R2 0,019, p 0, 0,328 and negative affect component of subjective well being R2 0,027, p 0,478. These results indicate that the higher perceived social support they feel, the higher positive affect of subjective well being they have."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dio Anggara
"ABSTRACT
Penelitian ini menjelaskan pengaruh tingkat dukungan sosial terhadap tingkat well-being mahasiswa migran penerima program Afirmasi Pendidikan ADik Papua dan Daerah 3T terdepan, terluar, dan tertinggal di Universitas Indonesia. Studi-studi sebelumnya memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki permasalahan terkait ketidaksiapan mental, hubungn sosial, dan ekonomi. Studi melihat permasalahan mahasiswa migran sebagai bentuk rendahnya tingkat well-being yang disebabkan oleh rendahnya tingkat dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengen teknik pengumpulan data diperoleh melalui survei kepada 34 mahasiswa, wawancara mendalam kepada 6 mahasiswa, studi dokumen, dan observasi. Dalam analisis dukungan sosial, pihak yang dinilai paling memberikan dukungan adalah teman dan orang tua, sedangkan yang kurang memberikan dukungan adalah pemerintah daerah. Sementara itu dalam analisis well-being, skor terendah terdapat pada mental well-being. Uji regresi menunjukkan terdapat tiga model yang memiliki pengaruh signifikan terhadap well-being mahasiswa yaitu dukungan emosional, dukungan jaringan, dan dukungan informasi. Sementara itu, peneliti menduga terdapat varibel lain yang turut mempengaruhi well-being mahasiswa yaitu jaringan kelompok keagamaan mahasiswa berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dan religiositas mahasiswa berdasarkan studi litelatur.

ABSTRACT
This study explains the effect of social support level to migrants students well being receiving Papua Education Affirmative ADIK program and 3T Outside, Outermost and Left behind regions at the University of Indonesia. Previous studies discussed that students have problems related to mental, social, and economic unpreparedness. This study explains the migrant students problems as a form of low levels of well being caused by low levels of social support. This study uses quantitative approaches with data collection techniques obtained through surveys to 34 students, in depth interviews to 6 students, document studies, and observations. In the analysis of social support, the parties who are most likely to provide support are friends and parents, while the local governments give less supports. Meanwhile, in a well being analysis, the lowest score is in the well being mentality. Regression test showed that there are three models that have significant influence on student well being that is emotional support, network support, and information support. Meanwhile, the researcher suspect that there are other variables that influence the well being of students, namely the network of religious groups of students based on in depth interviews and observation and students religiosity based on review study."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>