Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 146851 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Roshana Rubi Ellora
"Efusi pleura merupakan kondisi dimana terdapat akumulasi cairan di rongga pleura yang menyebabkan masalah utama pada sistem pernapasan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis intervensi keperawatan mandiri berupa pengaturan posisi semi-fowler dan lateral pada klien dengan masalah gangguan pola nafas pada kasus efusi pleura. Metode yang digunakan adalah studi literatur terkait pemberian posisi semi-fowler dan lateral pada pasien yang memiliki masalah pernapasan dengan penyakit paru unilateral dan bilateral.
Hasil studi menunjukkan pemberian posisi semi-fowler dan lateral berdampak pada peningkatan saturasi oksigen dan penurunan frekuensi napas pada kondisi sesak. Analisis studi ini merekomendasikan pengaturan posisi semi fowler dan lateral efektif untuk di implementasikan pada pasien dengan masalah ketidakefektifan pola napas dengan dengan tetap memperhatikan kondisi pasien.

Pleural effusion is the accumulation of fluid in pleural space that causes major problems in the respiratory system. This study aims to analyze the independent nursing intervention semi-fowler and lateral position in patients with breathing pattern disorders in cases of pleural effusion. The method used is a literature study related to semi-fowler and lateral positions on patient who had respiratory disease with unilateral or bilateral lung disease.
The result shows that semi-folwer and lateral position affect the enhancement of oxygen saturation and reduce the frequency of breath on breathlessness patiens. Analysis of this study recommends semi-fowler and lateral positioning are effective interventions to be implemented in patients with problems with ineffective breathing patterns while still consider the patient's condition.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lilly Pangestuti
"Efusi pleura merupakan kejadian akumulasi cairan yang berada diantara lapisan parietal dan visceral. Efusi pleura terjadi akibat akumulasi cairan dimana pembentukan cairan pleura yang lebih cepat dibandingkan proses penyerapannya. Dyspnea merupakan pengalaman subjektif pasien tentang ketidaknyamanan saat bernapas dengan kualitas pernapasan ringan, sedang dan berat. Positioning yang tepat dapat memperbaiki proses ventilasi dapat meningkatkan ekspansi paru sehingga mengurangi sesak yang dialami oleh pasien. Tujuan : studi ini untuk menganalisis intervensi keperawatan mandiri berupa pengaturan posisi semi-fowler pada pasien dengan masalah pola napas tidak efektif pada kasus efusi pleura. Metode : yang digunakan adalah studi literatur terkait pemberian posisi semi-fowler pada pasien yang memiliki masalah pernapasan. Penerapan posisi semi-fowler merupakan posisi yang direkomendasikan untuk pasien efusi pleura dengan alat ukur MRC Dyspnoea scale. Asuhan keperawatan diberikan kepada pasien kelolaan yaitu Ny. A (60 tahun) dengan Efusi Pleura dan gagal jantung. Asuhan keperawatan dilakukan selama empat hari dengan satu hari periode IGD dan ICCU serta tiga hari pada periode ICCU. Masalah keperawatan utama yang dialami pasien adalah pola nafas tidak efektif. Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan, termasuk penerapan posisi semi-fowler. Hasil : studi menunjukan pemberian posisi semifowler berdampak pada peningkatan saturasi oksigen dan penurunan frekuensi napas pada kondisi sesak dengan alat ukur MRC Dyspnoea scale. Analisis studi ini merekomendasikan pengaturan posisi semi-fowler efektif untuk diimplementasikan pada pasien dengan masalah pola napas tidak efektif.

Pleural effusion is an accumulation of fluid between the parietal and visceral layers. Pleural effusion occurs due to fluid accumulation where the formation of pleural fluid is faster than the absorption process. Dyspnea is the patient's subjective experience of discomfort when breathing with mild, moderate and severe respiratory qualities. Positioning The right one can improve the ventilation process can increase lung expansion thereby reducing shortness of breath experienced by patient. Objective : this study was to analyze the intervention Independent nursing in the form of positioning semi-fowler in patients with problems with ineffective breathing patterns in cases of pleural effusion. Method : Which used is a literature study related to position assignment semi-fowler on patients who have respiratory problems.Application of position semi-fowler is the recommended position for pleural effusion patients with measuring instruments MRC Dyspnoea scale. Nursing care given to the managed patient, namely Mrs. A (60 years old) with Pleural Effusion and heart failure. Nursing care is provided for four days with one day during the ER and ICCU period and three days during the ICCU period. The main nursing problem experienced by patients is ineffective breathing patterns. Implementation is carried out in accordance with the nursing plan, including position implementation semi-fowler. Results: studies show position assignment semi-fowler has an impact on increasing oxygen saturation and a decrease in respiratory frequency in shortness of breath with measuring instruments MRC Dyspnoea scale. The analysis of this study recommends positioning semi-fowler effective to implement in patients with breathing pattern problems effective.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Puti Quratuain I. Armyando
"Efusi pleura adalah salah satu presentasi klinis yang umum didapatkan pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD). Terhambatnya otot inspirasi akan menurunkan ekspansi dada, menimbulkan gejala dispnea pada pasien. Yoga pranayama melibatkan lubang hidung, saluran pernapasan, diafragma, dan paru-paru secara aktif. Pola ritme alternate nostril breathing memberikan dukungan ventilasi kepada pasien dengan memperkuat sistem pernapasan. Analisis dilakukan pada pasien 61 tahun yang mengalami CKD stage 5 dengan efusi pleura post pungsi pleura dengan keluhan utama sesak napas. Intervensi pranayama: alternate nostril breathing dilakukan selama tiga hari dengan frekuensi latihan dua kali per hari. Evaluasi status pernapasan dan instrumen SGRQ dilakukan untuk mengecek efektifitas alternate nostril breathing dalam memberikan dukungan ventilasi terhadap pola napas tidak efektif. Hasil menunjukkan penurunan frekuensi napas yang signifikan dan penurunan skor total SGRQ sebanyak 12.5% dari skor awal. Berdasar dari hasil penelitian, alternate nostril breathing berhak dilakukan sebagai modalitas terapi tambahan pada pasien dengan pola napas tidak efektif.
Pleural effusion is one of the most common clinical presentations in patients with Chronic Kidney Disease (CKD). Inhibition of muscle inspiration reduces chest expansion, causing symptoms of dyspnea on the patient. Pranayama as yogic breathing actively engages the nostril, respiratory tract, diaphragm and lungs. The rhythmic pattern of alternate nostril breathing provides ventilatory support to the patient by strengthening the respiratory system. The analysis was carried out on a 61 year old patient who experienced CKD stage 5 with pleural effusion after thoracentesis with chief complaint being shortness of breath. An intervention of Pranayama: alternate nostril breathing is carried out for three days with a frequency of practice twice per day. Respiratory status and SGRQ instrument evaluations were performed to examine the effectiveness of alternate nostril breathing in providing ventilatory support against ineffective breathing patterns. The results showed a significant decrease in respiratory frequency and a decrease in the total SGRQ score of 12.5% from the initial score. Based on the research results, alternate nostril breathing can be performed as an additional therapeutic modality in patients with ineffective breathing patterns."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lu`lu` Hardianti
"Perpindahan penduduk ke daerah perkotaan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan sehubungan dengan perilaku gaya hidup yang tidak sehat, termasuk perilaku merokok. Perilaku merokok dapat menimbulkan berbagai penyakit, terutama penyakit pernapasan. Efusi pleura terjadi akibat penumpukan cairan di dalam rongga pleura melebihi kapasitasnya yang dapat dipicu oleh perilaku merokok. Kondisi efusi pleura ditandai dengan keluhan nyeri dada dan juga sesak. Kondisi nyeri yang tidak ditangani dengan tepat dapat menjadi kronis dan menimbulkan penurunan kenyamanan dan kualitas hidup. Oleh sebab itu, karya ilmiah ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian kompres dingin sebagai manajemen nyeri non-farmakologis pada pasien dengan efusi pleura.
Kompres dingin diterapkan pada pasien selama 3 hari  berturut-turut dengan frekuensi 1-2 kali per hari di area dada. Kompres dingin dilakukan dengan menggunakan handuk dan air dingin selama ±20 menit dengan suhu 15-27 C. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa terjadi penurunan rata-rata skala nyeri poin sebesar 5 poin dalam 3 hari dengan skala 0-100 melalui numeric rating pain scale. Oleh sebab itu, pemberian kompres dingin ini dapat menjadi salah satu terapi nyeri non-farmakologis pada pasien dengan EF sehubungan dengan dampak positif yang ditunjukkan dalam hasil ini.

The migration of peole to urban areas has increase the risk for health problems related to unhealthy lifesytles in communities, including smoking behavior. Smoking can cause many diseases, especially respiratory disease. Pleural effusion happened because of fluid accumulation in pleural cavity and induced by cigarette. Pleural effusion manifestation is shortness of breath and chest pain. Pain that not treated correctly will be chronic and decrease the comfort and quality of life. Therefore, this case study aims to identify the effect of cold compress as non-pharmacological pain in patient with pleural effusion.
Cold compresses applied for 3 consecutive days with a frequency of 1-2 times per day in left chest area. It used a towel and cold water with 15-27 C for ±20 minutes each compress.  The result shows that there was a decrease in the pain mean scale by 5 points in 3 days on a scale of 0-100 through a numeric rating pain scale. So, it cold compress can be used as one of non-pharmacological pain management in patient with pleural effusion because of that result in this study.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Oktorilla Fiskasianita
"Efusi pleura merupakan kondisi medis yang menyebabkan masalah utama pada sistem pernapasan klien. Oksigenasi sebagai kebutuhan dasar utama yang penting bagi manusia merupakan salah satu fokus utama asuhan keperawatan. Posisi tidur dipercaya berpengaruh pada oksigenasi karena dapat meningkatkan ekspansi dinding dada dan memaksimalkan ventilasi pada pasien dengan efusi pleura. Penelitian terdahulu telah banyak merekomendasikan bahwa posisi lateral merupakan posisi tidur yang tepat untuk mengoptimalkan oksigenasipada pasien efusi pleura unilateral. Karya Ilmiah Akhir Ners (KIAN) ini berujuan mengidentifikasi pengaruh pemberian posisi lateral kanan pada pasien efusi pleura sinistra. Hasil analisis pada kasus kelolaan di Ruang rawat penyakit dalam RSUPN dr. Cipto Mangkunkusumo menunjukkan bahwa saturasi oksigen (SaO2) dan tekanan parsial O2 (PaO2) pasien paling optimal dicapai ketika pasien diberikan posisi tidur lateral kanan. Sosialiasi mengenai pemilihan posisi tidur yang sesuai dengan kondisi penyakit pasien diperlukan agar oksigenasi pasien dengan gangguan pernapasan tercapai dengan optimal. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yono Taryono
"Penggunaan ventilator pada pasien yang sudah mengalami perbaikan harus segera dilakukan penyapihan. Salah satu indikator penyapihan ventilator adalah dengan menggunakan RSBI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan nilai RSBI pada semi fowler 15°, 30° dan 45°. Rancangan penelitian ini pre-experimental designs dengan desain penelitian menggunakan one group pretest posttest design. Pemilihan sampel dengan consecutive sampling sebanyak 27 responden. Uji statistik dengan menggunakan uji repeated anova. Hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan nilai RSBI pada semi Fowler 15°, 30° dan 45° p value 0.003, terdapat perbedaan yang signifikan nilai RSBI pada semi Fowler 15° dengan semi Fowler 30° p-value 0,013, tidak terdapat perbedaan yang signifikan nilai RSBI pada semi Fowler 15° dengan semi Fowler 45° p-value 0,629, dan terdapat perbedaan yang signifikan nilai RSBI pada semi Fowler 30° dengan semi Fowler 45° p-value 0,003. Rekomendasi dari penelitian ini semi Fowler pada 30° adalah posisi yang terbaik untuk mendapatkan nilai RSBI yang paling rendah.

Patients with ventilator need to have weaning process gradually. RSBI is one of the indicators in giving weaning process patient with ventilator. The purpose of this study is to examine and compare the score of RSBI on patient with ventilator who is given semi fowler position 15°, 30° and 45°. This is pre-experimental designs study using one group pretest posttest design. Consecutive sampling had been used in recruiting 27 respondents. Repeated anova had been used to analyze the data. The result shows significant different amongst RSBI score on semi Fowler position 15°, 30° and 45° (p value 0.003). Significant different also shows on RSBI score between semi Fowler 15° and 30° (p-value 0,013), semi Fowler 30° and 45° (p-value 0,003), however there is no significant different on RSBI score between semi Fowler 15° and 45° (p-value 0,629). It is recommended that semi Fowler 30° is the best semi Fowler position with the lowest score of RSBI."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T34813
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Boston: : Little, Brown and Company, 1973
616.2 RES
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Saras Serani Sesari
"Gangguan pada sistem respirasi adalah penyebab kematian ketiga di Indonesia. Pengetahuan mengenai kesehatan sistem respirasi berperan dalam perubahan sikap dan pandangan terhadap upaya pencegahan penyakit di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pengetahuan mengenai kesehatan dan penyakit respirasi dengan prevalensi masalah respirasi pada masyarakat perumahan.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional, metode potong lintang. Pengambilan data dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 7-12 Mei 2012 dengan pengisian kuesioner. Sampel penelitian adalah 107 keluarga masyarakat perumahan di kelurahan Bintaro yang dipilih melalui metode consecutive sampling. Kuesioner terdiri dari kuesioner mengenai kesehatan respirasi dan kuesioner mengenai penyakit TB, asma, PPOK, infeksi paru, dan kanker paru.
Hasil penelitian ini, dengan uji chi-square didapatkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai kesehatan respirasi dengan prevalensi masalah respirasi. Sementara untuk tingkat pengetahuan mengenai penyakit TB, asma, PPOK, infeksi paru, dan kanker paru, dengan uji chi-square didapatkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna antara tingkat pengetahuan penyakit TB, asma, PPOK, infeksi paru, dan kanker paru dengan prevalensi masalah respirasi.

The respiratory system disorder is the third leading cause of death in Indonesia. Knowledge about the respiratory health system plays an important role in changing the attitudes and perception towards the disease prevention in the community. The objective of this study was to determine the relationship between the level of knowledge regarding the respiratory health and diseases with the prevalence of respiratory health problem in housing society.
Design of this study is observational, cross sectional method. The data was collected in Jakarta at May 7-12th 2012 by filling out questionnaires. The samples are 107 families of housing community in Bintaro which chosen by consecutive sampling method. The questionnaire consists of set questionnaires about respiratory health and set questionnaires about TB, asthma, COPD, lung infection, and lung cancer.
The results, according to chi-square test there was a significant difference (p<0,05) between the level of knowledge about respiratory health and the prevalence of respiratory health problem. Meanwhile, according to chi-square test also, there was no significant difference (p>0,05) between the level of knowledge about TB, astma, COPD, lung infection, and lung cancer, and the prevalence of respiratory health problem."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nia Yuniawati
"Bermain meniup kertas menggunakan teknik bernafas "pursed lip" anak asmapun dianjurkan untuk menggunakan teknik ?pursed lip? untuk membantu membuka dan mempertahankan jalan nafas agar tetap bersih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aktivitas bermain meniup kertas terhadap frekwensi nafas dan berapa lamakah bermain meniup kertas yang efektif dapat menerunkan frekwensi nafas pada klien prasekolah dengan asma.
Desain penelitian yang digunakan "pearson product moment correlation coefficient". Berdasarkan hasil dari penelitian ini didapatkan nilai kemaknaan koefisien korelasi 0,76 dengan interpretasi hubungannya kuat, yang berarti menunjukkan adanya hubungan antara lamanya bermain meniup kertas dengan frekwensi nafas pada anak prasekolah dengan asma."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5261
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ismid Djalil Inonu Busroh
Jakarta: UI-Press, 2004
617.54 ISM p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>