Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 151604 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nani Hernani
"Kecemasan klien pada pemasangan kateter yang mengalami pembesaran kelenjar prostat pada yang berusia antara 51-60 tahun dipengaruhi oleh faktor takut dan nyeri. Penelitian ini dilakukan di Departemen Bedah RSPAD Gator Soebroto pada bulan Nopember 2001. Tujuan penelitian ini adalah untuk faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan klien pada pemasangan kateter yang mengalami pembesaran kelenjar prostat. Desain yang dilakukan adalah deskriptif sederhana.
Berdasarkan hasil penelitian dari 24 orang klien yang diteliti, yang mempengaruhi faktor kecemasan adalah takut. Berdasarkan hasil penelitian pada Bab III, maka terlihat beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan klien pada pemasangan kateter yang mengalami pembesaran kelenjar prostat yaitu terdiri dari faktor internal di eksternal.
Faktor internal yang paling berpengaruh pada kecemasan terhadap pemasangan kateter adalah takut 83,33 %. Sedangkan faktor eksternal yang sangat berpengeruh adalah keleluasaan bergerak terganggu 83,33%. Dari kedua faktor, faktor paling dominan berpengaruh pada kecemasan klien pemasangan kateter adalah : takut 83,33 % dan keleluasan bergerak 83,33 %."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5120
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Lisbeth
"Penelitian sederhana terhadap ( n = 30 ) , 30 orang klien Stroke yang memakai kateter urine dan yang memenuhi syarat untuk dikelola sebanyak 20 orang klien di RS. Mitra Keluarga Jatinegara Jakarta bertujuan untuk mengidentifikasi apakah selama memakai kateter urine klien Stroke akan menggalami gangguan rasa nyaman. Hasil quesioner yang diisi oleh responden dan memenuhi persyaratan dianalisa dengan menggunakan metode statistik tendensi sentral yang disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klien Stroke yang memakai kateter urine tidak mengalami gangguan rasa nyaman."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5277
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wantonoro
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui "Efektivitas kateterisasi urin menggunakan jelly anestesi dan jelly biasa terhadap respon nyeri pasien laki – laki di RSUD Muntilan dan PKU Muhammadiyah DIY". Desain penelitian Quasi eksperimen; post-test only control group. Pengambilan sampel dilakukan secara nonprobability sampling dengan metode purposive sampling, Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang terbagi dalam dua kelompok.
Hasil uji statistik Mann–Whitney didapatkan angka significancy 0,000. Kesimpulan penelitian bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skala nyeri keterisasi urin menggunakan jelly anestesi dan jelly biasa pada pasien laki - laki. Dari hasil penelitian, jelly anestesi direkomendasikan diberikan 3 menit sebelum pemasangan kateter urin laki - laki.

This research aimed to show the effectiveness of urine catheterization using anesthetics jelly and water based lubricant for male patients’ pain response at RSUD Muntilan and PKU Muhammadiyah DIY. The research design used quasi experiment; post test only control group. Sample was taken by nonprobability sampling with purposive sampling method.In this study, there were 30 respondents which were divided into two groups.
The Mann-Whitney test indicated a significant difference in urine catheterization pain score response using anesthetics jelly and common jelly for male patients. From this study, anesthetics jelly was recommended to use with 3 min delay following instillation of anesthetics jelly before urine catheterization for male patients.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T32782
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Susilawati
"Kateterisasi jantung adalah tindakan diagnostik dan intervensi terhadap penyakit jantung koroner. Nyeri punggung merupakan keluhan yang banyak diungkapkan oleh pasien yang menjalani kateterisasi jantung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap nyeri punggung pada pasien post kateterisasi jantung.
Desain penelitian adalah randomized controlled trials dengan single blind. Sebanyak 46 responden dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan metode randomisasi blok. Hasil penelitian menyimpulkan rerata nyeri punggung pada kelompok kontrol sesudah diberikan perlakuan lebih tinggi secara bermakna daripada kelompok intervensi (p value =0,01) dan selisih peningkatan nyeri punggung pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok intervensi (p value =0,042).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah peningkatan nyeri punggung pada pasien yang diberikan mobilisasi dini lebih rendah dibandingkan peningkatan nyeri punggung pada pasien yang tidak diberikan mobilisasi dini. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dapat ditambahkan intervensi massage punggung untuk menurunkan ketegangan otot punggung.

Cardiac catheterization is increasingly used in hospitals in Indonesia as diagnostic and interventional interventions against coronary heart disease. Back pain is a major complaint expressed by many patients who undergoing cardiac catheterization as prolonged bed rest period without any change in the position for more than 6 hours till tomorrow morning is commonly use. The purpose of this study were to determine the effect of early mobilization toward backpain in patients post cardiac catheterization.
The study design was a randomized controlled trials with singleblinded. The sample size was 46 respondents which divided to two groups: control group and intervention group by using block randomization method. The result of this study showed that mean backpain's scale in control group was significantly higher than the intervention group (pvalue = 0.01) after the interventios were given, and the difference in mean backpain’s scale in the control group is higher than the intervention group (p value = 0.042).
This study conclude that backpain’s scale elevated in patients whose given early mobilization is lower than the in backpain's scale in patients whose are not given early mobilization. Recommendations for further research is added another interventions to reduce tension of back muscles such as back massage.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T35995
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rosiana Waicang
"Inkontinensia urin setelah operasi BPH adalah hilangnya kontrol terhadap buang air kecil karena salah satu katup yang mengontrol urin diangkat bersamaan dengan prostat, apabila katub ini diangkat kemungkinan terjadi kerusakan sraf dan otot sehingga menyebabkan inkontinensia setelah operasi prostat. Inkontinensia urin dapat menyebabkan masalah fisik, psikologis, sosial dan ekonomi sehingga mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian inkontinensia urin setelah operasi prostat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan pendekatan deskriptif korelatif, dan teknik consecutive sampling pada 90 responden. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara Usia dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,063, ! = 0,05), terdapat hubungan signifikan antara obesitas dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,020, ! = 0,05), terdapat hubungan signifikan anatara jenis operasi dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,038, ! = 0,05), terdapat hubungan signifikan antara volume prostat dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,038, ! = 0,05), terdapat hubungan signifikan antara lama operasi dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,036, ! = 0,05) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara waktu operasi dengan kejadian inkontinensia urin (p-value 0,925, ! = 0,05). Pada hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis operasi berhubungan paling dominan dengan kejadian inkontinensia urin nilai OR yang terbesar yaitu (2,39) (95% CI: 0,955-5,988). Diharapkan tenaga keperawatan dapat meningkatkan pemahaman melalui pemberian informasi atau pendidikan kesehatan terkait dengan pencegahan inkontinensia urin umumnya generasi muda khususnya pada generasi tua di Kota Jayapura.

The increase in the life expectancy of the Indonesian population reaching the age of 66.2 years has contributed to an increase in the number of elderly people ( Aging Structured Population ). The aging process causes health problems in the elderly, one of which is urinary incontinence. Urinary incontinence is a bladder sphincter defect or neurological dysfunction that causes loss of control over urination. Urinary incontinence can cause physical, psychological, social and economic problems that affect the quality of life of the elderly. This study aims to identify factors associated with urinary incontinence in patients after prostate surgery at the Urology Polyclinic, Jayapura Hospital in 2023. This study used a cross-sectional design, correlative descriptive approach, and consecutive sampling technique in 90 post-prostate post-operative patients at the polyclinic. Jayapura Hospital Urology. The results showed that there was no significant relationship between age and the incidence of urinary incontinence ( p-value 0.063,! = 0,05) , there is a significant relationship between obesity and urinary incontinence ( p-value 0.020,! = 0,05) , there is a significant relationship between the type of operation and the incidence of urinary incontinence ( p-value 0.038,! = 0,05), there is a significant relationship between Prostate Volume and the incidence of Urinary Incontinence ( p-value 0.038,! = 0,05) , there is a significant relationship between the length of operation and the incidence of urinary incontinence ( p-value 0.036,! =0,05) and there was no significant relationship between operating time and urinary incontinence ( p-value 0.925,! = 0,05). The results of the multivariate analysis showed that the type of surgery was most dominantly related to the incidence of Urinary Incontinence with the largest OR value (2.39) (95% CI: 0.955-5.988). It is hoped that nursing staff can improve understanding through providing information or health education related to the prevention of Urinary Incontinence in general for the younger generation, especially the older generation in Jayapura City. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gede Harsa Wardana
"Latar belakang: Komplikasi lokal dari terapi intravena termasuk infiltrasi, flebitis,tromboflebitis, hematoma dan bekuan pada jarum. Flebitis adalah pada lokasitusukan infus ditemukan tanda-tanda merah, seperti terbakar, bengkak, sakit biladitekan, ulkus sampai eksudat purulent atau mengeluarkan cairan bila ditekanFaktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya flebitis yaitu faktor internal danfaktor eksternal. Dengan menggunakan skor VIP, angka kejadian flebitis di RumahSakit Umum Bali Royal dari Januari sampai dengan bulan Oktober 2017 masihtinggi yaitu berkisar antara rata ndash; rata 1,54.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yangmempengaruhi angka kejadian flebitis pada pasien yang terpasang kateter intravenadi ruang rawat inap RSU. Bali Royal.
Metode: Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitiankuantitatif dengan metode penelitian korelasi descriptif dengan pendekatan crosssectional. Untuk variabel perawatan luka tusukan dan kepatuhan perawat ruangrawat inap dalam menjalankan SPO pemasangan infus, menggunakan desain studiprospektif dimana akan dilakukan observasi terhadap perawat saat menjalankanSPO perawatan infus dan SPO pemasangan infus.
Hasil: Hasil pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara faktor umurpasien, penyakit penyerta, lokasi pemasangan infus, lama waktu pemasangan infusdan jenis cairan yang diberikan dengan angka kejadian flebitis di RS Bali Royaldengan nilai p 0,05.
Simpulan: Dari hasil yang didapatkan dapat dilihat bahwa masih terdapat faktorfaktoryang mempengaruhi angka kejadian flebitis di RSU Bali Royal dankedepannya akan dibuatkan dan dikembangkan SPO untuk mengendalikan faktorfaktorresiko tersebut.

Introduction: Local complications of intravenous therapy include infiltration,flebitis, thromboflebitis, hematoma, and clot on the needle. Flebitis is when at thelocation of the infusion puncture found red signs, such as burning, swelling, painwhen pressed, ulcers to purulent exudate or discharge fluid when pressed. Riskfactors that can affect the incidence rate of flebitis are internal and external factors.Using the VIP score, the flebitis incidence rate at the Bali Royal General Hospitalfrom January to October 2017 was still high, ranging from an average of 1.54.
Aim: This study aims to analyze the factors that affecting the incidence rate offlebitis in patients who installed intravenous catheters in hospital wards of BaliRoyal General Hospital.
Method: The design used in this study is a type of quantitative research withdescriptive correlation research method with cross sectional approach. For variablewound care and inpatient nurse compliance in running of operational standard ofinfusion installation, using prospective study design where will be observed tonurse while running operational standard of infusion installation and operationalstandard of infusion care.
Result: The results of this study showed an association between factors of patientages, comorbidity, infusion site location, duration of infusion and fluid type givenwith flebitis incidence rate at Bali Royal Hospital with p value 0,05. From the results obtained it can be seen that there are still factors affecting theflebitis incidence rate at Bali Royal General Hospital and in the future will be madeand developed a new operational standard to control the risk factors.
Conclusion: From the results obtained it can be seen that there are still factorsaffecting the flebitis incidence rate at Bali Royal General Hospital and in the futurewill be made and developed a new operational standard to control the risk factors.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
T50670
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Tindakan pemasangan kateter urine adalah untuk mengeluarkan produksi urine dalam
tubuh yang diperlukan karena adanya obstruksi, gangguan neurologis, prosedur
pembedahan atau terjadinya inkontinensia urine. Pemasangan kateter yang dilakukan
pada wanita baik yang belum menikah maupun sudah menikah dapat menimbulkan rasa
cemas sebagai perasaan tidak nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbedaan tingkat kecemasan antara wanita belum menikah dengan sudah menikah yang
t an kateter urine. Penelitian ini mempergunakan desain deskriptif perbandingan,
dengan cara pengambilan data secara purposive sampling dilaksanakan darn tanggal 30
Desember 2002 sampai dengan 6 januari 2003. Berdasarkan hasil penelitian dari 30
responden, didapatkan 15 responden wanita belum menikah menunjukkan 13,33 %
tingkat kecemasan ringan dan 86,67 % tingkat kecemasan sedang, rata-rata skor 47,87
(lcecemasan sedang), 15 responden wanita sudah menikah menunjukkan 60 % tingkat
kecemasan ringan dan 40 % tingkat kecemasan sedang, rata-rata skor 37,13 (kecemasan
ringan). Dari basil perhitungan uji t = 3,95 dan df= 28, maka niiainya berada disebelah
kanan dari nilai tabel 2,763 (p = 0,005) berarti nilai p < 0,01 yang lebih kecil dari nilai '
alpha (0,05), maka dapat diputuskan Ho ditolak, sehingga dengan menggunakan alpha
5 % dapat disempulkan bahwa secara statislik ada perbedaan tingat kecemasan antara
wanita belum menikah dengan sudah menikah yang terpasang kateter urine. Salah satu
cara untuk menurunkan tingkat kecemasan klien dngan melakukan pendidikan
kesehatan pada klien yang akan dilakukan pemasangan kateter urine yang bertujuan
untuk meningkatkan pemahaman klien tentang kegunaan dari pemasangan kateter urine."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5166
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Triana Ferdianingsih
"Pemasangan akses kateter intravena perifer (KIP) merupakan prosedur invasif yang paling sering dilakukan pada neonatus di ruang perawatan. Teknik steril merupakan fondasi pencegahan infeksi aliran darah pada neonatus berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan perawat dalam mempertahankan teknik steril pada pemasangan akses KIP. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 134 perawat. Adapun variabel terkait yang di ukur sehubungan dengan kepatuhan perawat dalam mempertahankan teknik steril diantaranya: penusukan berulang, tempat perawatan bayi (inkubator atau radiant warmer), usia perawat, lama bekerja, tingkat pendidikan perawat, tingkat pengetahuan, jadwal dinas, dan jumlah tim saat berdinas. Pengetahuan perawat diukur dengan menggunakan kuesioner dan tingkat kepatuhan diobservasi dengan lembar obsevasi sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO). Data hasil penelitian dianalisis dengan multivariate regresi linier dengan hasil faktor yang memengaruhi kepatuhan perawat dalam mempertahankan teknik steril adalah penusukkan berulang, tempat perawatan bayi (radiant warmer dan inkubator), usia, tingkat pendidikan, jadwal dinas, jumlah tim saat berdinas (p=0,01; alpha 0,05%)

The insertion of peripheral intravenous catheter access (KIP) is an invasive procedure that is most often performed on neonates in the treatment room. Sterile technique is the foundation for preventing bloodstream infection in at-risk neonates. This study aims to identify the factors that influence nurses' compliance in maintaining sterile techniques for KIP access installation. The research design used was cross sectional with a sample size of 134 nurses. The related variables measured in relation to nurses' compliance in maintaining sterile techniques include: repeated stabbing, place of baby care (incubator or radiant warmer), age of the nurse, length of work, level of nurse education, level of knowledge, schedule of service, and number of teams while serving. Nurses' knowledge was measured using a questionnaire and the level of compliance was observed with an observation sheet according to Standard Operating Procedures (SPO). The data from the research results were analyzed by multivariate linear regression with the results that the factors that influenced nurses' compliance in maintaining sterile techniques were repeated stabbing, place of baby care (radiant warmer and incubator), age, education level, service schedule, number of teams while serving (p = 0, 01; alpha 0.05%)"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nova Indrawati B.
"Batu saluran kemih adalah salah satu kasus keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan karena prevalensinya di Indonesia yang terus meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor gaya hidup yang sedikit mengkonsumsi air putih dan tinggi diit protein dan makanan berlemak. Penulisan laporan ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan pada Tn I. klien dengan batu saluran kemih di lantai 5 bedah RSPAD Gatot Soebroto. Fokus intervensi yang diberikan adalah edukasi kesehatan mengenai peningkatan hidrasi air putih 2,5 liter perhari dan perubahan pola diit untuk mencegah kekambuhan berulang. Edukasi dilakukan sebelum dan sesudah penatalaksanaan URS Litotripsi. Hasil yang diperoleh adalah klien dan keluarga mengungkapkan peningkatan pengetahuan mengenai batu saluran kemih dan akan memperbaiki gaya hidup yang belum tepat. Kesimpulan dari penulisan karya ilmiah ini adalah upaya edukasi merupakan tindakan mandiri keperawatan untuk mencegah kekambuhan berulang dari batu saluran kemih.

Urinary tract stones is being one of the urban public health cases because of the rising prevalence nowadays. This case related to the urban lifestyle factors that was low water intake and high protein and fatty diet intake. The aim of this scientific paper was to analyze the nursing care for Mr. I with urinary tract stones at RSPAD Gatot Soebroto. The focus of intervention was giving education about rising hydration with intake water 2,5 litres per day and changing of diet pattern. Education was given before and after the URS Litotripsy. After the intervention given, client and family expressed that the knowledge was upgraded and the client willing to change the bad behaviour. The conclusion of this paper was educationbecome one of the independent intervention that was given by nurse to promote client’s health and prevent the recurrence of stones formation.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Chairul Rijal
"ABSTRAK
Tujuan: untuk mengetahui prevalensi inkontinensia urin, sebaran tipe inkontinensia urin dan faktor-faktor risiko yang berhubungan pada wanita yang berusia diatas 50 tahun.
Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Sebanyak 278 wanita berusia diatas 50 tahun yang tinggal di panti werdha, telah dilakukan wawancara secara terpimpin menggunakan kuesioner Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) yang telah diterjemahkan dan divalidasi. Hasil prevalensi inkontinensia urin disajikan dalam bentuk proporsi/persentase, sedangkan hubungan antara faktor risiko dengan kejadian inkontinensia urin dianalisa dengan uji chi square atau uji Fisher bila syarat uji chi square tidak terpenuhi, dan juga dilakukan uji multivariat.
Hasil: dari 278 subyek penelitian, didapatkan sebanyak 95 orang (34,2%) menderita inkontinensia urin. Dengan sebaran tipenya adalah sebagai berikut: inkontinensia urin tipe campuran 67 orang (70,5%), inkontinensia urin tipe tekanan 17 orang (17,9%) dan inkontinensia urin tipe desakan 11 orang (11,6%). Indeks massa tubuh (IMT) berlebih dan obesitas tidak memiliki hubungan dengan kejadian inkontinensia urin (p> 0,05), mungkin pada penelitian ini jumlah subyek dengan IMT berlebih dan obesitas jumlahnya terlalu kecil. Sedangkan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan inkontinensia urin adalah: usia diatas 60 tahun (OR 7,79, p= 0,021), menopause >10 tahun (OR 5,08, p=0,004), dan multipara (OR 1,82, p=0,019). Pada saat dilakukan uji multivariat, faktor risiko usia diatas 60 tahun didapatkan menjadi tidak berhubungan dengan kejadian inkontinensia urin (p> 0,05). Hal ini disimpulkan bahwa faktor usia diatas 60 tahun bukan merupakan faktor tunggal akan terjadinya inkontinensia urin melainkan multifaktor.
Kesimpulan: penelitian ini mendapatkan angka prevalensi inkontinensia urin pada wanita yang tinggal di panti werdha adalah sebesar 34,2%. Sedangkan sebaran tipe inkontinensia urin adalah: inkontinensia urin tipe campuran 67 orang (70,5%), inkontinensia urin tipe tekanan 17 orang (17,9%) dan inkontinensia urin tipe desakan 11 orang (11,6%). Faktor-faktor risiko inkontinensia urin adalah: menopause >10 tahun dan multipara.

ABSTRACT
Aim: to identify the prevalence of urinary incontinence, the distribution of the type of urinary incontinence and and related risk factors in women older than 50 years.
Method: this is a descriptive study with cross sectional design. Two hundred and seventy eight women older than 50 years old living in nursing house were interviewed using the Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) that has been translated and validated previously. The prevalence result will be presented in the form of percentage; while the relationship between risk factors and the incidence or urinary incontinence will be analyzed using chi square test or Fisher’s exact test if the requirement for chi square test is not met, and multivariate analysis.
Result: Of 278 research subjects, we obtain 95 subjects (34,2%) suffering from urinary incontinence. And the distribution of the type is as follow: 67 subjects (70,5%) with mixed urinary incontinence, 17 (17,9%) with stress urinary incontinence and 11 subjects (11,6%) with urge incontinence. Overweight and obesity body mass index (BMI) are not related with the prevalence of urinary incontinence (p> 0,05), probably in this research the number of subjects with overweight and obesity is too small. While factors related to urinary incontinence are age older than 60 years (OR 7,79, p = 0,021), menopause ≥10 years (OR 5,08, p=0,004) and multiparity (OR 1,82, p = 0,019). When multivariate analysis was done, the risk factor age older than 60 years becomes not related to urinary incontinence (p>0,05). Thus it can be inferred that age older than 60 years is not a singular factor of urinary incontinence but rather a multifactor.
Conclusion: This study shows that the prevalence of urinary incontinence in women living in nursing home is 34,2%; while the distribution of the urinary incontinence is: 67 subjects (70,5%) with mixed urinary incontinence, 17 subjects with stress urinary incontinence (17,9%) and 11 subjects (11,6%) with urge urinary incontinence. Risk factors for urinary incontinence are: menopause ≥10 years and multiparity."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>