Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ana Rizana
"ABSTRAK
Karya Ilmiah Akhir ini bertujuan untuk mengaplikasikan teori Konservasi Levine dalam asuhan keperawatan anak dengan penyakit infeksi yang disertai malnutrisi. Anak dengan penyakit infeksi membutuhkan manajemen nutrisi adekuat untuk mempercepat penyembuhan. Intervensi dilakukan pada lima kasus terpilih dan menggunakan prinsip konservasi antara lain memonitor status nutrisi, memantau intake dan outputmakanan, pencegahan aspirasi dan berkolaborasi untuk menentukan terapi nutrisi. Evaluasi perawatan menunjukkan beberapa pasien memperlihatkan adanya perbaikan status nutrisi. Selanjutnya asuhan keperawatan pada pasien infeksi yang disertai malnutrisi dapat menggunakan model Konservasi Levine. Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat berperan penting dalam mencegah dan mengatasi malnutrisi dan mengurangi komplikasi penyakit pasien.

ABSTRACT
This final scientific paper aimed to apply Levine?s conservation theory in nursing care to children with infection diseases who have malnutrition. Children with infection diseases need adequate nutrition management to fasten the healing process. Intervention is done in five chosen cases and used conservation principles such as monitoring nutrition status, observation of food intake and output, prevention of aspiration, and collaboration to define nutrition therapy. Nursing care evaluation showed some patients have nutrition status improvement. Therefore, nursing care to children with infection diseases who have malnutrition can use Levine?s conservation model. Adequate nutrition fulfillment has significant roles to prevent and overcome malnutrition and decrease complication.
"
2015
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ninis Indriani
"[ABSTRAK
Anak malnutrisi membutuhkan energi cukup besar untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Karya Ilmiah Akhir bertujuan menggambarkan aplikasi model konservasi Levine pada anak dengan penyakit infeksi yang mengalami malnutrisi. Intervensi yang diberikan pada kelima kasus menggunakan empat prinsip konservasi energi yaitu menilai status nutrisi pasien, memonitor intake dan output, mengajarkan keluarga tentang pemberian nutrisi melalui NGT serta kolaborasi dengan tim gizi dalam menentukan kebutuhan nutrisi pasien. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan status nutrisi pada beberapa kasus dengan penyakit penyerta. Model konservasi Levinedapat digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak malnutrisi dengan mempertimbangkan adanya penyakit penyerta yang mengakibatkan tidak tercapainya wholeness.

ABSTRACT
Children with malnutrition need much energy to fulfill the needs of the body?s metabolism. The final scientific paper aims to describe the application of Levine?s conservation model to children with infectious diseases and malnutrition. The interventions which are given to those 5 cases use 4 conservation principles of energy that is evaluating the status of nutrition of patient, monitoring the intake and ouput, educating the family how to give the nutrition via NGT and collaborating with nutrition team to specify the needs of nutrition of patient. The evaluation shows that there is the rise of nutrition status to some cases with comorbidities. The Levine?s conservation model can be used to give nursing care to children with malnutrition by considering the comorbidities which make the wholeness tough to reach.;Children with malnutrition need much energy to fulfill the needs of the body?s metabolism. The final scientific paper aims to describe the application of Levine?s conservation model to children with infectious diseases and malnutrition. The interventions which are given to those 5 cases use 4 conservation principles of energy that is evaluating the status of nutrition of patient, monitoring the intake and ouput, educating the family how to give the nutrition via NGT and collaborating with nutrition team to specify the needs of nutrition of patient. The evaluation shows that there is the rise of nutrition status to some cases with comorbidities. The Levine?s conservation model can be used to give nursing care to children with malnutrition by considering the comorbidities which make the wholeness tough to reach., Children with malnutrition need much energy to fulfill the needs of the body’s metabolism. The final scientific paper aims to describe the application of Levine’s conservation model to children with infectious diseases and malnutrition. The interventions which are given to those 5 cases use 4 conservation principles of energy that is evaluating the status of nutrition of patient, monitoring the intake and ouput, educating the family how to give the nutrition via NGT and collaborating with nutrition team to specify the needs of nutrition of patient. The evaluation shows that there is the rise of nutrition status to some cases with comorbidities. The Levine’s conservation model can be used to give nursing care to children with malnutrition by considering the comorbidities which make the wholeness tough to reach.]"
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siringoringo, Lince
"Anak malnutrisi membutuhkan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Aplikasi Roy bertujuan meningkatkan adaptasi sehingga energi dan nutrisi yang dibutuhkan anak dapat terpenuhi. Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditemukan pada 5 kasus kelolaan. Intervensi difokuskan pada peningkatkan kemampuan adaptasi pasien dengan aktivitas meliputi monitor asupan nutrisi, motivasi untuk meningkatkan asupan nutrisi, dan monitor Berat Badan BB . Evaluasi adaptif pada 2 kasus meliputi peningkatan BB dan kekuatan otot, peningkatan albumin dan hemoglobin. Evaluasi inefektif pada 3 kasus karena beratnya penyakit penyerta. Pertimbangan terhadap adanya penyakit penyerta yang akan mengakibatkan evaluasi inefektif maka Model Adaptasi Roy dapat secara efektif dapat diterapkan pada anak malnutrisi.

Malnourished children need adaptation to fulfill the needs of the body rsquo s metabolism. Roy applications aimed at improving adaptation to energy and nutrients child needs can be met. Nutritional imbalance problems less than body requirements found in 5 cases under management. Interventions focused on increasing the adaptability of patients with activity monitor nutrition intake, the motivation to improve the nutrition, weight monitor. Evaluation of adaptive on 2 cases weight gain and muscle strength, increased albumin and hemoglobin. Evaluation ineffective in 3 cases, because of the severity of comorbidities. Roy Adaptation Model can be applied to malnourished children by considering the comorbidities that would result in ineffective evaluation.Keywords imbalance nutrition, malnutrition, Roy adaptation model.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Resyana Putri Nugraheni
"Usia menars penting untuk diketahui karena berpengaruh pada kondisi kesehatan saat dewasa. Anak dengan usia menars dini (<12 tahun) memiliki tekanan darah yang lebih tinggi, intoleransi glukosa, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan mortalitas akibat kanker. Sementara usia menars lambat (> 14 tahun) berhubungan dengan rendahnya densitas mineral tulang yang meningkatkan risiko osteoporosis. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2010, angka menars dini di Indonesia sebesar 22,5% dan angka menars lambat sebesar 24,3%. Massa lemak tubuh memengaruhi usia menars melalui peran leptin pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi massa lemak tubuh dan distribusinya dengan usia menars. Studi ini merupakan studi potong lintang analitik terhadap 32 anak perempuan usia 10-15 tahun di Jakarta Pusat yang mengalami menars dalam tiga bulan terakhir pada bulan Juli-September 2019. Pengambilan data usia menars dengan metode recall. Pengukuran massa lemak tubuh dilakukan dengan antropometri dan bioelectrical impedance analyzer (BIA). Analisis statistik menggunakan SPSS versi 22. Uji korelasi menunjukkan korelasi sedang antara IMT/U dengan usia menars (r = - 0,45; p = 0,01) dan korelasi lemah antara RLPTB dengan usia menars (r = - 0,37; p = 0,03), sementara uji korelasi pada variabel lainnya tidak bermakna. Peneliti menarik kesimpulan tidak terdapat korelasi antara massa lemak tubuh dan distribusinya dengan usia menars, tetapi terdapat korelasi lemah hingga sedang antara IMT/U dan RLPTB dengan usia menars.

Age at menarche related to health conditions in adult life. Early menarche is associated with higher blood pressure, glucose intolerance, cardiovascular risk, and increase cancer mortality. While late menarche is associated with lower bone mineral density and osteoporosis. Data from Indonesian basic health research 2010 showed the prevalence of early menarche was 22,5% and late menarche was 24,3%. The link of body fat mass and age at menarche was mediated by leptin action on hypothalamic-pituitary-ovarian axis. The aim of this study is to find the correlation of body fat mass and its distributions with age at menarche. This study is a cross-sectional analytic research of 32 girls age 10 to 15 years old who attained menarche within three months prior to measurement in a period of July to September 2019. Menarcheal date obtained with recall method. Body fat mass was measured with anthropometry and bioelectrical impedance analysis (BIA). Statistical analysis performed with SPSS version 22 to determine correlation of body fat mass and its distribution with age at menarche. There was middle-powered inverse correlation between body mass index (BMI) for age and age at menarche (r = - 0,45; p = 0,01) and weak-powered inverse correlation between waist to height ratio (WHtR) and age at menarche (r = - 0,37; p = 0,03), no correlation was found between other variables of fat mass with age at menarche. The researcher concluded that there was no correlation between body fat mass and its distribution with age at menarche, but there were low to middle-powered correlations between BMI for age and WHtR with age at menarche."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Herwasto Kuncoroyakti Jatmiko
"ABSTRAK
Latar belakang: Epidemi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) masih terus berlangsung di seluruh dunia. Infeksi HIV telah diketahui memengaruhi berbagai sistem organ termasuk jantung. Komplikasi jantung akibat infeksi HIV bersifat multifaktorial dan berperan pada morbiditas dan mortalitas anak. Seiring peningkatan ketersediaan anti retroviral therapy (ART), angka kesintasan pasien juga meningkat. ART selain mempunyai efek kardioprotektif melalui mekanisme penekanan replikasi virus, juga mempunyai efek kardiotoksik. Hingga saat ini belum ada studi pada anak yang membandingkan antara kelompok pasien yang belum mendapatkan terapi (ART-naïve) dan yang telah mendapatkan terapi (ART-exposed).Tujuan: Mendapatkan data prevalens komplikasi jantung pada anak dengan infeksi HIV, baik ART-naïve maupun ART-exposed. Komplikasi jantung yang diteliti antara lain kardiomiopati dilatasi, hipertensi pulmonal, efusi perikardial, dan kelainan elektrokardiografi (EKG).
Metode: Penelitian studi potong lintang dilakukan pada 106 anak dengan infeksi HIV usia 1-18 tahun yang datang ke Poliklinik Alergi dan Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari penelitian kohort berjudul ''Cardiovascular Consequences of Paediatric HIV infection: Early Life Cardiovascular Risk and Immediate Cardiac Complications'' yang dilakukan dari bulan Juni 2013 hingga September 2015. Hasil: Komplikasi jantung ditemukan pada 75 (70,8%) anak dengan infeksi HIV, dengan 34 (68%) anak dari kelompok ART-naive dan 41 (73,2%) dari kelompok ART-exposed. Prevalens kardiomiopati dilatasi dan efusi perikardial lebih tinggi secara bermakna pada kelompok ART-naïve (p=0,024; p=0,002), sedangkan prevalens hipertensi pulmonal lebih tinggi secara bemakna pada kelompok ART-exposed (p=0,004). Tidak ditemukan perbedaan bermakna prevalens kelainan EKG antara dua kelompok tersebut.
Simpulan: Prevalens komplikasi jantung pada anak dengan infeksi HIV adalah 70,8% dengan prevalens pada anak ART-naive sebesar 68% sedangkan pada anak ART-exposed sebesar 73,2%."
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Liza Meilany
"Latar Belakang. Anak dengan Spektrum Gangguan Autisme (SGA) seringkali mengalami gangguan gerak halus, yang dapat menimbulkan hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari serta mengganggu performa sekolah. Hingga saat ini belum ada data mengenai prevalens maupun gambaran gangguan gerak halus pada anak SGA di Indonesia, termasuk dampaknya terhadap performa sekolah.
Tujuan. Mengetahui prevalens gangguan gerak halus anak SGA, mengetahui gambaran gangguan gerak halus anak SGA, mengetahui dampak gangguan gerak halus terhadap performa sekolah anak SGA.
Metode. Penelitian analitik potong lintang dilakukan sejak bulan Januari sampai Mei 2014. Subjek anak SGA didapatkan dari Klinik Anakku CMC Kayu Putih. Subjek pada kelompok kontrol dari sebuah sekolah swasta yang telah dilakukan matching usia dan jenis kelamin dengan kelompok SGA. Terhadap subjek penelitian dilakukan pemeriksaan keterampilan gerak halus dengan BOT-2 dan penilaian performa fungsional sekolah melalui pengisian kuesioner SFA oleh guru atau terapis.
Hasil. Subjek penelitian pada kelompok SGA dan kelompok kontrol masing- masing berjumlah 43 anak. Prevalens gangguan gerak halus pada kelompok SGA sebesar 91%. Jumlah subjek pada kelompok SGA yang mengalami gangguan gerak halus pada komposit fine manual control dan manual coordination, serta subtes fine motor precision, fine motor integration, manual dexterity, dan upper- limb coordination lebih besar dibanding kelompok kontrol, dengan median skor kelompok SGA yang lebih rendah pada semua komposit/subtes dibandingkan dengan kelompok kontrol. Terdapat hubungan bermakna antara gangguan gerak halus kelompok SGA dengan performa fungsional sekolah.
Simpulan. Prevalens gangguan gerak halus anak SGA pada penelitian ini adalah 91%. Gangguan gerak halus yang dialami anak SGA berdasarkan pemeriksaan dengan BOT-2 mencakup komposit fine manual control dan manual coordination, serta subtes fine motor precision, fine motor integration, manual dexterity, dan upper-limb coordination. Pada anak SGA, gangguan gerak halus berhubungan dengan gangguan pada performa fungsional sekolah.

Background. Children with Autism Spectrum Disorders (ASD) often have fine motor impairment, which may present barriers in performing their daily activities and interfere with their school performance. Until now there has been no data on the prevalence and description of fine motor impairment in children with ASD in Indonesia, including its impact on the children’s school performance.
Objective. To determine the prevalence of fine motor impairments in children with ASD, to provide the description of fine motor impairments in children with ASD, and to determine the impact of fine motor impairments on the school performance of children with ASD.
Method. A cross-sectional analytic study conducted from January to May 2014. Subjects were children with ASD from Klinik Anakku CMC Kayu Putih. Subjects in the control group were students from a private school matched by age and sex with the ASD group. Fine motor examination was performed using BOT-2 and assessment of school functional performance was conducted through SFA questionnaires filled by teachers or therapists.
Result. There were 43 subjects each on ASD and control groups. Prevalence of fine motor impairments in children with ASD in this study was 91%. The number of subjects in the ASD group having fine motor impairement on the fine manual control and manual coordination composites, as well as fine precision motors, motors fine integration, manual dexterity, and upper-limb coordination subtests are greater than the control group, with median score of all the composites/subtests lower on ASD group compared to that in the control group. There was a significant correlation between fine motor impairments in ASD children with their school function performance.
Result. Prevalence of fine motor impairments in children with ASD in this study was 91%. Fine motor impairments experienced by children with ASD based on examination using BOT-2 covers fine manual control and manual coordination composites, as well as fine precision motors, motors fine integration, manual dexterity, and upper-limb coordination subtests. In children with ASD, fine motor impairment was associated with disturbances in the school function performance.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Rafli
"Latar belakang: Penyakit ginjal kronik PGK masih merupakan masalah kesehatan yang serius pada anak dengan morbiditas yang semakin meningkat dan memiliki dampak terutama pada kualitas hidup anak. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalens PGK pada penderita ge; 15 tahun di Indonesia sebesar 0,2 . Penelitian di Kuwait melaporkan peningkatan prevalens PGK pada anak dari 188 1996 menjadi 329 per satu juta populasi anak pada tahun 2003.
Tujuan: Mengetahui kualitas hidup anak PGK serta hubungannya dengan derajat keparahan, lama diagnosis, dan faktor-faktor yang berhubungan demografi.
Metode: Penelitian potong lintang antara Juli 2016-Mei 2017. Subyek penelitian adalah anak berusia 2-18 tahun yang didapatkan secara consecutive sampling dan menggunakan kuesioner baku PedsQL trade; modul generik versi 4.0 yang diisi orangtua dan anak.
Hasil: Total subjek adalah 112 anak. Kualitas hidup terganggu didapatkan dari laporan orangtua 54,5 dan laporan anak 56,3 . Fungsi sekolah dilaporkan paling sering terganggu pada laporan anak dan fungsi fisis pada laporan orangtua. Faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup adalah lama diagnosis >60 bulan p=0,004 , jenis kelamin perempuan p=0,019 , dan jenjang pendidikan menengah p=0,003.
Simpulan: Lebih dari separuh anak PGK menurut orangtua 54,5 dan anak 56,3 memiliki gangguan kualitas hidup terutama pada fungsi sekolah dan fungsi emosi. Lama diagnosis >60 bulan, jenis kelamin perempuan, dan jenjang pendidikan menengah merupakan faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup anak PGK.

Background: Chronic kidney disease CKD is still serious health problem in children with increasing morbidity affect children's quality of life. From Riskesdas 2013, prevalence of patients CKD ge 15 years old in Indonesia is 0,2 . Research in Kuwait shows increasing prevalence children with CKD from 188 1996 to 329 per millions of the age related population in 2003.
Aim: To assess the quality of life children with CKD as well as relationship with duration of diagnosis, severity, and related factors demographic.
Methods: A cross sectional analytic study. Subjects were recruited from July 2016 May 2017 through consecutive sampling. CKD children aged 2 18 years were involved, patients and their parents were asked to fill out the PedsQL trade generic score scale version 4.0 questionnaire.
Result: A total of 112 children were recruited, quality of life was affected from parents's reports 54,5 and children's reports 56,3. The school and emotional have lowest score affected parameter studied. Factor related to quality of life children with CKD were duration of diagnosis 60 months p 0,004 , female p 0,019 , and middle school p 0,003.
Conclusion: More than half children with CKD have disturbance quality of life in general from parents's reports 54,5 and children's reports 56,3 . Duration of diagnosis 60 months, female, and middle school were related with quality of life children with CKD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brigitta Ida Resita Vebrianti Corebima
"Latar belakang: Air susu ibu ASI sangat bermanfat bagi bayi baru lahir, dari aspek komponen nutrisi maupun proteksi. Respon imun innate dan adaptif pada NKB diketahui masih imatur, diantaranya pada saluran cerna adalah antimikrobial peptide termasuk di dalamnya adalah human defensin 2 hBD2 . Pemberian nutrisi pada bayi prematur masih menjadi problematika karena belum semua NKB bisa mendapatkan ASI saja, sementara ASI kaya akan hBD2.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik menggunakan rancangan studi cross sectional. Dilakukan di ruang neonatologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta pada bulan November 2016 ndash; April 2017. Pemeriksaan laboratorium dilakukan di Laboratorium Prodia. Populasi target NKB dengan usia gestasi 28-34 minggu. Terbagi 4 kelompok ASI, predominan ASI, predominan susu formula dan susu formula saja. Dilakukan pada 44 neonatus kurang bulan. Menggunakan metode ELISA, pemeriksaan radiologis dan pengecekan kadar PCT,CRP dan IT rasio. Metode statistik dengan one way ANOVA.
Hasil: Kadar defensin pada masing-masing kelompok terdapat perbedaan yang signifikan dimana rerata kadar defensin terendah pada kelompok ASI sebesar 91,84 diikuti kelompok 2 221,52, kelompok 4 249,46 dan kadar tertinggi tercatat pada kelompok 3 sebesar 344,86 p=0,004 . Pada pemeriksaan Kadar procalcitonin ,CRP dan It rasio tidak terdapat beda yang signifikan. Klebsiella paling rendah populasinya pada kelompok ASI.
Kesimpulan: hBD 2 kadarnya ditemukan rendah pada kelompok ASI dan tinggi pada kelompok predominan susu formula dan susu formula saja. Hal ini menunjukkan tingginya proses inflamasi pada kelompok yang mendapat susu formula. Air Susu Ibu masih yang terbaik bagi saluran cerna dengan bukti rendahnya Klebsiela pada Kelompok ASI.

Background: Breast milk is highly beneficial for newborns, due to its nutritional aspects and protective properties. Innate and adaptive immune responses in preterm newborns are still immature, including the ones in the gastrointestinal system, namely antimicrobial peptide called human defensin 2 hBD2. Nutrition for preterm babies is still a problem because not all of them can get exclusive breast milk, while breast milk is rich in hBD2.
Method: This study is an analytic descriptive study with cross sectional design. This study was done in the neonatology room in National Central General Hospital of Cipto Mangunkusumo Jakarta, on November 2016 ndash April 2017. Laboratory examination was performed in Prodia Laboratory. The target population was preterm newborns with gestational age of 28 34 weeks, divided into 4 groups, namely the breast fed group, predominant breast fed group, predominant formula fed group, and exclusively formula fed group. This study was performed in 44 preterm newborns using ELISA method, radiological examinations, and measuring the level of PCT, CRP dan IT ratio. The statistical analysis method used for this study is one way ANOVA.
Result: There were significant differences in defensin level among the groups, in which the mean defensin level was lowest in breast fed group 91,84 , followed by the second group 221,52 , the fourth group 249,46 , and the highest in the third group 344,86 p 0,004 . There were no significant differences among groups in IT ratio and procalcitonin and CRP levels. Breastmilk is the best protection for preterm gut which Klebsiella was lowest in breastmilk group.
Conclusion: The level of hBD2 was found to be low in breast fed group and high in predominant formula fed group and also in exclusively formula fed group. This showed the high inflammation process happening in the group fed with formula.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Henny Adriani Puspitasari
"Latar belakang : Jumlah kelahiran hidup bayi prematur di RSCM adalah 507 dan 112 diantaranya lahir pada usia gestasi 28-32 minggu atau disebut bayi baru lahir sangat prematur (BBLSP). Data RSCM menunjukkan bahwa BBLSP memiliki angka kesintasan 58,9%. Pemberian nutrisi yang agresif dengan diet tinggi protein pada BBLSP diperlukan untuk mempercepat kejar tumbuh. Diet tinggi protein memberikan beban metabolisme pada ginjal BBLSP yang sedang berkembang. Ginjal BBLSP memiliki jumlah nefron fungsional yang lebih sedikit dan imaturitas yang ditandai dengan rendahnya laju filtrasi glomerulus serta kemampuan pemekatan urin yang rendah. Diet tinggi protein menginduksi hipertrofi ginjal, proteinuria, dan sklerosis glomerular melalui single nephron glomerular hyperfiltration (SNGHF) sehingga menyebabkan cedera glomerulotubular yang dapat dideteksi dengan biomarka Neutrophil gelatinase-associated lipocalin urin (uNGAL).
Tujuan : Mengetahui pengaruh asupan protein terhadap cedera glomerulotubular pada BBLSP.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian pada BBLSP yang dilakukan dengan desain kohort prospektif yang dilakukan di ruang rawat perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo dan RS Bunda Menteng pada periode 1 Juni 2019 hingga Mei 2020. Pengambilan sampel urin dilakukan sebanyak 3 kali yaitu usia 0-48 jam (T1), 72 jam (T2), dan usia 21 hari (T3). Dilakukan pemeriksaan rasio NGAL dan kreatinin urin (uNGAL/Cr). Cedera glomerulotubular didefinisikan sebagai uNGAL/Cr  1 SB. Data karakteristik subyek dan asupan protein diambil dari rekam medik. Rerata asupan protein enteral dicatat sejak usia 14-21 hari sesuai asupan di rekam medik. Kadar protein di ASI diukur dengan human milk analyzer. Asupan tinggi protein adalah kadar asupan protein 3 g/kg/hari.
Hasil : Total subyek penelitian adalah 59 BBLSP pada saat rekruitmen dan terdapat 39 subyek menyelesaikan penelitian hingga usia 21 hari. Proporsi BBLSP yang mengalami cedera glomerulotubular pada pemberian kadar asupan tinggi protein 5/29 subyek, sedangkan pada pemberian kadar asupan rendah protein adalah 4/10 subyek. Kadar uNGAL/Cr pada BBLSP yang mendapatkan kadar asupan tinggi protein dibandingkan rendah protein adalah 3,54 (0,69-89,16) ng/mg dan 6,88 (0,32-66,64) ng/mg. Kadar uNGAL/Cr pada usia 48 jam, 72 jam, dan 21 hari tidak menunjukkan korelasi yang bermakna dengan kadar asupan protein (p=0,80; 0,58; 0,07).
Simpulan : Sebanyak 5/29 subyek yang mendapatkan kadar asupan tinggi protein mengalami cedera glomerulotubular. Kadar uNGAL/Cr pada BBLSP yang mendapat asupan tinggi protein maupun rendah protein cenderung meningkat pada usia 72 jam dan menurun pada usia 21 hari. Pemberian asupan tinggi protein pada BBLSP tidak menyebabkan cedera glomerulotubular pada bayi sangat prematur.

Background: Absolute preterm birth rate in Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) was 507 in 2018, 112 amongst were born very preterm (28-32 weeks of gestational age). The survival rate was approximately 58.9%. Early aggressive nutrition by administration of high protein intake is needed for catch up growth. High protein produces high metabolic load to the kidney. Kidney in the very preterm neonates have fewer amount of functional nephron. Furthermore, the immaturity of the kidney was shown in lower glomerular filtration rate and ability to dilute urine. High protein intake induces nephron hypertrophy,
proteinuria, and glomerular sclerosis through single nephron glomerular hyperfiltration (SNGHF) which lead to glomerulotubular injury. Urine neutrophil gelatinase-associated lipocalin to creatinine ratio (uNGAL/Cr) is a biomarker used to detect glomerulotubular injury.
Aim : To analyze the correlation of high protein intake and glomerulotubular injury in very preterm neonates.
Method: A prospective cohort study was conducted in very preterm infants admitted to neonatology ward of CMH and Bunda Hospital Menteng during 1 June 2019 to May 2020. Urine sample were taken in 3 points of time: age 0-48 hours, 72 hours, and 21 days postnatal. Urine NGAL and creatinine (uNGAL/Cr) were examined. Glomerulotubular injury was defined as uNGAL/Cr level 1 SD. Subject characteristic data and protein intake were obtained from medical record. Enteral protein intake was recorded daily from medical record since age 14-21 days postnatal. Protein level in the breastmilk was measured by using human milk analyzer. High protein intake is recorded if the average intake was  3/kg/day.
Results: This study recruited 59 very preterm neonates and 39 of them survived until the end of the study. Proportion of very preterm neonates who had glomerulotubular injury after high protein intake vs low protein intake was 5/29 vs 4/10 subjects. Median of uNGAL/Cr level in high protein intake group compare to low protein intake group were 3,54 (0,69-89,16) ng/mg and 6,88 (0,32-66,64) ng/mg. Protein intake is not correlated to uNGAL/Cr level at 0-48 hours, 72 hours, and 21 days postnatal age (p=0,80; 0,58; 0,07).
Conclusion: There were 5/29 subjects experienced glomerulotubular injury in high protein intake administration. In very preterm neonates, uNGAL/Cr level was increased at the age of 72 hours and decreased in 21 days on both high and low protein intake group. High protein intake had no correlation to glomerulotubular injury in the very preterm neonates.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library