Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Endang Wilis Ekowati
"Arthur Schopenhauer yang pemikirannya dilatarbelakangi oleh gerakan romantik serta gugatan terhadap idealisms Jcnnan dalam perkembangan filsafat abad 19 menyajikan konsepsi kehendak metafisis yang bergejolak dalam diri manusia. Sikap pesimistiknya memberikan warna tersendiri dalam filsafatnya. Dalam ranah filsafat kehendak dipahami dengan pengertian yang beragam. Schopenhauer menganggap kchendak sebagai sesuatu yang bersifat liar dan buta. Kehendak memainkan peran penting dalam kehidupan dan dianggap sebagai suatu dorongan diluar kesadaran yang selalu ingin terpcnuhi keinginannya. Kehendak yang ditekankan adalah kehendak untuk hidup yang bersifat metafisis. Ia berpandangan bahwa untuk membebaskan manusia dari tirani kchendak, salah satu jalan yang dapat dilalui adalah kontemplasi estetik. Mclalui kontcmplasi estetik manusia mampu menenangkarr diri dari perbudakan kehendak walaupun bersifat sementara. Schopcnhauer mcnilai bahwa seni yang paling tinggi tingkatannya adalah musik karma musik memanifestasikan kehendak itu sendiri. Pengagungan musik yang dikemukakan oleh Schopenhauer ini mengindikasikan bahwa musik merupakan karya seni yang melibatkan aspek metafisis sehingga berpengaruh kuat pada manusia. Musik yang dimaksud oleh Schopenhauer adalah musik instrumental atau musik absolut. Pandangannya tentang musik dikemukakan dalam konsep metafisika musik. Musik dianggap sebagai manifestasi dari kehendak itu sendiri sehingga berbeda dengan seni-seni lain yang dianggap manifestasi dari ide. Musik berhubungan dengan kehendak yang abstrak sehingga musik dianggap sebagai seni yang absurd. Kemampuan musik dalam menangkap esensi kehendak sebagai kondisi natural manusia memberikan efek yang luar biasa ketika manusia melakukan kontemplasi estetik. Hal ini mengindikasikan bahwa kehendak pada dasarnya berbicara melalui musik untuk menunjukkan kehadirannya dalam kehidupan manusia. Penekanan pada musik absolut sebagai satu-satunya musik yang mampu menangkap esensi kehendak tersebut mengindikasikan bahwa konsep musik Schopcnhauer terpengaruh pada gerakan romantik dimana ekspresi perasaan berperan utama dalam seni"
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S16170
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Windo Wibowo
"Rasionalisme dan empirisme merupakan dua aliran filsafat yang besar dalam periode filsafat Modern. Kedua aliran ini memiliki kecenderungan yang berbeda sekaligus bertentangan satu sama lain. Rasionalisme mengutamakan pengetahuan a priori ementara empirisme mengutamakan pengetahuan a posteriori. Di dalam filsafat Kant (_kritisisme_) ditemukan corak yang berbeda dari dua aliran itu. Dalam kritisisme Kant pengetahuan dijelaskan sebagai sintesis antara unsur a priori dan a posteriori. Dengan pemikiran Kant itu penulis dalam skripsi ini menyelenggarakan sintesis antara rasionalisme dan mpirisme yang mana notabene kedua aliran tersebut saling bertentangan.

Rationalism and empiricism are two huge philosophies in the Modern age. Those twoschools of thought either have different dispositions and contraries each other. Rationalism raises the a priori knowledge meanwhile empiricism raise the a posteriori knowledge. In Kant_s philosophy (_criticism_) was found different pattern than those two schools of thought. In Kant_s criticism knowledge was explained as a synthesis between the a priori and a posteriori elements. With those of Kant_s thought, the author in this thesis organizing synthesis between rationalism and empiricism in which those two school of thought are basically in contradiction each other. Key words: A posteriori, a priori, empiricism, epistemology, criticism, rationalism, sensibility, understanding, Vernunft."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S16075
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Githa Farahdina
"Sejak perkembangan teknologi informasi, situs jejaring sosial menjadi lingkungan baru bagi manusia. Lingkungan baru ini mengkonstruksi sebagian dunia manusia sebagai realitas virtual. Keberadaan kita di dalam realitas virtual tersebut turut mempengaruhi pembentukan self. Hal ini dikarenakan self tidak terkurung di dalam tubuh manusia, tidak pula terisolasi dari dunia luar, melainkan berada di dalam yang sosial, dan pembentukannya berlangsung dalam relasi seseorang dengan yang lain. Oleh karena self tidak memiliki esensi, maka pembentukan self merupakan sebuah proses penciptaan diri yang tidak pernah berhenti. Virtualisasi di dalam situs jejaring sosial inilah yang menjadi salah satu medium bagi penciptaan self tersebut.

Since the development of information technology, site of social networking has been becoming a new environment for human-being. This new environment constructs a part of human-world as virtual reality. Our existence in this virtual reality also influences the self forming. It is because of self that is not prisoned in human body, nor self is isolated from external world, but existing within the social, and its forming is going on relation to the others. Because of self has no essence, self forming is a process of self-creation which never stop. Virtualization in this site of social networking is a kind of media for that self-creation."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S16048
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fauzan Alkadri
"Musik tidak memiliki aspek yang memungkinkannya mengekspresikan suatu makna secara eksplisit. Makna hanya dapat kita dekati dengan bahasa yang memiliki fungsi semantik dan dibentuk oleh kata-kata sebagai unsurnya. Adapun musik, tidak memiliki fungsi semantik layaknya bahasa, namun memiliki kedalaman yang melampaui nalar. Oleh karena itu, kedalaman musik tak bisa didekati dengan kegiatan memaknai. Meskipun demikian, kedalaman ini memiliki efek tertentu yang menyebabkan adanya perasaan tertentu pada pendengarnya. Kedalaman dari musik dapat kita dekati melalui intimasi, dan bukan penafsiran maupun penilaian. Pada musik, intimasi dapat berupa emosi, yang merupakan efek nyata yang timbul karena mendengarkan musik.

Music has no aspect that make it possibles to express meaning explicitly. We can only approach meaning by language which has semantic function and is constructed by words as its elements. Music is not language, therefore, has no semantic function, but it has profundity that beyond the reason. Thereby, musical profundity can_t be approached by interpreting act. Nevertheless, its profundity has effect that cause certain emotion on its listener. Musical profundity can be approached by intimations, not by interpretation nor evaluation. Intimations on music can be found as emotion which is a real effect emerges when we are hearing music"
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S16015
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Puri Kurniasih
"Mitos; kata yang seolah-olah dekat dan dikenal. Banyak orang berbicara mengenai mitos, bahkan bermitos. Namun, kebanyakan dari mereka tidak tahu apa itu mitos, yang ada justru terperosok ke dalam makna tambahan. Perbedaan konsepsi mengenai realitas dan kebenaran bisa melahirkan perbedaan pandangan mengenai mitos. Tulisan ini merupakan upaya mengingat sebuah gerakan konseptual yang mengkonstruksi pandangan tentang mitos sebagai yang tidak benar dan yang tidak nyata. Dengan demikian, perlu rekonstruksi pandangan umum untuk membereskan permasalahan tersebut agar didapat pemahaman baru mengenai mitos untuk menyelamatkan rasio.

Myth; a term that is as if familiar and known. Many people talks about myth, even mything. But, a lot of them do not know what is myth; they tend to think about it in its additional meanings. Different conceptions about reality and truths can emerge differences on view about myth. This writing is an attempt to review the conceptual movement that constructs view about myth as the untruth and the unreal. Thereby, we need to reconstruct common view to make this problem clear, so that we get a new understanding about myth to safe reason."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S16037
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aufira Utami
"Skripsi ini merupakan sebuah telaah filsofis terhadap kondisi mental illness pada manusia. Dengan menggali kembali kondisi mind manusia yang terbentuk melalui pengalaman, maka muncullah dialog sebagai pola interaksi bagi ‘penderita’ mental illness. Berbeda dengan telaah psikologis yang bersifat empiris dan menekankan terapi pada tiap tahapnya, telaah filosofis menaruh perhatian pada kondisi abstrak mind yang bersentuhan dengan lingkungan. Penelitian dilakukan dengan membongkar kembali kondisi mind manusia dan hubungannya dengan pengalaman sebagai langkah awal mengenal mental illness dan pemulihannya.

This undergraduate thesis is a philosophical analysis of mental illness in human being. By recollecting mind condition of human which is shaped by experience, dialogue appears as an interaction model for patient of mental illness. It is different with the psychological, which is more empirical and talk more about stages of therapy, the philosophical analysis talk about abstraction of human mind condition related to their society. This observation using phenomenological method by re-knowing human experience and find dialogue as the first step to cure mental illness."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S560
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mohamad Yoga Ramadhan
"Musik populer lahir dengan beragam asumsi yang melekat seperti, low culture, komoditi industri, musik non serius dan sebagainya, hal tersebut yang sekaligus membentuk pengertian kita secara umum mengenai musik populer. Mengangkat kembali problem penting dalam musik, seperti proses kreasi yang mengandalkan ide dan imajinasi terhadap relevansinya dengan musik populer yang ketat dengan tradisi industri, media dan massa ditinjau melalui epistemologi Carl Gustav Jung mengenai konsep ketidaksadaran, merupakan ide yang menarik dalam membentuk pandangan, makna dan keseharian manusia terhadap aktivitas musik populer yang berpengaruh secara mendalam bagi perkembangan sosial dan budaya.

Popular music was born with a variety assumptions such as, low culture, industrial commodities, not serious music and so forth, it is well established in general our understanding of popular music. Raised important issues in music, like the creative process that relies on ideas and imagination of its relevance to popular music is tight with industry tradition, and the media are dealt with through the epistemology of Karl Gustav Jung's concept of the unconscious, is an interesting idea in forming the view, the meaning and the everyday activities of influential popular music in depth the social and cultural development."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S42979
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Batubara, Yohanna Monica H.
"Soren Aabye Kierkegaard sebagai bapak eksistensialisme, menekankan manusia sebagai inti dari pemikiran eksistensialismenya. Pemikiran atas pemahaman eksistensi individu yang berdasarkan pada gairah atas pilihan_pilihan hidup, yang berjuang, bergulat, dan mengalami hasrat. Tegangan_tegangan eksistensial yang dirasakan oleh setiap individu menjadi landasan bagi subjek untuk memilih setiap pilihan yang ada di hidupnya. Ketidakpastian dalam hal ini merupakan salah satu hal yang pasti akan hadir pada setiap pilihan yang akan membuat setiap subjek merasakan kecemasan dan ketakutan. Semua pilihan yang mengandung ketidakpastian tersebut memerlukan adanya suatu keyakinan yang membuat individu lepas dari rasa cemas, sehingga keputusan yang telah dibuatnya membawa dia kepada keotentikan dan eksistensi dirinya. Isabella Swan dalam film Twilight merupakan sebuah contoh atas pemahaman eksistensialisme Soren Kierkegaard.Isabella Swan berhadapan dengan pilihan atas eksistensinya yang membutuhkan pertimbangan etis pada dirinya.

Soren Aabye Kierkegaard as the father of existentialism, emphasizes people as the core of the idea of existentialism. Thoughts on the understanding that the existence of individuals based on the passion for life choices, struggling, and experiencing desires. Existential tensions felt by every individual as a baseline for the subject to select any options in life. The uncertainty in this respect is one thing for sure will be present at every option that would make any subject feel the anxiety and fear. All the options that contain these uncertainties requires a belief that makes the individual free from anxiety, so the decision has been made to bring the subject to the authenticity and existence itself. Isabella Swan in the Twilight movie is an example of existentialism, Soren Kierkegaard's understanding. Isabella Swan faced with the option of requiring the existence of ethical considerations in her."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16019
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nicko Saputra
"ABSTRAK
Fokus penelitian ini adalah dua perspektif atau model dalam kedokteran, yang memiliki sedikit perbedaan dalam memahami mental, dan mencoba menawarkan perspektif filosofis tentang mental berdasarkan pada filsafat pikiran, terutama fungsionalisme. Dalam kedokteran, mental adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari pasien. Kedokteran pikiran-tubuh, sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran, meyakini bahwa mental berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tubuh dan sebaliknya. Tetapi, karena sifat mental yang non-fisik, pengaruh mental sulit dipahami. Dengan itu, tawaran perspektif filosofis mental mungkin memberikan jembatan pemahaman terhadap mental dan hubungannya jauh lebih dalam. Kedokteran, jelas, sudah memiliki banyak penelitian dan penemuan luar biasa tentang mental, tetapi masih belum jelas bagaimana mental dan tubuh memiliki hubungan. Fungsionalisme masuk sebagai perspektif untuk memahami hubungan pikiran dan tubuh. Fungsionalisme memandang bahwa mental dapat dilihat sebagai fungsi yang memiliki peran dalam hubungan input dan output apakah dengan tubuh atau kondisi mental lainnya. Hal ini dapat dilihat sebagai komputer yang merupakan gabungan dari dua komponen, perangkat keras dan perangkat lunak yang saling tergantung satu sama lain. Studi ini menunjukkan bahwa obat pikiran-tubuh dapat dipahami secara fungsional sebagai bukti teoritis mental.

ABSTRACT
The focus of this research is two perspectives or models in medicine, which have a slight difference in mental understanding, and try to offer a philosophical perspective on mentality based on the philosophy of mind, especially functionalism. In medicine, mentality is something that cannot be released from the patient. Mind-body medicine, as a branch of medical science, believes that mental influences the health condition of the body and vice versa. However, due to the non-physical mental nature, mental influences are difficult to understand. With that, the offer of a philosophical mental perspective might provide a bridge to understanding the mental and its relationship much deeper. Medicine, obviously, already has a lot of extraordinary research and discoveries about mental, but it's still not clear how mental and body have a relationship. Functionalism enters as a perspective for understanding the relationship of mind and body. Functionalism views that mentality can be seen as a function that has a role in the relationship of input and output whether with the body or other mental conditions. This can be seen as a computer which is a combination of two components, hardware and software which are interdependent on each other. This study shows that mind-body medicine can be functionally understood as mental theoretical evidence.
"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Armania Putri
"ABSTRAK
Perdebatan euthanasia belakangan menjadi pembahasan yang sukar karena banyak berbenturan dengan konsep
sosial yang ada di lingkungan masyarakat saat ini. Objek dari penelitian ini adalah euthanasia pasif dengan
berlandaskan konsep kematian dimana kematian bukanlah suatu hal yang ditakutkan melainkan kematian
merupakan gambaran dari kebebasan. Penelitian ini juga membahas mengenai euthanasia pasif melalu pendekatan
filosofis etika terapan yang menjadi titik berangkat peneliti, dimana euthanasia dapat dibenarkan berdasarkan alasan
kehendak kebebasannya diri. Penelitian ini menjadi relevan karena merepresentasikan bagaimana seharusnya
manusia bertindak dan bagaimana euthanasia dapat dijustifikasi etis sebegai tindakan yang bermoral. Tujuan
penelitian ini adalah menjelaskan kebebasan diri seseorang yang sudah tidak memiliki kehendak untuk melakukan
sesuatu dalam fenomena euthanasia pasif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam kasus euthanasia
pasif, keluarga memiliki kehendak atas diri seorang pasien euthanasia pasif karena memiliki beban moral atasnya.
Keputusan moral keluarga dapat memengaruhi bagaimana pasien bisa bebas dari penderitaan, sedangkan euthanasia
berhadapan dengan prinsip dasar manusia yaitu mengenai sesuatu yang dianggap benar dan bermoral. Karena
bahwasanya seorang manusia memiliki tanggung jawab moral atas segala hal yang dilakukan dan memiliki
pertimbangan etis. Maka tindakan euthanasia bisa dibenarkan berdasarkan justifikasi etis.

ABSTRACT
The debate over euthanasia has recently become a difficult discussion because there are many conflicts with the
social concepts that exist in todays society. The object of this study is passive euthanasia based on the concept of
death where death is not something to be feared but death is a picture of freedom. This study also discusses passive euthanasia through a philosophical approach to applied ethics which is the starting point of researchers, where
euthanasia can be justified based on the reasons for their own freedom. This research becomes relevant because it
represents how humans should act and how euthanasia can be justified ethically as moral action. The purpose of this
study is to explain the freedom of a person who does not have the will to do something in the phenomenon of
passive euthanasia. Based on the results of the study concluded that in the case of passive euthanasia, the family has
a will for a passive euthanasia patient because of his moral burden. Family moral decisions can influence how
patients can be free from suffering, while euthanasia is dealing with basic human principles, namely something that
is considered right and moral. Because that a human being has moral responsibility for everything that is done and
has ethical considerations. So the act of euthanasia can be justified based on ethical justification."
2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>