Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pudentia Maria Purenti Sri Suniarti Karnadi
"Mak Yong yang diajukan dalam disertasi ini adalah salah satu jenis kesenian yang terdapat di daerah Riau, khususnya di daerah Bintan Timur yang menggabungkan unsur-unsur ritual, cerita, tari, nyanyi, dan musik. Dalam pertunjukannya, Mak Yong mempertemukan pemain dan pementasannya dengan penonton dalam ruang waktu dan tempat yang sama.
Untuk melakukan kajian Mak Yong terlebih dahulu diperlukan deskripsi yang "lengkap" yang diharapkan dapat menjembatani pemain dan pertunjukannya dengan penonton selaku penikmat dan pendukungnya. Deskripsi pertunjukan semacam ini menghadapi masalah yang kontradiktif. Di satu pihak, sebuah pertunjukan pada dasarnya bersifat "satu kali," tetapi di lain pihak dapat muncul suatu keperluan untuk melihat kembali pertunjukan itu yang sudah tidak ada. Deskripsi seakan-akan membekukan peristiwa, waktu, dan ruang sebuah pertunjukan dalam bentuk rangkaian kata dan berbagai bentuk rekaman suara dan gambar.
Pertunjukan Mak Yong yang akhirnya dideskripsikan ini memperlihatkan kecairan dan kepekatan kelisanan yang amat menarik. Kecairan mendukung fungsi hiburan dan resistensi rakyat terhadap penguasanya, kepekatan mendukung fungsi pengajaran dan pengukuhan nilai. Selain itu, hal lain yang menarik adalah interaksi antara dunia kelisanan dan keberaksaraan dalam menghasilkan sebuah pertunjukan. Adanya birokrasi yang tidak tampak jelas, peranan panitia yang sangat kuat, kebijakan penguasa mengenai seni, dan sistem latihan dalam sanggar mewarnai perjalanan sebuah tradisi menembus masa kini. Kajian ini adalah "cerita" mengenai perjalanan sebuah pertunjukan tradisi lisan di dalam masyarakatnya yang masih mengandalkan kelisanan dan di luar masyarakatnya yang sudah memasuki dunia keberaksaraan dalam suatu masa kejayaan orde politik tertentu di Indonesia."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2000
D273
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nafron Hasjim
"Naskah sastra klasik Melayu yang kurang lebih berjumlah lima ribu buah (Hussein, 1974:12) itu belum dapat ditangani sebagaimana mestinya (Bachtiar, 1974; Ikram, 1976; Robson, 1978 dan 1988; Mulyadi, 1981/1982; dan Hasjim, 1982). Memang benar jika dikatakan bahwa banyak kesulitan yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah klasik Melayu itu (Braked, 1977; Robson, 1978). Akan tetapi, harus disadari bahwa di dalam naskah-naskah klasik itu tersimpan nilai-nilai kehidupan bangsa yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini (Bachtiar, 1974; Soebadio, 1975; Robson, 1978 dan 1988; Ikram, 1980; Sutrisno, 1981). Oleh karena itu, penggarapan naskah-naskah klasik itu secara sungguh-sungguh perlu dilakukan terus-menerus.
Kisasu L-Anbiya, selanjutnya disebut dengan singkatan KA, merupakan salah satu judul naskah yang terdapat di dalam khazanah sastra klasik kita. Sutaarga et al. (1972) mengelompokkan naskah ini ke dalam kelompok "Cerita Kenabian". Sebagai sastra klasik, KA sangat mungkin berisi hal-hal penting yang berguna bagi kehidupan kita dewasa ini.
Sampai dengan penelitian ini selesai dilakukan dapat diketahui bahwa naskah KA itu berjumlah 18 buah dan tersimpan di beberapa tempat. Selain itu, terdapat pula sebuah teks KA yang sudah dalam bentuk cetak batu dan diperjualbelikan secara bebas.
Melalui studi pustaka dapat diketahui bahwa beberapa orang penulis pernah membicarakan atau menyinggung secara sekilas masalah cerita ini di dalam tulisannya. Selain itu, ada juga informasi.yang menyatakan beberapa orang peneliti melakukan pembahasan terhadap naskah.
Berdasarkan informasi-informasi itu, dapatlah disimpulkan bahwa naskah KA belum digarap secara menyeluruh. Asumsi dasar dalam melakukan penelitian ini adalah bahwa KA merupakan sebuah karya sastra. Sebagai karya sastra, teks KA haruslah merupakan suatu kebulatan yang berstruktur. Berdasarkan pengamatan selintas, naskah KA merupakan kumpulan cerita para nabi, dalam arti setiap cerita berdiri sendiri, tidak ada hubungan antara satu cerita dengan cerita yang lain. Sehubungan dengan itu, penelitian terhadap hubungan antarcerita yang terdapat di dalam KA--sebagai upaya untuk membuktikan kebulatan teks--merupakan hal yang menarik perhatian.
Di dalam cerita-cerita yang tergolong "Cerita Kenabian" atau cerita-cerita yang mendapat pengaruh Islam pada umumnya terdapat kutipan ayat-ayat Quran. Demikan juga halnya dengan KA. Akan tetapi, ayat-ayat Quran yang dikutip di dalam KA terlihat sebagai salah satu unsur struktur yang menonjol: selain disebabkan oleh jumlahnya yang sangat banyak, hubungannya dengan teks tampak sangat erat. Kehadiran ayat Quran seperti itu menarik perhatian untuk dikaji dari segi struktur teks.
Kutipan ayat-ayat Quran di dalam teks itu dapat dijadikan dasar untuk menganggap, bahkan meyakini, bahwa KA merupakan buku teks keagamaan (Islam) yang sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam. Padahal, sebagai karya sastra yang bersifat keagamaan, KA tidak bersih dari fiksi yang belum tentu sesuai dengan akidah Islam. Kontradiksi seperti ini dapat mengakibatkan kesalahpahaman khalayak dalam menikmati KA. Oleh karena itu, penjelasan mengenai fungsi cerita melalui penelitian yang saksama perlu dilakukan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D63
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nani Tuloli
"Sastra lisan adalah salah satu gejala kebudayaan yang terdapat pada masyarakat terpelajar dan yang belum terpelajar. Ragamnya pun sangat banyak dan masing-masing ragam mempunyai variasi yang sangat banyak pula. Isinya mungkin mengenai berbagai peristiwa yang terjadi atau kebudayaan masyarakat pemilik sastra tersebut (Finnegan, 1975: 3). Dari segi bentuk, sastra lisan memperlihatkan keteraturan-keteraturan yang berlaku pada setiap ragam sastra lisan tertentu, di samping adanya berbagai variasi dalam penceritaan.
Membicarakan sastra lisan tidak sempurna kalau hanya membicarakan karya sastranya tetapi harus dihubungkan dengan pencerita, penceritaan, dan pendengar atau penontonnya. Oleh Finnegan dikatakan bahwa untuk dapat menghargai sepenuhnya karya sastra lisan, tidak cukup kalau hanya berdasarkan hash analisis melalui interpretasi kata-kata, nada, struktur stilistik, dan isinya. Gambaran tentang sastra lisan hendaknya di samping membicarakan struktur karya sastranya, juga membicarakan penggubah atau pencerita, variasi yang terjadi akibat audiens dan saat penceritaan, reaksi audiens, sumbangan alat-alat musiknya, konteks sosial tempat cerita itu. (Finnegan, 1978: 7).
Semua aspek yang disebutkan di atas perlu diungkapkan, kalau kita ingin mendapatkan pengetahuan tentang kekayaan budaya yang terdapat dalam sastra. Hal itu sangat panting bagi peneiitian sastra lisan di Indonesia, karena sastra lisan terdapat di seluruh wilayah baik di kota maupun di desa. Di Indonesia sastra lisan lazim digolongkan pada sastra daerah. Dapat dikatakan bahwa setiap daerah yang mempunyai bahasa daerahnya, sangat mungkin mempunyai sastra lisan.
Kehidupan sastra lisan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Ada sebagian sastra lisan di Indonesia yang telah hilang, sebab tidak sempat didokumentasikan. Sastra lisan yang masih ada, baik yang telah diselamatkan melalui penelitian masa dahulu dan masa kini maupun yang belum diteliti, ada yang masih bertahan tetapi ada pula yang telah mengalami perubahan. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D411
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Talha Bachmid
"Pada umumnya, situasi sosial-politik-budaya yang melatarbelakangi timbulnya keresahan, mendorong para penulis untuk memberontak terhadap kaidah-kaidah sastra sebagai cermin kemapanan, demi mengungkapkan protes terhadap realita hidupyang dihadapi maupun terhadap kaidah sastra itu sendiri. Protes dilancarkan melalui cara tertentu, dan salah satunya melalui sikap mengejek atau menertawakan. Semangat mengejek itu disebut semangat derision.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua lakon, kapai-kapai karya Arifin dan Badak-badak karya Ionesco, menunjukan penyimpangan terhadap konvensi penulisan lakon, dan ditulis dalam semangat derision. Pembahasan situasi sosial-budaya di masing-masing negara menunjukan titik kesamaan. Semangat yang sama dilatarbelakangi oleh pergantian rezim politik yang membawa perubahan dalam kehidupan sastra dan seni. Selain itu akibat pergantian situasi adalah timbulnya kebutuhan mendesak dari pihak perngarang untuk mengungkapkan semacam proses terhadap kehidupan pada umumnya, dan kehidupan seni dan sastra pada khususnya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D56
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yati Haswidi Aksa
"ABSTRAK
Dari sejumlah besar karya yang termasuk dalam kesusastraan rakyat, telah dipilih dongeng untuk ditelaah, dengan alasan-alasan berikut :
Pertama-tama, pentingnya dongeng sebagai proyeksi khayalan yang bersifat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Cerita-cerita tersebut senantiasa merupakan gambaran simbolis dari situasi dan tingkah laku sosial, suatu ilusi yang disampaikan melalui penceritaan. Sebagai seperangkat pengetahuan dan model kultural sekelompok masyarakat, dongeng mengandung pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan dengan memaparkan contoh penerapannya. Fungsi "main-main" yang terdapat di dalamnya ditujukan untuk memasukkan unsur pedagogis dengan cara yang tidak bersifat memaksa. Pada peringkat imajinasi unsur pedagogis yang dimanifestasikan dalam bentuk pesan moral memperlihatkan kesesuaiannya dengan kehidupan nyata.
Alasan selanjutnya, ialah pentingnya dongeng sebagai teks naratif yang dapat kita gunakan sebagai sarana pembuktian suatu metode analisis. Dongeng, yang merupakan kumpulan cerita yang cukup padat meskipun pendek dan ringkas, juga tepat untuk dianalisis secara
morfologis. Salah satu tujuan penelitian ini adalah menerapkan model naratologis tertentu. Bagi penulis, dongeng nampak sebagai suatu bidang terapan yang menarik untuk menguji apakah model tersebut dapat diterapkan.
Setelah dipilih dongeng untuk dianalisis, maka bidang bahasan pun harus dibatasi karena cerita yang termasuk dongeng sangatlah banyak dan jenisnya pun sangat beragam. Di hadapan keanekaragaman itu, dipilih cerita binatang, suatu pilihan yang didasarkan pada kepopuleran dongeng jenis tersebut di Indonesia.
Korpus terdiri atas dua kelompok fabel. Yang pertama, fabel karya Satjadibrata yang karena telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia dan sering disampaikan secara lisan, maka is tergolong ke dalam cerita rakyat Nusantara (Rusyana 1981,: 19-20). Yang kedua adalah fabel karya La Fontaine, seorang pengarang Francis abad ke XVII yang juga berasal dari cerita rakyat yang berkembang pada beberapa generasi.
Kedua kumpulan fabel tersebut merupakan cerita
yang beredar secara lisan dan menjadi warisan budaya, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, di samping penyebaran secara tulis. Isinya mengenai suatu kebenaran umum yang dianggap baik untuk diterapkan dalam kehidupan setiap perang."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D38
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nani Tuloli
"ABSTRAK
Sastra lisan adalah salah satu gejala kebudayaan yang terdapat pada masyarakat terpelajar dan yang belum terpelajar. Ragamnya pun sangat banyak dan masing-masing ragam mempunyai variasi yang sangat banyak pula. Isinya mungkin mengenai berbagai peristiwa yang terjadi atau kebudayaan masyarakat pemilik sastra tersebut. Dari segi bentuk, sastra lisan memperlihatkan keteraturan-keteraturan yang berlaku pada setiap ragam sastra lisan tertentu, di samping adanya berbagai variasi dalam penceritaan. Membicarakan sastra lisan tidak sempurna kalau hanya membicarakan karya sastranya, tetapi harus dihubungkan dengan pencerita, penceritaan, dan pendengar atau penontonnya. Oleh Finnegan dikatakan bahwa untuk dapat menghargai sepenuhnya karya sastra lisan, tidak
cukup kalau hanya berdasarkan hasil analisis melalui interpretasi kata-kata, nada, struktur stilistik, dan isinya. Gambaran tentang sastra lisan hendaknya di samping membicarakan struktur karya sastranya, juga membicarakan penggubah atau pencerita, variasi yang terjadi akibat audiens dan saat penceritaan, reaksi audiens, sumbangan alat-alat musiknya, konteks sosial tempat cerita itu
Semua aspek yang disebutkan di atas perlu diungkapkan, kalau kita ingin mendapatkan pengetahuan tentang kekayaan budaya yang terdapat dalam sastra. Hal itu sangat panting bagi penelitian sastra lisan di Indonesia, karena sastra lisan terdapat di seluruh wilayah balk di kota maupun di Mesa. Di Indonesia sastra lisan lazim digolongkan pada sastra daerah. Dapat dikatakan bahwa setiap daerah yang mempunyai bahasa daerahnya, sangat mungkin mempunyai sastra lisan.
Kehidupan sastra lisan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Ada sebagian sastra lisan di Indonesia yang telah hilang, sebab tidak sempat di dokumentasikan . Sastra lisan yang masih ada, balk yang telah diselarnatkan melalui penelitian masa dahulu dan masa kini maupun yang belum diteliti, ada yang masih bertahan tetapi ada pula yang telah mengalami perubahan. Hal itu telah diungkapkan oleh A. Teeuw bahwa ada contoh tentang bentuk sastra lisan yang masih dihapalkan dan dipertahankan terus tanpa banyak perubahan.
"
1990
D402
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mursal Esten
"Dalam perkembangan sastra Indonesia, terlihat dua kecenderungan yang menarik. Pada periode awal semenjak angkatan dua puluhan sampai dengan angkatan 45, terasa sekali orientasi penciptaan ke sastra barat. Hal itu terlihat tidak saja dalam ragam sastra yang ditulis seperti roman atau novel yang berbentuk soneta, ragam sastra yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi nusantara, akan tetapi juga pada tema-tema yang dipilih. Di dalam roman-roman angkatan Balai Pustaka, tema-tema yang mendapat tempat adalah masalah feodalisme, di dalam novel-novel pujangga baru masalah timur dan barat. Sedang puisi-puisi angkatan 45 tentang kemerdekaan atau kebebasan. Sesudah tahun lima puluhan dan terutama sekali semenjak tahun tujuh-puluhan, di dalam sejumlah karya sastra Indonesia yang penting, akar budaya tradisi dijadikan dasar tolak penciptaan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D126
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Okke Saleha K. Sumantri Zaimar
"Dalam suatu karya sastra terpancar pemikiran, kehidupan dan tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat. Karena itu, berbicara tentang kesusastraan berarti juga membicarakan suatu segi kebudayaan. Sekarang, di mana-mana kita dapat menyaksikan percampuran budaya. Berkat hubungan antarnegara dan adanya komunikasi modern, dunia menjadi lebih kecil. Lagi pula, situasi politik menunjang percampuran budaya tersebut. Kita masih dapat melihat akibat kolonisasi yang tersebar selama berabad-abad di berbagai bagian bumi ini.
Di Paris, misalnya, kita lihat hadirnya berbagai macam budaya bersama pendukungnya, baik yang berasal dari Eropa maupun dari benua lain: dari Asia atau dari Afrika. Mereka tinggal bersama kelompoknya dalam wilayah-wilayah. Muncullah kekhawatiran bahwa Paris akan menjadi menara babel, tempat manusia tidak lagi saling mengerti karena perbedaan bahasa. Hal itu mungkin terjadi jika setiap orang tetap terpencil dalam lingkungannya masing-masing. Akan tetapi selama masih ada komunikasi antar mereka, selama masih ada kontak budaya, kekhawatiran itu tidak perlu ada.
Di pihak lain, ada pula kekhawatiran akan terjadinya penyeragaman budaya yang akan mengarah pada kemiskinan budaya. Akan tetapi kita masih jauh dari situasi semacam itu. Justru di sini ingin dikemukakan bahwa hampir dalam setiap negara terdapat keragaman budaya.
Demikian pula halnya di Indonesia, negeri yang terdiri dari ribuan pulau. Setiap suku bangsa mempunyai budaya sendiri. Lagi pula posisi geografisnya menyebabkan Indonesia selalu terbuka bagi datangnya berbagai pengaruh budaya dari luar. Indonesia telah lama sadar akan keragaman budayanya. "Bhineka Tunggal Ika" demikian bunyi semboyan bangsa Indonesia. Keadaan itu sebenarnya merupakan suatu kondisi ideal untuk suatu kontak budaya yang dapat mengembangkan pemikiran. Pada umumnya, anak Indonesia dibesarkan dalam keragaman budaya. Kolonisasi Belanda yang berlangsung selama berabad-abad menambah kuatnya keragaman budaya itu. Tidak mengherankan apa bila kita melihat percampuran budaya dalam karya sastra Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
D435
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Th. Sri Rahayu Prihatmi
"ABSTRAK
Cerkan merupakan kependekan dari cerita rekaan, artinya cerita yang direka pengarang (Saad, 1978). Istilah tersebut merupakan terjemahan M. Saleh Saad dari istilah prose fiction (1967, 1978). Dalam sastra modern, cerkan dapat berujud novel atau cerpen, dalam sastra lama dapat berujud dongeng, hikayat, cerita rakyat, legenda dan yang semacam dengan itu.
Novel kadang-kadang disebut roman. Di Indonesia, sebelum tahun 1950-an pada umumnya digunakan istilah roman, sehingga dikenal istilah roman-roman Balai Pustaka misalnya. Baru sesudah tahun 1960-an muncul istilah novel yang kadang-kadang dimaksudkan sebagai cerkan yang panjangnya antara cerpen dan roman (Long short story).
Meskipun Azab dan Sengsara (1921) karangan Merari Siregar sering dianggap sebagai novel pertama dalam dunia sastra Indonesia, akan tetapi kalau ditengok penerbitan di luar Balai Pustaka, ternyata Mas Marco Martodikromo sudah menulis Mata Getap pada tahun 1914 dan menulis Student Nidjo pada tahun 1919 (Damono, 1979: 33).
Lebih-lebih kalau tulisan Cina Peranakan diperhitungkan, pada tahun 1903 beberapa pengarang Cina sudah menulis cerkan, satu di antaranya Thio Tjien Boen yang menulis Oey Se (Salmon, 1985 : 48).
Cerpen merupakan kependekan dari cerita pendek, alih bahasa dari short story. M. Kasim dengan bukunya Teman Duduk (1936) dapat dikatakan seorang perintis dalam penulisan cerpen di Indonesia. Seperti namanya, cerpen ialah cerita rekaan yang pendek (Bdk. Summers melalui Lubis, t.th.: 5-6; Rosidi, 1959: IX; Wisjnu, 1963. 31-34; Jassin, 1965: 64).
Kalau diamati, cerkan-cerkan dalam dunia sastra Indonesia modern dari tahun 1900-an hingga sekarang, memiliki tipe-tipe yang berbeda. Rosemary Jackson dalam bukunya Fantasy: the Literature of Subversion (1981) mengemukakan teori tentang tipe-tipe, yang ia sebut mode. Ia mengartikan mode dalam pengertian Frederic Jameson.

ABSTRACT
For when we speak of a mode, what can we mean but that this particular type of Literary discourse is not bound to the convention of given age, nor indissolubly linked to a given type of verbal. artifact, but rather persist as a temptation and a mode of expression across a whole ranee of historical periods, seeming to offer itself, if only interm.ittenLy, as a formal possibilitiy which can be revived and renewed (Jameson melalui Jackson, 1981: 7)
Jackson mengatakan: "The term 'mode' is being employed here to identify structural features underlying various works in different periods of time." (198:17). Jadi istilah mode digunakan untuk mengidentifikasi ciri-ciri struktural dari tipe khusus wacana sastra, tidak terikat pada konvensi-konvensi zaman tertentu, model ekspres,i yang melewati segala mazhab dan zaman yang dapat diulang dan diperbaharui. Karena yang diidentifikasi itu adalah ciri-ciri strukturalnya, padahal struktur dapat juga diterjemahkan sebagai cara pengungkapan, maka mode lebih tepat diterjemahkan dengan 'modus' yang maksudnya 'cara pengungkapan'.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1993
D262
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reni Winata
"Since antiquity, representation (henceforth: RPT) has been a fundamental concept in aesthetics and semiotics. It has also been a crucial concept in political theory, forming the basics of representational theories of sovereignty, legislative authority and relations of individuals to the state (Lenthriccia, 1990, 11-13).
In contemporary theories of RPT, both definitions have intersected. Relationship between language & politics is crucial to much contemporary works on RPT. Recent criticism also focuses on the links between texts and power. All RPTs have, either explicitly or implicitly, a political content. (Childers, 1995: 260-261).
RPT has also been an issue of importance for post colonialists and feminists. RPT is an area of contestation between the dominant and the dominated (Ascroft, 1995: 85-87). Hall (1990: 222-237) problematises the concept and relates it to (cultural) identity and speaking position. According to Hall. (cultural) identity is a process, always constituted within RPT, which in turn, produced from a particular speaking position-a particular time and place. van Toorn (1995:1-12) distinguishes two kinds of speaking-position, those are fixed unitary-speaking position and postmodern speaking-position.
RPT is a relevant issue in a multicultural and a settlers' community like Australia. The fact that Australia has over a hundred ethnic groups as its population and that since 1973, multiculturalism has been launched to manage migrants' population, does not automatically increase the participation of non-Anglo-Celtic (women) immigrants in political, economic or even in social and cultural arenas. Non-Anglo-Celtic women (henceforth: NAC women) immigrants are still doubly-marginalized. They are invisible and hardly represented in the dominant Anglo-Celtic discourse. They are marginalized in the dominant women's anthologies or also in their own ethnic's (male's) anthologies. When represented, they are -represented stereotypically as the Other, problem, victim or as a threat. And yet, they had contributed quite significantly in the development of (public) services and in manufacturing industry. They also have their own share in promoting Australia as a multicultural society through their cuisine, costume, dancing and other cultural artifacts.
However, since the 1970s, the situation has changed gradually with the increasing quantity and quality of multicultural women writers articulating their own (migrant) experiences. In this study, I use the term 'multicultural women-texts' for all kinds of cultural expressions produce} by the NAC women. those are writers or cultural producers coming from outside British, Irish and indigenous backgrounds. The term `multicultural texts' has more positive connotation than migrants' atau ethnic (minority) writings. The term 'ethnic' or 'migrant' is problematic as it has always been associated with socio-historical writings which has no cultural capital and thus, classified as popular or marginal writings. Sneja Gunew is highly critical and suggests that the term should be deconstructed. Therefore, this study uses the term 'multicultural women-texts'.
This study on "the politics of representations in multicultural women's discourse in Australia" is therefore based on the following reasons: (i) study about RPT has not iniated in Indonesia and yet, it is an important topic which has gained currency in Australia, (ii) the study on gender and ethnicity is relevant for our national context as Indonesia is multi-ethnic and is still in the process of developing gender-awareness across sectors.
The questions formulated in my study are: (i) how are the stereotipic-RPTs on NAG women immigrants constructed through the dominant texts, popular novel They're a Weird Mob (henceforth:TWM), images from Immigrants in Focus (henceforth: IMF) and from For Love or Money (henceforth:FLM), Pauline Hanson's Maiden Speech(henceforth: PI-I) and through the multicultural women-texts, confession Give Me Strength(henceforth: GMS) and film Silver-City (henceforth: SC), (ii) how both experimental and transgressive multicultural women-texts Oh Lucky Country (henceforth:OLC) and Red Roses (henceforth: RR) re-construct alternative RPT which in turn, interrogate the previous stereotypic RPT of NAC women immigrants, constructed through the above six texts.
Therefore, the purposes of the study are (i) to identify and to formulate the stereotypic RPTs of NAC women immigrants through the dominant Anglo-Celtic texts, TWM, IMF, FLM, PH and through multicultural women-texts, GMS and SC, (ii) to elaborate how transgressive multicultural women-texts, OLC and RR deconstruct the stereotipic RPT of NAC women and thus, re-construct the alternative RPTof an independent, assertive and sexually-liberated persona in OLC and of a feminin and cosmopolitan persona in RR.
The fact that multicultural women-texts is still considered as marginal and the fact that this study uses different kinds of cultural products-popular novel, parliamentary speech, images, confession, film and highly experimental novels, it inevitably makes Cultural Studies (henceforth: CS) as the most-appropriate approach. Because (I) CS does not distinguish high culture from low culture, (ii) CS has developed interests in marginal groups; women, ethnic-minorities, black and so forth (During:1994, 2-20), which fits in with the topic of the study, (iii) CS regards all texts or discourses as politically and ideologically, rather than aesthetically, positioned (Storey, 1996:2) and hence, it would be instrumental for exposing the hegemonic practices of the Anglo-Celtic, discourse and consequently, for empowering the multicultural women-texts.
Assuming that there are stereotipic RPT on NAC women immigrants, this study is designed as the following:
(i) to identify and formulate the stereotipic RPT of NAC women through the dominant texts-TWM, Pt-I, IF - from which they are excluded and not represented and through FLM, in which they are represented as the Other, problem and victim. In short, they are either, silenced or represented stereotipically as a collective, anonimous, unskilled, domestic and proved to be victimised, in the dominant texts. Multicultural women-texts, GMS and SC, give them voices to `speak up' in the first-person account about their own migrant-experience. ironically both texts (re) represent NAC women immigrants as the Other, problem, victim and threat of their own (ethnic) patriarchy.
The NAC women are represented as being doublymarginalisedlopressed. They are opressed by their own patriarchy which position them as as dependent (mother, wife, daughter, fiancee) and caught up in the domestic-sphere (cooking, washing, sewing, chlild-rearing). They are also represented as controlled and conditioned by the institutions of womanhood (virginity, respectability, innocence), marriage and motherhood (reproduction, child-birth, child-rearing).
At the workplace, they are marginalized and work as domestic, seamstress, factory-worker, dress-maker, hairdresser. They are proned to be victimized and sexually abused as occurred to the leading character in SC. However, the NAC women in GMS and SC is finally represented as gaining material-success and stepping up the social-ladder and therefore, they express their gratitude?s for having migrated to Australia. The NAC woman in SC is even represented as having adopted the Australian :".'ay. In short, both texts reinforce the dominant Anglo-Celtic discourse.
(ii) to deconstruct the stereotypic RPT and to re-construct the alternative RPT of the NAC women immigrants in both experimental and transgressive multicultural women-texts, OLC dan RR. This study uses two perspectives from CS- gender and ethnicity- to address the problems of stereotypic RPT and to empower the multicultural women-texts.
To deconstruct the stereotypic RPT and to re-construct the alternative RPT, this study uses the intersection between feminists' discourse on the body and sexual politics and the discourse on loving ethnicity, adapted from bell hooks' loving blackness (1992: 2-20) to polities the private issues- womanhood, virginity, marriage, motherhood including the `myth' about the passivity of female sexuality-in the public sphere in order to deconstruct the male-chauvinistic Anglo-Celtic discourse and to reconstruct the NAG women in OLC as an independent, assertive, radical, sexually-liberated persona. The NAC women are not domesticated but represented as leading a public life and rejecting the concept of womanhood, virginity, marriage and motherhood.
To deconstruct the stereotipic RPT in the previous texts and to reconstruct an alternative RPT on NAC women in RR, this study uses the feminists' discourse on female desire (Coward, 1984). This study examines how RR deconstructs the RPTs of NAC women as the Other, problem, victim, threat or as the authentic ethnic other (TWM, PH, 1F, FLM, GMS, SC) and also as a radical and sexually-liberated persona (OLC) in order to reconstruct the NAG woman subject as a feminin and cosmopolitan persona.
Using female desire, this study analyses that the NAC woman subject in RR uses consumer culture to sustain themselves- with cosmetics, perfume, fashion, food, exercises and other consumer-products of lifestyles-and to reconstruct a multiple identities- as a pilot, doctor, cabaret-singer, ballerina and so forth. The NAC woman moves in both private and public spheres and celebrates `womanhood', 'motherhood', cooking, fashion and other activities previously condemned by feminists. The NAC woman subject is also not caught up in conflict with the dominant Anglo-Celtics.
Summarizing the findings, this study identifies a couple of points to be raised. First, RPT is an important concept which could be politised for controlling/marginalizing or for empowering the represented object. Second, NAC women experiences are diverse, not unified. Third. 'gender and ethnicity' are instrumental for dismantling both the Angle and non-Anglo-celtic patriarchy and hence, for promoting the diversity of women-experiences.
This study on gender and ethnicity is relevant for our national context as Indonesia is a multi-ethnic society which is in the process of developing gender-awareness across the board. Double-marginalization faced by the NAC women in Australia is parallel with the othering of ethnic-minority women in Indonesia from Arab, Chinese, Indo-Dutch descents and others). The mass rape of Indonesian-Chinese women in May 1998 and the sexual violence suffered by Acehnese women are all double-oppression against these ethnic-minority women.
Monitoring the current public debate on gender (perspective) in our national context, this study wants to share perceptions and conclusion. First, difference amongst women's constituencies is as important as difference between women and men. It is a primary challenge for Indonesian feminists to manage and to capitalize on the diversity of its constituencies so as not to repeat the hegemonic practices of Western feminism and patriarchy which had homogenized or eliminated the Other. Second, RPT of Indonesian women (and its constituencies) are important to be empowered. Intervention should be made to reconstruct a new alternative RPT of Indonesian women. However, it is crucial to have media with gender-awareness to promote the new empowering RPT of Indonesian women."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
D525
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>