Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hasna Salsabila Cahyaningrum
"Boikot konsumen terhadap Israel sudah berjalan di Indonesia lebih dari satu tahun. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa boikot dapat terjadi karena berkaitan dengan dasar moral yang dimiliki oleh setiap individu. Dasar moral merupakan pedoman alamiah manusia yang membedakan tindakan benar maupun salah. Dasar moral ini kemudian memengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan boikot. Dasar moral terbagi menjadi dua, yaitu fondasi moral individual dan fondasi moral kolektif. Berdasarkan penelitian sebelumnya, fondasi moral individual memiliki sikap yang mendukung aksi boikot. Maka dari itu, peneliti berhipotesis fondasi moral individual memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan fondasi moral kolektif terhadap intensi boikot produk yang terafiliasi Israel. Hasil penelitian ini menemukan fondasi moral individual tidak memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan fondasi moral kolektif dalam mengestimasi intensi boikot terhadap produk terafiliasi Israel. Namun, ditemukan bahwa agama secara kuat mengestimasi intensi boikot.

Consumer boycotts against Israel have been ongoing in Indonesia for more than a year. Previous research has found that boycotts may occur due to the moral foundations held by individuals. Moral foundations are innate human guidelines that distinguish between right and wrong actions. These moral foundations then influence consumers' decisions to engage in boycotts. Moral foundations are divided into two categories: individualizing moral foundations and binding (collective) moral foundations. Based on previous studies, individualizing moral foundations are more likely to support boycott actions. Therefore, the researcher hypothesized that individualizing moral foundations would have a stronger relationship with boycott intention compared to binding moral foundations toward products affiliated with Israel. However, the findings of this study revealed that individualizing moral foundations did not have a stronger relationship than binding moral foundations in predicting boycott intention. Nonetheless, it was found that religion strongly predicts the intention to boycott."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasna Salsabila Cahyaningrum
"Boikot konsumen terhadap Israel sudah berjalan di Indonesia lebih dari satu tahun. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa boikot dapat terjadi karena berkaitan dengan dasar moral yang dimiliki oleh setiap individu. Dasar moral merupakan pedoman alamiah manusia yang membedakan tindakan benar maupun salah. Dasar moral ini kemudian memengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan boikot. Dasar moral terbagi menjadi dua, yaitu fondasi moral individual dan fondasi moral kolektif. Berdasarkan penelitian sebelumnya, fondasi moral individual memiliki sikap yang mendukung aksi boikot. Maka dari itu, peneliti berhipotesis fondasi moral individual memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan fondasi moral kolektif terhadap intensi boikot produk yang terafiliasi Israel. Hasil penelitian ini menemukan fondasi moral individual tidak memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan fondasi moral kolektif dalam mengestimasi intensi boikot terhadap produk terafiliasi Israel. Namun, ditemukan bahwa agama secara kuat mengestimasi intensi boikot.

Consumer boycotts against Israel have been ongoing in Indonesia for more than a year. Previous research has found that boycotts may occur due to the moral foundations held by individuals. Moral foundations are innate human guidelines that distinguish between right and wrong actions. These moral foundations then influence consumers' decisions to engage in boycotts. Moral foundations are divided into two categories: individualizing moral foundations and binding (collective) moral foundations. Based on previous studies, individualizing moral foundations are more likely to support boycott actions. Therefore, the researcher hypothesized that individualizing moral foundations would have a stronger relationship with boycott intention compared to binding moral foundations toward products affiliated with Israel. However, the findings of this study revealed that individualizing moral foundations did not have a stronger relationship than binding moral foundations in predicting boycott intention. Nonetheless, it was found that religion strongly predicts the intention to boycott."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Alim
"Di tengah peperangan yang kembali berkecamuk antara Israel dan Palestina sejak 7 Oktober 2023, gerakan BDS terus menunjukan eksistensi dan pengaruhnya dalam memobilisasi masyarakat internasional. Ketertarikan publik Internasional terhadap gerakan BDS melalui media sosial mengalami peningkatan secara signifikan. Perang yang terjadi tidak hanya dalam hardpower, tetapi juga softpower melalui media sosial, termasuk Twitter. Perjuangan bangsa Palestina pun dilakukan secara non-violence melalui BDS Movement. BDS menjadi gerakan ekonomi politik internasional yang dinilai efektif menjadi ancaman Israel. Dari latar belakang tersebut, peneliti menganalisis jejaring informasi, aktor berpengaruh dan dampak pemberitaan media terhadap gerakan BDS Movement pada periode 1 Januari-30 Mei 2024 dengan kata kunci #BDSMovement dan #boycottIsrael pada platform Twitter. Penelitian kualitatif ini menggunakan Social Network Analysis Model dan teori Media-Policy Interaction dengan terlebih dahulu mengumpulkan data tweets (crawling data) menggunakan APIs X (Twitter). Lalu data yang terkumpul dianalisis secara tematik dan divisualisasikan menggunakan software NetworkX. Hasil penelitian menemukan terdapat 29.927 tweets dengan 22.056 aktor (nodes) dan 22.710 jaringan (edges). Bulan Mei 2024 Gerakan BDS di twitter meningkat signifikan karena adanya aktivitas boikot yang dilakukan di berbagai institusi perguruan tinggi di dunia. Analisis sentimen menunjukan bahwa terdapat 76,4% merupakan sentimen negatif, 12,6% sentimen positif dan 11% Sentimen netral. Pada penelitian tersebut juga mengungkap bahwa semua publikasi bersifat organik dan tidak terindikasi menggunakan Bot. peneliti mengungkap ada 20 akun twitter yang menjadi pusat penyebaran informasi BDS, satu di antaranya adalah BDS Movement. Peneliti tidak menemukan respons langsung dari Israel, tetapi respons terhadap BDS Movement datang dari Amerika Serikat dan Inggris yang merupakan sekutu dekat Israel. Kampus juga merespons gerakan BDS Movement dengan berbagai cara.

Amid the war that has been raging between Israel and Palestine since October 7, 2023, the BDS movement continues to show its existence and influence in mobilizing the international community. International public interest in the BDS movement through social media has increased significantly. The war is not only in hard power but also soft power through social media, including Twitter. The struggle of the Palestinian people was carried out in non-violence through the BDS Movement. BDS is an international political economy movement that is considered effective as a threat to Israel. From this background, researchers analyzed information networks, influential actors, and the impact of media coverage on the BDS Movement from January 1-May 30, 2024, with the keywords #BDSMovement and #boycottIsrael on the Twitter platform. This qualitative research uses the Social Network Analysis Model and Media-Policy Interaction theory by first collecting tweet data (crawling data) using APIs X (Twitter). Then the collected data was analyzed thematically and visualized using NetworkX software. The results found 29,927 tweets with 22,056 actors (nodes) and 22,710 networks (edges). In May 2024, the BDS movement on Twitter increased significantly due to boycott activities carried out at various higher education institutions in the world. Sentiment analysis showed 76.4% negative sentiments, 12.6% positive sentiments, and 11% neutral sentiments. The study also revealed that all publications were organic and there was no indication of using Bots. researchers revealed that 20 twitter accounts were the center of BDS information dissemination, one of which was the BDS Movement. Researchers did not find a direct response from Israel, but responses to the BDS Movement came from the United States and Britain, which are close allies of Israel. Universities have also responded to the BDS Movement in various ways."
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Charles Pramudana
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial dan faktor psikologi sosial terhadap perilaku dan gerakan boikot produk pro-Israel pada masyarakat Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan gerakan sosial, tetapi sedikit penelitian yang berfokus pada konteks boikot produk pro-Israel di Indonesia, terlebih yang membedakan aktivitas pembagian informasi dan penerimaan informasi di media sosial. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana aktivitas di media sosial serta faktor psikologi sosial seperti norma pribadi, sikap terhadap boikot, tekanan sosial yang dirasakan mengenai boikot, kesadaran akan konsekuensi dari tidak melakukan boikot, dan persepsi kontrol yang dimiliki dari suatu perilaku dapat memengaruhi perilaku dan gerakan boikot. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM dan pendekatan kualitatif dengan metode content analysis. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan media sosial dan berpartisipasi dalam gerakan boikot yang diisi oleh 645 responden secara valid. Sementara itu, pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara terhadap 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas membagikan informasi di media sosial memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku boikot, sementara aktivitas menerima informasi memerlukan mediasi dari faktor psikologi sosial untuk memengaruhi perilaku boikot. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa media sosial dan faktor psikologi sosial dapat memengaruhi gerakan boikot di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi perusahaan dalam menyusun konten media sosial yang bijak, pengembang aplikasi untuk mengembangkan fitur yang mendukung aksi kolektif, dan aktivis untuk menyusun strategi kampanye aksi kolektif yang lebih efektif.

This study aims to analyze the influence of social media usage and social psychological factors on the behavior and movement of boycotting pro-Israel products among Indonesian society. The background of this research is the increasing use of social media as a tool for voicing social movements, but there is limited research focusing on the context of boycotting pro-Israel products in Indonesia, especially distinguishing between information sharing and information receiving activities on social media. This study explores how activities on social media and social psychological factors such as personal norms, attitudes towards boycotts, subjective norms, awareness of the consequences, and perceived behavioral control can influence boycott behavior and movement. The methodology of this study employs a quantitative approach using PLS-SEM and a qualitative approach using content analysis. Quantitative data collection was conducted by distributing online questionnaires to Indonesians actively using social media and participating in the boycott movement, with 645 valid responses collected. Meanwhile, qualitative data collection was carried out through interviews with 30 respondents. The results show that information sharing activities on social media have a direct impact on boycott behavior, while information receiving activities require mediation from social psychological factors to influence boycott behavior. Additionally, this study indicates that social media and social psychological factors can influence boycott movements in Indonesia. This research is expected to provide practical guidance for companies in creating sensible social media content, application developers in creating features that support collective action, and activists in devising more effective collective action campaign strategies."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marvel Krent
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial dan faktor psikologi sosial terhadap perilaku dan gerakan boikot produk pro-Israel pada masyarakat Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan gerakan sosial, tetapi sedikit penelitian yang berfokus pada konteks boikot produk pro-Israel di Indonesia, terlebih yang membedakan aktivitas pembagian informasi dan penerimaan informasi di media sosial. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana aktivitas di media sosial serta faktor psikologi sosial seperti norma pribadi, sikap terhadap boikot, tekanan sosial yang dirasakan mengenai boikot, kesadaran akan konsekuensi dari tidak melakukan boikot, dan persepsi kontrol yang dimiliki dari suatu perilaku dapat memengaruhi perilaku dan gerakan boikot. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM dan pendekatan kualitatif dengan metode content analysis. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan media sosial dan berpartisipasi dalam gerakan boikot yang diisi oleh 645 responden secara valid. Sementara itu, pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara terhadap 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas membagikan informasi di media sosial memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku boikot, sementara aktivitas menerima informasi memerlukan mediasi dari faktor psikologi sosial untuk memengaruhi perilaku boikot. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa media sosial dan faktor psikologi sosial dapat memengaruhi gerakan boikot di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi perusahaan dalam menyusun konten media sosial yang bijak, pengembang aplikasi untuk mengembangkan fitur yang mendukung aksi kolektif, dan aktivis untuk menyusun strategi kampanye aksi kolektif yang lebih efektif.

This study aims to analyze the influence of social media usage and social psychological factors on the behavior and movement of boycotting pro-Israel products among Indonesian society. The background of this research is the increasing use of social media as a tool for voicing social movements, but there is limited research focusing on the context of boycotting pro-Israel products in Indonesia, especially distinguishing between information sharing and information receiving activities on social media. This study explores how activities on social media and social psychological factors such as personal norms, attitudes towards boycotts, subjective norms, awareness of the consequences, and perceived behavioral control can influence boycott behavior and movement. The methodology of this study employs a quantitative approach using PLS-SEM and a qualitative approach using content analysis. Quantitative data collection was conducted by distributing online questionnaires to Indonesians actively using social media and participating in the boycott movement, with 645 valid responses collected. Meanwhile, qualitative data collection was carried out through interviews with 30 respondents. The results show that information sharing activities on social media have a direct impact on boycott behavior, while information receiving activities require mediation from social psychological factors to influence boycott behavior. Additionally, this study indicates that social media and social psychological factors can influence boycott movements in Indonesia. This research is expected to provide practical guidance for companies in creating sensible social media content, application developers in creating features that support collective action, and activists in devising more effective collective action campaign strategies."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khansa Alifa Dhiyaul Aulia
"Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong niat boikot terhadap restoran fast food yang mendukung atau berafiliasi dengan Israel pada konsumen Generasi Z di Indonesia dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain konklusif deskriptif. Sampel terdiri dari 199 konsumen di Indonesia yang diperoleh melalui teknik non-probability sampling dan purposive sampling. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLSSEM) pada aplikasi SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Subjective Norm dan Perceived Efficacy berpengaruh positif terhadap niat boikot. Penelitian ini diharapkan dapat membantu organisasi atau gerakan boikot dalam memahami mekanisme pengambilan keputusan untuk berpartisipasi dalam boikot di kalangan konsumen Generasi Z.

This study aims to identify the factors driving boycott intention toward restaurants that support or affiliate with Israel among Generation Z consumers in Indonesia using a quantitative approach with a conclusive and descriptive design. The sample was distributed among 199 Indonesian consumers using non-probability sampling and purposive sampling techniques. The collected data was assessed using the Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method with the SmartPLS 4 application. The results indicate that Subjective Norm and Perceived Efficacy positively influence boycott intention. This study is expected to assist organizations or boycott movements in understanding the decision-making mechanisms of boycott participation among Generation Z consumers."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indinesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ainun Chandrayu Mayeswari
"Serangkaian penyerangan dan pengepungan di Gaza yang dilakukan oleh Israel pada 7 Oktober 2023 lalu menyebabkan aksi boikot konsumen kembali muncul dan dilakukan oleh masyarakat dunia, salah satunya di Indonesia. Konsumen di Indonesia melakukan boikot kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap menunjukkan dukungannya kepada Israel. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aksi boikot konsumen sebagai bentuk partisipasi politik merujuk pada teori Micheletti tentang konsumerisme politik dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada aksi boikot Israel, masyarakat sebagai konsumen telah memanfaatkan pasar sebagai arena politiknya. Namun, berbeda dengan aksi boikot konsumen pada umumnya, aksi boikot Israel memiliki motivasi agama dibelakangnya yang mendorong konsumen di negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia dalam melakukan aksi boikotnya. Berbagai perusahaan terdampak di Indonesia pun memberikan respons dengan melakukan beberapa strategi, seperti bekerja sama dengan organisasi dan lembaga keagamaan dan melakukan strategi stonewall dalam mengatasi aksi boikot Israel yang terjadi di Indonesia.

A series of attacks and sieges in Gaza carried out by Israel on October 7th, 2023 caused consumer boycotts to emerge again and were carried out by the world community, one of which was in Indonesia. Consumers in Indonesia are boycotting companies that are seen as showing their support for Israel. This research aims to explain consumer boycotts as a form of political participation referring to Micheletti's theory of political consumerism using a qualitative approach. This research shows that during the boycott of Israel, people as consumers have used the market as their political arena. However, unlike consumer boycotts in general, Israel's boycott has a religious motivation behind it, which encourages consumers in Muslim-majority countries, such as Indonesia, to carry out boycotts. Various affected companies in Indonesia also responded by implementing several strategies, such as collaborating with religious organizations and institutions and implementing a stonewall strategy to overcome the Israeli boycott that occurred in Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ainun Chandrayu Mayeswari
"Serangkaian penyerangan dan pengepungan di Gaza yang dilakukan oleh Israel pada 7 Oktober 2023 lalu menyebabkan aksi boikot konsumen kembali muncul dan dilakukan oleh masyarakat dunia, salah satunya di Indonesia. Konsumen di Indonesia melakukan boikot kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap menunjukkan dukungannya kepada Israel. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aksi boikot konsumen sebagai bentuk partisipasi politik merujuk pada teori Micheletti tentang konsumerisme politik dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada aksi boikot Israel, masyarakat sebagai konsumen telah memanfaatkan pasar sebagai arena politiknya. Namun, berbeda dengan aksi boikot konsumen pada umumnya, aksi boikot Israel memiliki motivasi agama dibelakangnya yang mendorong konsumen di negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia dalam melakukan aksi boikotnya. Berbagai perusahaan terdampak di Indonesia pun memberikan respons dengan melakukan beberapa strategi, seperti bekerja sama dengan organisasi dan lembaga keagamaan dan melakukan strategi stonewall dalam mengatasi aksi boikot Israel yang terjadi di Indonesia.

A series of attacks and sieges in Gaza carried out by Israel on October 7th, 2023 caused consumer boycotts to emerge again and were carried out by the world community, one of which was in Indonesia. Consumers in Indonesia are boycotting companies that are seen as showing their support for Israel. This research aims to explain consumer boycotts as a form of political participation referring to Micheletti's theory of political consumerism using a qualitative approach. This research shows that during the boycott of Israel, people as consumers have used the market as their political arena. However, unlike consumer boycotts in general, Israel's boycott has a religious motivation behind it, which encourages consumers in Muslim-majority countries, such as Indonesia, to carry out boycotts. Various affected companies in Indonesia also responded by implementing several strategies, such as collaborating with religious organizations and institutions and implementing a stonewall strategy to overcome the Israeli boycott that occurred in Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Zata Ismah
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis reaksi pasar terhadap pengumuman boikot yang disampaikan oleh Gerakan BDS Indonesia pada akhir tahun 2023. Studi ini menggunakan pendekatan event study untuk mengevaluasi dampak pengumuman tersebut terhadap abnormal return saham tiga kelompok perusahaan: (1) perusahaan target boikot, (2) perusahaan pembanding tidak terasosiasi boikot, dan (3) perusahaan yang diasosiasikan sebagai pendukung Palestina. Penelitian ini menggunakan data harian harga saham selama periode event window dan dilakukan pengujian perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman boikot. Hasil penelitian menunjukan bahwa perusahaan target boikot mengalami penurunan abnormal return setelah pengumuman boikot, namun tidak signifikan secara statistik. Sebaliknya, perusahaan pembanding menunjukkan perubahan abnormal return positif yang signifikan secara statistik. Perusahaan yang diasosiasikan sebagai pendukung Palestina juga menunjukkan tren positif pada return sahamnya, meskipun perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mencerminkan bahwa reaksi pasar terhadap pengumuman boikot bersifat selektif dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing perusahaan. Dalam perspektif Efficient Market Hypothesis (EMH), hasil ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia belum sepenuhnya efisien dalam merespons informasi sosial-politik seperti boikot. Meski demikian, investor secara agregat menunjukkan kecenderungan bersikap rasional daripada bersikap emosional terhadap isu sosial.

This study aims to analyze the market reaction to the boycott announcement made by the BDS Indonesia Movement at the end of 2023. An event study approach is employed to evaluate the impact of the announcement on the abnormal returns of three groups of companies: (1) boycott target companies, (2) comparison companies not associated with the boycott, and (3) companies perceived as supporting Palestine. The study uses daily stock price data within the event window and conducts tests on the difference in abnormal returns before and after the boycott announcement. The findings show that boycott target companies experienced a decline in abnormal returns following the announcement, although the decline was not statistically significant. In contrast, comparison companies recorded a statistically significant positive change in abnormal returns. Companies perceived as supporting Palestine also showed a positive trend in stock returns, although the change was not statistically significant. These findings indicate that the market's response to the boycott announcement was selective and highly influenced by the specific characteristics of each company. From the perspective of the Efficient Market Hypothesis (EMH), the results suggest that the Indonesian stock market is not yet fully efficient in responding to socio-political information such as boycotts. Nevertheless, investors as a whole tend to act rationally rather than emotionally in the face of social issues. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fanny Avianuari
"Tesis ini bertujuan untuk menganalisis dampak boikot terhadap kinerja saham dan profit perusahaan target boikot di Indonesia. Analisis mencakup indikator profit, Abnormal Return, Trading Volume Activity (TVA), dan harga pasar saham. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan Event-Study Method dan regresi data panel, melibatkan 16 perusahaan target boikot yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa boikot produk memiliki dampak signifikan terhadap profit perusahaan pada periode 120 hari sebelum dan setelah boikot. Pada indikator Abnormal Return, hanya periode 5 hari yang menunjukkan perbedaan signifikan, sedangkan periode 10, 20, dan 30 hari tidak signifikan. Sebaliknya, TVA dan harga saham menunjukkan perbedaan signifikan pada semua periode pengamatan (5, 10, 20, dan 30 hari). Perbedaan signifikansi yang bervariasi di atas sesuai dengan bentuk Semi-Strong Form dari Efficency Market Hypothesis oleh Eugene Fama (1970) dimana pasar bereaksi cepat (jangka pendek-menengah) terhadap informasi publik terkait boikot. Adanya seruan boikot oleh publik yang ditunjukan melalui variabel intensitas boikot dan keberadaan boikot itu sendiri secara signifikan tidak memiliki pengaruh negatif terhadap perubahan profit perusahaan, sementara sentimen spesifik boikot terhadap produk tertentu memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan profit perusahaan.

This article aims to analyze the impact of boycotts on the stock performance and profit of targeted companies in Indonesia. The analysis includes indicators such as profit, Abnormal Return, Trading Volume Activity (TVA), and stock market price. The study employs a quantitative method using the Event Study Method and panel data regression, involving 16 companies targeted by the boycott that meet the research criteria. The results show that product boycotts have a significant impact on company profit during the 120-day period before and after the boycott. For the Abnormal Return indicator, only the 5-day period shows a significant difference, while the 10-, 20-, and 30-day periods do not. In contrast, TVA and stock prices show significant differences across all observation periods (5, 10, 20, and 30 days). These varying levels of significance are consistent with the Semi-Strong Form of the Efficient Market Hypothesis by Eugene Fama (1970), which posits that markets respond quickly (in the short to medium term) to publicly available information, such as boycott announcements. The presence of public boycott calls, as measured by boycott intensity and the existence of a boycott, does not significantly affect changes in company profit. However, specific boycott sentiment toward particular products has a significant impact on changes in company profit."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>