Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ardhona Irani
"Glikosaminoglikan merupakan komponen penyusun glikokaliks yang berperan penting dalam per selektivitas muatan anionik kapiler glomerulus. Gangguan hemodinamik dan metabolik akibat hiperglikemia kronis menyebabkan peluruhan komponen glikokaliks endotel. Beberapa pedoman telah menyetujui keamanan tiap OAD berdasarkan fungsi ginjal. Tujuan penelitian adalah menilai keamanan penggunaan metformin (metformin dan metformin-glimepirid) berdasarkan fungsi ginjalnya serta menilai perbandingan kadar GAG urin pasien DMT 2 kelompok risiko rendah terhadap risiko sedang-tinggi PGK. Desain penelitian potong lintang dan metode consecutive di Puskesmas Depok Jaya dan Kecamatan Pasar Minggu. Sampel urin dan darah dikumpulkan untuk pengukuran eLFG, HbA1c, ACR, dan kadar GAG urin. Sebanyak 137 partisipan dinilai keamanan penggunaan metformin berdasarkan fungsi ginjalnya. Terdapat ketidaksesuaian pada 1 partisipan dalam penggunaan metformin (n=55) dan semua partisipan (n=82) sesuai dengan pedoman dalam penggunaan metformin-glimepirid. Hanya 121 partisipan yang dianalisis kadar GAG urin menggunakan 1,9-DMMB dan terdiri dari 4 yaitu kelompok risiko rendah PGK: G1-A1(eLFG ≥90ml/min/1,73m² - <30mg/g) (n=25) dan G2-A1(eLFG 60-89ml/min/1,73m² - <30mg/g) (n=45) serta risiko sedang-tinggi PGK: GI-A2(eLFG ≥ 90ml/menit/1,73m² - >30mg/g) (n=23) dan G2-A2(eLFG 60-89ml/menit/1,73m² - >30mg/g) (n=28). Tidak ada perbedaan bermakna (p<0,05) pada karakteristik dasar dan klinis keempat kelompok kecuali usia (p=0,006) dan HbA1c (p<0,001). Tidak terdapat perbedaan kadar GAG urin yang bermakna antara kelompok G1 dengan G2 (p=0,290) serta pada keempat kelompok (p=0,221). Terdapat perbedaan kadar GAG urin yang bermakna (p=0,034) pada kelompok normoalbuminuria dan albuminuria. Faktor lain seperti durasi DMT 2 >5 tahun dan komorbiditas dapat meningkatkan kadar GAG urin. Oleh karena itu, diperlukan studi lanjut mengenai potensi GAG urin pada awal perkembangan penyakit ginjal diabetes.

Glycosaminoglycans are components of the glycocalyx which play an important role in the permeselectivity of the anionic charge of the glomerular capillaries. Hemodynamic and metabolic disturbances due to chronic hyperglycemia cause the breakdown of the glycocalyx component of the endothelium. Several guidelines have agreed on the safety of each OAD based on renal function. The aims of this study were to assess the safety of using metformin (metformin and metformin-glimepiride) based on kidney function and to evaluate the comparison of urinary GAG levels in patients with DMT 2 in low-risk groups to moderate-high risk of CKD. Cross-sectional research design and consecutive in Depok Jaya Public Health Center and Pasar Minggu District. Urine and blood samples were collected for measurement of eGFR, HbA1c, ACR, and urinary GAG levels. A total of 137 participants assessed the safety of using metformin based on their kidney function. There was a discrepancy in 1 participant in the use of metformin (n=55) and all participants (n=82) according to the guidelines for the use of metformin-glimepiride. Only 121 participants were analyzed for urine GAG ​​levels using 1,9-DMMB and consisted of 4 low risk groups for CKD: G1-A1(eGFR 90ml/min/1.73m² - <30mg/g) (n=25) and G2-A1(eGFR 60-89ml/min/1.73m² - <30mg/g) (n=45) and moderate-high risk of CKD: GI-A2(eGFR 90ml/min/1.73m² - >30mg/g) (n=23) and G2-A2(eLFG 60-89ml/min/1.73m² - >30mg/g) (n=28). There was no significant difference (p<0.05) in the baseline and clinical characteristics of the four groups except age (p=0.006) and HbA1c (p<0.001). There was no significant difference in urine GAG ​​levels between the groups G1 with G2 (p= 0.290) and in the four groups (p= 0.221). There was a significant difference in urine GAG ​​levels (p= 0.034) in the normoalbuminuria and albuminuria groups. Other factors such as duration of DMT 2 > 5 years and comorbidities can increase urinary GAG levels. Therefore, further studies are needed regarding the potential of urinary GAGs in the early development of diabetic kidney disease. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhona Irani
"Mutu obat dalam CPOB bergantung pada berbagai faktor, salah satunya yaitu bahan awal (Bahan aktif obat). Bahan aktif obat (BAO) sebelum digunakan sebagai produk obat harus dapat dipastikan telah memenuhi persyaratan mutu bahan zat aktif melalui suatu prosedur analisis. Salah satu atribut mutu bahan obat yang perlu diuji adalah kadar komponen utama yang terkandung dalam BAO harus memenuhi persyaratan kadar yang tercantum dalam Farmakope Indonesia (standar mutu) atau standar baku lainnya. Dalam hal ini, prosedur analisis penetapan kadar harus divalidasi sebelum digunakan untuk tujuan pengendalian mutu. Validasi metode analisa penetapan kadar deksametason merupakan salah satu pengujian validasi metode analisa bahan baku (bahan aktif obat) yang dilakukan di laboratorium Departemen Penelitian dan Pengembangan (R&D) PT Harsen Laboratories. Metode pengujian yang digunakan merujuk pada Farmakope Indonesia Edisi VI tahun 2020 dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Berdasarkan hasil dari pengujian validasi metode analisa penetapan kadar deksametason secara keseluruhan memenuhi persyaratan untuk parameter uji kesesuaian sistem, spesifisitas, linearitas, akurasi, presisi, dan rentang, serta robustness.

The quality of drugs in GMP depends on various factors, one of which is the starting material (active drug ingredient). The active drug substance before being used as a drug product must be ensured that it meets the quality requirements for the active ingredient through an analytical procedure. One of the attributes of the quality of medicinal ingredients that needs to be tested is that the levels of the main components contained in APIs must meet the content requirements listed in the Indonesian Pharmacopoeia (quality standards) or other standard standards. In this case, the analytical assay procedure must be validated before it is used for quality control purposes. Validation of the analytical method for determining dexamethasone levels is one of the validation tests for the raw material analysis method (active drug substance) carried out in the laboratory of the Research and Development Department (R&D) of PT Harsen Laboratories. The test method used refers to the Indonesian Pharmacopoeia VI Edition 2020 using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Based on the results of the validation test for the analytical method for determining dexamethasone levels as a whole meets the requirements for system suitability test parameters, specificity, linearity, accuracy, precision, and range, as well as robustness"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhona Irani
"Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian oleh Apoteker di Apotek wajib mengikuti standar pelayanan kefarmasian yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 73 tahun 2016. Implementasi penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker di Apotek berawal dari kegiatan manajerial (menjamin ketersediaan dan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan yang aman, bermutu serta terjangkau) hingga pelayanan farmasi klinis yang berorientasi pada pasien untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan swamedikasi terkait dengan keluhan batuk pilek merupakan salah satu pelayanan kefarmasian klinis yang umum dilakukan oleh Apoteker di Apotek. Dokumentasi pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma Jalan Raya Lenteng Agung No 39 dilakukan dengan melakukan observasi langsung dan membandingkan kesesuaiannya dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan kegiatan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan BMHP serta pelayanan swamedikasi di Apotek Kimia Farma Jl Raya Lenteng Agung No 39 sudah cukup baik dan sesuai dengan PMK No. 73 Tahun 2016.

The implementation of pharmaceutical services by pharmacists at pharmacies must follow the pharmaceutical service standards listed in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 73 of 2016. Implementation of pharmaceutical services by pharmacists at pharmacies starts with managerial activities (ensuring the availability and management of pharmaceutical preparations, medical devices safe, quality and affordable) to patient-oriented clinical pharmacy services to improve the quality of life of patients. Self-medication services related to complaints of cough and cold are one of the clinical pharmacy services that are commonly performed by pharmacists at pharmacies. Documentation of pharmaceutical services at Kimia Farma Pharmacy Jalan Raya Lenteng Agung No. 39 is carried out by direct observation and comparing compliance with applicable regulations. Based on the results of observations, the implementation of management activities for pharmaceutical preparations, medical devices and BMHP as well as self-medication services at Kimia Farma Pharmacy Jl Raya Lenteng Agung No 39 is quite good and in accordance with PMK No. 73 of 2016."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhona Irani
"Pedagang besar farmasi sebagai fasilitas pelayanan distribusi berperan penting untuk menjamin ketersediaan perbekalan farmasi yang aman dan bermutu ke fasilitas pelayanan kesehatan lain dan/ atau PBF lainnya hingga sampai kepada masyarakat (pasien) sesuai pedoman CDOB. Untuk mendapatkan tingkat stok persediaan yang efektif maka perlu kebijakan pengendalian persediaan yang tepat. Analisis ABC sebagai salah satu pengendalian persediaan sediaan farmasi yang digunakan oleh Perusahaan PT SamMarie Tramedifa. Dalam praktiknya, kelompok obat pareto A masih terdapat kendala kelebihan stok. Olek karena itu, pengawasan pengendalian persediaan perlu dilakukan dengan menggunakan kombinasi ABC-FSN (fast-moving, slow-moving, dan non-moving) yang diharapkan dapat mencapai tingkat persediaan yang efisien melalui rencana pengadaan yang optimal dengan mempertimbangkan tingkat perputaran persediaan item tersebut selama periode 1 Oktober-31 Desember 2022. Berdasarkan hasil analisis 150 item obat kelompok A, ditemukan 9 item obat kelompok AN (Non-Moving), 20 item obat AS (Slow), dan 121 item obat AF (Fast) yang membutuhkan kontrol peninjauan persediaan, perencanaan dan metode pengendalian yang berbeda.

Pharmaceutical wholesalers as distribution service facilities play an important role in ensuring the availability of safe and quality pharmaceutical supplies to other health care facilities and/or other PBFs until they reach the public (patients) according to guidelines for the proper distribution of drugs. To get an effective inventory stock level, it is necessary to have the right inventory control policy. ABC analysis as one of the inventory controls for pharmaceutical preparations used by the Company PT SamMarie Tramedifa. In practice, the pareto drug group A still has problems with excess stock. Therefore, inventory control monitoring needs to be carried out using a combination of ABC-FSN (fast-moving, slow-moving and non-moving) which is expected to achieve efficient inventory levels through optimal procurement plans taking into account the item's inventory turnover rate during October 1 - December 31, 2022. Based on the results of an analysis of 150 group A drug items, 9 items of AN (Non-Moving) group drug were found, 20 items of AS (Slow) group drug, and 121 items of AF (Fast) group drug that required inventory review control, different planning and control methods."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhona Irani
"Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Teknis Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan kegiatan yang meliputi pemastian terapi pengobatan yang efektif, aman, dan rasional bagi pasien dan pencegahan terhadap kejadian reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) yang dilakukan oleh Apoteker di rumah sakit. Kegiatan ini dilakukan untuk pengobatan kasus penyakit yang memerlukan perhatian khusus dengan mengevaluasi masalah terkait obat. Stenosis mitral, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium dan insufisiensi trikuspid dengan komplikasi aki serta peningkatan transaminase merupakan salah satu kasus penyakit di RSUD Tarakan Jakarta. Metode analisis pemantauan terapi obat menggunakan kombinasi PCNE dan Hepler-Strand. Berdasarkan hasil analisis, masalah terkait obat yang diidentifikasi yaitu interaksi obat, efek samping, dan dosis obat berlebih. Masalah terkait obat yang muncul dapat direkomendasikan penyelesaian berupa pemberian obat yang sesuai, pemantauan efek terapi obat melalui hasil laboratorium dan gejala yang ditimbulkan, pemberian jeda konsumsi obat, dan penyesuaian dosis sesuai tatalaksana dan kondisi pasien.

In the Regulation of the Minister of Health Number 72 of 2016 concerning Technical Standards for Pharmaceutical Services in Hospitals, Drug Therapy Monitoring is an activity that includes ensuring effective, safe and rational medication therapy for patients and prevention of unwanted drug reaction performed by pharmacists in hospitals. This activity is carried out for the treatment of disease cases that require special attention by evaluating drug-related problems. Mitral stenosis, congestive heart failure, atrial fibrillation and tricuspid insufficiency with battery complications and increased transaminases are one of the cases of disease in Tarakan Hospital, Jakarta. The analytical method for monitoring drug therapy uses a combination of PCNE and Hepler-Strand. Based on the results of the analysis, drug-related problems were identified, namely drug interactions, side effects, and drug overdosage. Drug-related problems that arise can be recommended for solutions in the form of administering appropriate drugs, monitoring the effects of drug therapy through laboratory results and the symptoms caused, giving pauses in drug consumption, and adjusting doses according to the management and condition of the patient."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhona Irani
"Penyakit diare masih termasuk masalah kesehatan masyarakat yang utama terutama di negara berkembang. Dari tahun ke tahun ditemukan sejumlah kasus baru dan masih sering timbul dalam bentuk Kejadian Luar Biasa. Sebagian besar anak mengalami dehidrasi parah (kehilangan cairan dan elektrolit) ataupun malnutrisi serta komplikasi penyakit lainnya sebagai akibat dari keterlambatan pengobatan karena tatalaksana diare yang tidak tepat di rumah sehingga menjadi penyebab utama kematian akibat diare. Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan berperan penting dalam pelaksanaan upaya promotif dan preventif serta mendukung kemandirian hidup sehat melalui kerjasama lintas program. Dalam hal ini, promosi kesehatan di Puskesmas Jatinegara dalam bentuk media edukasi sangat diperlukan untuk mengenali diare dan gejala dehidrasi dini, upaya pencegahan melalui kebiasaan hidup sehat serta sanitasi yang baik, dan tatalaksana terapi diare yang tepat di rumah (lintas diare dan pengobatan swamedikasi). Kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Jatinegara telah disampaikan dengan media leaflet mengenai edukasi pasien terkait diare mulai dari definisi hingga terapi antidiare yang bisa digunakan untuk swamedikasi.

Diarrheal disease is still a major public health problem, especially in developing countries. From year to year, a number of new cases are found and they still often arise in the form of Extraordinary Events. Most children experience severe dehydration (loss of fluids and electrolytes) or malnutrition and other complications as a result of delays in treatment due to improper management of diarrhea at home, which is the main cause of death from diarrhea. Puskesmas as the front line of health services play an important role in implementing promotive and preventive efforts as well as supporting independent healthy living through cross-program collaboration. In this case, health promotion at the Jatinegara Health Center in the form of educational media is needed to recognize diarrhea and symptoms of early dehydration, prevention efforts through healthy living habits and good sanitation, and proper management of diarrhea therapy at home (cross diarrhea and self-medication). Health promotion activities at Puskesmas Jatinegara have been delivered through leaflets on patient education related to diarrhea, from its definition to anti-diarrhea therapy that can be done by self-medication."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library