Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 191284 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tasnima Ranti Weningtyas
"Terapis wicara, profesi yang berperan penting dalam memberikan penanganan pada anak-anak dengan gangguan berkomunikasi dan menghindari dampak negatif dalam jangka panjangnya, tetapi masih minim diteliti di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran yang mendalam mengenai pengalaman terapis wicara di Indonesia dan bagaimana mereka menghayati pekerjaan yang dilakukan, juga dengan harapan bahwa apa yang ditemukan dalam penelitian ini dapat menjadi permulaan dari lebih banyak penelitian terkait terapi wicara dan terapis wicara di Indonesia. Melalui wawancara semiterstruktur bersama lima terapis wicara dan dengan menggunakan metode analisis practical thematic analysis oleh Saunders et al. (2023), penelitian ini menemukan 6 tema dan 15 subtema yang mewakili penghayatan pengalaman terapis wicara di Indonesia, baik sebelum memulai pekerjaannya maupun hingga saat ini. Penelitian ini mengungkapkan latar belakang dari para terapis wicara dalam memilih bidang keterapian, tantangan dalam bekerja yang banyak berasal dari orang tua atau keluarga pasien, bagaimana terapis wicara menavigasi peran mereka di ranah pekerjaan dan keluarga, aspek menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami, pemaknaan terapis wicara terhadap profesi mereka, serta refleksi lebih dalam terkait pekerjaan yang memberi kesempatan para terapis wicara mengungkapkan keluhan, harapan, dan kekhawatiran selama bekerja. 

Speech therapist, a profession with a crucial role in giving treatment for children with communication disorder and preventing long-term negative impacts, but remains under-researched in Indonesia. Using a qualitative approach, this study aims to explore in depth the experience of speech therapist in Indonesia and how they internalize the work they do, and with hopes that the findings in this study can act as the start of more studies about speech therapy and speech therapist in Indonesia. Through semi-structured interviews with five speech therapists and utilizing the practical thematic analysis method by Saunders et al. (2023), this study found 6 themes and 15 subthemes that represents the experience of speech therapist in Indonesia, both before they begin working and up to this day. This study reveals speech therapists’ background in choosing the field of therapy, challenges in work that comes from parents and families of patients, how speech therapists navigate their role in work and family, the fun and not-so-fun aspects that they experience, how they put meaning to their profession, and a deeper reflection of their work that gives them a chance to disclose complaints, hopes, and concerns throughout their job."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Randy Rudiananda
"Industri jasa merupakan pekerjaan yang berkembang dengan pesat di Indonesia Seiring perkembangan zaman beberapa industri jasa mulai mengalami perubahan pelayanan menjadi sesuatu yang mengandung unsur seks Beberapa industri jasa tersebut melibatkan perempuan perempuan yang ingin merubah nasib dengan cara yang instan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana seorang perempuan dengan keterbatasan pendidikan dapat memiliki akses ke kehidupan yang lebih baik secara materi Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan satu informan utama dan beberapa informan tambahan untuk memperkuat data
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa seorang terapis perempuan bisa memperoleh dua aspek yang dianggap penting oleh masyarakat yaitu kekuasaan dan kekayaan Dengan dua aspek ini seorang terapis perempuan bisa mengalami mobilitas vertikal ke atas yang membawa dia naik kelas dari lapisan bawah ke lapisan menengah atas di dalam stratifikasi sosial di masyarakat perkotaan.

Along the times some service industries began to change the service into something contains elements of sex Some service industries involve women who want to change the fate of an instant way The purpose of this study was to determine how a woman with limited education can have access to a better life materially This study used qualitative methods with the key informants and some additional informants to strengthen data
The results showed that a female therapist can earn two aspects that are considered important by society that is power and wealth With these two aspects a female therapist may experience upward vertical mobility that brings him up from the lower class to the upper middle layer in social stratification in urban communities.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Dwi Insani
"Skripsi ini membahas mengenai penerapan hukum dan sistem pelaksanaan terapis wicara di institusi pemerintahan yang berbeda. Penulis melakukan studi perbandingan sistem terapis wicara di Rumah Sakit Bayukarta Karawang dan Panti Sosial Bina Rungu Wicara. Perbandingan penerapan sistem terapis wicara disesuaikan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Terapis Wicara dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Terapi Wicara. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah yuridis normatif yang bersifat deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbandingan sistem terapi wicara di Rumah Sakit Bayukarta dan Panti Sosial Bina Rungu Wicara. Perbandingan di mulai dari sistem penerimaan terapis wicara, informed consent dan rekam medis dalam terapi wicara, tahapan pelayanan terapi wicara, hak dan kewajiban terapis wicara dan hubungan tanggung jawab terapis wicara dengan Rumah Sakit Bayukarta Karawang dan Panti Sosial Bina Rungu Wicara Melati.
Penelitian ini menyarankan institusi kesehatan dan institusi sosial untuk melakukan sosialisasi bagi masyarakat terkait pelayanan terapi wicara, karena terapi wicara merupakan hal penting dalam perkembangan diri dan pendidikan seseorang. Sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah dapat membantu masyarakat untuk memahami perbandingan pelayanan terapi wicara di rumah sakit dan panti sosial. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perbaikan dan pengembangan bagi pelayanan terkait rehabilitasi medik di rumah sakit dan pelayanan terapi wicara di panti sosial.

This Research is about application of law and implementation systems of speech therapist in different governmental institutions. The author conducted comparative studies about speech therapist in Bayukarta Karawang Hospital and Bina Rungu Wicara Melati Social Homes. Comparison of the speech therapist's application system is adjusted to Act of Republic Indonesia Number 44 Year 2009 about Hospital, Regulation Ministry of Health Indonesia Number 24 Year 2013 about Work Organizing and Speech Therapist's Practice, and Regulation Ministry of Health Indonesia Number 81 Year 2014 about Speech Therapy Service Standards. This research methods is a descriptive normative juridical.
The result of this research shows the comparison of speech therapist system in Bayukarta Karawang Hospital and Bina Rungu Wicara Melati Social Homes. Comparison starts from speech therapist's acceptance system, informed consent and medical record in speech therapy, stages of speech therapy services, rights and obligations of speech therapist, correlation speech therapist's responsibilities with Bayukarta Karawang Hospital and Bina Rungu Wicara Melati Social Homes.
This research suggest health institutions and social institutions to conduct sozialitation for the community about speech therapy service, because speech therapy is an important thing in self development and education. Socialization conducted by the government can help people to understand the comparison of speech therapy services in hospitals and social homes. From the result of this research can be improvement and development for medical rehabilitation services in hospital and speech therapy in social homes.
"
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2017
S69918
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mardha Raya
"Tujuan: Perawat sebagai salah satu bagian dari multidisiplin yang memiliki peran penting dalam menangani individu dual diagnosis. Tujaan penelitian untuk mengetahui penanganan individu dual diagnosis dari perspektif perawat selama ini. Metode: Desain deskriptif kualitatif dengan wawancara in-depth interview semi terstruktur via daring. Total partisipan 31 perawat di 4 tempat penelitian yaitu BNN LIDO Bogor, RSKO Jakarta Selatan, RS Marzoeki Mahdi Bogor dan Puskesmas Tebet, dengan menggunakan convenience sampling. Analisis data dengan pendekatan analisis tematik. Penelitian ini disetujui oleh komite etik. Hasil: Penelitian ini menghasilkan 5 tema; (1) gambaran pelayanan kesehatan individu dual diagnosis belum ada ke khasan saat ini (2) dominasi peran interkolaborasi perawat pada penanganan dual diagnosis (3) kondisi emosional perawat saat merawat individu dual diagnosis (4) faktor pendukung dan penghambat perawat saat penanganan individu (5) harapan pemenuhan kebutuhan perawat untuk peningkatan kualitas pelayanan dual diagnosis. Kesimpulan: Penanganan individu dual diagnosis belum ada ke khasan saat ini dikarenakan individu bergabung dengan individu NAPZA murni dalam perawatan program rehabilitasi NAPZA dan masih sedikit perhatian terhadap masalah gangguan jiwa yang dialaminya. Belum adanya pedoman, panduan ataupun standar keperawatan khusus untuk dual diagnosis perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut berbagai sektor, sehingga individu dual diagnosis dapat ditangani secara tepat dan terstandar.

Aims: Nurses as part of multidisciplinary have an important role in dealing with individual dual diagnosis. The research objective is to determine the individual handling of dual diagnoses from the perspective of nurses so far. Methods: Qualitative descriptive design with semi structured in-depth interviews online. The total participants were 31 nurses in 4 research sites, namely BNN LIDO Bogor, RSKO South Jakarta, Bogor Marzoeki Mahdi Hospital and Tebet Public Health Center, using convenience sampling. Data analysis with a thematic analysis approach. This study was approved by the ethics committee. Results: This study resulted in 5 themes; (1) the description of dual diagnosis individual health services has no specificity at this time (2) the dominance of the inter-collaboration role of nurses in handling dual diagnosis (3) the emotional condition of nurses when caring for dual diagnosis individuals (4) supporting and inhibiting factors for nurses when handling individuals (5) ) the hope of fulfilling the needs of nurses to improve the quality of dual diagnosis services. Conclusion: The treatment of dual diagnosis individuals is not specific at this time because the individual joins a pure drug individual in the treatment of a drug rehabilitation program and there is still little attention to the mental problems they experience. The absence of specific nursing guidelines or standards for dual diagnosis requires further discussion of various sectors, so that individual dual diagnoses can be handled appropriately and in a standardized manner."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Nadia Rahmawati
"Perspektif agama arus utama yang menentang homoseksualitas dan ekspresi lintas gender, menimbulkan dilema bagi individu LGBTQ, terutama bagi mereka yang tumbuh dengan afiliasi agama tertentu. Hal ini kemudian dapat menimbulkan konflik antara identitas gender/seksualitas dengan religiositas dalam diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana individu memandang dan menghadapi konflik antara status religiositasnya terhadap identitas gender dan seksualitasnya dari waktu ke waktu. Peneliti menggunakan metode kualitatif, khususnya pendekatan grounded theory, yang memungkinkan peneliti untuk berfokus pada proses pembentukan atau pengembangan teori. Partisipan berjumlah enam orang dengan teknik pengambilan sampel secara purposive dan snowball, dengan kriteria: 1) merupakan bagian dari LGBTQ; 2) pernah atau sedang menganut agama tertentu, dan; 3) berusia setidaknya di atas delapan belas tahun. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara semistruktur, kemudian dianalisis menggunakan metode thematic analysis. Peneliti kemudian menyusun “Model Integrasi dengan Konflik antara Identitas Gender/Seksualitas dengan Religiositas” yang dikembangkan dari Model Pembentukan Identitas Gender oleh Cass (1978). Model ini terdiri dari tahap Nonconform, Questioning, Conflict, Exploration, Self-Identify, Compromise, Self-Integration, dan Spiritual Integration. Selain itu, peneliti mengamati bagaimana penilaian kognitif dan keterikatan kepada agama sebagai komunitas dapat berperan menyelesaikan adanya konflik antara identitas gender/seksualitas dengan religiositas.

The mainstream religious perspective that opposes homosexuality and cross-gender expression creates a dilemma for LGBTQ individuals, especially those who grew up with a specific religious affiliation. This can result in internal conflict between gender and religiosity. The present study aims to explore how individuals perceive and cope with the conflict between their religious status and gender and sexual identity over time. The researcher used qualitative methods, specifically the grounded theory approach, which allowed for a focus on the process of theory formation and development. Six participants were selected using purposive and snowball sampling criteria: 1) they identified as part of the LGBTQ community; 2) they had practiced or were currently practicing a particular religion, and; 3) they were at least eighteen years old. Data was collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The researcher developed an "Integration Model with Gender- Religiosity Conflict" derived from Cass's (1978) Gender Identity Formation Model. This model consists of the following stages: Nonconform, Questioning, Conflict, Exploration, Self-Identify, Compromise, Self-Integration, and Spiritual Integration. Additionally, the researcher observed how cognitive appraisal and attachment to religion as a community can play a role in preventing gender-religiosity conflict. This study provides insight into the experiences of LGBTQ individuals who also have a religious affiliation and may be struggling with conflicting identities. The model developed in this study can be used as a framework for understanding and supporting individuals going through this process."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siahaan, Marthalena
"Kepatuhan perawat dalam melaksanakan praktik pencegahan dan pengendalian infeksi dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman dalam berinteraksi dengan IPCN. Studi ini merupakan studi kualitatif fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam berinteraksi dengan IPCN. Metode yang digunakan adalah wawancara secara mendalam terhadap 11 perawat dengan durasi 30-60 menit yang berasal dari 8 area pelayanan di rumah sakit. Wawancara direkam audio kemudian dibuat transkrip wawancara. Analisis tematik dilakukan dengan menggunakan lima fase analisis data kualitatif yaitu: compiling, diassembling, reassembling, interpreting dan concluding.
Hasil penelitian menemukan bahwa perawat memiliki interaksi yang minimal dengan IPCN dan menemukan pelaksanaan tugas IPCN yang belum sesuai Peraturan Menteri Kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi pemahaman perawat terhadap fungsi IPCN dengan melibatkan pihak manajemen, serta merencanakan pendidikan formal ners spesialis pengendali infeksi kepada IPCN untuk memaksimalkan asuhan keperawatan.

Nurse experience in interacting with infection prevention and control nurse (IPCN). Nurse compliance in implementing infection prevention and control practices is influenced by perceptions and experiences in interacting with IPCN. This study is a phenomenological qualitative study that aimed to explore the experience of nurses in interacting with IPCN. The method used was in-depth interviews with 11 nurses, once for about 30-60 min, from 8 service areas in the hospital. Interviews were audio recorded and field note were made then transcripts of interviews were made. Thematic analysis was carried out using five phases of qualitative data analysis, namely: compiling, diassembling, reassembling, interpreting and concluding.
The results of the study found that nurses had minimal interaction with IPCN and found that the implementation of IPCN duties had not been maximized according to the Regulation of the Minister of Health. This study recommends optimizing nurses understanding of the functions of IPCN by involving management, as well as pursue formal education for infection control specialists to IPCN to maximize nursing care.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
T54058
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Afra Bahirah
"Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan fungsi supervisi terhadap terapis pada Human Service Organizations yang diluncurkan dalam teori Human Service Organizations dan fungsi supervisi yakni administratif, edukatif, dan suportif. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan pelaksanaan fungsi supervisi terhadap terapis di YCHI Autism Center dan juga mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi supervisi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi deskriptif melalui studi literatur, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil temuan lapangan menunjukkan fungsi supervisi yang dilakukan oleh supervisor adalah fungsi supervisi administratif, edukatif, dan suportif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah supervisor telah menjalankan beberapa aspek dari fungsi supervisi administratif, edukatif, dan suportif kepada terapis di YCHI Autism Center dan dilakukan secara terus menerus, walaupun belum terjadwal dengan baik karena harus disesuaikan dengan kesibukan supervisor. Faktor pendukung yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi supervisi adalah pengetahuan supervisor yang mumpuni dan kemauan belajar terapis, sikap tegas dan konsisten supervisor, dan ketersediaan materi dan bahan ajar. Sedangkan, faktor penghambatnya ialah keterbatasan waktu supervisor dan perbedaan latar belakang pendidikan dari terapis. 

This research aims to apprehend the implementation of therapist's supervisory function at human service organizations. The purpose of this study is to describe the implementation of therapist's supervisory function in YCHI Autism Center and also describe the supporting factors and obstacle factors that affect the implementation of the supervisory function. This research uses qualitative approach with descriptive method. The main finding of this study is that supervisory function is implemented according to administrative, educative, and supportive functions. In conclusion, the supervisor has carried out several aspects of the supervisory function by doing it continuously which are administrative, educational, and supportive, although it has not been well scheduled because it must be adjusted to the supervisor's schedule. Supporting factors that affect the implementation of the supervisory function are qualified supervisor knowledge and willingness to learn from the therapist, supervisor's firmness and consistency, and the availability of supervision facilities. Meanwhile, the obstacle factors are the limited time of the supervisor and the different educational background of the therapist."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Samantha Dewi Gayatri
"Skripsi ini membahas upaya individu dengan identitas gender dan orientasi seksual non normatif yang mengalami ACE dalam menemukan identitas dan relasi sehat. Studi ini mengadopsi kerangka penelitian kualitatif yang mengeksplorasi identitas gender dan orientasi seksual kelompok tersebut. Sebanyak tujuh partisipan mengikuti wawancara secara daring, di antaranya adalah seorang transpria, transpuan, dua perempuan biseksual, satu laki-laki gay, satu perempuan lesbian, dan seorang non biner, yang berusia dari 19 tahun hingga 25 tahun. Wawancara telah direkam dan ditranskrip serta dianalisis secara tematis. Tiga tema besar telah ditentukan berdasarkan data, yaitu “Identitas Gender dan Orientasi Seksual Non-Normatif,” “ACE,” dan “Relasi.” Tema-tema ini, serta kompleksitas identitas gender/orientasi seksual, dieksplorasi dalam hasil analisis silang dan diskusi. Temuan studi ini menunjukkan bahwa ACE yang dialami partisipan bukan konsekuensi dari identitas gender atau orientasi seksual non normatif yang dimiliki. Selain itu, stres minoritas semakin menggandakan tantangan bagi individu dengan identitas gender dan/atau orientasi seksual non normatif untuk mengeksplorasi dirinya, faktor protektif seperti mengikuti komunitas queer atau berteman dengan individu lainnya yang memiliki status yang sama melalui media sosial membantu mereka dalam meyakini dirinya masing-masing. Meskipun demikian, mereka hanya terbuka dan “menjadi diri sendiri sepenuhnya” kepada individu lainnya yang memiliki kesamaan dengan mereka atau pun orang-orang terdekat yang normatif sehubung dialaminya stres minoritas. Mengenai relasi sehat, seluruh partisipan tidak terisolasi, melainkan dapat menjalin relasi yang intim dengan orang lain. Tantangannya adalah mereka menghayati ekspektasi penolakan. Meskipun demikian, partisipan juga berkaca dari pengalaman masa kecil yang menyakitkan atau relasi tidak sehat lainnya di masa lalu dalam mengupayakan relasi yang sehat.

The study discusses the efforts of individuals with nonconforming gender identity and sexuality who experience ACE in finding self-identity and healthy relationships. This study adopts a qualitative research framework that explores the gender identity and sexuality of the aforementioned population. A total of seven participants took part in the online interview, including a trans man, a trans woman, two bisexual women, a gay man, a lesbian woman, and a non-binary person, with ages ranged from 19 to 25 years old. The interviews were recorded, transcribed and analyzed thematically. Three major themes have been determined based on the data, namely “Nonconforming Gender Identity/Sexuality,” “ACE,” and “Relationships.” These themes, as well as the complexities of gender identity/sexual orientation, are explored in the cross-analysis results and discussion. The findings of this study indicate that the ACE experienced by participants is not a consequence of their nonconforming gender identity or nonconforming sexual orientation. In addition, minority stress multiplies the challenges for individuals with nonconforming gender identities and/or nonconforming sexual orientations to explore themselves. Protective factors such as joining queer communities or making friends with other individuals of similar status through social media help them to accept themselves. respectively. However, they can only come out and “be themselves completely” to other individuals who have something in common with them or those closest to them which are a part of the heteronormative community due to the experience of minority stress. Regarding healthy relationships, participants are found to be able to establish intimate relationships instead of being isolated due minority stress. Regarding healthy relationships, all participants are not isolated, but can establish intimate relationships with other people. The challenge is that they live up to the expectations of rejection. However, participants have also reflected on the painful childhood experiences or other unhealthy relationships in the past in seeking healthy relationships.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bisuk Billy Burton
"Tahun 2017 merupakan tahun dimana jumlah penduduk dengan status bercerai di Indonesia terbanyak sepanjang beberapa tahun kebelakang dan jumlah ini di proyeksikan akan terus bertambah hingga sepuluh tahun mendatang. Jika jumlah penduduk bercerai terus mengalami peningkatan, bukan tidak mungkin dampak-dampak dari perceraian itu sendiri akan semakin dirasakan baik oleh pasangan yang bercerai maupun pada anggota keluarga lainnya. Menurut Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung terdapat tiga belas alasan terjadinya perceraian di Indonesia dimana ke-tiga belas alasan tersebut dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu faktor ekonomi, sosial dan demografi. Pada penelitian ini peneliti akan berfokus pada pengaruh faktor demografi dan ekonomi terhadap status perkawian penduduk di Indonesia. Dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2017 dan dengan menggunakan metode Multinomial Logistic Regression, penelitian ini menemukan bahwa sex ratio secara statistik signifikan mempengaruhi kemungkinan terjadinya cerai baik cerai hidup maupun cerai mati dimana semakin tinggi sex ratio maka kemungkinan terjadinya cerai akan berkurang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin lama usia perkawinan pasangan maka kemungkinan terjadinya cerai akan meningkat baik cerai hidup maupun cerai mati. Selain melihat pengaruh dari faktor-faktor tersebut pada penduduk secara keseluruhan, penelitian ini juga melihat pengaruh dari faktor-faktor yang ada terhadap penduduk laki-laki dan perempuan secara terpisah.

Year 2017 is the year with the largest number of the population with the divorce status in Indonesia for the past few years and this number is projected to continue growing for the next ten years. If the number of divorced population continues to rise, it is not impossible that the effects of divorce itself will significantly impact the divorced couples as well as other family members. According to the Directorate General of Religious Justice Institution of the Supreme Court (Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung), there are thirteen reasons of divorce in Indonesia which are classified into three major groups, namely economic, social and demographic factors. In this study, the researcher will focus on the influence of demographic and economic factors on the marital status of the population in Indonesia. By using data from the National Economic Social Survey (Survei Sosial Ekonomi Nasional) of year 2017 and the Multinomial Logistic Regression method, this study concludes that the sex ratio statistically significantly affect the possibility of divorce where the higher the sex ratio, the likelihood of divorce will decrease. This study also shows that the longer the years of marriage, the possibility of divorce will increase. Other than examininbg the influence of these factors on the population as a whole, the study also examines the impacts of existing factors to male and female populations, respectively.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evrilia Bayu Fista Saraswati
"Salah satu faktor yang berperan dalam kesuksesan ibu memberikan ASI eksklusifadalah faktor psikososial atau efikasi diri. Pendekatan kualitatif memberikangambaran yang lengkap terkait analisis efikasi diri pemberian ASI eksklusif pada ibubekerja di PT. Indonesia Epson Industry Tahun 2017. Dalam studi ini terdapat 4 faktor yang berperan dalam efikasi diri pada ibu bekerja yang terdiri dari pengalaman penguasaan, pengalaman orang lain, persuasi lisan dan kondisi emosional.
Hasil menunjukkan sebagian besar ibu bekerja memiliki efikasi diri tinggi. Hal ini dilihat dari usaha dan kesiapan ibu memberikan ASI eksklusif serta dapat mengatasi kesulitan maupun masalah menyusui yang dihadapi. Faktor pengalaman penguasaan lebih berperan terhadap efikasi diri. Sebagian besar ibu multi para dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya sehingga termotivasi untuk memberikan ASI eksklusif kembali pada anak berikutnya. Selain itu lingkungan kerja dan tempat tinggalberperan dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu diperlukanadanya motivasi menyusui dari efikasi diri serta lingkungan yang mendukung untuk meningkatkan kesadaran ibu bekerja dalam pemberian ASI eksklusif.

The most important factors that influence mother's success in giving exclusive breast feeding is psychosocial factor. Qualitative approach provides a more complecated which describes self efficacy analysis of breastfeeding at working mothers in PT. Indonesia Epson Industry in 2017. In this study there are 4 factors that influence self efficacy in working mother which consist of experience of mastery, experience of others, verbal persuasion and emotional condition. Factor of master experience more a role to self efficacy.
The results show that most working mother shave high self efficacy. This is seen from the efforts and readiness of mothers to give exclusive breastfeeding and can overcome the problems and problems of breastfeeding is. Factor of experience over mastery of self efficacy. Most mothers are multiparous by previous experience to be motivated to exclusively breastfeed back to the next child. Moreover the achievements are given not only by the self efficacy behind workplace environment and mother's residence. It is there fore necessary to have a factor of self efficacy as well as a supportive environment for raising mother awareness in the exclusive breastfeeding method of working mothers.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
T47570
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>