Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 215366 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adeputri Tanesha Idhayu
"Latar belakang: Tuberkulosis resistan obat (TB RO) merupakan salah satu tantangan terbesar dalam upaya pemberantasan TB di dunia, termasuk di Indonesia. Pengobatan TB RO menghadapi sejumlah kendala,termasuk hipotiroid, yang sering kali tidak terdiagnosis walau berpotensi memengaruhi kepatuhan dan hasil pengobatan TB RO, dikarenakan gangguan farmakokinetik obat dan penurunan kualitas hidup. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insiden kejadian hipotiroid dan faktor risikonya (jenis kelamin, indeks massa tubuh, komorbiditas HIV, jenis OAT dan anti-TPO) pada pasien TB RO di Jakarta Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kohort ambispektif yang dilakukan di empat rumah sakit rujukan TB RO di Jakarta, Indonesia. Data awal diambil dari sistem informasi tuberkulosis nasional dan subjek yang tidak memiliki data TSH awal atau memiliki masalah tiroid pada awal penelitian akan dieksklusi. Subjek yang telah menjalani pengobatan TB RO selama 3 sampai 6 bulan direkrut dan diambil data berupa kuesioner, pemeriksaan fisik dan pengambilan sampel darah vena (TSH dan anti-TPO). Hasil: Sebanyak 148 subjek TB RO diikutsertakan dalam penelitian ini. Hipotiroid ditemukan pada 8 subjek (5,4%). Walaupun kejadian hipotiroid tampaknya lebih sering terjadi pada subjek dengan jenis kelamin wanita (4/56, 7,1% vs 4/92, 4,3%) HIV (1/5, 20% vs 7/143, 4,9%), mendapat OAT kombinasi etionamid/PAS (3/28, 10,7% vs 5/120, 4,2%%), dan dengan anti-TPO positif (1/9, 11,1% vs 7/139, 5%), sedangkan lebih jarang terjadi pada subjek dengan malnutrisi (4/83, 4,8% vs 4/65,6,1%), namun penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara jenis kelamin (RR = 1,6, IK 95% 0,4-6,3), indeks massa tubuh (RR = 0,7, IK 95% 0,2 - 3,0), komorbiditas HIV (RR = 4,1, IK 95% 0,6-27,2), jenis OAT kombinasi etionamid/PAS (RR = 2,6, IK 95% 0,6-10,1), anti-TPO (RR = 2,2, IK 95% 0,3-16,0) dengan kejadian hipotiroid pada TB RO, yang mungkin terkait dengan angka kejadian hipotiroid yang relatif rendah dalam penelitian ini. Kesimpulan: Insiden hipotiroid pada pasien TB RO di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. Penelitian yang lebih besar diperlukan untuk menilai faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian hipotiroid pada pasien TB RO.

Background: Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) represents one of the most significant challenges to the global effort to eradicate TB, including in Indonesia. The treatment of DR-TB is confronted with a number of significant obstacles, including hypothyroidism, which may frequently unrecognised and underdiagnosed, despite the fact that it may potentially affect DR-TB treatment adherence and outcomes, due to its impaired drug pharmacokinetics and reduced quality of life. Objective: We aim to assess the incidence of hypothyroidism, and its respective risk factors (Sex, body mass index, HIV comorbidity, DR-TB drug regimen, anti-TPO), in DR-TB patients in health services for DR-TB in Jakarta. Methods: This was an ambispective cohort study conducted in four tuberculosis referral hospitals in Jakarta, Indonesia. Baseline data was retrieved from the national tuberculosis information system. Participants who had undergone DR-TB treatment for a period of 3 to 6 months were recruited for questionairre, physical examination and venous blood sampling (TSH and Anti-TPO). Participants with baseline thyroid problems were excluded. Results: A total of 148 DR-TB subjects were included in this study. Hypothyroidism were found in 8 subjects (5.4%). Interestingly, the incidence of hypothyroidism was more frequent among subjects with female gender (4/56, 7.1% vs. 4/92, 4.3%), those with HIV (1/5, 20% vs 7/143, 4.9%), receiving ethionamide/PAS (3/28, 10.7% vs 5/120, 4.2%) and with positive anti-TPO (1/9, 11.1% vs 7/139, 5%), hereas it was less t frequent in subjects with malnutrition (4/83, 4.8% vs 4/65, 6.1%). Our study observed no statistically significant relationship between sex (RR = 1.6, 95% CI 0.4 - 6.3), body mass index (RR = 0.7, 95% CI 0.2 - 3.0), HIV comorbidity (RR = 4.1, 95% CI 0.6 - 27.2), type of antituberculosis drugs (ethionamide/PAS) (RR = 2.6, 95% CI 0.6 - 10.1), anti-TPO (RR= 2.2, 95% CI 0.3 - 16.0) and hypothyroidism, which might be related to the relatively low incidence of hypothyroidism in our study. Conclusions: The incidence of hypothyroidism among DR-TB patients in Indonesia was relatively low in comparison to other countries. Larger study is needed to assess the contributing risk factors for the development of hypothyroidism among DR-TB patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Karl Dalton Tjia
"Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO) merupakan ancaman kesehatan masyarakat. Indonesia menduduki peringkat keempat dalam insiden kasus resistensi TB secara global dan enrollment rate pengobatan MDR/RR-TB masih dibawah target nasional sehingga dapat mendorong beban resistensi pre-extensively drug resistant TB (pre-XDR-TB) dan extensively drug resistant TB (XDR-TB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Desain studi penelitian adalah cross sectional dengan sumber data dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Total sampel yang digunakan adalah 1164 yang kemudian diolah dengan analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Jumlah resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB di DKI Jakarta mencapai 9,7% dari total kasus TBC-RO DKI Jakarta. Karakteristik pasien TBC-RO di DKI Jakarta mayoritas merupakan laki-laki (57,5%), usia 45-54 tahun (22,9%), status sosioekonomi tidak bekerja (28,1%), pasien TBC-RO dengan DM tipe 2 (23,2%), pasien HIV-TBC-RO (3,3%) riwayat pengobatan baru (44,8%) dan penyebab resistensi merupakan acquired resistance (47,8%). Dari analisis bivariat didapatkan, laki-laki (POR = 0,675; 95% CI: 0,458-0,996) merupakan faktor protektif dan status sosioekonomi tidak bekerja (POR = 1,65; 95% CI: 1,021-2,649) merupakan faktor risiko terhadap resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB. Direkomendasikan untuk pemerintahan memberi dukungan ekonomi kepada pasien TBC-RO yang sedang menjalani pengobatan TB.

Drug resistant TB (DR-TB) has become a public health threat. Globally, Indonesia ranked fourth in the incidence cases of DR-TB and the enrollment rate for MDR/RR-TB was still below the national target which consequentially can push the burden of pre-extensively drug resistant TB (pre-XDR-TB) and extensively drug resistant TB (XDR-TB) in Indonesia. The objective of this research is to identify the risk factors that are associated with the occurrence of pre-XDR-TB and XDR-TB in DKI Jakarta in 2021-2022. This study uses a cross-sectional design and the data is obtained from the national TB information system (SITB). The total sample used for this study is 1164 which is then analysed by univariate, bivariate and stratification analysis. The number of pre-XDR-TB and XDR-TB cases in DKI Jakarta reaches 9.7% of the total cases of DR-TB in DKI Jakarta. The characteristics of the majority of DR-TB patients in DKI Jakarta are male (57,5%), age 45-54 (22,9%), unemployed socioeconomic status (28,1%), DR-TB with DM type 2 (23,2%), DR-TB with HIV (3,3%), have no history of previous treatment (44,8%) and cause of resistance is acquired resistance (47,8%). From bivariate analysis it is obtained, being male (POR = 0,68) is a protective factor and socioeconomic status of not working (POR = 1,65) is a risk factor for pre-XDR-TB and XDR-TB resistance. It is recommended that the government provide economic support for DR-TB patients who are undergoing TB treatment."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitti Farihatun
"ABSTRAK
Prevalensi DO pada pasien TB MDR terus meningkat setiap tahunnya di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian DO pada pasien TB MDR di Provinsi DKI Jakarta tahun 2011-2015 berdasarkan faktor risiko umur, jenis kelamin, status HIV, masa pengobatan, kepatuhan berdasarkan tipe pasien, riwayat pengobatan TB sebelumnya, dan jumlah resistansi OAT. Data yang digunakan adalah data sekunder data register kohort e-TB Manager dengan jumlah sampel sebanyak 516 pasien. Desain penelitian studi kuantitatif observational cross sectional. Prevalensi DO pasien TB MDR pada penelitian ini 44.6 yang merupakan prevalensi kasar. Tren prevalensi DO pada penelitian ini cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga 2015 dan selalu melebihi angka 10 setiap tahunnya. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk dapat mengurangi jumlah kasus DO pada pasien TB MDR. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam menjalankan program P2TB yang lebih baik dan tepat sasaran.

ABSTRACT
The prevalence of DO among MDR TB patients increases every year in DKI Jakarta Province. This research aims to analyse DO among MDR TB patients in DKI Jakarta Province in 2011 2015 based on risk factors of age, sex, HIV status, treatment periode, adherence based on type of patients, history of TB treatment, and number of OAT resistance. The data used is secondary data cohort registration e TB Manager with sample of 516 patients. The design study is an observational cross sectional quantitative study. The crude prevalence of DO among MDR TB patients was 44.6. Prevalence tren of DO among MDR TB increases since 2011 untill 2015 and always more than 10 in every year. Therefore, it is necessary efforts that can decrease DO cases among MDR TB patients. This study expected to be a reference for DKI Jakarta Province Health Office in implement P2TB Program and reach target precisely. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rina Agustina
"Kasus TB RO menyebabkan beban pengendalian penyakit TB menjadi bertambah. Adanya penurunan angka keberhasilan pengobatan dari tahun 2010 (67,9%) menjadi 51,1% tahun 2013 dan peningkatan kasus pasien putus berobat mendorong Indonesia menerapkan pengobatan jangka pendek untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB RO dan menurunkan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini melihat hasil pengobatan TB RO dan faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek di Indonesia tahun 2017 menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Menggunakan data pasien TB RO yang tercatat dalam e-TB manager berusia ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatan regimen pendek maksimal pada bulan November 2018. Didapatkan 223 kasus dengan 46,6% sembuh, 26,5 % putus berobat, 4,9% pengobatan lengkap, 14,2 meninggal, 6,3% gagal dan 1,3% lainnya. Usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis resistensi, status HIV, status diabetes mellitus dan status kavitas paru secara statistik tidak berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek ialah resisten terhadap amikasin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloksasin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), dan kanamisin (RR 9; 95% CI 4.68-17.29), dan interval inisiasi pengobatan > 7 hari (RR 0.307; CI 0.09-0.98).

The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply short-term treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68-17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prasna Pramita
"Latar Belakang: Cutaneous Adverse Drug Reaction (CADR) dapat memengaruhi tatalaksana infeksi TB. Hal ini berdampak pada bukan hanya morbiditas dan mortalitas tapi juga resistensi kuman. Untuk itu, proporsi CADR dan faktor-faktor yang berhubungan pada penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) perlu ditentukan demi tatalaksana pasien yang komprehensif.
Tujuan: Mengetahui gambaran kejadian CADR terkait pemberian OAT dalam bentuk proporsi, analisis peran faktor pejamu yang berkaitan dengan kejadian tersebut, dan OAT yang paling sering menimbulkan CADR. Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan rekam medik pasien Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selama 1 Januari 2014
hingga 30 Juni 2015. Sampel diperoleh dengan metode konsekutif yang diseleksi berdasarkan kriteria penelitian. Data kemudian dianalisis untuk menilai hubungan antara CADR dengan usia, jenis kelamin, status HIV, status gizi, dan riwayatmlkojuujhjh Adverse Drug Reaction (ADR). Hasil: Proporsi CADR pada pemberian OAT mencapai angka 5,5%. Dari kelima variabel independen, variabel usia (RR=6,510; IK95% 2,036-20,819 p=0,008) dan riwayat ADR (RR=5,174; IK95% 1,500-17,838; p=0,009) berpengaruh terhadap kejadian CADR. OAT yang paling sering menyebabkan kejadian CADR adalah
rifampisin. Analisis Cochran Mantel-Haenszel menunjukkan bahwa risiko relatif terjadinya CADR untuk faktor usia adalah 7,267 (IK95% 2,093-25,235 p <0,001) dan risiko relatif terjadinya CADR untuk faktor riwayat ADR adalah 5,880 (IK95% 1,552-22,273 p=0,003). Simpulan: Proporsi kejadian CADR setelah pemberian OAT adalah 5,5%. Variabel usia dan riwayat ADR bermakna secara statistik dan klinis terhadap kejadian CADR. Rifampisin adalah OAT tersering yang menimbulkan CADR.

Background: Cutaneous Adverse Drug Reaction (CADR) affected the therapy of TB, which impacted not only its morbidity and mortality but also its resistance. Therefore, the incidence of CADR and the factors associated during the
administration of Anti Tuberculosis Drugs (ATDs) needed to be determined in order to achieve comprehensive treatment.
Objective: To know CADR events on ATD administration by finding the incidence, analyzing the host factors associated with those events, and searching the most common ATD that caused CADR. Methods: This study used retrospective cohort by accessing medical record registered in Cipto Mangunkusumo Hospital from January 1st 2014 until June 30th 2015. Samples were collected consecutively, selected by certain criteria. The data were then analyzed to determine the association between CADR and age, sex, HIV infection, nutritional status, and history of Adverse Drug Reaction (ADR). Results: The incidence of CADR after the administration of ATD was 5.5%. Among the five variables, age (RR=6.510; 95%CI 2.036-20.819, p=0.008) and past history of ADR (RR=5.174; 95%CI 1.500-17.838; p=0.009) were statistically and clinically correlated to CADR. The most frequent drug that triggered CADR was rifampicin. Cochran Mantel-Haenszel showed that the relative risk of CADR according to age was 7,267 (IK95% 2,093-25,235 p <0,001), while the relative
risk according to the past history of ADR was 5,880 (IK95% 1,552-22,273 p=0,003). Conclusions: The incidence of CADR after ATDs administration was 5.5%. Age and past history of ADR were significantly associated with CADR. The most common ATD causing CADR was rifampicin.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shintia Damayanti
"

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. Pada umumnya, penyakit TB menyerang paru-paru manusia. Penyakit ini bisa juga menyerang bagian tubuh lain dari manusia melalui darah. Indonesia merupakan negara ke-3 dengan kasus TB terbesar di dunia. Upaya pencegahan penyebaran TB adalah dengan vaksinasi dan pengobatan yang memadai. Pada penelitian ini, dibentuk model matematika penyebaran TB dengan vaksinasi dan laju pengobatan yang bersaturasi. Pada kasus ini, laju pengobatan menggunakan fungsi saturasi yang menggambarkan efek jenuh akibat dari penundaan pengobatan pasien penderita TB saat sumber daya rumah sakit terbatas. Analisis model terkait eksistensi titik kesetimbangan, kestabilan titik keseimbangan, dan basic reproduction number (Ro) dilakukan secara analitik. Dari analisis titik keseimbangan didapatkan fenomena bifurkasi maju dan juga bifurkasi mundur pada Ro = 1. Bifurkasi mundur didapatkan karena efek dari laju pengobatan yang bersaturasi saat Ro. Oleh karena itu dengan membuat Ro belum cukup untuk mereduksi penyebaran TB. Dengan simulasi numerik dapat menggambarkan fenomena dilapangan, sehingga didapatkan bahwa melakukan vaksinasi, dan memperbesar laju pengobatan maka penyebaran TB dapat dikontrol sehingga lebih efektif untuk mereduksi penyebaran TB.


Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycrobacterium Tuberculosis. Generally, this disease attacks the lungs but can attack other parts of the body through the blood. Indonesia is the 3rd country with the most signi�cant TB cases in the world. Efforts to prevent the spread of TB are with vaccination and treatment. In this study, formed a mathematical model of the diseases of tuberculosis with vaccination and saturated treatment rate. In this case, the treatment rate uses the saturation function, which illustrates the saturation effect resulting from treatment delay when there are a large number of TB sufferers with limited hospital resources. Analysis of the model related to the existence of equilibrium points, the stability of equilibrium points, and the analytically basic reproduction number (Ro). The equilibrium point analysis obtained the phenomenon of forward and backward bifurcation at Ro = 1. Backward bifurcation occurs because of the effect of the saturated treatment rate at Ro < 1. It was therefore making Ro < 1 not enough to reduce the spread of TB. With numerical simulations that can illustrate the phenomenon in the reality, so vaccinated, and improving the rate of treatment, the spread of TB can be controlled to reduce the spread of TB.

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marcella
"Latar belakang : Sekuel Tuberkulosis (TB) adalah deformitas permanen sebagai gejala sisa pada pasien yang telah menjalani pengobatan TB lengkap atau sudah dinayatakan sembuh. Pembedahan merupakan tata laksana efektif sekuel TB, meski tidak terbebas dari komplikasi. Penelitian ini ditujukan melakukan evaluasi peran pemberian OAT terhadap komplikasi pascabedah, dan menilai pengaruh riwayat Diabetes mellitus (DM), merokok dan status gizi kurang terhadap kejadian komplikasi pascabedah kasus sekuel TB.
Metode : Dilakukan suatu studi kohort retrospektif pada pasien pasien yang menjalani operasi sekuel TB di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan dalam periode 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2019. Faktor pemberian OAT, riwayat DM, kebiasaan merokok dan status gizi kurang serta pengaruhnya pada komplikasi pascabedah merupakan variabel penelitian. Dilakukan uji statistik dengan kemaknaan p<0,05.
Hasil : Sebanyak 58 subjek dilibatkan sebagai sampel penelitian. Komplikasi pascabedah terjadi pada 36 (62,1%) subjek. OAT diberikan pada 26 (44,8%) subjek. Pemberian OAT menurunkan odds kejadian komplikasi yang bermakna secara statistik rasio odds 0,06 (0,01-0,24); p < 0,001
Simpulan : Pemberian OAT pascabedah menurunkan kejadian komplikasi pascabedah secara bermakna. Komplikasi pascabedah lebih banyak terjadi pada pasien yang tidak menerima OAT pascabedah

Introduction: Tuberculosis (TB) sequelae are permanent deformities identified as residual signs after completion of TB treatment or cured TB cases. Surgery has been demonstrated to be an effective treatment of TB sequelae albeit with possible post-surgical complications. This study aimed to assess the role of antituberculosis chemotherapy in postoperative complications and to evaluate the impact of diabetes mellitus (DM), smoking and nutritional status on the incidence of postoperative complications.
Method: A retrospective cohort trial was conducted on patients who underwent surgery of TB sequelae at the Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan from January 1, 2016 to December 31, 2019. Administration of antituberculosis chemotherapy, diabetes mellitus (DM), smoking habits, nutritional status and their effects on postoperative complications were evaluated. Statistical analysis concluded to be significant if p<0.05.
Results: A total of 58 subjects were included in the study. Postoperative complications were observed in 36 (62.1%) subjects. Antituberculosis chemotherapy was administered to 26 (44.8%) subjects. Post-surgical administration of antituberculosis drug reduced the likelihood of complications [OR 0.06, 95% CI 0.01-0.24, p <0.001).
Conclusion: Antituberculosis chemotherapy significantly reduced the occurence of postoperative complications. Patient who encountered postoperative complication tend not to receive antituberculous chemotherapy
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meutia Ayuputeri
"MDR-TB telah menjadi ancaman bagi masyarakat masa kini, dengan demikian, menambah beban akibat penyakit TB. Beberapa faktor resiko dapat menyebabkan kasus TB berkembang menjadi kasus MDR-TB, diantaranya adalah implementasi strategi (DOTS) yang buruk, terutama berkaitan dengan keberadaan Pengawas Minum Obat (PMO) dalam pengobatan TB pertama. Penelitian cross-sectional ini mengkaji 3 dari 5 komponen DOTS dalam pengobatan TB pertama yakni adanya pemeriksaan dahak, PMO, serta distribusi dan cakupan obat anti-TB dari program nasional penanggulangan TB. Penelitian ini membahas hubungan antara PMO dan kepatuhan pasien dalam meminum obat. Data untuk studi ini diambil dari hasil wawancara terhadap 50 pasien di Klinik MDR-TB, RS Persahabatan pada Desember 2009-Agustus 2010. Studi ini menunjukkan bahwa sebanyak 32% pasien mengetahui perlu adanya PMO selama pengobatan TB, namun sebanyak 40% pasien memiliki figur yang menjalankan fungsi sebagai PMO. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan signifikan dalam kepatuhan minum obat diantara pasien yang memiliki PMO dan pasien yang tidak memiliki PMO.

MDR-TB poses as a growing threat to present society, further complicating the burden of TB. Various risk factors have been identified to contribute to the development towards MDR-TB from previous TB treatment, one of which is poor implementation of DOTS, especially in relation to the presence of DOTS observer (Pengawas Minum Obat or PMO). This cross sectional study assesses the implementation of 3 out of 5 components of DOTS during primary TB treatment; sputum check, PMO assistance, and coverage of free drug from NTP. Furthermore, this study investigates the association between the presence of PMO and patient compliance. Data is collected by deep interview with 50 patients in MDR-TB Clinic, Persabahatan Hospital during December 2009 to August 2010. This study shows that 62% subjects have their sputum check, and 52% subjects receive free drug. Only 32% subjects acquire the knowledge of PMO, yet 40% subjects are actually observed by PMO. There is no significant difference in patient compliance with the presence of PMO."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enggar Purnaningsih
"ABSTRAK
Nama : Enggar PurnaningsihProgram Studi : Magister KeperawatanJudul : Hubungan Efikasi Diri Dan Stigma Dengan Kepatuhan Pasien Multidrug Resistant Tuberculosis Dalam Menjalani Pengobatan Fase Lanjutan Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan Multidrug Resistant Tuberculosis TB MDR adalah kepatuhan menjalani pengobatan, termasuk pada fase lanjutan. Efikasi diri dan stigma berperan dalam kepatuhan menjalani pengobatan TB MDR fase lanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan efikasi diri dan stigma dengan kepatuhan pasien TB MDR dalam menjalani pengobatan fase lanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 80 responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif bermakna antara efikasi diri r = 0.470; p < 0.001 dan stigma r = 0.602; p < 0.001 dengan kepatuhan menjalani pengobatan TB MDR fase lanjutan. Hasil analisis multivariat didapatkan efikasi diri dan stigma menjadi prediktor kepatuhan menjalani pengobatan TB MDR fase lanjutan. setelah dikontrol akses ke fasilitas layanan kesehatan. Perawat dapat meningkatkan kepatuhan pasien TB MDR dalam menjalani pengobatan fase lanjutan dengan meningkatkan efikasi diri, menurunkan stigma dan meningkatkan keterjangkauan akses ke fasilitas layanan kesehatan.Kata kunci : efikasi diri, fase lanjutan, kepatuhan pengobatan, Multidrug Resistant Tuberculosis, stigma

ABSTRACT
Name Enggar PurnaningsihStudy Program Master of NursingTitle Correlation between self efficacy, stigma and patient adherence to continuation Multidrug Resistant Tuberculosis treatment phase In the continuation phase of treatment, patient adherence is one contributing factor to achieve a successful treatment in patients with Multidrug Resistant Tuberculosis MDR TB . Self efficacy and stigma have an important role in adherence to continuation MDR TB treatment phase. This study aimed to investigate the correlation between self efficacy, stigma and patient adherence to continuation MDR TB treatment phase. A cross sectional study was conducted with 80 participated patients with MDR TB. The results revealed that there was a positive significant relationship between self efficacy r 0.470 p 0.001 , stigma r 0.602 p 0.001 and patient adherence to continuation MDR TB treatment phase. Additionally, multivariate analysis showed that self efficacy and stigma were the predictor of patient adherence, in which patients were controlled to access healthcare facilities. This study results indicate that nurses can improve patient adherence to continuation MDR TB treatment phase by increasing self efficacy reducing stigma and improving access to healthcare facilities.Keywords adherence, continuation treatment phase, Multidrug Resistant Tuberculosis, self efficacy, stigma"
2017
T46934
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shena Masyita Deviernur
"Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370). 

The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370)."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>