Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6524 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bove, Mary
Chicago: Keats Publishing, 2001
618.92 BOV e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Bove, Mary
Chicago: Keats Publishing, 2001
618.92 BOV e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Bove, Mary
Chicago: Keats Publishing, 2001
618.92 BOV e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Moline, Peg
"With health care costs rising, insurance systems in flux, doctors and hospitals overwhelmed, the only person who can really take charge of your health and the health of your family is you. This is your guide. For more than 40 years, Natural Health has been the leading authority on holistic, alternative, and natural healing. Now, for the first time ever, all that science-based, expert-driven, research-intensive information has been distilled into one must-have, authoritative guide to healing the self. In these pages, you'll find stunning new research, unparalleled expert advice, how-to health guides, and a scientific, myth-debunking approach to natural remedies. Search for your symptoms. Find your cure. The power is yours. A clean life for you--and your family--starts now"-- from publisher's web site."
New York: Galvanized Brands, 2014
615.535 MOL d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilia Rifani Ufairah
"Latar belakang: Glaukoma merupakan penyakit kronik pada mata yang menjadi penyebab kebutaan kedua setelah katarak di Indonesia. Saat ini, terdapat sejumlah 427.091 penduduk Indonesia yang menjalani rawat jalan terkait glaukoma. Pada tingkat global, glaukoma sudut terbuka merupakan penyebab kebutaan pertama. Pengobatan farmakologis jangka panjang merupakan terapi utama untuk mencegah progresivitas glaukoma yang memerlukan kepatuhan penggunaan obat oleh pasien. Tujuan: Memberikan gambaran mengenai tingkat kepatuhan penggunaan obat pasien glaukoma sudut terbuka di RSCM Kirana sebagai pusat rujukan nasional, disertai pengaruh dukungan pengasuh atau keluarga terhadap derajat kepatuhan tersebut. Metode: Studi dilaksanakan secara potong lintang dengan teknik pengambilan sampel consecutive. Sampel terpilih sejumlah 96 orang merupakan pasien tergolong kriteria inklusi dari RSCM Kirana. Sampel diwawancarai secara daring dengan pertanyaan bersumber dari kuesioner adaptasi Morisky Medication Adherence Scale dan Duke UNC-Functional Social Support Questionnaire. Hasil: Distribusi derajat dukungan pengasuh atau keluarga dari 96 responden adalah 29.2% beroleh dukungan rendah, 51.04% dukungan sedang, dan 19.8% dukungan tinggi. Sementara distribusi derajat kepatuhan penggunaan obat adalah 50% beroleh kepatuhan rendah, 32.3% kepatuhan sedang, dan 17.7% kepatuhan tinggi. Nilai p (p=0.822) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara derajat dukungan pengasuh atau keluarga terhadap derajat kepatuhan penggunaan obat pasien glaukoma sudut terbuka di RSCM Kirana. Simpulan: Derajat dukungan pengasuh atau keluarga tidak memiliki pengaruh signifikan dengan derajat kepatuhan penggunaan obat pasien glaukoma sudut terbuka (p>0.05) dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengatasi keterbatasan studi

Background: Glaucoma is a chronic eye disease which causes blindness second to cataracts in Indonesia. Currently, there are 427,091 Indonesians who undergo outpatient care related to glaucoma. Open-angle glaucoma is the leading cause of blindness globally. Long-term pharmacological treatment is suggested as the main therapy to prevent disease progression therefore requires adherence. Objective: To provide an overview of the level of medication adherence in open-angle glaucoma outpatients at RSCM Kirana along with the effect of family or caregiver support upon it. Methods: The study design was cross-sectional with a consecutive sampling technique. The selected sample of 96 people were RSCM Kirana open-angle glaucoma outpatients who fulfilled the inclusion criteria requirements. The sample was interviewed online with questions adapted from the Morisky Medication Adherence Scale and Duke UNC-Functional Social Support Questionnaire. Results: The distribution regarding the degree of caregiver or family support out of 96 respondents were 29.2% experienced low support, 51.04% had moderate support, and 19.8% had high support. On the other hand, the distribution of medication adherence degree were 50% had low adherence, 32.3% had moderate adherence, and 17.7% had high adherence. The p-value (p = 0.822) indicates the degree of family or caregiver support has no significant effect on the degree of adherence to medication outcome in open-angle glaucoma patients at RSCM Kirana. Conclusions: The degree of family or caregiver support does not significantly affect the degree of adherence to medication use in open-angle glaucoma patients (p> 0.05). Further research is needed to overcome the recent study limitations
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lumban Gaol, Nova M.
"Kondisi masyarakat perkotaan yang membutuhkan tempat tinggal bagi lansia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah lansia. PSTW Budi Mulia 1 Cipayung adalah salah satu pilihan tempat tinggal bagi lansia dengan berbagai fasilitas dan pelayanan yang dapat mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lansia. Sebuah riset internasional yang dilakukan oleh US Census Bureau, International Data Base tahun 2004 dalam Made (2010) terhadap penduduk Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 31,7% dari jumlah lansia di Indonesia mengalami insomnia. Bapak E (68 tahun) merupakan salah satu klien yang tinggal di PSTW dan mengalami insomnia.
Karya ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan secara komprehensif bagi lansia dengan masalah insomnia dan menganalisis intervensi terapi aktivitas dalam mengatasi masalah insomnia pada lanjut usia. Terapi aktivitas merupakan sekumpulan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan status kesehatan individu. Jenis terapi aktivitas yang digunakan adalah penjadwalan aktivitas dan olahraga aerobik lansia. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama tujuh minggu diperoleh hasil bahwa klien mengalami peningkatan kualitas tidur yang ditandai dengan skor PSQI klien menurun dari 18 menjadi 13.

Urban communities who need a place to stay for the elderly increased along with the increasing number of elderly. PSTW Budi Mulia 1 Cipayung as one of the housing options for the elderly with a variety of facilities and services to maintain autonomy and quality of life the elderly. US Census Bureau, International Data Base on 2004 found that 31.7% elderly in Indonesia suffered insomnia. Mr. E (68 years old) is a client who lived on PSTW and suffered insomnia.
This paper aims to describe a comprehensive nursing care for elderly people with insomnia and analyze activity therapy interventions for insomnia in the elderly. The meaning Activity therapy is set of activities undertaken to improve the health status of elderly. This type of activity therapy consist of activity scheduling and aerobic excercise. After giving interventions for seven weeks, Mr. E showed that sleep quality client improved by PSQI score from 18 become 13.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ririn Septiani
"Kawasan perkotaan merupakan kawasan yang padat lingkungannya. Hal tersebut tentunya berdampak pada masayarakat perkotaan yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah lansia. Masalah yang paling sering dikeluhkan lansia adalah insomnia. Insomnia adalah keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh sulit memasuki tidur, sering terbangun malam kemudian mengalami kesulitan untuk kembali tidur, bangun terlalu pagi dan tidur yang tidak nyenyak. Penatalaksanaan insomnia dapat dilakukan melalui terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Intervensi yang ditetapkan pada karya ilmiah ini adalah terapi non farmakologi yang meliputi sleep restriction, sleep restriction, teknik relaksasi (relaksasi nafas dalam dan relaksasi progressif), teknik massase dan pemberian aromaterapi.

Region is an area of dense urban environment. It is certainly an impact on urban communities in it. One is the elderly. The most common problems are the elderly complained of insomnia. Insomnia is a complaint about the lack of quality sleep caused by difficult enter sleep, frequent night awakenings and then have difficulty returning to sleep, waking up too early and sleep soundly. The management of insomnia can be done through pharmacological therapy and non-pharmacological therapy. Interventions are defined in this paper is a non-pharmacological therapies include sleep restriction, sleep restriction, relaxation techniques (deep breathing relaxation and progressive relaxation), and the provision of technical massase aromatherapy. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ginting, Hestiani Windari Br.
"Jumlah masyarakat perkotaan semakin lama semakin meningkat akibat arus urbanisasi. Tinggal di perkotaan berdampak terhadap peningkatan level stress dan fungsi aktivitas. Daerah perkotaan memiliki jumlah pengangguran dan gelandangan yang tinggi, termasuk didalamnya lansia. Lansia mengalami penurunan dalam kemampuan fisik dan aktivitas sehingga membutuhkan tempat penanmpungan untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka yakni panti sosial. Lansia yang tinggal di panti tidak lepas dari masalah-masalah kesehatan, salah satunya adalah insomnia. Insomnia adalah masalah yang sering terjadi pada lansia yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia sehingga harus diselesaikan. Karya ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis intervensi dalam mengatasi insomnia, yakni dengan sleep hygiene, relaksasi otot progresif, peningkatan aktivitas, dan pemberian massase. Hasil dari analisis terhadap seorang lansia menemukan bahwa serangkaian intervensi tersebut dapat mengatasasi masalah insomnia pada lansia.

Urban populations keep increasing by time because of urbanization. Living in urban area effects increasing of sress level and activities. Urban slum and jobless/homeless are developing at a rapid rate including elders. Elders that living in nursing home are in risk of health problems, one of the problem is insomnia. Insomnia is a common problem in elders that may decrease quality of life, therefore this problem have to be solved. This writing aim to analize the interventions that can be used to reduce or solve insomnia, they are sleep hygiene progressive muscle relaxation, increasing activities, and back massage. The result by analizing the interventions in one elder found that the interventions can solve insomnia problem in elder."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ananda Kukuh Adishabri
"Latar belakang: Glaukoma merupakan penyakit yang ditandai oleh gangguan lapang pandang visual dan perubahan tertentu pada cawan optik saraf. Berdasarkan Riskesdas 2007, prevalensi glaukoma di Indonesia mencapai 4,6 per 1000 penduduk. Glaukoma sudut terbuka merupakan tipe glaukoma tersering dimana terdapat sudut yang terbuka pada ruang anterior mata, perubahan ujung nervus optikus, dan hilangnya penglihatan perifer progresif. Glaukoma dapat berujung pada kebutaan apabila tidak ditatalaksana dengan baik. Terapi utama pada glaukoma adalah pengobatan farmakologis jangka panjang yang memerlukan kepatuhan pasien seumur hidup dan hanya bertujuan untuk mencegah disabilitas lebih lanjut.
Tujuan: Memberikan gambaran mengenai kepatuhan penggunaan obat pada pasien glaukoma sudut terbuka di RSCM Kirana, serta hubungannya dengan status pendidikan formal pasien dan tingkat pengetahuan glaukoma pasien.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 96 subjek dengan teknik consecutive sampling. Subjek merupakan pasien glaukoma sudut terbuka di RSCM Kirana yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memiliki kriteria eksklusi yang telah ditetapkan. Kepatuhan penggunaan obat dan tingkat pengetahuan glaukoma diukur menggunakan kuesioner adaptasi Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan Glaucoma Treatment Compliance Assessment Tool (GTCAT).
Hasil: Mayoritas subjek memiliki status pendidikan formal tinggi (56.3%), pengetahuan berkaitan glaukoma sedang (51.0%), dan kepatuhan rendah (50.0%). Uji komparatif yang dilakukan pada status pendidikan formal dan tingkat pengetahuan glaukoma terhadap kepatuhan penggunaan obat memberikan nilai p sebesar 1.000 dan 0.501.
Simpulan: Status pendidikan formal dan tingkat pengetahuan glaukoma tidak memiliki hubungan yang signifikan (p>0.05) dengan kepatuhan penggunaan obat glaukoma sudut terbuka di RSCM Kirana.

Introduction: Glaucoma is a disease characterized by visual field problems and certain changes in optic nerve plate. Based on Riskesdas 2007, the prevalence of glaucoma in Indonesia has reached 4.6 cases per 1000 populations. Open-angle glaucoma is the most common type of glaucoma which characterized by open angle in anterior chamber of eye, changes in optic nerve, and progressive loss of peripheral vision. Glaucoma can lead to blindness if there is no proper therapy given. The main treatment option is long-term pharmacological treatment that requires lifetime adherence and only intended to prevent further disabilities.
Objectives: Provide an overview of medication adherence level in open-angle glaucoma patients at RSCM Kirana, as well as its relationship with formal education status and patient’s knowledge regarding glaucoma.
Methods: This study is a cross-sectional study conducted on 96 subjects with consecutive sampling technique. Subjects were open-angle glaucoma patients at RSCM Kirana who met the inclusion criteria. Measurement of medication adherence level and patient’s knowledge level were carried out using questions adapted from Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) and Glaucoma Treatment Compliance Assessment Tool (GTCAT).
Results: Majority of subjects in this study had high formal education status (56.3%), moderate glaucoma-related knowledge (51.0%), and low adherence (50.0%). The p-value given from comparative test conducted on formal education status and glaucoma-related knowledge level towards medication adherence are 1.000 and 0.501, respectively.
Conclusions: Patient’s formal education status and glaucoma-related knowledge did not significantly affect (p>0.05) medication adherence in open-angle glaucoma patients.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Haekal
"Pendahuluan : Infertilitas merupakan salah satu gejala pada endometriosis dengan prevalensi mencapai 40-50%. Endometriosis memiliki dampak merugikan terhadap kualitas oosit, sementara sampai saat ini belum ada biomarker baik dari serum ataupun cairan folikel yang dapat dijadikan acuan penilaian kualitas oosit untuk dapat digunakan pada pasien endometriosis yang menjalani fertilisasi in vitro (FIV). Telah ditemukan bahwa pada serum pasien endometriosis terjadi perubahan ekspresi microRNA dimana miRNA-125b memiliki peningkatan yang paling signifikan dengan sensitifitas dan spesifisitas yang paling tinggi. Pada cairan folikel, miRNA-125b berperan saat transisi fase folikular-luteal dengan mempengaruhi ekspresi leukemia inhibitory factor (LIF). LIF diketahui dapat menginduksi sel kumulus yang kemudian mempengaruhi maturasi oosit.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari apakah terdapat hubungan antara miRNA-125b serta LIF dengan kualitas oosit pada pasien infertil dengan endometriosis.
Desain: Studi Analitik korelatif dengan desain potong lintang.
Material dan Metode: Sampel penelitian didapatkan dari 31 pasien infertil dengan endometriosis yang menjalankan program FIV di Klinik Yasmin RSCM Kencana, dan Klinik Melati RSAB Harapan Kita. Sesaat sebelum petik ovum, sebanyak 5cc sampel darah dari setiap pasien akan diambil untuk penilaian ekspresi miRNA-125b. Pada saat petik ovum, sebanyak 10cc dari total cairan dari folikel yang didapat akan diambil untuk penilaian ekspresi miRNA-125b dan kadar LIF. Oosit yang didapat dinilai oleh embriolog. Pemeriksaan ekspresi miRNA dilakukan dengan RT-PCR, dan kadar LIF menggunakan metode sandwich ELISA.
Hasil:Terdapat korelasi negatif antara miRNA-125b serum dengan LIF cairan folikel (p=0,042; r=-0,34). Tidak terdapat korelasi antara miRNA-125b serum dengan miRNA-125b cairan folikel. Tidak terdapat korelasi antara miRNA-125b cairan folikel dengan LIF cairan folikel. Tidak terdapat korelasi antara miRNA-125b serum, miRNA-125b cairan folikel, dan LIF cairan folikel dengan kualitas oosit. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar ekspresi miRNA-125b cairan folikel dengan angka kehamilan biokimia.
Kesimpulan: Terdapat ekspresi miRNA-125b pada serum dan cairan folikel pada pasien endometriosis, namun miRNA-125b belum dapat dijadikan sebagai parameter yang kuat untuk pemeriksaan kualitas oosit pada pasien endometriosis yang menjalani FIV.

Introduction : Infertility is one of the symptoms in endometriosis with prevalence reaching 40-50%. Endometriosis is known to have detrimental effect on oocyte quality, yet until now there is no biomarker derived from either serum, or even follicular fluid, which can be used as reference for oocyte quality assessment in endometriosis patients going through in vitro fertilization (IVF) procedures. Changes of some microRNAs expression has been found in serum of endometriosis patients, with miRNA-125b showing the most significant increase with the highest sensitivy and specificity. In follicular fluid, miRNA-125b play role during follicular-lutheal phase transition by targeting the expression of Leukemia Inhibitory Factor (LIF). LIF has been studied to have the ability to induce cumulus cell expansion which in turn will affect the oocytes maturation.
Purpose: The purpose of this study is to observe the correlation between miRNA-125b, LIF, and oocyte quality in infertile patient with endometriosis.
Design: this is a cross-sectional study with correlation analysis method.
Materials and Methods: in this study, samples were collected from 31 infertile women with endometriosis undergoing in vitro fertilization procedure at Yasmin Clinic of Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, and Melati Clinic of Harapan Kita Mother and Child Hospital. Shortly prior to ovum pick up (OPU) procedure, 5cc of blood sample from each patients was collected, and 10 cc of total follicular fluid was obtained during OPU. Harvested oocytes during the procedure were assessed and scored by embryologist. MiRNA-125b expressions from serum and follicular fluid samples were analyzed using RT-PCR, and LIF levels were analized using ELISA sandwich method.
Result: negative correlation was found between the expression of miRNA-125b serum and LIF follicular fluid (p=0,042; r=-0,34). No correlation was found between the expression of miRNA-125b in serum and in follicular fluid, as well as the expression of miRNA-125b in follicular fluid and LIF in follicular fluid. No correlation was found between the expression of miRNA-125b in serum, follicular fluid, also LIF in follicular fluid, with oocyte quality. Significant result was found between the expression of miRNA-125b in follicular fluid and biochemical pregnancy rate.
Conclusion: This study found miRNA-125 expression represented in serum and follicular fluid in endometriosis patient, but it still cannot be used as a strong parameter for assessing the oocyte quality in infertile women with endometriosis
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>