Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 65366 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhamad Febrian
"ABSTRAK
Penelitian ini menjelaskan hubungan antara dukungan sosial resiprokal dan tingkat stres di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia. Studi-studi sebelumnya melihat dukungan sosial memiliki peran penting, namun dukungan sosial sebagian besar melihat dari sisi penerimaan dukungan sosial. Studi ini melihat pada sisi penerimaan dan pemberian dukungan sosial yang berpengaruh pada stres mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui survei daring dan terkumpul 504 partisipan. Dalam analisis tingkat stres sebanyak 51.98% mahasiswa mengalami tingkat stres yang tinggi. Sementara itu, dalam analisis dukungan sosial resiprokal sebanyak 10.71% mahasiswa yang memiliki hubungan resiprokal. Uji chi-square menunjukkan bahwa kedua variabel secara statistik memiliki hubungan. Dukungan sosial resiprokal menjelaskan pengaruh terhadap tingkat stres mencapai 11.2%. Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain sumber daya personal, peran-hubungan teman dan keluarga, dan norma pertukaran.

ABSTRACT
Current study explains association between reciprocity of social support and level of stress among college students at University of Indonesia. A plenty of previous research were mostly emphasize aspect of receiving social support yet did not take an interest in giving social support. This study examined on effects of giving and receiving social support on student stress. Quantitative approach was used by this study and was 504 students that completed online survey. The prevalence of severe stres was 51.98%. Meanwhile, there were 10.71% students that had a reciprocity of social support. Chi-square test shows that both variables had relationship statistically. Reciprocity of social support improved ability to predicted students stres by 11.2%. There were other factors affected students stress in related to reciprocity of social support, such as personal resource, role-relationship both friend and family, and exchange norms."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cahyanti Kusuma Anggraeni
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tingkat dukungan sosial dan rasa bersyukur terhadap tingkat kebahagiaan mahasiswa program Sarjana di Universitas Indonesia. Indeks kebahagiaan mahasiswa di Indonesia pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 4,18 dibandingkan tahun 2013. Studi-studi sebelumnya menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan mahasiswa adalah kedekatan emosional dengan orang-orang terdekat, aktualisasi diri, dan prestasi akademik. Studi ini akan melibatkan dukungan sosial dan rasa bersyukur yang berfungsi sebagai prediktor penting terhadap tingkat kebahagiaan di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan menyebarkan kuesioner, wawancara dan data sekunder. Selain itu, unit analisis penelitian ini adalah mahasiswa program Sarjana angkatan 2015-2018 di Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel tingkat dukungan sosial dengan tingkat kebahagiaan masiswa. Sementara itu, variabel rasa bersyukur juga menunjukkan korelasi positif dengan tingkat kebahagiaan mahasiswa.

ABSTRACT
This study aims to investigate the effect of social support and gratitude on happiness of undergraduate students at the University of Indonesia. The happiness index of college student in Indonesia in 2017 increased by 4.18 compared to 2013. Previous studies show that the factors influence of happiness among college student are emotional closeness with the closest people, self-esteem, and academic achievement. This study will involve social support and gratitude which serves as an important predictor of the level of happiness among college student. This study uses a quantitative approach with data collection through surveys by distributing questionnaires, interview and secondary data. In addition, the unit of analysis of this study is the 2015-2018 undergraduate students at the University of Indonesia. The results of the study there is a positive correlation between the variables of social support and happiness of students. Meanwhile, the variable of gratitude also indicate a positive correlation with happiness of students.
"
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Rizka Nurul Hijriah
"Setiap manusia memiliki hak untuk meningkatkan kualitas hidupnya, salah satunya melalui pendidikan. Namun, perguruan tinggi yang memadai masih terpusat di pulau Jawa dan Bali sehingga calon mahasiswa memutuskan merantau. Mahasiswa rantau akan lebih dituntut untuk bisa menghadapi tantangan baru terkait hal akademis maupun kehidupan sehari-hari yang jauh dari orang tua dan teman sebaya dari tempat asal. Dengan begitu, mahasiswa rantau membutuhkan resiliensi yang tinggi untuk beradaptasi. Dalam praktik pekerjaan sosial, konsep yang berkaitan dengan resiliensi, yaitu strengths perspective yang menyoroti kemampuan atau kekuatan seseorang untuk mewujudkan pemberdayaan dan memperbaiki kualitas hidup dengan proses peningkatan kekuatan interpersonal. Terdapat dua sumber faktor pengaruh protektif untuk mengembangkan resiliensi, yaitu melalui konsep diri sebagai sumber daya internal dan dukungan sosial teman sebaya sebagai sumber daya eksternal. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan hasil yang beragam dari banyaknya faktor pengaruh resiliensi dengan subjek mahasiswa dalam berbagai kondisi. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh konsep diri dan dukungan sosial secara bersamaan terhadap resiliensi pada mahasiswa rantau. Dengan adanya pemahaman konsep diri yang baik dan dukungan sosial teman sebaya yang tinggi, mahasiswa rantau akan membantunya berpikir secara positif ketika mengatasi tantangan dalam beradaptasi selama merantau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknis pengumpulan data menggunakan stratified random sampling. Sampel yang didapat berjumlah 214 mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia angkatan 2020-2023 yang berasal dari luar wilayah Jabodetabek. Hasil analisis univariat diketahui sebagian besar responden memiliki tingkat resiliensi sedang sebesar 73.4% (n = 157), memiliki tingkat konsep diri sedang sebesar 66.8% (n = 143) dan merasakan dukungan sosial teman sebaya tingkat sedang sebesar 71% (n = 152). Dari hasil analisis bivariat diketahui bahwa terdapat pengaruh konsep diri terhadap resiliensi mahasiswa rantau yang signifikan (B = 0.208, Wald = 42.098, p < 0.001). Pada hasil penelitian, pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap resiliensi mahasiswa rantau tidak signifikan (p = 0.41). Hasil penelitian analisis multivariat diketahui X2(4, N = 214) = 65.836, p < 0.001 yang menunjukkan bahwa variabel konsep diri dan dukungan sosial teman sebaya secara signifikan memberikan akurasi yang lebih baik dalam memprediksi resiliensi. Pengaruh konsep diri dan dukungan sosial teman sebaya secara bersamaan menjelaskan 34% variabilitas dalam tingkat resiliensi mahasiswa rantau FISIP UI.

Every human being has the right to improve the quality of his life, one of which is through education. However, adequate tertiary institutions are still concentrated on the islands of Java and Bali, so prospective students decide to migrate. Overseas students will be more required to be able to face new challenges related to academics and daily life far from their parents and peers from their place of origin. That way, overseas students need high resilience to adapt. In social work practice, a concept related to resilience, namely a strengths perspective, highlights a person's ability or strength to realize empowerment and improve the quality of life through the process of increasing interpersonal strength. There are two sources of protective influence factors for developing resilience, namely through self-concept as an internal resource and social support from peers as an external resource. Previous research shows that there are various differences in results from the many factors influencing resilience among student subjects in various conditions. Therefore, research was conducted to see whether or not there was an influence of self-concept and social support simultaneously on resilience in overseas students. By having a good understanding of self-concept and high social support from peers, overseas students will help them think positively when overcoming challenges in adapting while abroad. This research uses a quantitative approach and descriptive research type. The data collection technique uses stratified random sampling. The sample obtained was 214 active students from the Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia class 2020-2023 who came from outside the Jabodetabek area. The results of univariate analysis showed that the majority of respondents had a moderate level of resilience of 73.4% (n = 157), had a moderate level of self-concept of 66.8% (n = 143) and felt a moderate level of peer social support of 71% (n = 152). From the results of the bivariate analysis, it is known that there is a significant influence of self-concept on the resilience of overseas students (B = 0.208, Wald = 42.098, p < 0.001). In the research results, the effect of peer social support on the resilience of overseas students was not significant (p = 0.41). The results of the multivariate analysis research showed that X2(4, N = 214) = 65.836, p < 0.001, which shows that the variables of self-concept and peer social support significantly provide better accuracy in predicting resilience. The effect of self-concept and peer social support together explains 34% of the variability in the level of resilience of FISIP UI overseas students."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zatadini Karisma Paradasa
"Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial rentan mengalami burnout saat melaksanakan praktikum selayaknya pekerja sosial yang rentan burnout terkait pekerjaannya. Beban tugas praktikum, tugas akademik, tuntutan untuk melibatkan emosi saat bekerja dengan kelompok sasaran, dan ekspektasi yang diberikan dari berbagai pihak menjadi penyebabnya. Burnout yang dialami mahasiswa mengganggu keberfungsian sosial mereka sehingga menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas dari pelaksanaan praktikum, yang pada akhirnya berdampak pada kelompok sasaran, lembaga, dan universitas. Salah satu faktor yang berkaitan dengan burnout adalah dukungan sosial yang dipersepsikan oleh mahasiswa. Namun, masih minim penelitian terkait burnout dan dukungan sosial pada mahasiswa praktikum dari jurusan sosial di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan tingkat burnout, dukungan sosial, dan hubungan dukungan sosial teman sebaya dan supervisor sekolah dengan tingkat burnout Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UI saat melaksanakan praktikum pada semester genap 2023/2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tujuan deskriptif, dengan instrumen Maslach Burnout Inventory-Human Service Survey (MBI-HSS) untuk mengukur burnout, instrumen Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) untuk mengukur dukungan sosial teman sebaya, dan instrumen Supervisory Social Support (SSS) untuk mengukur dukungan sosial supervisor sekolah. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling dari seluruh populasi mahasiswa yang sedang melaksanakan praktikum pada semester genap 2023/2024. Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner pada bulan Juni 2024 yang diisi oleh 75 responden. Data hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Kendall’s tau-b dengan bantuan SPSS. Hasil uji univariat menunjukkan bahwa 70.7% mahasiswa mengalami burnout dengan tingkatan sedang, 73.7% mahasiswa memiliki persepsi dukungan sosial teman sebaya sedang, dan 65.3% mahasiswa memiliki persepsi dukungan sosial supervisor sekolah yang sedang. Hasil uji Kendall’s tau-b menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif signifikan namun lemah pada dukungan sosial teman sebaya dan burnout (T = -.334, p < 0.05), serta pada dukungan sosial supervisor sekolah dan burnout (T = -.322, p < 0.05). Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran terkait burnout pada mahasiswa yang melaksanakan praktikum sehingga dapat menjadi acuan untuk pengembangan program intervensi level mikro, mezzo, maupun makro untuk mencegah burnout mahasiswa menjadi lebih buruk.

Social welfare students are susceptible to burnout when carrying out practicums, just like social workers who are susceptible to burnout related to their work. The burden of practical assignments, academic assignments, demands to involve emotions when working with target groups, and expectations given from various parties are the causes. Burnout experienced by students disrupts their social functioning causing a decrease in productivity and the quality of practicum implementation, ultimately impacting the target group, institutions, and universities. One of the factors related to burnout is the social support perceived by students. However, there is still minimal research related to burnout and social support among practicum students from social departments in Indonesia. Therefore, this study aims to describe the level of burnout, social support, and the relationship between social support from peers and school supervisors with the burnout level of UI Social Welfare Students when carrying out practicum in semester 2023/2024. This study uses a quantitative approach with descriptive objectives, with the Maslach Burnout Inventory-Human Service Survey (MBI-HSS) instrument to measure burnout, the Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) instrument to measure peer social support, and the Supervisory Social Support (SSS) instrument to measure school supervisors' social support. The sampling method used was total sampling from the entire population of students who are carrying out practicums in the even semester 2023/2024. Data collection was carried out by distributing questionnaires in June 2024 which were filled in by 75 respondents. The research data were explained univariately and bivariately using Kendall's tau-b test with SPSS. Univariate test results showed that 70.7% of students experienced moderate levels of burnout, 73.7% of students had moderate perceptions of peer social support, and 65.3% of students had moderate perceptions of social support from school supervisors. The results of Kendall's tau-b test show a significant but weak negative relationship between peer social support and burnout (T = -.334, p < 0.05), as well as between school supervisor social support and burnout (T = -.322, p < 0.05). This research is expected to provide an overview of burnout in students carrying out practicums so that it can become a reference for developing intervention programs at micro, mezzo, and macro levels to prevent student burnout from getting worse."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Safira Yasmin
"Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial berada pada posisi yang unik di mana pemahaman mereka tentang dinamika sosial dan dukungan psikologis sangat berperan dalam karier mereka di masa depan. Pengalaman pribadi mereka dengan pengasuhan keluarga dan interaksi teman sebaya dapat mempengaruhi tidak hanya kesejahteraan mereka sendiri, tetapi juga efektivitas mereka dalam bekerja dengan individu ataupun komunitas yang membutuhkan. Kualitas hubungan sosial dengan figur terdekat, termasuk ayah dan teman sebaya, menjadi faktor yang berkaitan erat dengan tinggi rendahnya kesejahteraan psikologis mereka. Namun, ditemukan bahwa studi terkait kesejahteraan psikologi dengan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kelekatan teman sebanya pada mahasiswa masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kelekatan teman sebaya dengan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa Program Sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Juli 2024 dan menggunakan pendekatan kuantitatif berjenis survei dengan kuesioner online sebagai instrumennya. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling dan memperoleh responden berjumlah 133 mahasiswa/i Program Sarjana Ilmu Kesejateraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, angkatan 2020-2023 dalam rentang umur 18-24 tahun yang memiliki figur ayah. Berdasarkan hasil uji korelasi Kendall’s tau-b, ditemukan adanya hubungan positif yang signifikan berkekuatan cukup antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan (0.302, p < 0.05) dan kelekatan teman sebaya (0.357, p < 0.05) dengan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kelekatan teman sebaya yang dimiliki, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis yang dimiliki individu. Identifikasi hubungan tersebut dapat memberikan kontribusi tidak hanya untuk pengetahuan akademis, tetapi juga sebagai dasar praktik profesional di bidang kesejahteraan sosial.

Social Welfare undergraduate students are in a unique position where their understanding of social dynamics and psychological support significantly influences their future careers. Their personal experiences with family upbringing and peer interactions can affect not only their own well-being but also their effectiveness in working with individuals and communities in need. The quality of social relationships with close figures, including fathers and peers, is closely related to their level of psychological well-being. However, it has been found that studies examining the psychological well-being related to father involvement in nurturing and peer attachment among college students are still limited. Therefore, this study aims to identify the relationship between father involvement in nurturing and peer attachment with the psychological well-being of Social Welfare undergraduate students at the University of Indonesia. The research was conducted from January to July 2024, using a quantitative survey approach with online questionnaire as the instrument. The sampling technique used was convenience sampling, obtaining 133 respondents from the Social Welfare undergraduate program, Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia, class of 2020-2023, aged 18-24 years who have a father figure. Based on the Kendall's tau-b correlation test, a significantly positive and moderate relationship was found between father involvement in nurturing (0.302, p < 0.05) and peer attachment (0.357, p < 0.05) with the psychological well-being of students. This indicates that the higher the level of father involvement in nurturing and peer attachment, the higher the level of psychological well-being of the individuals. Identifying this relationship can contribute not only to academic knowledge but also as a foundation for professional practice in the field of social welfare."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maureen Aviranindya Sattva Dharma
"ABSTRACT
Skripsi ini membahas distres psikologis yang dialami mahasiswa sarjana tahun pertama di UI dengan salah satu faktor prediktornya, yakni stres finansial. Partisipan dari penelitian ini merupakan mahasiswa sarjana tahun pertama di UI dengan rentang usia 16-21 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres finansial mempunyai peran yang kecil terhadap distres psikologis, dengan hanya 5,3% varians dalam distres psikologis yang dapat diprediksi oleh stres finansial. Hasil tersebut dikarenakan, mahasiswa sarjana tahun pertama UI menghadapi banyak tantangan dalam masa transisi dari SMA ke universitas, sehingga diduga terdapat variabel lain yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap distres psikologis ketimbang stres finansial.

ABSTRACT
This thesis discusses psychological distress experienced by first-year undergraduate students at UI with one of the predictor factors, namely financial stress. The participants of this study were first-year undergraduate students at UI with an age range of 16-21 years. This research is quantitative research with a correlational design. The results showed that financial stress has a small role in psychological distress, with only 5.3% of the variance in psychological distress that can be predicted by financial stress. These results are due to the fact that UI's first-year undergraduate students face many challenges in the transition from high school to university, so those other variables are suspected to have a greater influence on psychological distress than financial stress."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maureen Aviranindya Sattva Dharma
"Skripsi ini membahas distres psikologis yang dialami mahasiswa sarjana tahun pertama di UI dengan salah satu faktor prediktornya, yakni stres finansial. Partisipan dari penelitian ini merupakan mahasiswa sarjana tahun pertama di UI dengan rentang usia 16-21 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres finansial mempunyai peran yang kecil terhadap distres psikologis, dengan hanya 5,3% varians dalam distres psikologis yang dapat diprediksi oleh stres finansial. Hasil tersebut dikarenakan, mahasiswa sarjana tahun pertama UI menghadapi banyak tantangan dalam masa transisi dari SMA ke universitas, sehingga diduga terdapat variabel lain yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap distres psikologis ketimbang stres finansial.

This thesis discusses psychological distress experienced by first-year undergraduate students at UI with one of the predictor factors, namely financial stress. The participants of this study were first-year undergraduate students at UI with an age range of 16-21 years. This research is quantitative research with a correlational design. The results showed that financial stress has a small role in psychological distress, with only 5.3% of the variance in psychological distress that can be predicted by financial stress. These results are due to the fact that UIs first-year undergraduate students face many challenges in the transition from high school to university, so those other variables are suspected to have a greater influence on psychological distress than financial stress."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinda Ranti Sukma
"Mahasiswa sebagai individu mengalami masa peralihan dari remaja menuju dewasa awal dikenal dengan tahapan emerging adulthood ditandai dengan lebih banyak bereksperimen dan bereksplorasi. Masa peralihan ini dapat menyebabkan stres dan tekanan pada mahasiswa yang bersumber dari faktor internal dan eksternal sehingga menyebabkan mahasiswa kesulitan. Berbagai kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dapat mempengaruhi kesejahteraan dirinya termasuk menjadi pemicu munculnya ide bunuh diri. Maka dari itu, pentingnya memiliki dasar emosional yang baik yang dapat dibentuk oleh kelekatan dengan orang tua. Meskipun mahasiswa cenderung banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan memiliki interaksi dengan teman sebaya serta media sosial semakin dominan, namun kelekatan orang tua merupakan dasar utama yang dapat memberikan rasa aman pada seseorang. Seseorang dengan kelekatan aman dengan orang tua cenderung memiliki mekanisme koping dan mampu beradaptasi dengan baik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini membahas mengenai hubungan kelekatan orang tua dengan ide bunuh diri pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan pada 306 mahasiswa FISIP Universitas Indonesia angkatan 2020–2023 dengan menggunakan accidental sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat ide bunuh diri pada Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia angkatan 2020–2023; (2) mengetahui tingkat kelekatan orang tua pada Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia angkatan 2020–2023; dan (3) mengetahui hubungan antara kedua variabel yaitu kelekatan orang tua dan ide bunuh diri. Penelitian ini menggunakan instrumen IPPA (Inventory Parent and Peer Attachment) pada variabel kelekatan orang tua dan DSI-SS (Depressive Symptom Index-Suicidality Scale) pada variabel ide bunuh diri. Untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel, digunakan uji korelasi menggunakan Kendall’s tau-b. Setelah melakukan analisis data, ide bunuh diri pada Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia angkatan 2020–2023 berada pada kategori ide bunuh diri rendah sebesar 80,4% (n=246). Sedangkan, pada variabel kelekatan orang tua, responden memiliki tingkat kelekatan orang tua sebagian besar berada pada kelekatan orang tua pada kategori sedang sebesar 69% (n=211). Berdasarkan uji bivariat yang dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima artinya bahwa terdapat hubungan antara kelekatan orang tua dengan ide bunuh diri pada mahasiswa FISIP Universitas Indonesia angkatan 2020–2023. Kedua variabel menunjukkan korelasi cukup dengan arah korelasi negatif (-0,328) artinya bahwa semakin meningkatnya kelekatan orang tua maka risiko ide bunuh diri pada mahasiswa akan menurun, begitupun sebaliknya ketika kelekatan orang tua menurun maka risiko ide bunuh diri akan meningkat.

College students as individuals experience a transition period from adolescence to early adulthood, known as the emerging adulthood stage, characterized by more experimentation and exploration. This transition period can cause stress and pressure on college students which originates from internal and external factors, causing college students to have difficulties. Various difficulties faced by college students can affect their well-being, including triggering suicidal ideation. Therefore, it is important to have a good emotional foundation that can be formed by attachment to parents. Even though college students tend to spend a lot of time outside the home and have increasingly dominant interactions with peers and social media, parental attachment is the main basis that can provide a person with a sense of security. Someone with a secure attachment to their parents tends to have coping mechanisms and can adapt well. Based on this, this research discusses the relationship between parental attachment and suicidal ideation in students. This quantitative research was conducted on 306 FISIP students at the University of Indonesia class 2020–2023 using accidental sampling. The aims of this research are (1) to determine the level of suicidal ideation among FISIP University of Indonesia students class 2020–2023; (2) to determine the level of parental attachment to the University of Indonesia FISIP students, class 2020–2023; and (3) knowing the relationship between the two variables, namely parental attachment and suicidal ideation. This study used the IPPA (Parent and Peer Attachment Inventory) instrument on the parental attachment variable and the DSI-SS (Depressive Symptom Index-Suicidality Scale) on the suicidal ideation variable. To determine the relationship between the two variables, a correlation test using Kendall's tau-b was used. After analyzing the data, suicidal ideation among FISIP University of Indonesia students in the class of 2020–2023 was in the low suicidal ideation category at 80.4% (n=246). Meanwhile, in the parental attachment variable, respondents whose level of parental attachment was mostly in the medium category were 69% (n=211). Based on the bivariate test carried out in this study, it can be concluded that H0 is rejected and Ha is accepted, meaning that there is a relationship between parental attachment and suicidal ideation among FISIP University of Indonesia students class of 2020–2023. The two variables show a sufficient correlation with a negative correlation direction (-0.328), meaning that as parental attachment increases, the risk of suicidal ideation in college students will decrease, and vice versa, when parental attachment decreases, the risk of suicidal ideation will increase."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adhelia Anjani
"Salah satu permasalahan yang tengah dihadapi negara ini adalah memudarnya semangat nasionalisme dikalangan anak muda. Hal ini ditandai dengan kurang menghayatinya anak muda terhadap simbol-simbol kebangsaan seperti lagu kebangsaan, upacara nasional, dan menganggap budaya luar negeri lebih menarik. Berdasarkan studi-studi sebelumnya bahwa memudarnya rasa nasionalisme anak muda disebabkan oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yang dimaksud adalah arus globalisasi, paham liberal, dan maraknya produk luar negeri. Sedangkan faktor internalnya adalah desentralisasi sistem pemerintahan, keluarga yang tidak mengajarkan nasionalisme, dan sentiment primordial atau etnis. Peneliti berargumen bahwa memudarnya rasa nasionalisme anak muda disebabkan oleh adanya pergeseran makna nasionalisme pada pemuda sekarang dimana mereka tidak lagi mengandalkan sloganistik/simbolistik tetapi lebih ke tindakan substantif. Melalui wawancara mendalam serta studi dokumen dan visual, peneliti menyimpulkan bahwa memudarnya rasa nasionalisme dikarenakan pergeseran makna dari makna nasionalisme sebelumnya. Melalui konstruksi sosial yang diberikan oleh institusi pendidikan, media masaa, dan pemikiran mahasiswa itu sendiri munculah interpretasi makna sehingga menghasilkan tindakan rasional. Tindakan rasional ini dibagi menjadi dua tipe yaitu Tindakan Rasional Nilai dan Tindakan Rasional Instrumental pada arena kegiatan organisasi, volunteer, dan komunitas sebagai pemahamannya terhadap makna nasionalisme di era sekarang. Sehingga membentuk identitas nasional baru melalui nilai-nilai yang anut berdasarkan historis sejarah, pemikiran anak muda yang kritis, dan kegiatan mahasiswa yang bersifat nasionalis, sukarelawan, atau base on profit.

One of the problems facing this country is the waning spirit of nationalism among young people. This is marked by the lack of respect for young people against national symbols such as national anthems, national ceremonies, and consider foreign culture more interesting. Based on previous studies that the waning sense of nationalism of young people is caused by external factors and internal factors. The external factors in question are the current of globalization, liberalism, and the rise of foreign products. Whereas internal factors are decentralized government systems, families that dont teach nationalism, and primordial or ethnic sentiments. Researchers argue that the waning sense of nationalism of young people is caused by a shift in the meaning of nationalism in today's youth where they no longer rely on sloganistic / symbolistic but rather on substantive actions. Through in-depth interviews and document and visual studies, the researcher concluded that the fading sense of nationalism was due to a shift in meaning from the meaning of previous nationalism. Through social construction given by educational institutions, mass media, and students thinking it self, interpretations of meaning emerge to produce rational actions. These rational actions are divided into two types namely Rational Value Actions and Instrumental Rational Actions in the arena of organizational, volunteer and community activities as their understanding of the meaning of nationalism in the current era. Thus forming a new national identity through profound values based on historical history, critical thinking of young people, and student activities that are nationalist, volunteering, or base on profit."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Priatama
"Studi ini mengkaji pembentukan jaringan sosial yang terjadi pada institusi pendidikan tinggi atau universitas. Studi sebelumnya membahas mengenai jaringan sosial yang didapatkan oleh anggota institusi pendidikan melalui dua aspek, yaitu aspek sekolah, dan kampus sebagai institusi, dan aspek inisiatif anggota institusi itu sendiri. Selain kedua aspek tersebut, peneliti berargumen bahwa jaringan sosial bisa didapatkan melalui hubungan antara teman sepermainan (peer group) di kampus. Dengan kata lain, jika seseorang berteman dengan kelompok peer group yang memiliki jaringan sosial yang lebih luas, maka orang tersebut akan mengalami perluasan jaringan sosial dari peer groupnya. Jaringan yang didapat melalui kelompok teman sepermainan kemudian membentuk dua jaringan yang berbeda: jaringan internal kampus, dan jaringan eskternal ke luar kampus.
Studi ini melihat perkembangan jaringan sosial mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam pada studi kasus di Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial juga dapat dibentuk atau diperluas melalui peran dari peer group atau kelompok teman sebaya. Peran kelompok teman sebaya ini dapat dilihat dari 3 aspek penting yaitu interaksi antar anggota kelompok teman sebaya, interaksi anggota kelompok teman sebaya dengan orang lain yang berada di luar kelompok teman sebayanya, dan kegiatan dari masing-masing kelompok teman sebaya.

This research is studying the formation of social networks in higher educational institution or university. Previous studies tend to explain that the member of educational institution can acquire by two aspects: school, and campus as institution aspect, and member initiative itself aspect. Beside all of those two, researcher argue that social networks can be acquired from the relation of peer group in campus. In other words, if someone make friends with peer group that have wider social networks, then that person may have wider social networks from the influence of peer group. Social networks that acquired from the relation of peer group can form two different networks; campus internal networks, and campus external networks.
This research sees the development of social networks from student who studying in campus. This research uses qualitative approach with in-depht interview methods, case study in Universitas Indonesia. Findings of this research show that social networks can be formed or can be expanded from the relation of peer group. The role of peer group can be seen from three aspects; the interaction between member of the peer group, the interaction between the member and other people, and the activities of the peer group itself.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>