Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 113143 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Berly Nisa Srimayarti
"ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan salah satu dari empat Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi prioritas di dunia. Kasus diabetes di dunia terus meningkat, kebanyakan terjadi pada diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), bahwa prevalensi nasional diabetes tipe 2 di Indonesia pada usia >15 tahun, terjadi peningkatan yaitu dari 5,7% (2007), menjadi 6,9% (2013) dan terus meningkat menjadi 8,5% (2018). Sekitar 70% penyandang diabetes tipe 2 sering tidak menyadari penyakitnya, bahkan 25% baru menyadari bahwa sudah mengalami komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat perancangan prototipe Personal Health Records (PHR) dalam rangka pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan metode Systems Development Life Cycle (SDLC), melalui pendekatan Rapid Application Development (RAD) dengan teknik prototyping. Prototipe ini menyediakan informasi terkait diabetes, tersedianya menu data umum bagi pengguna, adanya data riwayat kesehatan, faktor risiko diabetes melitus tipe 2, dan rekomendasi kesehatan dalam bentuk kalimat dan video. Personal Health Record (PHR) berbasis android ini bisa menjadi salah satu tools untuk melakukan pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2, pengguna bisa mengetahui lebih dini potensi terhadap penyakit diabetes melitus tipe 2, karena output yang muncul dapat melihat pengguna termasuk berisiko atau tidak, sesuai dengan kategori yang di inputkan. Penggunaan aplikasi ini sangat mudah dipahami dan berpusat pada individu, sehingga dapat mendorong perubahan perilaku kesehatan bagi pengguna.

ABSTRACT
Diabetes mellitus is one of the four most prioritized Non-Communicable Diseases (NCD) in the world. The global diabetes prevalence increases every year, with type 2 diabetes as the highest contributor. Based Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of type 2 diabetes in Indonesia for the age group of> 15 years, had 5.7% increase in 2007, increased up to 6.9 % in 2013, and increased 8.5% in 2018. Around 70% of people with type 2 diabetes are often unaware of their illness, and 25% of them only realized once they got complications of diabetes. To design a prototype of Personal Health Records (PHR) in order to prevent and control the risk factors for type 2 diabetes mellitus. This study used the Systems Development Life Cycle (SDLC) method, using the Rapid Application Development (RAD) approach with prototyping techniques. This prototype provides information regarding diabetes, the availability of a general data menu for users, the presence of medical history data, risk factors for type 2 diabetes mellitus, and health recommendations in the form of sentences and videos. This Android-based PHR can be used as one prevention and risk factors control tool for type 2 diabetes mellitus. This tool aims to give a dependable prediction on type 2 diabetes mellitus potential occurrence in community. This application user friendly with a simple design and interface, hence it can encourage the users to change their behaviour into healthier lifestyle."
2019
T52701
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitriyani
"LATAR BELAKANG: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar. Data dari studi global menunjukkan bahwa jumlah penderita Diabetes Melitus pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang di dunia (IDF, 2011). Salah satu provinsi yang memiliki prevalensi Diabetes yang tinggi adalah Provinsi Banten. Prevalensi DM Provinsi Banten di daerah perkotaan sebesar 5,3% (mendekati angka nasional 5,7%) (Balitbangkes, 2008).
TUJUAN: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Citangkil dan Puskesmas Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon.
DISAIN: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional, yang merupakan analisis data sekunder dari data Program Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 dan Faktor Risikonya di Kota Cilegon. Data dikumpulkan tahun 2011 dan analisis dilakukan tahun 2012.
HASIL: Prevalensi DM Tipe 2 adalah sebesar 4,4%. Variabel yang terbukti memiliki hubungan dengan kejadian DM Tipe 2 adalah aktivitas fisik (p: 0,032). Orang yang aktivitas sehari-harinya ringan memiliki risiko 2,68 kali untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan orang yang aktivitas fisik sehariharinya sedang dan berat (OR: 2,68; 95% CI: 1,11-6,46).

BACKGROUND: Diabetes Mellitus is one of big health problems. Global study showed that diabetician in 2011 had reached 336 millions people (IDF, 2011). One of provinces that had high prevalence of Diabetes Mellitus is Banten Province. The prevalence of Diabetes Mellitus in Banten Province in urban areas is 5,3% (approaching the national prevalence 5,7%) (Balitbangkes, 2008).
OBJECTIVE: The objective of this research was to investigate the risk factors that have correlation with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) in Citangkil Primary Health Care and Pulo Merak Primary Health Care, Cilegon City.
DESIGN: This research was a quantitative research with cross sectional design. It used the secondary data of T2DM and Its Risk Factors Controlling Program in Cilegon City. Data was collected in 2011 and the analyzing was done in 2012.
RESULT: The Prevalence of T2DM was 4,4%. The variabel that have correlation with T2DM is physical activity (p value: 0,032). People who have low intensity in physical activity has 2,68 times probabilty to get T2DM than people who has middle and high intensity in phisycal activity (OR: 2,68; 95% CI: 1,11-6,46).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sara Sonnya Ayutthaya
"

Penyakit komorbid Diabetes Melitus (DM) yang umum dan paling sering adalah hipertensi. DM dan hipertensi terdapat secara bersamaan pada 40%-60% penderita DM tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unmodifiable factors dan modifiable factors pada penderita DM tipe 2 sebagai faktor risiko hipertensi. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 yang berobat di poli penyakit dalam RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi pada tanggal 30 September-19 Oktober 2019 dengan total sampel sebanyak 292 responden. Unmodifiable factors meliputi gender, umur, pendidikan, status perkawinan, lama menderita DM, hereditas DM, hereditas hipertensi dan golongan darah. Sedangkan modifiable factors terdiri dari indeks massa tubuh, pekerjaan, aktifitas fisik dan merokok. Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik ≥ 140 mm Hg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mm Hg. Analisis data dengan Cox regression menggunakan Stata versi 15. Persentase hipertensi pada penderita DM tipe 2 adalah 46,57%. Dari analisis multivariat faktor risiko hipertensi yang signifikan untuk unmodifiable factors adalah faktor umur > 50 tahun (Pv= 0,02; PR= 1,93) dan kelompok dengan hereditas DM yang berasal dari kakek/nenek (Pv= 0,04; PR= 1,86) dan orang tua (Pv= 0,04; PR= 1,54). Sedangkan dari modifiable factors, Indeks Massa Tubuh berat badan lebih (Pv= 0,01; PR=1,81) dan obesitas (Pv=0,02; PR=1,81), merupakan faktor risiko hipertensi yang signifikan. Disarankan agar terhadap pasien DM tipe 2 terutama bila disertai dengan berat badan berlebih atupun obesitas perlu diberikan informasi lengkap tentang faktor risiko hipertensi.


The most common Diabetes Mellitus (DM) comorbid disease is hypertension. DM and hypertension are present simultaneously in 40% -60% of people with type 2 diabetes. The purpose of this study is to know unmodifiable factors and modifiable factors of type 2 DM patients as risk factors for hypertension, The design of this study was cross sectional. The sample of study was type 2 DM patients those seeking treatment at Department of Internal Medicine-dr Chasbullah Abdulmadjid Hospital-Bekasi on September 30-October 19, 2019 with a total of 292 respondents. Unmodifiable factors include gender, age, education, marital status, duration of DM, heredity of DM, heredity of hypertension and ABO blood group. While modifiable factors consist of body mass index, occupation, physical activity and smoking. Hypertension is a state of systolic blood pressure ≥140 mm Hg and /or diastolic blood pressure ≥90 mm Hg, Data were analysed with Cox regression using Stata versi 15.The precentage of hypertension in patients with type 2 DM was 46.57%. Multivariate analysis revealed that the significant hypertension risk factors for unmodifiable factors are age > 50 years (Pv= 0,02; PR= 1,93) and DM heredity from grandfather/grandmother (Pv= 0,04; PR= 1,86) and parents (Pv= 0,04; PR= 1,54). While from modifiable factors, Body Mass Index overweight (Pv= 0,01; PR=1,81) and obesity (Pv=0,02; PR=1,81) were the significant risk factors for hypertension. It is recommended that patients of type 2 diabetes especially when accompanied by overweight or obesity need to be given complete information about risk factors for hypertension

"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dira Ayu Meigasari
"Saat ini, layanan kesehatan atau organisasi mulai bergeser ke era digital dimana pengguna diberi akses ke Electronic Personal Health Record (E-PHR). Akses informasi E-PHR memungkinkan pengguna lebih efektif dalam mengelola kesehatan, tetapi sedikit yang diketahui tentang kemampuan penggunanya untuk berhasil menggunakan E-PHR dalam mengelola kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap faktorfaktor yang memengaruhi niat pengguna dalam menggunakan layanan E-PHR. Faktor yang digunakan yaitu attitude, behavioral intention, health-care technology self efficacy, perceived ease-of-use, perceived privacy & security, perceived severity, perceived usefulness, subjective norm, dan usage behaviour. Pendekatan kuantitatif dan data diolah serta dianalisis dengan metode Covariance Based-Structural Equation Modelling (CBSEM). 553 responden dari penelitian ini merupakan masyarakat Indonesia pengguna layanan E-PHR di aplikasi mobile health seperti Halodoc, KlikDokter, Alodokter, Pakdok, SehatPedia, dan lain sebagainya minimal satu kali. Hasil pengolahan dan analisis data menunjukkan bahwa dari 14 hipotesis, terdapat 9 hipotesis yang diterima dan 5 hipotesis yang ditolak. Faktor yang memengaruhi secara langsung attitude pengguna layanan E-PHR antara lain healthcare technology self-efficacy, perceived ease-of-use, perceived privacy & security, dan subjective norm. Faktor lain yang memengaruhi secara langsung behavioral intention antara lain perceived privacy & security, perceived severity, subjective norm dan attitude pengguna dalam menggunakan layanan E-PHR untuk mengelola kesehatan.

At present, health service or organization is starting to shift to the digital age where users are given access to Electronic Personal Health Record (E-PHR). E-PHR information access allows users to manage their health, but little is known about the ability of users to successfully use E-PHR in managing health. This study aims to analyze the factors that influence user intentions to use E-PHR services. The factors used are attitude, behavioral intention, health-care technology self-efficacy, perceived ease-of-use, perceived privacy & security, perceived severity, perceived usefulness, subjective norm, and usage behavior. Quantitative approaches and data are processed and analyzed by Covariance BasedStructural Equation Modeling (CB-SEM). 553 respondents Indonesian people who use E-PHR in mobile health applications such as Halodoc, KlikDokter, Alodokter, Pakdok, SehatPedia, etc. at least once. The results of data processing and analysis show that of the 14 hypotheses, 9 hypotheses were accepted and 5 hypotheses were rejected. Factors that directly influence the attitude of users of E-PHR services include healthcare technology self-efficacy, perceived ease-of-use, perceived privacy & security, and subjective norm. Other factors that directly influence behavioral intention include perceived privacy & security, perceived severity, subjective norms and user attitude in using E-PHR services to manage their health.

"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia , 2020
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nina Nurhanif
"Latar belakang : Hasil pemeriksaan kesehatan terhadap 544 karyawan PT. X yang dilaksanakan pada tahun 2007 menemukan 18 kasus DM (5,66%). Pada PT. X diketabui pula diterapkan pola shift. Beberapa literatur menyebutkan babwa terdapat hubungan antara faktor shift dengan risiko DM. Permasalahannya apakah tingginya prevalensi DM di PT. X berhubungan dengan shift yang diterapkan pada PT. X ?. Dilakukannya penelilian ini adalah untuk mengetahui pengaruh shift terhadap risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pekerja Pabrik Baterai PT. X.
Metode penelitian : Desain penelilian yang digunakan adahah studi potong lintang. Jumlah sampel yang diambil adalah total sampel berjumlah 544 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, wawancara, pemeriksaan kadar glukosa darah TTGO dan pemeriksaan fisik, yang meliputi pengukuran tekanan darah, berat badan, dan tinggi badan. Penilaian kadar glukosa darah TTGO dilakukan sesuai prosedur pemeriksaan. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara faktor-faktor penyebab diabetes, seperti usia, jenis kelamin, masa kerja, shift, gizi, latihan jasmani, riwayat DM dalam keluarga, hipertensi, dan merokok terbadap risiko Diabetes Metitus Tipe 2. Analisis regresi logistik digunakan untuk melihat secara simultan faktor-faktor risiko dan perancu terhadap risiko DM tipe 2.
Hasil penelilian : Didapatkan responden sebanyak 366 pekerja dari total populasi 544 pekerja. Responden yang menderita DM ditemukan sebanyak 81 orang, dengan komposisi terbanyak berusia > 45 (50,6%), dengan nilai P=0,707 dan OR=1,171; lakilaki (97,5%), dengan nilai P=0,511 dan OR=0,566; masa kerja > 20 tabun (70,4%), dengan nitai P=0,694 dan OR=1,114; 72 respenden bekerja dengan shift (88,9%). dengan nilai P=0,012 dan OR = 2,704; 55 responden menderita obesitas (67,9%), dengan nilai P=0,001 dan OR = 2,384; 47 responden memiliki riwayat DM dalam keluarga (62,7%) dengan nilai P=0,000 dan OR=14,299; 40 respponden tidak melakukan latihan jasmani setidaknya l (satu) kali dalam 1 (sata) minggu (49,4%) dangan nilai P = 0,020 dan OR = 0,673; 13 responden menderita hipertensi (16,0%) dengan nilai P=0,648 dan OR=0,857; serta 28 responden perokok (34,6%) dengan nilai P=0,381 dan OR=1,264.
Kesimpulan : Prevalensi Diabetes Melitus responden pabrik baterai PT. X, Jakarta sebesar 22,1%. Prevalensi Diabetes Melitus pada responden dengan shift (8&,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan responden tanpa shift (11,1%) serla berbeda secara bermakna. Pekerja dengan shift mempunyai fisiko menderita Diabetes Melitus Tipe 2 sebesar 2,704 kali dibandingkan dengan pekerja tanpa shift. Faktor riwayat DM dalam keluarga, shift, dan gizi berhubungan bermakna terhadap risiko Diabetes Melitus Tipe 2. Sedangkan faktor-faktor lainnya seperti USIa, jenis keiamin, masa kerja dengan shift, latihan jasmani, hipertensi, dan merokok tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2.

Background : Result of medical examination of 544 employees from Battery Company "X" in 2007 found that 18 cases suffer from type 2 DM (5,66%). Company "X" applied shift work system. Many literature mentioned the correlation between shift work with the risk of type 2 DM. The question is highly prevalence of type 2 DM in company "X" related with the shift work applied? This study aims to find correlation between shift and other causative factors with the risk of Type 2 Diabetes Mellitus.
Methods : The design of study used was cross sectional study. The number of sampled was involved 544 people. The data were collected by questionnaire, interview, examination of TTGO blond glucose, and physical examination, included measuring blood pressure, body weight and height. Standard procedure of TTGO blood glucose was used. Bivariate analysis was applied to look at the causative factors such as age, sex, work with shift year, shift work, exercise, nutrition status, history of DM in family, hypertension, and smoking with the risk of type 2 DM. In line with the analysis, the regression logistic analysis was used to look out risk factors and confounding factors simultaneously with risk of type 2 DM.
Result: The number of sample involved was 366 employees. It was found that 81 people suffer from type 2 DM, with majority of respondents belonged to the age over 45 years (50.6%;P =0.707 and OR= 1.171); male respondent (97.5%;P=0.511 and OR= 0.566); work with shift over 20 years (70.4%;P= 0.694 and OR=1.114); 72 respondents work with shift (88.9%;P= 0.012 and OR=2.704); 55 respondents with obesity (67.9%;P=0.001 and OR=2.384); 47 respondents with history of DM in family (62.7%;P=0.000 and OR=14.299); 40 respondents never had exercise in a week (49.4%;P=0.020 and OR=0.673); 13 people with hypertension (16.0%;P=0.648 and OR=0.857); 28 people were smoker (34.6%; P=0.381 and OR=1.264).
Conclusion: Type 2 DM prevalence among workers of battery company "X", Jakarta was 22,1%. Prevalence of type 2 DM among shift workers (88.9%) were higher than workers without shift (11,1%). Shift workers were much more susceptible to type 2 DM than workers without shift. History of DM in family, shift work, and nutrition status had significant correlation with the risk of type 2 OM. Age, sex, work with shift, weekly exercize, hypertension, and smoking did not have significant correlation with the risk of typa 2 DM.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T21199
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Simbolon, Youvita Indamaika
"Tingkat kepatuhan diet di Indonesia rata-rata masih rendah. Diet dalam menjaga makanan seringkali menjadi kendala karena masih tergoda dengan segala makanan yang dapat memperburuk kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan diet pada penderita diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sampel yang diteliti adalah seluruh penderita diabetes melitus tipe 2 dengan rentang usia 25-65 tahun yang sedang rawat jalan, sampel diambil dengan metode non-random sampling dengan teknik purposive sampling sebanyak 130 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, pengisian kuesioner, form food recall 1x24 jam dan semiquantitative food frequency questionnaire (SFFQ).
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13,8% responden yang patuh diet. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kepatuhan diet diabetes melitus tipe 2 dengan jenis kelamin (p=0,008) dan lama menderita (p=0,044). Hasil uji regresi logistik menunjukkan lama menderita merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kepatuhan diet diabetes melitus tipe 2. Penderita diabetes melitus diharapkan untuk memperhatikan pola makan yang dianjurkan dan melaksanakannya dengan baik, mampu secara aktif untuk meningkatkan pengetahuannya terkait penyakit diabetes melitus dan faktor-faktor terkait lainnya dan tetap mempertahankan pola makan yang sudah dijalankan bagi yang sudah lama menderita diabetes melitus tipe 2.

The level of dietary adherence in Indonesia is still low. Diet in maintaining food is often become an obstacles because the patient is still tempted by all food that can worsen their health. The purpose of this study is to determine the factors that associated with dietary adherence in type 2 diabetes mellitus patients. This study was using a cross-sectional design. The samples studied were all type 2 diabetes mellitus type 2 with the age range 25-65 years was outpatient, samples were taken with non-random sampling method with purposive sampling of 130 people. Data were collected through anthropometric measurements, filling-out questionnaires, 1x24 hour food recall and dan (semiquantitative food frequency questionnaire) SFFQ form.
The results showed 13.8% of respondents were diet-compliant. There were significant relationship between gender (p=0.008) and length of suffering (p=0.044) with between dietary adherence. The result of logistic regression test showed that the duration of suffering is the dominant factor associated with dietary adherence in type 2 diabetes mellitus patients. Type 2 diabetes mellitus patients were expected to pay attention to the diet recommended and carry it out well, to actively to improve the knowledge related to the disease diabetes mellitus and related to the other factors and still preserve diet that has been run for who has long been suffering from type 2 diabetes mellitus.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52016
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Fazlines
"Latar belakang : Peningkatan prevalensi penyakit arteri perifer (PAP) sejalan dengan peningkatan prevalensi diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Strategi pencegahan komplikasi salah satunya berfokus pada pengendalian faktor risiko dan deteksi dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan PAP pada pasien DMT2 di tingkat layanan kesehatan primer.
Metode : Penelitian potong lintang ini melibatkan populasi DMT2 berusia 20-65 tahun yang berobat di sepuluh Puskesmas DKI Jakarta pada bulan Agustus 2020 – Juni 2021. Pasien yang dapat dilakukan pemeriksaan ABI dengan menggunakan USG doppler handheld pada salah satu atau kedua tungkai, dengan atau tanpa riwayat PAP sebelumnya, akan dimasukkan sebagai subjek penelitian dan dilakukan pencatatan data dasar usia, jenis kelamin, durasi penyakit diabetes, tekanan darah, kadar kolesterol total, K-HDL, K-LDL dan trigliserida serta riwayat merokok, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Dianggap PAP bila nilai ABI £0,9 atau >1,3 pada masing-masing tungkai.
Hasil : Dari 188 pasien DMT2 yang memenuhi kriteria inklusi, sebanyak 27 (14,4%) pasien mengalami komplikasi PAP dan 24 pasien diantaranya adalah perempuan. Proporsi masing-masing untuk PAP ringan, sedang dan berat adalah 56%, 18% dan 26%. Analisis bivariat menunjukkan perempuan 3-4 kali lebih berisiko mendapatkan PAP (IK 95% 1,099-13,253, p=0,024), sementara usia, durasi diabetes, dislipidemia, hipertensi, obesitas, obesitas sentral dan merokok tidak dijumpai adanya perbedaan signifikan. Namun, setelah disesuaikan dengan durasi diabetes dan merokok pada analisis regresi logistik, jenis kelamin perempuan menunjukkan hasil tidak signifikan.
Simpulan : Tidak dijumpai adanya hubungan bermakna antara usia ≥50 tahun, jenis kelamin perempuan, durasi diabetes ≥10 tahun, hipertensi, dislipidemia, kebiasaan merokok, obesitas dan obesitas sentral terhadap PAP pada pasien DMT2.

Background: The increasing prevalence of peripheral arterial disease (PAD) is in line with that of type 2 diabetes mellitus (T2DM). To prevent diabetes complications needs focuses on controlling risk factors and early detection. The aims of the study were to determine the prevalence and predictors of PAD in diabetic patients at the primary care setting.
Method: A cross sectional study of 188 diabetic patients aged 20-65 years old who attended ten community health centers in Jakarta from August 2020 until June 2021. Patients were performed for ABI using handheld doppler ultrasound on one or both limbs, with or without a previous history of PAD, were included. Baseline data such as age, gender, duration of diabetes, blood pressure, total cholesterol levels, c-HDL levels, c-LDL levels, triglyceride levels, smoking history, weight, height, body mass index and waist circumference were recorded. PAD was defined as the ABI value £0.9 or >1.3 in each limb.
Result: Of the 188 T2DM patients who met the inclusion criteria, 27 (14.4%) patients experienced PAD and 24 of them were female. The proportions for mild, moderate and severe PAD were 56%, 18% and 26%, respectively. Bivariate analysis showed that female were 3-4 times at risk of PAP (95% CI 1.099-13.253, p=0.024), while there were no significant differences in age, duration of diabetes, dyslipidemia, hypertension, obesity, central obesity and smoking. However, after adjusting for duration of diabetes and smoking in logistic regression analysis, female had no statistically significant.
Conclusion: No significant relationship was found among age, gender, duration of diabetes, dyslipidemia, hypertension, obesity, central obesity, smoking and PAP in T2DM.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sidabutar, Triulan Agustina
"Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa yang akan datang. Tidak hanya kelompok lanjut usia yang terkena diabetes melitus tipe 2 tetapi juga kelompok dewasa muda seperti mahasiswa. Mahasiswa cenderung memiliki gaya hidup yang tidak sehat sehingga berisiko terkena diabetes melitus tipe 2.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa tentang faktor risiko, tanda dan gejala diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif sederhana. Pengambilan sampel menggunakan purpose sampling pada 106 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner berisi data demografi dan 40 pertanyaan.
Hasil yang diperoleh berupa mahasiswa memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang faktor risiko, tanda dan gejala diabetes melitus tipe 2. Promosi kesehatan berupa pemberian pengetahuan kepada mahasiswa tentang diabetes mellitus tipe 2 diupayakan segara untuk mencegah dan mengontrol perkembangan diabetes mellitus tipe 2.

Type 2 diabetes mellitus is a non-communicable disease that will be increased for a few years later. Not only elderly can be attached by type 2 diabetes mellitus but also young people like student at university. Students tended to have unhealthy life style that were risky to be attached by type 2 diabetes mellitus.
The main aim of this research was to identify the knowledge of State Polytechnic of Jakarta about risk factor, sign and symptom type 2 diabetes mellitus. This study used simple descriptive design. The sample was collected using purpose sampling towards 106 student of State Polytechnic of Jakarta. The instrument that used was questionnaire containing demography data and 40 questions.
This research result that students have poorly knowledge about risk factor, sign and symptom type diabetes mellitus. Promotion health in giving knowledge about type 2 diabetes mellitus is needed soon to prevent and control type 2 diabetes mellitus.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S43626
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Shirly Elisa Tedjasaputra
"Latar Belakang. Kalsifikasi vaskular yang ditandai dengan penebalan tunika intima-media (TIM) karotis pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan faktor prediktor terhadap kejadian serebro-kardiovaskular. Osteoprotegerin (OPG) merupakan petanda disfungsi endotel yang dapat digunakan sebagai prediktor terhadap penebalan TIM karotis.
Penggunaan ultrasonografi (USG) karotis untuk menilai ketebalan TIM karotis masih terbatas di Indonesia sehingga diperlukan metode diagnostik lain yang lebih cost effective. Tujuan. Menentukan faktor-faktor determinan yang bermakna dan nilai tambah diagnostik
pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2. Metodologi. Studi potong lintang dilakukan di poliklinik Metabolik Endokrin dan poliklinik spesialis Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan April-Juni 2012 pada pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi serebro-kardiovaskular, tanpa komplikasi penyakit ginjal kronik (PGK) stadium III – V dan tidak merokok. Pada penelitian ini dilakukan analisis bivariat dan multivariat pada variabel lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia, HbA1c dan OPG, kemudian ditentukan nilai tambah pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2. Hasil dan Pembahasan. Dari 70 subyek penelitian, didapatkan jumlah subyek dengan peningkatan OPG dan penebalan TIM karotis adalah sebesar 45,7 % dan 70 %. Dari 49 subyek dengan penebalan TIM karotis, didapatkan 61,2 % subyek dengan peningkatan OPG. Lama menderita DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hipertensi (OR 22; IK 95 % 2,3 – 207,9), dislipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) dan OPG (OR 12,9; IK 95 % 1,4 –
117,3) berhubungan secara bermakna dengan penebalan TIM karotis. Pemeriksaan OPG mempunyai spesifisitas dan nilai duga positif tinggi (90,5 % dan 84 %). Nilai tambah diagnostik OPG hanya sebesar 2,3 % dalam mendeteksi penebalan TIM karotis. Kesimpulan. Faktor-faktor determinan yang bermakna untuk mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2 adalah lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia dan OPG. Nilai tambah diagnostik dari pemeriksaan OPG adalah sebesar 2,3 % dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2

Background. Vascular calcification measured by carotid intima-media thickness
(CIMT) in type 2 diabetes mellitus (DM) patient is a predictor for cerebrocardiovascular
event. Osteoprotegerin (OPG) as a marker for endothelial dysfunction
can be used as a predictor for increased CIMT. Applicability of carotid ultrasonography
(USG) in Indonesia is still limited, therefore other diagnostic method that is more cost
effective is needed.
Objective. To determine the significant determinant factors and the diagnostic added
value of OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Methods. Cross sectional study was conducted in Metabolic Endocrine and Internal
Medicine outpatient clinic Cipto Mangunkusumo Hospital between April and June 2012
in type 2 DM patient without history of cerebro-cardiovascular event, without history of
chronic kidney disease (CKD) stage III – V and without smoking. Bivariate analysis and
multivariate analysis were performed to variables duration of DM, hypertension,
dyslipidemia, HbA1c and OPG, followed by determining the diagnostic added value of
OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient.
Results. From 70 subjects, there were 45,7 % subject with increased OPG and 70 %
subject with increased CIMT. From 49 subject with increased CIMT, 61,2 % subject had
increased OPG. Duration of DM (OR 26,9; IK 95 % 2 – 365,6), hypertension (OR 22;
IK 95 % 2,3 – 207,9), dyslipidemia (OR 85,2; IK 95 % 3,6 – 203,6) and OPG (OR 12,9;
IK 95 % 1,4 – 117,3) were correlated significantly to increased CIMT. OPG
measurement had high specificity and positive predictive value (90,5 % and 84 %).
Diagnostic added value of OPG was only as 2,3 % to detect increased CIMT in type 2
DM patient.
Conclusion. The significant determinant factors for detection of increased CIMT in
type 2 DM patient were duration of DM, hypertension, dyslipidemia and OPG. The
diagnostic added value of OPG was 2,3 % to detect increased CIMT in type 2 DM
patient.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T42723
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Martha Rosana, examiner
"Latar Belakang: Penyakit arteri perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi makrovaskular pada penyandang diabetes melitus tipe 2 (DMT2) yang menimbulkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hingga saat ini, belum ada telaah sistematis dan komprehensif mengenai faktor risiko kejadian PAP pada penyandang DMT2.
Tujuan: Mengetahui efek estimasi kumulatif dari berbagai faktor risiko kejadian penyakit arteri perifer pada penyandang diabetes melitus tipe 2.
Metode: Telaah sistematis dan mata-analisis ini disusun berdasarkan standar PRISMA.
Penelusuran literatur secara sistematis dan komprehensif dilakukan pada PubMed/MEDLINE, ProQuest, dan EMBASE, untuk mencari studi kohort dan kasus kontrol yang melaporkan faktor risiko PAP pada DMT2. Selain itu kami juga melakukan penelusuran terhadap grey literature. Risiko bias tiap studi yang diinklusi dinilai menggunakan the Newcastle-Ottawa Scale. Data dianalisis menggunakan RevMan versi 5.4 untuk mencari efek estimasi kumulatif dari tiap faktor risiko.
Hasil: Didapatkan 10 studi yang dimasukkan ke dalam telaah sistematis ini, dengan total 73.834 pasien DMT2. Semua studi memiliki kualitas baik berdasarkan Newcastle-Ottawa Scale. Hubungan yang bermakna secara statistik terhadap kejadian PAP pada DMT2 didapatkan pada kelompok dengan usia ≥ 70 tahun (OR 3.44; IK 95% 2.11, 5.62), durasi diabetes ≥ 5 tahun (OR 1.81; IK 95% 1.24, 2.64), riwayat penyakit jantung koroner (OR
1.55; IK 95% 1.30, 1.83), hipertensi (OR 1.43; IK 95% 1.10, 1.86), dan peningkatan LDL (OR 2.51; IK 95% 1.38, 4.56). Semua bukti temuan memiliki tingkat keyakinan moderate (GRADE rating)
Kesimpulan: Usia ≥ 70 tahun, durasi diabetes ≥ 5 tahun, riwayat penyakit jantung koroner, hipertensi, dan peningkatan LDL merupakan faktor risiko kejadian PAP pada DMT2

Background: Peripheral arterial disease (PAD) is one of the macrovascular complications of type 2 diabetes mellitus (T2DM), which cause serious rate of
morbidities and mortality. To date, there have not been any systematic and comprehensive review regarding the risk factors of incidence of PAD in T2DM populations.
Objective: Our study aims to analyze the pooled effect estimates of each risk factors of PAD incidence in T2DM populations. factors of PAD incidence in T2DM populations.
Methods: This systematic review and meta-analysis was conducted using the PRISMA standard. A systematic and comprehensive literature searching was conducted in
PubMed/MEDLINE, ProQuest, and EMBASE database, to obtain any cohort or casecontrol studies reporting the risk factors of PAD incidence in T2DM populations. We also
conducted searching on gray literature and hand-searching. We assessed risk of bias using
Newcastle-Ottawa Scale assessment tool. The pooled effect estimates of each risk factors was analyzed using RevMan version 5.4.
Results: Ten studies were included in this review comprising 73834 T2DM patients in total. All the studies had good quality based on Newcastle-Ottawa Scale. Significant association with the incidence of PAD in T2DM was found in the group of age ≥ 70 years
old (OR 3.44; 95% CI 2.11, 5.62), diabetes duration ≥ 5 years (OR 1.81; 95% CI 1.24, 2.64), coronary artery disease history (OR 1.55; 95% CI 1.30, 1.83), hypertension (OR
1.43; 95% CI 1.10, 1.86), and increased LDL (OR 2.51; 95% CI 1.38, 4.56). All the evidence has moderate certainty (GRADE rating).
Conclusion: Age ≥ 70 years old, diabetes duration ≥ 5 years, coronary artery disease history, hypertension dan increased LDL are significant risk factors of PAD incidence in T2DM population.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>