Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 117915 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Diashati Ramadhani Mardiasmo
"ABSTRAK
Pleural effusion occurs when abnormal pleural fluid accumulate within pleural cavity. The first step in pleural effusion evaluation is categorising pleural fluids into transudates and exudates using Light rsquo s Criteria, to determine differential diagnoses. Transudative pleural effusions occur when systemic factors influencing hydrostatic and oncotic pressures are imbalanced. Exudative pleural effusions occur due to local factors influencing increased vascular permeability. This research aims to describe profiles of pleural fluid analysed by Department of Clinical Pathology, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital RSCM and investigate their diagnostic value.Data were collected between January August 2016 consecutively. In total, 199 pleural fluids were assessed 123 exudative, 72 transudative and 4 transudative exudative transitional pleural fluids. The samples comprised of 56.3 females and 43.2 males. The age ranged from 1 month to 83 years old, averaging at 45.3 years old. Malignancy was the most frequent etiology found 35.7 , followed by Infection 22.1 . Pleural fluids were predominantly yellow 51.7 . Compared to transudates, exudates were more likely to clot, mostly tested positive for Rivalta and appeared more turbid. WBC count, protein fluid, protein ratio, LDH fluid and LDH ratio of exudates were significantly higher than transudates. Exudates exhibited significantly lower glucose fluid levels. Bacteriologically, 13 samples yielded a positive culture.Profiles of transudative and exudative pleural fluids correlated with their respective clinical conditions, reflecting different underlying mechanisms, thus verifying Light rsquo s criteria. Diagnostic values of pleural fluid analyses towards its clinical diagnosis yielded Sensitivity of 66.7 , Specificity of 67.9 , Positive Predictive Value of 90.6 and Negative Predictive Value of 27.1.

ABSTRAK
Pada Pleura Effusi terdapat akumulasi cairan pleura abnormal pada rongga pleura. Langkah pertama pada algoritme pleura effusi adalah kategorisasi cairan pleura menjadi transudat dan eksudat untuk menentukan diagnosis differensial. Cairan pleura transudat ditemukan pada etiologi sistemik dimana terdapat ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik. Cairan pleura eksudat ditemukan pada etiologi lokal dimana terdapat peningkatan permeabilitas. Cairan transudat dan eksudat dapat dibedakan menggunakan kriteria Light rsquo;s. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil analisis cairan pleura di Departemen Patologi Klinik, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo RSCM dan untuk menginvestigasi nilai diagnostik analisis cairan pleura.Penelitian ini menggunakan sampel cairan pleura dari Departemen Patologi Klinik yang dipilih antara bulan Januari-Agustus 2016 secara konsekutif. Sampel berjumlah 199; 72 transudat, 127 eksudat dan 4 peralihan transudate ke eksudat. Demografik sampel adalah 56.3 perempuan dan 43.2 laki-laki. Umur berkisar antara 1 bulan-83 tahun dan rerata 45.3 tahun. Etiologi paling sering adalah keganasan 35.7 , diikuti dengan infeksi 22.1 . Dibandingkan dengan transudat, eksudat lebih banyak terdapat bekuan, hasil Rivalta positif dan lebih keruh. Leukosit, protein cairan, protein rasio, LDH cairan dan LDH rasio lebih tinggi pada eksudat. Glukosa cairan lebih rendah pada eksudat. 13 sampel menunjukkan kultur positif.Terdapat korelasi antara profil cairan pleura transudat dan eksudat dengan diagnosis klinis, menunjukkan adanya perbedaan mekanisme dan menggambarkan efektifitas kriteria Light rsquo;s. Nilai diagnostik analisis cairan pleura berupa sensitivitas 66.7 , spesifisitas 67.9 , nilai prediksi positif 90.6 dan nilai prediksi negatif 27.1"
2016
S70381
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmalia Gusdina
"ABSTRAK
Latar Belakang. Salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) yang kompleks adalah terdapatnya satu ventrikel yang fungsional. Tatalaksana yang dilakukan untuk kelainan
ini adalah dengan operasi Fontan. Efusi pleura merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah operasi Fontan. Peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel
sistemik (TADVS) sebelum operasi diduga turut berperan dalam terjadinya efusi pleura paska operasi Fontan.
Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap populasi yang sudah dilakukan operasi Fontan dengan ekstrakardiak konduit dan fenestrasi di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) periode April 2006 sampai dengan April 2016. Durasi efusi pleura berdasarkan pada lama terpasangnya selang (drain) intrapleura
setelah operasi Fontan. Lama rawat adalah lama rawat setelah operasi Fontan. Data studi diambil dari rekam medik.
Hasil. Populasi studi penelitian sebanyak 63 pasien dengan nilai rerata TADVS adalah 9,7 mmHg dengan standar deviasi ± 2,8 mmHg. Efusi pleura terjadi pada semua pasien dengan nilai tengah 9 hari (2-54 hari), dengan 43 pasien (68,3%) yang > 7 hari. Nilai tengah lama rawat adalah 20 hari (8-58 hari). Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS dengan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,548, r = -0,077) dan lama rawat (p = 0,843, r = -0,025). Analisis bivariat menunjukkan 2 variabel yang mempunyai korelasi bermakna terhadap lama efusi pleura yaitu dominan
ventrikel kanan (p = 0,014) dan waktu CPB (p = 0,003), kemudian terdapat 5 variabel berkorelasi bermakna terhadap lama rawat yaitu waktu CPB (p = 0,023), aritmia sesudah operasi (p = 0,021), lama aritmia sesudah operasi (p = 0,009), infeksi sesudah operasi (p = 0,000), kadar albumin sesudah operasi (p = 0,005) dan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,000).
Kesimpulan. Tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS sebelum operasi Fontan dengan lama efusi pleura sesudah operasi dan lama rawat.

ABSTRACT
Background: Congenital Heart Disease (CHD) is a major congenital disease. One of the most common is a CHD that only have single functional ventricle. Management for this disease is Fontan operation. Pleural effusion is one of the most common complication after operation. Elevated systemic ventricle end diastolic pressure (SVEDP) will increase pulmonary vein pressure, pulmonary artery pressure, and pleural vein pressure consecutively that leads to pleural effusion.
Goals: To correlate between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
Methods: Cross sectional study was performed to patients who underwent Fontan operation extra cardiac conduit and fenestration at National Cardiac Centre Harapan Kita
(NCCHK) from April 2006 to April 2016. Pleural effusion duration was based on chest tube indwelling time after operation. Length of stay was days the patient hospitalized after operation. Baseline characteristic of the patients were obtained from medical records.
Results: Subjects were 63 patients who fulfilled the criteria. Mean SVEDP was 9.7 mmHg with standard deviation of ± 2.8 mmHg. Pleural effusion occurred to all subjects
ranged 2-54 days (median 9 days), in which 43 patients (68.9%) more than 7 days. Length of stay after operation ranged 8-58 days (median 20 days). Spearman correlation
test showed no correlation between SVEDP with post operative pleural effusion duration (p = 0.548, r = -0.077) and length of stay (p = 0.843, r = -0.025). Bivariate analysis showed correlation between right ventricle domination and CPB time to pleural effusion
duration with p = 0.014 and p = 0.003 respectively, whereas factors that correlate to length of stay after operation were CPB time (p = 0.023), post operative arrhythmia (p = 0.021), post operative arrhythmia duration (p = 0.009), post operative infection (p =
0.000), post operative albumin level (p = 0.005) and post operative pleural effusion duration (p = 0.000).
Conclusions: There is no correlation between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alexander Randy Angianto
"ABSTRAK
Pleural effusion is a condition when there is an accumulation of fluid in pleural space. The condition may manifest in breathing impariment by limiting lung expansion space. Pleural effusion is suffered by more than 1.5 million people per year in America. A study held ini Persahabatan Hospital between 2010-2011 found 119 cases of pleural effusion, 42,8% was malignant pleural effusion. Pleural malignancy is the most common indication for thoracocentesis, thus must be considered in massive pleural effusion (MPE). Theraphy for MPE is palliative with the goal being relief of dyspnea. Treatment option for MPA are deteminded by several factors: symptoms and performance status of the patient, the primary tumor type and its response to systematic therapy, and degree of lung re-expansion following pleural fluid removal. In this case, we will present a case of malignant pleural effusion as an illustration in searching of evidence in comparing between pleurodesis and indwelling pleural catheter in management of malignant pleural effusion. "
Jakarta: Departement of Internal Medicine. Faculty of Medicine Universitas Indonesia, 2016
616 UI-JCHEST 3:1 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lilly Pangestuti
"Efusi pleura merupakan kejadian akumulasi cairan yang berada diantara lapisan parietal dan visceral. Efusi pleura terjadi akibat akumulasi cairan dimana pembentukan cairan pleura yang lebih cepat dibandingkan proses penyerapannya. Dyspnea merupakan pengalaman subjektif pasien tentang ketidaknyamanan saat bernapas dengan kualitas pernapasan ringan, sedang dan berat. Positioning yang tepat dapat memperbaiki proses ventilasi dapat meningkatkan ekspansi paru sehingga mengurangi sesak yang dialami oleh pasien. Tujuan : studi ini untuk menganalisis intervensi keperawatan mandiri berupa pengaturan posisi semi-fowler pada pasien dengan masalah pola napas tidak efektif pada kasus efusi pleura. Metode : yang digunakan adalah studi literatur terkait pemberian posisi semi-fowler pada pasien yang memiliki masalah pernapasan. Penerapan posisi semi-fowler merupakan posisi yang direkomendasikan untuk pasien efusi pleura dengan alat ukur MRC Dyspnoea scale. Asuhan keperawatan diberikan kepada pasien kelolaan yaitu Ny. A (60 tahun) dengan Efusi Pleura dan gagal jantung. Asuhan keperawatan dilakukan selama empat hari dengan satu hari periode IGD dan ICCU serta tiga hari pada periode ICCU. Masalah keperawatan utama yang dialami pasien adalah pola nafas tidak efektif. Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan, termasuk penerapan posisi semi-fowler. Hasil : studi menunjukan pemberian posisi semifowler berdampak pada peningkatan saturasi oksigen dan penurunan frekuensi napas pada kondisi sesak dengan alat ukur MRC Dyspnoea scale. Analisis studi ini merekomendasikan pengaturan posisi semi-fowler efektif untuk diimplementasikan pada pasien dengan masalah pola napas tidak efektif.

Pleural effusion is an accumulation of fluid between the parietal and visceral layers. Pleural effusion occurs due to fluid accumulation where the formation of pleural fluid is faster than the absorption process. Dyspnea is the patient's subjective experience of discomfort when breathing with mild, moderate and severe respiratory qualities. Positioning The right one can improve the ventilation process can increase lung expansion thereby reducing shortness of breath experienced by patient. Objective : this study was to analyze the intervention Independent nursing in the form of positioning semi-fowler in patients with problems with ineffective breathing patterns in cases of pleural effusion. Method : Which used is a literature study related to position assignment semi-fowler on patients who have respiratory problems.Application of position semi-fowler is the recommended position for pleural effusion patients with measuring instruments MRC Dyspnoea scale. Nursing care given to the managed patient, namely Mrs. A (60 years old) with Pleural Effusion and heart failure. Nursing care is provided for four days with one day during the ER and ICCU period and three days during the ICCU period. The main nursing problem experienced by patients is ineffective breathing patterns. Implementation is carried out in accordance with the nursing plan, including position implementation semi-fowler. Results: studies show position assignment semi-fowler has an impact on increasing oxygen saturation and a decrease in respiratory frequency in shortness of breath with measuring instruments MRC Dyspnoea scale. The analysis of this study recommends positioning semi-fowler effective to implement in patients with breathing pattern problems effective.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Davidson, Ben, editor
"Serous (peritoneal, pleural and pericardial) effusions are a frequently encountered clinical finding in everyday medical practice and one of the most common specimen types submitted for cytological evaluation. The correct diagnosis of effusions is critical for patient management, as well as for prognostication and yet many clinicians find diagnosis and treatment of cancer cells in effusions very challenging.
Featuring multiple microscopic illustrations of all diagnostic entities and ancillary techniques (immunhistochemistry and molecular methods), this book provides a comprehensive, authoritative guide to all aspects of serous effusions, including etiology, morphology and ancillary diagnostic methods, as well as data related to therapeutic approaches and prognostication. Section one covers diagnosis for benign and malignant effusions including the etiological reasons for the accumulation of effusions that provides the reader with the full spectrum of differential diagnoses at this anatomic site. Section Two discusses biology, therapy and prognosis highlighting clinical approaches that may be of value to patients and the movement towards personalized medicine and targeted therapy."
London : Springer, 2012
e20426005
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Light, Richard W.
Philadelphia: Wolters Kluwer, 2013
616.25 LIG p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Pratiwi
"Efusi perikardial adalah kondisi yang sering ditemukan di praktik klinis. Manifestasi efusi bergantung pada penyebab dan penyakit penyerta serta dipengaruhi oleh karakteristik dan lokasi geografi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien efusi perikardial berdasarkan usia, jenis kelamin, diagnosis sitologi dan klinis. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien efusi perikardial selama 5 tahun, yaitu 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2013. Penelitian dilakukan di SMF Patologi Anatomi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sebanyak 54 kasus diambil dengan cara total sampling pada penelitian ini. Variabel data yang digunakan adalah usia, jenis kelamin, jenis diagnosis sitologi dan kondisi klinis. Hasil: Usia yang paling banyak ditemukan adalah kelompok usia 21-30 tahun. Efusi perikardial lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Kasus efusi perikardial paling banyak berdasarkan jenis diagnosis sitologinya adalah jenis peradangan non-spesifik. Kondisi klinis yang paling sering ditemukan adalah infeksi tuberkulosis.
Simpulan: Efusi perikardial paling banyak terjadi pada usia 21-30 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, tidak terdapat perbedaan distribusi yang mencolok pada kasus efusi perikardial. Berdasarkan diagnosis sitologi, efusi perikardial paling banyak didiagnosis sebagai jenis peradangan non-spesifik. Berdasarkan diagnosis klinis, efusi perikardial paling banyak ditemukan pada kondisi infeksi tuberkulosis."
Jakarta: Department of Internal Medicine. Faculty of Medicine Universitas Indonesia, 2016
616 UI-IJCHEST 3:4 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Raditya
"Pendahuluan:Penentuan jenis cairan pleura menggunakan Kriteria Light merupakan langkah awal dalam diagnosis suatu efusi pleura. Kriteria Alternatif Heffner belum banyak diteliti dan digunakan di Indonesia. Kriteria ini memiliki kelebihan dibandingkan Kriteria Light, yaitu tidak memerlukan pengambilan serum darah. Ultrasonografi (USG) toraks juga memiliki nilai diagnostik dalam penentuan jenis cairan pleura dan penggunaannya semakin rutin. Apabila Ultrasonografi dapat digunakan untuk menentukan jenis cairan pleura tentunya akan meningkatkan efisiensi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain uji diagnostik dengan sampel konsekutif sebanyak 60 orang untuk membandingkan penambahan USG Thorax pada Kriteria Alternatif Laboratorium dengan Kriteria Alternatif Laboratorium saja dalam mendiagnosis eksudat/transudat. Kriteria inklusi adalah pasien efusi pleura dengan usia lebih dari sama dengan 18 tahun dan kriteria eksklusi adalah pasien yang pernah dilakukan pungsi pada sisi yang sama sebelumnya. Penelitian dilakukan di RSCM pada Januari-Maret 2019. Pada subyek penelitian dilakukan pemeriksaan USG toraks dan pemeriksaan LDH,protein, dan kolesterol cairan pleura serta LDH dan protein cairan serum darah.
Hasil: Pada pemeriksaan cairan efusi pleura menggunakan Kriteria Alternatif Heffner didapatkan hasil Sensitivitas dan Spesifisitas sebesar 97,67 % (IK 95% 87,71-99,94) dan 94,12 % (IK 95% 71.31-99.85) . Sementara pada penambahan USG toraks pada Kriteria Alternatif didapatkan hasil Sensitivitas dan Spesifisitas sebesar 97,67 % (IK 95% 87,71-99,94) dan 88,24 % (IK 95% 63,56-98,54).
Diskusi: Kriteria Alternatif Heffner memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang baik dalam menentukan eksudat/transudate. Nilai sensitifitas dari penambahan USG tidak lebih baik dalam mendiagnosis eksudat/transudat. Hasil gambaran efusi pleura kompleks pada USG dapat bermanfaat untuk perencanaan awal kasus eksudat.
Simpulan: Penambahan USG Thorax pada Kriteria Alternatif Laboratorium menurut Heffner memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tidak lebih baik dibandingkan dengan Kriteria Alternatif saja dalam mendiagnosis eksudat/transudat sesuai Kriteria Light sebagai baku emas pada populasi penderita efusi pleura di RSCM

Introduction: Determining the Nature of Pleural Effusion using Light Criteria is the first step to find the right etiology in pleural effusion patient. The Heffner Alternative Criteria was introduced to replace Light Criteria when there are difficulties to obtain blood serum. The use of this new criteria is very few in Indonesia and there are no research in Indonesian population yet. Thorax Ultrasonography is also a routine diagnostic imaging modalities in pleural effusion. It is used to guide safe thoracocentesis. The use of ultrasonography thereby can increase efficiency.
Methods: This was a cross sectional diagnostic study, using 60 consecutive samples. The population of this study is patient in RSCM Hospital between January-March 2019. Inclusion criteria is pelural effusion patient age 18 years old or older. Patient were excluded if already puncture at the same side before. Thorax Ultrasonography was done and the LDH, Protein, Cholesterol of the pleural fluid was obtained.
Discussion: Heffner alternative criteria had a good sensitivity and specificity in diagnosing exudate/transudate. But the sensitivity of adding USG was not better in diagnosing exudate/transudate. USG could have benefits in early planning intervention for exudate.
Results:The Sensitivity and Specificity of Heffner Alternative Criteria alone were 97,67 % (CI 95% 87,71-99,94) and 94,12 % (CI 95% 71.31-99.85). The Sensitivity and Specificity of Heffner Alternative Criteria with added Thorax Ultrasonography were 97,67 % (CI 95% 87,71-99,94) dan 88,24 % (CI 95% 63,56-98,54).
Conclusions:Adding Ultrasonography to Heffner Alternative Criteria was not improving the already very good Sensitivity and Specificity of Heffner Alternative Criteria alone in determining the nature of pleural effusion."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jihan Luqmannul Khakim
"Latar belakang: Pemasangan indwelling pleural catheter (IPC) untuk efusi pleura maligna untuk mengeluarkan cairan pleura, memungkinkan paru-paru mengembang dan tercapai autopleurodesis. Di masa lalu, kami mendidik pasien untuk mendrainase kateter hanya ketika mereka merasa sesak, metode di bagian kami sekarang mendrainase kateter pleura yang ada di dalam tubuh secara terus-menerus setiap hari. Studi ini membandingkan autopleurodesis dan tingkat infeksi antara kateter pleural yang didrainase harian dan berkala.
Metode: Dilakukan penelitian kohort retrospektif. Subjek dipilih secara konsekutif di mana seluruh subjek yang telah didiagnosis EPM dan terbagi menjadi dua kelompok pasien dengan drainase harian dan drainase berkala. Subjek ditindaklanjuti selama 2 bulan, hasil utama adalah autopleurodesis. Hasil sekunder adalah durasi waktu antara pemasangan kateter pleura dan autopleurodesis serta tingkat infeksi antara dua kelompok. Uji chi-square atau fisher exact digunakan untuk analisis bivariat antara dua kelompok.
Hasil: Hasil: Antara Januari 2019 - Mei 2020 ada 56 subyek kasus kateter pleura yang menetap, 31 kasus dengan drainase berkala, 25 subjek dengan drainase harian. Autopleurodesis yang dicapai pada kelompok drainase harian secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok drainase berkala (88% vs 22,5%, p = 0,001). Durasi waktu autopleurodesis yang dicapai secara signifikan lebih singkat pada drainase harian dibandingkan dengan drainase berkala (45 hari vs 93 hari, p = 0,000). Tak satu pun dari subyek mengalami infeksi.
Simpulan : Drainase IPC harian pada EPM lebih singkat mencapai autopleurodesis daripada drainase berkala. Kekhawatiran tingkat infeksi yang lebih tinggi dalam drainase berkelanjutan dari kateter pleura yang menetap tidak terjadi dalam penelitian ini.

Background: The indwelling pleural catheter for malignant pleural effusion drains the pleural fluid, allows the lung to expand and autopleurodesis is achieved. In the past time, we educate the patient to drain the catheter only when they feel dyspnea. The trend in our institution is now draining the indwelling pleural catheter daily drainage continuously connected to the bag. This study comparing the autopleurodesis and infection rate between the daily and intermittent drainage of indwelling pleural catheter.
Method: This was a retrospective cohort study. The subjects were selected consecutively. Two group of patients with daily drainage and intermittent drainage in the past time. Subjects were followed up for 2 months, the primary outcome is autopleurodesis. The secondary outcome was time duration between indwelling pleural catheter insertion and removal and infection rate between two groups. The chi-square or fisher exact test is used for bivariate analysis between two groups.
Results: Between January 2019 - Mei 2020 there were 56 subjects of indwelling pleural catheter cases, 31 cases with intermittent drainage, 25 subjects with daily drainage. The autopleurodesis achieved in the daily drainage group was significantly higher compared to the intermittent drainage group (88% vs 22,5%, p=0,001). Time duration of autopleurodesis achieved was significantly faster in the daily drainage compared to intermittent drainage (45 days vs 93 days, p=0,000). None of the subjects had infection.
Conclusions: Continuous drainage of the indwelling pleural catheter is better than intermittent drainage in achieving the autopleurodesis. Concern of higher infection rate in the continuous drainage of indwelling pleural catheter did not happen in the study.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasneta Ismail
"ABSTRAK
Latar Belakang: Efusi pleura merupakan masalah yang sering dijumpai oleh dokter paru. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai diagnostik biopsi pleura tertutup dan pleuroskopi pada efusi pleura eksudat serta hubungan karakteristik subjek dan karakteristik penyakit dengan hasil diagnostik.Metode : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien efusi pleura eksudat yang dilakukan tindakan biopsi pleura tertutup atau pleuroskopi. Data diambil dari catatan medis pasien RSUP Persahabatan Jakarta 2013-2015.Hasil : Total 100 subjek yang dibagi menjadi 50 subjek dilakukan biopsi pleura tertutup dan 50 subjek yang dilakukan pleuroskopi. Karakteristik subjek kelompok biopsi pleura tertutup didapatkan 60 laki- laki, rerata usia 48,22 tahun, perokok 58 sedangkan pada kelompok pleuroskopi 52 perempuan, rerata usia 50,66 tahun dan 46 perokok. Nilai diagnostik biopsi pleura tertutup pada efusi pleura eksudat adalah 50 sedangkan nilai diagnostik pleuroskopi lebih tinggi yaitu 82 . Pada kelompok biopsi pleura tertutup secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara usia p=0,020 , kadar protein cairan pleura p=0,026 dan karakteristik penyakit p=0,047 terhadap hasil diagnostik.Kesimpulan : Nilai diagnostik pleuroskopi lebih tinggi dibandingkan biopsi pleura tertutup pada pasien efusi pleura eksudat. Usia, kadar protein cairan pleura dan karakteistik penyakit berhubungan dengan hasil diagnostik biopsi pleura tertutup

ABSTRACT
Background Pleural effusion is a common diagnostic dilemma for the pulmonologist. The aim is to obtain the diagnostic value of closed pleural biopsy and pleuroscopy in exudative pleural effusion and the association of subjects characteristic and the characteristic of the disease with the diagnostic yield.Method This is a cross sectional study in patients with exudative pleural effusion which performed closed pleural biopsy and pleuroscopy. Data retrieved from the medical records of Persahabatan hospital from 2013 ndash 2015.Results A total of 100 subjects were divided into 50 subjects that performed closed pleural biopsy and 50 subjects performed pleuroscopy. Characteristics of closed pleural biopsy subjects were 60 male, mean age was 48,22 years and smokers were 58 while characteristics of pleuroscopy subjects, 52 female, mean age 50,66 years and 46 smokers. Closed pleural biopsy has a diagnostic value of 50 and pleuroscopy at 82 . There was a statistically significant relationship between age p 0,020 , pleural fluid protein level and disease characteristic with diagnostic yield of closed pleural biopsy.Conclusion Pleuroscopy has higher diagnostic value than closed pleural biopsy in patients with exudative pleural effusion. Age, pleural fluid protein levels and disease characteristic are associated with diagnostic yield of closed pleural biopsy."
2016
T55657
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>