Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 68213 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Simanjuntak, Bonauli
"Tesis ini menggambarkan pola kuman pada kasus infeksi intra abdomen yang disebabkan perforasi saluran cerna atas dan bawah beserta kepekaan antibiotiknya di Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan desain deskriptif analitik. Kuman yang terdapat pada infeksi intra abdomen di tahun 2013 adalah E.coli, Stapylococcus sp dan Enterococcus, sama dengan studi sebelumnya. Sedangkan angka kepekaan kuman terhadap antibiotik terutama golongan aminoglikosida lebih rendah dari data yang sudah ada sebelumnya. Usulan penggunaan antibiotik Amikacin masih dapat diberikan untuk terapi empiris infeksi intra abdomen bersama dengan Metronidazol.

Intra Abdominal Infection (IAI) is the second most commonly identified cause of severe sepsis. This study wants to identify pattern of bacteria in intra abdominal infections due to upper and lower gastro intestinal tract perforation. This is cross sectional study with analytic descriptive. Result of this study shows that mostly bacteria in intra abdominal infections are E.coli, Stapylococcus and Enterococcus. This is similar with the previous study but with antibiotic susceptibility rate are lower especially aminoglicoside, compare to prior data. Amikacin is still recommended for empiric therapy in intra abdominal infection but combine with Metronidazole."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wardah Nafisah
"Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran kejadian masalah gastrointestinal pada mahasiswa asing di Universitas Indonesia. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang, melibatkan 64 sampel yang dipilih dengan teknik convenient sampling. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya. Analisis data univariat distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan 82,8% mahasiswa asing di Universitas Indonesia pernah mengalami masalah gastrointestinal selama berada di Indonesia. 46,3% responden menyatakan sering mengalami keluhan sakit perut, yang merupakan manifestasi umum pada berbagai jenis gangguan gastrointestinal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi berbagai faktor pola makan dan gaya hidup yang memengaruhi kejadian masalah gastrointestinal pada mahasiswa asing di Universitas Indonesia.

This study aimed to identify the description of gastrointestinal problems on foreign students in Universitas Indonesia. Descriptive study with a cross-sectional design, involving 64 samples whom were selected with convenient sampling method. A questionnaire which was modified from previous research was used.
The result showed that 82,8% foreign students of Universitas Indonesia had experienced gastrointestinal problems during in Indonesia, which indicates high prevalence. 46,3% respondents often experience abdominal discomfort which is the common manifestation of various gastrointestinal disorders. A further research is needed to explore and elaborate the related factors such as consumption pattern and lifestyle which significantly affect the gastrointestinal problems finding on foreign students in Universitas Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2016
S63148
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Annita
"Ibu dengan seksio sesarea akan menghadapi berbagai macam permasalahan kesehatan, baik masalah fisik maupun psikologis. Permasalahan fisik yang sering terjadi antara lain post operatif ileus yang menyebabkan nyeri "gas pain", distress yang memperlama hari rawat serta meningkatkan resiko infeksi. Hal ini terjadi akibat efek samping anestesi, operasi di abdomen, trauma dan stress operasi. Penelitian ini merupakan penelitian dengan design quasi experimental pretest posttest with control group yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas mengunyah penmen karet dalam meningkatkan motilitas saluran cerna (frekuensi bising usus, mual/muntah, kembung dan flatus) di RSUD Koja. Populasi adalah semua ibu yang melahirkan dengan seksio sesarea di RSUD Koja. Jumlah sampel dalam penelitian ini 75 orang yang terdiri dari 37 orang kelompok perlakuan dan 38 orang kelompok kontrol yang pengambilannya dengan cara quota sampling. Uji homogenitas responden antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol didapatkan hasil kedua kelompok homogen (p> 0,05). Analisis efektivitas mengunyah permen karet terhadap frekuensi bising usus dilakukan dengan menggunakan uji t, sedangkan mual/muntah, kembung dan flatus diukur setiap 30 menit dan dianalisis dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata frekuensi bising usus diantara kedua kelompok setelah mengunyah permen karet (p=0,00, x 0,05) Baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol tidak ditemukan kejadian mual/muntah dan kembung setelah intervensi, namun demikian pada kelompok perlakuan kejadian mual/muntah lebih cepat hilang satu jam. Mengunyah penmen karet juga memberi efek flatus lebih cepat (13,5%) dibanding dengan yang tidak mengunyah permen karet. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengunyah permen karet dapat meningkatkan motilitas saluran cerna. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk memotivasi klien post operasi untuk mengunyah permen karet sebab mengunyah permen karet efektif dalam meningkatkan motilitas saluran cema, simple, mudah ditoleransi, aman dan murah.

Women with caesarean section will face many health problems physiologically and psychologically. One of the most common physical problems is post ileuses operative such as gas pain, distress and which may causes longer durations of inpatient stay, higher rates of hospital-acquired infection. This problem occurs due to side effect of the anesthesia, abdomen surgery, trauma and the surgical stress. This study used a quasi experimental pretest posttest with control group design to identify the effectiveness of chewing gum toward gastro intestinal tract motility (frequency of bowel wheezing, nausea/vomiting, bloating and flatus) at RSUD Koja. The study included all women in labor at RSUD Koja. A total of 75 women as sample were divided into two groups; 37 women as intervention group and 38 women as control group. They were taken by quota sampling. The result shown that the characteristic between both groups is equal (p 0, 05) it's mean that the both group are homogeny. The study of effectiveness of chewing gum towards bowel sounds frequencies was analyzed by using t test. Whereas, nausea/vomiting, bloating and flatus that has been taken observation every 30 minute were analyzed by distribution frequencies. The study has shown that there are any differences in average of bowel sounds frequencies between intervention group and control group (p.1.00, cc 0.05): Nausea/vomiting and flatus did not appear in both groups after intervention. However reducing the nausea/vomiting in intervention group faster one hour than groups control. The passage of flatus in the gum chewing groups is after intervention obtained 13,5% and than it did not happen in control groups. This study proved that the intervention increase gastro intestinal tract motility. The study recommends motivate post-operation clients to chewing gum because chewed gum speeds recovery post operatif ileus by stimulating bowel motility. The chewing gum is simple, easily tolerate no complication and inexpensive easy method of stimulating intestinal motility."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
T18130
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Mulyani Harsrinuksmo
"ABSTRAK
Gastritis merupakan salah satu penyakit yang terjadi di saluran pencernaan. Beberapa penelitian mengidentifikasikan pola makan merupakan salah satu penyebab gastritis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah pola makan baik atau buruk yang akan menimbulkan risiko gastritis. Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan potong lintang (survey cross-sectional). Sampel sebanyak 98 responden diambil menggunakan tehnik purposive sampling dengan ketentuan lolos tahap skrinning dan belum pernah terdiagnosa gastritis. Hasil menyatakan ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan risiko gastritis pada mahasiswa (p=0,026; =0,05; OR=0,327). Peneliti menyarankan pemberian edukasi terkait pola makan yang tepat sebagai motivasi gaya hidup lebih sehat bagi mahasiswa agar terhindar dari penyakit gastritis

ABSTRACT
Gastritis is a disease that occurs in the gastrointestinal tract. Some studies suggest that one of the cause of gastritis is food pattern. Purpose this study will examine the relationship between student’s food pattern and risk of gastritis. Research design is descriptive correlation with cross sectional survey. Sample of 98 respondents that have not been diagnosed with gastritis based on screening test. It was taken by using puposive sampling technique. Result of test stating there is a significant relationship between food pattern and the risk of gastritis in student (p=0,026; =0,05; OR=0,327). Researcher suggesting the education program for students related to food pattern is needed to motivate and maintance student’s health out of gastritis"
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S57463
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Dwi Kurnia Robby A
"Latar belakang: Sepsis (infeksi) intra-abdomen (SIA) merupakan masalah klinik yang sampai saat ini merupakan mortalitas yang tinggi dan tantang tersendiri spesialis bedah. Dari data yang ada, insiden di Amerika Serikat pada tahun 2012 tercatat 3,5 juta penderita dengan mortalitas mencapai 60%, sedangkan di Eropa barat 30%. Timbul pertanyaan, faktor apa yang paling berperan dalam rantai perkembangan sepsis intra-abdomen. Dari informasi terkini tertuju pada biophenotype. Pada tahun 2007 istilah biophenotype diajukan oleh Human Nature Natural Health untuk menjelaskan suatu molekul yang terproyeksi dan melapisi permukaan seluruh sel yang ada di tubuh manusia. Tujuan Penelitian: Diketahuinya hubungan golongan darah tertentu dengan kejadian sepsis intra-abdomen pada pasien trauma abdomen dan infeksi gastrointestinal. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan analtik dengan desain potong lintang. Subjek yang diambil merupakan pasien yang mengalami trauma abdmen dan infeksi gastrointestinal di RSCM melalui data rekam medis. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, riwayat transfusi dengan golongan darah ABO, dan hasil kultur jaringan. Data tersebut dianalisis menggunakan SPSS dan dilakukan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara golongan darah ABO dengan kejadian sepsis.
Hasil Penelitian: Pada penelitian ini ditemukan terdapat 22 subjek (9,6%) pasien yang mengalami sepsis intra abdomen pasca operasi selama periode Januari 2014-Maret 2016. Studi ini mendapatkan hubungan yang bermakna antara pemberian transfusi (OR = 0.02; p < 0.001) dan grup diagnosis (OR = 4.7; P = 0.015) terhadap terjadinya sepsis intra abdomen. Namun demikian, tidak ditemukan hubungan yang bermakna pada usia, jenis kelamin, dan golongan darah terhadap terjadinya sepsis intra abdomen.
Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini belum dapat dibuktikan golongan darah tertentu berpotensi menyebabkan sepsis intra abdomen pada pasien dengan riwayat trauma abdomen dan infeksi gastro intestinal.

Background: Intra-abdominal sepsis is a clinical problem with high mortality and a special challenge for surgeons. Based on research about glycocalyx, we obtained information regarding the differences of biophenotype on glycocalyx. So far, the research that leads to the difference in biophenotype is only focused on the ABO blood type system. Until recently there has been no data on the relationship between sepsis (especially intra-abdominal sepsis) with blood type.
Methods: This is a descriptive and analytic research with cross sectional design in patients with abdominal trauma and gastrointestinal infections at dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital (RSCM) that fulfilled the inclusion and exclusion criteria.
Results: There were 230 subjects, who underwent post-traumatic abdominal surgery as well as gastrointestinal infections at RSCM. There were 22 subjects (incidence: 9.6%) who had postoperative intraabdominal sepsis. Most subjects who underwent surgery were aged around 41-60 years (50%), were men (56.1%), did not get transfusions (90.9%), had surgery caused by mechanical intestinal obstruction (24.8%), had blood type O (46.1%), had gastrointestinal infection (92.6%), and were living as the outcome of the procedure (96.5). There was a significant correlation (p < 0,05) between transfusion (p = 0,0001) and diagnostic group (p = 0,015) on the occurrence of intra-abdominal sepsis. In subjects receiving transfusion, the odds ratio (OR) was 0.02 and the group diagnosis OR was 4.7 at 95% confidence interval.
Conclusions: The high risk of sepsis is especially high in the gastrointestinal infection group. Similarly, amongst factors affecting sepsis, history of transfusion may increase the risk of sepsis. Results of this study could not be prove that certain blood groups potentially cause intra-abdominal sepsis in patients with a history of abdominal trauma and gastro intestinal infections.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Lianda
"Approximately 60% of patients who die due to melanoma have gastrointestinal metastases at autopsy, yet ante mortem diagnosis is uncommon. The small bowel is the most frequent intestinal site of metastasis and prognosis is very poor with a median survival after operation was 6.2 months (range: 1-42 months). Bowel metastases may appear radiologically as polypoid mucosal lesions, submucosal nodules, diffuse infiltration with thickening of the intestinal wall, or serosal implants. Bowel obstruction due into intussusceptions is common clinical presentation of gastrointestinal metastasis; other presentation include gastrointestinal bleeding, perforation and large masses.We reported a case of m eta static melanoma to small bowel, whose had hematemesis melena, abdominal pain, diarrhea and weight loss without primary cutaneus melanoma. Gastroduodenoscopy appeared normal. The ultrasonography of bowel showed a"doughnut" configuration with concentric rings of bowel wall. Left lateral decubitus abdominal radiographies showed free air appearances. Laparatorny reported three location of invaginalion (intussuception) with multiple polyposis at ileo-jejttnal segment (29 pieces of polyp) and jejunum perforation. Resection and end-to end anastomosis of the. affected segment had been performed with no serious complication after this. Miscroscopical examination of specimen showed metasiatic melanoma malignant in 3 lymph nodes. Eight weeks later patients died with distant metastases to brain."
The Indonesia Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy, 2004
IJGH-5-3-Des2004-105
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Badriul Hegar
"[

Metode Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) merupakan metode yang sedang berkembang saat ini. Metode ini adalah proses produksi yang digunakan untuk 3D print atau memperbaiki bagian logam, yang mengakibatkan metode WAAM sangat potensial dan inovatif. Skripsi ini menyajikan studi awal metode WAAM pada pengelasan dissimilar menggunakan Tungsten Inert Gas (TIG) otomatis, yang melibatkan stainless steel 316 dengan filler aluminium ER5356 , yang bertujuan untuk mencari hasil pengelasan yang terbaik dengan permukaaan yang rapih dan cacat las seminimal mungkin, dengan menggunakan polaritas AC dan DC dan arus 60 A – 170 A. Kecepatan pengelasan konstan di 3.125 cm/s dan gas pelindung menggunakan Argon dengan flowrate konstan sebesar 11 L/min. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa pengelasan menggunakan filler ER5356 hanya optimal menggunakan polaritas DC pada arus 160A. Sedangkan filler ER1100 optimal pada range arus 115A – 130A dengan menggunakan polaritas DC dan arus 75A dengan menggunakan polaritas AC. Disarankan menggunakan polaritas DC untuk kedua filler karena hasil manik lebih konsisten. Studi WAAM ini masih tahap awal, maka pengembangan yang lebih lanjut dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

 

 


Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) is a method that is currently being developed until now. This method is a production process used for 3D print or to repair metal parts, which makes the WAAM method very potential and innovative. This thesis presents a preliminary study of the WAAM method using automatic Tungsten Inert Gas (TIG) welding, involving stainless steel 316 with aluminium fillers ER5356 , which aims to find the best welding results with a clean surface and minimal defects, using both AC and DC polarity, weld current at 60 A – 170 A. The welding speed is constant at 3.125 cm/s and Argon is used as a shielding gas with a constant flowrate of 11 L/min. The results obtained show that welding using ER5356 filler is optimal only using DC polarity at 160A. While the ER1100 filler is optimal in the current range of 125A – 130A using DC polarity and 75A using AC polarity. It is recommended to use DC polarity for both fillers because the bead results are more consistent. This WAAM study is still in its early stages, so more development is needed to get perfect results

;, ]"
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia , [;2017, 2017]
612.32 BAD s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Badriul Hegar
"[

Metode Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) merupakan metode yang sedang berkembang saat ini. Metode ini adalah proses produksi yang digunakan untuk 3D print atau memperbaiki bagian logam, yang mengakibatkan metode WAAM sangat potensial dan inovatif. Skripsi ini menyajikan studi awal metode WAAM pada pengelasan dissimilar menggunakan Tungsten Inert Gas (TIG) otomatis, yang melibatkan stainless steel 316 dengan filler aluminium ER5356 , yang bertujuan untuk mencari hasil pengelasan yang terbaik dengan permukaaan yang rapih dan cacat las seminimal mungkin, dengan menggunakan polaritas AC dan DC dan arus 60 A – 170 A. Kecepatan pengelasan konstan di 3.125 cm/s dan gas pelindung menggunakan Argon dengan flowrate konstan sebesar 11 L/min. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa pengelasan menggunakan filler ER5356 hanya optimal menggunakan polaritas DC pada arus 160A. Sedangkan filler ER1100 optimal pada range arus 115A – 130A dengan menggunakan polaritas DC dan arus 75A dengan menggunakan polaritas AC. Disarankan menggunakan polaritas DC untuk kedua filler karena hasil manik lebih konsisten. Studi WAAM ini masih tahap awal, maka pengembangan yang lebih lanjut dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

 

 


Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) is a method that is currently being developed until now. This method is a production process used for 3D print or to repair metal parts, which makes the WAAM method very potential and innovative. This thesis presents a preliminary study of the WAAM method using automatic Tungsten Inert Gas (TIG) welding, involving stainless steel 316 with aluminium fillers ER5356 , which aims to find the best welding results with a clean surface and minimal defects, using both AC and DC polarity, weld current at 60 A – 170 A. The welding speed is constant at 3.125 cm/s and Argon is used as a shielding gas with a constant flowrate of 11 L/min. The results obtained show that welding using ER5356 filler is optimal only using DC polarity at 160A. While the ER1100 filler is optimal in the current range of 125A – 130A using DC polarity and 75A using AC polarity. It is recommended to use DC polarity for both fillers because the bead results are more consistent. This WAAM study is still in its early stages, so more development is needed to get perfect results

,

Penelitian ini membahas tentang gerakan perlawanan perempuan yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri melawan PT. WKS Grup Sinarmas dalam mempertahankan hak tanah ulayat masyarakat selama tahun 2017-2020. Penelitian ini menggunakan teori politik contentious dan konsep ekofeminisme. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif berperspektif feminis guna menggali motif dan pengalaman perempuan yang sifatnya personal dan kolektif terkait gerakan perlawanan perempuan melawan korporasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik contentiou terjadi akibat adanya klaim lahan ulayat dari para perempuan dan ijin konsesi dari PT.WKS Grup Sinarmas yang melahirkan sejumlah aksi kolektif Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri yang solid dan efektif, salah satunya demonstrasi dengan membuka pakaian. Penggunaan teori politik contentious relevan untuk memotret keseluruhan gerakan perlawanan Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri, sementara konsep ekofeminsime digunakan mampu menjelaskan posisi perempuan yang sejalan dengan hubungan relasi perempuan yang erat dengan lingkungan di sekitarnya.


This study discusses the women's farmer resistance movement of the Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri against PT. WKS Group Sinarmas in defending community customary land rights during 2017-2020. This study uses the theory of contentious politics and the concept of ecofeminism. The research method uses qualitative methods with a feminist perspective to explore women's personal and collective motives and experiences related to the women's resistance movement against corporations. The results showed that contentious politics occurred due to customary land claims from women and concession permits from PT. WKS Sinarmas Group created several solid and effective collective actions by the Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri, one of which was an undressing demonstration by the women farmers. The use of the theory of contentious politics is relevant for portraying the entire resistance movement of the Kelompok Tani Sungai Landai Mandiri, while the concept of ecofeminism is used to explain the position of women which is in line with women's close relationship with the environment around them.

, ]"
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia , [, , 2017]
612.32 BAD s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Latar belakang: Infeksi saluran cerna dengan manifestasi klinis berupa diare merupakan penyakit infeksi dengan kesakitan dan kematian yang tinggi terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Diare menimbulkan kematian terutama pada bayi baru lahir di bawah 1 tahun. Penanganan telah ditingkatkan secara terus menerus, namun demikian kemajuan dalam diagnosis maupun pengobatan tidak terjangkau oleh negara-negara yang sedang berkembang. Salah satu penyebab infeksi saluran cerna adalah bakteri. Oleh karenanya dengan mengetahui bakteri penyebab serta pola resistensi bakteri terhadap antibiotik dapat menunjang penatalaksanaan penyakit ini. Studi ini dilakukan untuk mengetahui berbagai jenis mikroba yang diisolasi dari saluran cerna serta pola resistensinya terhadap beberapa antibiotik.
Metode: Spesimen berupa tinja, usap dubur atau anus yang diterima oleh Laboratorium Mikrobiologi FKUI selama 2005- 2008. Isolasi, identifi kasi kepekaan dan uji antibiotik dikerjakan sesuai prosedur standar yang berlaku. Interpretasi hasil uji kepekaan menggunaan panduan NCCLS/CLSI. Data dianalisis menggunakan WHOnet versi 5.3.
Hasil: Diperoleh 28 isolat Escherichia coli patogen, 1 isolat Salmonella paratyphi A, dan 4 isolat ragi yang diisolasi dari tinja dan swab dubur penderita. Walaupun Escherichia coli patogen masih peka terhadap beberapa antibiotik, namun kepekaannya menurun terhadap amoxicillin, sulbenicillin, ticarcillin dan trimethoprim/rulfamethoxazole.
Kesimpulan: Escherichia coli patogen merupakan bakteri terbanyak yang berhasil diisolasi dari tinja/usap dubur. Bakteri ini telah menunjukkan penurunan kepekaan terhadap beberapa antibiotik yang sering digunakan untuk mengobati infeksi saluran cerna. (Med J Indones 2011; 20:105-8).

Abstract
Background: Digestive tract infection with clinical manifestation of diarrhea is an infectious disease that has the highest morbidity and mortality rate, especially in developing countries. Diarrhea causes mortality mostly in infants under one year old. Improvement in management is done continuously, but advances in diagnosis and therapy cannot be reached by developing countries. One of the etiological agents causing infection of digestive tract is bacteria. Therefore, knowledge of bacteria that cause gastrointestinal infection and their resistance patterns may support the management of this disease. The aim of this study was to examine microbes that were isolated from the digestive tract and their resistance patterns against antibiotics.
Methods: Samples (stool, rectal/anal swab) were collected from the Clinical Microbiology Laboratory, FKUI during 2005-2008. Isolation, identifi cation and sensitivity test were conducted according to standard laboratory procedures. Interpretation of sensitivity test was done according to NCCLS/CLSI guidance. Data was analyzed using WHOnet version 5.3.
Results: We found 28 isolates of pathogenic Escherichia coli, 1 isolate of S. paratyphi A and 4 isolates of yeasts. Pathogenic Escherichia coli were still sensitive against some antibiotics, but the sensitivity was reduced against amoxicillin, sulbenicillin, ticarcillin and trimethoprim/sulfamethoxazole.
Conclusion: The most predominant gastrointestinal tract infection causing microbes was pathogenic Escherichia coli. These bacteria showed decrease sensitivity against some antibiotics commonly used to treat patients with gastrointestinal tract infection. (Med J Indones 2011; 20:105-8)"
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dizayrun
"Disfungsional motilitas gastrointestinal merupakan gangguan pada sistem gastrointestinal berupa peningkatan, penurunan, tidak efektif, atau kurangnya aktivitas peristaltic pada system gastrointestinal. Kondisi ini tidak terjadi secara langsung oleh COVID-19 melainkan dampak dari kurangnya mobilisasi akibat gejala klinis yang ditimbulkan oleh COVID-19 seperti sesak dan nyeri saat bergerak. Faktor risiko lain terjadinya kondisi ini yaitu cemas, perubahan pola makan, penurunan aktivitas, dan beban psikologis meningkat. Disfungsional motilitas gastrointestinal yang tidak ditangani segera dapat menyebabkan beberapa komplikasi dan mempengaruhi proses penyembuhan. Terdapat beberapa penatalaksanaan non farmakologi dalam mengatasi masalah ini yaitu abdominal masase, diet tinggi serat, aktivitas fisik rutin, pemenuhan cairan harian, dan manual disimpaction. Tujuan dari penulisan ini untuk menganalisis asuhan keperawatan dalam mengatasi masalah disfungsional motilitas gastrointestinal pada pasien COVID-19 derajat sedang. Intervensi dilakukan selama empat hari. Hasil intervensi yang dilakukan menunjukan eliminasi fekal dapat dilakukan pada hari kedua dan keempat. Berdasarkan hasil tersebut pemberian asuhan keperawatan abdominal massage, terapi aktivitas rutin, pemenuhan cairan harian, diet tinggi serat, dan self disimpaksi dapat menjadi pilihan dalam mengatasi Disfungsional motilitas gastrointestinal pada pasien dengan covid derajat sedang.

Gastrointestinal motility dysfunction is a disorder of the gastrointestinal system in the form of increased, decreased, ineffective, or lack of peristaltic activity in the gastrointestinal system. This condition does not occur directly by COVID-19 but the impact of the lack of mobilization due to clinical symptoms caused by COVID-19 such as shortness of breath and pain when moving. Other risk factors for this condition are anxiety, changes in diet, decreased activity, and increased psychological burden. Gastrointestinal motility dysfunction that is not treated promptly can lead to several complications and affect the healing process. There are several non-pharmacological treatments to overcome this problem, namely abdominal massage, high-fiber diet, routine physical activity, daily fluid fulfillment, and manual disimpaction. The purpose of this paper is to analyze nursing care in overcoming the dysfunctional problem of gastrointestinal motility in moderate-grade COVID-19 patients. The intervention was carried out for four days. The results of the intervention showed that faecal elimination could be carried out on the second and fourth days. Based on these results, the provision of nursing care for abdominal massage, routine activity therapy, daily fluid intake, a high-fiber diet, and self-disimpaction can be options in overcoming gastrointestinal motility dysfunction in patients with moderate-grade COVID-19."
Depok: fakultas ilmu kep, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>