Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 203807 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Papayungan, Diana
"Latar Belakang : Asma adalah merupakan penyakit kronis saluran napas yang dipandang sebagai penyakit psikosomatik yang klasik, oleh karena dianggap bahwa faktor psikologis ikut berperan tidak hanya pada onset timbulnya penyakit tetapi juga dalam penentuan perjalanan penyakit. Asma dianggap juga sebagai reaksi fisik terhadap stres yang kemudian disertai dengan terjadinya perubahan-perubahan morfologik jaringan dan ditandai oleh peningkatan respon dari jalan napas terhadap berbagai stimuli (alergen dan non alergen), dan bermanifestasi sebagai penyempitan jalan napas yang menyeluruh (difus) yang dapat berubah beratnya balk secara spontan maupun dengan pengobatan. Adanya penyakit kronis seperti asma selain berdampak pada perkembangan anak juga dapat menyebabkan anak berisiko mengalarni berbagai masalah emosi, periIaku, dan sosial. Dikatakan bahwa anak asma 2.5 kali lebih banyak mengalami problem emosi dan perilaku dibanding anak yang sehat.
Metode : Menggunakan desain cross sectional dan alat ukur CBCL untuk menskrining problem emosi dan perilaku pada anak usia 6-18 tahun yang menderita asma.
Hasil : Proporsi total problem emosi dan perilaku pada anak asma sebesar 39%. Proporsi tertinggi diantara narrow syndrom adalah keluhan somatik sebesar 34% dan diatara broad syndrom yang tertinggi adalah intemalisasi sebesar 70%. Kelompok umur yang terbesar mengalami problem emosi dan perilaku adalah 6-12 tahun, laki-laki lebih tinggi dari perempuan, sedang menurut urutan anak yang tertinggi adalah anak sulung. Usia onset, yang terbanyak mengalami problem emosi dan perilaku yakni pada usia 6-10 tahun, dan diperoleh hubungan yang bermakna antara usia onset dan problem pikiran (p102 bulan(> 8,5 tahun) didapatkan hubungan yang bermakna dengan problem atensi, dan pada lama sakit > 90 bulan(> 7,5 tahun) didapatkan hubungan yang bermakna dengan perilaku delikuen.

Background
Asthma is a respiratory chronic illness regarded as classic psychosomatic illness since psychological factor entails not only in onset?s cause of illness but also in determination of illness route itself. Asthma is also considered as a physical response to stress which is followed by tissues morphologic alteration and indicated by the increase of breathing s route response to any stimulant, thus manifested as whole breathing?s route constriction which mass can change either spontaneously or by treatment.
A part from children's development chronic illness can also endanger children with the risk of emotional, behavior and social problems. It is said that asthmatic children suffer from emotional and behavior problems 2.5 limes greater than normally children.
Methods
Using cross sectional design and CRCL measurement equipment by means of emotional and behavior problems screening or asthmatic children aged 6-18 years old
Result and Discussion
Asthmatic children are emotional and behavior problems total proportion is 39 %. The highest proportion among narrow band syndrome is somatic complaint, which is as much as 34 % and the highest among broad band syndrome is internalization, which is as 70 %. The group which suffers most from emotional and behavior problems is 6-12 years of age group. Boys suffer more than girls. And firstborn suffers the most. Onset age which suffers from behavior problems the most is 6-10 years of age group. It is obtained a significant relation between onset age and mind problem (p < 0.05). There are two illness duration cut rates that have significant relation with the occurrence of emotional and behavior problems, they are >102 months (>8.5 years) illness period, from which a significant relation with attention problem obtained, and > 90 months(> 7.5 years) illness period, from which a significant relation with deliquency behavior obtained
Conclusion
Proportion of emotional and behavior problems of asthmatic children aged 6-18 years is 39 %. There is a significant relation between illness onset age and mind problem. There is a significant relation between illness period > 8.5 years and attention problem. For >7.5 years illness period, there is a significant relation with delinquency behavior.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suri Nurharjanti Harun
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizta Aulia Widyana
"Infeksi HIV dapat dikontrol oleh obat antiretroviral yang diminum seumur
hidup untuk menekan jumlah virus dengan keadaan bahwa keberhasilan
terapi dapat menentukan prognosis pasien. Salah satu aspek yang
memengaruhi keberhasilan terapi adalah kepatuhan minum obat. Pacia anak,
kepatuhan dapat dipengaruhi oleh sediaan karena berpotensi menimbulkan
keluhan seperti sulit menelan atau rasa. Penelitian ini menganalisis
hubungan antara jenis sediaan obat dengan kepatuhan minum obat pada
anak terinfeksi IllV di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta.
Data dikumpulkan dari 94 pengasuh dari 101 anak terinfeksi HIV
menggunakan kuesioner dari Center for Pharmaceutical Management yang
telah digunakan di Afrika Selatan. Sebanyak 85 anak yang mengonsumsi
tablet atau kapsul memiliki tingkat kepatuhan rendah 60% dan tinggi 40%.
Sebanyak 16 anak yang mengonsumsi puyer atau sediaan campuran
memiliki kepatuhan rendah 62,5% dan tinggi 37,5%. Analisis chi-square
dengan komponen 2x2 yaitu sediaan tablet/kapsul dan puyer/campuran serta
kepatuhan rendah dan tinggi menghaislkan p=0.851 sehingga tidak
ditemukan hubungan bermakna. HasH ini berbeda dengan peneiitian serupa
di Afrika yang menunjukkan hubungan bermakna. Sebagai kesimpulan,
pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara bentuk sediaan obat
antiretroviral dengan kepatuhan minum obat."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S70353
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aila Johanna
"Masalah psikologis pada donor ginjal pascatransplantasi berhubungan dengan waktu pemulihan dan perbaikan fungsi yang lebih lama, dan faktor psikososial dapat memengaruhi kesehatan jiwa setelah prosedur transplantasi. Penelitian ini menilai gambaran psikopatologi donor ginjal pascatransplantasi, serta beberapa faktor yang ditemukan dapat memengaruhi perkembangan psikopatologi pada donor, yaitu mekanisme koping, temperamen, dan relasi donor-resipien. Studi potong lintang dilakukan dengan pengambilan data daring pada 93 donor ginjal pascatransplantasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Uji bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara psikopatologi dengan mekanisme koping, temperamen, dan relasi donor-resipien. Masalah emosi ditemukan pada 9,7%, gejala ansietas pada 8%, dan gejala depresi pada 2% donor. Mekanisme koping denial dan substance use berhubungan dengan masalah emosi, denial dan self distraction berhubungan dengan ansietas, sedangkan venting berhubungan dengan gejala depresi. Temperamen harm avoidance berhubungan dengan masalah emosi dan gejala ansietas. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara relasi donor-resipien dengan psikopatologi. Penelitian ini menunjukkan perlunya dilakukan skrining psikopatologi pada donor ginjal pascatransplantasi. Skrining dapat menggunakan SRQ-20 untuk menilai masalah emosi, dan dapat menggunakan tambahan GAD-7 untuk menilai gejala ansietas. Identifikasi mekanisme koping dan adanya harm avoidance tinggi pada donor ginjal perlu diidentifikasi untuk merancang pendampingan psikiatri yang tepat.

Psychological problems in kidney donors are associated with longer recovery and return to daily functioning, and psychosocial factors may influence posttransplantation mental health. This study aims to provide the psychopathological profile in posttransplant kidney donors, as well as factors known to influence psychopathological development in donors: coping mechanism, temperament, and donor-recipient relationship. A cross sectional study was conducted having 93 posttransplant kidney donors in Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta completed online questionnaires. Bivariate tests assessed any associations between psychopathology and coping mechanisms, temperament, and donor-recipient relationship. This study found that emotional problems were identified in 9.7%, anxiety in 8%, and depressive symptoms in 2% donors. Denial and substance use were the coping mechanisms associated with emotional problems, denial and self distraction were associated with anxiety, while venting was associated with depressive symptoms. Harm avoidance was the temperament associated with emotional problems and anxiety. No significant association was found between donor-recipient relationship and psychopathology. This study highlighted the need for pscyhopathology screening in posttransplant kidney donors. Screening with SRQ-20 can identify any emotional problems, and employing an additional GAD-7 can further assess anxiety. Coping mechanisms and harm avoidance in kidney donors should be identified to better design psychiatric provisions."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enjeline
"Profil temperamen terdiri atas novelty seeking, harm avoidance, dan reward dependence. Individu dengan novelty seeking yang tinggi dan harm avoidance yang rendah dilaporkan lebih rentan mengalami adiksi, namun adiksi smartphone berbeda dengan adiksi zat karena smartphone digunakan dan dibutuhkan rutin oleh hampir semua orang. Kelompok usia muda, terutama mahasiswa kedokteran, merupakan kelompok dengan paparan tinggi terhadap penggunaan smartphone. Mereka juga dianggap masih terpengaruh oleh temperamen yang dimilikinya dibandingkan orang yang lebih dewasa. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui profil temperamen dan korelasinya dengan kerentanan terhadap adiksi smartphone pada mahasiswa kedokteran di Jakarta. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang pada bulan Agustus 2017 hingga Juli 2018. Pengambilan sampel ditetapkan secara probability sampling berupa systematic random sampling. Instrumen Temperament and Character Inventory (TCI) digunakan untuk menilai temperamen, dan instrumen Smartphone Addiction Scale (SAS) digunakan dalam penilaian risiko adiksi smartphone. Dari 185 sampel, mayoritas responden perempuan, usia 20 tahun, dan belum menikah. Rerata pemakaian smartphone dalam sehari adalah 7,83 jam (Simpang Baku/SB 4,03) dengan usia awal penggunaan smartphone adalah 7,62 tahun (SB 2,60). Komunikasi dan mengakses media sosial ditemukan sebagai kegiatan yang paling banyak dilakukan subyek penelitian melalui smartphone. Lebih dari 50% subyek penelitian memiliki profil temperamen harm avoidance tinggi (53%). Pada analisis regresi logistik multivariat, hanya temperamen HA tinggi yang signifikan secara statistik (OR 2,035; 95% IK 1,119 hingga 3,701), sedangkan durasi pemakaian smartphone ≥ 6 jam dan akses hiburan melalui smartphone merupakan faktor perancu. Temuan dalam penelitian ini serupa dengan penelitian lainnya, yaitu terdapat hubungan antara profil temperamen dengan risiko adiksi smartphone. Penelitian dengan keterlibatan jenis individu yang lebih beragam serta inklusi jenis adiksi lainnya perlu dilakukan sebagai studi lanjutan.

Temperament profiles consist of novelty seeking, harm avoidance, and reward dependence. An individual with high novelty seeking and low harm avoidance have been reported to be more susceptible to addiction, but smartphone addiction is different from substance addiction because smartphones are used and needed daily by almost everyone. Younger groups, especially medical students, are groups with high exposure to smartphone usage. They are also considered still affected by their temperament. Therefore, this research aimed to find out the temperament profile and its correlation with vulnerability to smartphone addiction of medical students in Jakarta. The research was conducted with cross sectional design in August 2017 until July 2018. Sampling was determined by systematic random sampling. The Temperament and Character Inventory (TCI) instrument was used to assess temperament, while the Smartphone Addiction Scale (SAS) instrument was used in smartphone addiction risk assessment. Of the 185 samples, the majority respondents were female, aged 20 years, and unmarried. The average smartphone usage in a day was 7.94 hours (Standard Deviation/ SD 3.92) with the initial age of smartphone usage was 7.58 years (SD 2.43). Most respondents used smartphone for communication and accessing social media. Over 50% of subjects had temperament profile of high harm avoidance (60%). In multivariate logistic regression analysis, only high HA temperament (OR 2.035; 95% CI 1.119 to 3.701) was statistically significant, while duration of smartphone use ≥ 6 hours and smartphone access for entertainment were considered as confounding factors. The findings in this study are similar to other studies. There is a relationship between the temperament profiles and the risk of smartphone addiction. Further research with the involvement of more diverse types of individuals and the inclusion of other types of addiction needs to be conducted."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58596
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sakina Oktavianti
"Latar belakang: Angka sensitivitas interpersonal lebih tinggi terjadi pada mahasiswa kedokteran dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya, kejadian mental distress di mahasiswa kedokteran sangat tinggi, terlebih pada mahasiswa kedokteran tingkat 3. Sementara itu, resiliensi merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi antara resiliensi dan sensitivitas interpersonal pada mahasiswa kedokteran.
Metode: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah potong lintang. Subjek merupakan 116 mahasiswa FKUI tingkat 3. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah SCL-90 bagian sensitivitas interpersonal dan CD-RISC 25 untuk menilai tingkat sensitivitas interpersonal dan resiliensi. Data resiliensi dan sensitivitas interpersonal dianalisis korelasinya dengan Uji Spearman.
Hasil: Mayoritas dari subjek yaitu sebanyak 83 mahasiswa (71,6%) merupakan mahasiswa berjenis kelamin perempuan. Sebaran dari usia subjek berkisar antara 18 hingga 22 tahun dengan median 21 tahun. Sebagian besar subjek, yaitu sebanyak 90 mahasiswa (77,6%) berasal dari daerah Jabodetabek. Latar belakang sosioekonomi dari subjek dinilai berdasarkan pendidikan terakhir Ayah serta pendapatan bulanan, yang mana sebagian besar pendidikan terakhir Ayah dari subjek yaitu S1/D4 sebanyak 49 mahasiswa (42,2%) lalu pendapatan bulanan sebagian besar berkisar >Rp15.000.000,00 sebanyak 80 mahasiswa (69,0%). Sebagian besar subjek yaitu 107 mahasiswa (92,2%) saat ini tinggal bersama dengan orang tua atau wali serta mayoritas dari subjek memeluk agama Islam, yaitu 78 mahasiswa (67,2%). Rerata nilai resiliensi subjek adalah 69,39 ± 14,11, median dari nilai sensitivitas interpersonal adalah 8 dengan nilai minimal 0 dan maksimal 32. Hasil dari uji Spearman terhadap resiliensi dan sensitivitas interpersonal menunjukkan bahwa hasil signifikan (p<0,05) serta terdapat korelasi negatif yang sedang antara resiliensi dengan sensitivitas interpersonal (r = -0,462).
Kesimpulan: Resiliensi dan sensitivitas interpersonal memiliki korelasi yang sedang dan negatif, yaitu apabila resiliensi semakin tinggi maka sensitivitas interpersonal semakin rendah.

Introduction: Number of interpersonal sensitivity in medical students is higher than common university students, mental distress occurrence is more common in medical students, especially in third-year medical students. Meanwhile, resilience is a factor that can affect mental health. This study was conducted to assess the correlation between resilience and interpersonal sensitivity among medical students.
Method: The design used in this study is cross-sectional. Subjects are 116 third-year students of FMUI. This study used interpersonal sensitivity section of SCL-90 and CD-RISC 25 questionnaire to evaluate interpersonal sensitivity and resilience. Resilience and interpersonal sensitivity data were analyzed for their correlation by Spearman’s test.
Result: The majority of the subjects are women (71,6%) with total 83 students. The age ranges from 18-22 years old with a median 21 years old. Most of the subjects, with total 90 students (77,6%) are from Jabodetabek. Meanwhile the socio-economic background of the subjects is based on their Father’s last education and income per month, with the majority is a bachelor’s degree/diploma (42,2%) with total 49 students and above >Rp15.000.000,00 (69,0%) with total 80 students. Most of the subjects (92,2%) are living with their parents or guardians and majority of the subjects are Muslim (67,2%). The mean of the subjects’ resilience is 69,39 ± 14,11, and the median of the subjects’ interpersonal sensitivity is 8 with minimum score 0 and maximum score 31. Based on Spearman’s test, resilience and interpersonal sensitivity are significantly correlated (p<0,05) and they are correlated moderately and negatively (r = -0,462).
Conclusion: Resilience and interpersonal sensitivity are correlated moderately and negatively (p<0,05) and (r<0). Therefore, the higher resilience score, the lower interpersonal sensitivity score.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bahtiar
"ABSTRAK
Depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang mempengaruhi spiritual lansia. Spiritual menjadi kebutuhan penting pada lansia dengan depresi sehingga penanganan intervensi keperawatan dengan pendekatan spiritual perlu diterapkan dalam menurunkan tingkat depresi lansia. Intervensi keperawatan SILANSIA (spiritual bagi lansia) digunakan sebagai usaha penanganan dalam menurunkan tingkat depresi lansia pada individu, keluarga dan masyarakat. Intervensi SILANSIA diimplementasikan kepada lansia depresi sebanyak 106 orang diberikan selama 30 menit per sesi sebanyak 8 sesi. Kriteria inklusi adalah: berusia 60 tahun ke atas, memiliki tingkat depresi ringan dan sedang, tidak mengalami gangguan kognitif dan pendengaran. Hasil implementasi kepada keluarga dan kelompok didapatkan rerata nilai depresi lansia adalah 4,79 sebelum intervensi menjadi 2,48 sesudah intervensi. Artinya rerata nilai depresi lansia mengalami penurunan sebanyak 2,31. Hasil uji independent t test didapatkan nilai p value <0,05. Intervensi SILANSIA (Spiritualitas lansia) berpengaruh terhadap penurunan tingkat depresi lansia di kelurahan Cisalak Pasar. Intervensi SILANSIA dapat digunakan sebagai pilihan intervensi keperawatan dan direkomendasikan agar diterapkan pada individu, kelompok dan masyarakat sebagai intervensi dalam menangani masalah depresi lansia di komunitas.

ABSTRACT
Depression is a mental health problem that affects the spiritual elderly. Spiritual is a vital need for the elderly with depression so that the handling of spiritual intervention nursing approaches needs to be applied for the decrease depression level. An effort to reduce the level of depression in the elderly used SILANSIA nursing intervention (spiritual for the elderly). SILANSIA intervention was implemented for 106 depressed older adults, and the intervention was given for 30 minutes per session as many as eight sessions. Inclusion criteria are: 60 years and over, have mild and moderate levels of depression, do not have cognitive and hearing impairment. The results of the implementation of the family and group obtained the average depression value of the elderly was 4.79 before the intervention to 2.48 after the intervention, meaning that the average depression value of the elderly decreased by 2.31. The results of the independent t-test found that the p-value <0.005 means that there is the effectiveness of the SILANSIA intervention (the elderly s spirituality) the level of depression of the elderly in the Cisalak Pasar village. The SILANSIA intervention program can be applied as a choice of nursing interventions. It would be a recommendation for an individual, group and community in dealing with elderly depression."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nisita Izzadina
"Kesadaran masyarakat dan informasi mengenai kesehatan mental telah berkembang pesat. Reaksi yang ditimbulkan setelah merasakan adanya gangguan mental itu sendiri bisa jadi kompleks, salah satunya yaitu menyalurkannya menjadi estetika yang diunggah di internet. Penelitian ini mengulas lebih jauh bagaimana praktik dan dinamika yang terjadi dalam pengekspresian konten estetika gangguan mental di media sosial. Dilakukan analisis mengenai alasan yang melatarbelakangi subjek untuk mengunggah konten estetika gangguan mental di internet, batasan bentuk konten estetika gangguan mental yang diterima oleh warganet, serta dampak dari pengunggahan konten estetika gangguan mental di media sosial sebagai bentuk ekspresi. Penelitian ini menggunakan metode etnografi digital. Observasi dilakukan pada tiga media sosial yaitu Twitter, TikTok, dan Instagram, serta dilakukan wawancara kepada tujuh narasumber yang merupakan penyintas gangguan mental yang pernah melihat konten estetika gangguan mental di media sosial, tiga di antaranya turut mengunggah konten estetika gangguan mental. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa alasan informan mengunggah konten estetika gangguan mental di media sosial yaitu untuk ekspresi diri. Praktik pengunggahan yang dilakukan oleh penyintas ini juga menunjukkan adanya agensi, serta tindakan pengunggahan konten dipengaruhi oleh perkembangan internet. Mengenai batasan, terdapat ambivalensi yang terjadi dalam pandangan terhadap penggunaan estetika dalam pengekspresian gangguan mental di media sosial. Pada praktik ini, terdapat dampak positif maupun negatif bagi warganet maupun pengunggah konten.

Nowadays, public awareness and information about mental health has grown rapidly. The reaction towards mental illness itself can be complex, one of which is channeling it into an aesthetic that is uploaded on the internet. This research attempts to understand the practices and dynamics that occur in the expression of aesthetic content of mental illness on social media. In this regard, an analysis was carried out on the reasons for uploading aesthetic content of mental illness on the internet, the limitations of the forms of aesthetic content of mental disorders that would be accepted by netizens, and the impact of uploading aesthetic content of mental illness on social media as a form of expression. This research uses digital ethnographic methods. Observations were made on three social media, namely Twitter, TikTok, and Instagram, and interviews were also conducted with seven interviewees who are survivors of mental illness who have seen aesthetic content of mental illness on social media, three of whom also uploaded aesthetic content of mental illness. From this study, it was found that the reason for informants uploading aesthetic content with mental disorders on social media was for self-expression. The practice of uploading aesthetic content also shows the existence of agency among the survivors, and the act of uploading content is influenced by the growth of the internet. Regarding boundaries, there is ambivalence that occurs in the use of aesthetics in expressing mental disorders on social media. In uploading this content, there are positive and negative impacts for netizen and the content uploaders."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mirza Hapsari Massarapa
"Latar Belakang. Frekuensi kekerasan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) cukup sering dijumpai, sehingga menimbulkan permasalahan baik saat mereka berada dalam perawatan di rumah sakit ataupun saat mereka kembali ke komunitas. Dengan adanya suatu instrumen yang dapat menilai faktor-faktor risiko terjadinya kekerasan di masa mendatang serta diberikannya manajemen risiko dan tata laksana yang adekuat dapat mengurangi timbulnya risiko perilaku kekerasan atau kebeberbahayaan, serta menimbulkan rasa aman dan nyaman baik bagi ODGJ itu sendiri, keluarga atau pelaku rawat, komunitas serta tenaga medis. Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan instrumen yang sahih dan handal dalam menilai risiko kekerasan atau keberbahayaan di masa mendatang serta rencana tata laksananya terutama pada seting klinis, yakni Historical Clinical Risk Management Scale 20 Version 3 (HCR-20V3) versi Bahasa Indonesia. Metode. Penelitian ini melibatkan 103 pasien dengan riwayat perilaku kekerasan yang datang ke Poli Jiwa Dewasa dan Unit Rawat Inap Departemen Psikiatri RSCM sejak bulan November 2018 dan berusia 18-59 tahun. Uji kesahihan yang dilakukan antara lain uji kesahihan isi dengan meminta pendapat dari 10 orang pakar di bidang Ilmu Kesehatan Jiwa, serta uji kesahihan konkuren yang membandingkan skala klinis pada instrumen HCR-20V3 versi Bahasa Indonesia dengan instrumen standar yang telah divalidasi sebelumnya yakni PANSS dan OAS. Uji keandalan konsistensi internal dilakukan dengan melihat nilai Cronbach s Alpha. Hasil. Uji kesahihan isi menunjukkan nilai content validity index for items (I-CVI) sebesar 0.97 dan nilai content validity index for scales (S-CVI) sebesar 0.80 yang menunjukkan bahwa butir-butir pada instrumen HCR-20V3 versi Bahasa Indonesia memiliki relevansi terhadap penilaian risiko kekerasan/keberbahayaan pada seseorang. Uji kesahihan konkuren menunjukkan korelasi positif dan signifikan jika dibandingkan dengan instrumen PANSS dan OAS. Nilai koefisien Cronbach s Alpha diperoleh hasil sebesar 0.758 yang menunjukkan hasil baik pada uji keandalan konsistensi internal. Simpulan. Penelitian ini menghasilkan instrumen HCR-20V3 versi Bahasa Indonesia yang sahih dan andal dalam menilai risiko perilaku kekerasan atau keberbahayaan.

Background. The frequency of violence in people with mental disorders is quite common, causing problems when they are in hospital care or when they return to the community. An instrument that can assess risk factors for future violence and provide adequate risk management can reduce the risk of violence or dangerous behavior, and create a sense of security and comfort for people with mental disorder, their families, the community and medical personnel. Aim. This research was conducted to obtain a valid and reliable instrument, namely the Indonesian version of the Historical Clinical Risk Management Scale 20 Version 3 (HCR-20V3), in assessing the risk of future violence or harm and its management, especially in clinical settings. Methods. The study involved 103 patients with a history of violent behavior who had come to the Adult Psychiatry Outpatient Unit and RSCM Department of Psychiatric Inpatient Unit since November 2018 until March 2019 and aged 18-59 years. Validity tests included the content validity test by collecting the opinions of 10 experts in the field of Mental Health, as well as concurrent validity test that compare the clinical scale of the Indonesian version of the HCR-20V3 instrument with the previously validated standard instruments, Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) and Overt Agression Scale (OAS). Reliability testing of internal consistency was done by defining the value of Cronbach s Alpha. Results. The content validity index for items (I-CVI) was 0.97 and the content validity index for scales (S-CVI) value was 0.80, indicating that the items in the Indonesian version of the HCR-20V3 instrument are relevant for asssessing risk of violent behavior. Concurrent validity test showed a positive and significant correlation when compared with PANSS and OAS instruments. The Cronbach s Alpha coefficient value was 0.758 which showed good result on the internal consistency reliability test. Conclusion. The Indonesian version of HCR-20V3 is a valid and reliable instrument for assessing risk of violent or dangerous behavior."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Faris Al Ghifari
"Penelitian ini membahas mengenai pelayanan kesehatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Buitenzorg tahun 1882-1897. Reformasi kesehatan jiwa di Eropa pada awal abad ke-19 memperkenalkan metode baru yang lebih modern dalam merawat pasien gangguan jiwa, yang dikenal dengan moral treatment (terapi moral). Reformasi serupa juga ingin diterapkan pemerintah Belanda di koloninya, Hindia-Belanda. Hal ini disebabkan karena kondisi pelayanan kesehatan jiwa di sana sangatlah buruk dan beberapa penderita gangguan jiwa ada yang membahayakan masyarakat. Kemudian pemerintah kolonial Belanda berupaya mendirikan rumah sakit jiwa pertama di Buitenzorg atau yang dikenal dengan nama Het Krankzinnigengesticht Buitenzorg pada tahun 1882. Rumah sakit tersebut menerapkan metode perawatan yang sama seperti yang sedang berkembang di Eropa. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penulis menemukan bahwa reformasi kesehatan jiwa tersebut telah menghapus stigma lama yang menyatakan gangguan jiwa tidak dapat disembuhkan karena berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Lalu para ilmuan psikiatri berlomba-lomba mencari cara menyembuhkan penderita gangguan jiwa dengan pendekatan yang lebih ilmiah. Penelitian ini mendapat kesimpulan bahwa metode perawatan psikiatri modern yang berkembang di Eropa pada abad 19, turut mempengaruhi pemulihan pasien gangguan jiwa di Hindia-Belanda.

This study discusses mental health services at the Buitenzorg Mental Hospital in 1882-1897. Mental health reforms in Europe at the beginning of the 19th century introduced a new, more modern method of treating mental patients, known as moral treatment. Similar reforms also wanted to be implemented by the Dutch government in its colony, the Dutch East Indies. This is because the condition of mental health services there is very bad and some people with mental disorders are a danger to the community. Then the Dutch colonial government attempted to establish the first mental hospital in Buitenzorg or known as Het Krankzinnigengesticht Buitenzorg in 1882. The hospital implementing the same treatment methods as those developing in Europe. This research uses historical method which consists of heuristic, critique, interpretation and historiography stages. The author finds that the psychiatry reform have removed the old stigma that mental disorders cannot be cured because they are related to things that are metaphysical in nature. Then the psychiatrist scientists are competing to find ways to cure people with mental disorders with a more scientific approach. This study concluded that modern psychiatric treatment methods that developed in Europe in the 19th century, also influenced the recovery of mental patients in the Dutch East Indies."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>