Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Regina Jansen Arsjah
2005
D1533
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kelana, Said
"ABSTRAK
Krisis nilai tukar dan perbankan yang terjadi pada 1997 berdampak sangat luas bagi perekonomian di Indoensia. Krisis ini ditandai dengan dua hal yaitu: (i) kepanikan luar biasa nasabah bank (terjadinya bank run), (ii) bank-bank mengalami kerugian yang signifikan, akibat terjadinya negatif spread yang diperoleh bank. Kedua faktor itu secara bersama-sama telah menyebabkan penutupan sejumlah bank. Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya kepanikan, adalah ketiadaan jaminan bagi dana nasabah yang tersimpan. Untuk menghindari dampak yang lebih buruk (hancurnya sistem perbankan secara keseluruhan) maka pemerintah memberlakukan blanked guarantee pada awal 1998. Namun blanked guarantee ini memiliki sisi negatif yakni moral hazard oleh perbankan. Karenanya diperlukan desain asuransi deposito yang optimal.
Tujuan penelitian ini adalah: (i) mendesain premi asuransi deposito dengan rating CAMEL dan Teori Opsi; (ii) menguji secara empiris (memvalidasi) desain asuransi deposito yang optimal dengan data perbankan di Indonesia; (iii) membuktikan dampak positif asuransi deposito pada sistem perbankan (benefit Sosial Pemerintah).
Penelitian sebelumnya menunjukkan desain asuransi optimal mestilah: (i) berdasarkan risiko, (ii) mempertimbangkan prilaku bank setelah mengikuti asuransi, (iii) diikuti oleh regulasi terutama berkenaan dengan Prompt Correction Action. Namun penentuan berapa premi asuransi yang optimal masih 'belum terjawab' baik secara teoritis maupun empiris. penelitian ini mencoba menentukan premi asuransi deposito dengan mempertimbangkan: (i) risiko; (ii) pinalti atau co-insurance, (iii) bank run atau jump-process. DIharapkan metode yang diusulkan dapat diterapkan, khususnya di Indonesia.
Berdasarkan usulan pendekatan rating CAMEL diperoleh: (i) basis premi yang lebih lebar; (ii) setiap peningkatan CAMEL secara langsung akan menurunkan premi; (iii) setiap penurunan rating CAMEL dipertimbangkan terkena pinalti. Dari (i) & (ii) diharapkan premi lebih mencerminkan risiko, dan menjadi intensif untuk memperbaiki rating. Dari (iii) diharapkan mengurangi moral hazard setelah mengikuti asuransi. Hasil implikasi simulasi dari penelitian ini adalah: (a) estimasi premi dengan CAMEL menghasilkan premi efektif sebesar 22 basis point (bp), (b) terdapat 27 data bank melakukan perilaku moral hazard dan terkena pinalti.
Berdasarkan usulan pendekatan teori opsi (dengan mempertimbangkan co-insurance) diperoleh hasil (1) estimasi premi efektif dengan teori opsi diperoleh hasil 19,67 baisis point (dengan co-insurance 10% dan suku bunga bebas risiko 10%) serta 30,91 basis point (dengan besarnya co-insurance 0% dan suku bungan bebas risiko 10%); (2) terdapat beberapa bank yang memiliki hasil outlier (>100 bp); (3) terdapat beberapa estimasi yang anomali, yakni premi bernilai negatif; (4) hasil sensistif terhadap proksi rasio (deposit/asset) namun tidak sensitif terhadap proksi volatilitas; (5) adanya co-insurance dapat menurunkan premi asuransi (diskon bagi peserta);
Berdasarkan usulan pendekatan teori opsi-proses lompatan, hasil simulasi menunjukkan estimasi premi tergantung pada banyaknya lompatan, besarnya lompatan serta varian lompatan. Estimasi premi lebih besar dibandingkan estimasi premi tanpa co-insurance. Ini berarti estimasi dengan teori-opsi proses lompatan mengeliminir diskonto premi yang dihasilkan dari co-insurance.
Dukungan program asuransi deposito terbukti dengan ditemukannya koefisien positip asuransi deposito terhadap perubahan deposito. namun fungsi benefit sosial pemerintah sangat tergantung dari Expected Cast jika bank melakukan moral hazard. Besarnya Expected-Cost ini haruslah sama atau lebih besar dari Expected Cost ini merupakan fungsi dari co-insurance."
2003
D657
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Manurung, Adler Haymans, 1961-
"Disertasi ini bertujuan untuk melihat Konsistensi Pemilihan Saham dalam Pembentukan Portofolio di BEJ oleh Manajer Investasi dikaitkan dengan Variabel Rasio Empirik Kinerja Perusahaan. Untuk menjawab tujuan tersebut, disertasi ini menggunakan data dari (i) hasil jawaban kuesioner 16 Manajer Investasi terhadap latar belakangnya, persepsinya pada rasio keuangan dan konsistensi Manajer Investasi dalam memilih saham; (ii) data rasio keuangan yang diperoleh dari BET; serta (iii) data makro dari Bank Indonesia pada periode tahun 1995 sampai dengan tahun 2000.
Markowitz (1952) menyebutkan bahwa risiko dan tingkat pengembalian saham merupakan faktor penting dalam pemilihan saham. Dalam studi ini beberapa variabel yang dimiliki saham yang dikenal dengan variabel rasio keuangan dimasukkan untuk menentukan saham masuk dalam portofolio. Variabel rasio keuangan yang diuji dengan variabel dikotomi masuknya saham dalam portofolio adalah Aset, DER, dividend yield, kapitalisasi pasar, likuiditas saham, PBV, PER, jumlah pemegang saham, tingkat pengembalian saham, ROE, ROTC, dan volatilitas. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan regressi logistik adalah variabel Aset, DER, likuiditas, kapitalisasi pasar, PBV, PER dan volatilitas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dikotomi pemilihan saham tersebut.
Hasil yang diperoleh bahwa Manajer Investasi umumnya (62,5%) tidak konsisten dalam pemilihan saham sehingga Manajer Investasi tersebut menggunakan strategi acak untuk memenuhi tingkat pengembalian protofolio yang diinginkan investor. Manajer Investasi tersebut mempunyai skala prioritas dalam memilih saham dimana saham bertumbuh (growth stocks) sebagai prioritas utama dan saham bernilai (value stocks) sebagai prioritas kedua. Dalam hubungannya dengan variabel yang dimiliki saham bersangkutan maka variabel kualitas manajemen merupakan prioritas utama dan profitabilitas sebagai prioritas kedua dalam pemilihan saham. Ditemukan pula tidak adanya hubungan antara latar belakang Manajer Investasi dengan persepsinya pada rasio keuangan.
Selanjutnya, saham-saham yang terpilih menjadi portofolio dengan menggunakan regressi logistik sebanyak 30 saham. Dengan terpilihnya 30 saham tersebut maka dibentuk 7 alternatif portofolio yaitu satu portofolio berdasarkan sama penimbang (equal weighted) untuk setiap saham (portofolio rataan) disebut dengan portofolio rataan, dan 6 portofolio berdasarkan kapitalisasi pasar dan saham bersangkutkan dengan kapitalisasi pasar pada tahun 1995, 1996, 1997, 1998, 1999 dan 2000. Dan tujuh portofolio tersebut maka portofolio rataan yang memberikan tingkat pengembalian tertinggi dibandingkan dengan enam portofolio lainnya.
Dalam studi terdahulu, tidak efisiennya BEJ (Husnan, 1991 dan 1992; Manurung, 1996a, 1997d; Hermanto, 1998; dan Jasmina, 1999) serta tidak berdistribusi normalnya tingkat pengembalian saham (Manurung 1994) maka ada faktor lain yang mempengaruhi tingkat pengembalian portofolio seperti uang beredar, nilai kurs US Dollar terhadap Rupiah (Hermanto, 1998; dan Shakowi, 1999) dan inflasi. Dalam riset ini, hasil yang diperoleh dengan menggunakan regressi nonparametrik bahwa variabel pertambahan uang beredar, kurs dollar Amerika Serikat dan inflasi mempunyai pengarah terhadap tingkat pengembalian portofolio, sedangkan variabel investor asing tidak berpengaruh terhadap tingkat pengembalian portofolio. Hasil ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Manurung (1996), Hermanto (1998), Shakowi (1999) dan Sudjono (2002).
Reksa Dana sebagai suatu portofolio yang dikelola oleh Manajer Investasi selalu diperbandingkan dengan IHSG dan LQ-45 sebagai patokan (benchmark) dari Manajer Investasi. Dalam studi ini ditemukan pula bahwa hasil yang diperoleh adalah tidak cukup signifikan untuk menolak bahwa tingkat pengembalian Reksa Dana lebih besar dan tingkat pengembalian IHSG dan LQ-45. Terbentuknya portofolio dengan 30 saham maka patokan Manajer Investasi bertambah yaitu portofolio rataan yang dibentuk sesuai uraian sebelumnya. Hasil pengujian terhadap tingkat pengembalian Reksa Dana dengan portofolio rataan bahwa tidak signifikan untuk menolak tingkat pengembalian Reksa Dana lebih tinggi dari tingkat pengembalian Portofolio rataan.
Hasil penelitian ini memberikan implikasi kepada para peneliti selanjutnya dan pengambil keputusan yaitu alokasi aset untuk portofolio yang dipegang investor sama untuk setiap saham. Pembuat kebijakan seperti Bapepam seaaiknya merubah peraturan mengenai Reksa Dana untuk diinvestasikan kepada saham tidak melebih 10% dari total assetnya. Pada sisi lain, para pengelola investasi sudah selayaknya memperhatikan variabel uang beredar, nilai kurs dan inflasi dalam membangun portofolionya.
Beberapa hasil penelitian dalam disertasi ini tidak sesuai dengan yang diharapkan seperti tidak konsistennya Manajer Investasi (dianggap sebagai wakil dari Investor) dalam memilih saham. Kemungkinan besar, hasil seperti ini disebabkan sampel yang masih berjumlah kecil hanya terbatas kepada manajer investasi. Untuk penelitian selanjutnya, sampel diperbesar dengan langsung kepada investor, mengingat bahwa dalam program investasi, pengaruh dan kebutuhan atau kepentingan investor terhadap kebijakan manajer investasi cukup relevan. Dalam penelitian ini telah diketemukan tidak konsistennya Manajer Investasi walaupun tidak signifikan serta BEJ tidak efisien maka perlu diteliti oleh peneliti selanjutnya mengenai rasionalitas dari investor tersebut."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2002
D472
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
F.A. Gunawan
"Pada saat ini telah berkembang tiga pendekatan untuk menjelaskan prilaku kurs valas, yaitu: (1) pendekatan makro yang mengemukakan bahwa perubahan faktor makro ekonomi (fundamental) antar-negara yang secara langsung mendorong perubahan kurs valas, (2) pendekatan struktur mikro pasar yang mengemukakan bahwa faktor struktur mikro pasar yang menentukan perubahan kurs valas melalui informasi dan aliran pesanan, serta (3) pendekatan analisis teknikal yang memperkirakan dinamika perubahan kurs valas melalui analisis terhadap pergerakan data historis.
Dalam kenyataan praktis, para pelaku pasar secara simultan menggunakan informasi yang bersifat makro, mikro maupun historis. Oleh karena itu, dalam model ini akan dimasukkan peubah makro yang diwakili kurs berjangka satu minggu, peubah struktur mikro pasar yang diwakili jumlah tick dari kutipan (quote), dan peubah historis yang diwakili nilai kurs masalalu.
Memperhatikan bahwa data frekuensi tinggi umumnya mempunyai ciri heteroskedastik dan adanya volatility clustering, maka pada penelitian ini dipergunakan model GARCH. Disamping itu, karena pasar valas yang tidak transparan dimana beberapa peubah transaksi tak dapat diamati ditingkat pasar, maka pada penelitian ini dipergunakan beberapa peubah untuk memproxy peubah yang tak teramati tersebut, seperti misalnya kurs berjangka untuk memproxy tingkat bunga yang tak tersedia intrahari dan jumlah tick untuk memproxy kegiatan pasar (orderflow).
Analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa memang nilai historis dari peubah mempunyai pengaruh terhadap nilai peubah saat ini. Seperti misalnya perubahan imbal hasil masalalu mempunyai hubungan dengan perubahan imbal hasil kini. Demikian juga volatilitas masalalu mempunyai hubungan dengan volatilitas kini dan rentang relatif masalalu mempunyai hubungan dengan rentang relatif kini. Oleh karena itu disimpulkan perlunya menambahkan aspek historis ini secara eksplisit kedalam model Mikro-Makro (Evans & Lyons, 2002) untuk menjelaskan perubahan peubah kurs valas, terutama model determinasi kurs.
Penelitian ini mempunyai implikasi secara teoritis terhadap model hybrid yang menjelaskan tentang determinasi kurs, serta secara praktis terhadap kebijakan makro ekonomi, strategi para pelaku pasar dan kebijakan pengelolaan risiko perusahaan akibat perubahan nilai tukar valuta asing, dimana dinamika masalalu makin menjadi lebih penting.
Untuk memahami prilaku kurs secara lebih lengkap perlu dilakukan kajian lanjutan dengan menggunakan interval waktu yang lebih lama (perjam, perhari atau perminggu), jenis matauang yang lebih banyak dan pasar yang terpisah (Australia, Asia, Eropa dan Amerika) agar dapat diungkapkan prilaku pasar yang berbeda secara lebih jelas serta lengkap. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
D554
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suroso
"Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Faktor-faktor yang diduga berdampak pada kinerja saham tersebut adalah: optimisme dan divergensi opini investor pada awal perdagangan di pasar sekunder, tindakan oportunis emiten serta kondisi ekonomi dan lingkungan usaha pada waktu pelaksanaan IPO. Optimisme investor pada awal perdagangan di pasar sekunder terbukti berdampak negatif terhadap kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Faktor yang terbukti berpengaruh pada optimisme tersebut adalah rasio penjualan terhadap aktiva tetap perusahaan. Dampak divergensi opini investor dan tindakan oportunis emiten tidak terbukti dalam penelitian ini. Kondisi ekonomi dan lingkungan usaha pada waktu pelaksanaan IPO terbukti berpengaruh pada kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Dalam penelitian ini ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kinerja saham yang IPO pada kondisi stabil, dengan yang IPO pada kondisi krisis dan atau recovery. Adanya perbedaan kinerja saham pasca-IPO antara perusahaan di sektor riil, perbankan dan keuangan nonbank tidak terbukti dalam penelitian ini."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
D555
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zahroh Naimah
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji relevansi nilai laba akuntansi dan nilai buku ekuitas dalam menjelaskan harga saham. Penelitian juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba akuntansi dan koefisien respon nilai buku ekuitas yaitu ukuran perusahaan, risiko perusahaan, struktur modal, persistensi Laba, laba negatif, profitabilitas perusahaan, pertumbuhan perusahaan, bias dalam akuntansi, dan periode pengujian.
Sampel penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta sejak tahun 1994. Pengujian dilakukan dengan regresi variabel informasi akuntansi yang terdiri dari laba akuntansi dan nilai buku ekuitas terhadap harga saham yang disesuaikan dengan kemungkinan adanya pasar yang tidak efisien dengan menggunakan data tahun 1997-2001. Penyesuaian terhadap kemungkinan adanya pasar yang tidak efisien dilakukan dengan mengadopsi model yang dikembangkan oleh Aboody et al (2002). Pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien respon labs akuntansi dan koefisien respon nilai buku ekuitas dilakukan dengan meregresi laba akuntansi dan nilai buku ekuitas serta interaksi dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap harga saham.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa laba akuntansi dan nilai buku ekuitas berpengaruh positif terhadap harga saham. Hasil ini memperkuat hasil penelitian-penelitian sebelumnya bahwa laba akuntansi dan nilai buku ekuitas mempunyai relevansi nilai (Ohlson, 1995; Burgthaler dan Dichev, 1997, dan lain-lain). Laba akuntansi dan nilai buku ekuitas dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan harga saham.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya bahwa koefisien respon Laba akuntansi lebih besar pada perusahaan besar (Chaney dan Jeter, 1992), perusahaan yang memiliki laba permanen (Ohlson, 1995; Collins dan Kothari, 1989; Barth et al, 1998; dan Ou dan Sepe, 2002), dan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi dan mengalami pertumbuhan yang tinggi (Zhang, G, 2000). Koefisien respon laba dipengaruhi secara negatif oleh risiko perusahaan, konsisten dengan Collins dan Kothari (1989), Easton dan Zmijewski (1989) dan Barth et al (1998). Sesuai dengan studi terdahulu, koefisien respon laba lebih kecil pada perusahaan yang struktur modalnya terdiri dari sebagian besar hutang (Dhaliwal et al, 1991; Dhaliwal dan Reynold, 1994; dan Billings, 1999), perusahaan yang memiliki laba negatif (Jan dan Ou, 1995; dan Hayn, 1995), dan perusahaan yang menerapkan akuntansi yang konservatif maupun liberal (Beaver dan Ryan, 2000; dan Zhang X., 2000).
Hasil penelitian ini juga menunjukkan basil yang konsisten dengan studi terdahulu bahwa koefisien respon nilai buku ekuitas lebih besar pada perusahaan yang memiliki laba negatif (Jan dan Ou, 1995; Collins et al, 1997) dan lebih kecil pada perusahaan yang memiliki labs perrnanen (Ohlson, 1995; Ou dan Sepe, 2002), dan pada perusahaan yang menerapkan akuntansi yang konservatif maupun liberal (Beaver dan Ryan, 2000; dan Zhang X., 2000). Namun demikian, penelitian ini tidak memberikan dukungan atas pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan terhadap koefisien respon nilai buku.
Pada periode krisis moneter, koefisien respon nilai buku ekuitas secara signifikan lebih besar dibandingkan pada periode masa pemulihan. Penjelasannya adalah karena pada periode krisis moneter, banyak perusahaan yang mengalami kerugian atau laba negatif, sehingga informasi laba tidak bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, informasi nilai buku ekuitas menjadi lebih relevan.
Hasil pengujian menunjukkan koefisien respon laba hasil regresi yang disesuaikan dengan kemungkinan adanya pasar yang tidak efisien secara signifikan lebih besar dari koefisien respon laba hasil regresi yang tidak disesuaikan. Kesimpulan dari pengujian ini menunjukkan bahwa pasar bereaksi terlalu rendah (under-react) terhadap informasi laba. Sebaliknya, hasil pengujian menunjukkan bahwa perbedaan koefisien respon nilai buku ekuitas tidak signifikan antara kedua regresi tersebut.

ABSTRACT
The objective of this study is to examine the value relevance of accounting earnings and book value of equity in explaining stock price. The study is aimed to identify the factors affecting earnings response coefficient and equity book value coefficient. The factors are firm size, risk, capital structure, earnings persistence, negative earnings, profitability, growth, bias in accounting, and period.
The sample included manufacturing companies listed in Jakarta Stock Exchange since 1994. The hypothesis testing use regression of accounting information variables (accounting earnings and book value of equity) as independent variable and adjusted stock price to a possibly inefficient market as dependent variable based on data from five years: 1997-2001. Adjustment of a possibly inefficient market is adopted from the model developed by Aboody et al (2002). The factors affecting earnings response coefficient and equity book value coefficient are examined by regression of accounting earnings and equity book value and interaction of the factors as independent variables and adjusted stock price as dependent variable.
The results show that accounting earnings and book value of equity are positively associated with stock price. This results support the prior studies that accounting earnings and book value of equity have value relevance (Ohlson, 1995; Burgthaler and Dichev, 1997, etc). Accounting earnings and book value of equity are useful to explain stock price changes.
The results of this study are consistent with previous studies that earnings response coefficient is greater in large firms (Chaney and Jeter, 1992), the firms that have permanent earnings (Ohlson, 1995; Collins and Kothari, 1989; Barth et al, 1998; Ou and Sepe, 2002), and the firms that have higher profitability and growth (Zhang, G, 2000). Earnings response coefficient is negatively affected by risk, consistent with Collins dan Kothari (1989), Easton and Zmijewski (1989) and Barth et al (1998). According to prior studies, earnings response coefficient is smaller in the firms that have more debt in its capital structure (Dhaliwal et al, 1991; Dhaliwal and Reynold, 1994; Billings, 1999), the firms that have negative earnings (Jan and Ou, 1995; Hayn, 1995), and the firms that have both conservative accounting or liberal accounting (Beaver and Ryan, 2000; Zhang X., 2000).
The results are also consistent with prior studies that show equity book value response coefficient is greater in firms that have negative earnings (Jan dan Ou, 1995; Collins et al, 1997) and smaller in the firms that have permanent earnings (Ohlson, 1995; Ou and Sepe, 2002), and the firms that have both conservative accounting or liberal accounting (Beaver and Ryan, 2000; Zhang X., 2000). Nevertheless, this research is not support the effect of firm size, profitability and growth to equity book value response coefficient.
In crisis period, equity book value response coefficient is significantly greater than in recovery period. In crisis period, much of the firms have negative earnings, so the earnings information is not useful as the basis of decision-making. So, the information of equity book value is more relevant.
The examinations show that earnings response coefficient that adjusted to a possibly inefficient market is significantly greater than unadjusted earnings response coefficient. These results indicate that market under-react to earnings information. Nevertheless, the results are indicating that the different of unadjusted and adjusted equity book value coefficient is insignificant.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
D552
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Ferdinand
"ABSTRAK
Privatisasi BUMN merupakan isu hangat yang selalu muncul di tengah masyarakat. Isu terakhir adalah perbedaan pendapat antara Wakil Prcsiden dan Menteri BUMN yang kurang setuju dengan pendapat Menteri Keuangan, jika tujuan privatisasi hanya untuk mempercepat pencairan dana pinjaman dari ADB sebesar US$250juta (Basri, 2005).
Dibandingkan dengan tingkat bunga bebas resiko (deposito), kinerja seluruh BUMN memperlihatkan tingkat imbal hasil investasi (Return on Investmen atau ROI) yang rendah, yaitu 1,41% (tahun 2001), 1,64% (2002), 1,66% (2003), 1,70% (2004). Sementara itu, target imbal hasil investasi berdasarkan Master Plan BUMN juga tidak banyak berbeda, yaitu 1,73% (2005) dan l,76% (2006).
Privatisasi bertujuan mengatasi masalah berat yang dihadapi BUMN (Savas, 1987; Makhija, 2003; Fahy emi., 2003), seperti rendahnya kinerja keuangan dan lemahnya kemampuan daya saing perusahaan, sementara peneliti lain lebih skeptis terhadap privatisasi (Selar, 2000; Legge .dan Rainey, 2003). Jika privatisasi dipaksakan, maka sulit bagi perusahaan mendapatkan harga jual yang tinggi. Di lain pihak, tuntutan privatisasi mendesak dilakukan agar kinerja perusahaan dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
Penelitian ini bertujuan menguji isu kebijakan (policy gap) yang berkenaan dengan strategi pengelolaan BUMN di Indonesia, dalam upaya menciptakan keunggulan daya saing dan peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Model penelilian ini adalah pengujian pengaruh privatisasi dan perbedadn metode privatisasi (IPO atau Straregic sales) terhadap Keunggulan daya saing dan kinerja Keuangan BUMN di Indonesia. Data primer dikumpulkan melalui pengiriman daftar kuesioner kepada BUMN yang sudah diprivatisasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari BUMN yang sudah diprivatisasi dan dari sumber lainnya (Bapepam, BEJ, pemberitaan resmi melalui media). Pengolahan data variabel dependen keunggulan daya saing dilakukan dengan bantuan piranti lunak komputer Lisrel 81 dan SPSS versi ll.5, sedangkan variabel dependen kinerja keuangan memakai uji mann whitney dengan bantuan piranti lunak SPSS versi 11.5.
Hasil pengujian membuktikin bahwa privatisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan daya saing. Hasil pcngujian juga membuktikan pengaruh perbedaan terhadap variabel dependen kepercayaan pelanggan dan sikap Pegawai terhadap BUMN yang menggunakan metode IPO dan Strategic Sales, sedangkan pada kemampuan manajemen, reputasi perusahaan, penetrasi dan pengembangan pasar tidak dapat dibuktikan perbedaannya. Kedua metode privatisasi tersebut berpengaruh dan berbeda secara signitikan terhadap kinerja keuangan (ROI dan Market Capitalization).
Implikasi penelitian ini bagi pemerintah adalah (1) pertimbangan variabel dependen yang signifikan dalam proses kebijakan privatisasi di masa mendatang; (2) pemilihan metode privatisasi yang tepat (IPO atau Strategic Sales); (3) persiapan payung hukum, mekanisme, proses dan pcngendalian privatisasi sebaik-baiknya; dan (4) pertimbangan komposisi kepemilikan saham pada metode privatisasi Strategis sales agar keseimbangan di antara pemegang saham terjaga dengan baik.
Implikasi manajerial bagi manajemen dan pegawai serta serikat pekerja adalah (1) persiapan proses dan pelaksanaan privatisasi sebaik-baiknya; (2) tindakan profesional untuk kepentingan publik, pemegang saham dan kemajuan perusahaan, (3) penggunaan intuisi bisnis yang tajam disamping explicit knowledge dan tacit knowledge yang dimiliki; dan (4) kearifan pegawai serta serikat pekerja dalam menyikapi privatisasi."
2005
D741
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Chaerul D. Djakman
"Riset ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh status perusahaan bersama-sama faktor-faktor lain terhadap fenomena manajemen Iaba di Bursa Efek Jakarta. Manjemen Iaba adalah tindakan dari manajer perusahaan dengan mengubah infonnasi lceuangan untuk meneapai tujuan tertentu yang menguntungkan manajer dan perusahaah. Status perusahaan yang dipelajari adalah apal-:ah perusahaan memenuhi atau tidak memenuhi kriteria delisting (MKD) akibat mengalami kerugian 2 (dua) tahun berturut-turut. Faktor-faktor lain adalah Iama beketjanya direktur utama, lama bekerjanya komisaris utama, kualitas audit, proporsi saham yang dimiliki investor institusi, tingkat hutang, dan skala usaha perusahaan. Riset ini mempelajari fcnomena manajemen Iaba dengan menggunakan kurnpulan (aggregate) kebijakan akrual dari manajemen perusahaan, yang merupakan hasil perhitungan discretionary accruats (DA) dari model Kasznik (I999). Perusahaan yang mengalami rugi 2 (dua) tahun berturutan terancam status sahamnya tidak dapat diperdagangkan pada tahun ketiga apabila masih mengalami kerugian sesuai dengan keputusan direksi tahun 1992 mengenai pencatatan saham. Pemsahaan yang terancam penurunan status atau yang sudah tcrmasuk kedalam status lebih rendah cenderung melakukan manajemen Iaba yang meningkatkan Iaba (MLPOS) seperti perusahaan yang teraneam masuk kategori default (DeFond & Jiambalvo, 1994 dan Sweeney, 1994) atau perusahaan yang telah masuk kedalam perlakuan khusus di pasar modal China (Chen, 200l). Selain itu, perusahaan yang mengalami rugi selarna beberapa tahun mempunyai insentif untuk mclakukan MLPOS (Callen et al, 2003). Riset ini menggunakan status perusahaan sebagai salah satu faktor yang mendasari motivasi manajemen Iaba pada pcrusahaan. Status perusahaan terdiri dari status yang memenuhi kriteria delisting (MKD) dan yang tidak memenuhi (Non-MKD).
Perusahaan MKD mempakan perusahaan yang mempunyai kincrja yang sangat buruk. Tindakan yang mudah dilakukan oleh manajer adalah memberikan Sinyal "prospek" perusahaan MKD kepada stakeholder. Sinyal tersebut adalah pencapaian treshold dengan memberikan laporan Iaba lebih balk dari periode sebelumnya. I-Iayn (1995), Burgstahler & Dichev (1997), Degeorge et al (1999) dan Dechow et al (2002) membuktikan bahwa perusahaan melakukan MLPOS supaya Iaba tidak negatif, supaya Iaba lebih baik dari periocle sebelumnya, atau supaya laba lebih baik dari ekspektasi analis. Manajer berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan karena manajer terancam pinalti pasar tenaga kerja (Fama & Jensen l983). Manajer mempunyai kesempatan dan pengetahuan mengenai bisnis untuk memilih MLPOS (DeFond & Jiambalvo, 1994 dan Beneish et al, 2002). Oleh karena itu pengawasan oleh komisaris ulama, akuntan publik, dan investor institusi terhadap manajemen dan perusahaan MKD menjadi penting.
Manajemen laba diukur melalui DA yang dilakukan oleh manajer perusahaan bukan akrual yang terjadi alamiah akibat perubahan skala ekonomi perusahaan atau disebut juga Non-Discretionary Accrual; (NDA). Pemisahan DA dan NDA menggunakan metode yang dipergunakan oleh Kasznik (1999). Riset ini juga bertujuan untuk menyelidiki apakah rasio-rasio keuangan yang terbukti mengidentifikasi manipulasi laba (Beneish, 1999) dan rasio perubahan likuiditas dapat menjelaskan kecenderungan suatu perusahaan masuk ke dalam statsu MKD. Rasio-rasio keuangan tersebut adalah kebijakan pemberian kredit, kemampuan menghasilkan laba bruto, kualitas aset, pertumbuhan penjualan, kebijakan depresiasi, manajemen beban penjualan, umum dan administrasi, tekanan hutang, total akrual dan perubahan likuiditas. Riset ini mempelajari fenomena manajemen laba secara spesifik yang mempelajari kebijakan akrual spesifik yang dipilih oleh manajemen.
Riset empiris ini membuktikan bahwa perusahaan MKD mempunyai rata-rata DA lebih besar dibandingkan perusahaan Non-MKD dengan memperhatikan faktor-faktor lain. Perusahaan MKD yang mengalami kerugian berturutan cenderung melakkan MLPOS untuk memberikan sinyal prospek kepada stakeholder. Hasil ini didukung oleh distribusi frekuensi perubahan laba perusahaan MKD yang cenderung positif. Akan tetapi, faktor tingkat hutang perusahaan yang tinggi membuat DA perusahaan rendah karena perusahaan yang mempunyai kinerja sangat buruk cenderung melakukan "an carning bath". Pada tahun 1999, rata-rata tingkat hutang mencapai 73% dari total aset.
Faktor perusahaan dengan direktur utama lama yang telah menjabat paling sedikit 3 (tiga) tahun cenderung memiliki DA lebih besar dibandingkan direktur utama yang relatif baru. Khususnya direktur utama lama dari perusahaan MKD memiliki rata-rata DA lebih besar dibandingkan direktur utama baru dari perusahaan MKD dan juga lebih besar dibandingkan direktur utama lama dari perusahaan Non-MKD. Direktur utama lama perusahaan MKD sangat berkepentingan dengan laporan laba lebih baik pada periode observasi. Pada sampel seluruh perusajaan dan juga khusus pada perusahaan MKD, faktor pengawasan dari kantor akuntan publik lokal yang berafiliasi dengan KAP Big5 terbukti dapat mengendalikan DA sehingga menjadi rendah. Identifikasi akrual secara spesifik menunjukkan bahwa perusahaan MKD cenderung mempunyai kualitas aset yang menurun. Penurunan kualitas aset meunjukkan bahwa aktiva tidak lancar selain property, plant, and equipment meningkat. Selain itu, perusahaan MKD perlu memberi sinyal prospek perusahaan akibat mempunyai pertumbuhan penjualan yang lambat dan penurunan likuiditas.
Penelitia lanjutan dilakukan pada kategori perusahaan MKD dengan tingkat hutang rendah. Kategori perusahaan tersebut cenderung mempunyai kebijakan kredit yang lebih longgar dibandingkan perusahaan lain kemungkinan untuk dapat mengakru penjualan sebanyak mungkin. Selain itu rata-rata peningkatan beban depresiasi perusahaan MKD dengan tingkat hutang (TOTDETA) rendah lebih kecil dibandingkan perusahaan lain. Manajemen laba perusahaan bersifat sementara karena perusahaan kemungkinan memindahkan pendapatan tahun 2000 ke tahun 1999 atau menggeser beban perusahaan tahun 1999 ke tahun 2000. Studi empiris membuktikan bahwa Penambahan DA perusahaan tahun 2000 dengan basis tahun 1999 akan semakin kecil apabila DA tahun 199 adalah besar dan juga rata-rata Penambahan DA tahun 2000 bagi perusahaan MKD adalah lebih kecildibandingkan perusahaan Non-MKD.
Hasil riset ini membuktikan adanya praktek manajemen laba yang meningkatkan laba untuk memberikan sinyal "prospek" perusahaan. Untuk dapat memperoleh informasi keuangan perusahaan MKD yang dapat diandalkan dan tepat waktu serta menghindari praktek manajemen laba, maka
1. Otoritas pasar modal mengeluarkan peraturan listing yang lebih ketat dan melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap perusahaan dengan kinerja rugi berturutan.
2. Investor harus mempelajari laporan keuangan perusahaan MKD dengan cermat.
3. Pemegang saham perusahaan MKD harus lebih berhati-hati dalam menentuka akuntan publik.
4. KAP harus memasukkan perusahaan MKD sebagai perusahaan yang mempunyai risiko audit tinggi."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
D654
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kim, Sung Suk
"ABSTRAK
Tujuan utama dari penelitian ini adalah menguji hubungan simultan antara nilai
perusahaan, praktek corporate govenance, dan struktur kepemilikan dengan 114
perusahaan yang terbuka di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2003. Variabel struktur
kepemilikan adalah Cash flow rights, wedge (control rights - cash flow rights),
persentase kepemilikan blockholders oleh pihak asing namun diduga sebenarnya
orang Indonesia (atau disingkat Asing Tapi Indonesia, (ASTINDO)). Nilai perusahaan
akan diukur dengan proksi Tobin?s Q dan praktek corporate governance diukur
dengan corporate governance index (CGI) yang dikembangkan oleh Arsjah (2005).
Karena hubungan endogen antar variabel, metode two stage least squares dipakai.
Hasil menunjukkan bahwa praktek corporate governance tidak berpengaruh
signifikan kepada nilai perusahaan, tetapi nilai perusahaan menjadi prediktor positif
untuk praktek corporate governance. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan yang
mempunyai nilai perusahaan yang tinggi memilih praktek corporate governance yang
baik untuk meningkatkan nilai perusahaan. Namun, perusahaan belum tentu dapat
memberi signal tentang kualitas perusahaan dengan menerapkan praktek corporate
governance yang baik. Hasil ini mungkin terjadi karena implementasi praktek
corporate governance merupakan hal yang baru di indonesia dan karena pasar masih
sulit mencerminkan pengaruh praktek corporate governance kepada nilai perusahaan
sebab kekurangan informasi yang memadai tentang praktek corporate governance.
Ketika wedge perusahaan tinggi, pengaruh praktek corporate governance kepada
nilai perusahaan melemah. 'Wedge adalah variabel yang mengukur insentif pemegang
saham mayoritas akhir untuk mengekspropriasi pemegang saham minoritas. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa efektivitas praktek corporate governance
dipengaruhi oleh insentif untuk melakukan ekspropriasi dari pemegang saham
pengendali akhir.
Struktur kepemilikan dan nilai perusahaan tidak mempunyai hubungan sistematik.
Hasil ini mendukung bahwa struktur kepemilikan ditentukan secara endogen,
sehingga struktur kepemilikan tersebar maupun terkonsentrasi masing-masing
membawa masalah keagenan, tetapi sekaligus memberikan kuntungan yang dapat
menjadi kompensasi masalah keagenan masing-masing.
ASTINDO dalam struktur kepemilikan perusahaan ternyata tidak mengurangi
nilai perusahaan atau tidak mengekspropriasi kekayaan pemegang saham minoritas.
Tetapi persentase kepemilikan ASTINDO berpengaruh negatif kepada praktek
corporate governance. Tidak terdapat perbedaan pengaruh dari kepemilikan
ASTINDO dan kepemilikan blockholders benar-benar asing (BLOCKA) kepada nilai
perusahaan dan praktek corporate goverance. Dengan asumsi ASTINDO diukur dengan benar, hasil tersebut meragukan argumen bahwa kepemilikan BLOCKA berpengaruh positif kepada kinerja perusahaan dan praktek corporate governance.

Abstract
The primary objective of this study is to test simultaneous relationships among the
value of the firm, the practice of corporate govemanee, and the ownership structure on
a sample of 114 companies quoted in the Jakarta Stock Exchange (JSX) for the year 2003. The ovmership structure variables include cash flow rights, wedge (control
rights - cash-flow rights), and percent of ownership by foreign bloclcholders that presumably are Indonesian blockholders (FBIB). The value of the firm is measured by
proxy of Tobin's Q and the practice of corporate governance is measured by corporate
govemance index (CGI) developed by Arsjah (2005). Because of the endogeneity among the variables, the two stage least squares are employed.
The study finds that practice of corporate govemance fails to affect value of the
firm, but value of the firm is a positive predictor of practice of corporate governance.
These results suggest that highly valued firms adopt the practice of the good corporate
govemance because they believe that the practice of the good corporate governance
will further raise fimr value. However, adopting the practice of good corporate governance may not translate to higher fimi value. This may due to the fact that
implementation of the practice of the corporate govemance is something new in Indonesia and that market may have difficulty in reflecting the effects of the practice of
thecorporategovemanceonthevalueofthefirmbecauseofthelackofproper information.
Further, the influence ofthe practice ofthe corporate governance on the value ofthe firm becomes less, when the wedge of the firm becomes higher. Wedge is the variable that estimates incentives of ultimate majority shareholders to expropriate minority shareholders. Therefore, I conclude that effectiveness of the practice of the corporate govemance is influenced by the expropriation incentives of the ultimate majority shareholders.
Ownership structure and the value of the firm have no systematic relation. This result supports that the ownership structure of a firm is the endogenous outcome of decisions. In other words, ownership structure is chosen so as to maximize the value of
the firm, and that greater diffuseness in ownership, although it makes the agency
problemmoresevere,conveyscompensatingadvantagesonfirmsthatchoosetorelyon a difiiise ownership structure.
FBIB does not extract private benefits for themselves or do not expropriate the
wealth of the minority shareholders. But, percent of ownership by FBIB has negative effectsonthepracticeofthecorporategovernance.Thereisno differencebetweenthe
influence of percent of ownership by foreign bloekholders and of percent of ownership by PBIB on the value of the firm and the practice of the corporate governance.
Assuming that percent of ownership by FBIB are accurately measured, this result casts some doubt on the argument that ownership by foreign bloclcholders has positive effects on the performance and the practice of the corporate governance."
2006
D656
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>