Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 27 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dyah Parameshwary
"ABSTRAK
Burnout merupakan suatu sindrom psikologis yang ditandai dengan adanya kelelahan fisik, depersonalisasi dan penurunan hasrat pencapaian diri yang muncul pada orang-orang yang bekelja untuk melayani orang lain. Caregiver keluarga pasien stroke adalah seluruh orang-orang yang memiliki hubungan darah terutama yang seeara psikologis terikat dengan diri penderita stroke seperti pasangan, anak, keluarga, saudara dan melakukan fimgsi perawatan dan pelayanan terhadap pasien stroke secara intens. Subyek dalam penelitian ini memiliki karakteristik: pasangan (istri), anak dan keluarga dekat pasien stroke yang dalam kesehariannya merawat pasien, telah melakukan fimgsi perawatan minimal satu tahun serta tinggal serumah dengan penderita stroke. Berdasarkan uji validitas, korelasi skor item total pada MBI bergerak antara 0.320 sampai dengan 0. 71 L Uji reliabilitas yang dilakukan dengan menggunakan Alpha Cronbach memberikan hasil koefisien reliabilitas sebesar 0.846. Hasil pengbitungan statistik menjelaskan bahwa sebanyak 21 orang (65.6%) dari 32 responden mengalami burnout dalam taraf rendah, dimana 1 4 responden (66.7%) diantaranya beljenis kelarnin wanita, berusia 20 sampai dengan 29 tahun dan 50 sampai dengan 59 tahun (33.4%), berperan sebagai anak dari pasien stroke (57.1%), bekerja sebagai karyawan swasta (52.4%) ,memiliki latar belakang SMA (42.9%), telah berperan sebagai caregiver selama 1 sampai dengan 3 tahun dan 7 sampai dengan 10 tahun (38.1%) dan melakukan perawatan dengan kondisi pasien saat ini tergolong ringan (61.9"/o)."
2007
T32837
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cindy Dwi Utami
"ABSTRAK
Penelitian ini merupakan bagian dari tahap adaptasi awal alat tes Luria-Nebraska
Neuropsychological Battery (LNNB). Langkah adaptasi mengacu pada panduan
adaptasi lintaskultur yang dipublikasikan oleh International Test Comission (1TC).
Penelitian ini melanjutkan tahap adaptasi yang sudah dilalui terhadap LNNB
Form I berupa penerjemahan forward dan backward. LNNB Form I Versi
Terjemahan ini belum pernah diujicobakan pada kelompok sampel yang menjadi
target populasi. Penelitian ini mengujicobakan administrasi LNNB Form I Versi
Teijemahan tersebut pada 10 individu yang termasuk dalam kelompok Dewasa
Madya. Proses dan kendala yang ditemui dalam administrasi dicatat dan
diinventarisasi sebagai dasar untuk melakukan tahapan adaptasi selanjutnya dari
LNNB Form I Versi Teijemahan.
Jenis penelitian adalah penelitian exploratory dengan desain deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa LNNB Form 1 Versi Teijemahan dapat digunakan
pada kelompok dewasa madya di Indonesia, namun masih perlu dilakukan
penyesuaian terhadap beberapa konten item yang masih terikat kultur Barat, dan
penyesuaian dalam penyampaian instruksi pada beberapa item. Administrasi
LNNB dapat dilakukan dengan baik apabila menggunakan format lembar rekam
respon yang efektif serta diadministrasikan dalam kondisi pengetesan yang
terkontrol.

ABSTRACT
This study is a continuation of adaptation process that had been done earlier to
Luria-Nebraska Neuropsychological Battery (LNNB) Form I. The adaptation step
used in this study is based on cross-cultural test adaptation guidance published by
International Test Commission (ITC).
LNNB Form I had been through forward and backward translation process, but
the translated version o f LNNB Form I had never been tested on any population
target. In this study, LNNB Form I Translated Version was tested to a small group
o f middle age individuals. The purpose o f the testing is to collect problems that
occurred during administration process. This information is needed if the test
developer wishes to continue the adaptation process.
This study is an exploratory study and the data collected were presented in
descriptive manner. This study found that LNNB Form I Translated Version can
be used with several adjustments in instructions, stimuli, tools, and conditions."
2009
T37851
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Gayatri
"Penelitian ini membahas pemberian intervensi support group pada klien terapi NES untuk menangani healing crisis yang sudah atau akan mereka alami selama masa terapi. Kegiatan support group meliputi pemberian informasi mengenai simptom, proses dan cara mengatasi healing crisis, pemberian materi psikologis yang berkaitan dengan healing crisis, sharing, dialog interaktif dan latihan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pretest dan posttest design. Hasil penelitian mengindikasikan efektivitas pemberian intervensi, dilihat dari peningkatan pengetahuan dan penurunan tingkat kecemasan dan stress yang diukur dengan Depression Anxiety Stress Scale (DASS).

This study discusses support group intervention on NES Therapy clients to overcome healing crisis which they have or going to experience during their therapy session. The support group activities are conveying information regarding symptoms, process and how to handle healing crisis, conveying materials regarrding psychological aspects related to healing crisis, sharing, interactive dialogues and exercises. This is a qualitative study with pretest and posttest design. The result of this study indicates effectiveness of intervention, which can be seen from enhancement of knowledge and reduction of anxiety and stress level which was measured using Depression Anxiety Stress Scale (DASS)."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
T31345
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jane Luvena Pietra
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas program intervensi guided imagery untuk mengurangi kecemasan performa musikal kepada siswa-siswi musik yang mengalami kecemasan performa musikal dan akan menghadapi resital akhir. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang (2 perempuan dan 1 laki-laki) serta berada pada rentang usia antara 18-27 tahun. Kecemasan performa musikal diukur dengan menggunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti. Dalam penelitian ini akan dilangsungkan sebanyak 6 sesi, dimana 2 diantaranya digunakan sebagai pengukuran pra-intervensi dan paska-intervensi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penurunan kecemasan diantara 3 partisipan yang diukur melalui kuesioner serta wawancara.

This study aimed to examine the effectiveness of guided imagery intervention program to reduce musical performance anxiety among music students, who has musical performance anxiety and will face the final recital. Participants in this study were 3 students (2 women and 1 man) and are in the age range between 18-27 years. Musical performance anxiety was measured using a questionnaire made by the researcher. In this study will be conducted as much as 6 sessions, where 2 of them are used as a measure of pre-intervention and postintervention. The results indicate that there is a decrease in anxiety among 3 participants, and were measured through questionnaires and interviews."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T35530
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutapea, Mangasi Nofrina Erri Mutiha
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan, gambaran, dan sosialisasi emosi malu dan emosi bersalah pada generasi tua dan generasi muda di suku Batak. Emosi malu dan bersalah termasuk dalam kelompok moral emotions karena dianggap berperan dalam membina perilaku bermoral dan mencegah terjadinya perilaku yang salah (Tangney&Fischer, 1995). Tangney dan Fischer (1995) mengatakan bahwa ketika merasa malu, individu menilai diri mereka telah gagal dalam memenuhi standar lingkungan sosialnya. Sementara dalam emosi bersalah, individu menilai diri mereka bertanggung-jawab terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Fokus evaluasi pada emosi malu adalah diri secara keseluruhan, sementara pada emosi bersalah adalah pada suatu tindakan yang telah dilakukan. Tipe penelitian ini adalah gabungan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed method). Analisis kuantitatif dilakukan untuk menguji hipotesis null bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada emosi malu dan emosi bersalah antara 50 partisipan generasi tua dan 50 partisipan generasi muda suku Batak. Emosi malu dan emosi bersalah diukur dengan menggunakan Test of Self-Conscious Affect 3 (TOSCA-3) (Tangney, Dearing, Wagner, & Gramzow, 2000). Analisis kualitatif dilakukan dengan mengolah data yang diperoleh dari wawancara dengan 6 partisipan. Hasil penelitian dengan menggunakan teknik statistik Independent Samples T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan pada emosi malu antara generasi tua dan generasi muda suku Batak. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada emosi bersalah antara generasi tua dan generasi muda suku Batak. Dari analisis hasil wawancara diperoleh hasil yang menunjukkan kesamaan antara generasi tua dan muda dalam situasi dan ekspresi emosi bersalah. Sementara untuk situasi dan ekspresi emosi malu terdapat perbedaan. Sosialisasi emosi malu dan emosi bersalah pada kedua generasi diperoleh dari lingkungan keluarga, sekolah, teman dan ajaran di gereja sejak usia Sekolah Dasar.

This research was conducted in order to see the difference, portrayal, and the socialization of shame and guilt in the old and younger generation of Batak tribe. The emotions of shame and guilt belongs to a group of moral emotions, because their role are considered in fostering moral behavior and preventing wrong behavior (Tangney & Fischer, 1995). Tangney dan Fischer (1995) says that in shame, people evaluate themselves that they have failed to meet the standards of the social environment. While guilt, makes people evaluate themselves to be responsible of the wrongdoing they has done. The focus of evaluation in shame is the self as a whole, while in guilt the focus is on the action that the self has done. The type of this research is a mix of quantitative and qualitative methods. The quantitative analysis was conducted to test the null hypothesis that there is no significant difference in the emotions of shame and guilt among the 50 participants of older generation and 50 younger participants of Batak tribe. The emotions of shame and guilt were measured using the Test of Self-Conscious Affect 3 (TOSCA-3) (Tangney, Dearing, Wagner, & Gramzow, 2000). Qualitative analysis performed by processing data obtained from interviews with 6 participants. The results using statistical techniques of Independent Samples T-Test showed a significant difference in the emotion of shame between the older generation and the younger generation of Batak tribe. There was no significant difference in the emotion of guilt between the two generation. The analysis results of data obtained from interviews show similarities between the old and younger generation in situation that can elicited guilt feeling and in emotional expression of guilt. As for the emotion of shame, there were differences in situation that can elicited the feeling and also in emotional expression of shame. The socialization of shame and guilt in both generation were mostly obtained from family, especially from parents since they are in elementary school age. Although, there are other agents such as school, friends, and church teachings."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S60659
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Puspita Sari Ningsih
"Meskipun Indonesia termasuk negara yang menolak keberadaan kaum LGBT, tetapi peminat kisah fiksi romantis dengan tokoh LGBT justru terus berkembang. Penelitian ini akan mengkaji hubungan antara intensitas pembaca terpapar fiksi romantis LGBT, empati pembaca terhadap karakter dalam kisah-kisah tersebut dan sikap pembaca terhadap kaum LGBT di dunia nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara intensitas paparan fiksi romantis LGBT dengan empati pembaca (r = -.113, p > .05). Meski demikian, intensitas paparan fiksi romantis dan empati pembaca dapat memprediksi sikap pembaca sebesar 7% (F(2, 181) = 7,78, p < .01, R2 adjusted = .069), meski hanya intensitas paparan fiksi yang secara signifikan memprediksi kontruk tersebut (Beta= -.282, t(184) = -3,93, p < .05).

Although Indonesia poses as one of the countries that disapprove of LGBT rights, the fans of LGBT romantic fictions in this country keep growing by the years. This research explores the relationship among print exposure of LGBT romance fiction, readers‟ empathy towards LGBT characters in the stories and readers‟ attitude towards LGBT in real life. The result shows that there is no significant correlation between print exposure of LGBT romance fiction and readers‟ empathy (r = -.113, p > .05). However, print exposure and readers‟ empathy can predict readers‟ attitude around 7% rate (F(2, 181) = 7,78, p < .01, R2 adjusted = .069), but only print exposure can significantly predict the construct (Beta= -.282, t(184) = -3,93, p < .05)."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S58746
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Baby Ahnan
"Masalah berangkat dart pengamatan keseharian terhadap masalah kegilaan. Kegilaan tampak sebagai gejala tetap kehidupan. Gejala ini tidak pernah hilang sepajang sejarah kehidupan manusia, sekalipun zaman mengalami kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, ada pendapat yang menganggap bahwa kegilaan adalah konsekuensi yang menyertai kemajuan zaman. Kasus kegilaan di zaman modern jauh lebih banyak daripada zaman primitif. Foucault beranggapan bahwa peningkatan jumlah kasus kegilaan di zaman modern disebabkan oleh semakin jauhnya manusia dari alam kodratnya. Kekuatan industri, perubahan cepat dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya telah mengasingkan manusia dari kemungkinan hidup otentik. Orientasi nilai menjadi rancu. Manusia cenderung dianggap sebagai alat yang dapat dikendalikan atau dimanipulasi. Orang lebih mudah menjadi pengekor orang lain atau bidak massa. Peningkatan konflik di zaman modern seiring dengan peningkatan jumlah kasus gangguan jiwa. Di Amerika, penelitian NIMH (National Institute of Mental Health) terhadap 17.000 sampel penduduk lima wliayah (Baltimore, New Haven, Connecticut, North Carolina, St. Louis dan Los Angeles) menunjukkan bahwa 19% sampel mengalami gangguan jiwa, dengan kata lain, 2 dari 10 sampel mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa meliputi 13 kategori gangguan mayor yang ditetapkan oleh American Psychiatric Association dalam DSM-111. Di Indonesia, Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor sebagai rumah sakit Jiwa kedua terbesar pada tahun 1997-1998 merawat 1.694 pasien. Tidak ada data kesembuhan. Kesembuhan dianggap sebagai kemungkinan yang sangat kecil atau nihil. Dlanggap bahwa faktor utama penghalang kesembuhan adalah sikap negatif masyarakat terhadap kasus kegilaan. Bila ada seorang pasien rumah sakit jiwa yang dinyatakan telah sembuh dan dapat kembali bergabung dalam masyarakat, blasanya masyarakat setempat akan menolak kehadiran bekas paslen tersebut, sehingga paslen akan kembali lagi ke rumah sakit jiwa dalam keadaan yang lebih parah dari sebelumnya."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dery Abdurrachim Iskandar
"Ditinjau dari pendekatan Model kognitif, secara umum orang dengan Gangguan Depresi Mayor mengalami lima buah simtom Depresi yaitu simtom afektif, simtom, simtom kognitif, simtom motivasional, simtom fisik, dan simtom Behavioral. Model kognitif juga mengungkapkan tingginya kemungkinan terjadinya dependency pada orang dengan gangguan depresi sebagai salah satu bentuk nyata simtom behavioral Depresi Tingginya kemungkinan orang dengan gangguan depresi untuk mengalami dependency cenderung meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami interpersonal dependency, yaitu sebuah bentuk ketergantungan yang dialami oleh seseorang dengan menjadikan orang lain sebagai objek ketergantungan tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan wawancara yang dilengkapi oleh metode observasi. Populasinya adalah orang-orang yang telah didiagnosis depresi mayor oleh psikolog maupun psikiater. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan theory based/operation construct sampling, di mana sampel dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori atau konstruk operasional depresi yang termuat dalam DSM IV TR.
Diperoleh beragam gambaran interpersonal dependency pada orang dengan gangguan depresi yang dikelompokan dalam empat dimensi, yaitu kognitif, motivasional, afektif, dan behavioral di mana ditemukan peranan yang lebih dominan pada dimensi kognitif dan afektif. Selain itu diperoleh juga faktor-faktor ekstrinsik pada orang dengan gangguan depresi mayor berupa dalam proses terjadinya interpersonal dependency pada orang dengan gangguan depresi Mayor ,berupa peranan pola asuh orang tua.

Being analyze from The Cognitive Model approach, people who has major depression disorder are generally deliver through five depression symptoms. Those symptoms are affective symptom, cognitive symptom, motivational symptom, physical symptom and behavioral symptom. The Cognitive Model also elaborates the high possibility of dependency that could happen to people who has depression disorder as a frank appearance of behavioral symptom. This high possibility of dependency experienced by the ones who have major depression disorder tends to risen the possibility of interpersonal dependency, a form of dependency happened to certain people by making someone else as the object of the dependency.
This research process was using qualitative method with interview approach and observation method. The population of this research was those people diagnosed having major depression disorder by psychologist and or psychiatrist. The samples has chosen by using the theory based/operation construct sampling, where those samples picked out with certain criteria, based on the theories or depression operational construct stated in DSM IV TR.
During this research, various interpersonal dependency appearances are found in person who has diagnosed with major depression disorder, which could be classified to four dimensions: cognitive, motivational, affective and behavioral. We can also find the dimensions that have more dominant and stronger influence, which are cognitive dimension and affective dimension. Moreover, external factors could also be found occur to person with major depression disorder along with the forming of the interpersonal dependency, like parenting pattern role.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sangitan, Emmanuela Kirana
"Tingkat distres psikologis mahasiswa Universitas Indonesia (UI) termasuk tinggi, sebesar 39%. Sebanyak 9,1% mahasiswa melaporkan masalah Social-Psychological Relations (SPR) menjadi masalah terberatnya. Masalah ini berkaitan dengan rendahnya keterampilan sosial. Keterampilan sosial yang rendah menjadi prediktor terhadap kemunculan distres psikologis. Keterampilan ini melibatkan persepsi dan evaluasi individu terhadap suatu situasi sosial, seperti merasa tidak mampu menjalin hubungan dengan baik, evaluasi negatif terhadap diri sendiri tanpa bukti, dan takut akan penilaian negatif dari orang lain. Salah satu intervensi yang efektif adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT). CBT bertujuan untuk merestrukturisasi kognitif agar muncul respon yang lebih adaptif. Metode Penelitian randomized control trial ini dilakukan dengan one group before-andafter study design dan convenience sampling di UI Depok. Intervensi dengan CBT dilakukan sebanyak 6 sesi. Hasil Kedua partisipan mengalami peningkatan keterampilan sosial dan penurunan distres psikologis, diketahui dari perbaikan skor Social Skills Inventory (SSI), Hopkins Symptom Checklist-25 (HSCL-25), dan evaluasi kualitatif. Kesimpulan CBT efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan distres psikologis pada mahasiswa UI. Teknik yang dianggap membantu adalah penentuan tujuan, thought diary, pencarian bukti, pembuatan thought card, behavior experiment, dan teknik bernapas.

The psychological distress level of undergraduate students in Universitas Indonesia was considered high, with index of 39%. A number of 9.1% undergraduate students reported to experienced Social Psychological Relations problem as the main issue. This problem related to the low social skills. Low expertise in social skills was predicted as the main cause of psychological distress. This skills involving individual perception and evaluation to a certain social situations, such as self-perceived to be incompetent to build a good relationship, negative self-evaluation without proper evidence, and fear of negative evaluation from others. One of the effective intervention techniques to deal with this problem is Cognitive Behavior Therapy (CBT). The aim of CBT is cognitive restructuring, in order to create more adaptive responses. Method Randomized control trial was conducted with one group before-and-after study and also convenience sampling in Universitas Indonesia. The intervention was conducted in 6 sessions. Result Both participants reported that the social skills increased and the psychological distress reduced indicated by the improvement score in Social Skills Inventory (SSI), Hopkins Symptom Checklist-25 (HSCL-25), and also qualitative evaluation. Conclusion CBT is an effective intervention to increase social skills and reduce psychological distress among undergraduate students at Universitas Indonesia. Techniques that are considered helpful were goal-setting thought diary, evidences seeking, thought card, behavior experiment, and breathing technique."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T30888
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Dewi Ashuro Itouli
"Latar Belakang: Banyak mahasiswa memiliki distres psikologis tinggi karena menghadapi berbagai masalah dan tuntutan baik akademis maupun non akademis. Keterampilan sosial telah teridentifikasi dalam model distres psikologis sebagai sumber yang penting bagi individu untuk mengelola stres. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini ingin mengetahui efektivitas pelatihan keterampilan sosial untuk membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan distres psikologis yang dialaminya.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre test post test design. Partisipan penelitian merupakan mahasiswa S1 Universitas Indonesia dalam rentang usia 18-25 tahun yang memiliki masalah keterampilan sosial dan distres psikologis. Masalah keterampilan sosial ditandai dengan skor rendah pada setidaknya satu dimensi Social Skills Inventories (SSI) dan atau ketimpangan skor diantara dimensi SSI yang dilihat dari jarak SD ≥ 6,3 untuk pria dan SD ≥ 5,4 untuk wanita. Masalah distres psikologis ditandai dengan skor Hopkins Symptom Check List-25 (HSCL- 25) ≥ 1,75. Program intervensi dilakukan dalam bentuk workshop 2 hari dengan waktu efektif 14 jam pelatihan.
Hasil: Berdasarkan perbandingan pengukuran pra dan pasca intervensi, ditemukan bahwa tidak ada partisipan yang memiliki skor rendah pada tiap dimensi keterampilan sosial. Tujuh dari delapan partisipan memiliki keseimbangan skor antar dimensi yang lebih baik. Seluruh partisipan mengalami penurunan skor HSCL-25, setengah darinya berada di bawah cut off score.
Kesimpulan: Pelatihan keterampilan sosial efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan distres psikologis pada mahasiswa Universitas Indonesia.

Background: Many university students have a high psychological distress because of the academic and non academic problems and challenges. Social skills has identified in the psychological distress model as important source for managing stress. This study examines the implementation of social skills training to help university students increase social skills and decrease psychological distress.
Method: The research design is one group pre test post test design. The participants are University of Indonesia undergraduate students with age range from 18 to 25 years old. Social skills problem is stated if there is low score at least in one dimension of Social Skills Inventories (SSI) and or unbalanced score between the dimensions of SSI which based on SD ≥ 6,3 (male) and SD ≥ 5,4 (female). Psychological distress problem is stated if score of HSCL-25 ≥ 1,75. The format of intervention is two days workshop with 14 hours training duration.
Result: In accordance to the differential between pre and post intervention, there is no more low score in every SSI's dimensions. Seven from eight participants has a better balanced score between SSI's dimensions. All participants has lower score of HSCL-25. Half of the scores has already under the cut off score.
Conclusion: Social skills training is marked effective in increasing social skills and decreasing psychological distress for University of Indonesia undergraduate students.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T31205
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>