Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Audita Ramadhanti
"ABSTRACT
Karakter Shoujo merupakan karakter perempuan yang sering ditemukan dalam anime kontemporer Jepang. Representasinya memiliki perkembangan dari tahun ke tahun mengikuti perkembangan anime tersebut. Representasi dan penggambaran karakter shoujo berawal dari aspek femininitas tradisional hingga pemberdayaan karakter kuat sebagai heroine dalam anime tersebut. Namun berbeda dengan anime lainnya, Sen to Chihiro no Kamikakushi, yang merupakan anime karya Hayao Miyazaki dibawah produksi Studio Ghibli, memiliki representasi karakter shoujo yang berbeda. Chihiro, berubah dari karakter lemah menjadi berdaya melalui proses pemberdayaan. Tulisan ini akan membahas proses pemberdayaan dan pencapaiannya yang berguna dalam membangun identitas Shoujo melalui karakter Chihiro.

ABSTRACT
Shoujo is a female character that is often found in contemporary Japanese anime. Its representations have developed throughout it years following the development of the Anime itself. The representation and depiction of shoujo charcters started from its traditional femininity aspects to its female empowerment form as a heroine characters in anime. But, differing from the typical anime, Sen to Chihiro no Kamikakushi, an anime made by Hayao Miyazaki under the name of Studio Ghibli, has different representation of its shoujo characters. Chihiro had to go through an empowering process to change from being weak to being an empowered female. With this thesis, the writer attempts to examine the characters empowerment process and the outcomes that has impact on building a new shoujo identity through Chihiro as a shoujo character."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusra Khairunnisa
"ABSTRACT
Penelitian ini membahas mengenai kecantikan khas Jepang yang disajikan dalam iklan Shinzui sebagai produk lokal Indonesia selama dua dekade, yaitu dekade tahun 2000an dan dekade tahun 2010an. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan teori semiotika oleh Roland Barthes. Metode yang digunakan skripsi ini adalah deskriptif analisis dan studi kepustakaan. Hasilnya adalah iklan-iklan Shinzui merepresentasikan cantik khas Jepang yaitu kulit putih alami, yang juga diinginkan di Indonesia. Kecenderungan iklan Shinzui terhadap Jepang karena citra Jepang yang baik di Indonesia, salah satunya mengenai kecantikan.

ABSTRACT
This study discusses the Japanese beauty presented in Shinzui advertisements as a local Indonesian product for two decades, 2000s and 2010s. This study was written using the theory of semiotics by Roland Barthes. The method used in this paper is descriptive analysis and literature study. The result is Shinzui advertisements represents Japans beautiful natural white skin, which is also desirable in Indonesia. The tendency of Shinzui advertisement towards to Japan because Japan has a good image in Indonesia, one of them is about beauty."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arif Rohman Hakim
"Salah satu kecenderungan pemain dalam sebuah video game adalah larut dalam peristiwa yang dialami dalam dunia digital. Sword Art Online (SAO) merupakan salah satu bentuk cerita yang mengeksplorasi tema tersebut. Pada tahun 2018, SAO diadaptasikan dalam sebuah bentuk permainan bernama permainan Integral Factor (IF) yang memungkinkan penggemarnya untuk mengalami hidup dalam dunia digital SAO dengan cara menciptakan identitas mereka sendiri. Tesis ini dibuat untuk menganalisis bagaimana sebuah permainan mengonstruksikan identitas pemain di dunia digital. Kajian adaptasi digunakan untuk mengkaji perubahan SAO ke dalam aspek naratif dan ludologis IF. Konsep storyplaying Domsch digunakan untuk menganalisis aspek permainan. Sedangkan konsep Deleuze tentang virtualitas, becoming, dan reteritorialisasi digunakan untuk mengkaji bentukan identitas dan dampak dari konstruksi tersebut. Strategi naratif dan ludologi IF bertumpu pada cutscene dan percabangan dialog sehingga mengurangi agensi pemain dan hilangnya subjektivitas. Semesta cerita IF menunjukkan adanya konsep penyatuan antara dunia aktual dan digital. Identitas virtual pemain tercipta melalui assemblage antara pemain, semesta cerita IF dan cerita SAO dalam bentuk becoming-anime. Realitas virtual yang dialami pemain adalah diri yang didefinisikan melalui narasi. Hal ini mengakibatkan pemain mengalami reteritorialisasi yakni restabilisasi identitas sebagai tokoh dalam semesta SAO yang kemudian menempatkan pemain sebagai sebuah komoditas.

Player of video game tends to immerse themselves onto digital realities and create emotional bound with digital environment. Sword Art Online (SAO) is known as a story that explore human relation with digital environment. In 2018, SAO has been adapted onto mobile video game namely Integral Factor (IF) which allowing fans to experience SAO universe by creating their character. This article will discuss player’s constructed digital identity created by video game. Theory of adaptation is used to read the transformation of SAO onto narrative and ludology aspect in IF. The concepts of becoming, virtuality, and territorialization by Gilles Deleuze is used to read virtual identity dimension in IF. Narrative and ludology strategy in IF relied on cut scene and dialog tree reducing player’s agency which resulted in loss of subjectivity. Storyworld IF shown the concept of uniting actual world and digital world. The virtual identity is created form assemblage between player, anime SAO, and IF in the form of becoming-anime. Reality in virtual video game IF defined as self that constructed by video game narrative. Thus makes player experienced reterritorialization or restabilized identity as character in SAO Universe and turns player as a commodity.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sihombing, Wemmy
"Video “A Day in My Life” (ADML) adalah salah satu jenis konten di TikTok yang menceritakan kegiatan keseharian pemilik konten. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi permasalahan yang muncul dari praktik video ADML di TikTok terutama dalam konteks Indonesia, yaitu konstruksi femininitas. Penelitian ini menggunakan metode analisis tekstual untuk bagaimana Tiktokers perempuan di Indonesia mengkonstruksi femininitas dan bagaimana ADML mengafirmasi atau bernegosiasi dengan ideologi dominan yang ada dalam masyarakat, dalam hal ini ideologi patriarki. Korpus penelitian adalah dua akun Tiktokers yang memiliki engagement tinggi. Temuan penelitian menunjukkan @sindisafitrii dan @gelialinda mengkonstruksi pemaknaan terhadap femininitas yang mengafirmasi ideologi patriarki terutama dalam isu menikah muda. Video ADML dari kedua akun ini menggambarkan perempuan menikah muda karena adanya faktor sosial dan nilai budaya serta membangun narasi dominan, yaitu menikah adalah halal. Selain itu, dalam isu menikah muda, video ADML menunjukkan konstruksi sosial mengenai peran domestik antara suami istri ketika di satu sisi, ada usaha untuk menempatkan peran yang seimbang antara suami dan istri di ruang domestik, akan tetapi suami yang melakukan peran domestik dianggap tidak lazim atau bahkan diglorifikasi. Temuan lain menunjukkan masih adanya representasi perempuan menikah muda sebagai jalan mendapatkan companionship dan jaminan finansial walaupun terdapat video ADML yang menampilkan perempuan harus mandiri secara finansial. 

A Day in My Life (ADML) articulating one’s day to day activities is one of video contents in TikTok. This research aims to explore how femininity is constructed through ADML videos in the Indonesian context. By utilizing textual analysis method, this article highlights how Indonesian female TikTokers affirm or negotiate with the dominant ideology in the society, in this case patriarchal ideology. The case studies for this research are two TikTok accounts that have a strong engagement. The finding of the study shows that both Ticktokers, @sindisafitrii and @gelialinda, construct femininity while affirming the patriarchal ideology in marrying at such a young age due to social factor and culture constructions. Besides, marrying at a young age is also a part of the social construction in Indonesia that marriage is considered “halal” or lawful or permitted under Islamic law. On the other hand, ADML videos by both TikTokers are also ambiguous in potraying the domestic role divisions between husband and wife. Although the husbands who are in charge in domestic role is considered uncommon, there are still efforts to position the balanced spouse role in the domestic space. Research findings also uncover that in their ADML videos, they portray how women should gain personal financial security; even though, they also depict that as young women, tehy decide to get married early in order to obtain companionship and financial guarantees. The ambiguous portrayal of how femininity is constructed in both TikTok account through their A Day in My Life videos represents how they affirm yet negotiate with patriarchal ideology."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatia Nurizky
"Manga sebagai salah satu bagian dari kebudayaan populer Jepang memiliki satu genre yang unik yaitu Boys Love (BL). Genre ini berfokus kepada romansa yang terjadi di antara dua orang laki-laki homoseksual. Penelitian ini menggunakan teori wacana dan menggunakan metode semiotika untuk mengkaji tanda-tanda yang terdapat di dalam manga Boys Love. Tanda-tanda tersebut melingkupi apa yang menggambarkan anti-heteronormativitas dan anti-hegemoni maskulinitas dalam masyarakat Jepang. Melalui kajian tanda dalam manga tersebut, diharapkan perlawanan-perlawanan terhadap wacana heteronormativitas dan hegemoni maskulinitas dapat dilihat dan diteliti secara mendalam.

Manga as one aspect of Japanese Popular Culture has one unique genre called Boys Love (BL). This genre focuses on romance between homosexual men. This research uses discourse theory and semiotic method to decipher the signs contained in Boys Love manga. Those signs includes the depictions of anti-heteronormativity and anti-hegemonic masculinity in Japanese society. Through the sign deciphering, it is expected that the oppositions against heteronormativity and hegemonic masculinity can be seen and researched thoroughly."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2016
T45073
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Sigma Exacta
"ABSTRAK
Tesis ini berfokus pada salah satu fenomena hidden homeless di Jepang yaitu Net Café Refugees sebagai salah satu permasalahan sosial dalam masyarakat Jepang kontemporer.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah latar belakang yang dialami seseorang sehingga terjebak dalam situasi Net Café Refugees.
Data yang diperoleh merupakan data primer dari hasil wawancara melalui film dokumenter dan data sekunder dari hasil penelitian kepustakaan serta pengumpulan data dari sumber-sumber publikasi lainnya seperti artikel elektronik maupun jurnal ilmiah. Model analisis yang digunakan bersifat deskriptif eksploratif.

ABSTRACT
This research focused on one of hidden homeless phenomenon in Japan, Net Café Refugees as one of social problem in contemporary Japanese society.
This study attemps to examine the background experienced by people who are stucked in a Net Café Refugees situation.
The primary data were obtained from interviews through documentary films and the secondary data were from the result of literature research as well as the collection of data from publications resources such as electronic articles and scientific journals. This research used descriptive explorative method to analyze the data.
Based on the findings, it can be concluded that the causes of the Net Café Refugees phenomenon are motivated by economic, political and cultural factors.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2015
T45568
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iqbal Eka Junianto
"Minat masyarakat Indonesia terhadap budaya Jepang khususnya anime semakin meningkat seiring kemajuan teknologi digital. Pada tahun 2022, berdasarkan tools google trends, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan pencarian terbanyak terkait anime Jepang. Hal tersebut menjadi salah satu alasan banyaknya media dan berita online yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah Wibu terbanyak di dunia. Wibu merupakan istilah yang merujuk pada seseorang yang berada di luar Jepang, tetapi menyukai bahkan cenderung terobsesi dengan budaya negeri tersebut. Adanya fenomena Wibu di Indonesia sering disalahmaknakan sebagai Japanofilia oleh sebagian besar masyarakat. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti menemukan adanya konstruksi yang membentuk stereotipe Wibu di Indonesia. Salah satu stereotipe Wibu yang ditemukan peneliti antaralain “Wibu bau bawang”, “Wibu Nolep”, dan “Wibu mesum” yang sempat populer beberapa tahun lalu. Adapun, konstruksi tersebut banyak ditemukan peneliti dalam berbagai media sosial digital khususnya YouTube sebagai media sosial yang dianggap paling informatif di Indonesia. Oleh sebab itu, penelitian ini akan menganalisis konstruksi stereotipe Wibu berdasarkan data yang diambil dari Youtube dan media daring lainnya. Dalam melakukan penelitian penliti menggunakan metode etnografi digital untuk mengumpulkan data. Melalui pendekatan kultural studi, penelitian ini mencoba menjabarkan konstruksi Wibu Indonesia melalui video - video di Youtube sebagai proses fenomena budaya di era globalisasi. Berdasarkan penelitian ini, peneliti menemukan peran YouTube dalam membentuk konstruksi stereotipetis Wibu di Indonesia sekaligus menjadi media negosiasi terhadap budaya tersebut.

Indonesian people's interest in Japanese culture, especially anime, is increasing along with advances in digital technology. In 2022, based on Google Trends tools, Indonesia will be ranked third as the country with the most searches related to Japanese anime. This is one of the reasons why many media and online news say that Indonesia is one of the countries with the highest number of Wibu in the world. Wibu is a term that refers to someone who is outside Japan, but likes and even tends to be obsessed with the culture of that country. The existence of the Wibu phenomenon in Indonesia is often misinterpreted as Japanophilia by most people. Based on this phenomenon, researchers found that there are constructions that form the stereotype of Wibu in Indonesia. One of the Wibu stereotypes found by researchers includes "Wibu smells of onions", "Wibu Nolep", and "Wibu perverted" which were popular several years ago. Meanwhile, researchers have found this construction in various digital social media, especially YouTube, as the social media that is considered the most informative in Indonesia. Therefore, this research will analyze the construction of the Wibu stereotype based on data taken from YouTube and other online media. In conducting research, researchers use digital ethnographic methods to collect data. Through a cultural study approach, this research tries to explain the construction of Indonesian Wibu through videos on YouTube as a cultural phenomenon process in the era of globalization. Based on this research, researchers discovered the role of YouTube in forming the stereotypical construction of Wibu in Indonesia as well as being a media for negotiating this culture."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library