Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 27 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aga Febriawan Pamungkas
"ABSTRAK
Telah banyak dilakukan penelitian tentang efek dari audience terhadap performa kerja seseorang. Akan tetapi, tidak banyak penelitian yang mencari tahu tentang bagaimana tingkat otoritas seseorang memengaruhi audience effect dalam memengaruhi performa seseorang. Mengacu kepada white coat effect dalam ruang lingkup klinik, kita berpendapat bahwa adanya authority presence akan memengaruhi performa seseorang. 3-level between subject study dilakukan kepada 30 mahasiswa di University of Queensland. Performa peserta yang tersebar dalam 3 kelompok (no audience, audience (dengan jas lab), dan audience (tanpa jas lab)) diukur dengan verbal fluency test. Penelitian kami menemukan bahwa peserta dalam kelompok dengan kondisi adanya authority presence yang menggunakan jas lab memilki performa terbaik, diikuti dengan kelompok tanpa audience presence, dan performa terburuk dilakukan oleh peserta dalam kondisi dengan audience presence tanpa jas lab. Ditemukan pula kemungkinan kecil adanya social facilitation yang disebabkan oleh authority presence yang menggunakan jas lab, berbeda dengan argument awal kita. Akan tetapi, t-test kita menemukan tidak adanya perbedaan signifikan dalam performa seseorang mengerjakan verbal fluency test di antara kelompok dengan adanya authority presence dan kelompok tanpa authority presence. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh lemahnya manipulasi authority presence. Untuk kedepannya, peneliti alangkah baiknya mempertimbangkan bahwa mengandalkan pakaian saja tidak cukup untuk melakukan manipulasi authority presence.

ABSTRACT
There has been many research regarding the effect of audience on performance. However, there was not many research on how sense of authority might influence audience effect on performance. Based on the white coat effect in clinical setting, we argued that authority presence might impair performance. 3-level between subject study was conducted with 30 University of Queensland (UQ) students. Participants performance across 3 groups (no audience, audience (lab coat), audience (no lab coat)) is measured through the same verbal fluency test. It is found that university students performed best in the presence of authority with a lab coats, followed by no audience condition, followed by audience condition (without lab coat). This result hinted a social facilitation that caused by authority presence (lab coat), in contrast with what argued. However, further analysis of t-test results found that there was no significant difference in performance between condition with authority presence and condition without authority presence. This might be caused by the weak manipulation of authority presence. Further research should consider that relying on apparel itself might not be enough to manipulate authority presence.
"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nabilah Budhi Harto
"ABSTRAK
Penelitian ini menguji sifat psikometrik dari New Obsessive Compulsive Scale (NOCS) dan kualitas barangnya. Dalam tutorial, siswa merumuskan item baru berdasarkan karakteristik yang terdiri dari perilaku kompulsif obsesif. Ini dikritik sebagai kelas untuk menghapus atau menulis ulang item yang bermasalah. Data percontohan diperoleh untuk mengevaluasi lebih lanjut kegunaan barang, sebelum menyelesaikan Skala Kompulsif Obsesif Baru. Semua data dikumpulkan dari118 mahasiswa psikologi sarjana di The University of Queensland di mana mereka telah menyelesaikan Skala Kompulsif Obsessif Baru, di antara tindakan-tindakan lain, dalam tutorial PSYC3020 mereka. Hasil mengungkapkan bahwa Skala Kompulsif Obsesif Baru memiliki keandalan yang dapat dipertanggung jawabkan dan konsistensi internal (= 0,82). Selain itu, skor NOCS berkorelasi positif dengan Obesessive Compulsive Inventory - Revisi (OCI-R) (r = .82), Beck Depression Inventory (BDI) (r = .32) dan Skala Kecemasan dan Stres Skala (DASS) (r = .52), dengan demikian mengusulkan bahwa Skala Baru adalah dapat diandalkan dan valid. Rekomendasi dibuat untuk meningkatkan studi di masa depan.

ABSTRACT
The present study examined the psychometric properties of the New Obsessive Compulsive Scale (NOCS) and its item quality. In a tutorial, students formulated new items based on the characteristics comprising obsessive compulsive behaviour. These were critiqued as a class to remove or reword problematic items. Pilot data was obtained to further evaluate the usefulness of items, before finalizing the New Obsessive Compulsive Scale. All data were collected from118 undergraduate psychology students in The University of Queensland in which they have completed the New Obsessive Compulsive Scale, amongst other measures, in their PSYC3020 tutorial. Results revealed that New Obsessive Compulsive Scale has a liable reliability and internal consistency ( = .82). Furthermore, NOCS scores was positively correlated with the Obsessive Compulsive Inventory - Revised (OCI-R) (r = .82), Beck Depression Inventory (BDI) (r = .32) and Depression Anxiety and Stress Scale (DASS) (r = .52), thereby proposing that the New Scale is a tolerably reliable and valid. Recommendations were made in order to improve future studies."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Birgitta Alindi Prathitakanya
"ABSTRAK
Tekanan waktu dapat mempengaruhi pembentukan social loafing. Jurnal ini mempunyai tujuan
untuk menginvestigasi pembentukan social loafing antar partisipant dalam kondisi dimana mereka
diberi tekanan waktu. Riset ini menggunalan 36 murid dari The University of Queensland kampus
St. Lucia dengan 2x2 between group design yang dimana participant akan diminta untuk
mengerjakan tugas secara individu (koaktif) atau berkelompok (kolektif) dalam kondisi dibawah
tekanan atau tidak dibawah tekanan. Hasil dari riset ini akan menhitung jumlah jawaban yang sama
untuk menginvestigasi pembentukan social loafing. Hasil Independent t-test menyatakan bahwa
tidak ada perbedaaan significant antar kelompok coactive dan collective , t (1,34) = -1.77, p = .086.
Ditambah lagi hasil menunjukan bahwa tidak ada hasil significant antar kelompok yang diberi
tekanan waktu dan kelompok yang tidak diberi tekanan waktu , t (1,34) = 0.97 p = .350. Hal ini
bisa terjadi dikarenakan tugas yang diberikan kepada participant terlalu menarik. Ini menunjukan
bahwa tekanan waktu tidak selalu mempengaruhi fenomena social loafing terutama jika tugas yang
diberikan menarik. Riset dengan tugas yang lebih kurang menarik sangat disarankan untuk
dilakukan.

ABSTRACT
Time pressure might affect the occurrence of social loafing. Therefore, this study has an aim to
investigate whether social loafing occur in condition where participants had time pressure. This
study conducted among 36 students from The University of Queensland St Lucia campus with 2x2
between group design where the participants were asked to do the task individually (coactive) or
collectively in either under time pressure or non-time pressure. The study would measure whether
the participants engage in social loafing by looking how many similar words found in the result.
An independent t-test result revealed that there was no significant difference between collective
and coactive work, t (1,34) = -1.77, p = .086. Moreover, non-significant result also found between
collective participants under non-time pressure with collective participant under time-pressure, t
(1,34) = 0.97 p = .350, this was possible because the task given to the participant was too
interesting. This indicate that time pressure did not always affect social loafing, especially when
the task is interesting. Further research about time pressure and social loafing experiment with task
that was not too interesting for the participants is highly recommended.
"
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Zulfikar Ilham Mirza
"Social Loafing merupakan fenomena yang dikenal saat individu dalam kelompok mengeluarkan kinerja yang lebih kurang jika di banding saat individu bekerja sendiri. Partisipan terdiri dari 39 Mahasiswa yang telah meluangkan waktunya untuk penelitian ini. Mereka ditetapkan secara acak kepada dua kondisi: Collective (kelompok) dan Coactive (individual) dan dua kondisi tekanan: Tekanan Tinggi dan Tekanan Rendah.  Partisipan ditugaskan untuk menyelesaikan teka-teki kata dalam dua kondisi berikut.
Hasil menunjukan bahwa kedua kondisi tekanan tidak menunjukan perbedaan signifikan dalam performa, dan kedua kondisi kerja pun tidak menunjukan hasil signifikan dalam performa, t(34) = .97, p = .346. Implikasi penelitian ini menyatakan bahwa kondisi tekanan tidak mempengaruhi social loafing.
Social loafing is a widely known phenomenon described as when an individual in a group produces less effort compared to when the same individual is working coactively.  This study looks at the effects of pressure-more specifically-time pressure on social loafing. Participants consisting of 39 University Students took part in this study. They were randomly assigned into two work conditions: Collective or Coactive conditions and two pressure conditions: High Pressure or Low-Pressure conditions.  Participants were to complete a word-search puzzle in these conditions.
Results show that neither work conditions show significant differences in performance nor do the two pressure conditions exhibit any significant differences in task performance, t(34) = .97, p = .346.  This implies that pressure conditions does not effect social loafing."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dea Amelia Hadikusumah
"Penelitian telah menemukan bahwa imbalan hadiah meningkatkan motivasi dalam kompetisi antarkelompok, memengaruhi efek ‘social loafing’. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah efek dari kompetisi sendiri sudah cukup untuk melemahkan ‘social loafing’tanpa memberikan imbalan apa pun untuk 'pemenang'. Desain antar kelompok 2x2 digunakan. Peserta adalah 44 siswa UQ yang ditugaskan secara acak baik dalam kondisi kompetisi / tidak ada kompetisi dan kondisi koaktif / kolektif untuk menyelesaikan tugas ‘brainstorming’(menghasilkan ide untuk penggunaan sendok dalam 3 menit). Peserta dalam kondisi kompetisi diberitahu bahwa mereka saling bersaing satu sama kain. ‘Social loafing’diukur dengan jumlah ide yang dihasilkan per orang. Hasil mengungkapkan bahwa peserta yang bekerja secara kolektif menghasilkan lebih sedikit ide daripada yang bekerja secara koaktif, t(42) = 3.41, p = .001. Hasil signifikan ini membuktikan bahwa social loafingtelah terjadi di kondisi kolektif. Terlebih dari itu, hasil juga menunjukkan bahwa peserta dalam kondisi kompetisi-kolektif menghasilkan lebih banyak ide daripada kondisi kolektif tanpa kompetisi, t(22) = -5.46, p< .001. Hasil signifikan ini menunjukkan bahwa kompetisi ternyata dapat mengurangi kejadian social loafing.Penelitian kedepannya sebaiknya menyelidiki adanya komponen kompetisi pada ‘social loafing’, terutama pada faktor-faktor yang dapat memoderasi nilai hasil seperti kecenderungan individu.

Studies have found that rewards increase motivation in intergroup competition, influencing the effects of social loafing. This study aimed to examine if the effects of competition on its own is enough to attenuate social loafing without providing any rewards for the ‘winner’. A 2x2 between-groups design was used. Participants of 44 UQ students who were randomly assigned in either the competition/no-competition condition and coactive/collective condition completed a brainstorming task (generate ideas for uses of a spoon in 3 minutes). Participants in the competition conditions were told they were competing. Social loafing was measured by the number of ideas generated per person. Results revealed that participants working collectively significantly generated fewer ideas than those working coactively, t(42) = 3.41, p = .001. Social loafing did in fact occur in the collective condition. Furthermore, it was found that participants in the collective–competition condition significantly generated more ideas than the collective–no-competition condition,t(22) = -5.46, p< .001. This implies that competition can reduce the occurrence of social loafing. Future research should investigate competition on social loafing, particularly on the moderating factors of individual dispositions.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andhika Prakoso
"Kebutuhan pengukuran kemampuan visual-spasial sebagai salah satu penunjang keputusan pemilihan program peminatan siswa kelas 10 Sekolah Menengah Atas menjadi dasar pertimbangan konstruksi alat ukur kemampuan visual-spasial. Teori Cattel-Horn-Carroll sebagai teori inteligensi paling komprehensif untuk menggambarkan struktur kognitif manusia digunakan sebagai dasar pembuatan alat ukur ini. Penelitian bertujuan untuk mengonstruksi alat ukur yang konsisten, valid mengukur kemampuan visual-spasial, memiliki item yang mampu membedakan kemampuan individu dengan pilihan jawaban distraktor yang berfungsi, serta memiliki skor yang bermakna. Penelitian dilakukan kepada siswa kelas 10 SMA, di tiga sekolah di DKI Jakarta n=97; Musia=16,01 tahun; nwanita=64 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur Visual-Spasial memiliki tingkat konsistensi internal baik ?=0,714 , mampu mengukur kemampuan visual-spasial melalui uji validitas konstruk dengan alat ukur TIKI-M subtes 2 Gabungan Bagian r=0,227.

The needs of visual spatial ability measurement as a recommendation for majoring in 10th grade high school students forming the basis for constructing a visual spatial test. Cattell Horn Carroll Theory, currently the most comprehensive theory of intelligence, becomes a structural framework of this test. This research attempts to construct a consistent and valid measure of visual spatial ability. It also attempts to construct visual spatial test that contains items which can discriminate individual ability, has distractors that perform well and spread evenly among false options, and can be meaningfully interpreted. This research administered to 97 10th grade high school students, from three high school in Jakarta Mage 16.01 nwomen 64 . Results from this study shown that Visual Spasial measurement is internally consistent 0,714 , correlated significantly with subtest 2 Gabungan Bagian r 0,227."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
S67719
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasyani Karima
"Guru dikatakan sebagai penentu keberhasilan dalam pendidikan. Meskipun begitu, masih banyak guru yang belum kompeten dan berkualitas di Indonesia dan kurangnya antusiasme guru dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Hal ini menjadi dasar pengembangan alat ukur Skala Antusiasme Guru SAG di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun alat ukur yang konsisten secara internal, valid mengukur antusiasme guru, memiliki item yang mampu membedakan individu, serta menyusun norma. Penelitian dilakukan kepada guru sekolah menengah di 15 sekolah di Jabodetabek n=299. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur SAG memiliki tingkat konsistensi internal yang baik ?=0,886, valid mengukur antusiasme guru melalui uji validitas konstruk dengan alat ukur new general self-efficacy pada dimensi antusiasme dalam mata pelajaran r=0,379, p.

Teachers are said to be the determinants of academic success. However, there are still many teachers who are not competent and qualified in Indonesia with lack of teacher enthusiasm is considered as one of the main cause. This became the basis for the development of Skala Antusiasme Guru SAG in Indonesia. This study aims to construct a test that internally consistent, validly measure teacher 39 s enthusiasm, have items that able to discriminate individuals, and set the norms. The study was conducted on secondary teachers in 15 schools in Jabodetabek area n 299. Result of the study shown that SAG has good internal consistency 0,886, validly measure teacher 39s enthusiasm through construct validity check with new general self efficacy test in subject enthusiasm r 0,379.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thelma Ghatya
"Kualitas pendidikan Indonesia masih berada dibawah rata-rata kualitas pendidikan dunia dan memerlukan banyak pengembangan. Berdasarkan studi literatur, guru yang efektif merupakan kunci utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap siswa dan dirinya merupakan salah satu karakteristik utama guru efektif. Ekspektasi yang tinggi dapat disebut sebagai Teacher Academic Optimism. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi alat ukur yang konsisten, valid mengukur teacher's academic optimism, memiliki item yang mampu membedakan karakteristik optimism akademik guru, serta memiliki norma menginterpretasi skor.
Penelitian dilakukan kepada guru sekolah tingkat menengah di 15 SMP dan SMA Jabodetabek n=295; Musia= 47,4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur Optimisme Akademik Guru OAG memiliki konsistensi internal yang baik ? = 0,917, memiliki kecocokan good fit dengan model yang ada RMSEA=0,077; CFI=0,96, valid dalam mengukur teacher academic optimism karena berkorelasi dengan optimism disposisional yang secara teoretis berhubungan r = 0,468, n = 295, p.

Indonesia 39s education quality still below the average of world wide education quality and need a lot of improvement. Based on literature studies, effective teachers are the key to improving the quality of education. Having high expectations of students and itself is one of the main characteristics of effective teachers. High expectations can be explained as Teacher 39 s Academic Optimism. This study aims to construct a consistent, valid scale of teacher 39s academic optimism, having items that differentiate the characteristics of teachers academic optimism, as well as having norms to interpret scores.
The study was conducted to middle school teachers in 15 junior high and senior high schools in Jabodetabek n 295, Mage 47.4. The results showed that the Teachers Academic Optimism OAG scale has good internal consistency 0.917, has a good fit with proposed model RMSEA 0.077, CFI 0.96, valid in measuring teacher 39s academic optimism because it correlates with theoretically related dispositional optimism r 0.468, n 295.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhliyah Tania Heryanto
"Adaptabilitas menjadi karakteristik yang dibutuhkan guru untuk menghadapi perkembangan pendidikan yang dinamis seiring berkembangnya zaman. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat ukur untuk mengetahui tingkat kecenderungan karakteristik adaptabilitas pada guru. Penelitian bertujuan untuk mengkonstruksi alat ukur yang memiliki konsistensi, valid mengukur adaptabilitas guru, memiliki item yang mampu membedakan kemampuan individu, dan memiliki skor yang bermakna. Penelitian dilakukan kepada guru sekolah menengah di wilayah Jabodetabek n=290. Hasil pengujian menunjukkan bahwa alat ukur Adaptabilitas Guru dengan 24 item memiliki konsistensi internal yang baik ? = 0,895, mampu mengukur adaptabilitas guru melalui uji validitas konstruk dengan agreeableness r=0,217, p.

Adaptability becomes an important characteristic for teacher to face the development of dynamic education as time progress. Therefore, a test that measures teachers level of adaptability is needed. This research aims to construct a consistent and valid measure of teachers adaptability test that contains items which can discriminate individual ability and can be meaningfully interpreted. This reasearch was administered to 290 junior and senior high school teachers in Jabodetabek area. Result from this study showed that Teacher's Adaptability measurement is internally consistent 0,895 and able to measure teacher's adaptability through construct validity test r 0,217.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Linda Dinartika
"Membentuk dan membina hubungan romantis adalah tugas perkembangan dewasa muda. Salah satu faktor pendorongnya adalah relationship contingency of self-worth (RCSW). Berdasarkan studi Sanchez dan Kwang (2007), RCSW dapat mengakibatkan body shame. Oleh karenanya, penting ditemukan suatu aspek diri yang dapat mengurangi dampak buruk dari RCSW yakni self-efficacy dalam hubungan romantis (SEHR). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi prediksi RCSW dan SEHR terhadap body shame, serta mengidentifikasi ada atau tidaknya peran SEHR sebagai moderator dari RCSW dengan body shame. Pengukuran self-report dilakukan pada 186 orang berusia 21-40 tahun di Jabodetabek. Dengan menggunakan teknik statistik regresi didapati bahwa RCSW dapat memprediksi body shame secara positif dan SEHR mampu memprediksi body shame secara negatif. Namun, tidak ada peran moderasi dari SEHR pada hubungan RCSW dengan body shame.

Developing and maintaining a romantic relationship is a young adulthood’s development task. Relationship contingency of self-worth has known as one of its factor. Grounded on Sanchez and Kwang’s (2007) study, RCSW could cause body shame. Hence, it was important to find a self-aspect which could lessen RCSW’s negative impact, that was self-efficacy in romantic relationship (SERR). This study examined to identify RSCW and SERR predictions toward body shame, also identified SERR’s presence as the moderator of RCSW and body shame. A self-report measurement was done to 186 individuals aged 21-40 years old in Jabodetabek. By using regression techniques, it was found that RCSW could predict body shame positively and SERR could predict body shame negatively. Yet there was no moderation effect of SERR on RCSW and body shame relationship.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55111
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>