Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 36 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anton Bahtiar
"Pada organisme aerob, oksigen direduksi sempurna menjadi air di akhir rantai pernafasan di mitokondria yang menyediakan energi untuk menjaga fungsi normal set. Tetapi di dalam mitokondria ada molekul oksigen yang direduksi sebagian membentuk superoksida. Superoksida adalah radikal bebas, senyawa kimia yang mempunyai elektron tidak berpasangan. Radikal bebas sangat penting untuk banyak proses biologi seperti untuk melawan mikroorganisme yang patogen. Namun radikal bebas dapat merusak bila tidak dikontrol dan menyebabkan stres oksidatif.
Stres oksidatif terjadi pula di jantung saat direoksigenasi setelah hipoksia, cedera yang terjadi disebut reperfusion injury. Jantung akan kehilangan fungsinya terutama kontraktilitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kurkumin pada cedera reperfusi. Kurkumin adalah antioksidan yang mempunyai 2 cincin fenol. Kurkumin diduga' dapat mencegah ceders reperfusi setelah hipoksia jantung yang dilakukan pads model the isolated working heart. Penelitian ini menggunakan marmut jantan yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok kurkumin 0,25 1.tM, clan kelompok kurkumin 0,5 µM. Efek proteksi kurkumin dilihat dengan mengukur aliran darah koroner, aliran darah aorta, tekanan sistolik dan pengamatan histopatologi jantung.
Aliran darah koroner meningkat selama reoksigenasi setelah 60 menit hipoksia, dengan kurkumin aliran darah koroner cenderung menurun. Aliran darah aorta dan tekanan sistolik menurun selama reoksigenasi setelah hipoksia 60 menu, dan cenderung meningkat setelah pemberian kurkumin. Histopatologi jantung yang direoksigenasi setelah hipoksia 60 menit memperlihatkan perubahan pada sel jantung. Kurkumin dosis 0,25 p.M cenderung iebih balk clan pada dosis 0,5 p.M dalam memproteksi jantung selama reoksigenasi setelah hipoksia 60 menit.

The Effect of Curcumin Toward Coronary Flow, Aortic Flow, And Systolic Pressure in Hypoxia and Reoxygenation Isolated Working Heart Guinea PigIn aerobic organisms oxygen is converted to water at the end of the respiratory chain in mitochondria which provide the energy needed to maintain normal body function and metabolism. However, in the same mitochondrial respiratory chain, oxygen is "partially reduced" to form super oxide. Super oxide is a free radical, a chemical species with an unpaired electron. Free radicals are essential for many normal biological processes, i.e., they are essential in the response of tissue to invading microorganisms. However, they can be destructive if they are not tightly controlled.
The oxidative stress also changes the heart in reoxygenation after hypoxia, which is called as reperfusion injury. The heart loses its function, especially contractility.
The present study was conducted to find out the effect of curcumin in reoxygenation injury. Curcumin is an antioxidant, a symmetrical compound with two phenyl rings. It is hypothesized that curcumin is active to reduce reperfusion injury after hypoxia in the heart, assayed by the working guinea pig heart model. Three groups of male guinea pigs were used in this study, consisting of control group, curcumin 0, 25 µM, and curcumin 0,5 pM groups. The protective effect of curcumin was investigated by measuring coronary flow, aortic flow and systolic pressure, and by observing the histopathology of the heart.
Reoxygenation of the heart after 60 minutes of hypoxia resulted in increased coronary flow, and curcumin decreased the coronary flow. Aortic flow and systolic pressure decreased during reoxygenation after 60 minutes of hypoxia, and curcumin increased aortic flow and systolic pressure. histopathology of the heart after reoxygenation and 60 minutes of hypoxia showed changes of the myocardium. Curcumin 0,25 µM was better than curcumin 0,50 p.M as a protective agent during reoxygenation after 60 minutes of hypoxia."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
T10962
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shirly Palupi Setiawan
"Skripsi ini bertujuan untuk menganalisa efek perang nilai tukar secara keseluruhan di negara - negara berkembang melalui survei studi. Studi ini juga menginvestigasi efek devaluasi dalam jangka pendek terhadap neraca perdagangan secara empiris. Model regresi digunakan dalam menganalisa hubungan antara nilai tukar dan neraca perdagangan untuk membuktikan hipotesa Kurva J dengan menggunakan  panel data dari 8 negara - negara berkembang dalam periode 2000 - 2016. Negara - negara tersebut yang terdiri dari Venezuela, Brazil, China, Iran, Congo, Malaysia, Philippines, and Uruguay diklasifikasikan berdasarkan rezim nilai tukar. Hasil studi menunjukkan bahwa efek jangka pendek devaluasi berdampak buruk terhadap neraca perdagangan disebabkan oleh tingginya ketergantungan imported inputs dalam produksi barang ekspor pada negara - negara berkembang.

This paper presents a survey study reviewing the overall effects of currency wars in developing countries. The study also investigates the short run effects of devaluation on trade balance particularly in an empirical study. A regression model is established to analyse the relationship between exchange rates and the trade balance in verifying the J-curve hypothesis by using a panel data of eight developing countries for the period 2000 - 2016. These countries, which consist of Venezuela, Brazil, China, Iran, Congo, Malaysia, Philippines, and Uruguay, are classified based on their exchange rate regimes. The findings indicate that the short run effects of devaluation lead to a worsening in trade balance due to most of developing countries are highly dependence on imported inputs in their production of exports.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia , 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Randy Adianto Prathama
"ABSTRAK
Dalam tugas ini, penulis di asumsikan berperan sebagai Jasmine Burbank, manajer senior di Bristol Merriweather & Partners (BMP). Penulis ditugaskan menyiapkan laporan kepada managing partner BMP, menjelaskan alasan mengapa firma harus (atau tidak harus) menghabiskan waktu dan sumber daya dalam menyiapkan tawaran untuk mendapatkan hak untuk mengaudit Delphinium LTD., sembari tetap mempertimbangkan keinginan Jasmine untuk mendapatkan klien baru dan keinginannya untuk meminimalkan risiko bisnis untuk BMP. Penulis juga harus menyiapkan laporan untuk engagement partner yang menjelaskan rekomendasi penulis mengenai penilaian persediaan barang (inventory) klien, apakah ada kebutuhan untuk penyesuaian nilai. Penulis juga akan menganalisis risiko yang datang dengan penilaian yang salah dalam penilaian persediaan barang dan bagaimana keputusan audit berpotensi mempengaruhi hubungan BMP dengan Delphinium LTD sebagai auditor dan klien.

ABSTRACT
In this assignment, the writer is assuming the role of Jasmine Burbank, senior manager in-charge at Bristol Merriweather & Partners (BMP). The writer is in-charge of preparing a report to the managing partner of BMP, explaining the rationale on why the office should (or should not) spend time and resources in preparing a bid to obtain the rights to audit Delphinium LTD., while keeping in mind the counterbalancing forces of Jasmine s desire to obtain a new client and her desire to minimise business risk for BMP. The writer must also prepare a report for the engagement partner explaining the writer s recommendation regarding the approval of the client s valuation of inventory, whether there is need for adjustment in inventory value. The writer will also analyse the risk that comes with incorrect valuation in inventory and how the audit decision could potentially impact relationship of BMP with Delphinium LTD as auditor and client.
"
Lengkap +
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Pratama Kurnia Dewi
"ABSTRAK
Uji klinis paralel alokasi acak terbuka ini bertujuan mengetahui pengaruh larutan cornflakes dan susu skim terhadap kadar insulin serum pasca lari 5.000 m pada pemain futsal putra usia 19 30 tahun. Subjek penelitian dibagi menjadi kelompok kontrol (KK) dan kelompok perlakuan (KP), masing-masing 10 orang, KK dan KP berturut-turut mendapat minuman isotonik dan larutan cornflakes dan susu skim 1.400 mL. Data yang diambil meliputi usia, indeks massa tubuh IMT, persentase lemak tubuh, asupan energi, karbohidrat, dan protein, serta kadar insulin serum dan glukosa darah. Pemeriksaan kadar insulin dilakukan pasca lari 5.000 m dan 1 jam pasca konsumsi minuman. Kadar glukosa darah diperiksa pra- pasca lari 5.000 m dan menit ke-15, 30, 60 pasca minum. Usia, IMT dan persentase massa lemak tubuh antara kedua kelompok tidak berbeda signifikan. Data laboratorium diperoleh dari 16 subjek, karena 4 orang subjek dikeluarkan, masing-masing 2 orang dari tiap kelompok. Kadar insulin serum pra konsumsi tidak berbeda signifikan KK 14,75 ± 8,69 IU/mL dan KP 9,04 (5,99 43,20)
IU/mL. Kadar insulin pasca konsumsi lebih tinggi pada KP tetapi tidak berbeda signifikan KK 32,48 ± 18,44 IU/mL dan KP 46,24 (14,50 183,00) IU/mL. Tidak terdapat perbedaan signifikan perubahan kadar insulin antara kedua kelompok, KK 17,72 ± 20,49 IU/mL dan KP 10,97 (4,00 173,00) IU/mL. Pada kedua kelompok terjadi peningkatan signifikan kadar insulin serum namun peningkatan yang lebih tinggi terjadi pada KP (p = 0,006) dibandingkan pada KK (p = 0,033). Kadar glukosa darah menit ke-15, 30 dan 60 lebih tinggi pada KK, tetapi tidak berbeda signifikan. Penelitian ini menunjukkan pemberian larutan cornflakes dan susu skim cenderung meningkatan kadar insulin serum pasca lari 5.000 m yang lebih tinggi dibandingkan dengan minuman isotonik pada pemain futsal putra usia 19 30 tahun.

ABSTRACT
This parallel open randomized clinical trial aims to investigate the effect of cornflakes and skim milk to serum insulin levels after 5,000 m running in male futsal players aged 19 30 years. Subjects were divided into a control group (C) and treatment group (T), 10 subjects each, C and T received 1,400 mL isotonic drinks or cornflakes and skim milk solution respectively. Data were collected included age, body mass index (BMI), body percentage fat , energy, carbohydrate, protein intake, serum insulin and blood glucose levels. Serum insulin levels were assessed after 5,000 m running and 1 hour after consumption of the beverages. Blood glucose levels were examined pre-post 5,000 m running and at 15, 30, and 60'
minutes post-drinking. Age, BMI and body fat mass percentage between the two groups did not differ significantly. Laboratory data obtained from 16 subjects, 4 subjects were excluded, 2 from each group. Serum insulin levels pre consumption did not differ significantly; C 14.75 ± 8.69 IU / mL and T 9.04 (5.99-43.20) IU / mL. Insulin levels after consumption was higher in T but did not differ significantly; C 32.48 ± 18.44 IU / mL and T 46.24 (14.50 183,00) IU / mL. There were no significant differences in insulin levels changes between the two groups; C 17.72 ± 20.49 IU / mL and T 10.97 (4.00 173,00) IU / mL. In both groups serum insulin levels increased significantly, higher increased occurred in the T (p = 0.006) compared with the C (p = 0.033). Blood glucose levels after 15, 30 and 60 minutes were higher in C, but did not differ significantly. This study showed cornflakes and skim milk solution tends to increase serum insulin levels after 5,000 m running higher than the isotonic drinks to male futsal players aged 19 30 years."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radhian Amandito
"Indeks massa tubuh yang tinggi berkaitan dengan banyak risiko penyakit, terutama penyakit pada sistem kardiovaskuler, serta diduga menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor. Selain itu pekerja yang mengalami keluhan tersebut memiliki fleksibilitas yang buruk. Akibat keluhan tersebut kualitas kerja para penderita menurun sehingga terjadi penurunan gaji atau kehilangan waktu kerja. Peneliti menduga bahwa keluhan yang serupa juga terdapat pada mahasiswa, terutama mahasiswa kedokteran. Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh dengan fleksibilitas.
Pada penelitian ini digunakan studi cross sectional mahasiswa fakultas kedokteran angkatan 2011 yang mengikuti praktikum uji fleksibilitas tubuh. Data didapatkan dari hasil praktikum mahasiswa di fakultas kedokteran pada bulan Juni 2013 dan didapatkan jumlah sampel 149. Data dianalisis dengan menggunakan uji cross tabulation dan uji chi square dengan menggunakan program SPSS Ver 21 for mac.
Tingkat fleksibilitas excellent adalah 45%, terbanyak ditemukan pada mahasiswa dengan IMT rendah sedangkan yang ditemukan pada mahasiswa dengan IMT tinggi adalah 41% yang excellent. Berdasarkan uji chi square tidak menunjukkan ada perbedaan bermakna antara skor IMT dan fleksibilitas mahasiswa. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara IMT dengan fleksibilitas pada mahasiswa kedokteran angkatan 2011.

High Body Mass Index is related with a lot of diseases? risk factor, especially diseases of the cardiovascular system, and also is thought to be one of the causes of musculoskeletal pain in office workers. Also, workers who experience such pain have bad flexibility. The musculoskeletal pain has a negative impact on the work quality of workers, causing a decrease in salary or decrease in work duration. It is suspected that a similar problem is happening in students, especially medical students. The goal of this research is to know the Body Mass Index and flexibility.
This research is a cross sectional study with medical students of batch 2011 who underwent flexibility test practical session. Data is gained from the practical assignment of medical students on June 2013 and a total of 149 samples was received. SPSS ver. 21 for Mac is the program used to analyze the data and descriptive test cross tabulation and chi square test was done.
We found that 45% of the flexibility score is excellent and mostly found in students with low BMI, whereas in students with high BMI there is 41% of excellent flexibility score. Based on chi square test there is no significancy between BMI and flexibility score of the students. It can be concluded that there is no association between BMI and flexibility in medical students batch 2011.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Natalia Rania S.
"Salah satu persyaratan yang harus dimiliki mahasiswa kedokteran adalah kebugaran fisik agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Power merupakan salah satu aspek dari kebugaran yang berperan penting dalam kehidupan manusia, misalnya untuk menggerakan tubuh, memindahkan benda, dan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan power pada mahasiswa kedokteran laki-laki dan perempuan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi FKUI dengan menggunakan 167 mahasiswa angkatan 2011 sebagai subjek penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dan data diolah menggunakan uji deskriptif crosstabulation serta chi-square. Dari 56 mahasiswa laki-laki yang mengikuti percobaan, sebagian besar subjek memiliki power pada kategori average, yaitu sebanyak 28 orang (50%).
Rerata tinggi lompatan pada subjek laki-laki adalah 50.76 cm. Dari 111 mahasiswa perempuan yang mengikuti penelitian, subjek paling banyak memiliki power pada kategori average, yaitu sebanyak 45 orang (40.54%). Rerata tinggi lompatan pada subjek perempuan adalah 34.92 cm. Dari analisis data didapatkan hasil signifikansi sebesar 0,582. Dapat disimpulkan bahwa power tidak memiliki hubungan dengan jenis kelamin mahasiswa.

One of the requirements faced by medical student is to have a strong physique so that they can perform their daily activity optimally. Power is one of the aspects in fitness that plays an important role in human life, for example for body movement, to transfer an object, and others. The aim of this study is to find out the difference of power in male and female medical students. The study was conducted in the Physiology Laboratory FKUI, the subject consisted of 167 students sample from batch 2011.
This study is using a cross-sectional methodology, and the data will be processed using descriptive cross-tabulation and chi-square test. From 56 male students taking the test, most of them can be categorized in average category with 28 students (50%).
The average vertical jump result for the male students is 50.76 cm. From 111 female students participating in the test, most of them also resulted in average category with 45 students (40.54%). The average vertical jump result for the female students is 34.92 cm. This data analysis produced a significance result of 0.582, which means that power does not have any relationship between gender (male and female) in medical student.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alexander Krishna Ernanda
"Minimnya data mengenai daya tahan otot pada pelajar di Indonesia, menurunnya aktivitas fisik di kota-kota besar serta meningkatnya angka obesitas pada usia di atas 18 tahun terutama pada perempuan mendasari dilaksanakannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara jenis kelamin dengan daya tahan otot melalui pengukuran jumlah angka push up dan sit up. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional pada mahasiswa fakultas kedokteran angkatan 2011 yang mengikuti praktikum uji daya tahan otot. Data dianalisis menggunakan program SPSS Ver. 21 for Mac dan dilakukan uji deskriptif cross tabulation, uji Independent T-sample dan uji Mann-Whitney. Dari uji daya tahan 132 mahasiswa yang terdiri dari 43 laki-laki dan 89 perempuan, menunjukkan bahwa 67,4% dari mahasiswa laki-laki, dan 85,4% mahasiswa perempuan mempunyai kategori poor. Sedangkan untuk push-up, 60,5% mahasiswa laki-laki masuk ke dalam kategori poor dan 52,8% mahasiswa perempuan masuk ke dalam kategori fair. Pada analisis tidak ditemukan hubungan bermakna antara daya tahan otot, baik sit-up maupun push-up, dengan jenis kelamin.

The lack of data on students? muscle endurance in Indonesia, decreasing physical activity in big cities and increasing obesity rate in population of 18 years old and over especially on women underlied this research. The purpose of this research is to find any relation between sex and muscle endurance using measurement of sit up and push up. Cross sectional study was used on medical students batch 2011 who participated in muscle endurance examination. Datas were analyzed using SPSS Ver. 21 for Mac and descriptive cross tabulation, Independent T-sample, Mann-Whitney tests were performed. From 132 participants (43 men and 89 women), 67.4% men and 85.4% women are categorized as "poor" for sit-up. Meanwhile on push-ups, 60.5% men are categorized as "poor" and 52.8% women as "fair". The analysis shows there is no relation between muscle endurance, either sit-up or push-up, with sex.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dary Alhady Nugraha
"Turunnya tingkat fleksibilitas merupakan hal yang fisiologis seiring bertambahnya umur seseorang. Range of Motion pada seseorang yang mengalami penurunan tingkat fleksibiltas juga akan menurun karena adanya keterbatasan ruang gerak sendi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi FKUI dengan menggunakan metode cross sectional yang melihat perbedaan tingkat fleksibilitas antara laki-laki dan perempuan berdasarkan nilai yang didapat dari hasil percobaan. Total sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah 149 sampel. Data diuji menggunakan SPSS 21 for Mac dan dilakukan uji deskriptif cross tabulation. Didapatkan sebanyak 39.6% laki-laki yang memiliki tingkat fleksiblitas excellent dan sebanyak 45.8% perempuan yang memiliki tingkat fleksibilitas excellent dengan perbedaan tingkat fleksibilitas 6.2% antara laki-laki dan perempuan. Hasil uji deskriptif cross tabulation ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat fleksibilitas antara laki-laki dan perempuan, dan lebih banyak perempuan yang mempunyai tingkat fleksibilitas dengan kategori excellent. Kesimpulan pada penelitian ini adalah perempuan lebih banyak memiliki tingkat fleksibilitas excellent daripada laki-laki.

The decline in the level of flexibility is a physiological thing as it ages face. Range of motion of someone who reduces levels of flexibility will also decrease due to the limitations of the joint space. This study was conducted at the Laboratory of Physiology, Faculty of Medicine , using a cross-sectional view of the differences in the degree of flexibility between men and women based on the value obtained from the experimental results. Total sample used for this test is 149 samples. Data is tested using SPSS 21 for Mac and descriptive test cros-tabulated. Accumulated as 39.6% of the men who have high levels of flexiblity, and the 45.8% of women who have excellent flexibility, with excellent flexibility rate 6.2% difference between men and women. Descriptive cross-tabulated test results show that there are differences in the degree of flexibility between men and women. The findings in this study were more women have excellent levels of flexibility as compared to men.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Noor Dwiprakoso
"Kekuatan otot yang lemah dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan memperbesar risiko terjadinya cedera seiring dengan penambahan usia. Pola hidup mahasiswa kedokteran yang erat dengan pola hidup sedentary dapat membuat massa otot berkurang yang akan berakibat pada lemahnya kekuatan otot. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan Kekuatan otot. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional pada mahasiswa kedokteran angkatan 2011. Data didapatkan dari praktikum mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2011 sebanyak 84 subjek. Data dianalisis menggunakan program SPSS Ver.21 for Mac dan dilakukan uji deskriptif crosstabulation dan uji chi-square. Didapatkan nilai kekuatan otot dengan tingkatan fair 16,9% pada IMT rendah dan 28.0% pada IMT tinggi. Tidak didapatkan nilai kekuatan otot good dan excellent pada seluruh mahasiswa di semua kategori IMT. Uji chi square menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna antara IMT dan kekuatan otot mahasiswa. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kekuatan otot pada mahasiswa kedokteran angkatan 2011.

Weak muscle strength can affect daily activities and increase the risk of injury with aging. Medical student's lifestyle is related with sedentary lifestyle and it can reduced muscle mass which means weak muscle strength. Therefore, it is suspeceted there is an association between BMI and msucle strength in medical students. This study uses a cross secional on the medical student class of 2011. The Data is obtained from the medical student's practical work totaling 84 samples. This data is processed using SPSS prograrm Ver.21 for Mac and crosstabulation descriptive test and chi-square test. The result shows fair muscle strength 16,9% in low BMI and 28.0% in high BMI. There are no students with good and excellent muscle strength. Chi-square test showed no significant difference between BMI and muscle strength of students. It can be concluded that there is no association between BMi and muscle strength in the class of 2011 medical students.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andika Chaktiaji Zulfiqar
"Indeks Massa Tubuh(IMT) yang tinggi berkaitan dengan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Riskesdas 2010 mengungkapkan meningkatnya angka kejadian IMT tinggi di Indonesia. Selain itu IMT yang tinggi memicu terjadinya atau merupakan akibat pola hidup tidak aktif yang dapat memicu rendahnya tingkat kebugaran. Peneliti menduga hal ini juga terjadi pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan tingkat kebugaran. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional mahasiswa fakultas kedokteran angkatan 2011 yang mengikuti praktikum uji kebugaran kardiovaskuler. Data didapatkan dari hasil praktikum Harvard Step Test mahasiswa di fakultas kedokteran pada bulan Juni 2013 dan didapatkan jumlah sampel 56. Data dianalisis menggunakan program SPSS 16 dan dilakukan uji deskriptif cross tabulation dan uji Kolmogorov-Smirnov. Rerata IMT mahasiswa kedokteran pada penelitian ini 22.91 ± 3.11. Tingkat kebugaran yang paling banyak dimiliki mahasiswa kedokteran ialah poor (77%). Dengan 14 diantaranya memiliki IMT>25 (overweight/obesitas). Tidak didapat Mahasiswa dengan IMT>25 yang memiliki tingkat kebugaran average ataupun excellent. Berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara IMT dengan tingkat kebugaran (p>0,05). Dapat disimpulkan pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara IMT dengan tingkat kebugaran pada mahasiswa fakultas kedokteran.

Body Mass Index (BMI) is related with risk factors of cardiovascular diseases. Research of Basic Health 2010 (RISKESDAS 2010), done by Ministry of Healt Indonesia, reported an increase in BMI in Indonesia. High BMI also correlate with increasing sedentary lifestyle which causes low fitness level. It is suspected that the same problem is happening in medical students. The purpose of this research is to determine the correlation between BMI and fitness level. This study is a cross sectional study done in June 2013 of 56 batch 2011 medical students who underwent Harvard Step Test cardiovascular fitness practical assignment. Data was analyzed using SPSS Ver. 16 and a cross tabulation descriptive test and Kolmogorov-Smirnov test was done. The mean BMI found was 22.91 ± 3.11. The fitness level most found in medical students is poor (77%) with 14 of them having BMI>25 (overweight/obese). There was no students with BMI>25 that has fitness level of average and excellent. Based on Kolmogorov-Smirnov test it can be concluded that there is no correlation between BMI and fitness level (p>0,05).
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>