Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 29 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Suwarsih Warnaen
Jakarta: Mata Bangsa , 2002
303.385 SUW s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ivo Noviana
"Tinggal dalam suatu lingkungan yang dikenal rawan bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika lebih dari 30 tahun perilaku dan tindakan kekerasan yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang. Hal inilah yang dialami warga yang berasal dari berbagai etnis, yang mau tidak mau, suka atau tidak sukan harus hidup dengan warga Ambon yang terkenal dengan tindakan kriminalitas yang dilakukannya sejak kepindahan mereka pada tahun 1973 ke Kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat. Apalagi sejak beragam tindakan kriminalitas silih berganti di Kompleks Permata. Hingga pada tahun 2000 mulai marak dengan peredaran narkoba, yang akhirnya membuat nama Kompleks Permata atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Ambon terkenal hingga keluar Jakarta, sebagai tempat transaksi narkoba terbesar. Stereotip warga Ambon di Kompleks Permata akhirnya tetap bertahan. Bagaimana proses terbentuknya stereotip warga Ambon di Kompleks Permata (produksi stereotip) dan bagaimana proses bertahannya stereotip tersebut (reproduksi stereotip), menjadi pertanyaan dalam penelitian ini. Setting penelitian dilakukan di Kompleks Permata Rw 07, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Cengkareng, Jakarta Barat. Sedangkan subjek penelitiannya adalah warga non Ambon di Kompleks Permata.
Penelitian ini berusaha untuk dapat memberikan pemahaman yang penting mengenai stereotip terhadap suatu etnis dalam hal ini etnis Ambon yang sudah berlangsung lama sehingga berpengaruh pada interaksi sosial antara warga non Ambon dengan warga Ambon yang berada di Kompleks Permata. Secara metodologis, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan juga dilakukan pengamatan terhadap subjek penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereotip yang melekat pada etnis tertentu berpengaruh terhadap hubungan sosial yang terbangun dengan etnis lain. Sikap saling curiga, tidak peduli, dan berinteraksi seperlunya, adalah relasi yang mudah ditemui di Kompleks Permata. Selain itu, persoalan stereotip merupakan ancaman laten dan seperti bom waktu yang siap meledak apa bila tidak segera ditangani. Hal ini juga berpengaruh pada generasi berikutnya, karena adanya aturan dari orangtua non Ambon yang mengharuskan anak-anaknya untuk tidak bergaul dengan anak-anak Ambon. Sebenarnya, ada keinginan untuk terjadinya perubahan di lingkungan mereka yang dianggap rawan tersebut. Tetapi, perubahan tersebut antara harapan dan kenyataan. Di satu pihak, ingin keadaan berubah. Tetapi di pihak lain, jika perubahan terjadi, maka sejumlah orang akan kehilangan mata pencaharian ekonomi, khususnya warga Ambon.

It is not easy to live a life in a 'hard' environment. It is hard because of the gristle image of the place. It is hard since it has been more than 30 years of living in a violence that happens again and again. This is what the people who came from different ethnics, inhabitant in the area of Kompleks Permata, Cengkareng, West Jakarta, experience their life. They must share a life, whether they like it or not, with the Ambonese who came to that place since 1973. These Ambonese are known for their notoriety. As then, crimes become the part of their everyday life. And it was getting worse when, in 2000, it was found drugs distributed among the community. Since then, the area of Kompleks Permata is notorious as the most place for drugs transaction, even among the people outside Jakarta. This confirms the notorious stereotype of the people living in that place, which is also known as Kampung Ambon, and it is still on and on up to now. The description above leads to the following research questions, they are, how the process of establishing the stereotype of the people of Ambon living in the Kompleks Permata ( the production of stereotype) and how the process of holding out the stereotype ( the reproduction of stereotype). The setting of this research is in Kompleks Permata RW 07, in the Kedaung Kaliangke district, in Cengkareng, West Jakarta. And the subject of the research is the people of non-Ambonese living in that area.
The objective of this research is to give an important acknowledgement on stereotype of an ethnic, in this research the ethnic is Ambonese. The stereotype of Ambonese has already been adhered for a long time that it influences the social interaction between the non-Ambonese and the Ambonese in Kompleks Permata. This research utilizes the qualitative approach to the methodology. The datas are collected through a series of deep interviews, library research, and observing the subject of the research.
The finding of the research shows that the stereotype adhered to an ethnic gives influence to the social relation to other ethnic. What the researcher finds out among the inhabitants in Kompleks Permata is that they build the attitude of distrusting, inattentive, and lacking of neighborhood. Besides, this stereotype becomes the latent threat for the people and just like a bomb that can explode at any time, if it is not well taken care of. This also gives influence to the next generation because the non-Ambonese parents make their children to obey their rules to not to mingle with the Ambonese children. In fact, indeed, the people living in Kompleks Permata wish for a change for their community. But it seems that it is just about between dream and reality. On one side, they need for a change, but on the other side, the change will make some of them lost their living, especially the Ambonese."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2010
T27899
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nanda Nugraheni Subakingkin
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang fenomena ojōman dalam masyarakat Jepang. Tujuan penelitian untuk memaparkan fenomena ojōman di Jepang serta melihat ojōman dari sudut pandang maskulinitas umum dan juga maskulinitas yang ada di Jepang. Penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskripsi analisis ini difokuskan pada pemuda Jepang usia 20?34 tahun. Ojōman terbebas dari stereotip pria dengan maskulinitas yang berbeda. Perbedaan karakter ojōman dengan gambaran pria Jepang yang maskulin membawa pengaruh dan pandangan yang tidak hanya negatif tetapi juga positif dalam masyarakatnya Jepang.

ABSTRACT
This thesis is made to explain about ojōman phenomenon in Japan's society. The main purpose of this research is to explain ojōman phenomenon itself and to compare ojōman with masculinity concept in general. It also compared with the view from Japanese masculinity. This qualitative research is using analytical description method which focused to Japanese young man age 20-34. Ojōman is free from man's stereotype expectation with different code of masculinity. The difference between ojōman character and the image of Japanese masculinity not only emerge the positive side of impact and opinion but also the negative one."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S453
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sukron Maksudi
"Pemerintah Indonesia pasca reformasi telah menghapuskan berbagai peraturan yang bersifat diskriminasi terhadap orang-orang Tionghoa, tetapi dalam pelaksanaan masih terdapat tindakan diskriminatif yang dilakukan terhadap orang-orang Tionghoa. Pencabutan undang-undang diskriminatif masih dianggap setengah hati oleh aparatur penyelenggara kebijakan negara. Berbagai upaya pemerintah untuk menghapuskan diskriminasi ternyata masih terdapat kendala dalam proses pelaksanaanya. Jika kembali pada sejarah masa lalu, Tionghoa sebagai etnis minoritas mengalami perlakuan diskriminatif pada zaman Belanda dengan dikeluarkan berbagai aturan yang menempatkan peran Tionghoa sebagai ras kelas dua sejajar dengan keturunan asing di bawah Belanda dan di atas etnis asli. Namun setelah merdeka, peran Tionghoa di masyarakat berubah seiring dengan perpolitikan global dan nasional.
Pemahaman terhadap stereotip yang berkembang seyogyanya dimulai dengan sebuah upaya penelusuran kembali hal-hal yang menjadi dasar dari berbagai faktor yang membentuknya. Melihat Tionghoa sebagai etnis minoritas dan telah mengalami perlakuan diskriminasi, maka patutlah ?dicurigai? bahwa tindak diskriminasi inilah yang menjadi alasan tumbuhnya stereotip yang terjadi di lapisan masyarakat selama ini. Kecurigaan ini semakin menguat ketika penelusuran sejarah melalui berbagai literatur yang ada memperlihatkan bahwa orang-orang Tionghoa pun menjadi korban sistem diskriminatif yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dan yang dikembangkan secara lebih sistematik oleh pemerintahan orde baru. Pada masa tersebut itulah hak sosial, politik, dan budaya orang Tionghoa dibatasi melalui berbagai peraturan yang dilegalkan oleh undang-undang. Diskriminasi yang terjadi selama kurun waktu yang sangat panjang inilah yang juga tidak terlepas dari latar belakang stcreotip yang melekat terhadap orang-orang Tionghoa.
Akan tetapi pada masa reformasi berlangsung, yang ditandai oleh peristiwa Mei 1998 dimana terdapat korban yang kebanyakan dari golongan Tionghoa, pemerintah dengan gencar menggunakan sistem demokratis dan menjunjung hak asasi manusia (HAM) dalam segala tata aturan perundang-undangan. Peraturan yang diskriminatif dihapuskan, dalam hal ini khususnya peraturan diskriminiatif yang ditujukan terhadap golongan minoritas Tionghoa.
Namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapat tindakan diskriminatif yang masih memberlakukan persyaratan SBKRI dalam mengurus surat kependudukan (KTP, akta lahir, surat nikah, akta waris, paspor, dam lain-lain). Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Kewarganegaeraan no 12 tahun 2006 yang didalamnya menyabutkan SBKRI sudah dihapuskan.
Walaupun reformasi telah digulirkan sejak 1998 sampai sekarang, tetapi pemerintah dalam melaksanakan sosialisasi berbagai kebijakan yang dikeluarkan masih sangat kurang. Media massa kebanyakan memberitakan masalah politik dan bencana yang kerap terjadi di Indonesia. Sehingga permasalahan sosial seakan tenggelam. Multikulturalisme yang ditanamkan melalui upaya penghapusan diskriminatif dan stereotip yang melekat pada etnis tertentu memiliki tantangan tersendiri.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah globalisasi dimana batas-batas nilai menjadi kabur. Dengan demikian, adanya beberapa kasus pemberlakuan SBKRJ sebagai syarat dalam mengurus surat kependudukan yang dikenakan kepada orang Tionghoa memperkuat pemahaman bahwa masih terdapat praktik diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa yang dilakukan oleh "oknum" aparatur negara. Hal ini akan menjadi potensi yang mengancam keamanan individu warga negara Indonesia khususnya keturunan Tionghoa, memperlambat program pemerintah, dan mengurangi nilai multikulturalisme di Indonesia.

The Indonesian government had abolished the post-reform discriminatory regulations against Chinese people, but in execution there are still discriminatory acts committed against Chinese people. Repeal discriminatory laws are still considered to be half-heartedly by the apparatus operator of state policy. Various government efforts to eliminate discrimination are still being a major obstacles in the process of its implementation. In the past history, as the ethnic Chinese minority suffered discriminatory treatment in the Dutch era with some various rules that put the role of Chinese as second-class races in line with the Dutch foreign descent below and above the original ethnicity. But after independence, the Chinese role in society change along with global and national politics.
Understanding of developing stereotypes should begin with an effort to search back the things that form the basis of various factors that shape it. Seeing as the ethnic Chinese minority and have experienced discrimination, then the proper "suspected" that the act of discrimination is the primary reason for the major growth of stereotypes that occur in society so far. This suspicion got strength after conducted a research of some past literature and shows that The Chinese people had become victims of discriminatory system that was built by the Dutch colonial government and more systematically developed by the new order government. During this period, social rights, politics, and culture of the Chinese is limited by various regulations that legalized by law. Discrimination that occurred during a very long period, makes The stereotypes of Chinese people still attach.
But during the reformation period, which was marked by the events of May 1998 where there are victims, mostly from the Chinese, the government with a vigorous democratic system, uphold the respect for human rights (human rights) in all statutory regulations. Discriminatory regulations eliminated, in this case especially directed against the discriminative regulation on Chinese minorities.
But in practice there are still discriminatory actions that still impose requirements SBKRI in arranging letters of residence (ID, Birth Certificate, Marriage Certificate, Deed Waris, Passport, dams etc.). This is contrary to the Act No.12 of 2006 Regarding Nationality, that SBKRI were no longer mentioned.
Although reforms have been rolled out since 1998 until now, but the government is still lacking in socialized some policies implementation. The media mostly reported political problems and disasters that often occur in Indonesia. So that social problems as if drowning. Multiculturalism that use through efforts in order to eliminate discrimination and stereotyping in certain ethnic has its own challenges.
Other factors that also influence the globalization where boundaries become blurred. Thus, the existence of several cases that SBKRI still require as a requirement in the care of a letter of residence on the Chinese, strengthen the understanding that there are discriminatory practices against Chinese people committed by "rogue" state apparatus. This will be the potential that threaten the security of individual Indonesian citizens of Chinese descent in particular, slowing down government programs ; and reduec the value of multiculturalism in Indonesia.
"
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2011
T33327
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Herdita Ayu Lestari
"Stereotip menjadi isu yang akhir-akhir ini kerap diangkat dalam sebuah film. Dalam masyarakat yang semakin multikultural, stereotip seringkali menjadi salah satu penghambat berjalannya sebuah integrasi sosial. Di dalam artikel ini akan dipaparkan mengenai bagaimana berjalannya sebuah proses integrasi yang sempat terhambat oleh karena adanya stereotip antara warga Prancis bagian utara dan bagian selatan. Stereotip dan integrasi sosial akan dipaparkan melalui analisis aspek naratif yang mencakup penokohan, alur, dan latar, serta aspek sinematografis yang mencakup aspek visual dan sonor. Melalui analisis kedua aspek tersebut terlihat bahwa proses integrasi sempat terhambat karena adanya stereotip-stereotip negatif. Namun pada akhirnya proses integrasi dapat berjalan dengan baik karena adanya sikap saling bertoleransi dan kemauan untuk menerima kebudayaan baru dari kedua belah pihak yang saling berintegrasi untuk membongkar stereotip negatif yang selama ini mereka pahami.

Recently, the stereotype issue becomes oftenly raised in a film. In a multicultural society, the issue of stereotype itself is identified as one of the inhibiting factors of a social integration. In this article will be presented on how the integration process that was inhibited by the existence of the stereotype between southern french and northen french people. Stereotype and social integration will be explained through the analysis of narrative aspects, including characterization, plot, and setting, as well as aspects of the cinematographic that includes visual effects and resonant. Through the analysis of these two aspects will be seen that the integration process was hampered because of the negatives stereotypes, but in the end the process of integration can run well because of the mutual tolerance and the willingness to accept the new culture of both parties that integrate with each other to deconstruct the negative stereotypes that have been believed by both sides."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Resky Muwardani
"ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi identifikasi kelompok gender psda pemeliharaan stereotip melalui reproduksi serial. Reproduksi serial yang ditenggarai dapat melihat pemeliharaan stereotip dengan men-tracking peljalanan informasi dari orang satu ke orang yang lain (Kashima, 2000, Lyons &. Kashima, 2006). Penelitian ini manipulasi informasi-infonnasi yang sesuaikan dengan stereotip dan yang tidak sesuai dengan stereotip (stereotype-consistenJ dan slereotypeinconsten. t), Hasil peneJitian sebelum menyebutkan faktor identifikasi kelompok terkait dengan penggunaan stereotip, yaitu partisipan yang kuat dengan ingroup-nya cenderung memanggil stereotip positif tentang ingroup (Maxwell, !952). Selain itu berdasarkan Hort, Fagot dan Leinbach (1990) laki-laki dipcrsepsikan lebih stereotip dibanding perempuan. Namun pada riset tesis in.i basil menunjukkan perbedaan. Secara umum identifikasi gender memang tidak terbukti dalam pemeliharaan stereotip, tetapi hasil yang signifikao terbukti pada partisipan perempuan. Semakin tinggi identifikasi terhadap kelornpsk gendernya, semakin tinggi pula jumlah pemanggilan infonnasi stereotype-consistent maupun stereotype inconsislent. Sementara laki-laki justru terbalik. Seroakin tinggi identifikasi kelompsk gendemya semakin rendah jumlah pemanggilan informasi stereotypeconsistent maupun stereotype-enconsisteny.

ABSTRACT
The aim of this research was to investigate the claim that gender identification difference in levels of stereotype maintenance through serial reproduction. Serial reproduction research showed that stereotype maintenance was transmitted through five-person communication chains (Kashima, 2000; Lyons & Kashima, 2006). In the present experiment, to examine stereotype maintenance~ a narratives of female and male stereotype consistent and stereotype-inconsistent was used as stimu1us. In previous research. gender identification related to stereotype maintenance. In Maxwell's (!952) showed that participants with strong in-group identification recall more positive stereotype. But the result of this research showed not all strength of gender identification was found to moderate stereotype maintenance. Only female participants with strong gender identification related to stereotype gender maintenance. Female participants with strong gender identification was retained male stereotype--consistent information more than male stereotype-inconsistent. This result raises questions concerning culture differences that gender stereotype may be vary in different cultures. "
2009
T33717
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dewa Ayu Gita Viakarina
"Selama beberapa tahun terakhir, Generasi Milenial atau Generasi Y selalu menjadi topik hangat untuk diteliti dan diperbincangkan karena karakteristiknya yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Salah satunya adalah kebiasaan generasi milenial dalam berpindah-pindah perusahaan yang menciptakan munculnya fenomena job-hopping yang kerap bertentangan dengan konsep loyalitas karyawan yang dipegang teguh oleh generasi-generasi sebelumnya. Fenomena job-hopping yang sering dilakukan oleh karyawan milenial ini menimbulkan persepsi buruk seperti kaum pekerja milenial yang melakukan job-hopping tidak setia atau tidak berkomitmen pada tempat bekerja mereka, hanya karena persepsi yang ada menegenai tujuan mereka melakukan job-hopping yaitu untuk mendapatkan gaji yang lebih besar atau alasan yang berkaitan dengan finansial mereka. Namun kenyataannya banyak generasi milenial yang menentang akan stereotip ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi secara langsung perspektif milenial akan fenomena job-hopping dan sejauh mana konsep loyalitas yang mereka terapkan saat bekerja. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tematik analisis. Data penelitian dikumpul dari 14 narasumber dengan pengumpulan data menggunakan in-depth interview. Hasil temuan yang didapat pada penelitian ini menentang persepsi umum mengenai makna kaum milenial melakukan job-hopping, bukan hanya untuk mendapatkan gaji yang lebih besar tetapi mereka lebih menginginkan personal development saat bekerja, lingkungan kerja yang nyaman dan career path yang jelas. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa stereotip “disloyal” terhadap generasi milenial masih terjadi di lingkungan kerja maupun keluarga dan bahkan sudah dianggap lumrah bagi milenial sendiri. Konsep loyalitas yang sebelumnya terus diterapkan oleh generasi yang lebih tua, kini sudah tidak diterapkan lagi karena milenial melihat loyalitas sebagai komitmen dan tanggung jawab pada pekerjaan bukan pada perusahaan.

Over the past few years, Millennial Generation or Generation Y has always been a hot topic to be researched and discussed because of its different characteristics from previous generations. One of them is the habit of the millennial generation in moving companies which creates the emergence of the job-hopping phenomenon and often contradicts to the concept of employee loyalty that was firmly held by previous generations. The job-hopping phenomenon itself is often carried out by millennial employees and most of the times creates a bad perception, such as millennial workers being disloyal or not committed to their workplace, only because of the perception that their goal of doing job-hopping is to get a higher salary or other reasons related to their finances. But the reality is that many millennials are against this stereotype. The purpose of this study is to directly explore the millennial perspective on the job-hopping phenomenon and the extent to which the concept of loyalty is applied at work. This research uses qualitative research methods with thematic analysis. Research data were collected from 14 sources using in-depth interviews. The findings in this study challenged the general perception of what it means for millennials to do job-hopping, not only to get a bigger salary but they prefer personal development at work, a comfortable work environment and a clear career path. In addition, the results of the study also show that the stereotype of "disloyal" to the millennial generation still occurs in the work and family environment and is even considered normal for millennials themselves. The concept of loyalty, which previously continued to be applied by the older generations, is no longer applied to millennials because they see loyalty as a commitment and responsibility to work, not to the company."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Rudy Syahmenan
"Penelitian yang berjudul Iklim Organisasi dan Kinerja Ditinjau dari Motivasi Kerja Karyawan Pusat Perbukuan Depdikbud mempunyai tujuan yang secara umum adalah mendapatkan khasanah pengetahuan tentang stereotip, prasangka, dan komunikasi dalam hubungannya dengan motivasi kerja pada Pusat Perbukuan Depdikbud dalam rangka memperbaiki kinerja di Lembaga tersebut. Secara khusus mempunyai tujuan yang sangat berhubungan dengan masalah-masalah yang telah dikemukakan yaitu : Mendapatkan suatu pengetahuan tentang pengaruh komunikasi terhadap motivasi keja dan bentuk hubungan komunikasi antara bawahan dan atasan pada Pusat Perbukuan Depdikbud; Mendapatkan khasanah pengetahuan tentang komunikasi antaretnik ditinjau dari segi etnis secara umum dan kendala-kendala yang ada dalam hubungannya dengan kemampuan berkomunikasi ditinjau dari segi etnik; Mengetahui dengan kemampuan berkomunikasi.
Dengan menggunakan metode dan analisa kualitatif dan alamiah langsung kepada obyek penelitiannya yang bersifat langsung natural atau antropologik, berdasarkan data wawancara, angket, observasi langsung, dan dokumentasi penelitian menyimpulkan bahwa: Pertama, secara umum dapat dinyatakan bahwa stereotip dan prasangka yang terjadi adalah sangat mengesankan, yang pada akhirnya akan menciptakan suatu sistem komunikasi yang kondusif, mengakibatkan adanya motivasi kerja yang menguntungkan semua pihak, bila semuanya dilatarbelakangi oleh kesadaran untuk bekerja, dengan mengeliminir fungsi kerja yang tidak menguntungkan seperti halnya pementingan pangkat, etnis, dan balas jasa. Selain itu, ternyata terdapat hubungan yang erat antara kemampuan berkomunikasi dengan motivasi kerja karyawan. Semakin sering dan semakin eratnya hubungan antarkaryawan dalam artian hubungan yang baik, ternyata motivasi kerja karyawan menjadi semakin meningkat. Kedua, terdapat hubungan antara kemampuan berkomunikasi dengan kepangkatan atau golongan dari karyawan. Semakin tinggi kepangkatan atau golongan dari karyawan. Semakin tinggi kepangkatan semakin besar kemampuan berkomunikasi dari para karyawan. Ketiga, terlihat perbedaan kemampuan berkomunikasi ditinjau dari segi etnik.
Keempat, dari segi etnik ternyata masih terdapat kendala di dalam berkomunikasi. Kelima, ternyata perbedaan pangkat dan etnik tidak berinteraksi dengan kemampuan berkomunikas, namun faktor pendidikan dalam wujud pelatihan dan pendidikan profesi yang berinteraksi dengan kemampuan berkomunikasi. Para pegawai yang berpendidikan lebih tinggi, dan para pegawai yang telah pernah mengikuti pelatihan profesi lebih supel dan luwes dalam berkomunikasi."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>