Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Novita Gemalasari Liman
"Beban kompleks ventrikel prematur (KVP) memiliki tiga jenis ritme sirkadian, yaitu tipe cepat, tipe lambat, dan tipe independen. Nukleus suprakiasmatikus merupakan bagian dari hipotalamus dan berperan sebagai pusat yang mengatur ritme sirkadian tubuh. Nukleus suprakiasmatikus berhubungan dengan sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), sistem saraf autonom, dan aspek psikologis. Hubungan ketiga sistem ini dengan ritme sirkadian beban KVP belum diketahui. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis hubungan sumbu HPA, sistem saraf autonom, dan aspek psikologis dengan ritme sirkadian beban KVP. Studi observasional potong lintang ini merekrut subjek penelitian di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RSUD Pakuhaji, dan RS Bun. Waktu penelitian adalah dari Juli 2022 sampai Desember 2022. Kriteria inklusi adalah pasien KVP idiopatik dengan beban ≥ 5%. Sebanyak 23 subjek KVP tipe-cepat, 20 subjek KVP tipe-lambat, 22 pasien KVP tipe-independen, dan 5 subjek kontrol diikutsertakan pada penelitian. Setiap subjek menjalani pemeriksaan Holter 24 jam untuk evaluasi beban KVP dan heart rate variability, mengumpulkan saliva untuk pemeriksaan kortisol dan norepinefrin pada pukul 06:00–07:00, 10:00–11:00, dan 22:00–23:00, serta mencatat skala kesehatan subjektif. Selanjutnya, dilakukan analisis univariat dan regresi linier multipel untuk menganalisis hubungan antara ritme sirkadian variabel independen dan ritme sirkadian beban KVP. Hasil pemeriksaan Holter menunjukkan bahwa rerata beban KVP idiopatik tipe-cepat adalah 15,7%; tipe-lambat 8,4%; dan tipe-independen 13,6%. Regresi liner multipel menunjukkan bahwa tingginya beban KVP idiopatik-tipe-cepat berhubungan dengan kadar kortisol yang lebih tinggi dan tonus sistem saraf parasimpatis yang lebih rendah. Di samping itu, tingginya beban KVP idiopatik-tipe-lambat berkaitan dengan kadar kortisol dan tonus sistem saraf simpatis yang lebih rendah atau tonus sistem saraf parasimpatis yang lebih tinggi. Sementara itu, pada KVP idiopatik-tipe-independen tingginya beban KVP berhubungan dengan kadar kortisol dan tonus sistem saraf simpatis yang lebih tinggi atau tonus sistem saraf parasimpatis yang lebih rendah serta skala kesehatan subjektif yang lebih rendah. Disimpulkan bahwa pola sirkadian beban KVP idiopatik tipe cepat, lambat, dan independen masing-masing berhubungan secara khas dengan sumbu HPA, sistem saraf autonom dan mekanisme psikologis. Penilaian tipe ritme sirkadian KVP idiopatik perlu dilakukan secara rutin mengingat perbedaan mekanisme yang mendasarinya dan kemungkinan perbedaan pada prognosisnya.

Recent data show that premature ventricular complex (PVC) burden exhibits one of the three circadian patterns, namely fast-type, slow-type, and independent-type PVC. The suprachiasmatic nucleus is part of the hypothalamus and serves as the center of circadian rhythm regulation. The suprachiasmatic nucleus is related to the hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA) axis, the autonomic nervous system, and psychological aspects. The relationship between these three systems and the circadian rhythm of PVC is unknown. Therefore, it is important to evaluate the relationship between the HPA axis, the autonomic nervous system, and psychological aspects with the circadian rhythm of PVC burden. This cross-sectional observational study recruited 23 fast-, 20 slow-, and 22 independent-type idiopathic PVC subjects, as well as 5 control subjects. Each subject underwent a 24-hour Holter to examine PVC burden and heart rate variability, collected saliva for cortisol and norepinephrine level measurement at 6–7 am, 10–11 am, and 10–11 pm, and recorded their self-rated health scales. Furthermore, univariate and multiple linear regression were conducted to investigate the associations between circadian rhythms of the independent variables and circadian rhythms of PVC burden. The results of the Holter monitor showed that the average PVC burden was 15.7%, 8.4%, and 13.6% respectively in fast-, slow-, and independent-type idiopathic PVCs. Multiple linear regression showed that the high burden of fast-type idiopathic PVC was assosciated with higher cortisol levels and lower parasympathetic nervous system tone. On the other hand, the high burden of slow-type idiopathic PVC was associated with lower cortisol levels and lower sympathetic nervous system tone. Meanwhile, in independent-type idiopathic PVC, the high burden was associated with higher cortisol levels and sympathetic nervous system tone as well as lower self-rated health scales. The results of this study indicate that each circadian pattern of idiopathic PVC burden is uniquely related to the HPA axis, the autonomic nervous system and psychological mechanisms. Assessment of idiopathic PVC circadian rhythm types needs to be carried out routinely considering the differences in the underlying mechanisms and the possible differences in the prognosis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chairunnisa Luthfya Nurifana
"Penderita demensia memiliki kebutuhan terhadap kualitas pencahayaan yang optimal di sekitar mereka karena kualitas cahaya yang diterima oleh tubuh mereka akan berdampak pada ritme biologis yang mana berpengaruh terhadap kualitas hidup mereka. Dengan kebutuhan mereka yang lebih banyak dilakukan di fasilitas kesehatan, maka tata cahaya yang baik akan memudahkan mereka untuk beraktivitas dan menghindari ketidaknyamanan pada mata mereka. Faktor utama yang memengaruhi dan dibutuhkan pada ruang-ruang yang digunakan penderita demensia adalah intensitas dan warna cahaya yang akan memberikan efek kepada ruang interior. Kriteria untuk mendapatkan kualitas cahaya yang optimal pada fasilitas kesehatan adalah dengan melakukan analisis terhadap kebutuhan visual penderita demensia pada ruang interior. Hal itu membantu menemukan jawaban terhadap dampak dari kualitas cahaya yang menentukan kualitas kinerja fasilitas kesehatan dalam meningkatkan kualitas hidup pada penderita demensia.

People with Dementia have an innate need of optimal lighting quality around them because the intensity and quality of light perceived by their body affects their bodys circadian rhythm, which in turn plays a vital role in maintaining their physical and psychological well-being. They are likely to spend considerably longer period of time in healthcare facilities, so properly designed lighting aids them to enjoy their activities, thereby helps them to pursue a better quality of life. Assuming that factors affecting the amount of light appropriately needed in a location for People with Dementia are mainly defined by elements of intensity, color, and its effect to the spatial atmosphere, this paper compared one example of geriatric healthcare facility with the standardized criteria for People with Dementia by quantitative observation. Then, the observed criteria were analyzed to help in finding out the impact of light quality affecting the performance of healthcare facilities to promote well-being to People with Dementia.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Qotrun Nada
"Latar belakang: Night Eating Syndrome (NES) adalah gangguan makan dengan peningkatan asupan makanan malam hari dan gangguan tidur, sering dikaitkan dengan stres, kualitas tidur buruk, serta disfungsi ritme sirkadian. Mahasiswa kesehatan memiliki risiko tinggi akibat tekanan akademik dan gaya hidup tidak teratur. Tujuan: Mengetahui prevalensi NES serta hubungannya dengan jenis kelamin, status gizi, kualitas dan durasi tidur, ritme sirkadian, depresi, stres, kecemasan, dan tempat tinggal pada mahasiswa S1 Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia angkatan 2024. Metode: Penelitian potong lintang dengan 148 responden. Data dikumpulkan menggunakan NEQ, DASS-21, PSQI, dan MEQ; dianalisis univariat dan bivariat (uji chi-square). Hasil: Prevalensi NES sebesar 37,8%. Status gizi gemuk memiliki hubungan signifikan dan bersifat protektif (p=0,019). Selain itu, NES berhubungan signifikan dengan depresi sedang (p=0,025) dan berat (p=0,001), kecemasan berat (p=0,001), stres berat (p=0,002), kualitas tidur buruk (p=0,042), ritme sirkadian tipe malam (p=0,001) dan netral (p=0,011), serta tempat tinggal tidak bersama keluarga (p<0,001). Jenis kelamin (p=0,770), status gizi kurus (p=0,209), dan durasi tidur (p=0,334) tidak signifikan. Kesimpulan: NES cukup tinggi ditemukan pada mahasiswa kesehatan dan berhubungan terutama dengan faktor psikologis, ritme sirkadian, kualitas tidur, serta tempat tinggal. Diperlukan upaya promotif dan preventif kampus, seperti edukasi manajemen stres, sleep hygiene, dan pemantauan kesehatan mental.

Background: Night Eating Syndrome (NES) is an eating disorder characterized by increased food intake at night and sleep disturbances. NES is often linked to psychological stress, poor sleep quality, and circadian rhythm disruption. Health science students are at higher risk due to academic pressure and irregular lifestyles. Objective: To determine NES prevalence and its association with gender, nutritional status, sleep quality and duration, circadian rhythm, depression, stress, anxiety, and living arrangements among undergraduate students in the Health Sciences Cluster, Universitas Indonesia, class of 2024. Methods: Cross-sectional study with 148 respondents using NEQ, DASS- 21, PSQI, and MEQ questionnaires. Data were analyzed with univariate and bivariate (chi-square) methods. Results: NES prevalence was 37.8%. Overweight status was significantly associated and found to be protective (p=0.019). NES was also significantly associated with moderate depression (p=0.025), severe depression (p=0.001), severe anxiety (p=0.001), severe stress (p=0.002), poor sleep quality (p=0.042), evening-type circadian rhythm (p=0.001), neutral type (p=0.011), and living apart from family (p<0.001). No significant association was found with gender (p=0.770), underweight status (p=0.209), or sleep duration (p=0.334). Conclusion: NES was relatively common among health science students and significantly associated with psychological factors, circadian rhythm, sleep quality, and living arrangements. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library