Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Desi Hindrawardani
"Tesis ini membahas bagaimana proses konstruksi identitas yang dilalui oleh orang Indonesia-Hadrami dalam kerangka teori hibriditas. Studi hibriditas menjadi signifikan selain karena selama ini kerangka tersebut belum banyak digunakan dalam menganalisis kontruksi identitas Indonesia-Hadrami, juga karena dengan kerangka ini dapat dipetakan proses, aktor dan wilayah dialog liminal dalam pembentukan identitas. Analisis yang mendalam dalam wilayah liminal berguna untuk memahami konstruksi identitas kelompok tertentu serta kelompok besarnya (Indonesia) yang bersinggungan dalam tepian identitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan studi pustaka. Pada akhirnya studi ini menemukan bahwa pertama, hibriditas dapat digunakan dalam objek studi yang melibatkan lebih dari dua aktor; ruang interaksi di antara aktor sebagai third space dapat berupa ruang irisan dari berbagai aktor, tidak hanya ruang liminal di antara dua aktor semata. Kedua, dalam hal studi hibriditas membahas topik dialog yang luas maka konsep hibriditas dapat dipilah dalam tiap lapis topik dengan aktor yang sama. Ketiga, identitas merupakan hibrid (atau campuran) dari suatu elemen posisi stabil yang tidak akan berubah seiring proses konstruksi dan elemen posisi fleksibel yang sebenarnya merupakan penyikapan atau positioning) atas kondisi dinamis pada suatu masa.

This thesis discusses identity construction process of the Hadrami-Indonesians people based on hybridity theory framework. Hybridity studies become significant, not only because this framework is rarely used in analyzing identity construction process of Hadrami-Indonesians, but also because this framework could define process, actor and liminal dialogue area in identity construction. Thorough analysis in liminal area is useful in understanding identity construction of a certain group with its larger group (Indonesia) that intersects in identity border. This research used qualitative approach with descriptive research type. Data collecting is done through observations, in depth interviews and bibliographical studies. At the end, this studies discover that first of all, hybridity can be use in a object of study involving more than two actors; interaction space between the actor as a third space could be in a shape of incisions from various actors, not just liminal space between two actors. Secondly, in a case where hybridity studies discusses broad dialogue topic then hybridity concept could be classified in each layers of topics with the same actors. Third, identity is a hybrid (or mixture) of a stable position element which will not change alongside construction process with flexible position element in dealing with (or position itself) dynamic condition in a certain time.;This thesis discusses identity construction process of the Hadrami-Indonesians people based on hybridity theory framework. Hybridity studies become significant, not only because this framework is rarely used in analyzing identity construction process of Hadrami-Indonesians, but also because this framework could define process, actor and liminal dialogue area in identity construction. Thorough analysis in liminal area is useful in understanding identity construction of a certain group with its larger group (Indonesia) that intersects in identity border. This research used qualitative approach with descriptive research type. Data collecting is done through observations, in depth interviews and bibliographical studies. At the end, this studies discover that first of all, hybridity can be use in a object of study involving more than two actors; interaction space between the actor as a third space could be in a shape of incisions from various actors, not just liminal space between two actors. Secondly, in a case where hybridity studies discusses broad dialogue topic then hybridity concept could be classified in each layers of topics with the same actors. Third, identity is a hybrid (or mixture) of a stable position element which will not change alongside construction process with flexible position element in dealing with (or position itself) dynamic condition in a certain time."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T26237
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilatarbelakangi oleh permasalahan konstruksi identitas yang
saat ini banyak ditampilkan pada foto pre-wedding. Pada mulanya foto pre-wedding hanyalah foto yang
menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk dipajang dalam resepsi pernikahan.
Dalam perkembangannya foto pre-wedding menjadi ajang dalam menampilkan identitas dari pasangan tersebut.
Dalam menampilkan identitas-identitas tersebut, setiap pasangan memiliki alasan-alasan (motif atau
account), bentuk-bentuk dan batasan identitas apa saja yang ditampilkan, serta dampaknya terhadap foto
pre-wedding yang ditampilkan. Peneliti mengintegrasikan teori fenomenologi, teori interaksionisme simbolik,
dan teori konstruksi sosial, serta menggunakan pendekatan subjektif-konstruktivis dengan metode penelitian
kualitatif dalam tradisi penelitian fenomenologi, atau paradigma interpretif (interpretive paradigm).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontruksi identitas pada foto pre-wedding menjadi fenomena bukan
semata karena kepentingan pasangan tetapi juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengannya seperti
fotografer. Dampaknya, disadari atau tidak oleh pasangan, identitas yang ditampilkan dapat mempengaruhi
psikologi pasangan tersebut. Dalam penelitian ini disarankan kepada pihak-pihak terkait untuk dapat memberikan
perhatian khusus pada foto pre-wedding dengan menampilkan identitas tertentu yang dapat lebih
menggambarkan diri dari pasangan."
384 JKKOM 2:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Qoryna Noer Seyma El Farabi
"Tesis ini membahas mengenai konstruksi identitas pembaca perempuan slash fiction, dengan menggunakan psikoanalisis Lacan. Perkembangan K-Pop di Indonesia telah menciptakan berbagai media kreatifitas baru yang dibuat oleh penggemar, salah satunya adalah slash fiction. Slash fiction adalah cerita unik yang dibuat oleh penggemar, yang dalam ceritanya kedua tokoh idola memiliki hubungan sesama jenis atau homoseksual. Pembaca perempuan yang mengonsumsi slash fiction, namun pembaca perempuan tidak semuanya memiliki orientasi seksual menyimpang. Di Indonesia sendiri, homoseksual adalah hal tabu yang belum diterima masyarakat, dan membahasnya adalah sesuatu yang tabu. Teks slash fiction hadir untuk memenuhi hasrat tidak disadari dari penggemar akan idola mereka. Dengan menggunakan konstruksi identitas Lacan, penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana identitas seorang penggemar jika dilihat dari perspektif Lacan, dan slash fiction sebagai pemenuhan hasrat dan fantasi penggemar tentang kehidupan ideal bagi mereka, dan bagaimana slash fiction membantu pembaca untuk lari dari aturan simbolik yang mengikat mereka. Dengan menggunakan paradigma konstruktivisme, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysisi (IPA) untuk melihat konstruksi identitas pembaca perempuan slash fiction. Alat pengumpulan data berupa wawancara mendalam dengan tiga orang informan. Setelah data terkumpul, peneliti kemudian menganalisis menggunakan psikoanalisis Lacan terkait konstruksi identitas. Hasil dari penelitian ini adakah identitas tidak hanya ditentukan oleh sesuatu yang informan sadari, atau sesuatu yang simbolik, tetapi identitas juga diatur oleh keinginan fantasi, yang dihasilkan dari the Real. . Identitas didasarkan pada gambar ideal yang dilihat oleh seseorang tentang dunia luarnya, dan hal tersebut mendorong seseorang untuk terus mendekati diri ideal menurutnya. Identitas seseorang pada dasarnya tidak akan pernah utuh, dan proses konstruksinya adalah proses yang disadari. Meskipun begitu, the symbolic tetap memberikan identitas dan pengertian bagi informan tentang mana yang positif atau baik, serta sesuai dengan nilai-nilai yang dipercaya selama ini, dan identitas mana yang negatif, atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipercaya.

This thesis discusses the construction of identity published by fictional slash women, using Lacan's psychoanalysis. The growth of K-Pop in Indonesia has created various new creative media which are created by fans, one of them is fiction slash. Fiction slash is an unique story which created by fans, where the two idol characters have same-sex or homosexual relationships. Even though the majority of female readers who consume slash fiction do not have everything which supports the discussion section. In Indonesia, these sorts of conversations are somewhat taboo and still have not been fully accepted by the public, even discussing them are still defined as taboo. Fiction slash text exists to fulfill the unconscious desire of their idol fans. By using Lacan's identity construction, this study attempts to examine how the identities of fans use Lacan's views, and cut fiction as a fulfillment of fans desires and fantasies about life ideal for them, and use fictional slash to help them to seek symbolic diversions which connected with them. By using the constructivist paradigm, this research qualitative study used Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to see the construction of the slash fiction female readers identity. The tool in this research was used in-depth interviews with three informants. After collecting the data, the researchers analyzed the data using Lacan's psychoanalysis which related to identity construction. The result of this research is the identity was not only determined by something the informant is aware of, or something symbolic, but also the identity was governed by fantasy desires, as the result from the Real. The identity was based on the ideal image which is seen by someone about the outside world, and it encourages someone to continue to approach the ideal self according to her. A person's identity is basically never intact, and the construction process is a conscious process. Although, the symbolic still provides the identity and meaning for informants about which is positive or good, and in accordance with the values ​​that have been believed so far, also which identity is negative, or not in accordance with the values ​​tt are believed. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Choirul Maudy Alavia
"Eksistensi kelompok diaspora Jawa-Suriname di Belanda berasal dari perjalanan sejarah yang panjang. Proses migrasi kelompok diaspora Jawa-Suriname dari Hindia-Belanda ke Suriname kemudian ke Belanda membawa mereka pada permasalahan identitas budaya. Di masa kini, media digital dapat menjadi salah satu pilihan bagi kelompok diaspora untuk mengkonstruksi identitas budaya mereka. Tulisan ini membahas peran media digital dalam konstruksi identitas budaya kelompok diaspora Jawa-Suriname di Belanda. Dalam menganalisis konstruksi identitas budaya tersebut, tulisan ini mencermati dua situs, yakni manggarmegar.nl dan javanenindiaspora.nl dengan menggunakan teori identitas budaya Hall (1996) dan konsep digital diaspora Brinkerhoff (2009). Hasil penelitian menunjukkan media digital berperan dalam konstruksi identitas budaya kelompok diaspora Jawa-Suriname melalui tiga cara, yaitu sebagai alat memfasilitasi konstruksi identitas budaya, sebagai ruang berbagi cerita, dan pembangun solidaritas internal kelompok diaspora.

The existence of Javanese-Surinamese diaspora groups in the Netherlands comes from a long history. The migration process of the Javanese-Surinamese diaspora from the Netherlands-Indies to Suriname then continued to the Netherlands brings them to the cultural identity problem. Today, digital media can be an option for diaspora to construct their cultural identity. This paper discusses the role of digital media in the construction of the cultural identity of diaspora Javanese-Surinamese in the Netherlands. In analyzing the construction of cultural identity, this paper examines two sites, namely manggarmegar.nl and javanenindiaspora.nl by using Brinkerhoff and Hall's theories. The results of this study show that digital media plays a role in the construction of the cultural identity of the Javanese-Suriname diaspora in three ways, namely as a tool that facilitates cultural construction, provides a space for sharing stories, and builds internal solidarity of the diaspora."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library