Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fitria Purnihastuti
"Sejak deklarasi kemerdekaan negara - negara Asia Tengah pada tahun 1991, China secara bertahap memposisikan dirinya sebagai salah satu negara yang mempunyai peranan penting di kawasan tersebut. Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan tentang apakah hal ini menunjukkan suatu perubahan geo politik setelah runtuhnya Uni Soviet dan merupakan konsolidasi akan adanya kekuatan baru China. Negara - negara Asia Tengah secara politik saat ini mempunyai peranan yang penting terlebih karena adanya kekeayaan akan energi yang dihasilkan serta adanya pengaruh besar dua negara tetangganya yaitu, China dan Rusia. Implikasi Cina di Asia Tengah mempunyai pengaruh yang besar untuk jangka panjang dimana Hl ini juga mempengaruhi rejim ? rejim yang ada di kawasan tersebut. Sehingga langkah strategi China di Asia Tengah merupakan hal yang penting. Saat ini China telah mencoba membangun jaringan pemberantasan penjualan obat dan senjata tran-nasional di kawasan itu. Di saat yang bersamaan Cina juga mendukung adanya perlawanan gerakan terorisme agama yang di curigai beranggotakan kaum separatisme Uygur di Xinjiang, China dan kaum oposisi di Asia Tengah. Cina juga mendukung usaha penolakan negara - negara Asia Tengah akan usaha pembentukan demokrasi yang diusulkan pihak Barat di kawasan Asia Tengah. Dibidang ekonomi,Cina juga memanfaatkan posisi negara - negar Asia Tengah yaitu, sebagai negara landlocked yang merupakan kawasan yang sangat menjanjikan secara ekonomi bagi China maupun Asia Tengah. Hal ini tidak dapat dipisahkan pula dengan keberadaan sumber - sumber energi di Asia Tengah yang dibutuhkan Cina untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan permintaan energi dalam negeri China. China melihat Asia Tengah tidak hanya sebagai negara yang berbatasan langsung tetapi juga merupakan wilayah transit yang dapat memfasilitasi perdagangan dengan negara - negara seperti Iran, Afghanistan, India serta Pakistan. Selain itu, China juga menggunakan organisasi regional Shanghai Cooperation Organisation (SCO)sebagaii zona perdagangan bebas guna memudahkan penyaluran produk - produk China di pasar Asia Tengah dan Rusia. China juga berusaha menanamkan pengaruh - pengaruh kebudayaan China yang diharapkan dapat berkembang di Asia Tengah. Dari pemaparan diatas, tesis ini berusaha untuk menganalisa lebih dalam langkah - langkah strategi China dalam usaha pengamanan wilayah perbatasannya serta keamanan energinya di Asia Tengah. Tesis ini juga menganalisa aspek ekonomi yang mempunyai peranan penting didalamnya, keberadaaan Shanghai Cooperation Organization (SCO) serta menganalisa strategi China dalam mengatasi kaum separatis Uyghur di Xinjiang.

Since the declaration of independent of Central Asia states in 1991, China has gradually emerged as one of the region?s main partners. This rapprochement raises questions about the geopolitical changes in the aftermath of the Soviet Union?s demise and the consolidation of China?s new power. The Central Asia states, politically adrift since the collapse of the Soviet Union, are now set to play a major part in energy policies but they are still largely under the influence of their two great neighbors, namely Russia and China. The Chinese implication in Central Asia will have a major impact in the long term since it permits the reinforcement of Beijing?s political influence on Central Asia regimes and the reinforcement of their geopolitical alliance. Therefore, the strategic gains for Central Asia with China?s increased presence are important. Beijing is trying to check the trans-nationalization of arms and drug networks in the area. At the same time, the struggle against ?religious extremism? is being used to justify the repression of dissident movements (Uyghur separatists in Xinjiang and the political opposition in Central Asia) and to reject, on the grounds that they would be destabilizing, the democratizing measures requested by the West. In the economic realm, China will also modify the geographic situation of Central Asia. While the region is hampered in its growth by its landlocked character and significant promise in economic and financial relations between China and Central Asia over the medium- to long-term, are about the development of the region?s enormous energy resources to fuel China?s anticipated economic growth and burgeoning energy demands. China sees Central Asia not only as a border region, but also as an intermediary and transit area, which facilitates trade with Iran, Afghanistan, India, and Pakistan. Such a strategy will reinforce Central Asia?s historical role on the Silk Road. These geopolitical and economic objectives remain linked. For many years, China militated for the Shanghai Cooperation Organization to become a free-trade zone, which would transform Central Asia and Russia into new markets for Chinese products. This Chinese commercial domination over the region will also have a cultural impact that remains, for the time being, difficult to assess. Exchanges of people, the learning of the Chinese language, and the entrance of Central Asia into the sphere of Chinese cultural influence, will grow, creating a totally new situation in Central Asia. In this paper, I aim to analyze deeply about China's strategies mainly in ways to secure its territorial and energy securities related to the engagement with Central Asia. I intend to shed light on economic issues that are likely to play a crucial role, the appearance of the Shanghai Cooperation Organization (SCO) and also to observe China strategies in managing the Uighur separatism in Xinjiang."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
T23018
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"This work advances geopolitical economy as a new approach to understanding the evolution of the capitalist world order and its 21st century form of multipolarity. Neither can be explained by recently dominant approaches such as U.S. hegemony or globalization: they treat the world economy as a seamless whole in which either no state matters or only one does. Today's BRICs and emerging economies are only the latest instances of state-led or combined development. Such development has a long history of repeatedly challenging the unevenness of capitalism and the international division of labour it created. It is this dialectic of uneven and combined development, not markets or imperialism, which has spread productive capacity around the world. It also ensured that the hegemony of the UK would end and attempts to create that of the US would peter out into multipolarity. Part two of this book paves the way, advancing Geopolitical Economy as a new approach to the study of international relations and international political economy. Following on from the theoretical limitations exposed in Part I, in this volume the analytical limitations are explored. "
United Kingdom: Emerald, 2016
e20469368
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
hapus4
"Peningkatan perhatian pada kawasan Asia memicu upaya tata kelola kawasan melalui konsep Indo-Pasifik. Di dalam diskursus Indo-Pasifik, Australia memiliki peran, status, dan kepentingan yang unik dan mendorongnya untuk mempromosikan konsep tersebut. Tinjauan literatur ini membahas dinamika interpretasi literatur akademik terhadap konsep Indo-Pasifik yang digunakan oleh Australia. Dengan metode taksonomi, tinjauan literatur ini mengidentifikasi interpretasi literatur akademik terhadap konsep Indo-Pasifik yang digunakan oleh Australia dapat dipetakan ke dalam tiga kelompok: interpretasi konsep Indo-Pasifik sebagai identitas Australia, sebagai strategi geopolitik Australia, dan sebagai pengaruh kebijakan investasi asing Australia. Tinjauan literatur ini menemukan bahwa konsep Indo-Pasifik yang digunakan oleh Australia paling banyak dibahas dalam literatur akademik sebagai penggambaran identitas Australia. Dalam pembahasannya, terdapat ragam pandangan yang bersifat Australia-sentris dan yang menolak sentralitas Australia dalam diskursus Indo-Pasifik. Tinjauan literatur ini juga menunjukkan bahwa Australia merupakan salah satu kekuatan di Indo-Pasifik dan telah mendapat perhatian dari akademisi dengan ragam interpretasinya. Tinjauan literatur ini melihat bahwa masih terdapat kekurangan dalam analisis efektivitas peran dan keterlibatan Australia di Indo-Pasifik serta kecenderungan literatur akademik untuk fokus pada aspek strategis dari konsep Indo-Pasifik. Dengan demikian, melalui tinjauan literatur yang telah dilakukan, tulisan ini dapat meningkatkan wawasan untuk penelitian lanjutan mengenai perkembangan konsep Indo-Pasifik serta analisis kebijakan luar negeri Australia.

The increasing attention towards the Asian region has triggered efforts for regional governance through the Indo-Pacific concept. In developing the Indo-Pacific concept, Australia shows its unique role, status, and interest by actively promoting it. This literature review discusses academic interpretations of the Indo-Pacific concept used by Australia to enrich knowledge about the dynamics of the Indo-Pacific discourse and how Australia navigates the concept. Through the taxonomy method, this literature review identifies three common interpretations: the Indo-Pacific concept as Australia's identity, the Indo-Pacific concept as Australia's geopolitical strategy, and the Indo-Pacific concept as an influence on Australia's foreign investment policy. Through the conducted study, this review demonstrates that Australia is one of the powers in the Indo-Pacific and has attracted academic attention with diverse interpretations. This review finds that some literature shows Australia-centric views within the discussion, while others reject Australia's centrality in the Indo-Pacific. This literature review then argues that there still needs to be more examinations on the effectiveness of Australia's role and engagement in the Indo-Pacific alongside the economic aspects of the Indo-Pacific concept. Based on the literature reviewed, this paper can enhance insights for further research on the Indo-Pacific concept and the analysis of Australia's foreign policies."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiky Adisakti
"

Skripsi ini berjudul “Analisis Pengaruh Geopolitical Oil Price Index, Global Gold Price, dan Variabel Makroekonomi Global Terhadap Pasar Saham Syariah dan Konvensional di Indonesia Dengan Metode QARDL” bertujuan untuk memahami bagaimana kondisi global geopolitik dan ekonomi yang mempengaruhi pasar saham syariah dan konvensional di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian adalah indeks saham syariah dan non-syariah (konvensional) pada periode 2011-2020. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Quantile Autoregressive Distributive Lag-Error Correction Model (QARDL-ECM). Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat signifikansi antara geopolitical oil price risk, global Gold Price, global interest rate, dan global exchange rate dengan pasar saham syariah dan konvensional pada kondisi pasar yang berbeda dalam jangka panjang dan jangka pendek.


The thesis titled "Analysis the Impact of the Geopolitical Oil Price Index, Global Gold Price, and Global Macroeconomic Variables on the Sharia and Conventional stock Markets in Indonesia Using the QARDL Method" seeks to investigate the influence of global geopolitical and economic factors on Indonesia's sharia and conventional stock markets. This study adopts a quantitative approach with a descriptive design, utilizing the sharia and non-sharia (conventional) stock indices for the period 2011-2020 as the research sample. The research employs the Quantile Autoregressive Distributive Lag-Error Correction Model (QARDL-ECM) methodology. The findings indicate significant relationships between geopolitical oil price risk, global Gold Price, global interest rate, and global exchange rate with sharia and conventional stock markets under diverse market conditions in both short and long terms.

 

"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudis Irfandi
"Tulisan ini membahas tentang pengaruh Visi Geopolitik Pemerintah India dalam pengembangan program persenjataan teknologi nuklir India pada tahun 2000-2006. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan penggabungan antara data-data primer dan sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, jurnal internasional, penelitian yang telah ada sebelumnya, serta buku-buku yang berkaitan dengan Ilmu Politik. Tulisan ini menggunakan konsep geopolitik kritis dan teori visi geopolitik untuk melihat dinamika politik dalam diskursus perdebatan pada Deklarasi Lahore tahun 1999 dengan melihat kondisi historis India untuk mempertahankan teritori Kashmir. Kemudian tulisan ini menganalisis visi geopolitik dari Pemerintah India yang menjadikan perkembangan persenjataan nuklir India sebagai Identitas Nasional di Asia Selatan. Ini dilihat dari empat komponen dari visi geopolitik yang dicanangkan oleh Gertjan Dijkink, yaitu Naturalness, Core Area, Geopoltical Code, National Mission. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa Persenjataan Teknologi nuklir India diawali dengan adanya perebutan teritori dengan Pakistan dan China pada wilayah Kashmir dan Jammu. Hal ini merupakan motivasi Pemerintah dan Perdana Menteri India memutuskan untuk melakukan uji coba nuklir dan tetap mengembangkan persenjataan nuklir hingga 2006. Tulisan ini membahas tentang pengaruh Visi Geopolitik Pemerintah India dalam pengembangan program persenjataan teknologi nuklir India pada tahun 2000-2006. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan penggabungan antara data-data primer dan sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, jurnal internasional, penelitian yang telah ada sebelumnya, serta buku-buku yang berkaitan dengan Ilmu Politik. Tulisan ini menggunakan konsep geopolitik kritis dan teori visi geopolitik untuk melihat dinamika politik dalam diskursus perdebatan pada Deklarasi Lahore tahun 1999 dengan melihat kondisi historis India untuk mempertahankan teritori Kashmir. Kemudian tulisan ini menganalisis visi geopolitik dari Pemerintah India yang menjadikan perkembangan persenjataan nuklir India sebagai Identitas Nasional di Asia Selatan. Ini dilihat dari empat komponen dari visi geopolitik yang dicanangkan oleh Gertjan Dijkink, yaitu Naturalness, Core Area, Geopoltical Code, National Mission. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa Persenjataan Teknologi nuklir India diawali dengan adanya perebutan teritori dengan Pakistan dan China pada wilayah Kashmir dan Jammu. Hal ini merupakan motivasi Pemerintah dan Perdana Menteri India memutuskan untuk melakukan uji coba nuklir dan tetap mengembangkan persenjataan nuklir hingga 2006.

This study discussed the influence of the Government of India`s Geopolitical Vision in India`s nuclear weapons technology program development through 2000-2006. A qualitative research was held by combining primary and secondary data obtained through literature studies, international journals, existing research, and books related to Political Science. Using the concept of critical geopolitics and the theory of geopolitical vision, the study examined the political dynamics in the debate of the 1999 Lahore Declaration. The study also overviewed the historical conditions of India to defend Kashmir territory and analyzing the geopolitical vision of the Government of India which made the development of Indian nuclear weapons as a National Identity in Asia in South Asia through four components of the geopolitical vision proclaimed by Gertjan Dijkink (i.e. Naturalness, Core Area, Geopolitical Code, National Mission). This study showed that Indian nuclear technology weapons are preceded by the land seizure between Pakistan and China in the Kashmir and Jammu regions. This is believed to be the motivation of the Government and Prime Minister of India to decide to conduct a nuclear test and continue to develop nuclear weapons until 2006."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sitompul, Ricky Jordan
"Penelitian ini membahas tentang kebijakan ruang angkasa India. Sejak diinisiasi pada tahun1962, kebijakan ruang angkasa India ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan teknologi di bidang komunikasi, meteorologi dan penginderaan jauh. Akan tetapi, sejak memasuki abad ke-21, orientasi kebijakan ruang angkasa India bergeser menjadi bersifat lebih eksploratif dan dekat dengan kepentingan militer. Dengan pendekatan kualitatif, dalam penelitian ini digunakan konsep Geopolitical Vision yang dikemukakan oleh Gertjan Dijkink untuk menjelaskan pelaksanaan kebijakan ruang angkasa India setelah pengesahan Chandrayaan-1 pada tahun 2003. Melalui empat indikator di dalam konsep tersebut, yaitu territorial borders, geopolitical code, national missions dan impersonal forces, penelitian ini menjelaskan pertimbangan apa yang diambil pemerintah India untuk menentukan orientasi kebijakan ruang angkasa India pasca
pengesahan misi Chandrayaan-1 tahun 2003. Penelitian ini menemukan bahwa perubahan orientasi kebijakan ruang angkasa India yang menjadi lebih eksploratif dan dekat dengan kepentingan militer diawali oleh konflik dengan Pakistan dalam Perang Kargil tahun 1999, dan berikutnya dipicu pula oleh perkembangan kebijakan ruang angkasa Tiongkok, keinginan India untuk menjadi space power serta perubahan pola kebijakan ruang angkasa global.

This research discusses the Indian space policy. Since it was initiated in 1962, Indian space policy was aimed to improve the welfare of the community, through the use of technology in the fields of communication, meteorology and also remote sensing. However, since entering the 21st century, the orientation of Indian space policy has shifted to become more exploratory and closer to the military interests. With a qualitative approach, in this study the concept of Geopolitical Vision proposed by Gertjan Dijkink was used to explain the implementation of Indian space policy after the ratification of Chandrayaan-1 in 2003. Through the four indicators in the concept, namely territorial borders, geopolitical code, national missions and impersonal forces, this study explains what considerations the Indian government took to determine the orientation of Indian space policy after the enactment of the Chandrayaan-1 mission in 2003. This study finds that changes in the orientation of Indian space policy which became more explorative and closer to military interests were preceded
by conflict with Pakistan in the 1999 Kargil War, and subsequently triggered by the development of China`s space policy, India's desire to become space power and changes in global space policy patterns.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andrea Nabilla Supit
"Fungsi rantai pasokan telah memungkinkan perusahaan barang konsumsi yang bergerak cepat atau fast-moving consumer goods (FMCG) untuk mencapai keunggulan kompetitif. Namun, gangguan geopolitik telah memperkenalkan tantangan signifikan terhadap rantai pasokan mereka. Meskipun studi telah menunjukkan minat untuk relokasi ke Asia Tenggara guna meningkatkan ketahanan rantai pasokan atau Supply Chain Resilience (SCR), hanya ada sedikit fokus pada langkah-langkah spesifik yang harus diadopsi industri FMCG selama relokasi tersebut. Studi ini mengisi kesenjangan tersebut dengan melakukan analisis induktif dari lima wawancara mendalam dengan profesional rantai pasokan dari berbagai perusahaan FMCG. Hasil menunjukkan bahwa gangguan telah memaksa perusahaan FMCG untuk pindah ke Asia Tenggara, sehingga tidak hanya memulihkan tetapi juga meningkatkan posisi kompetitif mereka dan SCR mereka. Temuan utama diartikulasikan ke dalam tiga dimensi: dampak gangguan, keunggulan kompetitif relokasi ke Asia Tenggara, dan langkah-langkah yang diadopsi untuk meningkatkan SCR setelah relokasi. Penelitian ini memperluas literatur dengan menawarkan rekomendasi praktis untuk meningkatkan SCR di antara rantai pasokan FMCG.

Supply chain functions have enabled fast-moving consumer goods (FMCG) companies to achieve competitive advantages. However, geopolitical disruptions have introduced significant challenges to their supply chains. Although studies have shown interest in relocating to Southeast Asia (SEA) to enhance supply chain resiliency (SCR), there has been minimal focus on the specific measures FMCG industries should adopt during such relocations. This study fills this gap by employing an inductive analysis of five in-depth interviews with supply chain professionals from diverse FMCG companies. Results indicate that disruptions have compelled FMCG firms to move to SEA, thereby not only restoring but also improving their competitive stance and SCR. Key findings are articulated into three dimensions: the impact of disruptions, the competitive advantage of relocation to SEA, and measures adopted to boost SCR post- relocation. This research extends the literature by offering practical recommendations for enhancing SCR among FMCG supply chains."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ali Ashhabul Kahfi
"Tesis ini mengevaluasi dampak pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) terhadap alokasi sumber daya air Sungai Nil dan efeknya pada kebijakan pengelolaan air di Mesir. Menggunakan Teori Geopolitik Halford J. Mackinder dan Teori Dependensi Sumber Daya oleh Jeffrey Pfeffer dan Gerald R. Salancik, penelitian ini mendalaminya bagaimana GERD mampu mengubah peta geopolitik regional dan bagaimana Mesir beradaptasi terhadap perubahan ini dari perspektif politik, ekonomi, dan keamanan.
Berdasarkan Teori Geopolitik Mackinder, penelitian ini menjelaskan bagaimana pergeseran kontrol atas sumber daya air penting seperti Sungai Nil dapat berpotensi mempengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan dan global. Dalam hal ini, GERD dianggap sebagai usaha Ethiopia untuk memperkuat posisinya di kawasan tersebut.
Sementara itu, melalui Teori Dependensi Sumber Daya, penelitian ini menganalisis bagaimana Mesir, dalam ketergantungannya terhadap Sungai Nil, mungkin merespons perubahan ini dalam kebijakan dan strategi, baik dari segi politik, ekonomi, maupun keamanan, terhadap pembangunan GERD.

This thesis evaluates the impact of the Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) construction on the allocation of Nile River's water resources and its effects on Egypt's water management policies. Utilizing Halford J. Mackinder's Geopolitical Theory and the Resource Dependence Theory by Jeffrey Pfeffer and Gerald R. Salancik, this study delves into how the GERD has the potential to alter the regional geopolitical map, and how Egypt is adapting to these changes from a political, economic, and security perspective.
Building on Mackinder's Geopolitical Theory, this research elucidates how a shift in control over crucial water resources such as the Nile can potentially influence the balance of power regionally and globally. In this light, the GERD is perceived as Ethiopia's endeavor to strengthen its position in the region.
Meanwhile, through the Resource Dependence Theory, this research analyzes how Egypt, in its dependence on the Nile, might respond to these changes in policies and strategies, politically, economically, and security-wise, towards the construction of the GERD.
"
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library