Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Colombanus Ambar Pujiharjanto
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah informasi besarnya dividen dan besarnya earning berpengaruh terhadap harga saham dan untuk mengetahui reaksi return saham dengan adanya pengumuman dividen dan pengumuman earning di Bursa Efek Jakarta. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa informasi besarnya dividen dan besarnya earning secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham, sehingga sangat bermanfaat bagi investor untuk menilai prospek perusahaan. Penelitian-penelitian lain sebelumnya menunjukkan bahwa adanya pengumuman dividen dan pengumuman earning yang menaik akan segera diikuti oleh return saham yang menaik pada saat pengumuman. Sebaliknya adanya pengumuman dividen dan pengumuman earning yang menurun akan segera diikuti oleh return saham yang menurun pada saat pengumuman. Sementara itu adanya pengumuman dividen tetap secara esensial tidak diikuti oleh kenaikan atau penurunan return saham. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan pada pasar modal di Amerika Serikat, yang telah terbukti efisien. Kondisi pasar modal di Indonesia khususnya Bursa Efek Jakarta tidaklah demikian. Hasil penelitian-penelitian sebelumnya tentang efisiensi pasar modal di Bursa Efek Jakarta menunjukkan bahwa Bursa Efek Jakarta belum efisien.
Di dalam penelitian ini pendekatan model klasik digunakan untuk menganalisis apakah informasi besarnya dividen dan besarnya earning berpengaruh terhadap harga saham, sehingga dapat diketahui apakah investor lebih menghargai dividen atau retained earning. Sementara itu untuk mengetahui apakah adanya pengumuman dividen dan pengumuman earning akan segera diikuti reaksi return saham, digunakan pendekatan model mean return dan mean adjusted return.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 1989 sampai dengan 1993 apabila digunakan pendekatan populasi, ternyata besarnya dividen secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham, tetapi informasi besarnya retained earning hanya berpengaruh pada tahun 1991, 1992 dan 1993. Jika dibandingkan di antara keduanya, ternyata investor lebih menghargai dividen dari pada retained earning. Apabila digunakan pendekatan 20 (dua puluh) saham dengan volume perdagangan terbesar, maka informasi besarnya dividen dan retained earning ternyata secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham , sehingga dapat merupakan informasi yang bermanfaat bagi para investor untuk menilai prospek perusahaan. Jika dibandingkan di antara kedua informasi itu, maka secara keseluruhan investor lebih menghargai dividen dari pada retained earning. Tetapi jika ditelusuri, ternyata pada tahun 1991 dan 1992 investor lebih menghargai dividen dari pada retained earning.
Sementara itu dengan menggunakan mean return dan mean adjusted return dengan adanya pengumuman dividen dan pengumuman earning, ternyata didapati temuan yang berbeda dengan temuan yang terdapat pada pasar modal yang efisien. Pada pasar modal yang efisien, adanya pengumuman dividen (naik/turun) dan pengumuman earning (naik/turun) selalu diikuti oleh reaksi return saham ; dan adanya pengumuman dividen tetap secara esensial tidak diikuti oleh reaksi return saham. Dengan demikian kedua pengumuman itu dapat digunakan sebagai informasi bermanfaat bagi para investor, artinya pengumuman dividen dan pengumuman earning yang menaik dapat menunjukkan bahwa prospek perusahaan pada masa mendatang adalah baik, dan sebaliknya pengumuman dividen dan pengumuman earning yang menurun dapat menunjukkan bahwa prospek perusahaan kurang baik di masa datang. Tetapi di Bursa Efek Jakarta, kedua informasi tersebut secara konsisten belum dapat digunakan sebagai informasi yang bermanfaat sebagaimana pada pasar modal yang efisien."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1995
T5535
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mardhatillah
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
T25856
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hestiana Laksmi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1984
S17201
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
B. Boediono
Jakarta: Majalah Mingguan Barita Pajak, 1977
343.052 BOE u
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Jefri Riyadi Kusuma
"Perusahaan mempunyai kecenderungan untuk menentukan pemilihan sumber pendanaan yaitu dengan internal equity. Apabila internal equity dianggap tidak mencukupi baru menggunakan external finance. Penggunaan external finance sendiri menggunakan hutang, dan apabila hutang tidak mencukupi baru kemudian perusahaan menggunakan external equity. Internal equity yang diperoleh dari laba ditahan merupakan sumber pendanaan yang lebih baik dibanding hutang karena tidak mempunyai risiko. Hutang merupakan sumber dana yang lebih baik dibandingkan penerbitan saham baru. Meskipun keduanya mempunyai risiko, tetapi risiko hutang lebih kecil dibandingkan dengan penerbitan saham baru. Apabila suatu investasi perusahaan tersebut sebagian besar didanai dari internal equity, maka akan mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Semakin besar investasi yang dilakukan maka semakin berkurang dividen yang akan dibagikan. Sebaliknya bagi perusahaan yang cenderung menggunakan sumber dana dari luar untuk mendanai tambahan investasi akan membagikan dividen yang lebih besar. Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang.
Kebijakan dividen yang optimal adalah kebijakan dividen yang mencapai keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang dan memaksimumkan harga saham perusahaan.
Investment Opportunity Set (IOS) menguraikan pengertian perusahaan yaitu sebagai suatu kombinasi antara aktiva riil (asset in place) dan opsi investasi masa depan. Opsi investasi masa depan tidak hanya ditunjukkan dengan adanya proyek ? proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja namun juga kemampuan perusahaan dalam mengekploitasi kesempatan mengambil keuntungan dibanding dengan perusahaan sejenis dalam kelompok industrinya. Bentuk yang membedakan pilihan investasi atau pertumbuhan adalah nilai perusahaan itu tergantung pada kebebasan pemilihan pengeluaran yang ditentukan oleh manajer dimasa depan. Faktor utama yang menentukan IOS adalah faktor industri seperti rintangan untuk masuk dan daur hidup produk. Faktor tersebut memungkinkan perusahaan untuk membuat investasi yang dapat meningkatkan rintangan untuk masuk (substitusi modal untuk tenaga kerja yang merupakan hasil dari skala ekonomi). Peluang pertumbuhan tidak hanya diwujudkan dalam proyek baru yang didukung oleh penelitian dan aktivitas pengembangan yang luas, tetapi juga mempunyai pilihan yang lebih untuk melaksanakan proyek baru.
Pada penelitian ini, perusahaan akan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu: perusahaan yang tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh. Dengan memperbandingkan dengan unsur-unsur realisasi pertumbuhan. Prediksi awal yang diajukan adalah proksi-proksi pembentuk IOS tidak memiliki korelasi terhadap unsur-unsur pertumbuhan perusahaan. Proses lebih lanjut yang dilakukan pada penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi perbedaan antara kebijakan pendanaan dan kebijakan dividen antara perusahaan tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh. Prediksi awal yang diajukan yaitu: tidak ada perbedaan antara Perusahaan yang tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh dalam melakukan kebijakan pendanaan, dan tidak ada perbedaan antara Perusahaan yang tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh dalam melakukan kebijakan dividen.
Pengelompokan perusahaan tumbuh dan tidak tumbuh berdasarkan hasil dari analisis faktor. Untuk menyelidiki korelasi antara proksi-proksi IOS dengan unsur-unsur realisasi pertumbuhan, peneliti menggunakan analisis korelasi dengan menggunakan metode Sperman Rank. Penelitian selanjutnya, untuk mengidentifikasi perbedaan antara kebijakan pendanaan dan kebijakan dividen antara perusahaan tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh, peneliti menggunakan metode analisis ANCOVA. Dimana faktor utama A: Pertumbuhan perusahaan dengan IA1:"Perusahaan Tumbuh" dan IA2: "Perusahaan Tidak Tumbuh"; faktor utama B: "Kebijakan Pendanaan" dengan IB1:"Book debt equity (BDE)" dan IB2: "Market debt equity (MDE)" dan faktor utama C: "Kebijakan Dividen" dengan IC1:"Dividen Payout (DP)" dan IC2: ? Dividen yield (DY)?, serta unsur-unsur realisasi pertumbuhan sebagai kovariat.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hubungan korelasi yang terjadi berupa korelasi positif dan negatif. Korelasi yang positif menunjukkan hubungan yang searah antara proksi-proksi IOS dengan realisasi pertumbuhan, dimana peningkatan atau pertambahan nilai tiap proksi IOS akan diikuti dengan peningkatan atau pertambahan nilai unsur-unsur realisasi pertumbuhan yang berkorelasi dengan proksi IOS. Korelasi yang negatif menunjukkan hubungan yang tidak searah antara proksi-proksi IOS dengan realisasi pertumbuhan, dimana peningkatan atau pertambahan nilai tiap proksi IOS akan diikuti dengan penurunan atau pengurangan nilai unsur-unsur realisasi pertumbuhan yang berkorelasi dengan proksi IOS.
Hasil penelitian yang kedua, penelitian ini dapat membuktikan bahwa terdapat perbedaan mengenai kebijakan pendanaan antara perusahaan yang tumbuh dengan perusahaan yang tidak tumbuh. Kebijakan pendanaan yang melalui BDE lebih dominan pada perusahaan yang tumbuh (M=2,224) ketimbang pada perusahaan yang tidak tumbuh (M=2,147), sebaliknya kebijakan pendanaan yang melalui MDE lebih dominan pada perusahaan yang tidak tumbuh (M=2,500) ketimbang perusahaan yang tumbuh (M=2,150).
Hasil penelitian ketiga, penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan mengenai kebijakan dividen antara perusahaan yang tumbuh dengan perusahaan yang tidak tumbuh. Kebijakan dividen antara perusahaan yang tumbuh dan tidak tumbuh tidak memiliki perbedaan pada kebijakan dividen yang melalui dividen yield (Mtumbuh = Mtidaktumbuh = 2,500) namun pada kebijakan dividen yang melalui dividen payout terdapat perbedaan rata-rata, dimana perusahaan yang tidak tumbuh memiliki kebijakan dividen payout yang lebih dominan (M = 2,147) ketimbang perusahaan yang tumbuh (M=2,049).

Each company tends to use internal equity as its financing source. If the internal equity wasn?t enough to finance its activities, company would use external finance such as debt as an alternative way of financing. If debt wasn?t enough to finance its activities, then the company has other alternative way to finance their activities such using external equity. Company obtain internal equity from its retained earning which is risk free and better to finance its activities than debt. Yet comparing to reissuing new shares, debt is better than reissuing new shares as a financing source. Even both debt and reissuing new shares are risky; the risk of debt is less than reissuing new shares. If company used its internal equity to finance almost all its activities, it would have an effect to the distribution of dividend to the stockholders. The bigger the investment, the lesser the dividend distributed to the stockholders. Thus, the company is funded by external resources such as debt, it would distribute bigger dividend to its stockholders.
The dividend policy is a decision in using company?s profit whether to distribute it or to save it as retained earning and use it to invest in the future. Balancing the present dividend and future growth in order to maximizing company stock price is the optimum dividend policy.
Investment Opportunity Sets (IOS) describes the company is as a combination of real assets (assets in place) and future investment option. Future investment option is not just shown by the projects which are supported by researches and development activities, but also by company capability to explore the opportunity in taking advantage comparing to others among the industries.
Differentiations in investment option or growth depend on the freedom of company expenditure determined by the managers in the future. The main factor in determining IOS is industrial factors, such as entry barriers and product life cycle. This factor enables the company to make an investment which increases the level of entry barriers (capital substitution for human capital as a result of economic of scale). Growth opportunity in new projects is not only supported by sophisticated researches and development activities, but the more important is it also has more choices in doing the new project.
These research classified companies into two groups, growth companies and un-growth companies by comparing the growth realization factors. First assumption was the forming proxies of IOS weren?t related to the growth factors of the companies. The next process in this research is identifying the differences between financing policies and dividend policies among growth companies and un-growth companies. The proposed early assumption is that there are no differences between growth and un-growth companies in implementing financing and dividend policies.
Classification of growth and un-growth companies is a result of factor analysis. Rank Spearman method was used to investigate the correlation between proxies IOS and growth realization factors. For further analysis, ANCOVA analysis method was used to identify the differences among financing and dividend policies between growth and un-growth companies. This research used A as a main factor of growth which IA1: "Growth Company" and IA2: "Un-Growth Company"; B as a main factor of financing policy which IB1: "Book Debt Equity(BDE)" and IB2: "market Debt Equity (MDE)" and C as a main factor of dividend policy which IC1: "Dividend Payout (DP) and IC2: "Dividend Yield (DY)" and growth realization factors as covariant.
Positive and negative correlation is the first result of the research. Positive correlation showed a direct relation between IOS proxies and growth realization, which the growth or additional value for each IOS proxy will be followed by growth or additional value of growth realization factors correlating with IOS proxy. Negative correlation showed a indirect relation between IOS proxies with growth realization, which the growth or additional value for each IOS proxy won?t be followed by growth or additional value of growth realization factors correlating with IOS proxy.
The second result showed that there are differences in making financing policy between growth companies and un-growth companies. Financing policy with BDE is dominant to growth companies (M=2.224) compared to un-growth companies (M=2.147). On the contrary, the financing policy with MDE is dominant (M=2.500) to un-growth companies compared to growth companies (M=2.150).
The third result is to prove if there were differences between growth and un-growth companies in dividend policy. Dividend policy for growth and ungrowth companies has no differences in using dividend yield (Mgrowth = M un-growth = 2.500) but it has differences in using dividend payout which un-growth companies i (M=2.049)."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25755
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fibria Indriati Dwi Liestiawati
"Terpisahnya kepemilikan (ownership) dan manajemen (control) yang merupakan fenomena dewasa ini seringkali memunculkan masalah, karena kepentingan antara pemilik dan manajer tidak selalu sejalan. Perbedaan kepentingan ini menimbulkan konflik kepentingan. Adanya konflik kepentingan antara prinsipal (pemilik) dan agen (manajemen)- yang secara tradisional dianggap sebagai sumber yang paling penting yang dapat mengakibatkan ketidakefisienan dalam proses pembuatan keputusan - telah menarik perhatian sejumlah peneliti untuk melakukan penelitian empiris yang berkaitan dengan struktur kepemilikan, hutang dan dividen sebagai mekanisme kontrol dari biaya agensi yang efektif dalam mengurangi informasi asimetris antara perusahaan dan investor potensial.
Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa di dalam teori agensi, antara insider ownership, kebijakan hutang dan kebijakan dividen dapat dihubungkan secara langsung dan terkait bukan saja dengan atribut-atribut spesifik perusahaan yang sama, tetapi secara langsung dengan satu sama lain. Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan langsung dan tidak langsung inilah, maka penelitian ini dilakukan. Penelitian mencoba untuk menguji hubungan simultan antara insider ownership, kebijakan hutang dan dividen yang dipengaruhi oleh beberapa karakteristik operasional perusahaan. Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan model persamaan simultan two stage least square (TSLS). Model persamaan simultan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti model yang dikemukakan oleh Jensen, et.al (1992), yaitu:
INSIDER =f (DEBTit, DIVit, RISKit, lnSIZEit)
DEBT = f (INSIDit,DIVit,RISKit,PROFITit)
DIVIDEN =f (INSIDit,DEBTit,PROFITit,GROWTHit)
Hasil analisis didasarkan pada ouput yang dikeluarkan oleh SPSS 12.0 dan Eviews 5.0 dimana output dari SPSS 12.0 digunakan untuk mendeskripsikan sampel yang diamati dan ouput dari E.Views 5.0 digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara insider ownership dan kebijakan keuangan perusahaan. Walaupun hubungan yang terjadi pada ketiga variabel endogen signifikan, kesimpulan dari penelitian ini tidak dapat digeneralisasi, sebab menurut Nupikso (2001:10), variabel keagenan modal kurang dapat digeneralisir di Indonesia, hal ini disebabkan karena struktur kepemilikannya yang didominasi oleh manajemen keluarga
(pemilik merangkap pengelola). Arah dari ketiga persamaan tersebut searah maka penelitian ini menerima H1a yang berarti terdapat hubungan saling ketergantungan antara variabel endogen yaitu insider ownership, kebijakan hutang dan kebijakan dividen.

The separation of ownership and management (control} often brings trouble, because the owners and managers do not necessarily have matching interests. The dissimilar interest arouses a conflict of interest. The existence of a conflict of interest between principal (the owners} and the agent (management} - traditionally is assumed to be the crucial reason of inefficiency in making decisions - has drawn
attention of many researchers to do an empirical research concerning ownership structure, debt and dividend as control mechanism from an effective agency cost reducing asymmetric information between firm and potential investors.
Earlier researches have shown that in agency theory, insider ownership, debt policy and dividend policy could have direct relationship and not only connected by the same specific firm's attributes, but directly related between each other. This research is carried out in the course of understanding and explaining these relationships.
The research is trying to test a simultaneous relationship among insider ownership, debt policy and dividend policy that are affected by a number of operational characteristics of a firm. To test the research hypothesis, a two stage least square (TSLS) simultaneous equation model is employed. This model is taken from Jensen, et.al (1992) and holds:
INSIDER =f (DEBTit, DIVit, RISKit, lnSIZEit)
DEBT =f (INSIDit,DIVit,RISKit,PROFITit)
DIVIDEN = f (INSIDit,DEBTit,PROFITit,GROWTHit)
The result of this research is based on SPSS 12.0 output to describe the observed samples and E.Views 5.0 to show any significant relationship between insider ownership and the firm's financial policies. Although the relationship among the three variables is significant, the conclusion of this research can not be generalized, because according to Nupikso (2001: 10), capital agent variable cannot be generalized in Indonesia. The reason for this is because of the family dominating ownership structure (owners are also managers). These three equations are in one direction, and therefore supporting H1a which predicted an interdependent relationship among endogen variables (insider ownership, debt policy, and dividend policy.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2005
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desy Septariani
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebijakan dividen yang diukur dari dividend payout ratio dan kebijakan hutang yang diukur dari debt to equity ratio terhadap nilai perusahaan yang diukur dari Price to book value pada perusahaan LQ45 yang terdaftar di BEI periode 2012-2015. Populasi dari penelitian semua perusahaan yang terdaftar di BEL Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 45 perusahaan LQ45 yang terdaftar di BEI periode 2012- 2015. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian secara parsial debt to equity ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Price to book value dan dividend payout ratio tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Price to book value. Secara simultan dividend payout ratio dan Debt to equity ratio berpengaruh terhadap Price to book value."
Jakarta: Pusat Kajian Ilmu Ekonomi (Puskanomi) Universitas Indraprasta PGRI, 2017
330 JABE 3:3 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nahdi Purnomo
"Index harga saham gabungan (IHSG) yang merupakan indikator bursa di Bursa Efek Jakarta telah menunjukkan penurunan terus menerus sampai minggu kedua bulan Juni 1996 sebesar 14,570 point. Keadaan ini menyebabkan para Investor melakukan aksi penjualan secara besar-besaran sehingga terjadi over supply di Bursa Efek Jakarta.
Disisi lain investor menunggu adanya initial Public Offering (IPO) dari 8 (delapan) Perusahaan Publik dengan harapan dengan membeli saham -saham baru pada harga perdana dapat menjualnya di pasar sekunder dengan selisih harga yang cukup memadai.
Investor hanya akan membeli saham jika harga saham adalah lebih rendah daripada nilai intrinsiknya yaitu nilai sekarang dari seluruh penerimaan investor yaitu dividen yang diharapkan dan selisih harga saham yang terjadi pada waktu saham tersebut dijual dengan harga saham pada waktu saham tersebut dibeli sebagai capital gain yang didiskontokan pada tingkat bunga dengan risiko tertentu.
Tesis ini meneliti untuk melihat sejauh mana harga saham di Bursa Efek Jakarta telah mencerminkan nilai intrinsiknya. Dengan menggunakan dividen discount model (DDM) dari model Gordon pada pertumbuhan dividen perusahaan konstan yang dirumuskan sebagai :
Do (I+g) Dl
P6 = vQ = = dengan syarat k8 > g.
ks -g ks ?g
Berdasarkan asumsi bahwa faktor-faktor lainnya dianggap tetap, maka hipotesa kerja untuk penelitian tesis ini adalah:
Semakin besar dividen tunai yang diberikan emiten semakin tinggi harga saham di Bursa Efek Jakarta.
Semakin besar return yang diharapkan investor yang dicerminkan dengan beta sebagai risiko pasar semakin rendah harga saham di Bursa Efek Jakarta.
Semakin tinggi tingkat pertumbuhan dividen emiten yang di ukur dengan dividen per share (DPS) semakin tinggi harga saham di Bursa Efek Jakarta.
Hasil penelitian yang diperoleh dengan paket Statistical Analysis system 65A 5) menunjukkan bahwa :
Harga saham di Bursa Efek Jakarta belum sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsiknya karena hanya terdapat 2 (dua) variabel yang memenuhi hipotesa hipotesa kerjanya yaitu dividen dan tingkat pertumbuhan dividen saja. dimana kedua independen variabel ini mempunyai hubungan positif dengan harga saham. Untuk variabel independen beta yang mewakili risiko pasar yang diharapkan mempunyai hubungan negatif ternyata mempunyai hubungan positif dengan harga saham.
Melihat hasil penelitian tersebut kemungkinan besar telah terjadi; kesalahan pengukuran dari variabel beta dan tingkat pertumbuhan dividen, atau asumsi penggunaan model tingkat pertumbuhan konstan dalam penelitian dengan model Gordon ini belum tentu dapat diterapkan untuk 100 Perusahaan publik yang diambil sebagai sampel. cemungkinan lain jika melihat pada adjusted R2 yang bernilai kecil sekitar 24,25% ` 39,30% terdapatnya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga saham yang tidak dapat dikendalikan seperti : risiko politik, isu-isu politik, fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah terhadap U.S. dollar, peraturan Pemerintah mengenai perpajakan, Adanya penjualan saham-saham emiten pada Perusahaan asing yang dianggap sebagai capital flight."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Carmelia Widiastuti
"Pendahuluan
Manajemen keuangan didefinisikan sebagai fungsi dan tanggung jawab manajer keuangan. Walaupun kondisi perusahaan berbeda-beda, namun keputusan utama yang diambil oleh manajer keuangan adalah : keputusan investasi, keputusan pembelanjaan, dan keputusan untuk menentukan berapa banyak dividen harus dibagikan kepada pemegang saham. Ketiga keputusan ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Masing-masing keputusan diintegrasikan untuk memaksimumkan nilai perusahaan, yang dicerminkan dari harga pasar sahamnya.
Besar kecilnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham tergantung dari kebijaksanaan dividen masing-masing perusahaan. Kebijaksanaan dividen atau keputusan dividen pada hakekatnya menentukan posisi keuntungan yang akan dibagikan kepada pemegang saham dan seberapa banyak yang ditahan sebagai retained earnings. Perbandingan antara dividen dan keuntungan merupakan rasio pembayaran dividen atau dividend pay out ratio. Karena dividen merupakan bagian dari Iaba, maka salah satu faktor yang mempengaruhi dividend pay out ratio adalah besarnya Iaba.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebijakan dividen ditentukan oieh perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini akan menggambarkan pengaruh besarnya kebutuhan investasi, kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal sendiri yang ditanamkan (return on equity), struktur modal (debt to equity ratio) terhadap penentuan kebijakan dividen (dividend payout ratio), pada perusahaan-perusahaan go public di Bursa Efek Jakarta, juga perbedaan kebijakan dividen perusahaan aktif dan tidak aktif dalam perdagangan sahamnya di Bursa Efek Jakarta.
"
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Made Ria Kurniasih Astuty
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25513
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>