Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ginting, Diana Malemita
"Kegiatan ekonomi suatu negara selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat ke arah positif (maju) atau ke arah negatif (mundur). Dalam perekonomian negara yang mengalami penurunan atau kemunduran, salah satu cara yang dilakukan pengusaha untuk tetap bertahan maupun bertumbuh adalah dengan melakukan kombinasi bisnis (business combination). Oleh karena kombinasi bisnis banyak dijalankan oleh para pengusaha dewasa ini dan kegiatannya beraneka, kombinasi bisnis perlu dikaji lebih mendalam khususnya dilihat dari aspek perpajakan dan aspek akuntansi.
Beberapa pokok permasalahan dalam kombinasi bisnis menyangkut pengertian dan pengklasifikasian berbagai kegiatan kombinasi bisnis dilihat dari bisnis baik dari aspek akuntansi maupun perpajakan (Pajak Penghasilan), serta kaitan antara aspek akuntansi dan aspek perpajakan dalam rangka kegiatan kombinasi bisnis ini.
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan di atas.
Teknik penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analisis yaitu menguraikan berbagai pengertian dan konsep tentang hakekat kombinasi bisnis dari aspek akuntansi. Deskriptif analitis juga dilakukan dalam rangka menguraikan berbagai aturan perpajakan khususnya Pajak Penghasilan yang berkaitan dengan kombinasi bisnis.
Temuan analisis adalah belum adanya ketentuan pajak yang mengatur apabila suatu badan usaha yang mempunyai kerugian besar menerima pengalihan aktiva dan kewajiban badan usaha lain yang tidak mempunyai sisa kerugian yang belum dikompensasikan dalam rangka penggabungan usaha dengan menggunakan nilai buku. Hal ini berakibat badan usaha yang menerima pengalihan tetap dapat mengkompensasikan kerugiannya disamping juga melakukan penggabungan usaha yang menggunakan nilai buku.
Dan hasil analisis, disarankan kiranya dibuat petunjuk bagi Wajib Pajak dalam menyajikan laporan keuangan hasil kombinasi bisnis, perlu adanya aturan pajak yang mengatur pemegang saham badan usaha yang dialihkan yang ternyata tidak menerima saham, melainkan dengan uang kas; atau selain menerima saham juga menerima uang kas."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T2023
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Utami
"Sesoot (G. picrorrhiza Miq.) merupakan sumber daya hayati yang memiliki potensi sitotoksik terhadap sel kanker payudara. Potensi ini memberikan peluang untuk penatalaksanaan kanker payudara melalui permodelan doksorubisin dan kombinasinya dengan sampel herbal. Penelitian ini untuk membuktikan potensi antikanker payudara terhadap sel MCF-7 dan T47D dari daging buah dan kulit buah sesoot (G. picrorrhiza Miq.) yang selanjutnya disebut buah. Telah dilakukan karakterisasi sampel secara kimia dan biomolekuler sehingga menghasilkan sampel terkarakterisasi, GpKar. Sitotoksisitasnya ditentukan dengan metode MTT (3-[4,5-dimethylthiazol-2-yl]-2,5 diphenyl tetrazolium bromide) Assay, lalu dilakukan uji kombinasi dengan doksorubisin untuk mendapatkan Combination Index (CI). Pengamatan induksi apoptosis dilakukan dengan metode Double Staining dan ekspresi protein Caspase 3 dengan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA). GpKar memiliki LC50 terhadap larva Artemia salina Leach sebesar 21,110 μg/mL (paling kecil di antara 15 sampel lainnya). Pada uji terhadap sel Vero dengan konsentrasi 250 μg/mL hanya mematikan 11,844 %, tetapi mematikan sel T47D 50,825 % dan MCF-7 31,743 %. Kombinasinya dengan doksorubisin menghasilkan efek sinergis dalam mematikan sel MCF-7 pada konsentrasi 0,200 μg/mL doksorubisin dan konsentrasi GpKar maksimal 125,238 μg/mL (1/4 IC50) juga terhadap sel T47D pada konsentrasi 0,200 μg/mL doksorubisin dan konsentrasi GpKar maksimal 61,799 μg/mL (1/4 IC50). GpKar mempengaruhi induksi apoptosis pada konsetrasi 500,951 μg/mL (1 IC50) dengan menghasilkan persentasi kematian sel MCF-7 paling tinggi yaitu 99 % dan terhadap Sel T47D sebesar 91 %, pada konsentrasi 61,799 μg/mL (1/4 IC50) sedangkan terhadap sel Vero dapat menghasilkan persentase kematian paling rendah yaitu 2,100 % pada konsentrasi 132,943 μg/mL (1/4 IC50). Kombinasinya dengan doksorubisin menghasilkan persentase kematian yang lebih rendah akibat induksi apoptosis. GpKar dan kombinasinya dengan doksorubisin mampu meningkatan konsentrasi protein Caspase 3.

Sesoot (G. picrorrhiza Miq.) is a medicinal plant which has cytotoxic activity against breast cancer cells. This potency provides the opportunity for treatment of breast cancer through doxorubicin modelling and its combination with herb. This study was done to prove the anti-breast cancer potency of the fruit and the hull of sesoot (G. picrorrhiza Miq.) hereinafter referred to as the fruit against MCf-7 cell and T47D cell. Chemical and Biomolecular Characterizations were done to obtain the characterized sample of GpKar. The cytotoxicity effect was determined using the method of MTT (3-[4,5-dimethylthiazol-2-yl]-2,5 diphenyl tetrazolium bromide) Assay, and the combination test with doxorubicin resulting the Combination Index (CI). The apoptotic induction was observed using Double Staining Method and the Caspase 3 protein expression was observed using the method of Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The LC50 of GpKar against the larvae of the Artemia salina Leach was 21.110 μg/mL (the least among 15 samples). The Gpkar concentration of 250 μg/mL was the least toxic in term of mortality against Vero cell (11.844 %), but toxic in term of mortality against T47D cell (50.825 %) and MCF-7 cell (31.743 %). The combination with doxorubicin resulted in the synergystic effect against MCF-7 cell (0.200 μg/mL doksorubicin with the maximum GpKar concentration of 125.238 μg/mL (1/4 IC50)) and also against T47D cell (0.200 μg/mL doxorubicin with the maximum GpKar concentration of 61.799 μg/mL (1/4 IC50)). GpKar induced the apoptosis at the concentration of 500.951 μg/mL (1 IC50) resulting the mortality percentage of the MCF-7 cell up to 99 % and up to 91 % against T47D cell at the concentration of 61.799 μg/mL (1/4 IC50) of GpKar, whereas the concentration of 132.943 μg/mL (1/4 IC50) of GpKar resulted in the lowest mortality percentage against Vero cell which was 2.100 %. The combination of GpKar with doxorubicin resulted in the lower mortality percentage as the consequence of apoptotic induction. GpKar and its combination with doxorubicin increased the concentration of the Caspase 3 protein."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Warouw, Martha Solea
"Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi Negara Republik Indonesia perlu diteliti dan dibahas secara tuntas. Ketuntasan ini seharusnya meliputi semua aspek bahasa Indonesia, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, sampai pada wacana. Akan tetapi, penelitian tentang wacana bahasa Indonesia masih memprihatinkan.
Sepanjang pengetahuan saya, baru ada beberapa bahasan yang ada kaitannya dengan analisis wacana bahasa Indonesia (Currier, 1977; Rafferty, 1982; 1983, Dardjowidjojo, 1986; Sihombing, 1986; Kridalaksana, 1987; Kasvvanti Purwo, 1986, 1988, 1989; Tallei, 1988; Baryadi, 1988; Purwadi, 1991; Salea-Warouw, 1991, 1992a, 1992b, 1994). Alwi et al. (1993, 471-509) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia lebih banyak memberikan gambaran umum mengenai wacana bahasa Indonesia.
Banyak hal yang dapat diteliti dalam wacana bahasa Indonesia. Salah satu aspek gramatika wacana bahasa Indonesia yang masih sangat kurang diperhatikan adalah kombinasi predikasi. Padahal, kombinasi predikasi dalam wacana merupakan alat yang ampuh untuk menyampaikan dan menerima informasi dalam komunikasi antarmanusia."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
D429
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Menurut WHO (World Health Organization) sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi dengan tuberkulosis (TB). Sekitar 2 juta orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya dan akan muncul lebih dari 8 juta penderita TB baru setiap tahunnya. Selain itu, kembali menurut WHO (2000), jumlah kematian akibat tuberkulosis akan menjadi 35 juta orang pada tahun 2000-2020. Sebagian besar pasien tuberkulosis di dunia masih tetap diobati dengan beberapa obat-obat tunggal, atau mungkin dengan obat TB kombinasi dosis tetap (KDT) yang berisi 2 obat. Untuk meningkatkan mutu hasil pengobatan maka WHO merekomendasikan penggunaan obat TB dalam bentuk TB kombinasi dosis tetap (KDT) yang berisi 2 dan 3 obat dalam strategi DOTS. Sejak 1999, KDT yang berisi 4 obat telah dimasukkan pula dalam “WHO Model List of Essential Drugs”. Dewasa ini KDT merupakan alat penting untuk makin meningkatkan mutu pelayanan pada pasien TB, dalam akselerasi program DOTS untuk segera mencapai target global. Obat TB dalam bentuk kombinasi dosis tetap (KDT) dapat menyederhanakan cara pengobatan dan juga manajemen pengelolaan / distribusi obat TB serta mampu mencegah timbulnya resistensi. KDT menyederhanakan cara pengobatan karena jumlah tablet yang harus ditelan pasien akan berkurang, ddari 15 – 16 buah menjadi 3 – 4 buah saja, dan juga menurunkan kesalahan penulisan resep. Juga jauh lebih mudah untuk menerangkan kepada pasien bahwa ia harus makan 4 tablet yang sejenis, daripada harus makan berbagai tablet dalam berbagai bentuk dan warna yang berbeda. Kemungkinan tidak memakan semua obat yang diharuskan juga dapat dicegah karena satu obat KDT sudah merupakan campuran dari beberapa obat sekalligus. KDT juga akan memudahkan para dokter dan petugas kesehatan karena hanya harus mengingat satu macam obat, lebih sederhana dan tidak membingungkan. Akhirnya, seluruh aspek distribusi obat (pembelian, pengapalan, penggudangan) juga jauh lebih sederhana dalam bentuk KDT ini.Efek samping obat tidaklah akan bertambah bila kita menggunakan KDT. Bila terjadi juga efek samping maka mungkin diperlukan obat dalam bentuk tunggal. Kualitas, keamanan dan efektivitas KDT ditentukan oleh proses pembuatannya, artinya seberapa jauh produsen mematuhi kaidah “good manufacturing practices (GMP)” dan spesifikasi farmakopea. Pengelola program TB nasional harus membuat sistem jaga mutu (“QA system”). Dalam hal ini WHO telah membangun jaringan laboratorium untuk menilai KDT yang ada sesuai dengan permintaan pihak industri farmasi. (Med J Indones 2003; 12: 114-9)

According to the World Health Organization, a third of the world’s population is infected with tuberculosis. The disease is responsible for nearly 2 million deaths each year and over 8 million were developing active diseases. Moreover, according to WHO (2000), tuberculosis deaths are estimated to increase to 35 million between 2000-2020. The majority of tuberculosis patients worldwide are still treated with single drugs, or with 2-drug fixed-dose combinations (FDCs). To improve tuberculosis treatment, 2- and 3-drug FDCs were recommended by the World Health Organization (WHO) as part of the DOTS strategy. Since 1999 a 4-drug FDC was included on the WHO Model List of Essential Drugs. Today, FDCs are important tools to further improve the quality of care for people with TB, and accelerate DOTS expansion to reach the global TB control targets. Fixed dose combination TB drugs could simplifies both treatment and management of drug supply, and may prevent the emergence of drug resistance .Prevention of drug resistance is just one of the potential benefits of the use of FDCs. FDCs simplify administration of drugs by reducing the number of pills a patient takes each day and decreasing the risk of incorrect prescriptions. Most tuberculosis patients need only take 3–4 FDCs tablets per day during the intensive phase of treatment, instead of the 15–16 tablets per day that is common with single-drug formulations It is much simpler to explain to patients that they need to take four tablets of the same type and colour, rather than a mixture of tablets of different shapes, colours and sizes. Also, the chance of taking an incomplete combination of drugs is eliminated, since the four essential drugs are combined into one tablet. FDCs are also simpler for care-givers as they minimize the risk of confusion. Finally, drug procurement, in all its components (stock management, shipping, distribution), is simplified by FDCs. Adverse reactions to drugs are not more common if FDCs are used. Nevertheless, whenever side-effects to one or more components in a FDC are suspected, there will be a need to switch to single-drug formulations. Quality, safety and efficacy of FDC drugs are determined by the manufacturing process i.e. by compliance of the manufacturer with the requirements of good manufacturing practices (GMP) and pharmacopoeial specifications. National TB programmes must establish a QA system WHO established a laboratory network that tests the quality of FDCs in the marketplace and registers products upon request from the pharmaceutical industry. (Med J Indones 2003; 12: 114-9)"
Medical Journal of Indonesia, 12 (2) April June 2003: 114-119, 2003
MJIN-12-2-AprilJune2003-114
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Madema Lasro
"ABSTRAK
Perkembangan dunia industri yang semakin pesat sekarang ini, menyebabkan setiap industri jasa percetakan harus mampu bersaing dalam kompetisi dunia industri yang semakin berat, dan harus dapat memuaskan konsumen (kepuasan pelanggan). Bersaing baik dalam hal pelayanan, harga, teknologi dan terutama kualitas dalam hal ini kualitas cetakan yang sangat mendasar. Perlu adanya penelitian peningkatan mutu standar kualitas hasil cetakan menggunakan kombinasi pengaturan, khususnya percetakan produk majalah. Atas dasar hal tersebut, perlu dilakukannya suatu perancangan dan penerapan kombinasi pengaturan percetakan produk majalah untuk meningkatkan mutu standar kualitas hasil cetakan dengan menggunakan DFMA dan DOE. Dengan kombinasi pengaturan yang dirancang dan diterapkan diharapkan didapatkan desain baru yang lebih baik. Hasil desain dengan kombinasi pengaturan pada DFMA dan DOE menghasilkan peningkatan kestabilan mutu standar hasil kualitas cetak bahkan penghematan waktu, material, biaya yang berpengaruh secara signifikan.

ABSTRACT
Expantion in world of industrion nowdays more and more rapidy, causes every printing industrion must be competitive in industrion serious world competition and must be satisfaction to customer. Competitive in services, price, technology, and quality, in this case base on output printing quality. There is need research of Improvement Grade of Standard Quality Printing Output Using Combination Setting, notably magazine printing. Such was base on the case need to do a design and application of magazine product printing Combination setting for improving standard grade of output printing quality using DFMA and DOE methods. With do the Combination setting designed and applicated, will be hope able a new better design. The result of the design with Combination setting at DFMA and DOE can be turning out improving standard grade of output printing quality be stable, even reduce of time, material, and cost that is so significant influentially.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T26760
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arvin Pramudita
"Background: a patient with a history of tuberculosis (TB) has a risk up to 27% to develop recurrence within 2 years after being cured. Indonesia itself has more than 7,500 recurrent cases annually, regardless of reinfection or relapse. This is an important problem, as recurrent TB is associated with lower cure rates with the anti-TB therapy and higher risk of developing drug resistance. Some risk factors for this recurrence are smoking, poor treatment adherence, low economic status, and weak immune status. This study is aimed to identify whether the use of fixed-dose combination (FDC) anti-tuberculosis therapy increases the risk for tuberculosis recurrence compared with using separate drug formulation.
Methods: the search was conducted on MEDLINE, ProQuest, EBSCO, ScienceDirect, and Cochrane according to clinical question. The studies were selected based on inclusion and exclusion criteria and led to five useful articles. The selected studies were critically appraised for their validity, importance, and applicability.
Results: five cohort studies were found with comparable validity. Only 1 study has accurate relative risk (RR) with 3.97 (1.14-13.80) and number needed to harm of 18. Other four studies fulfilled the applicability criteria for our case.
Conclusion: the use of FDC anti-tuberculosis therapy increases the risk for tuberculosis recurrence compared with using separate drug formulation."
Jakarta: Faculty of Medicine University of Indonesia, 2017
610 UI-IJIM 49:2 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Prasna Pramita
"Chronic hepatitis B is still a major health problem in Indonesia. Unfortunately, to date, treatment of chronic HBV (Hepatitis B virus) infection had not shown satisfactory result. Monotherapy with alpha interferon or lamivudine have been widely used as treatment of chronic HBV. However, treatment response to Alpha interferon in Asian people was not satisfactory (15% - 20%), while monotherapy with lamivudine was not sufficient to eradicate HBV in chronically infected patients and commonly induce drug resistance. The occurrence of chronic hepatitis B resistant to lamivudine had encouraged development of newer agents such as adefovir, entecavir, emtricitabine and nucleoside analog. New therapeutic strategy using combination therapy should be considered if there is no sufficient response to monotherapy"
2005
IJGH-6-1-April2005-9
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>