Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Silvy Daniel
"ABSTRAK
Bibir atas dan bibir bawah membentuk bagian bawah dari profil jaringan lunak wajah yang sangat erat hubungannya dengan gigi geligi. Untuk melakukan koreksi ortodonti pada pasien dengan profil cembung, perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perubahan jaringan lunak sebagai akibat perubahan posisi anteroposterior gigi insisif atas. Retraksi insisif atas, tidak diikuti perubahan kontur bibir secara proposional. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai banyaknya pengaruh retraksi gigi insisif atas terhadap perubahan posisi bibir atas dan bibir bawah. Selain itu juga diteliti hubungan antara tebal bibir, over jet dan perubahan inklinasi insisif atas dengan perubahan posisi bibir tersebut. Penelitian ini merupakan suatu studi klinis retrospektif. Sampel terdiri dari 30 foto sefalometri pasien dengan maloklusi kelas I protrusi dental maksiler dan kelas II divisi 1, usia > 16 tahun yang diukur sebelum dan setelah selesai perawatan. Dan hasil penelitian didapat persamaan regresi, yaitu: perubahan bibir atas = 0,319 x banyaknya retraksi insisif atas (dalam milimeter) + 0,182, perubahan posisi bibir bawah = 0,526 x banyaknya retraksi insisif atas (dalam milimeter) + 0,448, perubahan posisi bibir bawah = 0,826 x perubahan posisi bibir atas (dalam milimeter) + 1,176. Tebal bibir, over jet dan perubahan inklinasi insisif atas tidak berhubungan dengan perubahan posisi bibir atas dan bibir bawah."
1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enrita Dian Rahmadini
"Latar Belakang: Hipomineralisasi Molar-Insisif merupakan defek kualitatif yang bersifat sistemik pada satu sampai empat gigi molar permanen pertama. Kelainan ini dapat menimbulkan masalah klinis yang dapat berdampak pada kualitas hidup anak. Diagnosis dini HMI diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Data mengenai pengetahuan HMI pada dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi di Indonesia belum ada. Pengetahuan dasar HMI diperlukan untuk dapat melakukan diagnosis dan dapat menentukan rencana perawatan yang tepat. Perlunya penyebaran informasi mengenai HMI pada dokter gigi. Kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dapat menjadi hambatan dalam mendapatkan pendidikan berkelanjutan sebagian besar dilakukan di kota-kota besar terutama ibukota. E-learning merupakan edukasi berbasis digital yang dapat mengatasi masalah lokasi dan jarak. Tujuan: untuk mengetahui efektivitas e-learning berbasis web dalam peningkatan pengetahuan, kemampuan diagnosis dan menentukan perawatan gigi HMI, serta persepsi pada mahasiswa profesi kedokteraan gigi. Metode: Tahap 1 adalah studi potong lintang menggunakan kuesioner untuk mengetahui persepsi, pengetahuan, pengalaman klinis serta hambatan dalam melakukan perawatan gigi HMI pada mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi berdasarkan faktor-faktor terkait. Tahap 2 merupakan penelitian uji Randomized trial (desain pre-Post-test) Hasil penelitian: Responden pada tahap 1 terdiri dari 104 mahasiswa profesi kedokteran gigi, 62 PPDGS IKGA, 83 Sp.KGA dan 60 Sp. lainnya. Skor pengetahuan dan kemampuan diagnosis pada responden masih kurang baik (46,9 ± 5,59 untuk skor pengetahuan dan 3,26 ± 1,25 untuk skor diagnosis), dan separuh responden belum memahami prinsip perawatan gigi HMI. Faktor jenis kelamin, usia, lama praktek, adanya pendidikan mengenai HMI selama di fakultas dan terpaparnya continuing education tidak berkaitan dengan pengetahuan, kemampuan dalam mendiagnosis dan menentukan perawatan. Pada penelitian tahap 2 dilakukan intervensi dengan melakukan pelatihan HMI dengan menggunakan metode e-learning berbasis web dan metode tatap muka sebagai grup kontrol. Peserta pelatihan terdiri dari 62 mahasiswa profesi kedokteran gigi yang dibagi ke dalam 2 kelompok pelatihan secara random. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor yang bermakna sebelum dan sesudah pelatihan. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada peningkatan skor pelatihan antara kedua grup. Pelatihan elearning memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan pengetahuan, kemampuan diagnosis dan kemampuan menentukan perawatan gigi HMI dengan grup kontrol. Kesimpulan: Pengetahuan, persepsi, dan kepercayaan diri dalam mendiagnosis dan merawat gigi HMI pada DRG rendah dibandingkan dengan PPDGS, Sp.KGA, namun pelatihan HMI ini dapat meningkatkan ketiga aspek tersebut. Pelatihan e-learning berbasis web dapat digunakan sebagai alternatif metode pelatihan HMI.

Background: Molar incisor hypomineralization is a systemic qualitative defect affecting 1 to 4 first permanent molars. MIH can couse many clinical problems such as hypersensitive, progressive caries and limitation of oral function that can impact their quality of life. Early diagnosis is crutial to prevent further complication. Therefore basic knowledge of MIH is important to be able diagnosed and determined a prompt treatment. There is no data about MIH knowledge and perception among dental practitioners in Indonesia. There is a need to disseminate information about HMI to dentists. Indonesia geographic condition can be a barrier for dentiststo have continuing education. E-learning is a digital-based education that can solve the problem of location and distance. Objectives: to determine the effectiveness of web-based e-learning in enhancing knowledge, diagnosing skill and managing of MIH teeth as well as perception in diagnosing and treatment of MIH teeth in dental students. Method: Phase 1 was a cross-sectional study to determine knowledge, perception, clinical experience and treatment berrier of MIH teeth among dental students and dentist using questionnaire. Phase 2 was Randomized trial desain pre-pest test with control group. Result: Respondents in phase 1 consisted of 104 dental students, 62 pediatric dentist post graduate students, 83 pediatric dentists and 60 other dental specialists. The knowledge score and diagnosing skill of the respondents is low (46,9 ± 5,59 for the knowledge score and 3,26 ± 1,25 for the diagnosis score), and half of the respondents did not understand the principles of HMI treatment. Gender, age, length of practice, adequate training in dental school and exposure to continuing education were not related to knowledge and skill for diagnosed and determined dental treatment for HMI. Almost all respondents felt the need for training on HMI. Phase 2 was an intervention by conducting HMI training using web-based e-learning methods and face-to-face methods as a control group. The training participants consisted of 62 dental students who were randomly divided into 2 training groups. The results of the study showed a significant increase in scores before and after the training. There was no significant difference in the increase of training scores between the two groups. E-learning training has the same effectiveness in increasing knowledge, diagnostic skills and the ability to determine HMI dental treatment with faceto-face training"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Sutanto Budiman
"[ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan jenis kelamin terhadap
penentuan jarak bidang labial gigi anterior ke papila insisiva pada ras Deutero
Melayu. Penelitian potong lintang ini menggunakan model rahang atas dari 105
mahasiswa (53 orang laki-laki dan 52 orang perempuan) FKG UI ras Deutero
Melayu. Pada model tersebut difoto dan dilakukan 6 macam pengukuran (IMP,
IP, IIC,ICP, CP, ICA) pada hasil foto. Hasil 6 macam pengukuran (IMP, IP, IIC,
ICP, CP, ICA) dapat diterapkan pada ras Deutero Melayu.
Terdapat hubungan jenis kelamin pada pengukuran IIC,CP, ICA.

ABSTRACT
The aim of this study was to analize the relationship between gender and papilla
incisive as a guide to arrangement of anterior maxillary teeth based on Deutero
Melayu race. A cross-sectional study using maxillary stones casts from 105 dental
students (53 male and 52 female) in Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. A
standardized photograph was made for 6 measurements (IMP, IP, IIC, ICP, CP,
ICA). The evaluation of 6 measurements can be used as a guide in arrangement of
anterior maxillary teeth based on Deutero Melayu. There is significant gender
difference in IIC, ICP, and CP measurements, The aim of this study was to analize the relationship between gender and papilla
incisive as a guide to arrangement of anterior maxillary teeth based on Deutero
Melayu race. A cross-sectional study using maxillary stones casts from 105 dental
students (53 male and 52 female) in Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. A
standardized photograph was made for 6 measurements (IMP, IP, IIC, ICP, CP,
ICA). The evaluation of 6 measurements can be used as a guide in arrangement of
anterior maxillary teeth based on Deutero Melayu. There is significant gender
difference in IIC, ICP, and CP measurements]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Merry Natalia Martina Duwiri
"Latar Belakang: Hal dasar dalam penentuan rencana perawatan ortodonti ialah melihat posisi dan inklinasi dari gigi insisif rahang atas dan rahang bawah, akan tetapi penempatan posisi dan inklinasi gigi insisif yang sesuai dengan kriteria parameter sefalometri normal tidak menjamin bahwa jaringan lunak di atasnya akan menghasilkan tampilan wajah yang harmonis. Hal ini disebabkan karena adanya variasi jaringan lunak antar etnis atau ras.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara inklinasi gigi insisif dan posisi bibir berdasarkan analisis sefalometri pada pasien ras Deutro-Melayu di klinik ortodonti RSKGM FKG.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian analitik restropektif cross sectional pada 64 radiograf sefalometri pasien di klinik ortodonti RSKGM FKG UI. Uji korelasi Spearman dilakukan antara nilai parameter inklinasi gigi insisif (UI-Mx, IMPA, Interincisal Angle) dengan nilai parameter posisi bibir berdasarkan E-line.
Hasil: Terdapat korelasi signifikan positif yang lemah antara UI-Mx dan posisi biibr bawah (r=0,294*). Terdapat korelasi signifikan negatif yang lemah antara Interincisal Angle dan posisi bibir bawah (r=-0,323*). Namun tidak terdapat korelasi antara UI-Mx, IMPA dan Interincisal Angle dengan bibir atas, serta IMPA dengan bibir bawah.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara inklinasi gigi insisif (UI-Mx, IMPA, Interincisal Angle) dan posisi bibir berdasarkan E-line.

Background: The basic thing in an orthodontic treatment plan is to look at the position and inclination of the maxillary and mandibular incisors, but the placement and inclination of the incisors according to the criteria for normal cephalometric parameters does not guarantee that the overlying soft tissues will produce a harmonious facial appearance. This is due to soft tissue variations between ethnicities.
Objective: To determine the relationship between incisor teeth and lip position based on cephalometric analysis in Deutro-Malay patients at the orthodontic clinic of RSKGM FKG.
Method: This study is a quantitative study using a cross-sectional retrospective analytic research method on 64 patients with cephalometric radiographs at the orthodontic clinic of RSKGM FKG UI. Spearman correlation test was performed between the incisor inclination parameter values ​​(UI-Mx, IMPA, Interincisal Angle) and the lip position parameter values ​​based on the E-line.
Results: The correlation test showed that there was weak positive significant between UI-Mx and lower lip position (r=0.294*). There was a weak negative significant correlation between Interincisal Angle and lower lip position (r=-0.323*). However, there was no correlation between UI-Mx, IMPA and Interincisal Angle with the upper lip, and IMPA with the lower lip.
Conclusion: There is no relationship between incisor inclination (UI-Mx, IMPA, Interincisal Angle) and lip position based on E-line.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessyca
"Tujuan: Mengetahui perbedaan persepsi antara ortodontis dengan masyarakat awam serta pria dengan wanita dalam menilai hasil perawatan hipodonsia insisif lateral rahang atas bilateral. Metode penelitian: Bentuk, warna, dan tepi gingiva gigi insisif lateral rahang atas bilateral dimodifikasi secara digital sebagai simulasi hasil perawatan hipodonsia insisif lateral rahang atas bilateral. Ketiga foto hasil modifikasi dilampirkan pada kuesioner berbasis digital lalu dinilai oleh 100 ortodontis dan 100 masyarakat awam, terdiri dari 100 pria dan 100 wanita. Penilaian dilakukan dengan metode Visual Analogue Scale (VAS) dan uji statistik dilakukan dengan uji-t tidak berpasangan. Hasil: Perbedaan bermakna secara statistik ditemukan pada persepsi ortodontis dan masyarakat awam terhadap foto perawatan dengan substitusi kaninus tanpa rekonturing dan foto perawatan dengan protesa. Kesimpulan: Ortodontis dan masyarakat awam memiliki persepsi yang berbeda terhadap hasil perawatan hipodonsia insisif lateral rahang atas bilateral, sedangkan jenis kelamin tidak mempengaruhi persepsi terhadap hasil perawatan hipodonsia insisif lateral rahang atas bilateral.

Objectives: This study aimed to compare the perception of Indonesian orthodontists and laypeople as well as men and women to the treatment of bilateral upper lateral incisor hypodontia. Methods: Shape, color, and gingival margin of bilateral upper lateral incisor were digitally modified as a simulation of bilateral upper lateral incisor hypodontia treatment result. Three modified photos were presented in a digital-based questionnaire and assessed by 100 orthodontists and 100 laypeople, consisting of 100 men and 100 women. The assessment was done using Visual Analogue Scale (VAS) and unpaired t-test was used to process the data. Results: Statistically significant differences were found between the perception of orthodontists and laypeople to the treatment utilizing canine substitution without recontouring, along with the treatment using prosthesis. Conclusions: Orthodontists and laypeople have different perceptions to the treatment results of bilateral upper lateral incisor hypodontia, while gender does not affect the perception to the treatment results.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah
"Latar Belakang: Pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung memiliki tahapan yang sudah dimulai pada usia 5-6 minggu saat kehamilan. Kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 9 bulan merupakan proses yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan organ salah satunya gigi sulung sehingga gangguan saat kehamilan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung. Salah satu parameter penentu kondisi kehamilan dapat dilihat dari pertambahan berat janin dengan mengukur bagian tubuh janin menggunakan Ultrasonography (USG). Pemantauan pertambahan berat janin ini dapat diukur dengan grafik pertumbuhan janin. Tujuan: menganalisis hubungan pertumbuhan dan perkembangan janin terhadap defek pembentukan struktur email gigi insisif sulung. Metode penelitian: Penelitian merupakan penelitian kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah 16 bayi dengan defek struktur email gigi insisif sulung dan 16 bayi dengan struktur email utuh atau normal yang memenuhi kriteria inklusi. Data estimasi berat janin sampel di masukan kedalam grafik acuan WHO, mengikuti atau tidak mengikuti grafik, lalu dilihat hubungannya terhadap ada atau tidaknya defek struktur email gigi insisif sulung yang dilihat menggunakan metode fotografi. Hasil: terdapat hubungan komparatif antara pertumbuhan dan perkembangan janin terhadap defek struktur email gigi insisif sulung. Kesimpulan: Anak dengan pertumbuhan dan perkembangan janin yang tidak mengikuti grafik acuan WHO memiliki resiko lebih besar terhadap adanya defek struktur email gigi insisif sulung dibandingkan dengan anak dengan pertumbuhan dan perkembangan janin mengikuti grafik acuan WHO.

Background: The growth and development of primary teeth has begins at the age of 5 to 6 weeks during pregnancy. The nine months period of pregnancy plays an important role for the growth and development of organs. One of the them is the primary teeth. Disturbances during pregnancy can cause impaired growth and development of the primary teeth. One of the parameters in determining the condition of pregnancy is the fetus weight gain. This can be measured using Ultrasonography (USG). Monitoring of fetal weight gain can be measured with a fetal growth chart. Objective: to analyze the relationship of fetal growth and development to defects in the formation of the enamel structure of primary incisors. Method: The study was a retrospective cohort study. The research subjects were 16 infants with enamel structure defects in primary incisors and 16 infants with normal enamel structures that met the inclusion criteria. The data on the estimated fetal weight of the sample was entered into the WHO reference chart, following or not following the chart, and then seeing the relationship to the presence or absence of a structural defect in the primary incisor enamel as seen using the photographic method. Results: There is a comparative relationship between fetal growth and development on the enamel structure defects of primary incisors. Conclusion: Children with fetal growth and development who do not follow the WHO reference chart have a greater risk of developing a primary incisor enamel structure defect compared to children with fetal growth and development following the WHO reference chart."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah
"Latar Belakang: Pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung memiliki tahapan yang sudah dimulai pada usia 5-6 minggu saat kehamilan. Kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 9 bulan merupakan proses yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan organ salah satunya gigi sulung sehingga gangguan saat kehamilan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung. Salah satu parameter penentu kondisi kehamilan dapat dilihat dari pertambahan berat janin dengan mengukur bagian tubuh janin menggunakan Ultrasonography (USG). Pemantauan pertambahan berat janin ini dapat diukur dengan grafik pertumbuhan janin.
Tujuan: menganalisis hubungan pertumbuhan dan perkembangan janin terhadap defek pembentukan struktur email gigi insisif sulung. 
Metode penelitian: Penelitian merupakan penelitian kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah 16 bayi dengan defek struktur email gigi insisif sulung dan 16 bayi dengan struktur email utuh atau normal yang memenuhi kriteria inklusi. Data estimasi berat janin sampel di masukan kedalam grafik acuan WHO, mengikuti atau tidak mengikuti grafik, lalu dilihat hubungannya terhadap ada atau tidaknya defek struktur email gigi insisif sulung yang dilihat menggunakan metode fotografi.
Hasil: terdapat hubungan komparatif antara pertumbuhan dan perkembangan janin terhadap defek struktur email gigi insisif sulung.
Kesimpulan: Anak dengan pertumbuhan dan perkembangan janin yang tidak mengikuti grafik acuan WHO memiliki resiko lebih besar terhadap adanya defek struktur email gigi insisif sulung dibandingkan dengan anak dengan pertumbuhan dan perkembangan janin mengikuti grafik acuan WHO.

Background: The growth and development of primary teeth has begins at the age of 5 to 6 weeks during pregnancy. The nine months period of pregnancy plays an important role for the growth and development of organs. One of the them is the primary teeth. Disturbances during pregnancy can cause impaired growth and development of the primary teeth. One of the parameters in determining the condition of pregnancy  is the fetus weight gain. This can be measured using Ultrasonography (USG). Monitoring of fetal weight gain can be measured with a fetal growth chart.
Objective: to analyze the relationship of fetal growth and development to defects in the formation of the enamel structure of primary incisors.
Method: The study was a retrospective cohort study. The research subjects were 16 infants with enamel structure defects in primary incisors and 16 infants with normal enamel structures that met the inclusion criteria. The data on the estimated fetal weight of the sample was entered into the WHO reference chart, following or not following the chart, and then seeing the relationship to the presence or absence of a structural defect in the primary incisor enamel as seen using the photographic method.
Results: There is a comparative relationship between fetal growth and development on the enamel structure defects of primary incisors.
Conclusion: Children with fetal growth and development who do not follow the WHO reference chart have a greater risk of developing a primary incisor enamel structure defect compared to children with fetal growth and development following the WHO reference chart.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library