Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jan Setiawan
"Boronisasi pada baja karbon ST37 dan S45C telah dilakukan menggunakan teknik powder pack. Komposisi serbuk yang digunakan terdiri atas 5% B4C, 5% KBF4 dan 90% SiC. Boronisasi dilakukan pada temperatur 1000 oC selama 8 jam dalam kondisi atmosfir inert menggunakan gas argon. Boronisasi yang dilakukan pada kedua baja menghasilkan lapisan borida diluar permukaan baja dan pada permukaannya. Ketebalan lapisan borida diluar permukaan pada baja ST37 setebal 43 μm yang lebih tebal dibandingkan pada baja S45C yang hanya setebal 31 μm. Kedalaman lapisan borida yang terbentuk pada baja ST37 sedalam 250 μm yang lebih dalam dan runcing dibandingkan lapisan borida yang terbentuk pada baja S45C yang hanya sedalam 243 μm. Analisis fasa pada permukaan lapisan borida untuk beberapa kedalaman dilakukan menggunakan XRD dan aplikasi GSAS. Dari pola difraksi teridentifikasi fasa FeB, Fe2B dan CrB pada kedua jenis baja yang digunakan.
Hasil analisis GSAS menunjukkan fasa FeB merupakan fasa dengan fraksi berat yang dominan sampai kedalaman 55 μm dari permukaan baja untuk baja ST37 dan sampai kedalaman 41 μm dari permukaan baja untuk baja S45C. Semakin kedalam, fraksi berat fasa FeB semakin berkurang seiring dengan peningkatan fraksi berat Fe2B dan CrB. Kekerasan mikro lapisan borida dari penampang lintang diperoleh berkisar antara 1300-1800HV. Sedangkan kekesaran mikro lapisan borida dari permukaan lapisan borida diperoleh berkisar 750-4500HV. Kekerasan mikro dari permukaan yang tertinggi pada kedua baja terukur pada saat fraksi berat fasa FeB yang tertinggi. Semakin ke dalam, kekerasan mikro lapisan borida relatif berkurang tetapi tetap lebih tinggi dari kekerasan mikro matriks dan fasa CrB masih teridentifikasi. Dapat disimpulkan, kekerasan mikro lapisan borida dari permukaan terluar sampai dikedalaman 50 μm dipengaruhi oleh fasa FeB. Kekerasan mikro lapisan borida dikedalaman lebih dari 50 μm lebih dipengaruhi oleh fasa CrB.
......Boronizing on ST37 and S45C carbon steel has been done through powder pack technique using powder of 5% B4C, 5% KBF4 and 90% SiC. The process carried out at isothermal temperature at 1000 °C for 8 hours in an inert atmosphere. The boride layers formed in outside and on the surface both of steels. The thickness of boride layer outside the surface on ST37 steel was 43 μm and 31 μm on the S45C steel. The depth of boride layers that formed on the surface ST37 steel was 250 μm. It was deeper than the depth of boride layers that formed on S45C steel which only 243 μm. The boride layers phases analysis for some depths carried out using XRD and GSAS application. The diffraction pattern identified that the FeB, Fe2B and CrB phases formed on both steels.
Analysis results from GSAS showed the dominant phases was the FeB. Its weight fraction raised until 55 μm from the surface for ST37 steel and until 41 μm from the surface for S45C steel. The weight fraction of FeB phase showed decreasing as long as the increasing weight fraction of Fe2B and CrB phases. The crosssection boride layers microhardness ranged from 1300-1800HV for both steels. The boride layers microhardness from top of the surface ranged from 750-4500HV for both steels. The highest microhardness from top of the surface for both steels identified at the highest weight fraction of the FeB phase. The boride layers microhardness was relatively decreasing but it was still higher than the matrix microhardness and the CrB phase still identified. We can say that the boride layers microhardness from the outer surface until 50 μm is influence by the FeB phase. The boride layers microhardness below 50 μm is more influenced by the CrB phase."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
T29088
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dizi Mardiansyah
"Boronisasi merupakan perlakuan termokimia yang mampu membentuk lapisan yang sangat keras dan tahan aus pada permukaan logam. Teknik boronisasi dapat dilakukan pada berbagai macam bahan, seperti ferrous metal, non-ferrous metal dan bahan cermet. Pelapisan boron dilakukan dengan harapan dapat menjadi alternatif untuk menggantikan pelapisan dengan bahan lain, sehingga dapat menghasilkan bahan yang lebih baik dan murah. Dalam thesis ini, akan menentukan ketahanan abrasif lapisan borid pada baja karbon ST37 dan S45C dengan variasi waktu boronisasi. Proses boronisasi pada baja karbon ST37 dan S45C dilakukan pada temperatur 1000oC selama 6, 8 dan 12 jam dalam kondisi inert (menggunakan gas argon). Teknik boronisasi yang digunakan adalah powder-pack boronizing dengan komposisi serbuk 5% B4C, 5% KBF4 dan 90% SiC. Morfologi lapisan borid pada kedua baja menyerupai bentuk gigi gergaji. Pada permukaan lapisan dari masing-masing baja karbon menghasilkan beberapa fasa yaitu FeB, Fe2B dan CrB. Pengujian keausan abrasif menggunakan metode piringan berputar, dimana pengoprasiannya dengan kertas abrasif dan kekuatan antara beban gesek dan bahan uji. Berdasarkan jumlah abrasif dan ketahanan aus, lapisan borid pada baja S45C dan waktu boronisasi 8 jam menghasilkan lapisan borid yang memiliki ketahanan abrasif yang terbaik, dengan jumlah abrasif yang rendah dan ketahanan aus yang tinggi.
......Boronizing is a thermochemical treatment that is able to form a layer of very hard and wear resistant metal surfaces. Boronizing techniques can be performed on various materials, such as ferrous metal, non-ferrous metal and cermets material. Boron coatings made with the hope to be an alternative to replace the coating with other materials, which can lead to better materials and cheap. In this thesis, will determine the resistance to abrasive layer borid on ST37 and S45C carbon steel with various boronizing time. Boronizing process on carbon steel ST37 and 1000oC S45C held at temperature for 6, 8 and 12 hours in an inert conditions (argon gas using). Boronizing technique used is powder-pack boronizing with B4C powder composition 5%, 5% and 90% SiC KBF4. The morphology of the second layer on the steel borid sawtooth-like shape. On the surface of each layer of carbon steel resulted in several phases of Feb, Fe2B and CrB. Abrasive wear testing using a rotating disc method, where the operation with abrasive paper and the friction force between the load and test materials. Based on the number of abrasive and wear resistance, coating on steel S45C borid and time boronisasi 8 hours produces borid layer that has the best abrasive resistance, with the result of a low abrasive and high wear resistance."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
T29094
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yunita Muliasari
"[ABSTRAK
Nyeri akibat prosedur pengambilan darah vena berpotensi menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak apabila tidak ditangani dengan tepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan dampak pemberian kantong jelli dingin dan hipnoterapi terhadap skor nyeri anak. Desain penelitian berupa Quasi experimental dan pengukuran skor nyeri menggunakan Numerical Rating Scale. Hasil analisis menggunakan uji T tidak berpasangan menghasilkan nilai p=0,013 yang menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara pemberian kantong jelli dingin dan hipnoterapi. Hasil uji korelasi Pearson dan Eta didapatkan p>0,05 menunjukkan tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pengalaman nyeri sebelumnya, dan kehadiran keluarga terhadap skor nyeri. Perawat dapat menerapkan hipnoterapi sebagai intervensi mandiri dalam manajemen nyeri anak.

ABSTRACT
Pain due to venous blood collection procedures has the potential to cause interference with child growth if not handled properly. This study aims to identify differences of impacts between cold pack and hypnotherapy and collaborate them with Children?s data relating to their pain (Pain Scores). The research design employed is Quasi experimental and pain scores measurement using a numerical rating scale. Results of analysis using unpaired T-test with p value=0,016 showed no significant difference between the provision of cold pack and hypnotherapy. Results of Pearson correlation and Eta test p>0,05 showed no relation between age, gender, previous pain experiences and the presence of the family with pain scores. Nurses can apply hypnotherapy as a standalone intervention in child pain mangement plan.;Pain due to venous blood collection procedures has the potential to cause interference with child growth if not handled properly. This study aims to identify differences of impacts between cold pack and hypnotherapy and collaborate them with Children?s data relating to their pain (Pain Scores). The research design employed is Quasi experimental and pain scores measurement using a numerical rating scale. Results of analysis using unpaired T-test with p value=0,016 showed no significant difference between the provision of cold pack and hypnotherapy. Results of Pearson correlation and Eta test p>0,05 showed no relation between age, gender, previous pain experiences and the presence of the family with pain scores. Nurses can apply hypnotherapy as a standalone intervention in child pain mangement plan., Pain due to venous blood collection procedures has the potential to cause interference with child growth if not handled properly. This study aims to identify differences of impacts between cold pack and hypnotherapy and collaborate them with Children’s data relating to their pain (Pain Scores). The research design employed is Quasi experimental and pain scores measurement using a numerical rating scale. Results of analysis using unpaired T-test with p value=0,016 showed no significant difference between the provision of cold pack and hypnotherapy. Results of Pearson correlation and Eta test p>0,05 showed no relation between age, gender, previous pain experiences and the presence of the family with pain scores. Nurses can apply hypnotherapy as a standalone intervention in child pain mangement plan.]"
2015
T43592
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aimee Detria Arianto
"BPOM menetapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) sebagai pedoman untuk Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang mengatur pemeliharaan suhu pada saat penerimaan, penyimpanan, dan pengiriman produk rantai dingin untuk dapat menjamin kualitas dan mutunya. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk menjaga suhu selama pengiriman adalah ice pack. Ice pack merupakan alat yang reusable, tahan terhadap bocor, ekonomis, dan efektif untuk mempertahankan suhu selama pengiriman. Validasi pengiriman produk rantai dingin perlu dilakukan untuk mengetahui konfigurasi terbaik dan menjamin kualitas produk selama transportasi. Konfigurasi ice pack yang paling baik untuk mempertahankan suhu 2- 8°C produk rantai dingin selama waktu tertentu diperoleh dengan menggunakan alat bantu temperature data logger. Dua konfigurasi yang divalidasi adalah konfigurasi dengan 4 ice pack dan 6 ice pack. Berdasarkan data yang diperoleh, penggunaan 4 ice pack merupakan konfigurasi yang terbaik karena mampu menjaga suhu dan tidak keluar dari rentang 2-8°C selama 8 jam.
...... Indonesian FDA (BPOM) published Good Distribution Practice (GDP) intended to assist pharmaceutical distributors relating to temperature during receipt, storage, and delivery of cold chain products to maintain the quality and integrity of products. One of the cold chain equipment that is widely used to maintain temperature during shipment is Ice packs. Ice packs are reusable, leak proof, budget-friendly, and effective as a cooling device. Cold chain transport validation needs to be carried out with the device to confirm the best configuration and maintain the quality of products during transportation. The best ice pack configuration to maintain a temperature of 2-8°C for cold chain products for a certain time is obtained using a temperature data logger tool. The two configurations were arranged using 4 ice packs and 6 ice packs. Based on the data obtained, using 4 ice packs is the best configuration because"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover