Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 200 dokumen yang sesuai dengan query
cover
White, Ellen G.
Bandung Indonesia Publishing House 1992,
613.2 Whi p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Rohanta
"Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental. Waktu pelaksanaan survey pendahuluan dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2003. sampai dengan 10 Februari 2004. Sedangkan penelitian dilakukan pada tanggal 21 April 2004 sampai dengan 10 Mei 2004. Cara pengambilan sampel dengan purposive random sampling pada pasien yang sesuai dengan kriteria sampel. Hasil penelitian menunjukkan 52,8% patuh terhadap asupan zat gizi makro. Rentang usia pasien yang mengalami DM TIPE 2 berada pada 30-50 tahun sebesar 51,4%. Perempuan ditemui 70,8% merupakan kelompok terbesar mengalami DM TIPS 2 sedangkan tingkat pendidikan tinggi terbanyak mengalami DM TIPE 2 sebesar 61,1%. Terlihat hasil yang sama pada penyuluhan gizi dengan media food model atau tanpa media food model.
Sebagai kesimpulan dari penelitian ini pada asupan protein terlihat pengaruh penyuluhan gizi terhadap kepatuhan diet dengan nilai P < 0,05 sedangkan asupan energi, karbohidrat dan lemak tidak terlihat pengaruh penyuluhan gizi terhadap kepatuhan diet dengan nilai P > 0.05.
Hendaknya frekuensi pemberian penyuluhan gizi di rumah sakit ditingkatkan agar terbentuk sikap dan pengetahuan pasien terhadap gizi cukup baik untuk melaksanakan diet dengan kepatuhan yang tinggi. Profesioualisme para penyuluh harus terus ditingkatkan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, melakukan diskusi-diskusi teutang kasus yang terjadi. Kunjungan rumah yang dilakukan oleh petugas gizi 1 kali dalam sebulan berguna untuk memonitor pelaksanaan diet pada penyandang DM Tipe 2.
Kepustakaan : 60 (1985 - 2003)

Nutrient Illumination Influence Concerning Diet Compliance to NIDDM Sufferer Outpatient at Mohammad Hoesin and Palembang Bari Hospital 2004Diet compliance lower to diabetic patient not depend on insulin (NIDDM) is shown an unknowingly patient's circumstance, not has a high attitude and knowledge yet, healthy attitude to diet compliance. It is appear at patient who not capable to decrease amount of food calorie and incompliance for doctor's suggestion and other healthy official. Therefore, is needed to illuminate nutrient approach in order that NIDDM patient has a healthy attitude, to bring about food arrangement with orderly, discipline and compliance.
This research purpose to observe nutrient illumination influent that use food model nor not use food model toward diet compliance NIDDM patient at M. Hoesin and Palembang Hospital BARI 2004 also to see other factors influent such as age, sex, education, food reserve and diet consumption.
This research used quasi-experimental method. Initial survey carry out period begins at December 6, 2003 until February 10, 2004. Meanwhile, research progress at April 21, 2004 to May 10, 2004. Carry out sample by purposive random sampling way on patient as proper as with sample criterion. The result of research shown 52,8% macro nutrient reserve with compliance at total energy. Patient's age part of the way in NIDDM at 30-50 is 51,4%. Woman found 70,8% as biggest group as NIDDM, meanwhile education level as biggest in NIDDM is 61,1%. Shown as same as at nutrient illumination with media food model or non-media food.
As conclude from this research at total energy and protein reserve appears nutrient illumination on diet compliance as value P < 0,05 while energy reserve, carbohydrate and fat not appear nutrient illumination effluent toward diet compliance in value P > 0,05.
Be desirable that nutrient illumination giving frequency in hospital can improve it in order to form patient attitudes and knowledge toward nutrient is good enough to bring about diet with high compliance. Illuminators professionalism has to improve with trainings, discussion on cases happened. Home visit done/conducted by gizi officer once in a month good for monitoring diet execution at patient DM Type 2.
Bibliography: 60 (1985 - 2003)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T13147
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suci Fitriyanti
"Malnutrition has been responsible, directly or indirectly, for 60% of the 10.9 million deaths annually among children under five. Over two-thirds of these deaths, which are often associated with inappropriate feeding practices, occur during the first year of life (WHO, 2003). In UNICEF conceptual framework, two immediate causes of malnutrition are inadequate dietary intakes and diseases, and the underlying causes that lead to those two are inadequate access to food in the household, insufficient health services and an unhealthy environment, and inadequate care for children and women (UNICEF, 1998). Inadequate dietary intake is influenced by inappropriate feeding practice. Children who are not breastfed have repeated infections and grow less well than children who at least receive some breast milk (Daelmans and Saadeh, 2003). From six months onward, a child must have complementary food at six-month point, since breast milk alone no longer meets all nutritional needs. Delaying the switch over much beyond six months of age can cause a child's growth to falter. Thus, for optimal growth and development, a child needs to be fed frequently with energy-rich, nutrient-dense foods (UNICEF, 1998). However, the complementary foods do not easily fulfill the nutrient requirement a child needs. Problem nutrients are those for which there is the greatest discrepancy between their content in complementary foods and the estimated amount required by the child (WHO, 1998). Three strategies for obtaining needed amounts of problem nutrients are: optimization of nutrient intake from locally available food, micronutrient supplementation, and fortification of processed complementary foods (Dewey and Brown, 2003). The 541" World Health Assembly in 2001 not only recommended exclusive breastfeeding for six months as a global public health recommendation, but also recommended the widest possible use of indigenous nutrient-rich foodstuffs to improve complementary foods and feeding practice (Daelmans and Saadeh, 2003). In response to that recommendation, this study was aimed to develop a feasible dietary guideline for complementary feeding of infants aged 6-11 months that will used local food available. There have been some researches about developing dietary guideline in other countries for certain age group. This study was planned to develop a dietary guideline in one area of Indonesia where many of its children in the age group of 6-11 month were under nourished."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T16227
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Fiber is not digested or absorbed in the small intestine. The main site of action of fiber is in the colon. In
the colon, fiber will increase stool output and frequency. Increase stool water, dilute the colonic content,
reduce the toxins, bile acid, increase colonic fermentation and also stimulate probiotic growth.
Some meta-analysis of observational epidemologic and case contro studies have faund a protective
effect of dietary fiber against colon cancer that increase with intake. Therefore, the high fiber diet is healthy recommendation to prevent various gastrointestinal disorders."
The Indonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy Vol. 4 (1) April 2003 : 11-13, 2003
IJGH-4-1-Apr2003-11
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi remaja puteri terhadap cara-cara pengaturan asupan makanan yang tepat di SMUN 90 Jakarta.
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif sederhana dengan responden yang diteliti sebanyak 30 orang siswi SMUN 90 Jakarta dengan kriteria responden yang diambil adalah siswi SMU yang berusia 15-18 tahun. Instrumen pengumpulan data berupa kuisioner yang terdiri dari 16 pertanyaan yang dibuat sendiri oleh peneliti.
Pertanyaan dibagi menjadi dua jenis pertanyaan yaitu 8 pertanyaan positif dan 8 pertanyaan negatif tentang cara-cara pengaluran asupan makanan yang tepat. Kuisioner digunakan untuk mengkategorikan persepsi remaja kedalarn persepsi positif dan persepsi negatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja puteri memiliki persepsi positif Ientang cara-cara pengaturan asupan makanan yang tepat yaitu sebesar 96,?% atau 29 orang dan yang memiliki persepsi negatif sebesar 3,3% atau 1 orang. Data yang didapat dianalisa dengan menggunakan rumus tendensi sentral rata-rata, distribusi frekuensi dan standar deviasi. Kesimpulan dari penelitian yaitu, sebagian besar (96,7%) remaja puteri memiliki persepsi positif tentang cara-cara mengaturan asupan makanan yang tepat."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
TA5012
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rozana Nurfitri Yulia
"ABSTRAK
Penelitian dengan rancangan uji klinis paralel acak tersamar ganda ini bertujuan
mengetahui perubahan kadar apo B pada penyandang obes I setelah suplementasi
serat psyllium husk (PH) 8,4 g/hari dan diet rendah kalori seimbang (DRKS) 1200
kkal/hari selama 4 minggu. Berdasarkan kriteria penelitian, didapat 31 orang
subyek yang dibagi menjadi dua kelompok, 15 orang kelompok perlakuan (KP)
dan 16 orang kelompok kontrol (KK). Subyek KP mendapat PH 8.4 g/hari dan
DRKS, sedangkan KK mendapat plasebo dan DRKS. Data yang diperoleh
meliputi sebaran dan karakteristik subyek, asupan energi, makronutrien, serat, dan
air, serta kadar apo B awal dan akhir penelitian. Analisis data menggunakan uji t
tak berpasangan dan Mann-Whitney, batas kemaknaan 5%. Sejumlah 28 subyek
dapat mengikuti penelitian hingga selesai (KP dan KK masing-masing 14). Tidak
dilaporkan efek samping berbahaya selama perlakuan. Sebagian besar subyek
perempuan, median usia subyek KP dan KK berturut-turut 35,0 (30−45) tahun dan
34,50 (30−48) tahun, IMT 28,0 ± 1,1 kg/m2 dan 27,2 ± 1,4 kg/m2. Jumlah asupan
energi total subyek KP 1130,9 ± 221,9 kkal/hari lebih tinggi signifikan (p = 0,02)
daripada KK 1024,3 ± 269,9 kkal/hari. Karbohidrat sederhana pada KP (35,6
(8,3−69,9)) g/hari lebih tinggi signifikan dibandingkan KK (13,8 (3,4−55,5))
g/hari. Asupan serat subyek belum mencukupi anjuran (20–35 g/hari), yaitu KP
17,2 ± 2,8 g/hari dan KK 8,6 (5,2−15,2) g/hari walaupun dengan suplementasi
PH. Asupan protein, lemak total, dan kolesterol dalam rentang yang dianjurkan,
tetapi tidak pada asupan asam lemak tak jenuh tunggal dan jamak. Penurunan
kadar apo B pada KK (-6,1 ± 8,9 mg/dL) lebih besar tidak signifikan (p = 0,13)
dibandingkan pada KP (-1,3 ± 7,3 mg/dL). Dari penelitian ini disimpulkan
suplementasi PH 8,4 g/hari dan DRKS 1200 kkal/hari selama 4 minggu tidak
lebih baik dalam menurunkan kadar apo B dibandingkan plasebo dan DRKS 1200
kkal/hari penyandang obes I.

ABSTRACT
This double blind randomized clinical trial aims to investigate the change of apo
B level in obese I after given supplementation psyllium husk (PH) 8.4 g/day and
low-calorie balanced diet (LCBD) for 4-weeks. By study criteria, 31 subjects were
randomly allocated to one of two groups; 15 subjects for treatment (T) group and
16 subjects for plasebo (P) group. The T subjects received psyllium husk (PH) 8.4
g/day and LCBD 1200 kcal/day and the P subjects received placebo and LCBD
1200 kcal/day. Data collected in this study consist of subject distribution and
characteristic, intake of energy, macronutrient, fiber, water and apo B level that
assessed before and after treatment. Level of statistical analyses significance was
5%, independent t-test and Mann-Whitney. A total 28 subjects (14 subjects in
each group) had completed the intervention. There were no serious adverse events
were reported along the intervention. Mean of age in T and P groups respectively
was 35.0 (30.0−45.0) years and 34.5 (30.0−48.0) years, and BMI was 28.0 ± 1.1
kg/m2 and 27.2 ± 1.4 kg/m2. The energy intake in T group 1130.9 ± 221.9 kcal/day
was significantly higher (p = 0.02) than P group 1024.3 ± 269.9 kcal/day. Simple
carbohydrate intake in T group (35.6 (8.3−69.9) g/day) was significantly higher (p
<0.000) than in P group (13.8 (3.4−55.5) g/day). Intake of dietary fiber in T group
was 17.2 ± 2.8 g/day had significantly higher than P group 8.6 (5.2−15.2) g/day,
even adding PH supplementation cannot meet the recommendation of fiber intake
(20-35 g/day). Intake protein and fat in both groups was meet recommendation,
differ for intake of mono and polyunsaturated fatty acids. Decreasing of apo B
level in P group was -6.1 ± 8.9 mg/dL that statistically insignificant difference (p
= 0.13) with T group -1.3 ± 7.3 mg/dL. As a conclusion in this study shows, that
PH supplementation 8.4 g/day and LCBD 1200 kcal/day in obese I for 4 weeks
wasn’t proven to decrease the apo B level."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58582
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Yudomustopo
"Masalah hipertensi pada kehamilan, masih banyak yang belum diungkapkan oleh para peneliti. Radikal bebas diperkirakan menjadi salah satu faktor yang penting sebagai penyebab hipertensi. Radikal bebas dapat menyebabkan meningkatnya reactive oxygen species (ROS) dan stres oksidatif. Stres oksidatif menimbulkan kerusakan membran sel. Kerusakan membran sel akan menyebabkan jejas sel. Diet makanan tinggi garam (DMTG) dapat menyebabkan stres oksidatif pada jantung. Karena secara etis tidak memungkinkan meneliti pengaruh DMTG pada ibu hamil secara in vivo, maka digunakan model tikus penelitian (MTP) Sprague Dawiey Rat (SDR) yang bunting. Permasalahannya adalah: Apakah diet makanan tinggi garam dapat menyebabkan hipertensi pada MTP yang bunting? Apakah DMTG dapat menyebabkan kelainan jaringan jantung?, dan apakah DMTG dapat menurunkan antioksidan pada model tikus penelitian? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah menliti pengaruh DMTG pada jantung MTP SDR yang bunting. Juga diteliti pengaruh DMTP terhadap nilai peroksida lipid dan glutation peroksidase dan gambaran kelainan struktur dan ultrastruktur sel otot jantung. Metodologi Penelitian dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan - Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB) dan Rumah Sakit Hewan Pendidikan - IPB. Waktu penelitian berlangsung pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2004. Penelitian ini menggunakan 40 ekor model tikus Sprague Dawley bunting. Empat puluh ekor model tikus yang sudah dikawinkan dan diasumsikan sudah bunting semua dipilih secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Rada kelompok kontrol diberikan diet makanan dengan kadar garam, 0,3% NaCl- Sedangkan pada kelompolg perlakuan diberikan diet makanan tinggi garam dengan kadar garam, NaCl 6%. Selama masa bunting antara 21-23 hari, masing-masing kelompok diperiksa berat badan, tensi, dan denyut jantungnya seminggu dua kali. Menjelang waktu melahirkan sekitar hari ke dua puluh, dikerjakan eutanasia dan kemudian dilanjutkan dengan Iaparatomi dan thorakotomi dengan memenuhi standar prosedur ACUC dan PSSP-LPPM - IPB. Pada waktu itu didapatkan 12 ekor model tikus penelitian tidak bunting. Sedangkan sisanya 28 MTP bunting, ternyata ada 11 ekor yang melahirkan preterm. Kerusakan jaringan jantung karena peroksida lipid diperiksa dengan cara mengukur nilai maiondiaidehyde (MDA) dan antioksidan glutation peroksidase (GPx)_ Hasil penelitian Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh DMTG terhadap kerusakan membran sel karena peroksida lipid. Hal ini dibuktikan dengan nilai MDA Iebih tinggi pada kelompok perlakuan preterm dibandingkan dengan kelompok perlakuan a'term, perbedaan ini bermakna (p<0,05). Nilai GPx didapatkan Iebih rendah pada kelompok perlakuan preterm dibandingkan dengan kelompok perlakuan a'term, perbedaan ini sangat bermakna. (p<0.0?l). Kerusakan membran sei ini berdampak Iuas pada berbagai kelainan patologis. Berbagai kelainan patologis tersebut adalah DMTG menyebabkan hipertensi, selain itu DMTG menyebabkan kelahiran preterm, kenaikan sel Ieukosit (WBC) dan hematokrit. DMTG juga menyebabkan kerusakan struktur dan ultrastruktur sel jantung, endotel arteri dan mitokondria, tetapi DMTG tidak menyebabkan perubahan berat badan, perubahan hemoglobin dan komponen darah yang lain. Pada kelompok perlakuan terdapat hipertensi baik pada tekanan darah sistolik maupun yang diastolik, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol perbedaan ini bermakna. Pada kelompok perlakuan terdapat persalinan preterm 68% Iebih besar dari pada persalinan preterm pada kelompok kontrol yaitu 33%, dan perbedaan ini secara proporsional bermakna. Terdapat perubahan struktural morfologik histologi pada arteri dan sel atot jantung. Pada endotel arteri didapatkan aterosklerosis derajat satu, tampak tunika elastika yang putus dan tidak utuh. Pada gambaran histologi sel-sel otot jantung kelompok perlakuan, didapatkan batas antara sel-sel tidak jelas dan miofibril yang tidak teratur. Perubahan pada arteri dan otot jantung tersebut disertai dengan perubahan ultrastruktural di mitokondria. Mitokondria pada MTP perlakuan membengkak dengan krista yang tidak tesusun dengan rapi dan jarak antara krista-krista melebar. Kesimpulan Penelitian ini membuktikan bahwa DMTG menaikkan jumlah peroksida lipid, dan dapat menurunkan GPx. DMTG juga menyebabkan hipertensi pada kelompok perlakuan. Selanjutnya penelitian ini juga membuktikan bahwa DMTG menyebabkan kenaikan kelahiran preterm, kelainan struktur sel otot jantung, kelainan endotel arteri dan kelainan mitokondria. Selain itu DMTG menyebabkan jumlah WBC yang tinggi, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya gejala sepsis yang disebut sebagai systemic inflammatory response syndrome {SIRS}.
Many scientists until now agree that pregnancy induced hypertension problems is still insufficiently discovered. It is thought that free radical is one of the important factor that causes hypertension. Free radical creates reactive oxygen species (ROS) and oxidative stress. Oxidative stress damages cell membrane, and it induces cell injury and diseases. High salt diet creates oxidative stress on the heart tissue. Due to the ethic problem in-vivo research towards pregnant women, the research uses rat as a model, namely Sprague Dawley Rat (SDR). The problems are does the high salt diet induce hypertension, does the high salt diet induce heart cell injury and does the high salt diet induce the antioxidant value decreasing? The aim of the research The aim of the research is to investigate the effect of high salt diet towards pregnant SDR, especially on the value of lipid peroxide, glutathione peroxide (GPx), and the heart cell injury. Methodology The research was performed in Bogor Agricultural University and in Animal Hospital - Bogor Agricultural University, in Juty 2004 up to August 2004. The rat animal models were 40 SDR. The pregnant models were divided randomly into two groups, namely the control and the treated. models. The control was fed by normal salt diet of 0,3 % NaCl, and the treated model was fed by the high salt diet of 6% NaCl. During the time of pregnancy around 21 days up to 23 days, all of the models were measured twice a week of the body weight, the blood pressure, and the heart beat. There were 28 SDR eligible for the study. Before the estimate date of delivery, all of the models performed euthanasia by laparatomy and thoracotomy. The procedure of the animal treatment was legalized by ACUC and PSSP-LPPM, Bogor Institute of Agriculture. During the euthanasia it was found that 12 models were not pregnant and there were 19 preterm models delivered. The examination of this heart tissue injury was performed histologically, ultrastructurely, and the level of lipid peroxide measured by malondialdehyde (MDA) and the GPx value. The research result The result of the research revealed that the high salt diet caused the lipid peroxide value increased, and it injured the cell membranes. The MDA value of the preterm treated group was significantly higher (p < 0,05) than those of the a'term treated group. The GPx value of the preterm treated group was significantly lower (p < 0,U1) than those of the a?term treated group. The high salt diet also induced hypertension, preterm labor by 68%, leoukocytosis, endothelium injury, the heart cell injury, and damage of mitochondria. There were no influences of the high salt diet towards the body weight, hemoglobin and the blood cell component. The blood pressure of the treated group was significantly higher (p < 0,05) than those of the control group. Moreover, in the treated group there were changing of the smooth muscle cell structure, the arterial endothelium, and the ultra structure mitochondria. Conclusion The research proved that the high salt diet increased the value of lipid peroxide and decreased the GPx value. This state is called the oxidative stress. The high salt diet induces hypertension, preterm labor, Ieukocytosis, heart cell injury and abnormality of mitochondria. The condition of leukocytosis can induce septic symptom which is called Systemic inflammatory response syndrome (SIRS)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
D716
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Yudomustopo
"ABSTRAK
Latar Belakang
Masalah hipertensi pada kehamilan, masih banyak yang belum
diungkapkan oleh para peneliti. Radikal bebas diperkirakan menjadi salah
satu faktor yang penting sebagai penyebab hipertensi. Radikal bebas
dapat menyebabkan meningkatnya reactive oxygen species (ROS) dan
stres oksidatif. Stres oksidatif menimbulkan kerusakan membran sel.
Kerusakan membran sel akan menyebabkan jejas sel. Diet makanan
tinggi garam (DMTG) dapat menyebabkan stres oksidatif pada jantung.
Karena secara etis tidak memungkinkan meneliti pengaruh DMTG pada
ibu hamil secara in vivo, maka digunakan model tikus penelitian (MTP)
Sprague Dawiey Rat (SDR) yang bunting. Permasalahannya adalah:
Apakah diet makanan tinggi garam dapat menyebabkan hipertensi pada
MTP yang bunting? Apakah DMTG dapat menyebabkan kelainan jaringan
jantung?, dan apakah DMTG dapat menurunkan antioksidan pada model
tikus penelitian?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menliti pengaruh DMTG pada jantung
MTP SDR yang bunting. Juga diteliti pengaruh DMTP terhadap nilai
peroksida lipid dan glutation peroksidase dan gambaran kelainan struktur
dan ultrastruktur sel otot jantung.
Metodologi
Penelitian dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan - Institut
Pertanian Bogor (FKH-IPB) dan Rumah Sakit Hewan Pendidikan - IPB.
Waktu penelitian berlangsung pada bulan Juli sampai bulan Agustus
2004. Penelitian ini menggunakan 40 ekor model tikus Sprague Dawley
bunting. Empat puluh ekor model tikus yang sudah dikawinkan dan
diasumsikan sudah bunting semua dipilih secara acak menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Rada
kelompok kontrol diberikan diet makanan dengan kadar garam, 0,3%
NaCl- Sedangkan pada kelompolg perlakuan diberikan diet makanan tinggi
garam dengan kadar garam, NaCl 6%. Selama masa bunting antara 21-23
hari, masing-masing kelompok diperiksa berat badan, tensi, dan denyut
jantungnya seminggu dua kali. Menjelang waktu melahirkan sekitar hari
ke dua puluh, dikerjakan eutanasia dan kemudian dilanjutkan dengan
Iaparatomi dan thorakotomi dengan memenuhi standar prosedur ACUC dan PSSP-LPPM - IPB. Pada waktu itu didapatkan 12 ekor model tikus
penelitian tidak bunting.
Sedangkan sisanya 28 MTP bunting, ternyata ada 11 ekor yang
melahirkan preterm. Kerusakan jaringan jantung karena peroksida lipid
diperiksa dengan cara mengukur nilai maiondiaidehyde (MDA) dan
antioksidan glutation peroksidase (GPx)_
Hasil penelitian
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh DMTG
terhadap kerusakan membran sel karena peroksida lipid. Hal ini
dibuktikan dengan nilai MDA Iebih tinggi pada kelompok perlakuan
preterm dibandingkan dengan kelompok perlakuan a'term, perbedaan ini
bermakna (p<0,05). Nilai GPx didapatkan Iebih rendah pada kelompok
perlakuan preterm dibandingkan dengan kelompok perlakuan a'term,
perbedaan ini sangat bermakna. (p<0.0?l). Kerusakan membran sei ini
berdampak Iuas pada berbagai kelainan patologis. Berbagai kelainan
patologis tersebut adalah DMTG menyebabkan hipertensi, selain itu
DMTG menyebabkan kelahiran preterm, kenaikan sel Ieukosit (WBC) dan
hematokrit. DMTG juga menyebabkan kerusakan struktur dan ultrastruktur
sel jantung, endotel arteri dan mitokondria, tetapi DMTG tidak
menyebabkan perubahan berat badan, perubahan hemoglobin dan
komponen darah yang lain. Pada kelompok perlakuan terdapat hipertensi
baik pada tekanan darah sistolik maupun yang diastolik, jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol perbedaan ini bermakna. Pada
kelompok perlakuan terdapat persalinan preterm 68% Iebih besar dari
pada persalinan preterm pada kelompok kontrol yaitu 33%, dan
perbedaan ini secara proporsional bermakna. Terdapat perubahan
struktural morfologik histologi pada arteri dan sel atot jantung. Pada
endotel arteri didapatkan aterosklerosis derajat satu, tampak tunika
elastika yang putus dan tidak utuh. Pada gambaran histologi sel-sel otot
jantung kelompok perlakuan, didapatkan batas antara sel-sel tidak jelas
dan miofibril yang tidak teratur. Perubahan pada arteri dan otot jantung
tersebut disertai dengan perubahan ultrastruktural di mitokondria.
Mitokondria pada MTP perlakuan membengkak dengan krista yang tidak
tesusun dengan rapi dan jarak antara krista-krista melebar.
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa DMTG menaikkan jumlah
peroksida lipid, dan dapat menurunkan GPx. DMTG juga menyebabkan
hipertensi pada kelompok perlakuan. Selanjutnya penelitian ini juga
membuktikan bahwa DMTG menyebabkan kenaikan kelahiran preterm,
kelainan struktur sel otot jantung, kelainan endotel arteri dan kelainan
mitokondria. Selain itu DMTG menyebabkan jumlah WBC yang tinggi, hal
ini dapat mengakibatkan terjadinya gejala sepsis yang disebut sebagai
systemic inflammatory response syndrome {SIRS}.

Abstract
Background
Many scientists until now agree that pregnancy induced
hypertension problems is still insufficiently discovered. It is thought that
free radical is one of the important factor that causes hypertension. Free
radical creates reactive oxygen species (ROS) and oxidative stress.
Oxidative stress damages cell membrane, and it induces cell injury and
diseases. High salt diet creates oxidative stress on the heart tissue. Due
to the ethic problem in-vivo research towards pregnant women, the
research uses rat as a model, namely Sprague Dawley Rat (SDR). The
problems are does the high salt diet induce hypertension, does the high
salt diet induce heart cell injury and does the high salt diet induce the
antioxidant value decreasing?
The aim of the research
The aim of the research is to investigate the effect of high salt diet
towards pregnant SDR, especially on the value of lipid peroxide,
glutathione peroxide (GPx), and the heart cell injury.
Methodology
The research was performed in Bogor Agricultural University and in
Animal Hospital - Bogor Agricultural University, in Juty 2004 up to August
2004. The rat animal models were 40 SDR. The pregnant models were
divided randomly into two groups, namely the control and the treated.
models. The control was fed by normal salt diet of 0,3 % NaCl, and the
treated model was fed by the high salt diet of 6% NaCl. During the time of
pregnancy around 21 days up to 23 days, all of the models were
measured twice a week of the body weight, the blood pressure, and the
heart beat. There were 28 SDR eligible for the study. Before the estimate
date of delivery, all of the models performed euthanasia by laparatomy
and thoracotomy. The procedure of the animal treatment was legalized by
ACUC and PSSP-LPPM, Bogor Institute of Agriculture. During the
euthanasia it was found that 12 models were not pregnant and there were
19 preterm models delivered. The examination of this heart tissue injury
was performed histologically, ultrastructurely, and the level of lipid
peroxide measured by malondialdehyde (MDA) and the GPx value.
The research result
The result of the research revealed that the high salt diet caused
the lipid peroxide value increased, and it injured the cell membranes. The
MDA value of the preterm treated group was significantly higher (p <
0,05) than those of the a'term treated group. The GPx value of the
preterm treated group was significantly lower (p < 0,U1) than those of the
a?term treated group. The high salt diet also induced hypertension,
preterm labor by 68%, leoukocytosis, endothelium injury, the heart cell
injury, and damage of mitochondria. There were no influences of the high
salt diet towards the body weight, hemoglobin and the blood cell
component. The blood pressure of the treated group was significantly
higher (p < 0,05) than those of the control group. Moreover, in the treated
group there were changing of the smooth muscle cell structure, the
arterial endothelium, and the ultra structure mitochondria.
Conclusion
The research proved that the high salt diet increased the value of
lipid peroxide and decreased the GPx value. This state is called the
oxidative stress. The high salt diet induces hypertension, preterm labor,
Ieukocytosis, heart cell injury and abnormality of mitochondria. The
condition of leukocytosis can induce septic symptom which is called
Systemic inflammatory response syndrome (SIRS)."
2005
D766
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Andry Hartono
Jakarta: Arcan, 1995
616.462 AND t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>