Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dwi Rahayu
"Skripsi ini membahas representasi perempuan Cina dalam film animasi
yang diproduksi oleh the Walt Disney Company (Disney) berjudul "Mulan". Film animasi Disney kerap diposisikan sebagai film anak-anak yang steril dari muatan ideologis sehingga masih sedikit kajian kritis yang menga alisa film animasi Disney. Salah satu sebabnya adalah politics of innocence yang selama ini dilakukan Disney sebagai tameng untuk menutupi 1 otif ekonomi dan ideologi dalam setiap produksinya.
Di tengah menghangatnya wacana publik mengenai feminisme dan
multiku ltu ra lisme di Amerika Serikat, Disney emproduksi film animasi tentang kepahlawanan seorang perempuan Cina berjudul "Mulan". 'fema yang diambil film animasi ini berbeda denga kecenderungan film animasi dengan tokoh perempuan yang diproduks' Disney sebelumnya, yang tiaak pernah keluar dari narasi dom in an tokoh perempuan yang berasal dari dongeng Eropa, yang berperan sebagai putri kerajaan yang lemah dan selalu membutuhkan bantuan pangeran pujaannya.
Disney merepresentasikan perempuan Cina dalam film animasi "Mulan"
sebagai perempuan yang tidak mengikuti narasi dominan yang berlaku di
masyarakatnya yang patriarkh. Mulan direpresentasikan sebagai perempuan prajurit meskipun hukum yang berlaku di masyarakatnya pada saat itu melarang perempuan untuk ikut berperang. Narasi yang dibangun Disney dalam film animasi ini pada akhirnya harus berkompromi dengan narasi film-film komersial
Disney pada umumnya. Mulan yang pada akhir cerita dianggap sebagai pahlawan, tidak bisa terlepas dari tuntutan masyarakat sekitar yang masih menganggap kesuksesan perempuan belum lengkap tanpa kehadiran laki-laki sebagai pasangan hidupnya. Pengakuan keragaman kultur (dalam hal ini kebudayaan Cina) dan prinsip feminisme yang membebaskan perempuan dari dominasi pemikiran masyarakat yang patriarkh dalam "Mulan" tidak pernah bisa lepas dari motif
komersial dan· ideologis Disney sebagai produsernya"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
S4057
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meidhita Maharani
"The Founder of Diabolism (2018-2021) adalah salah satu serial animasi terpopuler di Cina yang tayang pertama kali pada tahun 2018. Serial animasi yang disutradarai oleh Xiong Ke ini terdiri dari 3 musim dengan total 35 episode, dan merupakan adaptasi novel danmei populer Grandmaster of Demonic Cultivation (魔道祖师, Mó Dào Zǔ Shī) karya Mo Xiang Tong Xiu. Danmei merupakan genre yang menggambarkan hubungan romantis homoseksual dalam karya fiksi di Cina. Dalam danmei, dinamika hubungan gong-shou menjadi salah satu unsur penting yang hampir selalu ada dalam setiap karya danmei. Gong biasanya merepresentasikan pihak dominan dengan karakteristik maskulin, sedangkan shou merepresentasikan pihak submisif dengan karakteristik feminin. Penelitian ini mengeksplorasi dinamika hubungan gong-shou dalam animasi The Founder of Diabolism yang telah melewati sensor, melalui ekspresi maskulinitas dan feminitas pada dua tokoh utama, Lan Wangji dan Wei Wuxian. Dengan menggunakan metode analisis kualitatif berbasis simbolisme, hasil menunjukkan bahwa, 1) dinamika gong-shou sebagai unsur penting dalam danmei tetap dipertahankan dalam animasi, meski telah melewati sensor. 2) Hubungan gong-shou mencerminkan relasi gender dalam heteronormativitas masyarakat Cina. 3) Simbolisme hubungan gong-shou menjadi contoh bagaimana media mampu menjembatani regulasi pemerintah Cina dengan ekspektasi pasar global, menjadikan animasi ini sebagai salah satu karya adaptasi danmei yang sukses dalam panggung media arus utama.

The Founder of Diabolism (2018-2021) is one of China's most popular animated series, first airing in 2018. Directed by Xiong Ke, the series consists of three seasons with a total of 35 episodes and is an adaptation of the popular danmei novel Grandmaster of Demonic Cultivation (魔道祖师, Mó Dào Zǔ Shī) by Mo Xiang Tong Xiu. Danmei is a genre that depicts romantic homosexual relationships in Chinese fictional works. In danmei, the dynamics of the gong-shou relationship are a vital element that is almost always present in every work of this genre. Gong typically represents the dominant party with masculine characteristics, while shou represents the submissive party with feminine traits. This study explores the gong-shou dynamics in The Founder of Diabolism, which has undergone censorship, focusing on the expressions of masculinity and femininity in the two main characters, Lan Wangji and Wei Wuxian. Using a qualitative analysis method based on symbolism, the findings reveal that: 1) the gong-shou dynamic, as a crucial element in danmei, is preserved in the animation despite censorship; 2) The gong-shou dynamic reflects power relations within the heteronormativitas in the Chinese society.; and 3) The symbolism of the gong-shou relationship serves as an example of how media successfully bridges Chinese government regulations with global market expectations, making this animation one of the most successful danmei adaptations in mainstream media.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2025
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library