Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 25 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siagian, Joice Vania Arista
"Kualitas tidur merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan anak usia dini, termasuk keterampilan motorik halus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dan keterampilan motorik halus pada anak usia 4–6 tahun di PAUD di DKI Jakarta Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sebanyak 52 anak. Instrumen yang digunakan adalah Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) untuk mengukur kualitas tidur dan Beery-Buktenica Developmental Test of Visual-Motor Integration (Beery VMI) untuk mengukur keterampilan motorik halus. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki kualitas tidur yang kurang baik dan keterampilan motorik halus pada kategori cukup. Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kualitas tidur dan keterampilan motorik halus (r = -0,403; p = 0,001). Artinya, semakin buruk kualitas tidur anak, semakin rendah pula keterampilan motorik halus yang dimiliki. Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap kebiasaan tidur anak usia dini sebagai bagian dari upaya mendukung perkembangan visual-motorik dan kesiapan belajar anak.

Sleep quality is one of the key factors that support early childhood development, including fine motor skills. This study aims to examine the relationship between sleep quality and fine motor skills among children aged 4–6 years in early childhood education centers (PAUD) in Jakarta. This quantitative correlational study involved 52 children selected using purposive sampling. Instruments used include the Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) to assess sleep quality and the Beery-Buktenica Developmental Test of Visual-Motor Integration (Beery VMI) to measure fine motor skills. The results showed that most children had poor sleep quality and moderate fine motor skill levels. Pearson correlation test indicated a significant negative relationship between sleep quality and fine motor skills (r = -0.403; p = 0.001). This means that poorer sleep quality is associated with lower fine motor abilities. These findings highlight the importance of paying attention to children's sleep habits as part of supporting their visual-motor development and school readiness."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andrew Pangestu Daniswara
"Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental kronis yang mengganggu kemampuan fungsional secara signifikan. Karakteristik utama pada pasien skizofrenia adalah gangguan kognitif. Pada rehabilitasi psikososial, salah satu pendekatan terapi seni pada pasien skizofrenia adalah aktivitas menggambar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas menggambar terhadap tingkat gangguan kognitif pada pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental tipe nonequivalent control group. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 40 subjek dan diambil dengan metode purposive sampling pada Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi. Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) akan digunakan sebelum dan sesudah perlakuan untuk mengukur tingkat gangguan kognitif pasien skizofrenia. Hasil analisis data menggunakan uji Mann-whitney U menunjukkan nilai hasil uji sebesar 0,011 sehingga nilai signifikansi < 0,05. Maka dari itu kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh aktivitas menggambar terhadap tingkat gangguan kognitif pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi.

Schizophrenia is a chronic mental disorder that significantly impairs functional ability. The main characteristic of schizophrenia patients is cognitive impairment. In psychosocial rehabilitation, one of art therapy approaches in schizophrenia patients is drawing activity. This study aims to determine the effect of drawing activities on the level of cognitive impairment in patients. This study is a quantitative study with a quasi-experimental nonequivalent control group. The sample size of this study is 40 subjects and are taken by purposive sampling at dr. H. Marzoeki Mahdi Mental Hospital. Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) assessment will be used before and after treatment to measure the level of cognitive impairment of schizophrenia patients. The results of data analysis using the Mann-Whitney U test showed a test value of 0.011, so the significance value was < 0.05. Therefore, the conclusion drawn from this study is that there is an effect of drawing activities on the level of cognitive impairment in schizophrenia patients at Dr. H. Marzoeki Mahdi Mental Hospital."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zainah Esty Nur Aisyah
"Masalah fisik pada alat gerak atas menjadi gangguan umum pada pasien stroke untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kesulitan dan keterbatasan tersebut membuat kemandirian pasien berkurang. Penelitian ini bertujuan mencari tahu latihan kombinasi Constraint Induced Movement Therapy (CIMT) dan Mirror Therapy (MT) dapat meningkatkan kemandirian pasien stroke fase kronis sesudah diberikan terapi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian one group pretest-posttest. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Didapatkan dua puluh tujuh pasien stroke fase kronis untuk diberikan intervensi latihan kombinasi CIMT dan MT dua kali seminggu selama empat minggu dengan durasi 1 jam. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah delapan kali sesi latihan kombinasi. Analisis dilakukan pada hasil kemandirian aktivitas sehari-hari menggunakan Functional Independence Measure (FIM), kekuatan otot menggunakan hand grip dynamometer, spastisitas otot menggunakan Modified Ashworth Scale (MAS), dan Range of Motion (ROM) pasien menggunakan goniometer. Setelah delapan kali sesi terpenuhi didapatkan hasil terdapat peningkatan signifikan (p<0.05) pada rerata skor kemandirian (100.30±14.073), spastisitas otot shoulder dan elbow (0.8565±0.36146), lingkup gerak sendi (81.0185±19.02427) dan kekuatan otot (4.859±4.538) sesudah diberikan terapi. Kombinasi latihan CIMT dan Mirror Therapy tidak hanya memberikan pengaruh yang signifikan pada kemandirian tetapi juga pada spastisitas otot, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot setelah diberikan latihan kombinasi pada pasien stroke kronis.

Physical problems in the upper limb are common disorders in stroke patients to perform daily activities. These limitations and limitations reduce patient independence. This study aims to find out whether the combination of Constraint Induced Movement Therapy (CIMT) and Mirror Therapy (MT) exercises can improve the independence of chronic phase stroke patients after being given therapy. This study used a one group pretest-posttest research design. Sampling used purposive sampling. Twenty-seven chronic phase stroke patients were obtained to be given a combination of CIMT and MT exercise intervention twice a week for four weeks with a duration of 1 hour. The examination was carried out before and after eight sessions of combination exercise. Analysis was carried out on the results of independence of daily activities using the Functional Independence Measure (FIM), muscle strength using a hand grip dynamometer, muscle spasticity using the Modified Ashworth Scale (MAS), and the patient's Range of Motion (ROM) using a goniometer. After eight sessions were fulfilled, the results showed a significant increase (p<0.05) in the mean independence score (100.30±14.073), shoulder and elbow muscle spasticity (0.8565±0.36146), joint range of motion (81.0185±19.02427) and muscle strength (4.859±4.538) after being given therapy. The combination of CIMT and Mirror Therapy exercises not only had a significant effect on independence but also on muscle spasticity, joint range of motion and muscle strength after being given a combination of exercises in chronic stroke patients."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Restu Aji Wijaya
"Latar Belakang. Aktivitas pengasuhan anak dapat menimbulkan tingkatan stres yang berbeda bagi setiap orang tua, yang dipengaruhi oleh faktor internal orang tua maupun karakteristik anak mereka. Keterbatasan dalam keterampilan sosial dan permasalahan perilaku pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menjadi faktor peningkatan stres pada orang tua. Saat ini masih terdapat kesenjangan literatur di Indonesia mengenai perkembangan keterampilan sosial pada anak ASD, serta dampak stres orang tua terhadap tingkat keterampilan sosial pada anak ASD.
Metode. Metode yang digunakan merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Responden penelitian ini terdiri dari 49 orang tua dengan anak ASD di SLB Negeri Jakarta, yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat stres orang tua diukur menggunakan Skala Stres Pengasuhan (SSP) dan tingkat keterampilan sosial dinilai menggunakan instrumen Vineland-3
Hasil. Hasil penelitian ini menemukan adanya korelasi negatif yang signifikan antara tingkat stres pengasuhan orang tua dan tingkat keterampilan sosial anak ASD. Tingkat stres orang tua yang tinggi menyebabkan rendahnya keterampilan sosial pada anak ASD. Selain itu, ditemukannya hubungan positif yang signifikan antara usia anak dan keterampilan sosial dengan anak yang lebih tua cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik.
Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan besarnya pengaruh tingkat stres pengasuhan orang tua terhadap perkembangan keterampilan sosial pada anak ASD. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penyusunan intervensi bagi orang tua dengan anak ASD. Intervensi tersebut diharapkan tidak hanya berfokus kepada karakteristik anak, tetapi juga mencakup peran orang tua dalam peningkatan keterampilan sosial anak ASD.

Background. Parenting activities can lead to varying levels of stress among parents, influenced by internal parental factors as well as the characteristics of their children. In children with Autism Spectrum Disorder (ASD), limitations in social skills and behavioural challenges are contributing factors to increased parental stress. Currently, there is a notable gap in Indonesian literature regarding social skills in children with ASD, and the impact of parental stress on the development of these skills.
Methods. This study employed a quantitative correlational design. The participants consisted of 49 parents of children with ASD enrolled in a state special needs school (SLBN) in Jakarta, selected using purposive sampling. Parenting stress was measured using the Parenting Stress Scale (PSS), while the children’s social skills were assessed using the Vineland Adaptive Behavior Scales, Third Edition (Vineland-3).
Results. The results revealed a significant negative correlation between parental stress levels and the social skills of children with ASD, indicating that higher parental stress is associated with lower levels of social skills in children. In addition, a significant positive correlation was found between the age of the child and their social skills, with older children demonstrating better social abilities.
Conclusion. This study highlights the considerable impact of parental stress on the social skill development of children with ASD. The findings are expected to serve as a foundation for developing interventions that not only focus on the child, but also provide emotional support for parents in order to create a more adaptive and supportive environment for the child’s development.
"
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Viafebyana Mariatur Rahma
"Jam kerja yang panjang dapat memberikan dampak pada produktivitas, kelelahan fisik, dan kesehatan mental yang berdampak pada kualitas hidup para pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jam kerja panjang terhadap kualitas hidup pekerja Perusahaan XYZ. Desain penelitian kuantitatif cross-sectional pada 161 pekerja yang diambil secara acak sesuai kriteria inklusi dan menggunakan instrumen pemeriksaan Euro-Quality of Life 5 Dimension 5 Level (EQ-5D-5L). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara jam kerja panjang dengan penambahan 14 jam (OR=8.9) dan 18 jam (OR=8.5) terhadap kualitas hidup pekerja. Jam kerja panjang dapat meningkatkan risiko penurunan kualitas hidup pekerja.

Long working hours can impact productivity, physical fatigue, and mental health, which in turn affects the quality of life of the workers. This study aims to determine the relationship between long working hours and the quality of life of employees at XYZ Company. The cross-sectional quantitative research design involved 161 workers who were randomly selected according to inclusion criteria and used the Euro-Quality of Life 5 Dimension 5 Level (EQ-5D-5L) examination instrument. The research results indicate that there is an impact of long working hours with an increase of 14 hours (OR=8.9) and 18 hours (OR=8.5) on the quality of life of workers. Long working hours can increase the risk of a decline in workers' quality of life."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naja Eiko Khalisha
"Terapi okupasi merupakan salah satu profesi pada bidang kesehatan yang jarang diketahui banyak orang. Walapun demikian, peran seorang praktisi terapi okupasi memiliki beban kerja yang tinggi. Beban kerja tersebut dapat memberikan dampak pada psikologis terapis, salah satunya adalah stres. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara stres yang dirasakan oleh terapis okupasi berkaitan dengan perasaan kepuasan kerja di bidang terapi okupasi. Metode kuantitatif digunakan dengan jenis penelitian cross-sectional atau potong lintang dalam penelitian ini. Pengumpulan data digunakan menggunakan Google Form dengan mengisi kuesioner Occupational Stress Inventory-Revised Edition (OSI-R) dan Job Satisfaction Scale (JSS), penyebaran dilakukan melalui jaringan media sosial. Hasil penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres kerja terhadap kepuasan kerja (p<0,05). Adapun rata-rata tingkat stres kerja terapis yaitu mengalami stres ringan (57,48) dan rata-rata tingkat kepuasan kerja terapis merasa puas akan pekerjaannya (143,70). Pengetahuan ini dapat memberikan informasi yang sesuai bagi terapis okupasi dan tempat kerja untuk selalu mengetahui serta memonitor kesehatan mental dan fisik tenaga kerja terapis okupasi.

Occupational therapy is one of the health professions that is rarely known by many people. Nevertheless, the role of an occupational therapy practitioner carries a high workload. That workload can impact the therapist's psychology, one of which is stress. This study aims to understand the relationship between the stress experienced by occupational therapists and their job satisfaction in the field of occupational therapy. Quantitative methods were used with a cross-sectional type of research in this study. Data collection was conducted using Google Forms by filling out the Occupational Stress Inventory-Revised Edition (OSI-R) and Job Satisfaction Scale (JSS) questionnaires, with distribution carried out through social media networks. The research results show a significant relationship between work stress levels and job satisfaction (p<0.05). The average level of work-related stress among therapists is experiencing mild stress (57.48) and the average level of job satisfaction among therapists is feeling satisfied with their work (143.70). This knowledge can provide relevant information for occupational therapists and workplaces to always be aware of and monitor the mental and physical health of occupational therapy workers."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah Syalsabilah
"ABK memerlukan dukungan yang memadai agar dapat berkembang secara optimal, termasuk dalam mencapai kemandirian dalam kegiatan sehari-hari. SBOT menawarkan pendekatan kolaboratif antara terapis okupasi dan guru untuk membantu ABK mengatasi hambatan dalam aktivitas di sekolah dan mendukung perkembangan kemandirian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi pemberian School Based Occupational Therapy (SBOT) dengan kemandirian fungsional anak berkebutuhan khusus (ABK). Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 53 orang tua dari anak berkebutuhan khusus di Lazuardi GCS sebagai responden. Data kemandirian fungsional diukur menggunakan skala Modified WeeFIM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara durasi pemberian SBOT dengan kemandirian fungsional ABK, dengan nilai korelasi Spearman (r = 0,240; p = 0,042). Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa SBOT merupakan intervensi yang efektif dalam mendukung kemandirian ABK. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang efektivitas terapi okupasi berbasis sekolah dalam meningkatkan kemandirian ABK di lingkungan pendidikan serta menyediakan rekomendasi untuk pengembangan program SBOT di sekolah inklusi.

Children with special needs (CSN) require adequate support to achieve optimal development, including independence in daily activities. School Based Occupational Therapy (SBOT) offers a collaborative approach between occupational therapists and teachers to help CSN overcome obstacles in school activities and foster their independence. This study aims to analyze the relationship between the duration of the SBOT and the functional independence of CSN. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach involving 53 parents of CSN at Lazuardi GCS as respondents. Functional independence data were measured using the Modified WeeFIM scale. The results revealed a statistically significant correlation between the duration of School Based Occupational Therapy (SBOT) and the functional independence of children with special needs, with a Spearman’s correlation coefficient of r = 0.240 and p = 0.042. These research tells that SBOT is an effective intervention in promoting the functional independence of children with special needs. This study is expected to offer deeper insights into the effectiveness of SBOT in enhancing children’s independence within educational settings and to provide recommendations for the development and refinement of SBOT programs in inclusive schools."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sabrina Luthfiyah Nisa
"Pada usia prasekolah, anak mengalami peningkatan pikiran kreatif, bahasa dan perilaku. Kompetensi sosial pada tahap ini berdampak jangka panjang terhadap perkembangan di usia dewasa. Diduga kompetensi sosial berkaitan erat dengan masalah sensori, namun penelitian mengenai hubungan keduanya masih terbatas, terutama pada anak tipikal. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan sensori terhadap kompetensi sosial pada anak usia prasekolah di Indonesia. sampel diambil sebanyak 56 anak usia 3-6 tahun dari TKIT Insan Aulia dan TKIT YAPIDH. Alat ukur yang digunakan adalah Short Sensory Profile (SSP) serta Social Competence Scale Parent Version (SCS-PV) melalui kuisioner. Hasil analisis komparasi menunjukan kelompok profil sensori yang lebih baik memiliki kompetensi sosial yang lebih tinggi (p = 0,035). Hasil uji korelasi juga menemukan hubungan positif (r = 0,100) walaupun secara statistik tidak signifikan (p = 0,222) analisis lanjutan menemukan korelasi positif antara respon kurang/pencari sensasi dengan regulasi emosi ditemukan hubungan signifikan antara keduanya (r = 0.267, p = 0.047). Penelitian juga menemukan bahwa profil sensori tidak dipengaruhi usia, jenis kelamin, atau Pendidikan. Serta skor kompetensi sosial anak perempuan lebih tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan antara seluruh aspek profil sensori dapat berdampak beragam dengan kompetensi sosial pada anak prasekolah.

At preschool age, children experience an increase in creative thinking, language, and behaviour. Social competence during this stage has a long-term impact on development into adulthood. It is suspected that social competence is closely related to sensory processing, but research on this relationship remains limited, especially in typical children. Thus, this study aims to look at the relationship between sensory and social competence in preschool children in Indonesia. 56 children aged 3-6 years were sampled from TKIT Insan Aulia and TKIT YAPIDH. The measuring instruments used were Short Sensory Profile (SSP) and Social Competence Scale Parent Version (SCS-PV) through questionnaires. Comparative analysis showed that children with better sensory profiles had significantly higher social competence (p = 0.035). Correlation analysis revealed a positive but statistically non-significant relationship (r = 0.100; p = 0.222). Further analysis found a significant correlation between under-responsiveness/sensation seeking and emotion regulation (r = 0.267; p = 0.047). The study also found that sensory profiles were not influenced by age, gender or education, while social competence was higher in girls. This study concludes that the relationship between all aspects of sensory profile can have a diverse impact on social competence in preschool children."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zahrah Nabila Humayrah
"Kecemasan orang tua sering dialami oleh mereka yang memiliki anak dengan disabilitas intelektual. Kecemasan ini bisa disebabkan oleh faktor predisposisi seperti genetik penyakit fisik, trauma psikologis, kurangnya kemampuan dalam menghadapi kecemasan serta pemikiran negatif dan ada faktor presipitasi seperti kondisi medis dan paparan zat tertentu, stres eksternal, dan kerentanan emosional. Perasaan terisolasi atau tidak diterima oleh lingkungan juga menjadi penyumbang utama kecemasan pada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah faktor predisposisi dan faktor presipitasi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan orang tua. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 81 orang tua. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat faktor predisposisi dan faktor presipitasi menggunakan kuesioner yang peneliti buat sendiri dan instrumen untuk mengukur tingkat kecemasan orang tua anak disabilitas intelektual yaitu menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor predisposisi dan faktor presipitasi dengan tingkat kecemasan.

Parental anxiety is frequently experienced by individuals who have children with intellectual disabilities. This condition may be influenced by predisposing factors, such as genetic predisposition, physical illness, psychological trauma, limited coping abilities, and negative thought patterns, as well as by precipitating factors, including medical conditions, exposure to certain substances, external stressors, and emotional vulnerability. Feelings of isolation or lack of acceptance from the surrounding environment also serve as major contributors to parental anxiety. This study aims to determine whether there is a significant relationship between predisposing and precipitating factors and the level of anxiety among parents. The research employed a quantitative descriptive cross-sectional design. A total of 81 parents were selected. Instruments used to measure predisposing and precipitating factors were researcher-developed questionnaires, while the level of parental anxiety was assessed using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The results of the study showed that there was no significant relationship between predisposing factors and precipitating fctors with the level of anxiety."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bianca Azzahra
"Pasien skizofrenia memiliki profil sensori yang atipikal, terutama registrasi sensori yang lebih rendah daripada populasi normal. Pola registrasi tersebut mungkin berdampak kepada occupational balance dari pasien. Akan tetapi, sejauh ini belum ada penelitian yang membahas tentang hal tersebut. Skripsi ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara pola registrasi sensori rendah dengan occupational balance pada pasien skizofrenia. 47 pasien skizofrenia (F20.X) di RSJ Dr. Marzoeki Mahdi berusia 18-50 tahun dinilai menggunakan kuesioner “Adolescent/Adult Sensory Profile” (A/ASP) dan “Occupational Balance Questionnaire” versi 11 butir (OBQ11). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat registrasi sensori rendah dengan occupational balance pada pasien skizofrenia di RSJ Dr. Marzoeki Mahdi (r = 0,787; p > 005). Penelitian berikutnya diharapkan untuk lebih mendalami faktor-faktor lain yang berkaitan dengan tingkat registrasi sensori rendah dan occupational balance.

Schizophrenia patients have atypical sensory profiles, with generally lower sensory registration than the normal population. This registration pattern may affect the patient's occupational balance. However, as far as we know, no research has discussed this. This undergraduate thesis aims to examine the relationship between low sensory registration patterns and occupational balance in schizophrenia patients. 47 schizophrenia patients (F20.X) at Dr. Marzoeki Mahdi Mental Hospital aged 18-50 years will be assessed using the "Adolescent/Adult Sensory Profile" (A/ASP) and "11-item version of the Occupational Balance Questionnaire" (OBQ11) questionnaires. The results of this study indicate that there is no significant relationship between the level of low sensory registration and occupational balance in schizophrenia patients at Dr. Marzoeki Mahdi Mental Hospital (r = 0.787; p > 005). Further research is expected to explore more of other factors related to the level of low sensory registration and occupational balance in schizophrenia patients."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>