Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Myrna Laksman-Huntley
"Suatu masyarakat bahasa terdiri atas wanita dan pria serta anak dan orang dewasa. Dalam kehidupan, kelompok-kelompok tersebut kurang diperhatikan apakah ada perbedaan cara mengungkapkan perasaan, pendapat, atau pikiran masing-masing kelompok itu. Sebetulnya, dengan adanya penggolongan seperti disebut di atas, jelas ada perbedaan, dalam bertindak, bertanggung jawab, serta berkomunikasi. Apabila diamati lebih dalam, setiap kelompok telah ditunjuk peran dan sifat yang seharusnya dimiliki. Berkaitan dengan hal tersebut, kaum wanita dewasa dianggap berperan dalam kehidupan rumah tangga. Seorang anak akan lebih mencari sang ibu daripada sang ayah saat pulang dari sekolah atau tiba di rumah.
Berkaitan dengan hal di atas, penggunaan bahasa oleh sang ibu dalam berkomunikasi menjadi berkemungkinan untuk berpengaruh juga. Kebiasaan-kebiasaan di atas dapat ditemukan pada beberapa masyarakat bahasa lain. Hal ini muncul pada tataran fonetik, fonologis, dan/atau morfologis. Perbedaan kelas sosial juga dapat tercermin pada kebiasaan dan pemilihan kata dalam berkomunikasi.
Untuk dapat menjawab perkiraan tersebut, perlu diteliti terlebih dahulu adanya kebiasaan berbahasa yang berbeda antara kaum ibu dan ayah Indonesia, adanya pengaruh kelas sosial terhadap kebiasaan berbahasa kaum ibu, dan peran kedua hal tersebut dalam hubungan ibu-anak serta pendidikan anak itu sendiri di Indonesia.
Dengan penelitian ini diharapkan adanya kegunaan terutama dalam usaha menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia. Apabila sudah diketahui dengan pasti bahwa kaum wanita memiliki kebiasaan berbahasa yang berbeda daripada kaum pria, pendekatan untuk mengajak para anak menggunakan bahasa Indonesia lebih sering daripada sekarang mungkin akan lebih mudah berhasil.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara mendalam. wawancara dijalankan dengan kaum orang tua dan anak untuk mengetahui perbedaan kebiasaan dalam kehidupan sehari hari. Selain itu, wawancara juga ditujukan untuk melihat kebiasaan berbahasa kedua pihak. Dalam wawancara ini diperhatikan juga kesamaan kebiasaan berbahasa kaum anak dengan kaum ibu dalam komunikasi tidak formal atau di lingkungan rumah. Data yang diperoleh dari wawancara ini akan diolah dan dianalisis secara kualitatif.
Disimpulkan dalam penelitian ini bahwa seorang ibu lebih berperan dalam perkembangan pribadi dan pendidikan anak daripada kaum pria. Ditemukan juga bahwa dalam berkomunikasi seseorang tergantung pada kebahasaan keluarga atau kelompok etnik, lingkungan tempat tinggal, serta hubungan sosial dengan luar lingkungan keluarga. Kebesaran pengaruh ini juga tergantung pada usia yang bersangkutan. Kaum anak lebih mudah terpengaruh daripada kaum dewasa.
Selain itu, pengaruh ini muncul pada sikap, ciri non-segmental, dan/atau pemilihan kosa kata. Perbedaan ciri non-segmental dapat timbul tergantung pada lawan bicaranya. Perbedaan berdasarkan jenis kelamin cenderung tampak pada penggunaan kata-kata non-Indonesia dan hal ini dipengaruhi juga oleh asal-usul serta lingkungan selama pertumbuhan.
Dan akhirnya, ditemukan bahwa dalam komunikasi informal atau sehari-hari, semua orang dari kelas sosial manapun lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia tak baku ketimbang bahasa Indonesia yang baik dan benar.

A language society consist of women, men, children and adults. In daily life these groups are less observed if there are differences in expressing their feelings, opinions, or ideas. In fact, grouping such as mentioned before clearly have differences in the way of acting, responsibility, and communication. If we observe more attentively, each group has shown the role and character that they should own. According to this reality, adult women is considered to have the role in the household. A child will prepare to look for its mother than the father after coming home from school.
In connection of these facts, the language using by a mother in communicating might be influencing too. The habits mentioned above can be found in some other language societies. It is realized in the phonetics field, phonology, and/or morphology field. Social class differences can also be noticed in the habits or words choice in communication.
To be able to answer these hypotheses, one must first study the differences in language habits between Indonesian men and women, the social class influences in the women's language habits, and the roles of the differences and influences in the relation of mother and child, and in the child's education itself in Indonesia.
We hope that this research will be useful, especially in the efforts Lo encourage the using of bahasa Indonesia. If we can know for sure that women has different language habits than men, the approach to urge childre on using Bahasa Indonesia more frequently than nowadays might be easier and more successful.
Data acquisition has been done by in-depth interview. The interview is executed with parents and chiller to know their differences in the daily life. It is also in the objective to find out their language habits. In this interview, the resemblance of language habits of children and mothers in the informal communication, such as at home, is also observed. Data acquired is processed and analyzed qualitatively.
It is concluded in the research that a mother has a more important role in the development of their child's personality and education than the father. It is also found that communication is realized depending on the family's or ethnic group's language habits, home environment, and social relation with non-family environment. These are also depending on the age of the communication member. Children are easier to be influenced than adults.
Moreover, the influences mentioned before appear in the attitude, non-segmental features, and/or vocabulary choice. Differences in non-segmental features depends on the communication partner. Differences based on sex seems to be found on the using of non-Indonesian words and this is also influenced by the origin and environment during one's growth.
At last, it is also found that in informal or daily communication everybody, from any social class, prefers to use non-standard bahasa Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
"Situasi kebahasaan bahasa Belanda dan bahasa Indonesia sangat berbeda. Perbedaan ini juga tampak pada sejarah kebangsaan masing-masing. Terlihat bahwa bangsa Indonesia yang sudah kaya akan kebudayaan juga mengenal kebudayaan lain yang sebagian kemudian diserap. Kenyataan ini dapat mempengaruhi komunikasi antar dua kelompok bahasa tersebut. Setiap bahasa memiliki sistem bunyi yang unik yang, biasanya tidak dimiliki oleh bahasa lain atau kalaupun ada, letak atau cara pengucapannya agak berbeda. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembelajar bahasa menghadapi kesulilam mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak ada dalam sistem bunyi bahasa ibunya dan sebagai akibat, si pembelajar akan mengucapkan bunyi-bunyi tersebut dengan bunyi-bunyi lain yang serupa dan dimiliki sistem bunyi bahasanya. Hal yang sama juga dapat terjadi dalam tataran prosodi.
Perbedaan realisasi sistem prosodi suatu bahasa tidak hanya dapat menimbulkan interferensi dalam proses pembelajaran, tetapi juga salah pengertian, Dengan mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan suatu pola intonasi Indonesia tertentu seorang penutur Indonesia akan disalahmengertikan oleh pendengar bahasa asing yang belum fasih berbahasa Indonesia karena sistem pola intonasi bahasa ibunya yang berbeda.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola intonasi dua bahasa yang berbeda dapat menimbulkan persepsi yang berbeda terutama apabila timbul emosi pada diri si pembicara. Kenyataan ini mendorong saya untuk mempelajari perbedaan sistem prosodik antara bahasa Indonesia dan Belanda; parameter yang menandai sistem tekanan dan intonasi kedua bahasa; ketepatan persepsi emosi serta letak tekanan bahasa Indonesia oleh pcnutur bahasa Belanda serta parameter yang mempengaruhi persepsi tersebut.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitlatif: Untuk itu, korpus angket kuantitatif adalah korpus yang digunakan penelitian terdahulu (Laksman et.al, 1994).
Perlu dijelaskan kembali bahwa dalam penelitian tersebut dilakukan perekaman sebuah kata bahasa Indonesia yang diucapkan secara terisolasi dan dirangkai dalam kelompok nomina dalam empat macam emosi. Setelah diukur, hasil rekaman tersebut diperdengarkan kepada 80 orang penutur bahasa Belanda yang diminta menebak emosi yang terdengar dan kepada 10 orang ahli fonelik bahasa Belanda yang diminta menentukan letak tekanan.
Dengan tinjauan kepustakaan yang ternyata tidak seimbang peneliti tidak berhasil membuat sualu bandingan yang seimbang. Dengan demikian, peneliti tidak dapat memperoleh jawaban mengenai pengaruh sistem intonasi beremosi bahasa Belanda dalam persepsi bahasa Indonesia. Penelilian terjawab untuk pengaruh parameter yang menandai tekanan bahasa Belanda dalam persepsi letak tekanan serta parameter penanda tekanan kata bahasa Indonesia.
Secara menyeluruh dari emosi yang dipelajari hanya sedih dan marah yang didengar secara tepat oleh pendengar; sedangkan emosi kaget seringkali dirancukan dengan emosi senang atau sedih dan emosi senang dengan emosi kaget atau marah.
Kata Kasa dalam segala posisi didengar bertekanan pada suku kata penultima. Hal ini disebabkan oleh nilai frekuensi dasar tertinggi terletak pada suku kata tersebut dapat dinyalakan bahwa parameter inilah yang mempengaruhi persepsi penutur bahasa Belanda terhadap bahasa Indonesia. Dengan kata lain, penelitian ini ternyata mendukung penelitian Terken yang menyimpulkan bahwa tekanan lebih banyak diperankan oleh frekuensi dasar dalam bahasa Belanda."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
"Penelitian ini mengkaji sebuah cara menanamkan nilai-nilai budaya dan jatidiri bangsa kepada para siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dengan memberikan pemahaman mengenai kebesaran bangsa kita di masa lalu. Pemahaman ini diberikan melalui peninggalan sejarah yang dikemas dalam piranti lunak hypertext yang dapat dinikmati siswa dalam pendidikan ekstra kurikuler, dalam hal ini mata pelajaran Komputer. Langkah yang diperlukan adalah (a) mengembangkan kerangka struktur dokumen hypertext berdasarkan studi pustaka dan survei lapangan, (b) penulisan dokumen hypertext, (c) uji coba pengenalan dokumen hypertext peninggalan sejarah kepada siswa dengan maksud memperoleh reaksi dan respon, dan (d) analisis terhadap proses dan hasil pembuatan dokumen hypertext serta reaksi dan respon siswa. Diharapkan cara ini dapat lebih efektif dan apresiatif bagi generasi muda kita, khususnya siswa SLTP, dan merupakan salah satu wujud upaya ilmu arkeologi, sejarah, linguistik, dan informatika dalam memberi sumbangan kepada pembangunan bidang kebudayaan. Pembuatan hypertext pada tahun pertama ini dilakukan terhadap peninggalan-peninggalan sejarah di DKI Jakarta.
Selama ini bangsa Indonesia selalu diperkenalkan sebagai bangsa yang ramah, santun, dan hidup bergotong-royong, Tampaknya, ungkapan tersebut perlu dipertanyakan kembali apakah masih berlaku untuk bangsa kita. Kerusuhan di Jakarta pada hari Kamis, 14 Mei 1998 yang terekam baik dalam media cetak maupun elektronik- sukar kita lupakan. Peristiwa ini memperlihatkan tidak beradabnya masyarakat kita yang melecehkan hak dan harga diri manusia dengan merusak, menjarah, bahkan menghancurkan barang dan harta milik orang lain."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
"ABSTRAK
Sejak diputuskan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, para ahli bahasa sibuk membenahi dan mengembangkan norma-norma bahasa tersebut. keputusan untuk menentukan cara penulisan, tata bahasa dan perbendaharaan kata muncul pada Kongres Bahasa Indonesia tahun 1938 di Solo (Java Tengah). Bahasa Indonesia lebih terpacu untuk berkembang pada masa penjajahan Jepang karena bahasa ini merupakan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dan akhirnva menjadi lambang kesatuan nasional Bahasa Indonesia memiliki peran yang penting sebagai lambang kesatuan nasional. Sejak dibentuk Komisi Bahasa Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1942. penyempurnaan bahasa terutama normalisasi tata bahasa selalu dilaksanakan. Berkat komisi ini juga pada akhir penjajahan Jepang tahun 1945 bahasa Indonesia diperkaya dengan sekitar 7.000 istilah haru (St. T. Alisjahbana, 1983: 15).
Komisi kerja yang di bentuk pada 18 Juni 1945 berhasil menyelesaikan istilah-istilah ilmiah dan teknik serta mencatat 5.000 kata-kata baru. Setelah perpindahan/serah terima teknik serta mencatat 5.000 kata-kata baru. Setelah perpindahan/serah terima kekuasaan pekerjaan di atas dilanjutkan oleh Komisi Istilah T'eknik yang bertugas menyusun kamus baru dan menyempurnakan yang sudah ada untuk pengajaran."
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1993
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
"Komunikasi akan selalu terjadi apabila ada seorang pembicara yang menyampaikan pesannya kepada pendengar secara lisan atau seorang penulis kepada pembaca melalui tulisan. Dalam komunikasi tulisan, pesan disampaikan dengan cara menulis pesan tersebut dalam huruf-huruf yang dikenal si pembaca dan disusun dalam bahasa yang dikuasai pembaca. Alat komunikasi lisan adalah bunyi-bunyi yang arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap pembicara. Bunyi-bunyi tersebut - tentu saja - disusun dalam kata-kata kemudian kafimat dan seterusnya sehingga terbentuk pesan yang diinginkan pembicara untuk diterima pendengar.
Bunyi-bunyi bahasa dalam proses komunikasi tersebut dapat dihasilkan secara berbeda, tergantung pada alat ucap pembicara dan bunyi tersebut dapat juga diterima secara berbeda apabila alat dengar penerima pesan kurang sempurna. Pengiriman dan penenmaan pesan juga dapat tidak sesuai apabila Iatar belakang para pelaku komunikasi berbeda.
"
1995
LESA-25-Jan1995-92
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
"Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer dan digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidup_an sosial. Manusia dapat berbahasa tanpa mengenal tulis-an. Jadi tulisan bersifat sekunder dan merupakan turunan bahasa lisan. Beberapa jenis huruf bahkan tidak lain daripada turunan belaka dari bunyi. Bahasa disebut arbitrer karena tidak ada hubungan wajib antara satuan-satuan ba_hasa dengan yang dilambangkannya. Orang Indonesia, mi_salnya, menamai suatu benda meja sedangkan oleh masya_rakat bahasa lain benda tersebut dinamai tafel (Belanda), table (Perancis; Inggris), tavola (Italia), dan mesa (Spanyol) (Kridalaksana, 1984:2-3).
Menurut Berry (1977:37-46), bahasa memiliki tiga tingkat dasar yaitu unsur, bentuk, dan keadaan. Unsur adalah bunyi yang digunakan pada saat kita berbicara dan lambang yang digunakan ketika kita menulis. Bentuk meru_pakan susunan unsur sehingga menjadi pola yang dapat di_kenal dan dimengerti..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1985
S14420
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
Fakultas Sastra Universitas Indonesia , 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Myrna Laksman-Huntley
Fakultas Sastra, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>