Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 125342 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nia Ayu Ismaniati Noerhadi
Depok: UI Publishing, 2025
617.643 NIA m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Martyn Suprayugo
"Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pH minuman kemasan terhadap gaya regang power chain. Digunakan 28 power chain merk ormco, tipe tertutup, bening, yang diregangkan pada 2 titik berjarak 40 mm pada plat akrilik dan direndam dalam larutan teh botol, buavita, coca cola dan aquades. Gaya regang (grf) power chain diukur menggunakan force gauge dan dicatat gaya awal, setelah 1 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam, 168 jam dan 336 jam perendaman. Terjadi penurunan gaya regang power chain yang signifikan, namun tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap setiap waktu perendaman dalam perbedaan pH larutan teh botol, buavita, coca cola dan aquades.

The aim of the study was to evaluate the effect of teh botol, Buavita, coca cola and distilled water toward force decay of orthodontic power chain. Twenty eight power chains (Ormo, closed type, tranparant) were fixed on acrylic framework (40 mm of distance) and immersed in teh botol, buavita, coca cola and distilled water. Force decay were measured using tension gauge (grf) and recorded at initial force, 1 hour, 24 hour, 42 hour, 72 hour, 168 hour and 336 hours of immersion. There was a decrease of force, however acidity did not influence force degradation of power chain statistically.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eky S. Soeria Soemantri
"To obtain a final occlusion, torque is needed to place the teeth in a precise labiolingual or buccolingual position. Biomechanically principles and arch manipulation is compulsory to produce torque movement. This paper discusses the technique to produce torque and its biomechanical principles. There are two kinds of torque, root torque and crown torque which can be done on anterior as well as posterior teeth by holding the crown in its position while applying a moment of a force on the rest, root torque can be obtained. In root torque, the center of rotation is at the incisal edge or at the bracket with a 12:1 moment to force ratio. Torque can be produced by using retrangular wire or using torquing auxiliaries. Torque movement is frequently needed in orthodontic treatment which needs a through understanding a biomechanical principles."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
J-pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Wahyudi
"[ABSTRAK
Pendahuluan: Pengukuran indeks PAR umumnya dilakukan secara manual. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka dikembangkan piranti lunak indeks PAR untuk membantu ortodontis dalam mengukur indeks PAR secara digital.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil pengukuran skor indeks PAR (komponen 1-6) secara manual dan digital. Material dan Metode:Enam puluh subyek penelitian yang sesuai kriteria inklusi dilakukan pemindaian dengan menggunakan alat pindai datar/scanner HP Scanjet G4050 sehingga didapatkan model studi digital dua dimensi (2D). Dilakukan pengukuran skor indeks PAR (komponen 1-6) secara manual pada model studi konvensional dengan menggunakan penggaris plastik PAR dan pengukuran secara digital pada model studi digital 2D dengan menggunakan piranti lunak indeks PAR.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pengukuran skor indeks PAR (komponen 1-6) pada model studi konvensional dengan model studi digital 2D (p>0,05).
Kesimpulan: Pengukuran pada model studi digital 2D sama akurat dengan model studi konvensional.

ABSTRACT
Introduction: Over the years, PAR index measurement is usually recorded using manual assessment. Along with the technology improvements, PAR index software are being developed to help orthodontists in measuring the PAR index digitally.
Objectives: The aim of this study is to compare the result of PAR score index (component 1-6)between the manual and digital measurement.
Materials and Methods: Sixty samples that match the inclusion criteria were scanned using HP Scanjet G4050 scanner device to obtain 2D digital study models. Manual measurements of the PAR score index (component 1-6) was assessed using PAR plastic ruler, while the 2D digital study models were measured using PAR index software.
Results:There were no significant differences between the measurement of PAR score index (component 1-6) in conventional and 2D digital study models (p>0,05).
Conclusions: The measurements on 2D digital study models are as accurate as conventional study models., Introduction: Over the years, PAR index measurement is usually recorded using manual assessment. Along with the technology improvements, PAR index software are being developed to help orthodontists in measuring the PAR index digitally.
Objectives: The aim of this study is to compare the result of PAR score index (component 1-6)between the manual and digital measurement.
Materials and Methods: Sixty samples that match the inclusion criteria were scanned using HP Scanjet G4050 scanner device to obtain 2D digital study models. Manual measurements of the PAR score index (component 1-6) was assessed using PAR plastic ruler, while the 2D digital study models were measured using PAR index software.
Results:There were no significant differences between the measurement of PAR score index (component 1-6) in conventional and 2D digital study models (p>0,05).
Conclusions: The measurements on 2D digital study models are as accurate as conventional study models.]"
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Krisnawati
"Pencabutan gigi untuk keperluan perawatan ortodonti telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Berkaitan dengan hal tersebut, maka telah dilakukan studi pendahuluan untuk melihat "Kecenderungan perawatan ortodonti dengan pencabutan gigi ditinjau dari faktor usia, jenis kelamin dan maloklusi " pada pasien ortodonti di Jakarta periode tahun 1993 - 1995.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan ortodonti dengan pencabutan cenderung meningkat pada periode tersebut, meskipun prosentasenya masih dalam rentangan 25 % - 85 % . Pasien perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Pada penelitian ini terlihat bahwa kelompok umur 13-17 tahun adalah yang terbanyak mendapat perawatan ortodonti dan maloklusi yang terbanyak dijumpai adalah maloklusi klas I.
Angka prevalensi dan data-data yang diperoleh memperlihatkan bahwa pencabutan cukup sering menjadi pilihan dalam melakukan perawatan ortodonti, meskipun pasien masih berusia muda dan maloklusi bersifat dental."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1996
T-3747
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tinnie Effendy
"Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi ortodontis dan orang awam Indonesia terhadap posisi bibir pada profil wajah orang Indonesia ras Deutero-Malayid.
Metode: Posisi bibir pada foto profil wanita ras Deutero-Malayid dimodifikasi secara digital dalam arah anteroposterior terhadap garis E Ricketts sehingga diperoleh tujuh posisi bibir. Ketujuh foto ini kemudian dinilai oleh 24 ortodontis dan 24 orang awam wanita ras Deutero-Malayid berusia 25-55 tahun. Penilaian dilakukan dengan metode Visual Analogue Scale (VAS) dan pemilihan satu posisi bibir yang paling disukai.
Hasil: Perbedaan persepsi ortodontis dan orang awam yang bermakna dapat ditemukan pada penilaian VAS posisi bibir atas -2 mm dan posisi bibir bawah 0 mm; posisi bibir atas +4 mm dan posisi bibir bawah +6 mm; sertaposisi bibir atas +6 mm dan posisi bibir bawah +8 mm. Baik ortodontis maupun orang awam memilih posisi bibir atas -2 mm dan posisi bibir bawah 0 mm sebagai posisi bibir yang paling disukai.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi ortodontis dan orang awam terhadap posisi bibir pada profil wajah dalam hal kekritisan penilaian namun terdapat kesamaan pemilihan posisi bibir.

Aim: The aim of this study was to compare the perception of Indonesian orthodontists and laypersons to various lip positions in Indonesian Deutero-Malayid facial profile.
Method: The lip position in a female Deutero-Malayid profile photo was digitally adjusted in anteroposterior direction from Ricketts' E-line to obtain seven lip positions. These seven photos were then assessed by 24 female orthodontists and 24 female laypersons (25-55 years). Assessment were done with Visual Analogue Scale (VAS) and selection of the most preferred lip position.
Result: Significant differences between perception of orthodontists and laypersons were found for upper lip -2 mm and lower lip 0 mm; upper lip +4mm and lower lip +6 mm; upper lip +6 mm and lower lip +8 mm. Orthodontists and laypersons selected upper lips -2 mm and lower lips 0 mm as the most preferred lip position.
Conclusion: There were significant differences between orthodontists' and laypersons' perception regarding evaluation criticality toward lip positions in facial profile. However, both groups show same preference for lip position.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cinta Nurindah Sari
"ABSTRAK
Latar Belakang: Psikososial merupakan kondisi yang meliputi aspek psikis dan sosial. Estetika wajah dapat menentukan perlakuan sosial yang diterima seorang individu dari lingkungannya. Gigi-geligi merupakan komponen penting dalam estetika wajah. Susunan gigi-geligi buruk dapat mengakibatkan berbagai masalah terkait fungsi maupun psikososial, namun dapat diatasi oleh perawatan ortodonti. Meskipun demikian, seringkali individu belum sadar akan kebutuhan perawatan ortodontinya. Ditemukan kontradiksi pada berbagai hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan status psikososial dan kebutuhan perawatan ortodonti, terutama pada usia remaja. Tujuan: Mengetahui hubungan status psikososial dengan kebutuhan perawatan ortodonti menggunakan PIDAQ dan IOTN pada siswa SMAN 27 Jakarta Pusat. Metode: Dilakukan penelitian potong lintang pada 95 remaja. Diberikan kuesioner PIDAQ untuk mengetahui status psikososial dan IOTN-AC untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti secara subjektif, serta digunakan IOTN-DHC untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti secara objektif. Hasil: Nilai signifikansi uji chi-square antara status psikososial dengan kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan IOTN-AC yaitu p = 0,001 dan nilai signifikansi uji chi-square antara status psikososial dengan kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan IOTN-DHC yaitup = 0,140. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status psikososial berdasarkan PIDAQ dengan kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan IOTN-AC dan tidak terdapat hubungan antara status psikososial berdasarkan PIDAQ dengan kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan IOTN-DHC pada siswa SMAN 27 Jakarta Pusat.

ABSTRACT
Background: Psychosocial is a condition involves psychological and social aspects. Facial aesthetics affects how someone is treated by their surrounding. Teeth arrangement is an important component in facial aesthetics. Misaligned teeth often cause various problems, but can be overcome by orthodontic treatment. However, individuals are often not aware of their orthodontic treatment needs. Previous studies show contradictory results on association of psychosocial status and orthodontic treatment need. Objective: To determine whether psychosocial status associated with orthodontic treatment need using PIDAQ and IOTN in students of SMAN 27 Jakarta.Methods: This cross-sectional study comprised 95 adolescents. PIDAQ was given to assess psychosocial status and IOTN-AC was given to assess subjective treatment need. IOTN-DHC was used to assess objective treatment need. Results: The significance value of chi-square test between psychosocial status and orthodontic treatment need based on IOTN-AC is p = 0.001 and the significance value of chi-square test between psychosocial status and orthodontic treatment need based on IOTN-DHC is p = 0.140. Conclusion: There is an association between psychosocial status based on PIDAQ and orthodontic treatment need based on IOTN-AC and no between psychosocial status based on PIDAQ and orthodontic treatment need based on IOTN-DHC in students of SMAN 27 Jakarta."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aqila Putri Sabrina
"ABSTRACT
Latar Belakang: Berdasarkan Riskesdas 2013, proporsi penduduk Indonesia yang menerima perawatan ortodontik masih sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya membutuhkan perawatan ortodontik. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kebutuhan perawatan ortodontik memiliki peran yang penting. Adapun salah satu faktor yang memengaruhi persepsi kebutuhan perawatan ortodontik adalah status sosioekonomi, namun penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang kontradiktif. Selain itu, belum pernah dilakukan penelitian mengenai hal ini di Indonesia. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status sosioekonomi dengan persepsi kebutuhan perawatan ortodontik pada siswa SMAN 27 Jakarta. Metode: Dilakukan penelitian potong lintang pada 85 siswa SMAN 27 Jakarta yang berusia 15-17 tahun. Diberikan kuesioner Family Affluence Scale III (FAS III) pada 85 subjek penelitian untuk menilai status sosioekonominya dan diberikan lembar index of Orthodontic Treatment Need-Aesthetic Component (IOTN-AC) guna menilai persepsi kebutuhan perawatan ortodontiknya. Digunakan uji chi-square untuk analisis data. Hasil: Uji chi-square menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p = 0,009) yang berarti terdapat perbedaan bermakna secara statistik antara status sosioekonomi dengan persepsi kebutuhan perawatan ortodontik. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status sosioekonomi dengan persepsi kebutuhan perawatan ortodontik pada siswa SMAN 27 Jakarta.

ABSTRACT
Background: According to Riskesdas 2013, the proportion of people who had received orthodontic treatment in Indonesia is very low. One of the reasons is that people oftentimes dont realize that they need orthodontic treatment. It shows that self-perceived orthodontic treatment need has an important role. One of the factors affecting self-perceived orthodontic treatment need is socioeconomic status, but previous studies showed contradictory results. Furthermore, this research has never been conducted in Indonesia. Objective: To determine whether the socioeconomic status associated with self-perceived orthodontic treatment need in students of SMAN 27 Jakarta. Methods: This cross-sectional study comprised 85 students of SMAN 27 Jakarta aged 15-17 years. Family Affluence Scale III (FAS III) questionnaire was given to assess their socioeconomic status and Index of Orthodontic Treatment Need-Aesthetic Component (IOTN-AC) sheet was given to assess their self-perceived orthodontic treatment need. The chi-square test was used for data analysis. Results: The significance value is less than 0,05 (p = 0,009) which indicates that there is a statistically significant difference between socioeconomic status and self-perceived orthodontic treatment need. Conclusion: There is an association between socioeconomic status and self-perceived orthodontic treatment need in students of SMAN 27 Jakarta."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Taufik Hamzah Sulaiman
"Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap gaya regang power chain ortodontik dalam larutan saliva buatan. Digunakan 56 power chain merek Ormco, tipe tertutup, yang diregangkan dengan jarak 40 mm pada plat akrilik yang direndam dalam larutan saliva buatan dan akuades. Gaya regang (gf) diukur menggunakan correx meter force gauge pada sebelum dan sesudah 210 menit perendaman. Terjadi penurunan gaya regang yang berbeda bermakna (p<0,05) pada berbagai suhu. Pengaruh media perendaman larutan saliva buatan dan akuades menghasilkan penurunan gaya regang pada perlakuan suhu 23℃ yang berbeda bermakna (p<0,05), tetapi pada 4℃, 23℃ dan 55℃ tidak berbeda bermakna.

The objective of this study was to determine the effect of temperature toward tensile force of orthodontic power chain in artificial saliva. Specimens of 56 power chain (ormco, closed type) were stretched 40 mm on acrylic plate and immersed in artificial saliva and aquadest. Tensile force (grf) were measured using correx meter force gauge, recorded the initial and final force after 210 minutes of immersion. A decline in tensile force showed significant difference (p<0,05) at various temperatures. The effect of different immersion medium at 23°C resulted significant difference (p<0,05), but at 4°C, 37 ℃ and 55 ℃ did not differ significantly.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhani Ayu Andini
"Pendahuluan : Overjet yang besar pada maloklusi kelas II divisi 1 ditengarai mampu
menimbulkan gangguan pada sendi temporomandibula. Perawatan ortodontik dengan
pencabutan dua gigi premolar bertujuan untuk memperbaiki profil serta
menyeimbangkan oklusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan
posisi kondilus sebelum dan sesudah perawatan ortodontik.
Metode : Digunakan 60 foto transkranial sebelum dan sesudah perawatan ortodontik.
Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi berupa kasus maloklusi kelas II
divisi 1, ANB ³ 50, overjet ³ 6 mm, memiliki gangguan sendi temporomandibula
sebelum perawatan ortodontik dimulai serta memiliki foto transkranial. Evaluasi posisi
kondilus dilakukan dengan mengukur jarak Anterior Joint Space, Posterior Joint Space
dan Superior Space yang diterjemahkan menjadi posisi supero-anterior dan posisi non
supero-anterior pada kondilus kanan dan kiri. Perubahan posisi kondilus sebelum dan
sesudah perawatan ortodontik diuji menggunakan Mc Nemar.
Hasil : Diketahui bahwa tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) posisi kondilus sebelum
dan sesudah perawatan ortodontik pada kasus maloklusi kelas II divisi 1 dengan
pencabutan dua gigi premolar. 19 subjek memiliki posisi supero-anterior pada kondilus
kanan dan kiri sebelum dan sesudah perawatan, sedangkan 11 subjek memiliki posisi non
supero-anterior pada kondilus kanan dan kiri sebelum dan sesudah perawatan.
Kesimpulan : Perawatan ortodontik disertai pencabutan dua gigi premolar menyebabkan
perubahan posisi kondilus, namun tidak berbeda bermakna secara statistik. Sebelum dan
sesudah perawatan ortodontik, sebagian besar kondilus tetap berada di posisi superoanterior.
Sesudah perawatan ortodontik, gejala berupa rasa tidak nyaman saat membuka
mulut lebar dan keterbatasan membuka mulut sudah hilang, sedangkan gejala berupa
kliking dan krepitasi masih ada.

Introduction : Increased overjet in malocclusion class II div 1 leads to
temporomandibular joint dysfunction. Orthodontic treatment with upper premolars
extraction is due to correct profile and to harmonize occlusion. This paper will analyze
alteration condylar position before and after orthodontic treatment.
Methods : Transcranial projection was performed of 60 radiographs (30 radiograph
before and 30 radiograph after orthodontic treatment). Subjects were choosed based on
inclusion criteria : malocclusion class II div 1, ANB ³ 50, overjet ³ 6 mm, patient had
temporomandibular symptoms before orthodontic treatment, and all patients had
transcranial radiograph. Condylar position was determined according to Anterior Joint
Space, Posterior Joint Space and Superior Space which convert to supero-anterior
position condyle right and left and non supero-anterior position condyle right and left.
The Mc Nemar Test was used to analyze the data.
Results : No statistically significant (p>0,05) alteration condyle position before and after
orthodontic treatment with extraction upper premolar. 19 subjects had supero-anterior
condyle position, before and after orthodontic treatment and 11 subjects had non superoanterior
condyle position before and after orthodontic treatment.
Conclusion : The results of this study showed that orthodontic treatment with extraction
upper premolars cause alteration condylar positions, but not statistically significant.
Before and after orthodontic treatment, most of all condyles showed in superoanterior
positions."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>