Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6885 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mohammad Ikhrom Ighfarullah
"Pendekatan numerik terhadap formability dari material monolitik sudah dilakukan pada beberapa penelitian sebelumnya, namun hingga kini masih belum ada pendekatan untuk melihat formability dari material sandwich. Pada penelitian ini dilakukan studi literatur terhadap pengujian-pengujian forming limit diagram dari material sandwich dengan Alumunium sebagai bahan dasar dari face layer. Pengumpulan data terkait parameter- parameter yang mempengaruhi formability dilakukan untuk membuat sebuah pendekatan numerik terbaru kepada formability dari material sandwich dengan face layer alumunium. Parameter tebal face layer, tebal core dan nilai strain hardening dari sandwich menjadi parameter utama dalam menentukan persamaan pada penelitian ini. Didapatkan bahwa ketiga parameter ini berbanding lurus dengan nilai plane strain forming limit curve dari material sandwich. Berdasarkan data dari eksperimen-eksperimen terkait formability sandwich sebelumnya didapatkan persamaan FLC0 dari tiap parameter.

Many numerical approach to predict formability of monolithic material have been proprosed, but until now, there is no numerical approach to find formability of sandwich material. In this study, literature review of experiment results of sandwich material with alumunium-based face layer material was conducted. Data of the properties and simulative values related with formability were collected and used to get a new numerical approach, with particular reference to forming limit curve plane strain (FLC0). Face layer thickness, core thickness, and strain hardening value were set as main variable to develop a new equation. It was found that three variables are directly linearly proportional with FLC0 of the sandwich. From the analysis of the experimental data, a new dedicated equation for sandwich materials FLC0 was proposed."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyudi
"Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat mampu bentuk dari lembaran Sandwich LDPE-UBC. Material sandwich terdiri atas kulit (skin) yang terbuat dari aluminium UBC (aluminium 3004-H24) dengan ketebalan 0,01 mm dan bagian inti tersusun dari LDPE polyfoam. Perekat atau adesif fleksibel yang digunakan double-sised tape. Fabrikasi sandwich dimulai dengan pemotongan dengan gunting serta pelurusan dan penghilangan tegangan sisa menggunakan mesin kempa hidraulik dengan beban 10 tonF/2400 C. Material sandwich memiliki ketebalan 1 mm. Sebelum uji Erichsen dilakukan, terlebih dahulu dilakukan karakterisasi dengan pengujian tarik. Karakterisasi ini bertujuan untuk menentukan besar nilai kekutan tarik tensile strength), kekutan luluh (yield strength) dan kekuatan regang (elongasi). Dari data tersebut dapat ditentukan nilai n yang dimiliki oleh sandwich yang dapat digunakan untuk memprediksi mampu bentuk (stretcahibility) dari lembaran sandwich tersebut. Pengujian ini dilakukan terhdap dua jenis lembaran yaitu AlUBC monolitik dan sandwich. Sifat mampu bentuk yang dimiliki oleh kedua jenis lembaran tersebut ditentukan dari nilai Index Erichsen dan Limiting Dome Height atau LDH. Uji Erichsen dilakukan sesuai dengan standard JIS Z 2447 yang dilakukan di Laboratorium Metalurgi Mekanik Departemen Teknik Metalurgi dan Material. Uji Erichsen dilakukan dengan moda otomatis, menggunakan blank holder pressure maksimal 4 tonF dan kecepatan punch diberikan sebesar 2,5 mm/menit. Pengujian dilakukan dengan menggunakan pelumas minyak goreng. Pengujian dilakukn terhadap 5 sampel aluminium LDPE-UBC dan 5 sample aluminium monolitik.

The research in this study was conducted to study the formability of the Sandwich Aluminum LDPE-UBC. The sandwich structure consist of Aluminum UBC (Al 3004-H24) as the skin or face with 0.01 mm thickness and the core is LDPE polyfoam. Flexible double-sided tape is used to bond the skin and core. Sandwich fabrication was performed by cutting, strengthening and stress relieving Al UBC using hydraulic press of 10 tons. The final thickness of sandwich is 1 mm. Before performing Erichsen test, the sandwich material was first characterized by tensile testing to determine the value of tensile strength, yield strength and elongation. The n- value is used to predict the stretchability of the sandwich. The Erichsen test was carried out on two types of materials, the monolithic Al UBC and aluminum LDPE-UBC. The formability of two material is showed Ericshen Index (IE) and the limiting dome height (LDH). The Erichsen test was performed in accordance the JIS Z 2447 at the Process Metallurgy Laboratory. Erichsen test was carried out with an automatic set-up, using a blank holder pressure of 4 Ton F at of 2.5 mm/minute. The test was performed by cooking oil lubricant with 5 Al UBC monolithic and 5 Al LDPE-UBC specimens."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Dhara Permatasari
"Magnesium merupakan merupakan logam struktural yang paling ringan di dunia yang biasa digunakan di bidang otomotif. Dalam aplikasinya, sifat mampu bentuk magnesium sangat penting untuk diketahui agar dapat meningkatkan efektivitas proses produksi. Sifat mampu bentuk ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah ketebalan material. Batas limit magnesium saat dibentuk digambarkan pada diagram batas pembentukan (FLD). Pada penelitian ini, material yang digunakan adalah lembaran paduan magnesium AZ31B dengan ketebalan 0,5, 0,8, dan 1 mm. Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui sifat mekaniknya sekaligus mendapatkan koefisien pengerasan regang yang juga mempengaruhi mampu bentuk material. Pengujian stretching dilakukan menurut metode Nakazima dengan berbagai variasi geometri sampel yang sudah dibuat kisi lingkaran berdiameter 2 mm pada area permukaannya, menggunakan punch setengah lingkaran, dan dalam kondisi pelumasan minyak. Metode pengukuran regangan menggunakan Dino-Lite portable digital microscope untuk mendapatkan forming limit strain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lembaran paduan magnesium AZ31B memiliki sifat mampu bentuk yang buruk pada temperatur ruang. Koefisien pengerasan regang (nilai n) yang didapat untuk masing-masing tebal, yaitu berturut-turut sebesar 0.32, 0.33, dan 0.3. Terlihat bahwa FLD yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh ketebalan tetapi akan semakin tinggi dengan semakin besarnya nilai n.

Magnesium is the lightest structural metal in the world which is commonly used in the automotive field. In its application, it is known that the formability of magnesium is very important to increase the effectiveness of the production process. This formability can be influenced by many factors, one of which is the thickness of the material. The limits of magnesium when formed are depicted on the formation limit diagram (FLD). In this research, the material used was AZ31B magnesium alloy sheet with a thickness of 0.5, 0.8, and 1 mm. Tensile testing is carried out to determine the mechanical properties as well as obtain the strain hardening coefficient which also affects the formability of the material. Stretching tests were carried out according to the Nakazima method with various variations of sample geometry which had been made into a circular grid with a diameter of 2 mm on the surface area, using a hemispherical punch, and under lubrication oil conditions. The strain measurement method uses a Dino-Lite portable digital microscope to obtain the forming limit strain. The results of this research indicate that AZ31B magnesium alloy sheet has poor formability at room temperature. The strain hardening coefficient (n value) obtained for each thickness is 0.32, 0.33, and 0.3 respectively. It can be seen that the FLD obtained is not influenced by thickness but will be higher with the increasing n value."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ghaffar. S
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan bentuk material Aluminium UBC-LDPE Sandwich Laminate pada proses deep drawing. Material sandwich dibuat dari Aluminium UBC-H24 sebagai skin dengan ketebalan 0,01mm, bahan polyfoam LDPE dengan ketebalan 1mm sebagai inti, dan double-tape sebagai perekat. Proses fabrikasi diawali dengan pemotongan kaleng Aluminium menjadi blank berbentuk lingkaran dan diluruskan menggunakan hydraulic press pada suhu 200-250 Celsius/10 ton. Skin logam & inti polimer kemudian ditumpuk bersama dengan perekat untuk menghasilkan lembaran sandwich Al/LDPE/Al. Bahan sandwich dikarakterisasi dengan uji tarik untuk mempelajari perilaku mekaniknya meliputi kekuatan tarik, kekuatan luluh dan persentase perpanjangan. Data tersebut dibandingkan dengan bahan monolitik Aluminium 3004-H24. Perekat juga dikarakterisasi dengan menggunakan uji Lap-Shear untuk mengetahui kekuatan rekat yang dihasilkan antara bahan lembaran skin dan bahan inti. Pengujian simulasi deep drawing dilakukan di Metal Forming Laboratory untuk mendapatkan LDR (Limiting Drawing Ratio), digunakan punch silinder flat bottom diameter 40 mm dengan diameter blank mulai dari 80mm. Persentase reduction untuk bahan sandwich juga diperoleh.

The purpose of this study was to determine the formability of the Aluminum UBC-LDPE Sandwich Laminate material in the deep drawing process. Sandwich material is fabricated from Aluminum UBC-H24 as skin with a thickness of 0.01mm, LDPE polyfoam material with a thickness of 1mm as core, and double-tape as adhesive. The fabrication process was started by cutting the Aluminum can into a circular blank and straightening it using a hydraulic press at 200-250oC / 10 tons. The metal skin & polymer core was then stacked together with adhesive to produce an Al/LDPE/Al sandwich sheet. The sandwich material was characterized by a tensile test to study its mechanical behaviour including the tensile strength, yield strength and percentage of elongation. The data were compared with that of monolithic Aluminum 3004-H24 material. The adhesive was also characterized by using a Lap-Shear test to determine the adhesive strength produced between the face sheet material and the core material. A deep drawing simulation test was carried out at the Metal Forming Laboratory to obtain the LDR (Limiting Drawing Ratio), a flat bottom cylindrical punch of 40 mm diameter was used with blank diameters starting from 80mm. The percentage of reduction for sandwich material was also obtained accordingly."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tyana Charity Sanjaya
"Studi ini meneliti pengaruh filler woven fiberglass terhadap sifat mampu bentuk dan ketahanan benturan lembaran komposit sandwich SS 304/SS 304 wire mesh/SS 304, yang dirancang untuk aplikasi interior pesawat terbang. Komposit dibuat dengan mengapit lapisan wire mesh SS 304 di antara dua lembar SS 304, dengan integrasi filler woven fiberglass. Penilaian kemampuan bentuk, termasuk stretching (LDH), uji stretch-bend, dan hole expansion, mengungkapkan bahwa penggabungan filler fiberglass meningkatkan kemampuan bentuk, sebagaimana dibuktikan dengan peningkatan LDH menjadi 8,8 mm dibandingkan dengan 6 mm untuk komposit tanpa filler. Rasio stretch-bend sebagian besar tidak terpengaruh, dengan nilai 11,834 dan 11,976 untuk kedua konfigurasi, yang menunjukkan bahwa pola anyaman fiberglass terutama meningkatkan ketahanan delaminasi. Pengujian hole expansion menunjukkan peningkatan marjinal pada ketahanan retak tepi, dengan peningkatan rasio hole expansion menjadi 4% dari 3,8% ketika filler digunakan. Dari pengujian impak diketahui peningkatan yang signifikan dalam penyerapan energi untuk komposit yang mengandung filler fiberglass, yang ditunjukkan dengan peningkatan disipasi energi impak menjadi 6 J dari 4,2 J. Peningkatan ketahanan impak ini sangat penting untuk meminimalkan risiko kegagalan akibat benturan mendadak pada interior pesawat. Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa penambahan filler woven fiberglass pada komposit sandwich SS 304/SS 304 wire mesh/SS 304 meningkatkan sifat mampu bentuk dan ketahanan impak, sehingga cocok untuk aplikasi interior pesawat. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengoptimalkan proses fabrikasi dan menilai kinerja dalam berbagai kondisi.

This study examines the influence of woven fiberglass filler on the formability and impact resistance of SS 304/SS 304 wire mesh/SS 304 sandwich composite sheets, tailored for aircraft interior applications. The composites are fabricated by sandwiching a layer of SS 304 wire mesh between two SS 304 sheets, with the integration of woven fiberglass filler. Formability assessments, including limiting dome height (LDH), stretch-bend, and hole expansion tests, reveal that incorporating fiberglass filler enhances formability, as evidenced by an increase in LDH to 8.8 mm compared to 6 mm for composites without filler. The stretch-bend ratio remains largely unaffected, with values of 11.834 and 11.976 for both configurations, indicating that the fiberglass weave pattern primarily enhances delamination resistance. Hole expansion tests show a marginal increase in edge cracking resistance, with an increase in hole expansion ratio to 4% from 3.8% when the filler is used. Impact testing highlights a significant improvement in energy absorption for composites containing the fiberglass filler, demonstrated by an increase in impact energy dissipation to 6 J from 4.2 J. These improvements in impact resistance are crucial for minimizing failure risks due to sudden impacts in aircraft interiors. The study concludes that the addition of woven fiberglass filler to SS 304/SS 304 wire mesh/SS 304 sandwich composites substantially improves both formability and impact resistance, making them well-suited for airplane interior applications. Further research is recommended to optimize the fabricatio"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Randal Sartony
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S35317
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Yuliana
"ABSTRAK
Generasi sandwich harus merawat dua generasi secara bersamaan, tentu memiliki
dampak terhadap kesehatan baik generasi yang terhimpit itu sendiri maupun generasi
sebelum dan generasi sesudahnya. Fokus yang ingin diteliti dalam studi ini adalah
dampak berada dalam generasi sandwich terhadap kesehatan anak karena anak yang
sehat adalah investasi masa depan tidak hanya bagi orangtua, tapi juga bagi bangsa dan
negara. Indikator kesehatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Massa
Tubuh (IMT) dan Angka Metabolisme Basal (AMB). Penelitian ini menggunakan data
Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) tahun 2007 dan tahun
2014 dengan metode Regresi Multinomial Logistik. Hasil penelitian menunjukkan IMT
anak bukan generasi sandwich lebih tinggi dibandingkan kelompok anak generasi
sandwich dan signifikan secara statistik, sehingga disimpulkan ada perbedaan rata-rata
IMT antara kelompok anak generasi sandwich dengan anak bukan generasi sandwich.
AMB anak generasi sandwich lebih rendah dibandingkan kelompok anak bukan
generasi sandwich dan signifikan secara statistik, sehingga dengan hasil tersebut
disimpulkan ada perbedaan rata-rata AMB antara kelompok anak generasi sandwich
dengan anak bukan generasi sandwich. Status generasi sandwich di mana relatif
terhadap bukan generasi sandwich, hanya signifikan jika anak mengalami obesitas.
Sementara, status generasi sandwich di mana relatif terhadap bukan generasi sandwich,
sangat signifikan memengaruhi AMB anak baik dalam kategori AMB di bawah rata-rata
maupun AMB di atas rata-rata secara keseluruhan sampel.

ABSTRACT
Sandwich Generation must treat two generations simultaneously, undoubtedly having animpact on health both the generation sandwiched itself and the previous generation and the generations that follow. The focus to be examined in this study is the effects of being in the sandwich generation on childrens health because healthy children are an investment in the future not only for parents but also for the nation and state. The health indicators used in this study were the Body Mass Index (BMI) and Basal Metabolic Rate (BMR). This study uses the Indonesian Family Life Survey (IFLS) data in 2007and 2014 with the Multinomial Logistics Regression method. The results showed that the BMI of non-sandwich generation children was higher than the group of sandwich generation children and was statistically significant, so it was concluded that there were differences in the average BMI between groups of sandwich generation children and non-sandwich generation children. BMR of sandwich generation children is lower than the group of not sandwich generation children and statistically significant, so with these results, it can be concluded that there is a difference in the average BMR between groups of sandwich generation children and non-sandwich generation children. The status of sandwich generation where relative to non-sandwich generation is only significant if the child is obese. Meanwhile, the status of the sandwich generation, which is relative to non-sandwich generation, significantly affects BMR for children in both the below-average BMR category and above-average BMR category for the overall sample.
"
2019
T53790
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bahadur, R.R.
"A discussion of some topics in the theory of large deviations such as moment-generating functions and Chernoff's theorem, and of aspects of estimation and testing in large samples, such as exact slopes of test statistics."
Philadelphia: Society for Industrial and Applied Mathematics, 1971
e20450674
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Anandar Juliantara
"Manusia dalam aktivitasnya senantiasa tali-temali dengan persoalan nilai. Pemberian atribut terhadap suatu gejala dan fenomena menegaskan bahwa manusia tidak tersekat dari masalah moral dan penilaian terhadapnya. Natalitas, penuaan penduduk (ageing population) hingga lonjakan populasi menelurkan fenomena sandwich generation atau generasi roti lapis. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang terjepit di antara tuntutan simultan untuk merawat dan memberikan dukungan emosional, finansial serta sumber daya ekstensif lainnya bagi orang tua dan anak-anak mereka yang masih bergantung. Diskursus mengenai generasi sandwich demikian tidak hanya terisolir dalam demografi atas persebaran kelompok produktif dan non-produktif, tetapi menyentuh ranah yang lebih kompleks, yakni etika sebab bersinggungan dengan masalah kewajiban yang kemudian dieksplikasi sebagai tanggung jawab. Dalam praktiknya, generasi ini berkonfigurasi dengan pilihan serta pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sebagai makhluk yang rasional, manusia secara lazim memilih alternatif yang melahirkan kebahagiaan (pleasure) dan penghindaran dari rasa sakit (pain). Penelitian ini secara spesifik memberikan gambaran mengenai fenomena sandwich generation dengan metode analisis deskriptif. Konsep-konsep dalam tradisi utilitarian dengan meminjam algoritma kalkulus hedonisme, Jeremy Bentham untuk menghitung jumlah dan tingkat kebahagiaan yang ditimbulkan oleh suatu tindakan, diharapkan dapat menjadi perkakas bagi wawasan dan pertimbangan keputusan moral individu dalam keterjepitan.

Humans activities are always linked with values. Giving the attributes to the phenomenon shows that humans cannot be distinguished from moral problems and judgments. Natality, ageing population, and population spikes have promote the phenomenon of sandwich generation. This term used to describe people who are caught between the simultaneous demands of caring for and providing extensive emotional, financial, and other resource support for parents and their dependent children. The discourse of the sandwich generation is not only insulated in the demographics of the distribution of productive and non-productive but touches a more complex realm, which is ethics because it intersects with the issue of obligation that is then interpreted as a responsibility. In practice, this generation is configured with certain choices and considerations. As rational beings, humans choose alternatives that lend us to happiness (pleasure) and escape the pain. This study specifically confers an overview of the phenomenon of sandwich generation with descriptive analysis method. Concepts in the utilitarian belief by borrowing the hedonism calculus algorithm, Jeremy Bentham to calculate the amount and level of happiness caused by an action are expected to be a machine or insight and consideration of individual moral decisions in sandwiches."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Irmayanti
"Menjalani kehidupan sebagai generasi sandwich menyebabkan seseorang memiliki tanggungan diri sendiri, anak, orangtua, dan mungkin kakek atau nenek dalam waktu bersamaan. Situasi ini menimbulkan berbagai faktor risiko yang dapat memengaruhi kesejahteraan subjektif dalam dirinya. Beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan antara regulasi emosi positif dengan kesejahteraan subjektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara regulasi emosi dan kesejahteraan subjektif pada generasi sandwich di Indonesia. Penelitian ini bersifat korelasional dengan melibatkan responden generasi sandwich berusia 35-60 tahun (N=146). Terdapat dua alat ukur penelitian yang digunakan yaitu, skala kesejahteraan subjektif dan skala regulasi emosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan kesejahteraan subjektif pada generasi sandwich.

Life as the sandwich generation causes a person to have dependents for themselves, children, parents, and maybe grandparents at the same time. This situation raises various risk factors that can affect subjective well-being in him. Several studies said that there is a relationship between positive emotion regulation and subjective well-being. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between emotion regulation and subjective well-being of the sandwich generation in Indonesia. This research is correlational by involving sandwich generation respondents aged 35-60 years (N=146). There are two scales used, namely, the subjective well-being scale and the emotional regulation scale. The results of the analysis show that there is no significant positive relationship between emotion regulation and subjective well-being in the sandwich generation."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>