Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 66059 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bianca Adivy Balqis
"Kajian ilmu pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang makna kontekstual yang dikomunikasikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh mitra tutur. Salah satu objek kajian pragmatik adalah ekspresi pagar (hedges). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk dan fungsi ekspresi pagar bahasa Korea, khususnya pada ragam lisan. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana bentuk dan fungsi ekspresi pagar bahasa Korea dalam ragam lisan? Penelitian ini menggunakan literatur Yoon (2010) dan Wan (2022) sebagai sumber data primer serta contoh ujaran dari situs X sebagai sumber data sekunder. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekspresi pagar bahasa Korea dalam ragam lisan dapat terbagi atas dua bentuk, yaitu leksikal dan sintakis. Kemudian, ekspresi pagar bahasa Korea terbagi atas tiga fungsi, yaitu ekspresi pagar yang mempengaruhi proposisi, ekspresi pagar yang mempengaruhi hubungan antara penutur dengan proposisi, dan ekspresi pagar yang mempengaruhi hubungan antara penutur dengan mitra tutur. Kemudian berdasarkan hasil pembahasan, terdapat kata dan frasa yang mampu menduduki dua fungsi ekspresi pagar, tergantung pada konteks penggunaannya. Oleh karena itu, ekspresi pagar sangat berkaitan dengan konteks ujaran, sebab fungsi ekspresi tersebut dapat berubah sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan.
The study of pragmatics is a branch of linguistics that focuses on the contextual meaning communicated by speakers and interpreted by listeners. One of the objects of study in pragmatics is hedge expressions. This research aims to explain the forms and functions of Korean hedge expressions, particularly in oral communication. The research question in this study is what are the forms and functions of Korean hedging expressions in oral communication? This research uses literature from Yoon (2010) and Wan (2022) as primary data sources and examples of utterances from site X as secondary data sources. This study concludes that Korean hedge expressions in oral communication can be categorized into two forms, lexical and syntactic. Furthermore, Korean hedge expressions are divided into three functions, which hedging expressions that affect the proposition, affect the relationship between the speaker and the proposition, and affect the relationship between the speaker and the listener. Based on the discussion, certain words and phrases can be used in two functions of hedging expressions, depending on the context. Therefore, hedging expressions are closely related to the context of the utterance, as their functions can change according to the context being discussed."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Dokumentasi  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Febriani R
"[ ABSTRAK
Karya sastra tidak lepas dari kehidupan manusia. Beberapa di antaranya mengangkat persoalan jiwa manusia. Salah satunya adalah novel Katarsis karya Anastasia Aemilia. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku sadis tokoh utama dalam novel Katarsis dengan pendekatan psikologi sastra. Tara, tokoh utama novel Katarsis berperilaku sadis. Perilaku sadis itu disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Dari segi internal, perilaku sadis Tara disebabkan oleh gangguan jiwa yang dikenal dengan istilah psikopati. Dari faktor eksternal, perilaku sadis Tara dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan pengalaman buruk yang dialaminya. Dengan demikian, Tara berperilaku sadis karena ia adalah seorang psikopat yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual.
ABSTRACT Literature can?t be separated from human life. Some of them raise the issue of human psychological. Katarsis by Anastasia Aemilia is such a novel. This research aims to explain the sadistic behavior of the main character in Katarsis with approach of psychology of literature. Tara, the main character of Katarsis novel, behaves sadistically. The sadistic behavior of Tara is caused by internal and external factors. From the internal, sadistic behavior of Tara caused by a mental disorder known as psychopathy. From external factor, sadistic behavior of Tara is influenced by the family environment and bad experiences that happened to her. Tara behaves sadistically because she is a psychopath who had experiences domestic violence and sexual assault., Literature can’t be separated from human life. Some of them raise the issue of human psychological. Katarsis by Anastasia Aemilia is such a novel. This research aims to explain the sadistic behavior of the main character in Katarsis with approach of psychology of literature. Tara, the main character of Katarsis novel, behaves sadistically. The sadistic behavior of Tara is caused by internal and external factors. From the internal, sadistic behavior of Tara caused by a mental disorder known as psychopathy. From external factor, sadistic behavior of Tara is influenced by the family environment and bad experiences that happened to her. Tara behaves sadistically because she is a psychopath who had experiences domestic violence and sexual assault.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Naura Aziza Zabidi
"Teori strength of weak ties merupakan teori yang mengatakan bahwa ikatan lemah (weak ties) pada jaringan sosial dapat lebih menguntungkan dibanding hubungan dengan ikatan kuat pada kondisi tertentu yang mana sering digunakan untuk mencari peluang pekerjaan (Granovetter, 1973). Perkembangan teknologi komunikasi menciptakan cara baru dalam memanfaatkan ikatan lemah pada jaringan sosial. Dalam beberapa tahun ke belakang, teori ini digunakan untuk melihat fenomena berjejaring di situs jejaring sosial. Makalah ini bertujuan mengidentifikasi perkembangan pemanfaatan teori strength of weak ties pada konteks pencarian pekerjaan melalui situs jejaring sosial Linkedin. Penelitian dilakukan dengan kajian literatur dari 4 artikel penelitian dalam jangka publikasi 2003-2023 yang membahas Linkedin sebagai medium pencarian pekerjaan dengan pandangan kekuatan ikatan lemah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Linkedin memudahkan penggunanya untuk memelihara dan memanfaatkan hubungan ikatan lemah dalam perluasan jaringan saat mencari pekerjaan. Hal ini secara konsisten ditemukan pada semua penelitian yang ditinjau. Terdapat keterbatasan penelitian terkait dengan perbedaan metode penelitian yang digunakan pada penelitian terkait berbeda-beda. Keterbatasan ini membuat signifikansi dari kajian bersifat umum.

Strength of weak ties theory stated that weak ties in social networks can be more beneficial than relationships with strong bonds under certain conditions which are often used to find job opportunities (Granovetter, 1973). Developments in communications technology create new ways of exploiting weak bonds in social networks. In the past few years, this theory has been used to look at networking phenomena on social networking sites. This paper aims to identify the development of the use of the theory of strength of weak ties in the context of job search through social networking site LinkedIn. Data was gathered by literature review from 4 research articles within 2003-2023 publication which discusses LinkedIn as a job search medium with weak ties viewpoint. Result shows that LinkedIn helps user to maintain and utilize weak ties in network expansion in job search. The result is consistently found in all studies reviewed. There are research limitations related to different research methods used. This limitation makes this paper have general significance."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
"Oral communicative competency in English is needed to provide the intitation tnto subcultures, occupations, professions, ssocialisations and discipline enquiry. The decision is obvious: depending which level we are talking about. In other words we need to consider those levels, such as level of difficulty, the level of transparency and the level of formality"
297 TURAS 13:1 (2007)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ellingsworth, Huber W.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1967
372.6 Ell s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ida Ayu Puspa Cindra Rini
"ABSTRACT
Profesi akuntan memiliki hubungan erat dengan lingkungan bisnis dan masyarakat karena profesi ini merupakan pelaku aktif dalam dunia bisnis dan ekonomi. Melihat hal tersebut peningkatan kemampuan lulusan akuntansi perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi arus perubahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa akuntansi terhadap pentingnya keterampilan berkomunikasi untuk sukses berkarir di profesi akuntan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 212 responden yang merupakan mahasiswa akuntansi tingkat awal dan tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Selain itu, analisis deskriptif juga digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui rata-rata kemampuan setiap mahasiswa akuntansi dalam berkomunikasi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi mahasiswa akuntansi terhadap kebutuhan berkomunikasi lisan bagi karir di profesi akuntan sudah dianggap penting karena mahasiswa akuntansi sudah memahami jika ingin sukses dalam karir akuntan, maka keterampilan komunikasi sangat diperlukan. Selain itu hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa persepsi mahasiswa akuntansi terhadap kebutuhan komunikasi lisan bagi profesi akuntan tinggi. Hasil ini didapatkan karena mahasiswa akuntansi sudah mengembangkan keterampilan yang luas, termasuk di dalamnya keterampilan komunikasi lisan dan tidak hanya mengembangkan keterampilan teknikal saja. Dalam hasil penelitian ini juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi mahasiswa tingkat awal maupun tingkat akhir terhadap pentingnya komunikasi lisan di profesi akuntan. Hasil ini bisa terjadi karena mahasiswa tingkat awal dan mahasiswa tingkat akhir sama-sama mengetahui tentang pentingnya komunikasi lisan di berbagai karir akuntan.

ABSTRACT
Accounting professions have a very close relationship with the business environment and society because this profession is part of the business and economic world. Seeing this, increases the ability of accounting graduates have to be done in an effort to anticipate the flow of change. The purpose of this study is to determine the perception of accounting students on the importance of communication skills for successful career in the accounting profession. This study was conducted by using survey method and questionnaries distributed on 212 respondents. The respondents is consist of entry level accounting students and final year accounting students from Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. In addition, descriptive analysis is also used in this study to determine the average ability of each accounting students in communicating. The results of this study indicate that perceptio of accounting students to the needs of oral communication for a career in the accounting profession has been considered important because accounting students already understand if we want to success in accounting career, we must have a good oral communication skill. In addition, the results of this study also concluded that the perception of accounting students to the needs of oral communication for accounting profession is high. This result is obtained because accounting students have developed extensive skills, including oral communication skills and not just developing technical skills. In the results of this study also found that there is no difference in student perceptions of new students and final year students of the importance of oral communication in the accounting profession. This result can happen because the new students and final year students know the importance of oral communication in various accounting careers."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Chriscentia Leonardy
"Latar Belakang: Ilmu pedagogi didefinisikan sebagai metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Game dengan tujuan pedagogi untuk pendidikan dan pelatihan disebut sebagai serious games (SG). SG telah digunakan dalam berbagai intervensi pendidikan kesehatan dan berperan sebagai sarana pembelajaran aktif yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta motivasi. Histologi rongga mulut adalah studi tentang struktur mikroskopis sel dan jaringan rongga mulut. Namun, pembelajaran histologi dideskripsikan sebagai salah satu topik yang kurang menarik dan sulit dipahami. Penggunaan SG berpotensi meningkatkan motivasi mahasiswa yang akan berdampak pada peningkatan performa akademik. Namun, penelitian mengenai efektifitas penggunaan serious games sebagai metode pembelajaran komplementer dalam bidang kedokteran gigi masih belum banyak dipahami. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas serious games sebagai metode pembelajaran komplementer praktikum histologi jaringan rongga mulut. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain studi randomized controlled-crossover pada mahasiswa FKG UI preklinik tahun pertama. Responden penelitian terdiri dari 74 mahasiswa dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A diberikan pembelajaran dengan serious games terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan pembelajaran dengan panduan praktikum (handout). Sedangkan kelompok B diberikan handout dan dilanjutkan serious games. Hasil: Berdasarkan uji analisis statistik, penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p < 0,05) pada hasil nilai pre-test, post-test 1 (3 hari pasca intervensi), dan post-test 2 (7 hari pasca intervensi). Uji kuesioner juga menunjukkan motivasi, persepsi, engagement dan pengalaman yang positif setelah belajar menggunakan serious games. Kesimpulan: Pembelajaran serious games efektif meningkatkan kemampuan kognitif serta meningkatkan motivasi mahasiswa dalam mempelajari histologi rongga mulut. Pendekatan inovatif ini dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran komplementer praktikum histologi rongga mulut

Background: Pedagogy is defined as methods and approaches in learning. Games with pedagogical goals for education and training are called serious games (SG). SG has been used in various health education and acts as an active learning that can increase cognitive, skills, and motivation. Oral histology is microscopic study of cells and tissues structure of the oral cavity. However, histology has been described as one of the less interesting and difficult materials to understand. The use of SG has the potential to increase student motivation which will have an impact on improving academic performance. Nevertheless, studies and research on the effectiveness of serious games as a complementary learning method in dentistry is still not widely understood. Objective: To evaluate the effectiveness of serious games as a complementary learning method for oral practicum histology. Methods: The study was conducted using a randomized controlled-crossover design in the UI first year preclinical dental students. The research respondents consisted of 74 students and they were divided into two groups. Group A was given learning with serious games first, then continued with learning with practicum guides (handout). Meanwhile, group B was given handouts and continued with serious games. Results: Based on statistical analysis tests, the study showed that there were statistically significant differences (p <0.05) in the results of students' pre-test, post-test 1 (3 days post-intervention), and post-test 2 (7 days post-intervention) scores. The questionnaire test also showed positive motivation, perception, engagement and experience after using serious games. Conclusion: Learning with serious games is effective in increasing cognitive skills and student motivation in studying oral histology. This innovative approach can be recommended as a complementary learning strategy for oral practicum histology."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratih Winanti Rahayu
"Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat dipisahkan dari komunikasi dan interaksi sosial dengan orang lain. Seperti yang telah kita ketahui, untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, kita membutuhkan bahasa. Bahasa merupakan elemen penting dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial, bahasa juga berperan penting dalam menjaga hubungan sosial di antara pemakainya. Dalam berkomunikasi, terdapat prinsip-prinsip kerjasama yang mengatur kita dalam berkomunikasi. Prinsip-prinsip kerjasama tersebut terdiri dari beberapa maksim. Namun, dalam prosesnya, kita seringkali melanggar maksim-maksim tersebut dengan tujuan sebagai strategi menarik perhatian kawan bicara. Dalam film Madagascar 3: Europe‟s Most Wanted terdapat banyak pelanggaran maksim sebagai strategi persuasi. Dengan menggunakan teori implikatur percakapan, teori retorik, dan teori-teori lain, seperti teori kesantunan, teori co-active persuasion, dan teori relasi kuasa, akan membantu untuk menganalisis pelanggaran maksim sebagai strategi persuasi. Temuan dari penelitian ini adalah pelanggaran maksim dapat digunakan sebagai strategi persuasi.

As social beings, we cannot be separated from social interaction and communication. We need to interact and communicate with other people. As we all know, to communicate and interact with other people, of course, we need a language. Language is foremost a means of communication and interaction. As a communication tool in social interaction, language is also important in keeping a good social relation among language users. There are cooperative principles which control us in the way we communicate with others. The cooperative principles contain some maxims. Yet, in the middle of conversation, we usually flout or violate the maxims in order to attract the hearers. In the movie Madagascar 3: Europe‟s Most Wanted, there are so many flout of maxims or exploit of maxims which is done by Alex, Marty, Melman, and Gloria as a persuasion strategy. By using conversational implicature theory, rhetoric theory, and some theories like politeness theory, co-active persuasion theory, and power relation theory will help to analyze this research on the use of flouting maxims and violating maxims as persuasion or rhetoric strategy. The finding of this research is that flout of maxims or exploit of maxims can be used as persuasion strategy."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S44589
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putu Diana Saraswati
"Penulisan review ini membahas mengenai salah satu permasalahan penting sumber daya manusia rumah sakit yaitu retensi perawat. Tujuan dari penulisan adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi gambaran retensi, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan strategi retensi yang dilakukan oleh rumah sakit. Jenis literatur yang digunakan adalah literatur elektronik yang didapat melalui database online dan website yakni PubMed, Science Direct, DOAJ, Willey Online Library, Garuda Ristekdikti, Dovepress, OPAC-Universitas Indonesia Library, neliti.com, dan researchgate.net. Jumlah literatur yang dibahas dalam review ini adalah 14 literatur. Hasil identifikasi inti pembahasan pada setiap literatur disajikan dalam tabel matriks yang secara garis besar memuat aspek gambaran retensi yang terdiri dari retensi positif dan negatif; faktor-faktor retensi diantaranya faktor organisasi dan pekerjaan, faktor karakteristik individu, dan faktor lain; serta strategi retensi yang dikelompokkan menjadi strategi umum dan spesifik.

This literature review is discussed about one of the important hospitals human resource problems, nurse retention. The purpose of this paper is to identify retention picture, influencing factors, and retention strategies carried out by the hospital. The type of literature used is electronic literature that collected through online databases and websites include PubMed, Science Direct, DOAJ, Willey Online Library, Garuda Ristekdikti, Dovepress, OPAC-Universitas Indonesia Library, neliti.com, and researchgate.net. Total of literature in this paper is 14 literatures. Identification results of the key findings from each literature is written in a matrix table which contains of retention picture that consist of positive and negative retention; retention factors include organization and occupation factors, invidual characteristic factors, and other factors; and retention strategies that grouped into general and specific strategies."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Dininggara Maladi
"Sukaraja merupakan desa yang penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa antara lain suku bangsa Sunda dan suku bangsa Lampung. Dua suku bangsa tersebut merupakan suku bangsa terbesar di desa Sukaraja. Suku bangsa Lampung dan suku bangsa Sunda hidup berdampingan dan saling mempengaruhi kebudayaan satu sama lain. Hal ini terlihat pada penggunaan bahasa Lampung disana yang tersisipi oleh penegas kata (fatis) atuh, jing, dan geh. Ketiga fatis tersebut berasal dari bahasa Sunda. Bahasa Lampung tersisipi ketiga fatis tersebut karena adanya interaksi yang terjadi antar suku bangsa Lampung dan suku bangsa Sunda setiap harinya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Teknik penelitian yang digunakan yaitu pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Hal ini digunakan untuk mengetahui mengapa bahasa Lampung di desa Sukaraja tersisipi oleh fatis dari bahasa Sunda. Kajian pustaka dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam memahami fatis dan fungsi dari fatis itu sendiri serta membantu peneliti memahami mengapa fatis bahasa Sunda dapat menyisipi bahasa Lampung. Selain itu, peneliti juga mempresentasekan jumlah fatis atuh, jing, dan geh yang muncul dalam bahasa Lampung.
Penelitian ini mengkategorikan informan menjadi dua kriteria yaitu informan kunci (key informan) dan informan pendukung. Informan kunci terdiri dari tiga orang. Ketiganya menggunakan nama asli atau peneliti tidak menggunakan nama samaran. Sedangkan informan pendukung adalah beberapa masyarakat suku bangsa Lampung yang tinggal di desa Sukaraja.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa fatis atuh, jing, dan geh dapat menyisipi bahasa Lampung karena pengucapan ketiga fatis tersebut sesuai dengan sumber bunyi dalam bahasa Lampung. Ketiga fatis tersebut juga memiliki fungsinya sendiri. Tiap-tiap fatis memiliki fungsi yang berbeda dari fatis-fatis yang ada dalam bahasa Lampung. Selain itu, faktor kebiasaan juga membuat fatis atuh, jing, dan geh menjadi lazim digunakan di desa Sukaraja.
Kerukunan antar suku bangsa yang terjadi di desa Sukaraja juga membuat masyarakat suku bangsa Lampung dapat menerima dengan baik keberadaan fatis atuh, jing, dan geh dalam bahasa Lampung. Keberadaan ketiga fatis tersebut dalam bahasa Lampung telah disadari oleh suku bangsa Lampung dan membuat mereka merasa semakin kaya dalam berbahasa.

Talbot is a village made up of various ethnic groups such as ethnic and tribal Sundanese Lampung. The two tribes are the largest ethnic group in the village of Talbot. Lampung tribes and ethnic groups coexist and Sundanese culture mutually influence each other. This is seen in the use of language by the Lampung there are shells confirmation word (phatic) atuh, jing, and geh. Phatic third comes from the language. Phatic three shells Lampung language, because of the interaction between Lampung tribes and tribal Sundanese every day.
The approach used in this study is a qualitative approach and quantitative approach. Research techniques used were participant observation and in-depth interviews. It is used to determine why the language of Lampung in Talbot village by the shells of phatic language. Literature review conducted to facilitate researchers in understanding the function of phatic phatic and themselves and to help researchers understand why phatic Sundanese language can menyisipi Lampung. In addition, the researchers also mempresentasekan number phatic atuh, jing, and geh which appeared in Lampung.
This study categorizes the informant to two criteria: the key informants (key informants) and supporting informants. Key informants consisted of three people. All three use real names or the researchers did not use a pseudonym.While informants are supporting some ethnic communities living in rural Lampung Talbot.
Based on the survey results revealed that phatic atuh, jing, and can geh menyisipi third language pronunciation phatic Lampung because according to the source of sound in the language of Lampung. Phatic Third also has its own function. Phatic each having different functions of phatic-phatic that exist in Lampung. In addition, the habit also makes phatic atuh, jing, and geh became prevalent in rural Talbot.
Harmony among ethnic groups occurred in the village of Talbot also made Lampung ethnic communities may welcome the presence of phatic atuh, jing, and geh in Lampung language. The existence of the third phatic language has been recognized by the Lampung Lampung tribe and make them feel even richer in the language.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S44669
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>