Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20760 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Khusnul Khotimah
Depok: Rajawali Pers, 2022
363.728 KHU p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Wangi Tejaresmi
"ABSTRAK
Salah satu industri kimia yang menghasilkan air limbah adalah industri resin sintetik. Air limbah dari industri ini biasanya masih mengandung sisa resin dan surfactant yang cukup tinggi dan memerlukan proses pengolahan sebelum dibuang, agar memenuhi baku mutu air buangan yang ditetapkan pemerintah. Proses pengolahan limbah yang dilakukan pada penelitian ini adalah secara biologi dengan menggunakan lumpur teraktifasi dalam merombak limbah.
Kondisi operasi reaktor rnengikuti kondisi lingkungan, dan proses dilakukan secara kontinyu dengan variasi pada komposisi limbah, yaitu untuk air limbah yang belum diolah secara kimia (BOD=516.2 mg/lt) dan air Iimbah yang telah diolah secara kimia (BOD=362.2 mg/lt). Variasi percobaan lainnya adalah waktu tinggal cairan (HRT) dalam reaktor, yaitu 9.6, 12, 16, 2.4, dan 28.8 jam.
Dari penelitian ini dapat ditentukan nilai koeiisien kinetika pertumbuhan mikroorganisme yang merupakan dasar perancangan instalaai pengolah air Iimbah, scperti dignnakan nntuk mengetahui berapa besar parametenparameter penting pertumbuhan mikroorganisme dalam reaktor dan memprediksi berapa besar kousentrasi mikroorganisme efluen (Xcf) yang akan mennnjukkan kualitas hasil pengolahan. Variabel komposisi limbah yang berbeda ternyata berpengamh terhadap nilai koefisien kinetika yang dihasilkau. Sedangkan pengamh variabel temperatur-
sulit diamati karena 1-Londisi operasi tidak menunjukkan pembahan temperamr yang signifkan.
Penelitian ini menghasilkan nilai kociisien kinetika unrnk komposisi BOD=516,2 mg/ll adalah Y=O.l6mg sel./mg BOD, kd=0.038 hari", Ks=28'7.4 mg/lt dan F199 hari'I. Untuk komposisi BOD=362.2 mg/lt dihasilkan nilai Y=0.22mg sel/mg BOD, kd=0.03 hari", Ks=146.1 mg/It dan k=1.0 I1a1'i".
Nilai parameter panting pertumbuhan rata-rata yang dihasilkan nntuk komposisi soD=s1e.2 mg/lt adalah |1=0.05l8 am* , q=o_37 had °? dan mio F/M =o_432. sedangkan ?awk komposisi B0D=362.2 mg/rr diuasilkaa n=o.o66 had", q=o_o3 han* dan mio F/M=o_3s.
Konsentrasi mikroorganisme efluen (XJ) untuk komposisi BOD=516.2 mg/lt adalah 70.354 mg/lt dan untuk komposisi BOD=362.2 mg/'lt adalah 64 mg/lt."
2000
S50840
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumingkrat
"Pembangunan sektor industri memberikan nilai tambah pada devisa negara, namun jika limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan dampak negatif. Permasalahan sektor industri, sub sektor pembinaan industri adalah semakin banyak industri penghasil limbah B3, maka semakin meningkat pula volume limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Permasalahan lingkungan dari limbah adalah bila limbah dibuang langsung ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu, dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan hidup. Untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkannya, maka harus dikelola secara khusus antara lain pengolahan dan penimbunan hasil pengolahan tersebut. Limbah padat (cake) industri pelapisan logam mengandung konsentrasi logam berat antara lain chromium, yang berbahaya bagi kesehatan manusia serta mahluk hidup lainnya. Sesuai dengan PP No. 18 Tahun 1999 Jo. PP No. 85 Tabun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) dan cara penimbunannya menurut Keputusan Kepala Bapedal No:Kep-041Bapedal/0911995 harus ditimbun pada landfill kategori I.
Untuk mengelola limbah B3 tersebut memang diperlukan biaya yang tinggi. Terlebih apabila mengingat tempat penimbunan limbah yang resmi memiliki ijin dari Bapedal masih sedikit, maka perlu upaya pengolahan limbah B3 dengan melakukan uji eksperimentasi. Uji tersebut dapat dilakukan dengan mengubah tipe kategori landfill yang ada untuk menjawab kemungkinan penggunaan kategori landfill yang berbeda.
Landfill kategori I (Secure Landfill Double Liner) adalah landfill yang mempunyai 2 lapisan geomembran dan terdiri dari 8 lapisan, sedangkan landfill kategori III (Landfill Clay Liner) adalah landfill dengan lapisan tanah liat dan terdiri dari 6 lapisan. Landfill yang dirancang di dalam alat simulasi terdiri dari 6 lapisan dengan bahan pengikat kapur dan semen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan pencemaran limbah padat (cake) industri pelapisan logam terhadap lingkungan pada skala alat simulasi. Untuk mengetahui apakah landfill kategori III yang dirancang dapat untuk mengelola limbah padat (cake) industri pelapisan logam. Hal tersebut termasuk untuk mengetahui peranan kapur dan se ffb men sebagai bahan pengikat limbah, peranan tanah liat dengan K= 10-9 m/detik yang dibuat sebagai lapisan landfill dalam mengantisipasi kandungan logam berat chromium agar tidak leachate keluar dari alai simulasi.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen laboratorium. Hasil dan kesimpulan yang didapatkan dari metode eksperimental ini dianalisis dengan analisis tabel (face validity). Penelitian eksperimental ini dilaksanakan di dalam laboratorium kimia dan teknik sipil dengan ketentuan pelaksanaan pengujian sesuai standar uji standard American Society for Testing and Materials (ASTM), Japan Institute Standard PIS) dan metode uji Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Sedangkan peraturan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja yang dipakai adalah Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Permenaker.
Berdasarkan pembahasan hasil eksperimen di laboratorium dan pengamatan rentang waktu empat bulan dapat disampaikan kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada lapisan landfill kategori III modifikasi awal (kontrol) dengan skala 1:10, masih terdapat leachate logam berat chromium dari limbah padat (cake) industri pelapisan logam sebesar 0,278 ppm.
2. Semen dapat menahan leachate logam berat chromium di dalam limbah padat (cake) industri pelapisan logam sebesar 155.65% (maksimum 300%).
3. Pada lapisan landfill kategori III yang dirancang dengan skala 1:10, dapat menahan leachate logam berat chromium:
Untuk tipe landfill K, sebesar 0,183ppm,
Untuk tipe landfill S1, sebesar 0,145ppm,
Untuk tipe landfill S2, sebesar 0,1 13ppm,
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Mengingat penelitian ini merupakan studi awal exploratif yang dilakukan dalam kondisi keterbatasan waktu dan dana, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. Penelitian tersebut dapat dilakukan dengan metode yang sama, tetapi dengan jumlah ulangan dan berat sampel yang sesuai, sehingga dapat diperoleh data yang cukup banyak untuk dapat dilanalisis dengan metode statistik Anova.
2. Sebaiknya dibuat kurva standard logam chromium dari limbah padat (cake) industri pelapisan logam dengan kadar logam berat chromium yang berbeda.
3. Perlu ditinjau kemampuan para pelaku industri pelapisan logam dalam mengimplementasikan hasil penelitian ini, apakah visibel secara ekonomis.

The development in the industrial sector has contributed in providing added value to the national revenue, if the waste produced is not managed will result in adverse impacts. Problems faced within the industrial sector, i.e. within the industrial management sub-sector, is the increasing number of industries producing hazardous waste (B3) resulting in the accumulated volume of hazardous waste (B3).
The main problems of environmental waste are the absence of treatment to waste prior to it being discharged directly to the environment which threatens the environment and humans. To reduce the risk, the waste would have to be specially treated by process and as well as by land filling of the processed products.
Solid waste (cake) from metal plating industries contains heavy metal such as chromium which endangers human health as well as other forms of living organism. Based on government regulation No. 18/1999 followed by Government Regulation No. 85/1999 on the Management Hazardous Waste and the Decree of the Head of Bapedal No.: Kep-04/Bapedal/09/1995 on Means of Disposal, the waste should be treated in Landfill Category I.
Treatment of such waste will require heavy funding especially if the legally assigned landfill location assigned by Bapedal is still limited. Hence, the processing of hazardous waste must be carried out by ffb experimental test. The test would be carried out by changing the existing landfill category type to probe the possibility of using various landfill categories.
Landfill Category I (Secure Landfill Double Liner) is a landfill composed of 8 layers having 2 geo-membrane layers whereas Landfill Category III (Landfill Clay Liner) is a landfill having 6 layers of clay. The landfill is designed in a simulation device consisting of 6 layers with a binding substance of lime and cement.
The research aims at understanding and solving the problems related with the pollution of solid waste (cake) from metal plating industries to the environment at the simulation scale to find out whether the designed Landfill Category III could manage the solid waste (cake) from metal plating industries. The research aims at assessing the role of lime and cement as a waste binding agent and the role of clay with K=10-9 m/s used as the landfill layer to avoid the leachate of the heavy metal chromium from the simulation device.
A laboratory experimental research method was used. The results and conclusion derived from the experimental mode is analyzed using table analysis (face validity). The experimental research was carried out in a chemical and technical laboratory using testing procedures following standards set by the American Society for Testing and Materials (ASTM), Japan Institute Standar (JIS) and testing methods of the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The regulation for environmental protection and work safety used is the Safety and Health Management System (SMK3) decree from the Minister of Labor.
Based on experimental results in the laboratory and 4 month observations it was concluded:
1. Primary modification on Landfill Category III (control with scale 1:10), the chromium heavy metal from the solid waste (cake) leachate of the metal plating industry was 0,278 ppm;
2. Cement can hold the leachate of chromium heavy metal in the solid waste (cake) of metal plating industry by 155,65% (maximum 300%);
3. The amount of chromium heavy metal leachate produced by solid waste (cake) from metal plating industries at the designed level of landfill scale 1:10 are as follows:
a. Landfill Type K = 0,183 ppm,
b. Landfill Type Si= 0,145 ppm,
c. Landfill Type 52= 0,113 ppm
This research gives suggestions as follows:
1. This is an explorative preliminary research as limited and funding, so it is needed a further research. In order to do Anova statistic analysis, it is needed to do the same methodology with the number of replication and weight of samples appropriately.
2. It is better for the further research to make standard curve of chromium from cake of metal plating industry with different concentration of chromium.
3. A study of the ability of metal plating industry actors to implement this research is needed to know the economics visibility of this method.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T8563
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Kristianto
"Katalis sering digunakan dalam industri pengolahan minyak bumi, terutama katalis berbasis nikel yaitu NiO/Al2O3. Setiap tahunnya limbah katalis ini dihasilkan oleh unit Hydrogen Plant UP VI Pertamina Balongan sebesar 100 ton, dengan persentase kandungan Ni sekitar 10-25%. Nikel termasuk sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui, dengan fraksi nikel di dalam tambang di Indonesia hanya sekitar 1,45%.
Limbah katalis nikel termasuk dalam golongan limbah B3 karena dapat membahayakan lingkungan jika dibuang tanpa perlakuan khusus. Melihat jumlah, potensi dan berbahayanya limbah katalis nikel, perlu dilakukan suatu proses rekoveri untuk memperoleh nikel dari limbah tersebut melalui beberapa proses, yaitu leaching menggunakan amonia-amonium karbonat, ekstraksi cair-cair menggunakan ekstraktan selektif LIX® 84-ICNS, dan stripping.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum proses leaching adalah pada konsentrasi amonium karbonat 2 M, dengan suhu 600C selama 5 jam, menghasilkan persentase leaching sebesar 29,31 % untuk sistem bejana terbuka. Kondisi optimum proses ekstraksi cair-cair adalah pada konsentrasi ekstraktan 10 % (v/v) dan pH 8,5; menghasilkan persentase ekstraksi sebesar 97,15%. Proses stripping menggunakan asam sulfat dengan konsentrasi 200 g/L menghasilkan persentase perolehan logam nikel total yang diperoleh adalah 15,36%

Catalyst often used in petroleum refinery industry, especially nickel based catalyst, that is NiO/Al2O3. Catalyst waste annually generated by the Pertamina Balongan Hydrogen Plant Unit UP VI in the amount of 100 tonne, with Ni percentage is around 10-25%. Nickel is a natural resource that is not renewable, with nickel fraction from mines in Indonesia is only 1,45%.
Spent nickel catalyst included in the group of hazardous waste because the waste can harm the environment if disposed of without special treatment. Consider the amount, potential, and hazardous properties of nickel catalyst, it is necessary to do a recovery process to utilize the nickel catalyst waste through several process, that is leaching with ammonia-ammonium carbonate, liquid-liquid extraction using selective extractant LIX® 84-ICNS, and stripping process.
The result showed that optimum conditions of leaching process is ammonium carbonate concentration of 2 M, temperature of 600C for 5 hour, resulting 29,31 % of leaching percentage for open vessel system. Optimum conditions of liquid-liquid extraction process is on extractant concentration of 10% (v/v) and pH 8,5; resulting extraction percentage of 97,15%. Stripping process using sulfuric acid with concentration of 200 g/L resulting the total percentage of nickel metal recovery of 15,36%
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S64625
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pengelolaan sampah dengan pembuangan sampah ke TPA menimbulkan masalah pada keterbatasan lahan yang digunakan sebagai TPA dan ketidakbersediaan suatu wilayah untuk menyediakan lahan TPA yang menerima buangan sampah dari kota sekitarnya. Pendekatan baru dalam pengelolaan sampah dengan pendekatan zero waste skala kawasan. Pengelolaan sampah dilakukan dengan reduksi, reuse dan pemulihan materi (material recovery) yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan menggunakan teknologi yang relatif sederhana. Pengelolaan baru tersebut mengubah kegiatan pembuangan ke TPA menjadi pengolahan sampah di Fasilitas Pengolahan Sampah. FK dan FKG merupakan salah satu wilayah yang memberikan buangan sampah ke TPA, dengan kondisi masyarakat dan fungsinya sebagai institusi pendidikan diharapkan dapat menjadi percontohan pelaksanaan zerowaste skala kawasan. Sebelum dilakukan perancangan sistem pengelolaan sampah perlu dilakukan survey terhadap kondisi eksisting pengelolaan sampah di FK dan FKG. Survey pengelolaan sampah di FK dan FKG meliputi waste generation, pewadahan, pengumpulan, tempat pembuangan sementara, pengelola pelayanan kebersihan, kegiatan pemanfaatan sampah serta pengukuran volume dan massa buangan sampah dalam 1 minggu. Dari hasil survey dibuat usulan sistem pengelolaan sampah yang meliputi sistem pewadahan, pengumpulan dan perancangan Fasilitas Pengolahan Sampah. Pada sumber sampah dilakukan pemilihan sampah dengan memisahkan 4 jenis sampah organik, sampah kertas, sampah plastik, sampah tissue dll. Input sampah yang masuk ke Fasilitas Pengolahan Sampah rata-rata dalam 1 hari adalah Sampah Organik 0.49 m-kuibik atau 128.55 kg, kertas 0.114m-kuibik atau 7.85 kg, plastik 0.07 m-kuibik atau 4.79 kg, tissue 0.031 m-kuibik atau 3.16 kg. Total input sampah sebesar 0.707 m-kuibik atau 144.35 kg. Kemudian dilakukan pemilihan teknologi dan penentuan proses-proses yang terdapat dalam Fasilitas Pengolahan Sampah. Didapatkan proses-prosesnya meliputi pengkomposan, pemilihan kertas, pencucian plastik, pembuangan ke TPA. Kemudian dihitung area yang dibutuhkan dan mesin dan peralatan yang digunakan. Setelah itu dibuat struktur organisasi dan dilakukan pengolahan data keuangan yang meliputi penentuan biaya investasi sebesar Rp. 129.363.250,- dan dijabarkan elemen-elemen biayanya, sehingga bisa ditentukan harga pokok penjualan per kg. Harga pokok penjualan dalan 1 bulan nilainya sebesar Rp. 275,-/kg atau Rp. 13.039.036,- untuk 47445.07 kg produk. Serta dilakukan perhitungan pemasukan 1 bulan sebesar Rp. 14.342.940,- dengan keuntungan Rp. 1.303.904,-."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S35426
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Hasna Ananto
"Perkembangan industri batik tidak diimbangi dengan pengolahan limbah yang memadai. Sebagian besar penghasil batik membuang langsung limbah cairnya ke perairan tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Pada penelitian ini dilakukan upaya pengolahan limbah batik menggunakan metode filtrasi dengan mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi bahan membran dan tekanan umpan terhadap kemampuan penyisihan pengotor. Pada penelitian ini, dilakukan preparasi membran flat sheetberbahan polisulfon dengan pelarut N-metil-2-pirrolidon atau NMP dan aditif polivinilpirolidon (PVP). Membran yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan uji SEM, FTIR, dan sudut kontak. Membran dipreparasi dengan komposisi PSf dan PVP masing-masing 7,35 gram dan 0,15 gram untuk membran PSf/PVP0,15; 7,25 gram dan 0,25 gram untuk membran PSf/PVP0,25; dan 7,15 gram dan 0,35 gram untukPSf/PVP0,35; dengan pelarut NMP sebanyak 42,5 mL. Proses filtrasi membran dilakukan dengan variasi tekanan umpan 4, 5, 6, dan 7 bar. Hasil penelitian menunjukkan membran PSf/PVP0,25memiliki jumlah pori terbanyak dan memiliki sifat paling hidrofilik dengan sudut kontak 50o. Filtrasi membran menunjukkan hasil bahwa semakin rendah tekanan, semakin tinggi persentase rejeksi sedangkan pengaruh komposisi membran berbeda-beda untuk tiap parameter. Dengan tekanan 4 bar, membran PSf/PVP0,25memiliki rejeksi COD dan warna tertinggi sebesar masing-masing 61,73% dan 61,16%; sedangkan membran PSf/PVP0,35memiliki rejeksi TDS dan konduktivitas tertinggi sebesar masing-masing 49,43%.Variasi tekanan umpan dan komposisi membran tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyisihan TSS dan perubahan pH permeat.

The development of the batik industry is not matched by adequate waste treatment. Most batik producers dispose of their liquid waste directly into the waters without processing it first. In this research an attempt was made to treat batik waste using a filtration method by evaluating the effect of variations in membrane material concentration and feed pressure on the ability of impurity removal. In this study, a flat sheet membrane made from polysulfone was prepared with N-methyl-2-pyrrolidone or NMP solvent and polyvinylpirolidone (PVP) additive. The resulting membrane was characterized using SEM, FTIR, and contact angletests. Membranes were prepared with PSf and PVP compositions of 7.35 grams and 0.15 grams for the PSf/PVP0,15 membrane; 7.25 grams and 0.25 grams for the PSf/PVP0,25membrane; and 7.15 grams and 0.35 grams for the PSf/PVP0,35 membrane; with NMP as much as 42.5 mL. The membrane filtration process is carried out with feed pressure variations of 4, 5, 6, and 7 bars. The results showed the PSf/PVP0,25membrane has the highest number of pores and has the most hydrophilic properties with a contact angle of 50o. Membrane filtration shows results that the lower the pressure, the higher the rejection percentage, while the effect of membrane composition vary with each parameter. With a pressure of 4 bar, the PSf/PVP0,25membrane has the highest COD and color content rejection of 61.73% and 61.16% respectively while the PSf/PVP0,35membrane has the highest TDS rejection and conductivity of 49.43% and 48.57%, respectively. Varying the feed pressure and membrane composition did not have a significant effect on TSS removal and permeate pH changes.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Rifki Maulana
"Setiap perjanjian yang telah mengikat selayaknya dihormati oleh para pihak dengan cara beritikad baik dalam melaksanakan serta mengupayakan pemenuhan prestasinya. Hal tersebut merupakan implementasi dari asas pacta sunt servanda yang diatur dalam Pasal 1338 KHU Perdata. Skema KPBU yang berlandaskan perjanjian keperdataan antara pemerintah selaku pemilik proyek dan badan usaha sebagai pelaksana menjadi salah satu alternatif dalam pemberian layanan dengan penyediaan infrastruktur ditengah sulitnya pembiayaan akibat terbatasnya sumber daya. Pandemi Covid-19 yang melanda sering dijadikan alasan berhentinya pelaksanaan perjanjian akibat dihubungkannya kejadian tersebut dengan keadaan kahar (force majeure). Hal tersebut menjadi masalah, sebab para pihak dapat dirugikan mengingat penyiapan proyek KPBU memakan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, perlu diaturnya klausul keadaan kahar dengan baik dan memberikan alternatif pengaturan dalam menyikapi keadaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah penelitian yuridis normatif dengan tipologi eksplanatoris preskriptif. Analisis penelitian menggunakan teori keadaan memaksa (force majeure/overmacht) dari waktu ke waktu dan prinsip keadaan sulit (hardship). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan suatu keadaan kahar digantungkan pada pengaturan perjanjian dan produk hukum tertentu yang dikeluarkan pemerintah. Agar tidak mudahnya suatu perjanjian diakhiri, negosiasi ulang perjanjian dapat menjadi salah satu alternatif dengan memasukkan prinsip keadaan sulit (hardship) yang penerapannya sesuai (match) dengan karakteristik KPBU. Pemerintah perlu segera mensosialisasikan penggunaan prinsip hardship serta memerhatikan produk hukum yang dikeluarkan terkait keadaan yang berhubungan dengan keadaan kahar.

Every agreement that has been made should be respected by the parties who bind themselves by means of good faith in executing and the fulfilment of the performance. This is an implementation of the pacta sunt servanda principle which is regulated in Article 1338 of the Civil Code. The PPP scheme, which is based on an agreement between the government as the project owner and the business entity as the executor, is an alternative in providing services by building infrastructure in the midst of financing problems due to limited resources. The Covid-19 pandemic is often used as the reason for termination of contract due to the correlation of the situation with force majeure. This is a problem because the parties risk suffering loss considering that the preparation of a PPP project takes a lot of energy, time, and cost. Therefore, it is necessary to regulate the force majeure clause properly and provide alternative arrangements in responding to certain circumstances. The research method used in this thesis is a normative juridical research with a prescriptive explanatory typology. The research analysis uses the theory of force majeure/overmacht from different periods and the principle of hardship. The result of the study shows that the fulfilment of a force majeure depends on the arrangement of certain contracts and legal products issued by the government. In order to prevent a contract from being terminated easily, renegotiation of the agreement may become an alternative by incorporating the principle of hardship whose application matches the characteristics of PPP projects. The government needs to immediately socialize the use of the hardship principle and pay attention to legal products issued in relation to circumstances of potential force majeure."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firyal Tharifa
"ABSTRAK
Anaerobic Digestionadalah teknologi alternatifuntuk mengolah sampah makanan. Namun proses AD dapat dipengaruhi beberapa elemen yang dapat bersifat racun. Salah satunya adalah sodium, kandungan sodium dalam sampah makanan dengan kosentrasi > 3.100 mg/L berpotensi mengakibatkan inhibisi yang berdampak pada ketidakseimbangan proses AD dengan indikator pembentukan VFA dan penghilangan PCOD. Inhibisi sodium dapat dikendalikan dengan magnesium karena ion logam magnesium memiliki efek berlawanan terhadap inhibisi sodium dengan mereduksi konsentrasi VFA dan meningkatkan persentase penyisihan COD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan magnesium terhadap VFA dan PCOD pada tahap hidrolisis. Penelitian ini dilakukan dengan single stagereactor berkapasitas 848 L selama 192 hari. Pada tahap penelitian yang dilakukan selama 50 hari, reaktor diisi substrat 5 hari dalam seminggu dengan Organic Loading Rate(OLR) 10 kg VS/m3dalam 2 fase pengisian, fase kontrol dan fase uji. Pada fase kontrol reaktor hanya diisi substrat, sedangkan pada fase uji, selain substrat, magnesium (MgSO4) ditambahkan sebanyak 170 gr/hari. Pada kondisi steady state, fase kontrol menunjukkan rata-rata penyisihan COD 94,2 ± 3,34%, SCOD 98 ± 1%, PCOD 94 ± 3,6%, serta pembentukan VFA 1.800 ± 200 mg/L dan laju hidrolisis 6,92 ± 0,32 mg.PCOD/L/d. Penambahan MgSO4 pada fase uji menunjukan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada pembentukan VFA menjadi 1.066 ± 57,7 mg/L. Sedangkan rata-rata penyisihan COD, SCOD, dan PCOD tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p > 0,05) dengan nilai masing-masing sebesar 84,7 ± 6,8%; 96 ± 1%; 83,3 ± 7,3%. Laju hidrolisis pada fase uji juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan menjadi 6,24 ± 0,57 mg.PCOD/L/d. Penelitian ini juga meninjau hubungan antara parameter VFA dan PCOD dengan laju hidrolisis. Hasil uji korelasi menunjukkan tingkat korelasi yang kuat (P = 0,67) antara parameter VFA terhadap laju hidrolisis, sedangkan hasil uji parameter PCOD menunjukkan tingkat korelasi sedang (P = 0,41) terhadap laju hidrolisis. Saat laju hidrolisis tinggi maka tingkat pembentukan VFA dan penyisihan PCOD meningkat

ABSTRACT
Anaerobic Digestion is an alternative technology used for treating food waste. But the AD process can be influenced by several elements that can be toxic. One of them is sodium, the sodium content in food waste with a concentration of > 3.100 mg/L has the potential to cause inhibition which results in an imbalance of the AD process with indicators of VFA formation and PCOD removal. Sodium inhibition can be controlled with magnesium because magnesium metal ions have the opposite effect on sodium inhibition by reducing VFA concentration and increasing the percentage of COD removal. This study aims to analyze the effect of magnesium addition on VFA and PCOD at the hydrolysis stage. This research was conducted with a 848 L capacity single stage reactor for 128 days. In the research stage carried out for 50 days, the reactor is filled with substrate 5 days a week with Organic Loading Rate (OLR) of 10 kg VS / m3 with 2 filling phases, control phase and test phase. In the control phase, the reactor is only filled with substrate, while in the test phase, in addition to the substrate, magnesium (MgSO4) is added as much as 170 gr/day. In steady state conditions, the control phase shows the average COD removal 94.2 ± 3.34%, SCOD 98 ± 1%, PCOD 94 ± 3.6%, and formation of VFA 1,800 ± 200 mg/L and hydrolysis rate 6.92 ± 0.32 mg.PCOD/L/d. The addition of MgSO4in the test phase showed a significant difference (p <0.05) in the formation of VFA to 1,066 ± 57.7 mg/L. While the average allowance for COD, SCOD, and PCOD did not show a significant difference (p > 0.05) with a value of 84.7 ± 6.8% respectively; 96 ± 1%; 83.3 ± 7.3%. The hydrolysis rate in the test phase also did not show a significant difference to 6.24 ± 0.57 mg.PCOD/L/d. This study also reviewed the relationship between VFA and PCOD parameters with the hydrolysis rate. Correlation test results showed a strong level of correlation (P = 0.67) between VFA parameters on the rate of hydrolysis, while the PCOD parameter test results showed a moderate correlation level (P = 0.41) to the rate of hydrolysis. Therefore, when the hydrolysis rate is high, the level of VFA formation and PCOD removal increases."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Farah Nurul Anisa
"ABSTRAK
Pra-pengolahan termal merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan terhadap substrat sampah makanan untuk meningkatkan efektivitas proses digestasi anaerob di reaktor Anaerobic Digester AD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh prapengolahan termal terhadap efektivitas proses AD di skala laboratorium yaitu dengan percobaan biochemical methane production BMP dan skala pilot dengan operasional reaktor AD. Parameter yang diuji pada penelitian BMP skala laboratorium dan operasional reaktor AD skala pilot adalah TS, VS, COD, SCOD, dan solubilisasi. Sebelum percobaan BMP, sampah makanan diberikan variasi suhu pemanasan 70oC, 90oC, dan 120oC pada tahap persiapan substrat BMP. Hasil BMP menunjukkan bahwa temperatur pemanasan prapengolahan substrat memiliki pengaruh signifikan terhadap reduksi COD, pembentukan SCOD, dan peningkatan persentase solubilisasi, namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap reduksi VS dan pembentukan biogas. Substrat BMP temperatur 70oC menghasilkan penurunan TS sebesar 8,26; VS sebesar 2,54; COD sebesar 14; serta peningkatan SCOD sebesar 10,2; dan solubilisasi sebesar 24,7. Berdasarkan hasil produksi biogas tertinggi pada tahap BMP, substrat dengan pra-pengolahan pada temperatur 70oC yang menghasilkan volume sebesar 16,7 1,68 ml dipilih untuk diterapkan pada penelitian skala pilot. Penelitian skala pilot dilakukan selama 15 hari dengan frekuensi feeding sebanyak 6 kali. Hasil penelitian skala pilot menunjukkan penurunan TS sebesar 30,9; VS sebesar 37,7; COD sebesar 41,6; serta peningkatan SCOD sebesar 23; dan solubilisasi sebesar 30,2. Terdapat perbedaan hasil karakteristik pada penelitian skala pilot dengan hasil pada penelitian skala laboratorium dimana secara keseluruhan efisiensi penurunan TS, VS, dan COD, serta peningkatan SCOD dan solubilisasi percobaan skala pilot lebih tinggi dari skala laboratorium.

ABSTRACT
Thermal pretreatment is a way that can be performed for food waste as a substrate to enhance anaerobic digestion AD proses in AD reactor. This research was conducted with 2 scales of series experiment which are the laboratory scale using biochemical methane potential BMP and pilot scale using the anaerobic digestion reactor. The parameters observed in laboratory scale and pilot scale experiment are TS, VS, COD, SCOD, and solubilization. The food waste as substrates for BMP were varied based on the thermal pretreatment temperature of 70oC, 90oC, and 120oC. The result of BMP experiments are thermal pretreatment has significant effects on the COD reduction, SCOD formation, and solubilization percentage, but it has no significance effects on the VS reduction and biogas production . Based on the results of biogas production from all the three variaties, substrate with thermal pretreatment at 70oC has produced the biggest biogas volume that is 16,7 1,68 ml. Thus, thermal pretreatment at 70oC was chosen to be applied for substrate in anaerobic digestion reactor pilot scale. BMP substrate with 70oC obtained 8,26 TS reduction 2,54 VSD 14 COD removal 10,2 increased SCOD and 24,7 increased SCOD. Pilot scale experiment was observed for 15 days with the frequency of feeding, 6 times. The pilot scale experiment obtained significant reductions of TS of 30,9 VS of 37,7 COD of 41,6 also enhancements of SCOD of 23 and solubilization of 30,2. There are differences between the laboratory scale experiment and pilot scale experiment in characterisation results where relatively the reduction of TS, VS, and COD of pilot scale experiment are higher than laboratory scale. Also, the enhancement of SCOD and solubilization in pilot scale are higher as well."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enrilla Bella Putri
"Sintesis pupuk cair nitrat melalui degradasi limbah cair amonia merupakan terobosan teknologi pengolahan limbah yang sangat menjanjikan karena dapat mengatasi permasalahan limbah yang mengandung amonia dan menghasilkan produk pupuk cair nitrat yang membantu memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman yaitu nitrogen, dimana nitrogen sangat mudah diserap oleh tanaman dalam bentuk nitrat (NO3-). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh konsentrasi awal limbah, daya, laju injeksi udara, dan posisi pembentukan plasma terhadap degradasi limbah amonia, produksi nitrat, energi spesifik, dan ketergerusan anoda dengan metode elektrolisis plasma. Teknologi elektrolisis plasma dapat menghasilkan banyak radikal aktif OH sehingga efektif untuk mendegradasi berbagai komponen limbah dengan konsumsi energi yang lebih rendah. Alat yang digunakan dilengkapi dengan sistem pengontrolan otomatis untuk memudahkan pengontrolan dan mendapatkan hasil lebih akurat. Limbah yang digunakan yaitu limbah sintetis amonia dengan elektrolit KOH dan terdapat tambahan injeksi udara di zona plasma. Hasil tertinggi yang diperoleh dari penelitian ini dengan kondisi yaitu dilakukan pada plasma anodik, tegangan 950 V, arus 0,3 A, dan konsentrasi awal amonia 300 ppm. Hasil yang diperoleh yaitu degradasi amonia mencapai 57,23% atau 14,65 mmol dan energi spesifik sebesar 140,57 kJ/mmol, sedangkan untuk produksi nitrat mencapai 1334 ppm atau 27,97 mmol dan energi spesifik sebesar 55,03 kJ/mmol, dengan ketergerusan anoda yaitu 0,52 g.

The synthesis of liquid nitrate fertilizer through the degradation of ammonia liquid waste is a very promising breakthrough in waste treatment technology because it can overcome the problem of waste containing ammonia and produce nitrate liquid fertilizer products that help meet the needs of plant nutrients, namely nitrogen, where nitrogen is very easily absorbed by plants in the form of nitrate (NO3-). The purpose of this study was to determine the effect of initial effluent concentration, power, air injection rate, and plasma formation position on the degradation of ammonia effluent, nitrate production, specific energy, and anode erodibility by plasma electrolysis method. Plasma electrolysis technology can produce a lot of active OH radicals so it is effective for degrading various waste components with lower energy consumption. The tool used is equipped with an automatic control system to make it easier to control and get more accurate results. The waste used is ammonia synthetic waste with KOH electrolyte and there is additional air injection in the plasma zone. The highest results obtained from this study were carried out on anodic plasma, voltage of 950 V, current of 0.3 A, and initial concentration of ammonia at 300 ppm. The results obtained were ammonia degradation reached 57.23% or 14.65 mmol and specific energy was 140.57 kJ/mmol, while for nitrate production it reached 1334 ppm or 27.97 mmol and specific energy was 55.03 kJ/mmol, with anode erodibility of 0.52 g."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>