Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 116114 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Vini Wardhani
"Salah satu fase yang krusial dalam tahapan perkembangan manusia adalah dewasa muda. Pada tahap ini, seseorang sudah dianggap melewati masa remaja dan mampu hidup secara mandiri (Atwater & Duffy, 1999). Masa ini merupakan titik tolak yang cukup signifikan bagi individu untuk memulai hidupnya sebagai individu yang independen dalam menentukan masa depan dan mengatur kehidupannya. Fase ini rnerupakan masa produktif seseorang, masa di mana seseorang mulai membangun kehidupannya dan dihadapkan pada serangkaian tugas perkembangan yaitu pemilihan karir untuk kehidupan yang lebih mandiri dan membina hubungan dengan lawan jenis untuk membangun keluarga dan menjadi orang tua.
Pemilihan karier yang tepat merupakan saiah satu usaha menuju kemandirian baik secara fmansial maupun psikologis. Karier merupakan bentuk ekspresi diri, mengatakan status dan memberikan kepuasan serta harga diri (Turner & Helms, 1995). Perlmutter & Hall (dalam Hoffman, Paris & Hall, 1994) mengatakan bahwa bekerja menempatkan individu pada suatu posisi dalam masyarakat, memberikan makna bagi individu yang bersangkutan dan menyediakan kegiatan yang memuaskan, juga sebagai stimulasi sosial dan sarana untuk mengasah kreativitas. Karenanya, kerja dapat mempengaruhi kualitas hidup individu.
Erikson (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) mengatakan individu dewasa muda sebaiknya membangun intimacy dengan Iewan jenisnya. Jika pada tahap ini individu dewasa muda tidak berhasil untuk menjalin hubungan intim dengan pasangannya, maka akan cenderung menjadi terisolasi, merasa kesepian karena terisolasi dart teman-teman sebaya dan mengalami depresi. Hal ini menunjukkan bahwa menjalin hubungan intim dapat berdampak pada kualitas hidup.
Tidak semua individu pada masa dewasa muda mampu menyelesaikan tugas perkembangannya dengan balk. Ini dapat menimbulkan suatu krisis pada individu yang dinamakan quarter life crisis. Hampir setiap individu pada tahap dewasa muda mengalami krisis ini (Sandles, 2002). Ketidakmampuan mengatasi krisis ini dapat berdampak sangat buruk, seperti ketergantungan pada narkoba, delinquent behavior, gangguan emosional (Atwater & Duffy, 1999) dan usaha bunuh diri (Sandles, 2002). Di sisi lain, keberhasilan dalam memenuhi tuntutan tugas perkembangan dapat menimbulkan dampak yang signifikan pada kualitas hidupnya sebagai manusia.
Ini menunjukkan bahwa quarter life crisis kiranya cukup perlu mendapat perhatian yang serius karena berkaitan dengan kesehatan mental manusia. Richard Saxton (dalam Sandies, 2002) mengatakan bahwa kesehatan mental dapat menjadi semakin berat pada individu usia muda bila tidal( mendapatkan penanganan yang serius. Penjelasan di atas kiranya dapat menjelaskan bahwa pada fase dewasa muda, individu berpotensi mengalami quarter hie crisis yang berdampak secara signifikan pada kualitas hidup.
WHO mendefinisikan kualitas hidup sebagai `individual 's perceptions of their position in life in the context of the culture and value systems in which they live and in relation to their goals, expectations, standards and concerns' (WHO, 1996). Definisi ini selanjutnya yang akan digunakan oleh peneliti. Penelitian ini akan menggunakan dua instrumen yang mengacu pada WHOQOL, yaitu WHOQOL BREF dan SRPB. Penggunaan kedua instrumen ini berdasarkan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah untuk pengembangan instrumen WHOQOL (uji validitas dan reliabilitas terhadap alat ukur WHOQOL-BREF dan SRPB untuk aplikasi Indonesia).
Penelitian ini menggunakan convenience sampling. Pengujian validitas menggunakan Pearson Product Moment Correlation dan uji reliabilitas menggunakan Coefficient Alpha Cronbach.
Berdasarkan hasil pengujian validitas dan reliabilitas, instrumen WHOQOLBREF dan SRPB merupakan instrumen penelitian yang valid dan reliabel dalam mengukur kualitas hidup. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang 0.6 - 0.9. Secara umum, kualitas hidup dewasa muda yang berstatus lajang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu spiritualitas, karierlpekerjaan, relasi dengan sesama, atribut personal, dan lingkungan. Ranah yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kualitas hidup dewasa muda berstatus lajang adalah ranah psikologi, ranah kesehatan fisik, ranah spiritualitas-agama, ranah relasi sosial dan terakhir kondisi lingkungan."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T17871
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sanidya Prabaswara
"Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan fear of being single dan desakan menikah pada dewasa muda. Fear of being single pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Fear of Being Single Scale dan desakan menikah diukur dengan Skala Desakan Menikah. Penelitian ini dilakukan pada 212 orang berusia 20 ? 40 tahun, belum menikah, dan berorientasi seksual heteroseksual di kawasan Jabodetabek. Analisis melalui teknik statistik korelasi dilakukan dan didapati bahwa fear of being single memiliki hubungan positif dengan desakan menikah.

This study examined the correlation of fear of being single and mate urgency in young adulthood. In this study, fear of being single was measured by using Fear of Being Single Scale and mate urgency was measured by using Skala Desakan Menikah. The participants in this study were 212 people living in Jabodetabek, within the age range 20 ? 40, unmarried, and heterosexual. By using correlation techniques, it was found that fear of being single and mate urgency were positively correlated.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S59047
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Angela Melina Santoso
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gaya humor dan kualitas hubungan romantis. Responden dalam penelitian ini merupakan emerging adult yang sedang menjalin hubungan romantis berjumlah 317 orang berusia 18 sampai 25 tahun. Gaya humor diukur dengan menggunakan Daily Humor Styles Questionnaire DHSQ yang dimodifikasi oleh Caird dan Martin 2014, sedangkan kualitas hubungan romantis diukur dengan menggunakan Partner Behavior as Social Context PBSC yang disusun oleh Ducat dan Zimmer-Gembeck 2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara positif antara gaya humor affiliative r = 0,387, p < 0.05 dan gaya humor self-enhancing r = 0,244, p < 0.05 dengan kualitas hubungan romantis. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan secara negatif antara gaya humor self-defeating r = -0,118, p < 0.05 dan gaya humor aggressive r = -0,381, p < 0.05 dengan kualitas hubungan romantis.

This study was conducted to examine the correlation between humor styles and romantic relationship quality among emerging adult. Respondents in this study were 317 emerging adults, aged 18 to 25 currently in a romantic relationship. Humor styles was measured by Daily Humor Scale Questionnaire DHSQ modified by Caird and Martin 2014, and romantic relationship quality was measured by Partner Behavior as Social Context PBSC made by Ducat and Zimmer Gembeck 2010.
The result indicated there was significant positive correlation between affiliative humor style r 0,387, p 0.05 and self enhancing humor style r 0,244, p 0.05, and romantic relationship quality. Then, there was significant negative correlation between self defeating humor style r 0,118, p 0.05 and aggressive humor style r 0,381, p 0.05, and romantic relationship quality.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S69097
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Welan Mauli Angguna
"Dewasa muda adalah kelompok masyarakat yang menikmati kemudahan teknologi, sehingga rentan untuk memiliki aktivitas fisik yang cenderung rendah. Aktivitas fisik yang rendah di usia muda merupakan faktor risiko penyebab kematian akibat penyakit degeneratif di masa depan. Masyarakat Indonesia termasuk negara dengan aktivitas fisik yang rendah, sehingga diperlukan promosi kesehatan yang tepat sasaran dengan memperhatikan faktor psikologis. Trait kepribadian dianggap sebagai faktor psikologis kuat dalam identifikasi aktivitas fisik, khususnya trait extraversion, conscientiousness, dan openness. Namun demikian, hubungan ketiga trait ini terhadap aktivitas fisik masih belum konsisten, hal ini memungkinkan adanya variabel lain yang memediasi hubungan tersebut. Untuk mempertahankan konsistensi tingkah laku dibutuhkan otonomi yang tinggi, begitu juga konsistensi untuk aktif melakukan aktivitas fisik. Otonomi merupakan derajat yang menunjukkan seberapa individu memiliki determinasi diri untuk termotivasi melakukan tingkah laku tertentu, dan motivasi yang berasal dari dalam diri merujuk pada otonomi yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji mekanisme hubungan ketiga trait dengan aktivitas fisik melalui mediasi otonomi. Penelitian dilakukan melalui lapor diri pada 59 laki-laki dan 144 perempuan dewasa muda berusia 20-40 tahun. Melalui analisa process mediasi (Hayes) ditemukan adanya mediasi sempurna antara trait extraversi dengan aktivitas fisik melalui otonomi, dan mediasi sebagian antara trait openness dan aktivitas fisik melalui otonomi. Conscientiousness tidak signifikan memengaruhi aktivitas fisik baik secara langsung maupun tidak langsung. Trait conscientiousness disarankan untuk diuji mediasi melalui presentasi diri terhadap aktivitas fisik.

Young adults are a group of community who enjoy technology, so it made them tend to have low physical activity. Low physical activity is a risk factor of degenerative diseases that cause death. Indonesia was a country that have lowest physical activity, so it's necessary to promote active physical activity to young adults by considering psychological factors. Personality was considered as a strong psychological factor that could predicted physical activity, especially extraversion, conscientiousness, and openness. However, their effects were still inconsistent, it allowed other variable to mediate their relationships. In order to maintain the consistency of behavior like physical activity, it required high autonomy. Autonomy is a degree to indicate how individual have self-determination to be motivated to perform certain behaviors, and the motivation was derived from inner-self that show high autonomy. This study aimed to examine the mechanisms of the trait effects to physical activity through the mediation of autonomy. The study was conducted by requiring data from self-report on 59 men and 144 young adult women aged 20-40 years. We analyzed the data by using mediation PROCESS (Hayes), and it was found a perfect mediation between extraversion and physical activity mediated by autonomy, and partially mediated of autonomy to the effects of openness and physical activity. However, conscientiousness did not significantly influence physical activity directly nor indirectly. Considering the communal culture of participants, we recommended to examine the effect of conscientiousness to physical activity through the mediation of self-presentation in future research."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
T50360
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurrahma Sukmaya Kalamsari
"Menjalani hubungan romantis merupakan salah satu tugas perkembangan pada dewasa muda. Hubungan romantis yang memuaskan dapat dilihat dari pola attachment pada pasangan dan bagaimana resolusi konflik yang digunakan saat menghadapi masalah dalam hubungan. Pola attachment merupakan salah satu faktor individual yang secara konsisten ditemukan dapat mempengaruhi kepuasan hubungan. Resolusi konflik yang positif juga terbukti dapat meningkatkan kepuasan hubungan. Penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analysis) yang bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh pola attachment dan resolusi konflik terhadap kepuasan hubungan berpacaran pada dewasa muda dan bagaimana pengaruh tidak langsung antara attachment terhadap kepuasan hubungan melalui resolusi konflik. Terdapat sebanyak 824 partisipan dewasa muda (18-36 tahun) dalam penelitian ini. Pola attachment diukur menggunakan Experience in Close Relationship Questionnaire-Revised (Freley & Shaver, 2000); resolusi konflik diukur menggunakan Conflict resolution Styles Inventory (Bonache et al., 2016); dan kepuasan hubungan diukur menggunakan Relationship Assessment Scale (Hendrick, 1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Anxious dan avoidant attachment dan resolusi konflik berupa keterlibatan konflik dan sikap positif secara signifikan berpengaruh terhadap kepuasan hubungan dan (2) Pola attachment dapat mempengaruhi kepuasan hubungan melalui resolusi konflik.

Having a romantic relationship is one of the developmental tasks of young adults. A satisfying romantic relationship can be seen from the patterns of attachment to partners and how conflict resolution is used when dealing with problems in relationships. Attachment pattern is one of the individual factors that can consistently influence relationship satisfaction. Positive conflict resolution has also been shown to increase relationship satisfaction. This study uses path analysis, which aims to see how patterns and conflict resolution influence the satisfaction of dating relationships in young adults and the indirect effect of attachment on relationship satisfaction through conflict resolution. There were 824 young adult participants (18-36 years) in this study. Attachment patterns were measured using the Experience in Close Relationship Questionnaire-Revised (Freley & Shaver, 2000); conflict resolution measured using the Conflict Resolution Styles Inventory (Bonache et al., 2016); and relationship assessment measured using the Relationship Assessment Scale (Hendrick, 1988). The results showed that: (1) anxious attachment, avoidance attachment, conflict engagement and positive attitudes significantly affect relationship satisfaction and (2) attachment patterns can influence relationship satisfaction through conflict resolution."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nisa Nurul Jannah
"ABSTRACT
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi seimbang pada pengguna Facebook Indonesia dengan media teks, komik dan video. Rancangan penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan teks sebagai kontrol. Penelitian ini dilakukan kepada 84 responden terpilih. Kelompok teks berjumlah 25 orang, kelompok komik berjumlah 28 orang, dan kelompok video berjumlah 31 orang. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali selama 4 minggu yang terdiri dari 1 kali pre test dan 2 post test. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hasil perubahan pada setiap kelompok adalah ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok teks, peningkatan pengetahuan pada kelompok komik, dan peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok video (p<0,05).

ABSTRACT
This research‟s purpose is to understand the changement of knowledge, attitude, and behaviour of balanced nutrition on young adulthood facebook users after being intervened by text, comic, and video. The research plan that has been choosen is quasy experiment. This experiment is done to 84 facebook users aged 18 ? 25 year. There are 25 facebook users who receive text, 28 facebook users who receive comic, and facebook users who receive video. The data is taken three times in each group, included 1 pre test, 2 post test to see changement. The statistic experiment used to analyze the changement within or between in each group is ANOVA. The research shows that there is changement of knowledege in each group. There is difference in the average of attitude scor in video grup. There is no difference in the average of behaviour score in three groups (p>0,05)."
2016
S63238
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prajnya Ratnamaya Notodisuryo
"Kesejahteraan psikologis (psychological well-being) adalah konsep multi-dimensional mengenai sejauh apa seseorang menjalankan fungsi-fungsi psikologisnya secara positif. Berdasarkan teori kesehatan mental, teori psikologi perkembangan, dan unsur-unsur gerontologi, Ryff mengemukakan 6 dimensi yang tercakup daiam kesejahteraan psikologis, yaitu 1) Penerimaan Diri (Self- Acceptance), yang mengacu kepada bagaimana individu menerima diri dan pengalamannya, 2) Hubungan interpersonal (Positive Relation with Others), yang mengacu pada bagaimana individu membina hubungan dekat dan saling percaya dengan orang lain, 3) Otonomi (Autonomy), yang mengacu pada kemampuan individu untuk Iepas dari pengaruh orang Iain dalam menilai dan memutuskan segala sesuatu, 4) Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery). yang mengacu pada bagaimana kemampuan individu menghadapi hai-hai di lingkungannya, 5) Tujuan Hidup (Purpose in Life), yang mengacu pada hal-hal yang dianggap penting dan ingin dicapai individu dalam kehidupan, serta 6) Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth), yang mengacu pada bagaimana individu memandang dirinya berkaitan dengan harkat manusia untuk selalu tumbuh dan berkembang.
Ada beberapa faktor yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan dimensi-dimensi ini, yaitu: faktor demografis, daur hidup keluarga, dukungan sosial, serta evaluasi dan penghayatan terhadap pengalaman tertentu. Menurut Ryff (1995), evaluasi dan penghayatan terhadap pengalaman merupakan faktor yang sangat mempengaruhi pembentukan kesejahteraan psikologis. Menurutnya, untuk dapat memahami kesejahteraan psikologis seseorang, perlu pemahaman terhadap pengalaman individu tersebut di masa lalu, dan memahami bagalmana individu tersebut mengevaluasi dan menghayati pengalamannya. Dengan adanya perbedaan dalam evaluasi dan penghayatan tersebut maka dapat saja terdapat perbedaan gambaran kesejahteraan psikologis pada individu-individu yang memiliki pengalaman sama.
Menurut Ryff (1995), pengalaman yang berpotensi mempengaruhi kesejahteraan psikologis adalah pengalaman-pengalaman yang dipandang individu sangat mempengaruhi komponen-kemponen kehidupannya. Perceraian orang tua diasumsikan memilikl karakteristik seperti itu. Menurut Holmes & Rahe (dalam Carter & McGoldrick, 1989) perceraian menempati urutan kedua dalam skala pengalaman hidup yang paling menimbulkan stres. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa perceraian orang tua dapat membuat anak memburuk prestasi sekolahnya, memiliki self esteem yang rendah, maupun menunjukkan kenakalan remaja (Papalia & Old, 1993; Roe, 1994). Walaupun demikian, dewasa ini ditemukan pula bahwa perceraian orang tua dapat juga menimbulkan dampak positif, seperti melecut anak menjadi lebih mandiri atau mengembangkan hubungan interpersonal yang sehat dengan orang lain karena tidak ingin mengulangi pengalaman orang tuanya (Ellis dalam Roe, 1994). Hubungan interpersonal, prestasi sekolah, dan lain-lain hal yang disebutkan di atas merupakan bagian dari dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu penelitian ini diadakan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kesejahteraan psikologis pada anak-anak dari keluarga bercerai.
Kesejahteraan psikologis baru dapat diamati pada tahap usia dewasa. karena dimensi-dimensinya mencakup tugas-tugas perkembangan orang dewasa. Perbedaan jenis kelamln juga menunjukkan adanya perbedaan gambaran kesejahteraan psikologis dan penyesuaian diri terhadap perceraian orang lua. Untuk membatasi masalah, dalam penelitian ini digunakan hanya sampel perempuan saja. Pengaruh perceraian orang tua dikatakan paling sulit diatasi bila perceraian terjadi saat anak berusia remaja atau pra-remaja. Dengan demikian, sampel yang digunakan berkarakteristik utama: perempuan dewasa muda (22-28 tahun), dan orang tuanya bercerai ketika usia pra-remaja atau remaja (9-18 tahun). Karena sampel yang digunakan adalah perempuan, maka dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis pun dikaitkan dengan karakteristik perempuan.
Evaluasi dan penghayatan pengalaman mempengaruhi pembentukan kesejahteraan psikologis melalui 4 mekanisme: 1) Perbandingan Sosial (social comparison) dimana individu membandingkan diri dan pengalamannya dengan orang lain; 2) Perwujudan Penghargaan (Reflected Appraisal), yaitu bagaimana individu mempersepsikan sikap dan harapan orang di Iingkungan terhadap dirinya; 3) Persepsi Perilaku (Behavioural Perception), yaitu bagaimana individu memandang diri dan perilakunya dibandingkan sikap dan harapan umum; serta 4) Pemusatan Psikologis (Psychological Centrality) seperti yang telah dijabarkan di atas, yaitu sejauh apa suatu pengalaman dianggap individu mempengaruhi komponen kehidupannya.
Selain itu disebutkan adanya faktor lain yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis, yaitu dukungan sosial dan daur hidup keluarga. Daur hidup keluarga adalah peran, sikap, harapan, dan tanggung jawab baru yang diterima anggota keluarga setelah adanya suatu pengalaman yang mengubah struktur keluarga tersebut. Dalam hal ini, daur hidup dikaitkan dengan tahap-tahap yang dilalui sebuah keluarga menjelang perceraian hingga mencapai struktur keluarga yang normal lagi. Di dalamnya tercakup konflik antar orang tua, bagaimana penyesuaian diri anak dan orang tua, dan sebagainya. Sedangkan dukungan sosial adalah persepsi individu mengenai dukungan lingkungan terhadap dirinya, yang ternyata dapat disalukan pengertiannya dengan mekanisme perwujudan penghargaan. Bagaimana pengaruh faktor-faktor ini terhadap kesejahteraan psikologis akan dilihat pula melalui penelitian ini.
Penelitian dilakukan dengan metode kualitalif, dengan wawancara sebagai pengumpul data. Keabsahan penelitian ini dijaga dengan menggunakan metode triangulasi, balk teori maupun pengamat. Sedangkan keajegannya dijaga dengan dibuatnya pedoman wawancara yang sesuai. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 5 orang responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis perempuan dewasa muda yang mengalami perceraian orang tua adalah baik (penerimaan diri), cukup baik (hubungan interpersonal), cenderung baik (otonomi, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi), serta kurang (penguasaan lingkungan).
Perceraian orang tua tampak terutama mempengaruhi dimensi hubungan interpersonal dan tujuan hidup. Seharusnya kedua dimensi ini berfungsi baik, namun ternyata perempuan dewasa muda yang mengalami perceraian orang tua cenderung takut membina hubungan dekat dengan lawan jenis, apalagi memikirkan pernikahan. Sedangkan kurangnya penguasaan lingkungan dapat dikatakan sebagai hal yang wajar, sesuai dengan hasil penelitian Ryff sebelumnya.
Mekanisme perwujudan penghargaan (terutama yang positif/dukungan sosial) serta pemahaman atas konflik merupakan faktor-faktor yang paling banyak mempengaruhi pembentukan kesejahteraan psikologis. Sedangkan pemusatan psikologis secara mengejutkan ternyata dalam penelitian ini kurang mempengaruhi pembentukan kesejahteraan psikologis.
Faktor demografis, yang dikatakan dapat diabaikan karena sumbangannya yang sangat kecil terhadap kesejahteraan psikologis, ternyata dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang cukup besar. Urutan kelahiran sebagai anak pertama pada 4 dari 5 subyek terlihat mempengaruhi pembentukan dimensi otonomi. Demikian pula dengan faktor lingkungan budaya. Sedangkan latar belakang pendidikan psikologi terlihat dapat mendukung dimensi penerimaan diri responden.
Faktor kepribadian yang pada awalnya tidak disebutkan sebagai salah satu faktor yang berpengaruh, juga menunjukkan pengaruh besar terhadap pembentukan kesejahteraan psikologis. Selain itu terdapat juga beberapa faktor yang memiliki sedikit andil terhadap pembentukan dimensi-dimensi tertentu, seperti faktor stimulasi lingkungan yang turut mempengaruhi dimensi pertumbuhan pribadi dan faktor besar-kecilnya resiko kesempatan yang turut mempengaruhi dimensi penguasaan lingkungan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S2671
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatchiati Farida Fitri
"
ABSTRAK
Hubungan (relationship) antar mahluk yang satu dengan yang lain sangat diperlukan atau dengan kata lain hubungan (human relation) adalah merupakan suatu kebutuhan (Fisher, 1994 ), dirnana ada 5 kebutuhan dalam suatu hubungan, yaitu: need for intimacy, need for social integration, need for being nurturant, need for assistance dan need for reassurancy of our own worth.
"Need for Intimacy" yaitu merupakan suatu kebutuhan yang sifat dan orientasinya kepada kebutuhan individual yang sangat pribadi. Dari hubungan yang demikian itulah diharapkan timbulnya proses hubungan percintaan - intimate of love (Mary Ann,l985).
Dalam proses hubungan percintaan tidak dapat dilepaskan dari berbagai unsur yang mendukungnya yaitu : adanya subyek, sarana-komunikasi, pasangan dan produknya adalah cinta. Kecendrungan dewasa ini bcrkomunikasi melalui komputer menyebabkan seseorang tidak perlu lagi bertatap muka secara fisik karena baik subyek ataupun pasangan telah dapat menggunakan komputer dan internet sebagai sarana atau alat untuk melakukan hubungan dan bahkan menjalin kasih sayang antara keduanya yang disebut dengan cinta. Apabila sampai pada tingkat yang demikian dan tetjadi pada individu yang awalnya belum pernah kenal tatap muka, maka hubungan tersebut dinamakan internet romance, yaitu hubungan percintaan melalui internet dimana individu jatuh cinta pada orang asing yang belum pernah tatap muka sebelumnya.
Cinta itu sendiri merupakan suatu proses yang terdiri atas 3 (tiga) komponen yaitu : "intimacy" itu sendiri pada tingkat awal, "Passion" dan "Commitment" (SternBerg, 1988 ) yang dalam penelitian ini diungkapkan sebagai proses tahap awal, proses lanjut dan proses akhir. Keberhasilan pencapaian commitment karena adanya intimacy, dimana intimacy sangat ditentukan oleh kuantitas dan kualitas komunikasi.
Masyarakat pada umumnya masih asing dan belum percaya pada Internet romance bahwa hubungan percintaan dapat terjadi melalui internet dimana masing-masing individu belum mengenal satu sama Iain dan belum ada tatap muka umum dapat saling jatuh cinta, (Meng, 1994).
Dalam kaitan dengan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana sebenarnya proses terjadinya hubungan Internet romance dan melihat faktor-faktor atau elemen apa yang mendukung individu terlibat dalam hubungan tersebut. Mengingat penelitian ini hendak mengetahui pengalaman dan penghayatan pribadi, maka penelitian ini dilaksanakan dengan metode kasus melalui wawancara mendalam dengan analisis kualitatif. Untuk itu peneliti membatasi tingkat pendidikan subyek yang diwawancarai, yaitu 20-30 tahun dengan minimun tingkat pendidikkan calon Sl, disamping sebagai mayoritas pemakai internet, juga dengan asumsi bahwa orang yang pendidikannya cukup tinggi dapat lebih mahir dalam mengeluarkan pendapat dan perasaannya secara verbal ( komunikatif ).
Dari ke-4(subyek) yang diwawancarai, Peneliti menemukan bahwa makin sering melakukan kontak atau chatting makin memberikan nilai positif dalam membentuk intimacy dimana hubungan yang berjalan melalui internet ini cendrung memerlukan frekuensi yang cukup tinggi dibanding di dunia nyata. Ini berarti keaktifan dalam hal ini sangat dibutuhkan (Grasha & Kirschenbaurn, 1980 ). Demikian pula mengingat bahwa komunikasi dalam internet romance ini tanpa kehadiran fisik yang bersangkutan, maka kualitas komunikasi jauh memperoleh perhatian penilaian dibanding apabila komunikasi dimana keduanya hadir secara fisik. Hal demikian menunjukkan bahwa setiap tutur-kata masing-masing akan direkam, dicatat, dan selalu diingat-ingat. Mengingat bahwa komunikasi dalam internet hanya mengandalkan kemampuan verbal dan pada umumnya berjalan dalam waktu yang cukup lama ( bisa sampai 5 atau 6 jam sehari bahkan Iebih ) maka seluruh aspek pribadi, tak jarang terungkapkan secara keseluruhan. Oleh karena itu melalui komunikasi internet dalam rangka membangun intimacy tersebut tidak jarang masing-masing lalu berawal dari adanya "Faktor keterbukaan", kemudian menimbulkan sikap "kepercayaan". Hal demikian menunjukkan bahwa komunikasi dalam lnternet-Romance orang mampu saling mengekspresikan dan menangkap elemen-elemen kepribadian sehingga dapat saling memberikan respon interpersonal secara positif untuk membangun ?intimacy"atau berespon negatif menolak. Dengan demikian proses komunikasi di internet ini, dipengaruhi 3 aspek, yaitu intensitas komunikasi, cara penyampaian komunikasi dimana subyek sering menggunakan simbol dan kalimat-kalimat spesial sebagai ungkapan elemen interpersonal, juga isi pembicaraan.
Dari penelitian ini ditemukan pula hal-hal yang mendorong subyek untuk online yaitu sebagai ekspresi cliri, mencari teman sekedar ngobrol, dan sengaja mencari pasangan. Walau pada awalnya subyek tidak serius dalam berrnain chairing, namun temyata charting mampu membawa individu ke arah pemikiran yang lebih serius. Dalam hal ini internet mampu menciptakan hubungan percintaan sampai ke jenjang pernikahan. Proses atau siklus terjadinya hubunganpun tidak jauh berbeda dengan yang didunia nyata., namun secara tehnis saja yang berbeda. Yang lebih menarik adalah ditemukannya suatu kepuasan bagi seorang subyek, bahwa dengan melalui hubungan Internet romance ini, kepribadian pasangan lebih mudah dapat dipahami dibanding dengan hubungannya di dunia nyata, hal ini menunjukkari bahwa hubungan Internet romance ternyata bisa terjadi dan tidak kalah mutunya dengan yang di dunia nyata.
Dari 7(tujuh)subyek yang akan diwawancarai, hanya 4(empat) subyek yang berhasil diwawancarai Peneliti. Dikarenakan ada yang balik ke Luar Negri untuk menyelesaikan studi dan ada yang kembali ke kota asalnya. Dari ke-4 subyek ini dua diantaranya masih dalam proses lanjut dimana belum ada tatap muka, dan 2 diantaranya akan melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Oeh karena itu, penelitian ini masih perlu pemantauan tindak lanjut mengingat para subyek belum ada yang berakhir sampai tuntas dan penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut, antara lain dengan meneliti perbedaan antara dewasa muda pria dan wanita dalam menjalani hubungan internet romance ini, atau meneliti bagaimana karakteristik kepribadian orang-orang yang bermain internet ataupun yang menjalin hubungan internet romance."
1998
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Josephine Maria Cristissa Windanti
"Pasangan hubungan jarak jauh semakin umum di Indonesia yang mana memiliki keterbatasan dalam bertemu dan berinteraksi secara fisik. Keterbatasan tersebut berdampak pada aktivitas seksual yang biasa dilakukan bersama pasangan sehingga dapat berpengaruh pada menurunnya kepuasan seksual. Namun seiring berkembangnya teknologi, aktivitas seksual dapat dilakukan secara daring yang salah satunya adalah sexting. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perilaku sexting terhadap kepuasan seksual pada dewasa muda berusia 20 – 30 tahun (M = 22.04, SD = 1.833) yang menjalani hubungan jarak jauh. Penelitian ini dilakukan pada 411 partisipan (93.2% perempuan, 6.8% laki-laki) yang berpacaran selama minimal enam bulan (M = 28.38, SD = 24.34), menjalani hubungan jarak jauh, melakukan aktivitas seksual dan sexting dengan pasangan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur perilaku sexting yang dikembangkan oleh Gordon-Messer et al. (2013) dan The Global Measure of Sexual Satisfaction (GMSEX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sexting berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan seksual (B = .219, t(411) = 5.905, p < .05) dengan rata-rata frekuensi menerima sext sebesar 10.06 (SD = 4.003) dan rata-rata frekuensi mengirimkan sext sebesar 10.61 (SD = 4.265) sepanjang menjalin hubungan pacaran dengan pasangan. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para pasangan berpacaran jarak jauh untuk menjaga aspek seksual dalam hubungan dengan melakukan sexting.

Long-distance relationship couples are increasingly common in Indonesia and which has limitations in meeting and interacting physically. This limitation has an impact on sexual activity that is usually done with a partner so it can affect the decrease in sexual satisfaction. However, as technology develops, sexual activity can be carried out online, one of which is sexting. This study aims to see the effect of sexting behavior on sexual satisfaction among young adults who establish long-distance relationships. This research was conducted on 411 participants (93.2% female, 6.8% male) who had been dating for at least six months (M = 28.38, SD = 24.34), establish long distance relationship, had sexual activity and sexting with partner, which were obtained by convenience sampling. The measurement tool used in this research is the sexting behavior measurement tool developed by Gordon-Messer et al. (2013) and The Global Measure of Sexual Satisfaction (GMSEX). The results showed that sexting had a positive and significant effect on sexual satisfaction (B = .219, t(411) = 5.905, p < .05) with average frequency of receiving sext is 10.06 (SD = 4.003) and average frequency of sending sext is 10.61 (SD = 4.265) during the dating relationship. The result of this study can be a reference for long-distance dating couples to maintain sexual aspects in their relationship by doing sexting"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas ndonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad David Setiadi
"

Deteksi dini atau screening merupakan salah satu strategi penting dalam tatalaksana diabetes melitus, skrining perlu dilakukan karena memiliki manfaat positif, antara lain dapat mendeteksi faktor resiko penyakit kronis.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui intensi pada golongan dewasa muda dalam melakukan screening penyakit diabetes wilayah kerja Puskesmas Bojonggede Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan populasi dewasa muda (usia 18 - 40 tahun) dengan pendekatan Theory of Planned Behavior. Hasil analisis menunjukkan variabel yang mempunyai hubungan signifikan dengan intensi yaitu sikap, norma subjektif dan perceived behavior control, sedangkan yang paling dominan adalah variabel sikap. Responden dengan sikap positif mempunyai peluang 7,34 kali untuk memiliki intensi melakukan skrining diabetes yang baik setelah dikontrol oleh variabel norma subjektif dan perceived behavior control.

 


Early detection or screening is an important strategy in managing diabetes mellitus, screening needs to be done because it has positive benefits, including being able to detect risk factors for chronic disease. The purpose of this study was to determine the intention of young adults in carrying out screening diabetes in the working area of ​​the Bojonggede Public Health Center, Bogor Regency. The research method used is cross sectional with the young adult population (age 18 -40 years) with the approach Theory of Planned Behavior. The results of the analysis show that the variables that have a significant relationship with intention are attitudes, subjective norms and perceived behavior control, while the most dominant is the physical variable. Respondents with a positive attitude have a 7.34 times chance of having the intention to do a good diabetes screening after being controlled by the variable subjective norms and perceived behavior control.

 

"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>