Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5752 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bandung: Mizan, 1998
320.959 8 KAP
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Political and economic conditions in Indonesia during the Soeharto era; collection of articles.
"
Bandung: Mizan, 1998
320.9598 KAP
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Lepi Tanadjaja Tarmidi
"Economic development as a field of study started right after the end of World War II, which coincided with the independence declaration of a number of colonial areas m Asia and Africa. Curiously enough, the founding fathers of this new field of study were Western economists, foremost Americans, driven by the need for experts in rich countries to allocate development aid to developing countries- Economists have for iong realized that economic theories developed in the advanced industrialized countries were not suited to he applied to developing countries due to different conditions prevailing in these countries. During the early days, grand theories of economic development were being launched to understand the process of development and to pursue appropriate development strategies
But in the course of time these grand development theories have lost much of their vigor as the development process in reality js much more complex as can be caught by simple genera! theories. The paper then explores the further development of development thinking during trie past fifty years.
"
1999
EFIN-XLVII-3-Sept1999-289
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Hapsari
"Menurut Erikson (1950 dalam Papalia. 2001), krisis intimacy versus isolation merupakan isu utama yang dialami oleh seorang dewasa muda. Individu yang berada pada masa ini memiliki tugas-tugas perkembangannya, yang salah satunya adalah membina hubungan intim. Namun, ternyata tidak semua individu yang memasuki usia dewasa muda telah mampu menjalin hubungan intim atau berpacaran.
Kenyataan ini dipengaruhi oleh perbedaan setiap individu dalam kemampuannya membina hubungan intim. Attachment style dengan orangtua dan self-esteem merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut. Secara teoretis, seseorang yang memiliki secure attachment style dan self-esteem yang tinggi akan berhasil membina hubungan intim. Di lain pihak, seseorang yang memiliki avoidant attachment style maupun amcious-ambivalent attachment style disertai dengan rendahnya self-esteem akan sulit membangun hubungan intim.
Oleh karena itu, penelitian. ini bertujuan untuk memperoleh gambaran attachment style dengan orangtua dan self-esteem pada pria dewasa muda yang belum pernah berpacaran. Penelitian ini mengkhususkan pria sebagai partisipan karena terdapat penelitian sebelumnya yang telah meneliti gambaran attachment style dan self- esteem pada wanita dewasa muda yang belum pernah berpacaran.
Selanjutnya, penelitian ini juga berusaha memperoleh pemahaman mengenai kebutuhan pria dewasa muda yang belum pernah berpacaran akan keintiman (intimacy). Hal ini dilatarbelakangi oleh keraguan beberapa peneliti terhadap asumsi yang mengatakan bahwa pria, bila dibandingkan dengan wanita, lebih sedikit membutuhkan intimacy ketika menjalin hubungan intim. Padahal, beberapa hasil studi menunjukkan persamaan tingkat intimacy pada pria dan wanita dalam hubungan interpersonal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan anxiousambivalenl dan avoidant attachment style disertai self-esteem yang rendah sulit membina hubungan intim hingga belum pernah berpacaran. Selain dipengaruhi oleh attachment style dan self-esteem. hal-hal yang mempengaruhi kegagalan individu tersebut dalam membina hubungan intim adalah belum siap untuk komitmen berpacaran, menetapkan standar yang terlalu tinggi dalam memilih pasangan, dan belum merasa mandiri secara finansial. Namun, di sisi lain, dimilikinya secure atlachment style dan self-esteem yang tinggi ternyata belum juga menjamin keberhasilan individu dalam membina hubungan intim. Adapun, faktor-faktor yang turut melatarbelakangi keadaan individu ini antara lain pengalaman masa lalu dengan wanita yang kurang menyenangkan, kesibukan dalam berkarir, dan target berpacaran dan menikah yang masih cukup jauh.
Walaupun belum berhasil membina hubungan intim, semua individu dalam penelitian ini ternyata tetap membutuhkan keintiman. Hal ini tergambar dengan pernyataan seorang individu bahwa ia membutuhkan kehadiran seorang pacar yang dengannya ia dapat saling berbagi pengalaman suka dan duka, sekaligus memiliki hubungan yang lebih dekat dan terbuka dengan orang lain selain keluarganya."
2003
S3201
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marga T.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama , 2007
899.221 3 MAR b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Direktorat Lalu Lintas POLRI, 2009
363.23 IND p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Norsiah M.S.
Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1994
899.285 3 NOR d
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Prafitri Dimarmayasari
"Self-disclosure memiliki peran yang panting dalam suatu hubungan, namun juga memiliki rcsiko (Bird & Melville, 1994). Dalam suatu hubungan berpacaran, tahap dimana keputusan untuk menikah sudah dibuat dan pasangan sudah berorientasi pada pemikahan disebut periode engagemezzt (Duvall & Miller, 1985). Periode engagement memberikan kesempatan kepada pasangan untuk dapat lebih fokus dalam mengenal satu sama lain secara lebih baik, dimana seMdisclosure lebih dibutuhkan. Di sisi lain, komitmen yang Iebih tinggi pada tahap ini, membuat rcsil-to seyf-disclosure menjadi lebih tinggi dibandingkan tahap dimana keputusan menikah belum dibuat. Penelitian ini mencari tahu bagaimana se&discIosure pada pasangan berpacaran yang telah mcmutuskan untuk menikah jika dibandingkan dengan seMdL¢closure pada pasangan yang belum memutuskan untuk menikah, dengan bantuan alat ukur seb'-disclosure yang disusun olch Billeter (2002). Hasil penclitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pelbedaan yang signifikan antara sefdisclosure pada pasangan berpacaran yang telah mcmumskan untuk menil-:ah dengan pasangan berpacaran yang belum mcmuluskan untuk menikah.

Self-disclosure not only plays a major role in close relationship, but also have risks (Bird & Melville, 1994). In dating relationship, the period, when decision to get married has been made and the couple have oriented to marriage, is called engagement period (Duvall & Miller, 1985). The engagement period gives the couple chances to focus more on getting to know each other, this is where self-disclosure is needed. On the other hand, the commitment is stronger, that make the risks of self-disclosure become higher in this period. This reseach is going to find out about self-disclosure on dating couples who have decided to get married compared with self-disclosure on dating couples who have not decided to get married. The measurement used in this research is the Self-Disclosure Scale created by Billeter (2002). The results indicate that there is no significant difference in selfldisclosure between dating couples who have decided to get married and dating couples who have not decided to get married."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
T34158
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Depok: Universitas Indonesia, 2000
R 388 Uni s
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>