Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 146967 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dizayrun
"Disfungsional motilitas gastrointestinal merupakan gangguan pada sistem gastrointestinal berupa peningkatan, penurunan, tidak efektif, atau kurangnya aktivitas peristaltic pada system gastrointestinal. Kondisi ini tidak terjadi secara langsung oleh COVID-19 melainkan dampak dari kurangnya mobilisasi akibat gejala klinis yang ditimbulkan oleh COVID-19 seperti sesak dan nyeri saat bergerak. Faktor risiko lain terjadinya kondisi ini yaitu cemas, perubahan pola makan, penurunan aktivitas, dan beban psikologis meningkat. Disfungsional motilitas gastrointestinal yang tidak ditangani segera dapat menyebabkan beberapa komplikasi dan mempengaruhi proses penyembuhan. Terdapat beberapa penatalaksanaan non farmakologi dalam mengatasi masalah ini yaitu abdominal masase, diet tinggi serat, aktivitas fisik rutin, pemenuhan cairan harian, dan manual disimpaction. Tujuan dari penulisan ini untuk menganalisis asuhan keperawatan dalam mengatasi masalah disfungsional motilitas gastrointestinal pada pasien COVID-19 derajat sedang. Intervensi dilakukan selama empat hari. Hasil intervensi yang dilakukan menunjukan eliminasi fekal dapat dilakukan pada hari kedua dan keempat. Berdasarkan hasil tersebut pemberian asuhan keperawatan abdominal massage, terapi aktivitas rutin, pemenuhan cairan harian, diet tinggi serat, dan self disimpaksi dapat menjadi pilihan dalam mengatasi Disfungsional motilitas gastrointestinal pada pasien dengan covid derajat sedang.

Gastrointestinal motility dysfunction is a disorder of the gastrointestinal system in the form of increased, decreased, ineffective, or lack of peristaltic activity in the gastrointestinal system. This condition does not occur directly by COVID-19 but the impact of the lack of mobilization due to clinical symptoms caused by COVID-19 such as shortness of breath and pain when moving. Other risk factors for this condition are anxiety, changes in diet, decreased activity, and increased psychological burden. Gastrointestinal motility dysfunction that is not treated promptly can lead to several complications and affect the healing process. There are several non-pharmacological treatments to overcome this problem, namely abdominal massage, high-fiber diet, routine physical activity, daily fluid fulfillment, and manual disimpaction. The purpose of this paper is to analyze nursing care in overcoming the dysfunctional problem of gastrointestinal motility in moderate-grade COVID-19 patients. The intervention was carried out for four days. The results of the intervention showed that faecal elimination could be carried out on the second and fourth days. Based on these results, the provision of nursing care for abdominal massage, routine activity therapy, daily fluid intake, a high-fiber diet, and self-disimpaction can be options in overcoming gastrointestinal motility dysfunction in patients with moderate-grade COVID-19."
Depok: fakultas ilmu kep, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mutia Farina
"Latar Belakang: Peningkatan volume residu lambung merupakan salah satu tanda intoleransi makan enteral. Intoleransi makan enteral adalah salah satu bentuk gangguan fungsi gastrointestinal. Ganguan fungsi gastrointestinal sering terjadi pada pasien dengan sakit kritis. Sistem skoring MSOFA adalah salah satu sistem skoring untuk menilai keparahan penyakit pada pasien kritis. Sistem skoring yang ada belum memasukkan gangguan fungsi gastrointestinal pada salah satu parameternya. Penelitian ini untuk mengetahui korelasi volume residu lambung dengan keparahan penyakit berdasarkan skor MSOFA, dan apakah volume residu lambung dapat menjadi parameter pelengkap sistem skoring MSOFA.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari - April 2014 di ICU RSCM. Total volume residu lambung diukur dari 24 jam pertama dan kedua. Skor MSOFA diukur pada hari I dan II. Data dikumpulkan menggunakan formulir penelitian. Data yang didapat dilakukan uji analisis statistik.
Hasil: Sebanyak 72 subjek diikut sertakan dalam penelitian ini. Didapatkan perbedaan volume residu lambung yang bermakna pada 24 jam I dan II. Terdapat korelasi antara volume residu lambung 24 jam II dengan skor MSOFA hari II (p <0,001; r 0,544). Penambahan skor volume residu lambung pada skor MSOFA tidak menambah sensitivitas dan spesifisitas prediksi mortalitas pasien kritis.
Kesimpulan: Terdapat korelasi antara volume residu lambung dengan keparahan penyakit yang dihitung berdasarkan skor MSOFA pada pasien yang dirawat d ICU RSCM. Penambahan skor volume residu lambung pada skor MSOFA tidak menambah sensitivitas dan spesifisitas prediksi mortalitas pasien kritis.

Background: Increased gastric residual volume is a sign of food intolerance. Food intolerance is one form of gastrointestinal disorder. Gastrointestinal disorder often occurs in critically ill patients. MSOFA is one of the scoring system to assess disease severity in critically ill patients. Gastrointestinal system hasn't included in any scoring system. This study was to determine the correlation of gastric residual volume with disease severity based on MSOFA, and whether the gastric residual volume may be complementary parameters MSOFA scoring system.
Methods: This study used a prospective cohort design. Data collection was conducted in February-April 2014 in the ICU RSCM. Total gastric residual volume was measured in the first and second 24 hours of treatment. MSOFA score measured on day I and II.. Data were collected using a research form. Data obtained test statistical analysis.
Results: Total of 72 subjects enrolled in this study. Gastric residual volume difference was significant in the first and second 24 hours. There is a correlation between second 24-hour gastric residual volume with second day of MSOFA score (p <0.001; r 0,544). The addition of gastric residual volume score on the MSOFA scoring system did not add sensitivity and specificity of the prediction of critically ill patient mortality.
Conclusions: There is a correlation between gastric residual volume with disease severity scores that were calculated with MSOFA for patients admitted to the ICU RSCM. The addition of gastric residual volume score on the MSOFA scoring system did not add sensitivity and specificity of the prediction of critically ill patient mortality.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Evania Manda Hapsari
"Latar Belakang: Dokter gigi berisiko lebih besar mengalami Work – related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) yang disebabkan oleh gerakan yang berulang, postur tubuh yang tidak tepat, dan jam kerja yang panjang. Jika prinsip ergonomis diterapkan di bidang kedokteran gigi, penerapan ini dapat membantu mencegah bahaya pekerjaan dan memberikan kenyamanan yang lebih bagi dokter gigi dan pasien. Tujuan: Untuk memperoleh informasi mengenai praktik dental ergonomics dokter gigi di DKI Jakarta serta faktor – faktor yang berhubungan. Metode: Studi cross – sectional dengan metode purposive sampling melalui situs google form kepada 231 dokter gigi di wilayah DKI Jakarta pada bulan November hingga Desember 2022. Kuesioner terdiri atas 34 pertanyaan yang berisi sosiodemografi responden, karakteristik pekerjaan responden, pengetahuan mengenai dental ergonomics, sikap terhadap dental ergonomics, dan praktik dental ergonomics. Uji statistik Continuity Correction dan Pearson Chi – Square dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil: 76,2% dokter gigi memiliki praktik dental ergonomics yang buruk. Terdapat hubungan yang bermakna (p – value < 0,05) antara praktik dental ergonomics dengan kelompok usia, lama pengalaman kerja, dan juga tingkat pengetahuan. Kesimpulan: Sebagian besar (76,2%) dokter gigi di DKI Jakarta memiliki praktik dental ergonomics yang buruk. Terlepas dari hal itu, lebih dari setengah (52,4%) dokter gigi di DKI Jakarta memiliki pengetahuan yang baik mengenai dental ergonomics dan mayoritas (86,6%) dokter gigi di DKI Jakarta memiliki sikap yang positif terhadap dental ergonomics.

Background: Dentists are at greater risk of Work – related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) which can be caused by repetitive movements, improper posture, and long working hours. If ergonomic principles are applied in the field of dentistry, they help to prevent occupational ergonomic health hazards and provides more comfort to the dentist and patient. Objective: To obtain information regarding dental ergonomics practice of dentists in DKI Jakarta and its related factors. Methods: A cross – sectional study was conducted using a purposive sampling method via Google Form to 231 dentists in DKI Jakarta from November to December 2022. The questionnaire consisted of 34 items divided into five sections; sociodemographic, job characteristics, knowledge of dental ergonomics, attitude towards dental ergonomics, and the practice of dentists regarding dental ergonomics. The data was tested using Continuity Correction and Pearson Chi – Square. Result: 76,2% dentists have poor dental ergonomics practice. There is a significant relationship (p – value < 0,05) between the practice of dental ergonomics and age group, years of practical experience, and level of knowledge. Conclusion: Most (76.2%) dentists in DKI Jakarta have poor dental ergonomics practice. Apart from that, more than half (52.4%) of dentists in DKI Jakarta have good knowledge of dental ergonomics and the vast majority (86,6%) of dentists in DKI Jakarta have a positive attitude towards dental ergonomics."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Frans Liwang
"Perdarahan saluran cerna (PSC) merupakan salah satu komplikasi COVID-19 dengan angka mortalitas yang tinggi, namun hingga kini besaran kasusnya belum pernah dilaporkan di Indonesia. Selain itu, hasil penelitian sebelumnya mengenai faktor yang mempengaruhi kejadian PSC juga masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung proporsi kejadian PSC pada COVID-19 serta mendapatkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian merupakan studi potong-lintang dengan subjek pasien dewasa COVID-19 derajat sedang hingga kritis di RS Rujukan COVID-19 Pertamina Jaya dan RS Darurat Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta, selama periode Juni-September 2021. Dari 414 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan kejadian PSC sebesar 17,63%. Mayoritas subjek memiliki komorbid hipertensi (51%), diabetes melitus tipe 2 [DMT2] (43,2%), penyakit serebrokardiovaskular [PSKV] (31,4%), serta riwayat penyakit ulkus peptikum dan PSC sebelumnya (23,9%). Median nilai neutrofil absolut ialah 4.842,5[1.116-70.000], kadar CRP 65,5[9-275] mg/dL, dan kadar D-dimer 890[200-5010] µg/L. Berdasarkan uji bivariat, terdapat tujuh variabel yang bermakna secara statistik, namun pada analisis multivariat generalized linear model menggunakan family regresi Poisson dan fungsi link log dengan robust error variance diperoleh empat variabel akhir yang bermakna secara statistik, yaitu hipertensi (aRR 2,67; IK95% 1,52-4,41; p<0,001), PSKV (aRR 1,90; IK95% 1,27-2,84; p=0,002), terapi kortikosteroid dosis tinggi (aRR 1,82; IK95% 1,22-2,73; p=0,004), dan terapi proton pump inhibitor (PPI) dosis tinggi (aRR 0,41; IK95% 0,27-0,60; p<0,001). Uji Pearson goodness-of-fit menunjukkan nilai p=0,999 dan nilai AUC 0,755 (IK95% 0,694-0,815; p<0,001). Sebagai kesimpulan, proporsi kejadian PSC pada COVID-19 derajat sedang-kritis ialah 17,63 (IK95% 14,1-21,6%). Faktor yang dapat mempengaruhi kejadian PSC ialah hipertensi, PSKV, serta penggunaan kortikosteroid dan PPI.

Gastrointestinal bleeding (GIB) is a COVID-19 complication with high mortality rate whose magnitude and impact have not been reported in Indonesia. Moreover, the resutls of previous studies on factors influencing GIB in COVID-19 still varied widely. This study aimed to measure the proportion of GIB cases in COVID-19 and investigate the factors influencing GIB in COVID-19. This was a cross sectional study on adults with moderate to critical COVID-19 in Pertamina Jaya Referral Hospital and Wisma Haji Pondok Gede Field Hospital, Jakarta from June to September 2021. We found that out of 414 subjects that met the inclusion and exclusion criteria, 17.63% had cases of GIB. Most subjects had comorbidities, including hypertension (51%), type 2 diabetes mellitus [T2DM] (43.2%), cerebrocardiovascular disease [CCVD] (31.4%), and history of peptic ulcer and previous GIB (23.9%). Median[min-max] number of absolute neutrohil was 4,842.5 [1,116-70,000], CRP levels was 65.5 [9-275] mg/dL, and D-dimer levels was 890 [200-5,010] ug/L. Bivariate analysis showed that there were seven variables that were statistically significant. However, according to generalized linear model analysis withPoisson regression family and log link function with robust error variance, there were four final variables that were statistically significant. There variabels as follow hypertension (aRR 2.67; 95%CI 1.52-4.41; p<0.001), CCVD (aRR 1.90; 95%CI 1.27-2.84; p=0.002), high dose corticosteroid therapy (aRR 1.82; 95%CI 1.22-2.73; p=0.004), and high dose proton pump inhibitor [PPI] therapy (aRR 0.41; 95%CI 0.27-0.60; p<0.001). Pearson goodness-of-fit test showed p=0.999 and AUC value of 0.755 (95%CI 0.694-0.815; p<0.001). In conclusion, the proportion of GIB incidence in moderate-critical COVID-19 was 17.63% (95%CI 14.1-21.6%). Factors that influence GIB were hypertension, CCVD, the use of corticosteroid, and PPI."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Smout, A.J.P.M.
Hampshire: Wrightson Biomedical Publishing, 1994
616.33 SMO n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rafli Fadlurahman
"Latar belakang: Cedera gastrointestinal akut kerap terjadi pada pasien dengan sakit kritis. Fungsi saluran menjadi salah satu pertimbangan dalam pemberian nutrisi pasien. Komplikasi pada saluran cerna dapat menghambat pemberian nutrisi enteral yang lebih direkomendasikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan derajat cedera gastrointestinal akut dengan capaian nutrisi enteral pada pasien anak sakit kritis.
Metode: Penelitian ini memiliki desain studi potong lintang menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien anak sakit kritis yang dirawat di PICU RSCM dari September 2019 sampai Agustus 2020. Cedera gastrointestinal akut dikelompokkan berdasarkan klasifikasi WGAP ESICM. Asupan nutrisi diambil dari data rekam medis pasien. Data dianalisis menggunakan Uji Saphiro-Wilk dilanjutkan Uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui hubungan derajat cedera gastrointestinal akut dengan capian nutrisi enteral pasien. Data diolah menggunakan aplikasi IBM SPSS for windows versi 20.
Hasil: Sampel penelitian berjumlah 26 pasien. Median presentase capaian nutrisi enteral hari ketiga (% laju metabolik basal) setiap derajat yaitu derajat satu 40,08 (0-144,39); dua 0,00 (0-219); tiga 19,10 (0,00-38,20); dan empat 0,00 (0,00-130,30) dengan hasil uji Kruskal-Wallis (p=0,904). Tidak terdapat hubungan bermakna antara lama capaian 25% nutrisi enteral dengan derajat cedera gastrointestinal akut (Kruskal-Wallis, p=0,556). Pada penelitian, faktor lain seperti status gizi (p=0,952), penggunaan ventilator mekanik (p=0,408), dan riwayat pascaoperasi (p=0,423) tidak mempengaruhi presentase nutrisi enteral hari ketiga.
Kesimpulan: Pada pasien anak kritis, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat cedera gastrointestinal akut dengan capaian nutrisi enteral.

Background: Acute gastrointestinal injury (AGI) is usually found in critically ill patients. Gastrointestinal function can determine the route od nutritional therapy. Gastrointestinal abnormalities may delay enteral nutrition therapy in patients. Therefore, this study aims to determine the association between the association between acute gastrointestinal injury and enteral nutrition outcome in critically ill children.
Methods: This study had a cross-sectional study design using the medical records of critically ill children in PICU RSCM from September 2019 until August 2020. AGI patients was classified based on WGAP ESIM grading system. Nutritional outcomes were assessed using data from medical record. Data were analyzed the Kruskal-Wallis test to determine the association between acute gastrointestinal injury and enteral nutrition outcomes. The Data were analysed using SPSS for windows version 20.
Results: The study sample was 26 patients. The medians of day three enteral nutrition percentage were grade one 40,08 (0-144,39); grade two 0,00 (0-219); grade three 19,10 (0,00-38,20); dan grade four 0,00 (0,00-130,30) with Kruskall-walis test result (p=0,904). There was no significant association between AGI and the duration of 25% basal metabolic rate (Kruskal-Wallis, p=0,556). In this study, Other factors such as nutritional status (p=0,952), ventilator usage (p=0,408), and post-operative history (p=0,423) did not associate with day three enteral nutrition percentage.
Conclusion: In critically ill children, there was no significant association between the acute gastrointestinal injury and the outcome of enteral nutrition.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Arya Limianto
"Latar belakang: Mortalitas pascaoperasi dan komplikasi respiratorik berat telah didokumentasikan pada pasien COVID-19 pada berbagai studi. Namun, belum terdapat penelitian yang secara khusus mengevaluasi luaran dari laparatomi gawat darurat dengan perforasi gastrointestinal selama pandemi COVID-19 tahun 2020.
Metode: Studi dilakukan dengan desain observasional retrospektif sejak bulan Desember 2020-Februari 2021. Pasien perforasi gastrointestinal berusia lebih dari 15 tahun yang menjalani laparotomi gawat darurat diinklusi dalam penelitian. Luaran yang dievaluasi adalah mortalitas dan morbiditas, yang meliputi sindrom distres pernapasan akut (ARDS), reoperasi, durasi perawatan di rumah sakit, sepsis, admisi ke ruang perawatan intensif (ICU), dan infeksi daerah operasi (IDO).
Hasil: Terdapat 117 pasien pascalaparotomi yang direkrut dalam penelitian ini, dengan 95 (81,2%) pasien tidak terinfeksi SARS-CoV-2. Median usia untuk kelompok non-COVID dan kelompok COVID secara berturut-turut sebesar 41 (14¬92) tahun dan 39 (15¬77) tahun. Mortalitas umum tercatat pada angka 23,9%. Pasien perforasi COVID-19 yang menjalani tindakan laparotomi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kematian, ARDS, dan sepsis, serta mendapatkan tindakan reoperasi dibandingkan pasien non-COVID, dengan risiko odds masing-masing sebesar 2,769 (95% IK; 1,032–7,434), 8,50 (95% IK; 2,939–24,583), 3,36 (95% IK; 1,292–8,735), dan 3,69 (95% IK; 1,049–13,030). Tidak terdapat perbedaan antara pasien perforasi gastrointestinal yang terkonfirmasi COVID-19 dan pasien non-COVID dalam hal risiko IDO, lama durasi perawatan, dan admisi ke ICU. Usia, sepsis, dan ARDS merupakan faktor prognostik bermakna untuk mortalitas COVID-19.
Simpulan: Pasien perforasi gastrointestinal pascalaparotomi yang terkonfirmasi COVID-19 memiliki risiko mortalitas, ARDS, sepsis, dan menjalani tindakan reoperasi yang lebih tinggi dibandingkan pasien non-COVID.

Background: Postoperative mortality and severe respiratory complications have been documented in COVID-19 patients in various studies. However, no studies specifically evaluate the outcome of emergency laparotomy with gastrointestinal perforation during the 2020 COVID-19 pandemic.
Methods: The study was conducted with a retrospective observational design from December 2020-February 2021. Patients with gastrointestinal perforations aged more than 15 years who underwent emergency laparotomy were included in the study. The outcomes evaluated were mortality and morbidity, which included acute respiratory distress syndrome (ARDS), reoperation, duration of hospital stay, sepsis, admission to the intensive care room (ICU), and surgical site infections (SSI).
Results: There were 117 post-laparotomy patients recruited, with 95 (81.2%) COVID-19 negative patients. The median ages for the non-COVID group and the COVID group were 41 (14¬92) years and 39 (15¬77) years. General mortality was recorded at 23.9%. Patients with perforated COVID-19 who underwent laparotomy had a higher risk of dying, ARDS, and sepsis, as well as receiving re-surgery than non-COVID-19 patients, with an odds risk of 2.769 each (95% CI; 1,032–7,434), 8,50 (95% CI; 2,939–24,583), 3.36 (95% CI; 1,292–8,735), and 3.69 (95% CI; 1,049¬ – 13,030). There was no difference between gastrointestinal perforated patients with confirmed COVID-19 and non-COVID-19 patients in terms of risk of SSI, length of stay, and admission to the ICU. Age, sepsis, and ARDS are significant prognostic factors for COVID-19 mortality.
Conclusion: Post-laparotomy confirmed gastrointestinal perforation patients with COVID-19 have a higher risk of mortality, ARDS, sepsis, and undergoing reoperation than non-COVID-19 patients."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wardah Nafisah
"Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran kejadian masalah gastrointestinal pada mahasiswa asing di Universitas Indonesia. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang, melibatkan 64 sampel yang dipilih dengan teknik convenient sampling. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya. Analisis data univariat distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan 82,8% mahasiswa asing di Universitas Indonesia pernah mengalami masalah gastrointestinal selama berada di Indonesia. 46,3% responden menyatakan sering mengalami keluhan sakit perut, yang merupakan manifestasi umum pada berbagai jenis gangguan gastrointestinal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi berbagai faktor pola makan dan gaya hidup yang memengaruhi kejadian masalah gastrointestinal pada mahasiswa asing di Universitas Indonesia.

This study aimed to identify the description of gastrointestinal problems on foreign students in Universitas Indonesia. Descriptive study with a cross-sectional design, involving 64 samples whom were selected with convenient sampling method. A questionnaire which was modified from previous research was used.
The result showed that 82,8% foreign students of Universitas Indonesia had experienced gastrointestinal problems during in Indonesia, which indicates high prevalence. 46,3% respondents often experience abdominal discomfort which is the common manifestation of various gastrointestinal disorders. A further research is needed to explore and elaborate the related factors such as consumption pattern and lifestyle which significantly affect the gastrointestinal problems finding on foreign students in Universitas Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2016
S63148
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ginsberg, Gregory G.
London: Elsevier, 2005
616.075 45 CLI
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>