Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 48353 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anastasya Margareth
"Artikel ini membahas subjektivitas tokoh Amélie yang terdapat di dalam film Le Fabuleux Destin d'Amélie Poulain karya Jean-Pierre Jeunet. Fokus bahasan adalah perjalanan tokoh Amélie sebagai subjek eksistensialis yang berusaha mencari esensi hidupnya. Penelitian
ini menggunakan metode kajian sinema yang diperdalam dengan konsep subjektivitas dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Hasil penelitian menunjukkan beberapa peristiwa dan tindakan Amélie yang menjadikannya subjek atas dirinya sendiri, menemukan esensi hidupnya,
dan menentukan pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.
This article discusses the subjectivity of Amélie in film Le Fabuleux Destin d`Amélie Poulain, directed by Jean-Pierre Jeunet. The study focused on journey of the character of Amélie as an existentialist subject who is looking for the essence of her life. This study uses the method of cinema studies deepened with the concept of subjectivity and existentialism of Jean-Paul Sartre. This research reveals that some of the events and Amélie's actions made her a subject of herself, she also found the essence of her life, and made free and responsible choices."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Rafina Diaswari
"ABSTRAK
Dalam film Le Fabuleux Destin d rsquo;Am lie Poulain, penyajian warna dilakukan secara berulang pada setiap sekuennya. Penyajian warna ini mengiringi kemunculan serta kondisi emosional dari tokoh utama, yaitu Am lie. Warna ditempatkan tidak hanya pada latar saja tetapi juga pada kostum Am lie. Tulisan ini membahas hubungan antara kemunculan warna dalam film dan penokohan tokoh utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa warna memiliki fungsi representatif yang berarti bahwa warna dapat mewakili emosi dari tokoh utama.
ABSTRACT

In Le Fabuleux Destin d rsquo Am lie Poulain, the presentation of color is repeated on each of its sequences. This presentation of color accompanies the appearance as well as the emotional state of the main character, Am lie. Color placed not only in the background but also on Am lie rsquo s costumes. This paper discusses the relation between the appearance of colors in the film and characterization of the main character. The result shows that color has a representative function, which means that color can represent the emotions of the main character."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nia Nafisah
"Subjektivitas adalah konsep identitas diri yang berkaitan dengan cara pandang mengenai diri dan relasinya dengan struktur sosial tempatnya berada. Disertasi ini mengungkapkan ambivalensi subjektivitas tokoh anak dalam empat film anak –Laskar Pelangi, Serdadu Kumbang, Lima Elang, dan Langit Biru. Melalui pendekatan strukturalisme dan analisis sistem formal dari Bordwell dan Thompson (2008), ditemukan ambivalensi  struktur teks dan strategi naratif yang di satu sisi memosisikan tokoh anak sebagai subjek, tetapi di sisi lain dibatasi dengan kondisi tertentu, yaitu ketidakhadiran atau campur tangan tokoh dewasa, keberadaan di ruang terbuka, serta kehendak yang berorientasi kelompok. Analisis lebih jauh dengan menggunakan teori kuasa disiplin Foucault (1995) menemukan bahwa walaupun keterampilan literasi dapat menggeser dominasi kuasa dewasa dan negosiasi posisi dimungkinkan untuk sementara waktu, subjektivitas tokoh anak pada umumnya dikonstruksi melalui pendisiplinan dalam praktik sosial. Pendisiplinan ini melatih anak untuk selalu memperhatikan aspek budaya yang dianggap penting. Akibatnya, subjektivitas yang dikonstruksi ini mendorong tokoh anak untuk mematuhi aturan yang berlaku, mengedepankan kepentingan kelompok, dan menghindari perbedaan. Subjektivitas yang ambivalen ini mengisyaratkan film anak Indonesia memandang anak-anak sebagai manusia yang defisien atau kurang sempurna sebagai manusia sehingga harus dibimbing dan diberi pengarahan, tetapi kurang memperhatikan potensi emosi dan intelektual yang dimiliki anak-anak.

The notion of subjectivity is a concept of personal identity which deals with the self and its relations to the social structures. This dissertation reveals the ambivalent construction of child character subjectivity in four Indonesian children’s films: Laskar Pelangi, Serdadu Kumbang, Lima Elang, dan Langit Biru. Employing structuralism approach and system formal analysis form Bordwell and Thompson (2008), it is found that textual structure and narrative strategies are ambivalent because they position child characters as subjects, but only under certain conditions: the absence or without involvement of adult characters, in open space, and group-oriented. Further analysis using Foucault theory of power and governmentality (1995) found that although literacy is the child's potential skill to shift adult's dominant power and negotiating positions take place temporarily, the child character's subjectivity is generally constructed through discipline in social practices in order to train children to take cultural aspects deemed important into consideration. Consequently, the constructed subjectivity is submissive children who obey the expected norms, prioritize group's interests, and avoid differences. This ambivalent subjectivity suggests that Indonesian children's films view children as deficient and so in need of guidance and instruction despite their emotional and intellectual potentials."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
D2657
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sakya Anindhita
"Skripsi ini membahas makna perjalanan bagi dua tokoh utama dalam film _Le Grand Voyage_ karya Isma_l Ferroukhi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bantuan teori-teori dari kajian sinema. Hasil penelitian menyatakan bahwa melalui analisis aspek naratif dan sinematografis ditemukan perbedaan watak kedua tokoh utama yang menjadi sumber konflik. Di akhir perjalanan, kedua tokoh utama memiliki kesamaan pandangan terhadap makna perjalanan. Perjalanan ini berdampak besar dan bermakna mendalam bagi kedua tokoh utama yang ditandai dengan penemuan kedua tokoh utama akan makna cinta dan kehidupan. Makna "besar" dalam perjalanan tersebut berarti besar dari segi jarak, ruang, dan waktu, juga besar dari segi nilai-nilai spiritual.

The Focus of this study is to find the meaning of voyage according to two main characters on Ismael Ferroukhi_s film, _Le Grand Voyage_. This study is using qualitative method with the help of theories on cinema studies. The final results of this study shows that the differences of the two main characters in the film are recognized from the narative and cinematographic aspect; at the end of the voyage, both has the same view regarding the meaning of the voyage; the voyage has a big impact and deep meaning for them; the two main characters reveals a spiritual discovery; the meaning of "grand" in the voyage is grand of distance, space, and time, and also grand for its spirituality values."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
S14368
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Atika Binar Budiman
"Film adalah sebuah media yang digunakan untuk memproduksi sebuah karya seni melalui aspek visual dan sonor, biasanya digunakan sebagai hasil dari perpindahan dari tatanan simbolik-imajiner menjadi simbolik-reel. Salah satu film yang menunjukkan perpindahan tersebut adalah J’ai Perdu Mon Corps (2019), sebuah film animasi oleh Guillaume Laurant dan Jérémy Clapin, adaptasi dari novel Happy Hands (2006) oleh Guillaume Laurant. Artikel ini akan fokus pada perubahan yang melingkupi perilaku tokoh utama berdasarkan kegagalan pemenuhan hasrat mereka di masa lalu. Metode yang digunakan adalah teori film Joe Boggs dan Dennis Petrie, yang dapat membantu mengkaji aspek naratif dan sinematografi, untuk mengidentifikasi adegan yang akan menunjukkan efek memori terhadap perasaan keterasingan. Pada aspek tematik, artikel ini akan menggunakan psikoanalisis Lacan yaitu stade du miroir (1966) dan objet petit a (1973). Keduanya akan digunakan untuk mengidentifikasi dampak dari kegagalan memenuhi keinginan Naoufel dan Tangan yang berujung pada keterasingan. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur film memperlihatkan dua kisah paralel antara kisah Tangan mencari tubuhnya dan kisah Naoufel menemukan kedewasaannya. Kehadiran Tangan sebagai entitas terpisah dari Naoufel ini dimaksudkan sebagai fragmentasi dirinya mengatasi keterasingan yang mengganggu proses subjektivitasnya.

Film is a media used to produce an art expression through the visual and audio aspects, often used as a result from the shifting of the symbolic-imaginary into the symbolic-real. One of the films based on that same topic is J’ai Perdu Mon Corps (2019), an animation film by Guillaume Laurant and Jérémy Clapin, adapted from the novel Happy Hands (2006) by Guillaime Laurant. This article will focus on the changes that are surrounding the main characters’ behaviour based on the failures of fulfilling their demands and desires in the past. The methods used are the film theory by Joe Boggs and Dennis Petrie, which will be used to aid the narrative and the cinematographic aspect, to identify the scenes that will show the effects of memory and/or the past to the feelings of the alienation. On the thematic aspect, the article will use Lacan’s psychoanalysis which are the stade du miroir (1966) and objet petit a (1973). Both will be used to identify the effects from the failures in fulfilling Naoufel and The Hand’s desires which leads to alienation. The results of the analysis show that the structure of the film presented two parallel stories between the tale of The Hand looking for his body and the story of Naoufel finding his maturity. The presence of The Hand as a separate entity from Naoufel is intended as his fragmentation in overcoming the alienation that interferes with his subjectivity process."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Komang Arie Suwastini
"[ABSTRAK
Penelitian ini membahas framing dalam empat film yang diadaptasi dari novel-novel Jane Austen dalam struktur naratif mainstream Hollywood bergenre period movie dari tahun 1995 hingga 2005. Pembahasan ditujukan untuk mengungkapkan pemanfaatan framing dalam keempat film tersebut untuk mengartikulasikan kembali konsep femininitas, domestisitas, dan seksualitas perempuan dalam perspektif posfeminisme yang menjadi konteks keempat film tersebut. Dengan memadukan teori tatapan dan kenikmatan visual dari Mulvey (1975) dan teori kekuasaan dari Foucault (1978), penelitian ini mengajukan konsep negosiasi tatapan sebagai relasi kuasa yang memungkinkan setiap pihak yang terlibat dalam relasi kuasa tersebut untuk berpartisipasi baik sebagai penatap maupun sebagai objek tatapan secara bersamaan dan berkesinambungan dalam sebuah dinamika yang tak pernah berhenti. Penelitian ini juga mengajukan konsep negosiasi subjektivitas sebagai hasil dari persinggungan antara (pos)feminisme dengan teori kekuasaan Foucault (1978). Konsep negosiasi subjektivitas ini melihat adanya kesempatan bagi perempuan untuk memanfaatkan subordinasi perempuan dalam relasi kuasa patrarkis dengan berpartisipasi secara aktif dalam relasi kuasa tersebut dengan berbekal kesigapan untuk beradaptasi dan bertransformasi secara strategis sesuai dengan perubahan-perubahan dalam dinamika relasi kuasa itu sendiri. Dengan dua konsep ini, penelitian ini menemukan bahwa negosiasi menjadi strategi yang sangat mumpuni untuk mendukung subjektivitas perempuan dalam mengartikulasikan femininitas, domestisitas dan seksualitas. Strategi ini mengajak perempuan untuk selalu mencari kesempatan untuk melakukan resistensi ataupun bertahan dalam represi patriarkis yang menekannya, baik melalui konfrontasi, konsiliasi, ataupun sikap mengalah, tergantung pada tuntutan dinamika relasi kuasa tempatnya berada.
;

ABSTRACT
The present study was aimed at revealing the use of framing in four films adapted from Jane Austen’s novels in Hollywood mainstream narrative cinema from 1995 to 2005 for articulating concepts of femininity, domesticity and female sexuality in the context of postfeminism that becomes the backdrop of the four movies. Combining Mulvey’s theory of the look and visual pleasure (1975) with the concept of negotiation in Foucaut’s theory of power (1978), the present study proposed the concept of “negotiation of the look” which maintains the look as power relations, allowing all parties to participate as the subjects of the gaze and the objects of the gaze in a simultaneous and consecutive dynamics. The present study also proposed the concept of negotiating subject resulting from the intersection of (post)feminism with Foucault’s theory of power, maintaining women can ride the imbalance of the patriarchal relations they are in by participating actively, adeptly, tacitly, and strategically in these relations while always being attentive and knowledgeable about the dynamic of the power relations. With the two concepts, the present study revealed negotiation as an important strategy in the articulation of femininity, domesticity and female sexuality for supporting women’s articulations of subjectivity. Demanding women to be vigilant about their contexts, this strategy solicits possibilities for resistence and resilience, through confrontation, conciliation or compliance, depending on the demands of the dynamic of the power relations.
, The present study was aimed at revealing the use of framing in four films adapted from Jane Austen’s novels in Hollywood mainstream narrative cinema from 1995 to 2005 for articulating concepts of femininity, domesticity and female sexuality in the context of postfeminism that becomes the backdrop of the four movies. Combining Mulvey’s theory of the look and visual pleasure (1975) with the concept of negotiation in Foucaut’s theory of power (1978), the present study proposed the concept of “negotiation of the look” which maintains the look as power relations, allowing all parties to participate as the subjects of the gaze and the objects of the gaze in a simultaneous and consecutive dynamics. The present study also proposed the concept of negotiating subject resulting from the intersection of (post)feminism with Foucault’s theory of power, maintaining women can ride the imbalance of the patriarchal relations they are in by participating actively, adeptly, tacitly, and strategically in these relations while always being attentive and knowledgeable about the dynamic of the power relations. With the two concepts, the present study revealed negotiation as an important strategy in the articulation of femininity, domesticity and female sexuality for supporting women’s articulations of subjectivity. Demanding women to be vigilant about their contexts, this strategy solicits possibilities for resistence and resilience, through confrontation, conciliation or compliance, depending on the demands of the dynamic of the power relations.
]"
2014
D1867
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Astuti Handayani
"Penelitian ini membahas subjektivitas perempuan dalam film karya Justin Chadwick yang berjudul The Other Boleyn Girl. Pencermatan terhadap tokoh perempuan dalam film terkait subjektivitasnya dilakukan dengan menggunakan teori dari Simone de Beauvoir yang dikaitkan dengan konsep perkawinan. Teori film Joseph M. Boggs dan Dennis W. Petrie tentang penokohan dalam film juga digunakan untuk melihat subjektivitas tokoh utama dalam film. Hal pertama yang dilakukan untuk dapat melihat subjektivitas tokoh utama perempuan, adalah dengan mencermati penokohan tokoh-tokoh perempuan dalam film, kemudian melihat perbedaan konsep perkawinan antara dua tokoh utama dalam film. Penggambaran mengenai konsep perkawinan dua tokoh perempuan tersebut memberikan informasi bahwa kedua tokoh tersebut memiliki perbedaan dalam memandang perkawinan yang menyebabkan juga perbedaan kedua tokoh tersebut dalam memaknai diri sendiri.

This research is aimed to analyze female subjectivity in Justin Chadwick rsquo s The Other Boleyn Girl. The theory by Simone de Beauvoir is used to analyze the female main character and the subjectivity portrayed on her. The characterization in the fiction films by Joseph M. Boggs and Dennis W. Petrie is also used to analyze the characters and to see female subjectivity portrayed on the main character. The difference of marriage concept between two major characters in the film is elaborated to see the subjectivity. As the result of this research, the researcher found that there are some differences of marriage concepts between the two major characters that cause different way in understanding themselves.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
T51185
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cinta Rutatiko
"Skripsi ini membahas tema teror dalam film le Corbeau karya Henri-Georges Clouzot. Tujuan skripsi ini adalah memaparkan perwujudan tema teror melalui aspek naratif dan sinematografis dalam film. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bantuan teori pengkajian film menurut Joseph M. Boggs. Hasil penelitian menyatakan bahwa teror dalam film le Corbeau menjadi sumber konflik yang dipicu oleh munculnya surat-surat anonim dan ditampilkan secara bertahap yang dimulai dari munculnya kecurigaan dan berkembang pada ketegangan antar tokoh serta berujung pada kematian.

This thesis is focused on the terror theme in the film le Corbeau of Henri-Georges Clouzot. The aim of this thesis is to discuss the terror theme through the narative and cinematographic aspect. This study uses qualitative method with the help of theory of film study according to Joseph M. Boggs. The result of the analysis shows that the terror theme in the film le Corbeau becomes the source of conflict triggered by the emergence of anonymous letters and displayed in stages started from the emergence of suspicion and evolve to tension between characters that leads to death."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S52938
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Randy Fauzan Jausin
"ABSTRAK
Artikel ini merupakan penelitian yang membahas strategi dan teknik subtitling dalam film Prancis Le Grand Voyage dengan data berupa transkripsi dialog film dalam Bahasa Prancis dan subtitle dalam Bahasa Indonesia. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori sepuluh strategi subtitling milik Gottlieb dan aturan teknis subtitling milik Karamitroglou, Carroll dan Ivarsson. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, strategi yang paling banyak digunakan adalah strategi transfer dan satu-satunya strategi yang tidak digunakan adalah strategi transkripsi. Untuk teknik subtitling, ditemukan bahwa terdapat banyak subtitle yang keterbacaan teksnya kurang, karena harus mengikuti rata-rata tempo dialog yang cepat. Oleh karena itu, dalam menerjemahkan dialog ke dalam subtitle, penerjemah subtitle perlu pengetahuan yang mendalam mengenai cara menerapkan strategi subtitling.

ABSTRACT
This article is a research that studies subtitling strategies and techniques in the french film Le Grand Voyage with data in the form of film dialogue transcripts in French and subtitles in Indonesian. The analysis in this research utilizes Gottlieb 39 s theory of the ten subtitling strategies and Karamitroglou, Carroll and Ivarsson 39 s proposed subtitling standards and techniques. Based on the analytical results of this research, the most used strategy is the transfer strategy and the only strategy unused is the transcription strategy. By the viewpoint of subtitling techniques, it is found that many subtitles lack readability, caused by the pursuit of dialogue tempos which are averagely rapid. Due to those circumstances, to translate a dialogue into a subtitle, a subtitle translator requires further knowledge on how to use subtitling strategies."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Anida Nurrahmi
"Penelitian ini membahas subtitling dalam Le Marais, film pendek dalam film antologi Paris, Je T’aime, dengan menganalisis strategi dan teknik yang digunakan terkait adanya keterbatasan ruang dan waktu serta bentuk penerjemahannya yang bersifat diasemiotik. Strategi yang dimaksud adalah sepuluh strategi subtitling milik Gottlieb, sedangkan teknik yang dimaksud adalah aturan teknis berupa batasan karakter, durasi, serta keterbacaan teks. Hasil menunjukkan bahwa keterbatasan ruang dan waktu secara umum teratasi dengan adanya perubahan saluran komunikasi dari lisan menjadi tulisan. Penerapan strategi subtitling dapat dikombinasikan untuk mengalihbahasakan pesan dengan baik sekaligus memenuhi aturan teknis yang ada. Strategi yang paling banyak digunakan adalah kondensasi. Ditemukan pula strategi berupa variasi diksi yang tidak disebutkan dalam teori. Sementara itu dalam penerapan aturan teknis, ditemukan bahwa keterbacaan teks tidak dapat diatur karena mengikuti tempo dialog. Oleh karena itu, penerapan strategi menjadi esensial bagi penerjemah untuk menghasilkan subtitle yang baik.

This research studies the subtitling in Le Marais a short film within Paris Je T rsquo aime an anthology film by analyzing the strategies and techniques used due to spatial temporal constraints and its nature as diasemiotic translation Strategies we used here refer to Gottlieb rsquo s ten strategies of subtitling while techniques refer to technical rules including numbers of characters duration and legibility of texts The result shows that the spatial temporal constraints are generally solved by the change of communication channel from spoken into written The application of subtitling strategies could be combined in order to deliver the message from source language to target language and to fulfill the technical rules as well The most common strategy is condensation It is also found that there is variation a strategy which is not mentioned in theory Meanwhile from the technical rules we find that the legibility of the text could hardly be set since it is based on the tempo of the dialog itself Therefore the use of those strategies becomes essential for subtitlers to make good subtitles."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S46098
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>