Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 176066 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Poppy Amalia Binraya
"ABSTRAK
Di dunia yang penuh dengan sensasi dan skandal internet, seorang YouTuber terkenal bernama
Logan Paul muncul dengan membawa salah satu kontroversi internet terbesar di awal tahun 2018.
Skandal tersebut tidak lain adalah terekamnya mayat di dalam vlog-nya selama kunjungannya ke
Hutan Bunuh Diri di Jepang. Meskipun ia telah meminta maaf atas kesalahannya, nampaknya ia
masih gagal untuk meyakinkan audiensnya. Ada beberapa analisis tentang permintaan maafnya
yang dibuat untuk melihat apakah ia tulus atau tidak. Di antara analisis-analisis yang ada, belum ada
yang menganalisis permintaan maafnya dari perspektif linguistik. Untuk mengisi kesenjangan
tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mempelajari permintaan maaf dari sudut pandang linguistik.
Menggunakan metode dan kerangka kerja kualitatif oleh Blum-Kulka, House & Kasper (1989),
Benoit (1995), Schmitt, Gollwitzer, Förster & Montada (2004), dan Lutzky & Kehoe (2017),
makalah ini akan mengungkapkan bahwa upaya permintaan maaf Paul yang pertama tidak cukup
dan bahwa permintaan maaf yang kedua lebih terlihat bersifat minta maaf.

ABSTRACT
In the world full of Internet sensations and internet scandals, a famous YouTuber named Logan Paul
raised to the occasion by bringing one of the biggest internet controversies in the beginning of 2018,
which was the filming of a dead body that he found during his visit to the Japanese Suicide Forest.
Although he apologized for his mistakes, the audience just was not convinced by his words. There
have been some analyses about his apologies made to see whether he was being sincere or not.
Among these analyses, there has never been one that analyzes his apologies from the perspective of
linguistics. To fill the gap, this research was conducted to study the apology from the linguistics
point of view. Using qualitative method and frameworks by Blum-Kulka, House & Kasper (1989),
Benoit (1995), Schmitt, Gollwitzer, Förster & Montada (2004), and Lutzky & Kehoe (2017), this
paper reveals that Pauls first attempt at apologizing was not apologetic enough and that his second
apology was more apologetic."
2019
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nabil Abdurrahman
"ABSTRAK
Kehadiran media sosial di era digital ini memiliki banyak manfaat yang diperoleh masyarakat. Diawal kehadiran media sosial, masyarakat menggunakan media sosial hanya sebagai sarana komunikasi. Seiring dengan perkembangan zaman, media sosial mengalami transformasi sebagai medium untuk mencari informasi dan memproduksi informasi itu sendiri. Salah satu bentuk dari khalayak yang memproduksi pesan mereka sendiri adalah fenomena social media influencer, salah satunya adalah Gadgetin. Gadgetin memanfaatkan medium media sosial yaitu Youtube untuk memproduksi pesan atau konten, dan kemudian membagikannya kepada sesama khalayak pengguna Youtube. Tulisan ini ditujukan untuk menganalisis peran dan karakteristik social media influencer pada medium Youtube. Hasil analisis memperlihatkan bahwa terdapat 4 karakteristik utama yang diperlukan seorang social media influencer untuk sukses mempengaruhi sudut pandang target khalayak mereka.

ABSTRACT
The presence of social media in this digital era has many benefits obtained by the society. At the beginning of the presence of social media, society used social media only as a means of communication. Along with the times, social media undergoes transformation as a medium to seek information and produce information itself. One form of audience that produces their own message is the phenomenon of social media influencers, one of which is Gadgetin. Gadgetin utilizes social media medium, Youtube to produce message or content and then share the message to fellow Youtube users. This article is intended to analyze the role and characteristic of social media influencer on Youtube. The results of the analysis shows that there are 4 main characteristics needed by social media influencer to successfully influence the viewers and influence their viewpoint of their target audience."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Yoedo Shambodo
"[ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana khalayak memaknai transparansi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada media sosial YouTube. Pemaknaan disini dilihat apakah khalayak memaknai sebuah informasi yang disampaikan melalui media sosial YouTube dengan karateristik dimana informasi yang disampaikan bebas tanpa harus melalui suatu Gatekeeper dimaknai sama antara pembuat atau pemilik informasi dengan penerima informasi sebagai bentuk transparansi pemerintah daerah. Informasi yang dimaksud adalah tiga video milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang diunggah pada media sosial YoTube yang dipilih oleh peneliti menjadi objek penelitian dengan berbagai alasan tertentu. Penelitian mengacu kepada teori televisual Stuart Hall dengan menggunakan reception analysis yangmemfokuskan pada pengalaman subjektif sebagai khalayak aktif (meaning-contruction) memahami suatu fenomena serta bagaimana makna diciptakan melalui pengalaman tersebut. Mengacu pada studi pemaknaan penelitian ini mengacu pada tiga hipotesis dimana khalayak terbagi menjadi tiga posisi pemaknaan, yaitu dominan-hegemonik, negosiasi, dan oposisi
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam sebagai metode untuk mencari data primer. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus (single case, single level).Pemilihan informan dilakukan secara purposive samplingdengan mempertimbangkan variasi berdasarkan latar belakang konteks sosial budaya informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pemaknaan beragam karena berbagai macam faktor, salah satunya adalah faktor pengalaman dan pengetahuan informan. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan interpretive communities, dimanakhalayak sebagai anggota atau bagian dari komunitas tertentu sebagai pemberi makna dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya serta adanya pembagian pengalaman-pengalaman diantara anggota komunitas.

ABSTRACT
This study aimed to see how audiences interpret the transparency of the Government of Jakarta on social media YouTube. Meanings here seen whether the audience to interpret an information delivered through social media YouTube with characteristics which are delivered free information without having to go through a Gatekeeper interpreted equally between the author or owner of the information with the recipient information as a form of local government transparency. The information that mean is three videos belong to the Government of Jakarta are uploaded to social media YoTube chosen by the researcher becomes the object of research with a variety of reasons. The study refers to the theory of Stuart Hall televisual using the reception analysis that focuses on the subjective experience as an active audience (meaning-contruction) understand a phenomenon and how meaning is created through the experience. Referring to the study of the meaning of this study refers to the three hypotheses in which the audience is divided into three positions of meaning, which is the dominant-hegemonic, negotiation, and opposition.
The study used a qualitative approach with in-depth interviews as a method to locate the primary data. The method used is a case study (single case, single level). Selection of informants is purposive sampling by considering variations based on the cultural background of the social context of informants. The results showed that there is meaning vary due to various factors, one of which is a factor of experience and knowledge of the informant. This study also uses the interpretive communitiesto approach, to which the audience as a member or part of a particular community as a giver of meaning is affected by social and cultural environment as well as the sharing of experiences among members of the community., This study aimed to see how audiences interpret the transparency of the Government of Jakarta on social media YouTube. Meanings here seen whether the audience to interpret an information delivered through social media YouTube with characteristics which are delivered free information without having to go through a Gatekeeper interpreted equally between the author or owner of the information with the recipient information as a form of local government transparency. The information that mean is three videos belong to the Government of Jakarta are uploaded to social media YoTube chosen by the researcher becomes the object of research with a variety of reasons. The study refers to the theory of Stuart Hall televisual using the reception analysis that focuses on the subjective experience as an active audience (meaning-contruction) understand a phenomenon and how meaning is created through the experience. Referring to the study of the meaning of this study refers to the three hypotheses in which the audience is divided into three positions of meaning, which is the dominant-hegemonic, negotiation, and opposition.
The study used a qualitative approach with in-depth interviews as a method to locate the primary data. The method used is a case study (single case, single level). Selection of informants is purposive sampling by considering variations based on the cultural background of the social context of informants. The results showed that there is meaning vary due to various factors, one of which is a factor of experience and knowledge of the informant. This study also uses the interpretive communitiesto approach, to which the audience as a member or part of a particular community as a giver of meaning is affected by social and cultural environment as well as the sharing of experiences among members of the community.]"
2015
T42832
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monika Rizkita
"ABSTRAK
Fenomena Mukbang, siaran makan, merupakan salah satu gejala dari bertukarnya praktik budaya pada masyarakat digital. Pertukaran praktik budaya membuat perubahan bagi gaya hidup, salah satunya yaitu gaya hidup prosumsi produksi dan konsumsi dalam kebiasaan makan sebagian Youtuber Indonesia. Berdasarkan studi sebelumnya, YouTube disebut sebagai sarana pertukaran praktik budaya dan konten yang disiarkan dapat memengaruhi gaya hidup penggunanya. Selain itu, studi sebelumnya mengatakan siaran makan berdampak pada konsumsi makanan yang tidak dibutuhkan. Namun, studi tersebut hanya berfokus pada dampak terhadap konsumsi saja. Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji fenomena tersebut melalui perspektif sosiologi budaya dengan menggunakan konsep komodifikasi budaya dalam fenomena Mukbang di Indonesia. Penulis beragumen, pada fenomena Mukbang di Indonesia, Youtuber sebagai prosumer melakukan komodifikasi pada video yang memperlihatkan aktivitas makannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat tiga bentuk komodifikasi yang terjadi yaitu pada cara makan, jenis makanan, dan kualitas video. Di sisi lain, dengan memerhatikan tren dan selera penonton, terdapat dampak positif maupun dampak negatif yang diterima oleh Youtuber maupun penonton. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara mendalam, observasi, serta studi literatur. Informan dalam artikel ini merupakan pengguna YouTube di Indonesia yaitu Youtuber konten Mukbang dan penontonnya, berusia 18 ndash; 29 tahun.

ABSTRACT
Mukbang phenomenon, eating broadcast, is one of the symptoms of medical treatment for the digital community. The exchange of sports with various lifestyles, one of which used the prosumption lifestyle production and consumption in the eating habits of most of Youtuber Indonesia. Based on previous studies, YouTube is referred to as a means of exchanging cultural practices and content that can enable the lifestyle of its users. In addition, a previous study said eating broadcasts had an impact on unnecessary food consumption. However, this study deals only with consumption. Therefore, the writer wanted to study the phenomenon through cultural sociology by using the concept of commodity in Mukbang phenomenon in Indonesia. The author argues, in the phenomenon Mukbang in Indonesia, Youtuber as a prosumer commodify the video that gave rise to eating activities. The results showed that there are three forms that occurred on how to eat, type of food, and video quality. On the other hand, by noticing the trends and touch of the audience, there are positive and negative ones achieved by Youtuber and the audience. This article uses qualitative methods, by collecting data from in-depth interviews, and literature studies. The informant in this article is a YouTube user in Indonesia that is Youtuber content Mukbang and its viewers, aged 18 - 29 years."
2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Debby Indriani
"Media telah menjadi salah satu agen yang paling berpengaruh dalam proses perkembangan anak. Dengan 1,86 miliar pengguna di seluruh dunia, sebagai salah satu media sosial yang cukup populer, YouTube telah menyuguhkan berbagai hiburan bagi segala usia, tidak terkecuali bagi anak-anak. Penelitian ini mengkaji bagaimana CoComelon Nursery Rhymes and Kids Songs sebagai channel dengan pelanggan terbanyak nomor tiga di YouTube (2022) menggambarkan keragaman gender dan ras, serta pengaruhnya terhadap perkembangan konsep diri anak. Oleh karena itu, tiga sampel video musik diangkat untuk diamati dan dianalisis menggunakan kerangka multimodal yang dikembangkan oleh Kress dan Van Leeuwen. Hasilnya kemudian dikaitkan dengan teori kultivasi oleh George Gerbner dan teori pembelajaran sosial oleh Bandura untuk melihat bagaimana penggambaran media pada akhirnya dapat mempengaruhi cara anak-anak dalam membuat perepsi atas diri mereka sendiri dan orang lain. Studi kualitatif ini menunjukkan bahwa terlepas dari melodi dan visualnya yang penuh warna, CoComelon menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. Dengan menampilkan beberapa tokoh non-kulit putih sebagai karakter utama dan melawan stereotipe-stereotipe gender di masyarakat, CoComelon berusaha untuk menampilkan dunia yang berbeda, dan anak-anak dapat mulai menganggapnya sebagai suatu realitas sosial. Dengan demikian, paparan jangka panjang terhadap media ini juga dapat menyebabkan anak-anak meniru apa yang mereka lihat di layar.

Media has always been an influential agent for children’s development. With approximately 1.86 billion users worldwide, as a popular social media platform, YouTube has served its audience with a wide range of entertainment, applicable to all ages, not to mention the younger audience. This study examined how CoComelon Nursery Rhymes and Kids Songs as the third most-subscribed channel on YouTube (2022), portrays gender and racial diversity and how it influences children’s self-concept development. Therefore, three sample music videos were taken to be observed and analyzed using a multimodal framework developed by Kress and Van Leeuwen. The results were then associated with the cultivation theory by George Gerbner and social learning theory by Bandura to see how media’s portrayal can eventually affect children’s way of perceiving themselves and others. This qualitative study found that despite the melody and its colorful visuals, CoComelon offered something more than mere entertainment. By featuring several non-White figures as the main characters and contesting typical gender roles, it attempted to represent the world to which the younger audiences are exposed and start thinking of it as a social reality. Thus, long-term exposure to it may also result in children imitating what they see on screen."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Husna Nabilah
"Dampak pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku masyarakat Indonesia dalam mendapatkan hiburan, salah satunya dengan memanfaatkan platform digital, seperti layanan Video-on-Demand (VOD). Salah satu bentuk layanan VOD adalah Advertising Video-on-Demand (AVoD) di mana pengguna dapat menikmati konten secara gratis dengan menonton iklan yang ditampilkan. YouTube, sebagai salah satu aplikasi AVoD yang terkenal di Indonesia, menjadi fokus penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor push, pull, dan mooring yang memengaruhi switching intention pengguna YouTube versi gratis di Indonesia ke layanan berbayar YouTube, yaitu YouTube Premium. Penelitian ini dilakukan karena rendahnya angka pengguna YouTube versi gratis yang berpindah ke YouTube Premium. Penelitian ini memanfaatkan teori push-pull-mooring (PPM) yang kerap digunakan untuk meneliti niat beralih pengguna. Responden valid penelitian ini berjumlah 476 orang yang telah berlangganan akun YouTube Premium setidaknya sekali dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif (CB-SEM) dan kualitatif (wawancara). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perceived time efficiency, social influence, switching cost, dan habit memiliki pengaruh terhadap switching intention. Sementara itu, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, dan free mentality tidak berpengaruh pada switching intention. Untuk faktor moderasi, tiga dari empat faktor mooring terbukti memoderasi beberapa faktor push dan pull terhadap switching intention. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan industri AVoD, khususnya perusahaan YouTube, dalam meningkatkan jumlah pengguna premium pada layanan mereka. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap celah penelitian pada konteks layanan freemium ke premium dengan memanfaatkan teori PPM.

The COVID-19 pandemic has affected Indonesians in ways of finding entertainment, and one is to utilize digital platforms, such as Video-on-Demand (VOD). Advertising Video-on-Demand (AVoD) is one type of VOD service where the contents are free to watch, but the users need to watch certain advertisements. This research focuses on YouTube as one of the most popular AVoD in Indonesia. The research aims to identify push, pull, and mooring factors affecting Indonesian YouTube free users’ switching intention to a paid version of YouTube, namely YouTube Premium. This particular problem needs to be studied since the number of YouTube free user that have subscribed to YouTube Premium is exceedingly low. This research utilizes push-pull-mooring (PPM) theory, which researchers have often used to assess users' switching intentions in the past. The research has 476 valid respondents who have subscribed to YouTube Premium at least once in the past year. This study was analyzed quantitatively and qualitatively using CB-SEM and interview methods. This study shows that perceived time efficiency, social influence, switching cost, and habit affect users’ switching intention. Meanwhile, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, and free mentality do not affect users' switching intention. As for the moderating factors, three of the four mooring factors were found to affect a few of the push and pull factors' relation with switching intention. With those findings, it is hoped that this research can contribute to developing the AVoD industry, especially YouTube, in increasing its premium users. It is also hoped that this research can contribute to the freemium to premium service research gap incorporating PPM theory. "
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Najwa Lathifah Ulima
"Dampak pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku masyarakat Indonesia dalam mendapatkan hiburan, salah satunya dengan memanfaatkan platform digital, seperti layanan Video-on-Demand (VOD). Salah satu bentuk layanan VOD adalah Advertising Video-on- Demand (AVoD) di mana pengguna dapat menikmati konten secara gratis dengan menonton iklan yang ditampilkan. YouTube, sebagai salah satu aplikasi AVoD yang terkenal di Indonesia, menjadi fokus penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor push, pull, dan mooring yang memengaruhi switching intention pengguna YouTube versi gratis di Indonesia ke layanan berbayar YouTube, yaitu YouTube Premium. Penelitian ini dilakukan karena rendahnya angka pengguna YouTube versi gratis yang berpindah ke YouTube Premium. Penelitian ini memanfaatkan teori push- pull-mooring (PPM) yang kerap digunakan untuk meneliti niat beralih pengguna. Responden valid penelitian ini berjumlah 476 orang yang telah berlangganan akun YouTube Premium setidaknya sekali dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif (CB- SEM) dan kualitatif (wawancara). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perceived time efficiency, social influence, switching cost, dan habit memiliki pengaruh terhadap switching intention. Sementara itu, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, dan free mentality tidak berpengaruh pada switching intention. Untuk faktor moderasi, tiga dari empat faktor mooring terbukti memoderasi beberapa faktor push dan pull terhadap switching intention. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan industri AVoD, khususnya perusahaan YouTube, dalam meningkatkan jumlah pengguna premium pada layanan mereka. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap celah penelitian pada konteks layanan freemium ke premium dengan memanfaatkan teori PPM.

The COVID-19 pandemic has affected Indonesians in way of finding entertainment, one is to utilize digital platforms, such as Video-on-Demand (VOD). Advertising Video-on- Demand (AVoD) is one type of VOD service where the contents are free to watch, but the users need to watch certain advertisements. This research focuses on YouTube as one of the most popular AVoD in Indonesia. The research aims to identify push, pull, and mooring factors affecting Indonesian YouTube free users’ switching intention to a paid version of YouTube, namely YouTube Premium. This particular problem needs to be studied since the number of YouTube free user that have subscribed to YouTube Premium is exceedingly low. This research utilizes push-pull-mooring (PPM) theory, which researchers have often used to assess users' switching intentions in the past. The research has 476 valid respondents who have subscribed to YouTube Premium at least once in the past year. This study was analyzed quantitatively and qualitatively using CB-SEM and interview methods. This study shows that perceived time efficiency, social influence, switching cost, and habit affect users’ switching intention. Meanwhile, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, and free mentality do not affect users' switching intention. As for the moderating factors, three of the four mooring factors were found to affect a few of the push and pull factors' relation with switching intention. With those findings, it is hoped that this research can contribute to developing the AVoD industry, especially YouTube, in increasing its premium users. It is also hoped that this research can contribute to the freemium to premium service research gap incorporating PPM theory.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fariz Habibie Permana
"Dampak pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku masyarakat Indonesia dalam mendapatkan hiburan, salah satunya dengan memanfaatkan platform digital, seperti layanan Video-on-Demand (VOD). Salah satu bentuk layanan VOD adalah Advertising Video-on-Demand (AVoD) di mana pengguna dapat menikmati konten secara gratis dengan menonton iklan yang ditampilkan. YouTube, sebagai salah satu aplikasi AVoD yang terkenal di Indonesia, menjadi fokus penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor push, pull, dan mooring yang memengaruhi switching intention pengguna YouTube versi gratis di Indonesia ke layanan berbayar YouTube, yaitu YouTube Premium. Penelitian ini dilakukan karena rendahnya angka pengguna YouTube versi gratis yang berpindah ke YouTube Premium. Penelitian ini memanfaatkan teori push-pull-mooring (PPM) yang kerap digunakan untuk meneliti niat beralih pengguna. Responden valid penelitian ini berjumlah 476 orang yang telah berlangganan akun YouTube Premium setidaknya sekali dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif (CB-SEM) dan kualitatif (wawancara). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perceived time efficiency, social influence, switching cost, dan habit memiliki pengaruh terhadap switching intention. Sementara itu, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, dan free mentality tidak berpengaruh pada switching intention. Untuk faktor moderasi, tiga dari empat faktor mooring terbukti memoderasi beberapa faktor push dan pull terhadap switching intention. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan industri AVoD, khususnya perusahaan YouTube, dalam meningkatkan jumlah pengguna premium pada layanan mereka. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap celah penelitian pada konteks layanan freemium ke premium dengan memanfaatkan teori PPM.

The COVID-19 pandemic has affected Indonesians in ways of finding entertainment, and one is to utilize digital platforms, such as Video-on-Demand (VOD). Advertising Video-on-Demand (AVoD) is one type of VOD service where the contents are free to watch, but the users need to watch certain advertisements. This research focuses on YouTube as one of the most popular AVoD in Indonesia. The research aims to identify push, pull, and mooring factors affecting Indonesian YouTube free users’ switching intention to a paid version of YouTube, namely YouTube Premium. This particular problem needs to be studied since the number of YouTube free user that have subscribed to YouTube Premium is exceedingly low. This research utilizes push-pull-mooring (PPM) theory, which researchers have often used to assess users' switching intentions in the past. The research has 476 valid respondents who have subscribed to YouTube Premium at least once in the past year. This study was analyzed quantitatively and qualitatively using CB-SEM and interview methods. This study shows that perceived time efficiency, social influence, switching cost, and habit affect users’ switching intention. Meanwhile, dissatisfaction, intrusiveness of advertising, perceived functional benefits, perceived emotional benefits, and free mentality do not affect users' switching intention. As for the moderating factors, three of the four mooring factors were found to affect a few of the push and pull factors' relation with switching intention. With those findings, it is hoped that this research can contribute to developing the AVoD industry, especially YouTube, in increasing its premium users. It is also hoped that this research can contribute to the freemium to premium service research gap incorporating PPM theory."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alfiza
"Kerap dianggap sebagai salah satu cara berkomunikasi, tak banyak yang menyadari bahwa humor juga ternyata erat kaitannya dengan ketidaksetaraan hubungan kekuasaan dalam hal gender. Dengan semakin cepatnya perkembangan media sosial sebagai alat komunikasi primer, saat ini mulai banyak orang mengekspresikan humor mereka melalui berbagai jenis media sosial yang ada. Ryan Higa dan Lilly Singh merupakan dua diantara banyak video blogger vlogger yang telah dikenal khalayak karena kumpulan video blog vlog bertema komedi yang mereka unggah di akun YouTube mereka masing-masing. Pada bagian analisis, konsep humor positif dan negatif dari Rod Martin digunakan untuk meneliti humor dari kedua vlogger tersebut. Dengan menggunakan analisis tekstual terhadap beberapa video yang mereka unggah, artikel ini mencoba menganalisis persamaan dan perbedaaan dari kedua vlogger dalam mengungkapkan humor positif dan negatif, serta bagaimana mereka menempatkan diri dalam hal hubungan kekuasaan gender. Hasil akhir menunjukkan bahwa kedua vlogger, terlepas dari gender mereka, ternyata mencoba mengevaluasi kembali konsep humor positif dan negatif dari Rod Martin.

Often be considered only as one of the strategies to communicate, not many people realize that humor can be imbedded with an imbalanced power relation in relation to gender. Moreover, with the rapid development of social media as a main tool for communication, multiple types of social media have been used for expressing humor. Ryan Higa and Lilly Singh are two out of many video bloggers vloggers who are famous because of their comedy video blogs vlogs in one of social media platforms, YouTube. In the analysis, positive and negative humor from Rod Martin is used as the main concept to examine the jokes from both vloggers. Using textual analysis of their vlogs, this article analyzes how both vloggers share similarities and differences in producing positive and negative humor and how they position themselves in gender power relation. The findings reveal that both vloggers, regardless their gender, re evaluate Martin rsquo s concept of positive and negative humor.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Inggita P.
"Perkembangan teknologi internet di bidang audio visual menciptakan sebuah video streaming platform yang menggeser peran TV terestrial sebagai media informasi dan hiburan. Pergeseran ini telah terlihat bukan hanya dari sisi teknologi distribusinya, tetapi juga dari sisi bisnis. Salah satu video streaming platform paling populer adalah situs Youtube, yang akan menjadi bahan penelitian dalam penulisan ini. Permasalahan yang diangkat dalam penulisan ini adalah (1) Bagaimana pengaruh pergeseran media menonton video terhadap jenis konten video, dan (2) Video seperti apakah yang sebaiknya dibuat oleh penyedia konten di Youtube. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh pergeseran media menonton video terhadap konten video dan mengetahui jenis video yang sebaiknya dibuat oleh penyedia konten di Youtube. Penulisan dilakukan dengan cara mengadakan survei sederhana. Hasilnya, didapatkan bahwa pergeseran media menonton video tidak berpengaruh terhadap jenis konten video yang sudah ada, namun pergeseran ini menciptakan jenis konten video baru. Jenis konten video baru yang muncul pada platform video streaming Youtube, seperti vlog dan webseries.

The evolution of internet technology in the field of audio-visual creating a video streaming platform which shifts the role of TV as a medium of information and entertainment. This shifting has been seen not only in terms of its distribution technology, but also from the business side. One of the most popular video streaming platform is Youtube site, which will be the subject of research in thhis paper. Issues raised in this paper are (1) How the influence of the shifting of watching video medium to the type of video content, and (2) What kind of video that should be made by the provider of the content on Youtube. The goal is to find out the shifting effect to the type of video content and to determine the type of video that should be made by the provider of the content on Youtube. The writing is done by conducting a simple survey. As a result, it was found that the shifting of media watching video does not affect the type of video content that is already there, but shift is creating new types of video content that appears on Youtube streaming video platform, such as vlog and webseries and 2 What kind of video that should be made by the provider of the content on Youtube The goal is to find out the shifting effect to the type of video content and to determine the type of video that should be made by the provider of the content on Youtube The writing is done by conducting a simple survey As a result it was found that the shifting of media watching video does not affect the type of video content that is already there but shift is creating new types of video content that appears on Youtube streaming video platform such as vlog and webseries.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>