Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 160645 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Euis Desy Mayangsari
"Fibromyalgia (FM) adalah sakit kronik yang meliputi rasa sakit yang menyebar keseluruh tubuh disertai dengan simptom lain. Pada umunya penderita fibromyalgia mengalami keluhan mudah lelah, gangguan mood, pusing, gangguan tidur dan kesulitan dalam berkonsentrasi. Simptom lain juga sering ditemukan pada penderita fibromyalgia yaitu kecemaan sakit kepala dan iritasi usus. Individu dengan fibromyalgia biasanya dilaporkan memiliki penurunan kualitas hidup, penurunan status keberfungsian, dan lebih besar harapan dalam penggunaan layanan kesehatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualiatatif. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam yang dilakukan pada 5 wanita dengan fibromyalgia dengan rentang usia 25 55 tahun. Data diambil dengan melakukan wawancara mendalam terhadap pasrtisipan yang dilakukan sebanyak dua sampai dengan tiga kali sesi wawancara setiap partisipan. Tempat dan waktu untuk melaksanakan proses wawancara adalah sesuai dengan kesepakatan antara partisipan dengan peneliti. Rentang wantu wawancara yang umum peneliti gunakan pada semua partisipan rata rata berkisar antara 45 menit sampai 1 jam. Partisipan yang diambil sejumlah 5 orang yang sebelumnya sudah dimintai informed consent yang menyatakan bahwa mereka bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan ditemukan bahwa munculnya gejala dilatar belakangi masalah yang menyebabkan trauma secara fisologis dan psikologis. Terpengaruhnya kondisi kesehatan, hubungan interpersonal, performa kerja, dan efek psikologis merupakan bagian dari kualitas yang rata-rata mengalami penurunan pada partisipan.

Fibromyalgia (FM) is a chronic illness that includes pain that spreads throughout the body accompanied by other symptoms. In general, fibromyalgia sufferers experience complaints of fatigue, mood disorders, dizziness, sleep disorders, and difficulty concentrating. Another symptom is also often found in people with fibromyalgia, which are numbness, headache, and intestinal irritation. Individuals with fibromyalgia are usually reported to have decreased quality of life, decreased status of functioning, and greater expectations in the use of health services. This research was carried out using a qualitative method. The method used was in-depth interviews conducted on 5 women with fibromyalgia with an age range of 25-55 years old. Data was taken by conducting in-depth interviews with participants in two to three interview sessions for each participant. The place and time to carry out the interview process are in accordance with the agreement between the participants and the researcher. The range of interviews that researchers commonly use in all participants ranged from an average of 45 minutes to 1 hour. Participants were taken by a number of 5 people who had previously been asked for informed consent stating that they were willing to participate in this study. Based on the findings and discussion, it was found that the appearance of symptoms was caused by problems that caused trauma physiologically and psychologically. The influence of health conditions, interpersonal relationships, work performance, and psychological effects is part of the quality that on average has decreased in participants."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
T52312
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhira Komala Nurbani
"Fibromyalgia syndrome merupakan kondisi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dengan gejala yang beragam dan tumpang-tindih dengan penyakit lain.
Gejala utama yang dirasakan penyandang adalah nyeri di sekujur tubuh yang telah berlangsung lama (Mansfield et al., 2017), disertai kelelahan yang hebat (fatigue) dan keluhan-keluhan somatik, afektif, dan kognitif (Purwata, 2018). Penelitian ini bertujuan mengetahui peranan dukungan sosial dan kepercayaan interpersonal terhadap kualitas hidup penyandang fibromyalgia di Indonesia. Partisipan merupakan penyandang fibromyalgia berjumlah 33 orang yang diperoleh dari media sosial. Alat ukur yang dipergunakan antara lain The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL)-BREF versi Indonesia (World Health Organization, 1998), modifikasi dari Medical Outcomes Study – Social Support Survey (MOS-SSS) (Sherbourne & Stewart, 1991), dan Kepercayaan Interpersonal. Pengolahan data menggunakan teknik analisis regresi berganda dengan perangkat Jamovi. Pada hasil analisis, ditemukan bahwa dukungan sosial dan kepercayaan interpersonal tidak berperan signifikan terhadap kualitas hidup penyandang fibromyalgia di Indonesia, baik secara parsial maupun simultan.

Fibromyalgia syndrome (FMS) is a condition often encountered in everyday life, where the symptoms exhibit variation and can be encountered in other disorders that may overlap with fibromyalgia. The main symptom is chronic widespread pain (Mansfield et al., 2017), with intense tiredness (fatigue) and somatic, affective, and cognitive complaints (Purwata, 2018). This study aims to determine the role of social support and interpersonal trust in the quality of life of 33 Indonesian fibromyalgia survivors from social media. The instruments were the Indonesian version of The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL)-Bref (World Health Organization, 1998), a modification of the Medical Outcomes Study – Social Support Survey (MOS-SSS) (Sherbourne & Stewart, 1991), and Interpersonal Trust Scale. Multiple regression analyses were used with Jamovi program. This study found that social support and interpersonal trust did not play a significant role in the quality of life of Indonesian fibromyalgia survivors, partially and simultaneously."
2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sudirman
"ABSTRAK
Angka kejadian kanker payudara di Indonesia tertinggi diantara jenis kanker pada
wanita dengan prevalensi nyeri diperkirakan 40-89%. Tujuan penelitian ini adalah
mengembangkan model pengelolaan nyeri berbasis kenyamanan dengan strategi
coaching dan mengidentifikasi pengaruhnya terhadap derajat nyeri, kenyamanan, dan
kualitas hidup pasien kanker payudara. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap,
yaitu tahap 1 berupa penelitian deskriptif kualitatif dan pengembangan model, serta
tahap 2 berupa penelitian kuasi eksperimen pre-post test control group design.
Metode sampling tahap 1 digunakan purposive sampling dengan 11 partisipan. Tahap
2 sampel dipilih secara consecutive sampling dengan jumlah 64 responden (32 pasien
kelompok intervensi dan 32 pasien kelompok kontrol). Hasil penelitian tahap satu
teridentifikasi 12 tema dan dihasilkan model pengelolaan nyeri berbasis kenyamanan
beserta perangkatnya. Hasil penelitian tahap dua membuktikan bahwa ada pengaruh
yang signifikan dari model pengelolaan nyeri berbasis kenyamanan dengan strategi
coaching terhadap penurunan derajat nyeri, peningkatan kenyamanan, peningkatan
status fungsional dan perbaikan status gejala pasien kanker payudara. Namun, tidak
ada pengaruh pada status kesehatan/kualitas hidup global. Rekomendasi penelitian
hendaknya perawat menerapkan model pengelolaan nyeri berbasis kenyamanan
sebagai bentuk nyata pengelolaan nyeri kanker secara holistik dalam pelayanan
keperawatan.

ABSTRACT
Incidence of breast cancer in Indonesia is still the highest among the other type of
cancer deseases on women with the prevalence of pain estimated from 40 ? 89
per cent. The purpose of this research was to develop model of pain management
based on comfort with coaching strategy and identify its effect on pain severity,
comfort, and quality of life patient breast cancer. This study was conducted in two
stages. The first stage was descriptive qualitative research and the development of
model. The second stage was quasi-experimental research with pre - post test control
group design. The sampling method that used to stage 1 was purposive sampling
with 11 partisipants. Sampling method on stage 2 this study was consecutive
sampling with 64 breast cancer patients (32 respondents as intervention group and 32
respondents as control group). The first stage of the study resulted 12 themes and has
resulted the model of pain management based on comfort and its devices. The second
stage of research proved that there were significance effects from the model of pain
mnagement based on comfort with coaching strategy toward decreasing pain
severity, increasing comfort and functional status, and repairing symptom status for
breast cancer patients. However, there was no effect on global health status/quality of
life. This study recommends that nurse should apply the model of pain management
based on comfort as a concrete holistic cancer pain management in setting practice of
nursing care."
2016
D2210
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isni Prihatini Noviansjah
"Latar Belakang: Rheumatoid arthritis merupakan kondisi nyeri yang menyakitkan dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan penderitanya, seperti fisik, psikologis, dan psikososial. Nyeri yang dialami penderita ini dapat membuatnya merasa lemah dan kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari. Dampak paling buruk yang dialami oleh penderita rheumatoid arthritis ialah pengaruh negatifnya terhadap kualitas hidupnya.
Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian manajemen nyeri dengan intervensi multi-component cognitive behavioral therapy (CBT) dalam meningkatkan kualitas hidup pada penderita rheumatoid arthritis.
Metode: Dua orang partisipan yang menderita rheumatoid arthritis diberikan intervensi multi-component cognitive behavioral therapy (CBT) sebanyak enam kali pertemuan. Intervensi ini terdiri dari identifikasi masalah dan sharing mengenai penyakit yang dialami, psikoedukasi, latihan relaksasi, self monitoring, dan restrukturisasi pikiran negatif. Pengukuran efektivitas dilakukan dengan metode pretest-posttest menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) untuk melihat perubahan skor intensitas nyeri yang dialami dan Rheumatoid Arthritis Quality of Life (RAQoL) untuk melihat perubahan skor kualitas hidup.
Hasil: Kedua partisipan mengalami peningkatan kualitas hidup seiring dengan menurunnya intensitas nyeri yang dirasakan setelah mengikuti manajemen nyeri dengan intervensi multi-component cognitive behavioral therapy (CBT) ini. Hasil penelitian secara kualitatif juga menunjukkan bahwa latihan relaksasi merupakan teknik yang paling bermanfaat bagi kedua partisipan untuk menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan.
Kesimpulan: Intervensi multi-component cognitive behavioral therapy (CBT) efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pada penderita rheumatoid arthritis.

Background: Rheumatoid arthritis is a painful condition which is painful and affects many aspects of life of sufferers, such as physical, psychological, and psychosocial. Pain experienced by the patient can make her feel weak and difficulties in daily activities. The worst impacts experienced by people with rheumatoid arthritis are negative effects on quality of life.
Purpose: To know the effectiveness of pain management with intervention multicomponent cognitive behavioral therapy (CBT) to improve quality of life in patients with rheumatoid arthritis.
Methods: Two patients with rheumatoid arthritis as participants given intervention multi-component of cognitive behavioral therapy (CBT) as many as six sessions. This intervention consists of identifying problems and sharing about disease experienced, psychoeducation, relaxation training, self-monitoring, and restructuring negative thoughts. Effectiveness measurement was conducted using a pretest-posttest using the Numerical Rating Scale (NRS) to see the change in pain intensity scores experienced and Rheumatoid Arthritis Quality of Life (RAQoL) to see the change in quality of life scores.
Results: Both participants experienced improved quality of life along with a decrease in the intensity of pain experienced after following pain management with multi-component intervention of cognitive behavioral therapy (CBT). Qualitative research results also show that the relaxation exercise is the most beneficial technique for both participants to reduce the perceived pain intensity.
Conclusions: Interventions multi-component cognitive behavioral therapy (CBT) is effective to improve the quality of life in patients with rheumatoid arthritis.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T34837
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rana Jumana
"Psoriasis merupakan penyakit kulit yang bersifat kronis dan kambuhan. Psoriasis berdampak terhadap kondisi psikologis dan kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres, ansietas dan depresi dengan kualitas hidup di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat dekriptif dengan metode cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 53 responden yang diambil melalui non probality sampling dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner Depression, Anxiety and Stress Scale (DASS-21) dan Dermatology Life Quality Index (DLQI). Analisis menggunakan Kendall’s Tau dan T- test dengan hasil yang menujukkan adanya hubungan yang kuat (p<0.001<0,05) antara stres, ansietas dan depresi dengan kualitas hidup. Selain itu juga ditemukan ada hubungan yang lemah antara sebagian karakteristik pasien dengan kualitas hidup. Penelitian ini merekomendasikan agar adanya peningkatan asuhan keperawatan yang holistik tertutama dari aspek psikologis agar mampu meningkatkan kualitas hidup pasien psoriasis.

ABSTRACT
Psoriasis is a skin disease that is chronic and recurring. Psoriasis affects the psychological condition and quality of life of the sufferer. This study aims to determine the correlation between stress, anxiety and depression with the quality of life in Dr. Hasan Sadikin Bandung. This research is descriptive with cross sectional method. The research sample was 53 respondents who were taken through non-probability sampling with accidental sampling technique. The research instrument used the Depression, Anxiety and Stress Scale (DASS-21) questionnaire and the Dermatology Life Quality Index (DLQI). The analysis used Kendall's Tau and T-test with results showing a strong correlation (p <0.001 <0.05) between stress, anxiety and depression with quality of life. It was also found that there was a weak correlation between some patient characteristics and quality of life. This study recommends an increase in holistic nursing care, especially from a psychological aspect, in order to improve the quality of life for psoriasis patients.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isya Hanin
"Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan alat ukur kemampuan mastikasi serta menganalisa hubungan antara kemampuan mastikasi dengan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut pada pra-lansia dan lansia wanita yang hidup di suatu komunitas.
Latar belakang : Kehilangan gigi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pra-lansia dan lansia yang dapat mempengaruhi fungsi mastikasi. Penilaian fungsi mastikasi dapat dilakukan secara subyektif maupun obyektif. Penilaian mastikasi secara subyektif perlu dilakukan untuk menilai persepsi individu terhadap kemampuan mastikasinya. Alat ukur berupa kuesioner merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan mastikasi. Kemampuan mastikasi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam fungsi stomatognatik dan pada kesehatan individu secara umum.
Metode : Subjek penelitian adalah 165 wanita usia 45 tahun ke atas yang berdomisili di kecamatan Bekasi Timur, kotamadya Bekasi, Jawa Barat. Subyek diminta untuk menjawab kuesioner kemampuan mastikasi dan kuesioner dampak kesehatan gigi dan mulut terhadap kualitas hidup. Dilakukan pemeriksaan intraoral untuk melihat jumlah gigi sisa, serta kontak antara gigi-geligi asli.
Hasil: Didapat suatu alat ukur kemampuan mastikasi berupa kuesioner yang valid dan reliabel dengan indeks Eichner sebagai baku emas. Dari analisis ditemukan hubungan signifikan antara kemampuan mastikasi dengan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut.
Kesimpulan : Alat ukur berupa kuesioner dapat digunakan untuk menilai kemampuan mastikasi. Kemampuan mastikasi merupakan fungsi stomatognatik yang penting dan dapat mempengaruhi kualitas hidup ditinjau dari aspek kesehatan gigi dan mulut.

Objective : The purpose of this study is to obtain masticatory assessment tool and to analyze the relationship between masticatory ability with oral health-related quality of life in preelderly and elderly women in a community.
Background : Tooth loss is a condition frequently found in pre-elderly and elderly which affects masticatory function. Masticatory function can be assessed subjectively or objectively. The assessment of subjective masticatory function is needed to evaluate an individual's perception of his/her masticatory ability. One of the methods to evaluate masticatory ability is by using assessment tool in questionnaire format. Masticatory ability is one of the factors that affect stomathognatic function and health in general.
Method : Subjects consist of 165 women age 45 and beyond, living in Bekasi Timur, West Java. Subjects were interviewed using masticatory ability and oral health-related quality of life questionnaires. Intraoral examination was carried out to see numbers of existing teeth and occlusal contact between the teeth.
Results : A valid and reliable masticatory ability assessment tool with Eichner index as golden standard was acquired. Statistical analysis showed a significant relation between masticatory ability and oral health-related quality of life in pre-elderly and elderly women.
Conclusion : An assessment tool in questionnaire format can be used to evaluate masticatory ability. Masticatory ability is an important aspect of stomathognatic function that affects oral health-related quality of life in pre-elderly and elderly women.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T40823
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rifa Astari Gumay
"Latar belakang: Gangguan sendi temporomandibula dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Belum ada penelitian yang membahas hubungan gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup khususnya dengan menggunakan indeks OHIP-TMD-ID dan ID-TMD di Indonesia.
Tujuan: Menganalisis hubungan gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup, hubungan gangguan sendi temporomandibula dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tingkat ekonomi, hubungan kualitas hidup dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tingkat ekonomi.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode potong lintang pada 115 subjek berusia 20-40 tahun dari pasien Klinik Integrasi RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dilakukan pencatatan data diri subjek dan wawancara untuk pengisian kuesioner ID-TMD dan OHIP-TMD-ID.
Hasil penelitian: uji analisis Man-Whitney menunjukan perbedaan bermakna yang signifikan antara gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup. Namun, tidak terdapat perbedaan bermakna yang signifikan antara kualitas hidup dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi. Hasil uji analisis Chi Square menunjukan tidak perbedaan bermakna yang signifikan antara gangguan sendi temporomandibula dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi.
Kesimpulan: Penderita gangguan sendi temporomandibula mengalami penurunan kualitas hidup dari aspek nyeri orofacial.

Background: Temporomandibular disorders may have an impact on quality of life. No studies have been done to analyze relationship between temporomandibular disorders and quality of life in particular by using OHIP TMD ID and ID TMD in Indonesia.
Objectives: To analyze the relationship between temporomandibular disorder and quality of life, temporomandibular disorder and sociodemographic factors age, gender, education level economic level, quality of life and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level.
Methods: Cross sectional study was conducted on 115 subjects aged 20 40 years from patients at Integration Clinic of RSGM FKG UI. Subject rsquo s personal data were obtained and interview for ID TMD questionnare and OHIP TMD ID questionnare were conducted.
Results: Man Whitney test showed significant differences between temporomandibular disorders and quality of life. However, there are no significant differences between the quality of life and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level. Chi Square test showed no significant differences between temporomandibular disorders and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level.
Conclusion: Temporomandibular disorders patients suffered from impaired orofacial pain related quality of life. Keywords temporomandibular disorder, quality of life, OHIP TMD ID, ID TMD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marshellia Setiawan
"Pendahuluan: Endometriosis merupakan salah satu kondisi ginekologi yang sering dijumpai. Nyeri dapat mengganggu keseharian penderita endometriosis dan menurunkan kualitas hidup. Terapi untuk nyeri endometriosis yang terdiri dari hormon, non hormon, dan pembedahan, memiliki risiko dan efek samping. Akupunktur telah terbukti mengurangi nyeri endometriosis melalui efek analgesik, menurunkan estradiol, memodulasi neurotransmiter, memperkuat sel imun, dan mengurangi inflamasi. Akupunktur tanam benang (ATB) memiliki keuntungan yaitu stimuli kontinu titik akupunktur sehingga dapat mengurangi frekuensi kunjungan ke dokter. ATB telah terbukti efektif pada berbagai penyakit, namun efek ATB pada kasus endometriosis masih jarang dipublikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek dari kombinasi ATB dengan terapi standar pada endometriosis.
Metode: Penelitian ini merupakan suatu uji klinis pretest-posttest satu kelompok yang dilakukan pada pasien endometriosis di unit rawat jalan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dari bulan Desember 2023 sampai Mei 2024. Subjek penelitian adalah yang telah mengkonsumsi dienogest sebagai terapi standar untuk nyeri endometriosis selama minimal 1 bulan, namun masih mengalami nyeri dengan skor Numeric Rating Scale (NRS) ≥ 4. Subjek kemudian mendapatkan terapi ATB sebanyak satu kali, yang dikombinasikan dengan dienogest sebagai terapi standar selama 8 minggu. Luaran yang dinilai adalah intensitas nyeri dengan skor NRS, serta skor kualitas hidup dengan kuesioner Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Skor dasar NRS dan EHP-30 saat subjek hanya mendapat terapi standar, dibandingkan dengan skor NRS dan EHP-30 4 dan 8 minggu setelah mendapat kombinasi ATB dengan terapi standar. Hasil: Terdapat penurunan rerata skor NRS yang signifikan dari sebelum terapi (5,25 ± 1,16) hingga 4 minggu setelah terapi (1,84 ± 2,09; p = 0,001) dan 8 minggu setelah terapi (1,47 ± 2,04; p < 0,001). Terdapat penurunan rerata skor EHP-30 yang signifikan pada subskala nyeri dari sebelum terapi (43,18 ± 23,93) hingga 4 minggu setelah terapi (25,85 ± 22,36; p = 0,039) serta subskala kontrol dan rasa tidak berdaya dari sebelum terapi (45,83 ± 30,54) hingga 4 minggu setelah terapi (25,52 ± 25,24; p = 0,035). Penurunan skor EHP-30 setelah 4 minggu terapi bermakna secara klinis pada subskala nyeri, kontrol dan rasa tidak berdaya, serta kesehatan mental; sementara setelah 8 minggu terapi bermakna secara klinis pada seluruh subskala. Kesimpulan: Kombinasi ATB dengan terapi standar dapat menurunkan intensitas nyeri endometriosis 4 minggu setelah terapi dan bertahan hingga 8 minggu; serta meningkatkan kualitas hidup penderita endometriosis pada aspek nyeri serta kontrol dan rasa tidak berdaya 4 minggu setelah terapi.

Introduction: Endometriosis is a common gynecologic condition in everyday practice. Pain in endometriosis can be disabling, thus reducing quality of life. Management strategy for pain in endometriosis includes hormones, non-hormonal therapy, and surgery; each one has its own risks and side effects. Acupuncture has been proven to be effective in reducing endometriosis-related pain through its analgesic effect, modulating estradiol and neurotransmitters, enhancing immune cells, and reducing inflammation. Thread embedding acupuncture (TEA) has advantage in term of continuous stimulation of acupuncture points, thereby reducing frequency of visits to doctor. TEA has been proven to be effective in various medical condition, but still not much explored in endometriosis publications. This study was conducted to analyze the effect of TEA combination with standard therapy on endometriosis.
Methods: This study was a one group pretest-posttest clinical trial conducted on RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo outpatient endometriosis patients from December 2023 until May 2024. Subjects included in this study had been consuming dienogest as standard therapy for endometriosis pain at least for 1 month, but still felt pain with Numeric Rating Scale (NRS) score ≥ 4. Subjects then went through TEA once, combined with dienogest as standard therapy for 8 weeks forward. Outcomes assessed were pain intensity using NRS score and quality of life score using Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Baseline NRS and EHP-30 scores when subjects only received standard therapy, were compared with 4 and 8 weeks after subjects went through the combination of TEA with standard therapy.
Result: There were significant decline in mean NRS scores from baseline (5,25 ± 1,16) to 4 weeks after therapy (1,84 ± 2,09; p = 0,001) and 8 weeks after therapy (1,47 ± 2,04; p < 0,001). There were significant decline in mean EHP-30 scores on pain subscale from baseline (43,18 ± 23,93) to 4 weeks after therapy (25,85 ± 22,36; p = 0,039), control and powerlessness subscale from baseline (45,83 ± 30,54) to 4 weeks after therapy (25,52 ± 25,24; p = 0,035). EHP-30 score declines in 4 weeks after therapy were clinically meaningful on subscales : pain, control and powerlessness, mental health; 8 weeks after therapy : on all subscales. Conclusion: Combination of TEA with standard therapy could decrease endometriosis pain intensity 4 weeks after therapy and remained until 8 weeks; and could improve quality of life in pain and control & powerlessness aspects 4 weeks after therapy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ainun Intan Pradipta
"Kanker merupakan penyakit kronik yang menjadi penyebab kematian utama kedua di dunia. Dampak kanker dapat mempengaruhi fisik dan psikologis yang berpengaruh pada nilai kualitas hidup pasien kanker. Penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan hubungan antara gangguan psikologis (depresi, ansietas dan stres) dengan kualitas hidup pada pasien kanker. Metode dalam penulisan ini ialah telaah literatur dengan menggunakan prinsip Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses. Penelusuran jurnal dilakukan melalui database Pubmed, Clinical Key, Wiley Online Library, Sciencedirect, SAGE journals, dan Google Scholar. Analisis bias artikel dilakukan oleh dua reviewer dengan menggunakan The Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist. Hasil analisa pada enam belas jurnal didapatkan mayoritas pasien kanker mengalami depresi, ansietas dan stres serta mengalami penurunan kualitas hidup. Terdapat hubungan yang signikan antara depresi, ansietas dan stres dengan kualitas hidup pada pasien kanker.

Cancer is a chronic disease that is the second leading cause of death in the world. The impact of cancer can affect the physical and psychological factors that affect the quality of life of cancer patients. This article discusses the strenght of the relationship between psychological disorders (depression, anxiety, and stress) with quality of life in cancer patients. The method in this article is a literature review using the principles of Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses. Journals traced through the Pubmed, Clinical Key, Wiley Online Library, Sciencedirect, SAGE journals, and Google Scholar databases. The article bias analysis was assessed by two reviewers using The Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist. The results from analysis the journals obtained by patients experienced an increase in depression, anxiety, and stress and had decreased quality of life. There is a significant relationship between depression, anxiety, and stress with the quality of life in cancer patients."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmat Kurniawan
"Adanya Pandemi Covid-19 sejak tahun 2019 memberikan dampak yang luas, termasuk mempengaruhi kualitas hidup ODHA yang memiliki sistem imun yang lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial, spiritualitas dan stres dengan kualitas hidup ODHA selama pandemi COVID-19. Desain penelitian ini adalah analisis cross sectional dengan jumlah 322 sampel menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan sosial (p=0,001), tingkat spiritualitas (p=0,04), dan tingkat stres (0,02) dengan kualitas hidup ODHA selama pandemi COVID-19. Faktor yang paling dominan mempengaruhi adalah tingkat spiritualitas, dimana ODHA dengan tingkat spiritualitas yang rendah akan berisiko mengalami kualitas hidup yang rendah 1,867 kali lebih besar dibandingkan ODHA dengan tingkat spiritualitas yang tinggi, setelah dikontrol variabel tingkat stres, penghasilan tetap bulanan, riwayat perilaku beresiko HIV/AIDS, lama terdiagnosis HIV/AIDS, riwayat putus obat ARV selama pandemi COVID-19 dan status pekerjaan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah memberikan intervensi dalam bentuk dukungan sosial ataupun spiritualitas, seperti melibatkan keluarga atau lingkungan terdekat serta diskusi secara daring dengan mereka guna menjaga kualitas hidup ODHA tetap terjaga di masa pandemi COVID-19.

The Covid-19 pandemic in 2019 has had a wide impact, including affecting the quality of life of ODHA which has a weak immune system. This study aims to find out the relationship between social support, spirituality and stress with the quality of life of ODHA during the COVID-19 pandemic. The design of this study is cross sectional analysis with a total of 322 samples using purposive sampling techniques. The results showed a meaningful relationship between social support (p=0.001), spirituality level (p=0.04), and stress level (0.02) with the quality of life of ODHA during the COVID-19 pandemic. The most dominant factor influencing is the level of spirituality, whereby ODHA with a low level of spirituality will be at risk of experiencing a low quality of life 1,867 times greater than ODHA with a high level of spirituality, after controlled variable stress levels, monthly fixed income, a history of behavior at risk of HIV/AIDS, long diagnosed HIV/AIDS, a history of ARV drug breakups during the COVID-19 pandemic and employment status. The recommendations of this study are to provide interventions in the form of social support or spirituality, such as involving family or nearby environments as well as online discussions with them to maintain the quality of life of ODHA maintained during the COVID-19 pandemic."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>