Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1546 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Khoirun Nimah
"Sebagai salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, Appendisitis akut merupakan kasus bedah terbesar ke-3 di RS "X". Pada tahun 2012, CP merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam standar akreditasi rumah sakit. Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan Komite Medik 2017 , telah dilakukan evaluasi implementasi CP Apendistis akut dari sisi kendali mutu. Sedangkan sebagai kendali biaya, belum pernah dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode Mix Methods. Sampel kuantitatif adalah rekam medis Appendisitis akut secara total sampling Juli 2016 ndash; Juni 2017, n=35. Sampel kualitatif adalah orang-orang yang terlibat implementasi CP Appendisitis akut dengan teknik purposive sampling.Dalam penelitian ini terdapat perbedaan antara tagihan pasien yang sesuai CP dan tidak sesuai CP, selisih antara tagihan total sesuai clinical pathway dan rata-rata tagihan total pasien paling besar ditemukan pada pasien kelas II sebesar 176 , sedangkan pada kelas III sebesar 65 dan kelas I sebesar 83. Besarnya selisih pada variabel outcome disebabkan oleh kepatuhan clinical pathway Variabel Output sebesar: 37 pasien untuk lama hari rawat, 94 pasien untuk tatalaksana medis, 29 pasien untuk medikasi dan pemeriksaan penunjang, 36 untuk konsultasi anastesi. Kepatuhan clinical pathway 100 hanya pada pemantauan medis dan nutrisi.

Acute Appendicitis is the 3rd largest surgical case in RS X. In 2012, Clinical Pathway is one of the requirements that must be met in the hospital 39 s accreditation standards. An evaluation of the implementation of Acute Appendicitis pathway has been conducted in terms of quality control. As for cost control, it has never been done.This research use Mix Methods. The quantitative sample is the medical record of Acute Appendicitis in total sampling July 2016 June 2017, n 35. In depth interviews to staffs who involved in the implementation of clinical pathway of acute appendicitis by purposive sampling technique.There is difference of patients bill between comply with and not comply with the clinical pathway. The difference between total bill according to the clinical pathway and the average total patient billing rate in class II patients was 176 , while in class III was 65 and class I was 83. The magnitude of the outcome variables was attributed to clinical pathway compliance 37 of patients for length of stay, 94 of patients for medical management, 29 for medication and investigation, 36 for anesthesia consultation. 100 clinical pathway compliance was found in medical monitoring and nutrition."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
T52035
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldila Rosalina
"Biaya pengobatan semakin meningkat akibat inflasi dan teknologi yang semakin maju, maka clinical pathway adalah alat yang tepat sebagai kendali mutu dan biaya. Adanya clinical pathway seksio sesarea di RS Awal Bros Tangerang tetap menimbulkan variasi terapi yang berakibat pada variasi tagihan, oleh karena itu clinical pathway yang ada perlu direvisi.Tesis ini membahas faktor - faktor yang mempengaruhi variasi tagihan seksio sesarea selama bulan Desember 2013 - Februari 2014 di Rumah Sakit Awal Bros Tangerang yang hasilnya digunakan untuk merevisi isi clinical pathway seksio sesarea yang sudah ada. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional dengan pengambilan data secara crosseksional dengan metode kuantitatif dilanjutkan kualitatif. Hasil penelitian mendapatkan clinical pathway baru yang sesuai dengan bukti praktek klinis terbaik dengan biaya paling efisien. Diperlukan dukungan semua pihak terutama dokter spesialis untuk mematuhi clinical pathway yang baru . Variasi tagihan seksio sesarea dipengaruhi jenis pembiayaan, kelas perawatan, tindakan tambahan selain seksio sesarea.

Increased cost of treatment due to inflation and increasingly advanced technology, the clinical pathways is an appropriate tool as a quality control and cost. The presence of clinical pathways Caesarean section in Awal Bros Hospital Tangerang still cause variations in treatment that result in variations in the bill, therefore existing clinical pathways need ti revised.Tesis discusses factors that affect variation in cesarean bill during December 2013-February 2014 in Awal Bros Hospital Tangerang the results are used to revise the content of clinical pathways existing Caesarean section. The design used in this study is observational data retrieval crossectional the continued qualitative quantitative methods. The results of the study to get a new clinical pathways according to the best evidence of clinical practice with the most efficient cost. Required the support of all multidisiciplin team, especially the obstetrician to comply with the new clinical pathway. Variation bill Caesarean section affected by types of patient financing, class of treatment, additional action other than section sesarea.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T41638
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Doso Sutiyono
"Kesehatan adalah hak fundamental setiap warga sehingga negara bertanggung jawab untuk mengaturnya. Pemerintah dengan program Jamkesmas menjamin pembiayaan masyarakat miskin dengan perhitungan biaya berdasar sistem pembiayaan INA-CBG. Kraniotomi termasuk 3 terbanyak tindakan medik operatif pasien Jamkesmas tahun 2011 di RSUP dr. Kariadi. Terdapat perbedaan pengelompokan dan perbedaan biaya kraniotomi berdasar INA - CBG dan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Clinical pathway kraniotomi belum ada di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Tujuan penelitian ini adalah menyusun clinical pathway dan menganalisa biaya kraniotomi berdasar tarif paket INA CBG di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2012. Data primer yang didapatkan meliputi : jumlah dan identitas pasien Jamkesmas yang menjalani tindakan kraniotomi pada tahun 2012, hasil wawancara dan wawancara mendalam, hasil wawancara dalam fokus grup diskusi, hasil pengamatan langsung pada saat kraniotomi dilakukan. Data sekunder didapatkan dari dokumen rekam medis pasien Jamkesmas yang menjalani tindakan kraniotom pada tahun 2012. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu formulir penelitian, pedoman wawancara, data biling tagihan keuangan pasien Jamkesmas yang menjalani kraniotomi, dan pedoman diskusi grup.
Berdasar diagnosis utama, diagnosis penyerta dan penyulit, tingkat kesadaran, lokasi dan besar neplasma / perdarahan, tersusun 6 clinical pathway kraniotomi yaitu : kranitomi ringan trauma, kraniotomi ringan non trauma, kraniotomi sedang trauma, kraniotomi sedang non trauma, kraniotomi berat trauma, dan kraniotomi berat non trauma. Cost of treatment tindakan kraniotomi di RSUP Dr. Kariadi untuk kelompok kraniotomi ringan Rp. 22.627.449,00, kraniotomi sedang Rp. 27.589.090,00, dan kraniotomi berat Rp. 46.372.634,00. Terdapat selisih antara cost of treatment tindakan kraniotomi berdasar tarip INA CBG dan RSUP DR. Kariadi Semarang. Selisih biaya untuk kraniotomi ringan Rp. 18.715.922,80, kraniotomi sedang Rp. 22.066.987,50, dan untuk kraniotomi berat Rp. 39.827.762,99.

Right to health is a one of basic human rights, and it’s an obligation for the government that every citizens have it equally.The Indonesian government with its social program guarantee the cost of health expenditure for the poor named INA CBG payment scheme. One of the top 3 most performed medical surgery with the Jamkesmas social insurance payment at Kariadi hospital in 2011 was craniotomi. There’s differences in grouping and cost in craniotomi procedure if we compare between INA CBG medical expenditure plan with Kariadi hospital. Kariadi hospital don’t have clinical pathway on craniotomi.
The goal of this research is to make a clinical pathway on craniotomi and to analyze the craniotomi expenditure plan based on INA CBG for Kariadi hospital in 2012. The primary data will be patients with Jamkesmas social insurance that had craniiotomi procdure in 2012, deep and structured interviewed on focus group discussion, direct observation when craniotomi’s were performed. Secondary data was medical records on patients with jamkesmas social insurance that had craniotomi in 2012. The research instruments are research form, deep and structured interview guidance and discussion group protocol.
Based on primary diagnosis, complimentary diagnosis, the difficulty level, the degree of conciuosness, location and the degree of bleeding/ the size of the neoplasma, we managed to make 6 clinical pathway on craniotomi procedures which are mild trauma craniotomi, mild non trauma craniotomi, intermediate trauma craniotomi, intermediate non trauma craniotomi, severe trauma craniotomy, and severe non trauma craniotomy. The cost of treatment of mild craniotomi in Kariadi hospital was Rp. 22.627.449,00, intermediate craniotomi was Rp. 27.589.090,00, while severe craniotomy was Rp. 46.372.634,00. There were differences cost of treatments on craniotomy procedure between INA CBG and Kariadi hospital which were : for mild craniotomy Rp. 18.715.922,80, intermediate craniotomy Rp. 22.066.987,50, and severe craniotomi Rp. 39.827.762,99.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T41923
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Faisal
"Clinical Pathway di rumah sakit merupakan pedoman yang mencakup semua aktivitas dari pasien masuk hingga keluar rumah sakit. Tesis ini membahas mengenai pengaruh clinical pathway terhadap lama hari rawat dan biaya resep pasien di RS IMC. Penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif dengan desain studi kasus analisis deskriptif. Hasil penelitian menggambarkan tahapan proses implementasi clinical pathway di RS IMC dimulai dengan perencanaan, pembentukan tim, penyusunan draft formulir clinical pathway, sosialisasi, uji coba hingga implementasi; serta terjadi penurunan lama hari rawat dan biaya resep pasien hernia inguinalis akibat pengaruh implementasi clinical pathway di RS IMC Bintaro.

Clinical Pathway in the hospital is a guideline which includes all activities from admission until hospital discharge. This thesis discusses the effect of clinical pathways towards length of stay and cost of prescription patient in IMC hospital. This study is a qualitative and quantitative, analysis of a descriptive case study design. Results of the study illustrate the stages of the process of implementing clinical pathways in IMC Hospital that begins with planning, team building, clinical pathways form drafting, dissemination, trial and implementation; as well as a decline in length of stay and cost of prescription inguinal hernia patients due to the effect of the implementation of clinical pathways in IMC Hospital.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Awalia Yulianto
"Morbiditas dan mortalitas apendisitis akut disebabkan karena perkembangan apendisitis akut menjadi perforasi apendiks. Hal-hal yang menyebabkan kerentanan apendiks belum banyak diteliti dan belum diketahui sebab pastinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memprediksi terjadinya perforasi apendiks. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol menggunakan data sekunder berupa rekam medis penderita apendisitis akut dewasa tahun 2013-2014 dengan jumlah kasus (perforasi apendiks) 36 dan kontrol (non perforasi) 93. Analisis data yang dilakukan meliputi deskriptif, chi square, receiver operating characteristic, dan regresi logistik multivariat. Dua faktor prediksi yang bermakna sebagai faktor prediksi perforasi apendiks dalam analisis regresi logistik multivariat adalah suhu badan diatas 37,50C dengan odds ratio (OR) 7,54 (95% CI 2,01; 28,33), jumlah leukosit diatas 11.500/mm3 dengan OR 12,12 (95% CI 4,03; 36,48) Perlu validasi pemeriksaan suhu badan di RS, penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor prediksi lainnya, persiapan operasi segera untuk pencegahan komplikasi perforasi apendiks, dan pemberian informasi ke masyarakat bahwa sakit perut dapat bersifat gawat darurat.

Appendix perforation is the causation for acute appendicitis morbidity and mortality. Factors that may cause appendix vulnerability has not been extensively studied before and the main cause is still yet unknown. The goal of this study is to analyze what factors that could be used to predict appendix perforation. This study is a case control study using 2013-2014 medical records as data. Case group pooled from 36 perforated appendix adult (above 15 years old) patients, while control group pooled from 93 non perforated appendix adult patients. Data analysis conducted are descriptive, chi square, receiver operating characteristic, and multivariate logistic regression. There are two prediction factors which significantly associated with perforated appendix. Those are body temperature above 37,50C with odds ratio (OR) 7,54 (95% CI 2,01; 28,33), and leucocytes count above 11.500/mm3 with OR 12,12 (95% CI 4,03; 36,48). Further studies and body temperature validation on each hospital are needed to find other prediction factors, preparing pre operative equipment for immediate definite measure like surgery, to prevent the complication of perforated appendix, and education to people that abdominal pain is not always causing by gastric problem and it might be a case of emergency.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T42151
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutianto Suryali
"Rumah sakit sebagai industri jasa yang padat modal dan padat karya, sekarang mengalami suatu masa baru yang penuh dengan persaingan. Hal ini disebabkan oleh karena banyaknya rumah sakit baru, tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menuntut haknya sebagai konsumen dan mulai berkembangnya asuransi kesehatan yang mempunyai kekuatan untuk menekan rumah sakit. Mutu pelayanan, terutama mutu teknis medis, mempunyai peranan penting untuk memenangkan persaingan tersebut. Salah satu cara untuk mengetahui mutu teknis medis suatu rumah sakit, adalah dengan menilai hasil tindakan bedah, yang dalam penelitian ini diambil kasus apendisitis akut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang mutu pelayanan bedah apendiks, yaitu ketepatan diagnosanya dan faktor-factor yang mempengaruhinya. Penelitian bersifat deskriptif, berdasarkan data sekunder yang berasal dari rekam medik pasien yang mengalami apendektomi dengan diagnosa Apendisitis Akut. Jumlah sampel sebesar 148 orang pasien, yang diambil secara acak sederhana.
Analisa statistik yang digunakan adalah analisa univariat dan analisa bivariat yang terdiri dari analisa tabel silang dan chi-square, yang kemudian dilanjutkan dengan analisa multivariat dengan mempergunakan regresi logistik multipel (ganda).
Hasil penelitian menunjukkan ketepatan diagnosa Apendisitis Akut di rumah sakit Pondok Indah masih kurang dibandingkan dengan yang dianjurkan oleh Storer. Terdapat 3 -Faktor yang mempengaruhi ketepatan diagnosa Apendisitis Akut yaitu umur pasien, lama bekerja dokter dan kriteria diagnosa. Ketepatan diagnosa pada pasien yang berumur 0 - 12 tahun kurang dibandingkan dengan diagnosa pada pasien yang berumur lebih dari 12 tahun. Ketepatan diagnosa dokter yang telah bekerja lebih dari 15 tahun kurang dibandingkan dokter yang bekerja kurang dari 15 tahun. Kriteria diagnosa IV, yaitu nyeri tekan dan nyeri lepas diperut kanan bawah, merupakan kriteria diagnosa yang paling tepat untuk menegakkan diagnosa Apendisitis Akut.
Berdasarkan hasil penelitian ini dikemukakan beberapa saran. Pertama penegakan diagnosa Apendisitis Akut pada pasien yang berumur kurang atau sama dengan 12 tahun perlu dilakukan dengan lebih seksama, sampai gejalanya menunjukkan indikasi yang kuat. Kedua, gejala nyeri tekan yang disertai dengan nyeri lepas di perut kanan bawah dapat dipakai sebagai kriteria untuk menegakkan diagnosa Apendisitis Akut. Ketiga, rumah sakit yang bersangkutan perlu segera untuk membentuk dan mengaktifkan Komite Menjaga Mutu.

A Hospital, being capital and labor intensive service industry is now entering a new era of great competition. Several factors caused this situation, particularly the emergence of new hospitals, the increased of Public demand on their rights as consumers and the development of Health Insurance industry. The quality of service, especially those technical and medical services, holds an important role to win the competition. In order to asses the quality of medical services in a hospital, one may asses the result of surgery, which in this study is represented by Appendicle surgery.
The purpose of this research is to obtain the information on the quality of Appendicle Surgery, the accuracy of diagnosis of Acute Appendicitis and factors that influence it. This research is descriptive in characteristics, based on secondary data taken from the Medical Record of patients undergoing appendectomy with Acute Appendicitis diagnosis where 148 sample are chosen randomly.
Methods of statistical analysis used included univariate and bivariate analyses based on Crosstab analysis and chi-Square test and Multiple Logistic Regression is selected for multivariate analysis.
The result shows that the -diagnosis accuracy of Acute Appendicitis in Pondok Indah Hospital is slightly below the required-standard (77 % out of 800 7. - 90 7. ). There are three factors related to the diagnosis accuracy, namely patient's age, doctor's length of service and Criteria for diagnosis. Patients under or of 12 years are less accurately diagnosed than those above 12 years of age. Doctors with length of service for 15 years or more make less accurate diagnosis than those with 6 to 15 years of service. The fourth criteria for diagnosis namely pressure and rebound tenderness in the lower right part of abdomen is the best diagnosis criteria available for Acute Appendicitis.
Based on obtained results, it is suggested that patients between 0 to 12 years of age should be diagnosed with greater caution, until the symptoms are presenting apparently. Pressure and rebound tenderness in the lower right part of abdomen can be used as a diagnosis criterion for Acute Appendicitis. It is in need to get a Quality Assurance Committee to be formed and activated.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Risdi Ikhsan
"Penelitian dilakukan untuk melihat clinical pathway dan perhitungan cost of treatment apendisitis di RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh Sumatera Barat tahun 2012. Cost of treatment adalah perhitungan terkait biaya langsung (mempergunakan Activity Based costing) dan tak langsung (dimodifikasi dengan metoda Simpel Distribusi), merupakan biaya perawatan atau tindakan layanan per diagnosa penyakit sesuai clinical pathwaynya. Casemix beserta komplikasi dan komorbiditasnya, berpengaruh terhadap besaran biaya layanan.
Hasilnya ; clinical pathway apendisitis dapat disusun sesuai kelompok DRG, terdapat 4 kelompok diagnosa : apendisitis murni, apendisitis murni + penyerta, apendisitis komplikasi , apendisitis komplikasi + penyerta. Hasil hitung menunjukkan biaya rawatan semakin meningkat sesuai dengan komplikasi dan komorbiditasnya. Biaya termahal adalah pada tahap operasi dan komponen biaya terbesar adalah obat dan alat kesehatan dalam satu kali perawatan apendisitis.

The study was conducted to confirm at clinical pathways and calculate the treatment cost of appendicitis by 2012 at the Dr. Adnaan WD Hospital, Payakumbuh city of West Sumatra. Treatment Cost consist of direct costs (using activity based costing) and indirect (modified by Simple Distribution method), which is the cost of treatment or service actions to diagnosis of the disease according with clinical pathway. Casemix is a mix of cases with complications and comorbidities, affect the amount of the service fee.
The result; clinical pathways of appendicitis can be formed according to DRG group based on its complications and comorbidities. There are 4 groups of diagnosis: pure appendicitis, pure + comorbid appendicitis, complication appendicitis, complication + comorbid appendicitis. The results showed us the cost of treatment are increasing according to its complication and comorbidities. Highest costs are in the operational phase, and the largest cost component is the cost of drugs and medical devices in one treatment appendicitis
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T35321
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stefanus Satrio
"Latar belakang: Apendisitis merupakan salah satu kegawatdaruratan medik yang membutuhkan penatalaksanaan segera. Apendisitis dibedakan menjadi apendisitis akut dan kronik. Keterlibatan neuron, yaitu hiperplasia dan hipertrofi neural dalam apendisitis akut dibandingkan pasien dengan apendiks normal telah dibuktikan, namun belum ada data pengaruh tipe radang apendisitis terhadap keterlibatan serabut saraf, khususnya dalam bentuk perubahan letak serabut saraf/serabut saraf ektopik di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo antara tahun 2005-2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan serabut saraf dalam bentuk serabut saraf ektopik dengan tipe radang apendisitis tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode desain potong lintang (cross-sectional). Sampel berupa sediaan preparat patologi anatomik diperoleh melalui teknik random sampling dan dari hasil penghitungan yang sesuai dengan uji hipotesis diperoleh 50 sampel tiap kelompok (uji analitik kategorik 2 kelompok tidak berpasangan). Data diperoleh dari sediaan preparat patologi anatomik setelah diteliti di bawah mikroskop cahaya.
Hasil penelitian: serabut saraf ektopik ditemukan lebih banyak pada apendisitis kronik (64%) dibandingkan apendisitis akut (34%). Hasil penelitian dilakukan uji nonparametrik Chi-square dan ditemukan terdapat perbedaan bermakna proporsi serabut saraf ektopik pada apendisitis kronik dibandingkan dengan serabut saraf ektopik pada apendisitis akut (p<0,05).
Kesimpulan: Proporsi serabut saraf ektopik pada apendisitis kronik lebih tinggi dibandingkan dengan apendisitis akut.

Background: Appendicitis has been one of the emergency situations needing immediate medical intervention, differentiated into two types, acute appendicitis and chronic appendicitis. Neural involvements, which are neural hyperplasia and hypertrophy has been proved, yet there has not been any research stating the role of type of inflammation of appendicitis in involvement of neuron, especially in form of neural displacement, in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital between the year of 2005 and 2007. This research is made to explore the relationship between the type of inflammation of appendicitis and the involvement of neuron, in form of neural displacement.
Method: The method of this research was cross-sectional. The sample was chosen using random sampling. Using the hypothesis test, categorical-analytical-two-independent-group test, the sample needed for each group is 50. Data then observed under light microscope.
Result: The neural displacement was found more in chronic appendicitis (64%) than in the acute appendicitis (34%). The result was then tested using nonparametric test, Chi-square. Using the test, the value of p was <0.05, stating there is significant difference of the neural displacement was acute appendicitis and chronic appendicitis.
Conclusion: The proportion of neural displacement in chronic appendicitis is higher than in the acute appendicitis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S09059fk
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Trisna Budy Widjayanti
"

Analisis Pemanfaatan Clinical Pathway Sectio Caesaria Di Rumah Sakit Dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor sosial ekonomi dan klinis ibu melahirkan Sectio Caesaria (SC) di Rumah Sakit (RS) dengan pemanfaatan Clinical Pathway (CP), outcome klinis serta pembayaran klaim. Studi desain Cross Sectional pada unit analisis 1155 data rekam medis ibu melahirkan SC periode 1 Januar-31 Desember 2018 di 3 RS. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan CP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu sebanyak 939 Ibu melahirkan SC proporsinya sebesar 43.1% masih menunjukkan pemanfaatan yang kurang baik. Pemanfaatan CP terkait penyimpanan dokumen Clinical Pathway ibu melahirkan SC peserta JKN sebanyak 71.8% tidak tersimpan di Rekam Medis, 72.6% tidak lengkap pengisiannya dan 64.6% kondisi klinis Ibu melahirkan SC tidak sesuai dengan PPK RS. RS Pemda memiliki Proporsi tertinggi skor pemanfaatan CP yang kurang baik sebesar 76.8%, kemudian diikuti RSP (36.8%). RSNP menunjukkan proporsi skor pemanfaatan CP baik. Jenis RS (p=0.000), Kelas rawat (p=0.014) dan Rujukan (p=0.008), jenis SC (p=0.005), Usia Ibu (p=0.053), Paritas (p=0.016), Riwayat ANC (p=0.000), Kondisi Panggul p=0.000), kondisi plasenta (p=0.001), penyakit penyerta (p=0.000) dan riwayat SC (p=0.000) menunjukkan berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan CP (p<0.05). Pemanfaatan CP ibu melahirkan SC peserta JKN menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan Outcome klinis (p=0.002). Outcome Klinis ibu melahirkan SC menunjukkan sebesar 67.5% bermasalah antara lain terkait LOS yang tidak sesuai Panduan Praktek Klinis (PPK) RS, Ibu memiliki komplikasi klinis paska SC atau kondisi bayi saat dilahirkan tidak normal. Pemanfaatan CP berhubungan secara signifikan dengan pembayaran klaim (p=0.000). Pembayaran klaim ibu melahirkan SC peserta JKN bermasalah sebesar 39.3% terkait jangka waktu pembayaran klaim dari BPJSK ke pihak RS. Pembayaran klaim yang tidak bermasalah pada pemanfaatan CP yang kurang baik lebih banyak. Monitoring dan evaluasi yang komprehensif pada pemanfaatan CP, outcome klinis dan proses pembayaran klaim sebagai kendali mutu pelayanan ibu melahirkan SC dalam JKN oleh RS, Organisasi Profesi dan Pemerintah. Pemerintah harus membuat payung hukum yang bersifat operasional pada pemanfaatan CP Ibu melahirkan SC di RS dalam program JKN, sehingga kendali mutu dan kendali biaya pelayanan ibu melahirkan SC menjadi efektif dan efisien. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran perlu segera diterbitkan dan disosialisikan ke Rumah Sakit. Kata kunci: SC, Sosial-ekonomi dan Klinis, Pemanfaatan Clinical Pathway, Outcome Klinis, Klaim Pembayaran


Analysis of Sectio Caesarea Clinical Pathway Utilization in Hospital Under National Health Insurance This study aims to analyze the relationship between socioeconomic and clinical factors of women giving birth to Sectio Caesaria (SC) in Hospitals (RS) with the utilization of Clinical Pathway (CP), clinical outcomes and claim payment. Cross Sectional design study in the 1155 unit of analysis of medical records of women giving birth to SC for the period January 1 to December 31, 2018 in 3 hospitals. The results showed that the utilization of CP for mothers giving birth to SC (939) participants of the National Health Insurance (JKN) from the 3 research study hospitals, the proportion of 43.1%, still showed poor utilization. Utilization of CP related to document keeping of mother who gave birth SC to JKN participants as much as 71.8% were not kept in the Medical Record, 72.6% were incomplete filling and 64.6% of clinical conditions of mother who gave birth to SC were not in accordance with PPK RS. Regional Government Hospital has the highest proportion of poor CP utilization scores of 76.8%, followed by RSP (36.8%). RSNP shows the proportion of good CP utilization scores. Type of hospital (p = 0.000), nursing class (p = 0.014) and type of referral (p = 0.008), type of SC (p = 0.005), maternal age (p = 0.053), parity (p = 0.016), ANC history (p = 0.000), Pelvic Conditions (p = 0.000), placental conditions (p = 0.001), comorbidities (p = 0,000) and history of SC (p = 0,000) showed significant correlation with CP utilization (p <0.05). Utilization of CP for mothers giving birth to SC JKN participants showed a significant relationship with clinical outcome (p = 0.002). Clinical Outcomes of mothers giving birth to SC showed that 67.5% had problems, among others related to LOS that was not in accordance with the Clinical Practice Guidelines (PPK) of the Hospital. CP utilization was significantly related to claim payment (p = 0,000). Claim Payment of mothers with SC under JKN participants was 39.3% related to the period of payment of claims from BPJSK to the hospital. The utilization of CP which were under score mean seems not having administration problem and paid by JKN earlier and without any problem. Comprehensive monitoring and evaluation of the utilization of CP , clinical outcomes and the process of claim as a quality control service for SC mothers in JKN by hospitals, professional organizations and the government. The government must make an operational legal policy on the utilization of CP for women giving birth to SC in hospitals under the JKN program, so that quality control and cost control of maternal care services for SC become effective and efficient. National Guidelines for Medical Services need to be immediately published and disseminated to hospitals. Keywords: SC, Socio-economic and Clinical, Clinical Pathway Utilization, Clinical Outcome, Payment Claims

"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Mochammad Arfin Fardiansyah
"Kanker serviks menduduki peringkat kedua sebagai kanker yang paling mematikan pada wanita di seluruh dunia dan menjadi kanker yang paling mematikan pada wanita di negara berkembang. Namun saat ini masih belum terdapat metode pengobatan yang efektif untuk kanker serviks. Oleh karena itu penting dilakukan pencarian obat yang lebih baik dalam mengobati kanker serviks.
Kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV). Virus ini memiliki kemampuan untuk mengaktivasi jalur pensinyalan Hedgehog (Hh). Jalur ini berperan penting dalam mengatur proliferasi, ketahanan dan migrasi sel kanker serviks. Dalam penelitian ini, senyawa terbarukan dari turunan asam herbarat akan dirancang sebagai kandidat inhibitor untuk protein Sonic Hedgehog (Shh). Seluruh inhibitor yang berpotensial akan dianalisa dan dibandingkan dengan inhibitorinhibitor yang telah ada, seperti robotnikinin, melalui pendekatan penambatan dan dinamika molekul. Analisis QSAR (Quantitative structure-activity relationship) dan farmakologikal, analisis kemudahan sintesis dan sifat-sifat ADMET nya.
Penambatan molekul dari 6310 ligan dilakukan dengan menggunakan metode LibDock pada software Accelrys Discovery Studio 2.5, dan tahap produksi 5 ns simulasi dinamika molekul dilakukan dengan menggunakan forcefield GROMOS96 43a1 pada software GROMACS 4.6.5. Setelah dilakukan analisis interaksi kompleks dan simulasi dinamika molekul, diketahui bahwa ligan Sd32 merupakan ligan terbaik untuk menginhibisi protein Sonic Hedgehog.

Cervical cancer ranks second as the most common deadly cancer in women worldwide and ranks first in developing countries. However there is no effective treatment yet for this disease. Therefore it is necessary to find a better drug for the cervical cancer treatment.
Cervical cancer caused by human papillomavirus (HPV) infection. This virus has an ability to activate the Hedgehog (Hh) signaling pathway and regulate cervical cancer cells proliferation, survival and migration. In this study, a novel series of herbaric acid derivates were designed as the potential inhibitor candidates of the sonic hedgehog (Shh) signaling pathway. All of the potential inhibitors are going to be analyzed and compared with Shh available inhibitors, such as robotnikinin, through molecular docking and dynamics. QSAR (quantitative structure-activity relationship) and pharmacological analysis, synthetic accessibility analysis, and ADMET properties were also analyzed.
Molecular docking of these 6310 ligands was done through Accelrys Discovery Studio (DS) software by using LibDock method, and 5 ns production molecular dynamics simulation was completed with GROMOS96 43a1 forcefield using GROMACS 4.6.5 software. After the analysis of complex interaction and molecular dynamics simulation, it turns out that Sd32 ligand was the best ligand for inhibits sonic hedgehog protein.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S57225
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>