Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 179420 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Trisno Juliantoro
"ABSTRACT
Skripsi ini membahas tentang perkembangan industri rambut dan bulu mata palsu serta dampaknya bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Kabupaten Purbalingga 1998-2015. Penelitian ini adalah penelitian sejarah sosial-ekonomi yang menitikberatkan terhadap perkembangan industri yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa perkembangan industri tidak mendorong kehidupan masyarakat sekitar karena tidak menyerap tenaga kerja. Hasil dari penelitian ini bahwa perkembangan industri rambut dan bulu mata palsu memiliki dampak peningkatan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan menggunakan sumber-sumber tulisan maupun lisan.

ABSTRACT
This thesis discusses the development of wigs and false eyelashes industry and its impacts for the socio economic life of the people of Purbalingga Regency 1998 2015. This is a socio economic history study that focuses on the development of industries that affect people 39 s lives. Previous research explains that industrial development does not encourage the life of the surrounding community because it does not absorb labor. The results of this study that the development of wigs and false eyelashes industry have a positive impact on the socio economic life of Purbalingga regency. The method used in this research is the historical method by using written and oral sources."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadira Nuri Auliani
"ABSTRAK
Industri merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam prosesnya, terdapat usaha peningkatan mutu sumberdaya manusia dan kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki banyak sektor industri berkembang. Salah satunya adalah industri rambut di Kabupaten Purbalingga yang sudah mempunyai orientasi pasar ekspor dan menduduki nomor dua di daftar negara eksportir wig dan bulu mata di dunia. Industri ini mampu menyerap banyak tenaga kerja hingga diluar wilayahnya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana jangkauan industri berdasarkan asal angkatan kerja dan hubungannya dengan karakteristik lokasional dan tipe industri. Metode yang digunakan adalah analisis keruangan dan deskriptif serta statistik Chi Square. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa jika tipe industri luas bangunan rendah dengan orientasi pemasaran nasional, maka cenderung tidak memusat, sehingga jangkauan asal angkatan kerjanya mayoritas sempit. Sedangkan tipe industri dengan luas bangunan rendah dengan orientasi pemasaran internasional bervariasi dari wilayah memusat dan tidak memusat dengan kecenderungannya adalah memusat, sehingga jangkauan asal angkatan kerjanya pun cenderung luas. Sedangkan industri dengan luas bangunan tinggi dan orientasi pemasaran ekspor mayoritas adalah memusat dengan jangkauan asal angkatan kerja yang luas.

ABSTRACT
Industry is one of the means in enhancing people rsquo s prosperity. In the process of that, there is an effort of increasing the human resources quality and ability in making optimal use of natural resources. Indonesia is a country that has many developing industries. One of the evolving industries is hair industry in Purbalingga Regency, Central Java. The industry that processes wig and eyelashes has an export orientation and ranked second in the list of Hair Exporting Countries in the world. Hair industry is capable of absorbing many labour even from outside of the regency. This research aims to analyze the industrial range variation based on the origin of the hair industries workforce, along with the relationship with locational factors and industrial type. This research uses Spatial and Descriptive analysis, also statistical analysis with Chi Square. The result shows that industry which has low plant size and national marketing orientation tend to dispersed in location. This contributes to narrow range of workforce origin, just between districts. While industry with low plant size but export orientation varies from dispersed to concentrated area. But tendencies is concentrated, so the range is wide, reaching out to other regencies. Last but not least, hair industry which has high plant size and export orientation tend to also reaching out to other regencies because the industries are also clustered together. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Yunita
"ABSTRACT
Penelitian ini membahas mengenai konteks elite capture dan persepsi perwakilan masyarakat terhadap hasil dan implementasi Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Desa Musrenbangdes tahun 2016 di dua Desa: studi komparatif Desa Sempor Lor dan Desa Cilapar Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui di antara faktor latar belakang budaya, pengalaman masa lalu, nilai-nilai yang dianut, dan pendapat-pendapat yang berkembang yang berhubungan dengan hasil dan implementasi Musrenbangdes tahun 2016 di dua desa yang berbeda dengan konteks hadir dan tidaknya elite capture. Penelitian ini menggunakan teori implementasi kebijakan dari Grindle, konsep latar belakang budaya, pengalaman masa lalu, nilai-nilai yang dianut, pendapat-pendapat yang berkembang, persepsi, dan konsep hasil Musrenbangdes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode perbandingan dan menggunakan analisis korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil dari temuan ini memperlihatkan bahwa di Desa Sempor Lor faktor latar belakang budaya yang memiliki hubungan dengan hasil dan implementasi Musrenbangdes 2016. Sementara itu, di Desa Cilapar faktor pengalaman masa lalu yang memiliki hubungan dengan hasil dan implementasi Musrenbangdes tahun 2016.

ABSTRACT
This study discusses the context of elite capture and perceptions of community representatives on the results of the 2016 Village Planning and Development Musrenbangdes in comparative study between two villages Sempor Lor village and Cilapar village in Purbalingga Regency, Central Java. The purpose of this study is to learnt between cultural background, past experience, shared values, and emerging opinions, related and influence to the results and implementation of Musrenbangdes in 2016 between two diffeferent villages in the context of presence and absence of elite capture. This paper uses Grindle rsquo s policy implementation theory, cultural background concept, past experience, shared values, developing opinions, perceptions and concept of Musrenbangdes rsquo s result. In addition, the researcher wanted to find out among the four independent variables cultural background, past experience, shared values, and developing opinions, which variables similarly affect the perceptions of community representatives in Sempor Lor Village and Desa Cilapar. This research uses Grindle 39 s policy implementation theory with cultural background concept, past experience, shared values, developing opinions, perceptions, and results concept of Musrenbangdes. This research used a quantitative approach, comparasion method and also Pearson correlation analysis and simple linear regression. The result of key finding pointed out in Sempor Lor Village the cultural background factor is related to the result and implementation of Musrenbangdes 2016. In other hand, in Cilapar Village, past experience factor has a relationship with the result and implementation of Musrenbangdes 2016. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elis Septiyani
"Permintaan masyarakat akan pelayanan publik yang memadai semakin meningkat seiring dengan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Mal Pelayanan Publik (MPP) hadir sebagai upaya mengintegrasikan pelayanan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih baik. Penelitian ini mengkaji tentang kualitas pelayanan publik pada Mal Pelayanan Publik di Kabupaten Purbalingga berdasarkan penilaian penguna untuk mengetahui kesenjangan antara harapan dan kenyataan pelayanan yang diterima oleh pengguna layanan. Penelitian ini menggunakan teori Service Quality (SERVQUAL) dari Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) dengan lima dimensi mencakup dimensi tangible, responsiveness, reliability, assurance, dan empathy untuk mengukur kualitas pelayanan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan gap analysis untuk mengetahui kesenjangan antara harapan dan kenyataan pelayanan yang diterima oleh pengguna dilanjutkan dengan penyajian diagram kartesius untuk mengetahui pencapaian dari setiap indikator sekaligus sebagai tolak ukur untuk melakukan perbaikan maupun pengembangan mutu pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data mixed method melalui survei kepada 100 responden, wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik pada Mal Pelayanan Publik di Kabupaten Purbalingga adalah baik, meskipun masih terdapat gap antara harapan dan kenyataan pelayanan yang diterima pengguna sehingga diperlukan upaya perbaikan dan pengembangan pada beberapa indikator khususnya yang berkaitan dengan sosialisasi dan daya tanggap petugas layanan.

The public's demand for adequate public services is increasing along with the many needs that must be met. Public Service Mall (MPP) exists as an effort to integrate services in the context of providing better public services. This research examines the quality of public services at Public Service Malls in Purbalingga Regency based on user assessments to determine the gap between expectations and the reality of services received by service users. This study uses the theory of Service Quality (SERVQUAL) from Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) with five dimensions including tangible, responsiveness, reliability, assurance, and empathy to measure service quality. In addition, this study also uses gap analysis to find out the gap between expectations and the reality of services received by service users, followed the presentation of a Cartesian diagram to determine the achievements of each indicator as well as a benchmark for making improvements and developing services quality. This research uses a quantitative approach with mixed method data collection techniques through surveys to 100 respondents, in- depth interviews, observation, and documentation. The results showed that the quality of public services at Public Service Malls in Purbalingga Regency was in the good category, although there was still a gap between expectations and the reality of the service received by users, so efforts to improve and develop the implementation of Public Service Malls in Purbalingga Regency were needed on several indicators, especially those related to socialization and responsiveness of service officers."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fina Frichylya Fatmawati
"Skripsi ini bertujuan menguraikan konsep tubuh ideal yang dimiliki para pekerja seks bar, panti pijat dan freelance melalui pengggunaan jamu dan kosmetik palsu. Tubuh ideal bagi para pekerja seks terdiri dari bentuk tubuh, penampilan wajah dan organ seksual yang menjadi kepercayaan diri dan penunjang profesi mereka di dalam bisnis prostitusi. Jamu dan kosmetik palsu digunakan sebagai upaya terbaik dalam pembentukan tubuh ideal para pekerja seks tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian skripsi ini yaitu metode kualitatif dengan wawancara mendalam, pengamatan langsung dan studi pustaka. Pengamatan langsung dilakukan secara menyeluruh mengenai keadaan lapangan penelitian dan tubuh para pekerja seks.
Hasil penelitian skripsi ini melihat bahwa tubuh ideal bagi para pekerja seks bar dan panti pijat dikonsepsikan oleh lingkungan kerja yang terdiri dari klien, pihak manajemen bisnis prostitusi, teman dan senior yang juga berprofesi sebagai pekerja seks. Sementara itu, konsepsi tubuh ideal para pekerja seks freelance dikonsepsikan melalui pandangan masyarakat pada umumnya mengenai tubuh ideal seorang perempuan serta teman sesama pekerja seks. Dengan menggunakan jamu dan kosmetik palsu para pekerja seks bar, panti pijat dan freelance membentuk tubuh ideal secara menyeluruh pada bagian-bagian yang mereka anggap vital bagi terbentuknya tubuh ideal tersebut. Penggunaan jamu dan kosmetik palsu dianggap sebagai upaya yang paling tepat dalam membentuk tubuh ideal karena sesuai dengan keadaan finansial para pekerja seks yang berada pada kalangan mengengah ke bawah, meskipun memberi efek yang buruk terhadap kesehatan.

This undergraduate thesis aims to elucidate the concept of an ideal body of bar sex workers, massage parlors workers and freelance through the consumption of herbal drinks and the usage of fake cosmetics. An ideal body’s aspects, for sex workers, consist of body shape, facial appearance and sexual organ appearance to support their confidence and profession within the prostitution business. Herbal drinks and fake cosmetics are used as best effort in order to shape the sex workers’ ideal bodies. The methodology employed in this research is qualitative method with In-depth Interview, direct observation, and literature research. Direct observation conducted thorough research on the state of the field and the body of sex workers.
This study finds out that an ideal body of bar sex workers and massage parlor workers is conceptualized by their working environment consisting of the clients, the prostitution business management party, the friends and seniors who are also sex workers. Meanwhile, the conception of an ideal body of freelance sex workers is conceptualized from the general view of the society about a female's ideal body and their sex workers friends. Using herbal drinks and fake cosmetics, bar sex workers, massage parlor workers and freelance to shape their bodies to become ideal ones by reshaping body parts that they think are vital parts to get the ideal body. The consumption of herbal drinks and the usage of fake cosmetics are considered as the most appropriate efforts to get an ideal body since these efforts are able to accommodate sex workers’ middle-lower financial condition, although the effect is bad for health.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S58693
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1987
S33325
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bekti Aribawanti Rini
"Kabupaten Purbalingga adalah salah satu daerah endemis penyakit DBD di Indonesia. Peningkatan kasus hamper 3 kali lipat pada bulan Januari-Juni 2019 dibandingkan dengan jumlah kasus yang terjadi pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor karakteristik individu, faktor perilaku, faktor lingkungan rumah, dan faktor program DBD. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui wawancara dan observasi. Total sampel sebanyak 408 responden dari dua kecamatan dengan kasus tertinggi. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat (chi square), dan analisis multivariat (Regresi Logistik).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan Kejadian DBD di Kabupaten Purbalingga adalah umur: 6-18 tahun (OR: 3,75; 95% CI: 1,91-7,36), ≤ 5 tahun (OR: 2,55; 95% CI: 0,94-6,89), 19-45 tahun (OR: 2,23; 95% CI: 1,27-3,94), kebiasaan menguras TPA (OR: 2,13; 95% CI: 1,34-3,39), kebiasaan menggantung pakaian (OR: 1,87; 95% CI: 1,06-3,31), keberadaan tanaman hias (OR: 9,22; 95% CI: 2,54-33,50), keberadaan barang bekas (OR: 1,63; 95% CI: 1,03-2,58), penggunaan kassa nyamuk pada ventilasi (OR: 12,35; 95% CI: 3,34-45,74), dan pencahayaan (OR: 1,75; 95% CI: 1,07-2,87). Bagi
Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengintensifkan penyuluhan tentang DBD dan meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan 3M Plus sehingga dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bagi Masyarakat diharapkan dapat melaksanakan PSN 3M Plus secara mandiri salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

Purbalingga Regency is one of the endemic area of DHF in Indonesia. The increase of DHF cases in Purbalingga Regency in January-June 2019 almost tripled compared to the number of cases in 2018. This study is necessary to conduct research on individual characteristic factors, behaviour factors, household environmental factors, and DHF program factors associated with the incidence of DHF in Purbalingga Regency. It used a case control study design. The data were collected using questionnaires through interviews and observations. The total sample of 408 respondents was taken from two subdistricts with the highest cases. Univariate, bivariate (chi-square), and multivariate (Logistic Regression) analysis were employed in this study.
The results of the study indicate that the factors associated with the incidence of DHF in Purbalingga Regency in 2019 were the age: 6-18 year (OR: 3,75; 95% CI: 1,91-7,36), ≤ 5 year (OR: 2,55; 95% CI:0,94-6,89), 19-45 year (OR: 2,23; 95% CI: 1,27-3,94), habit of drain the water supply containers (OR: 2,13; 95% CI: 1,34-3,39), habit of hanging clothes (OR: 1,87; 95% CI: 1,06-3,31), the availability of ornamental plants (OR: 9,22; 95% CI: 2,54-33,50), the presence of discarded trash (OR: 1,63; 95% CI: 1,03-2,58), the availability of mosquito gauze (OR: 12,35; 95% CI: 3,34-45,74), and the lighting (OR: 1,75; 95% CI: 1,07-2,87).
The Health Office is expected to intensify promoting about DHF and to increase the inter-related sectors in supporting the implementation of the mosquito nest eradication (PSN) 3M Plus so that it can be carried out by all levels of society. The community is expected to be able to implement PSN 3M Plus independently, one of which is through the implementation of the "Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J)".
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bonny Nur Ischaq Darmadji
"Penelitian ini membahas implementasi program intensifikasi pertanian padi oleh pemerintah Indonesia di Kabupaten Purbalingga pada tahun 1969-1998. Program intensifikasi pertanian padi sendiri dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu (Orde Baru) untuk mencapai swasembada beras nasional dan mengatur harga beras agar tetap terjangkau sementara meningkatkan kesejahteraan petani padi di Kabupaten Purbalingga. Namun, program ini mendapat respons positif dari petani di Kabupaten Purbalingga setelah beberapa tahun implementasi karena faktor kualitas teknologi yang digunakan dan masalah teknis di lapangan. Melalui metode dan sumber historis seperti literatur, arsip, publikasi pemerintah, dan wawancara dengan narasumber aktual, ternyata implementasi program membuat peluang di sektor pertanian menjadi tidak seimbang meskipun berhasil meningkatkan jumlah beras lokal. produksi.

This study discusses the implementation of the rice agriculture intensification program by the Indonesian government in Purbalingga Regency in 1969-1998. The intensification program of rice farming itself was implemented by the Indonesian government at that time (the New Order) to achieve national self-sufficiency in rice and regulate rice prices to remain affordable while increasing the welfare of rice farmers in Purbalingga District. However, this program received a positive response from farmers in Purbalingga District after several years of implementation due to the quality of the technology used and technical problems in the field. Through historical methods and sources such as literature, archives, government publications, and interviews with actual sources, it turned out that the implementation of the program made the opportunities in the agricultural sector unbalanced despite the success in increasing the amount of local rice. production."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cahyani Wahyuningtyas
"Skripsi ini menganalisis pengelolaan keuangan pada Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara kepada Sekretaris dan Kaur Keuangan Desa serta telaah dokumen RPJM, Peraturan Desa, Peraturan Bupati, pencatatan keuangan desa, pengadaan barang dan jasa, dan laporan realisasi APBDesa tahun 2109. Evaluasi pengelolaan keuangan dilakukan atas pelaksanaan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, hingga pertanggungjawaban, kemudian dibandingkan dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat ketidaksesuaian antara praktik pengelolaan keuangan pada Desa Bakulan di tahap perencanaan, penatausahaan, dan pelaporan. Ketidaksesuaian antara lain APBDes baru diselesaikan bulan Desember padahal seharusnya bulan Oktober, tidak dilakukan tutup buku setiap bulan dan tidak disusun laporan semesteran.

This thesis analyzes financial management in Bakulan Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. The research method used was interviews with the Secretary and Head of Village Finance and review of RPJM documents, Village Regulations, Regent Regulations, village financial records, procurement of goods and services, and reports on the realization of the 2109 APBDesa. Financial management evaluation was carried out on the implementation of planning, implementation, administration, reporting, to accountability, then compared with the provisions in the Minister of Home Affairs Regulation No. 20/2018 concerning Village Financial Management. The results showed that there was still a mismatch between financial management practices in Bakulan Village at the planning, administration, and reporting stages. The discrepancies include the new APBDes being completed in December whereas it should have been October, no closing books every month and no semi-annual reports."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alief Einstein
"Penelitian ini bertujuan meneliti bagaimana kepala desa wanita menghadapi permasalahan dalam pemilihan kepala desa dan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Hal-hal yang akan digambarkan adalah, mendapat gambaran dari permasalahan yang dihadapi informan dalam pemilihan kepala desa; mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi informan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa; mendapat gambaran dan pengalaman dan pengetahuan informan yang berkenaan dengan kemampuannya dalam menyelenggarakan pemerintahan desa; dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi informan, apakah berkenaan dengan permasalahan jender atau bukan.
Penelitian ini dilakukan di pedesaan Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas dan Purbalingga. Lokasi penelitian untuk kedua kabupaten tersebut adalah pada tiga belas desa dan tiga belas kecamatan yang berlainan, dengan Sembilan informan wanita dan empat informan pria.
Pendekatan penelitian ini menggunakan analisis yang lebih bersifat kualitatif. Data kuantitatif dalam tesis ini, hanya digunakan sejauh dapat mengungkapkan gambaran secara umum saja, misalnya untuk menganalisis data dari Departemen Dalam Negeri dan Biro Pusat Statistik.
Fakta yang ada dari temuan penelitian memperlihatkan bahwa adanya masalah-masalah khusus yang dihadapi kepala desa wanita dalam pemilihan kepala desa. Permasalahannya ditinjau dari pandangan jender tertentu dalam masyarakat yang menghambat partisipasi wanita. Hambatan partisipasi wanita dalam penelitian ini digambarkan dari pandangan jender yang memang "sudah" dilekatkan dalam masyarakat dan dampak dari pandangan itu.
Pandangan jender yang memisahkan dunia wanita dan pria secara tegas masih sangat umum dalam masyarakat kita. Pandangan jender yang muncul dalam penelitian ini terdiri dari stereotip, subordinasi, dan kekerasan jender. Dampak pandangan ditinjau dari sudut diskriminasi.
Fakta selanjutnya yaitu, adanya perbedaan jender dalam penyelenggaran pemerintahan desa, sehingga menimbulkan ketidakadilan jender dalam bentuk kekerasan, subordinasi, dan beban kerja berlebih pada wanita.
Fakta terakhir, tentang kemampuan kepala desa wanita yang tidak kalah dengan kepala desa pria. Wanita yang diberi kesempatan menjadi kepala desa, ternyata memiliki kualitas kemampuan dan ciri karakteristik positif lainnya, yang dapat mengimbangi dengan gambaran seperti yang dimiliki kepala desa pria.
Peneliti di sini hanya ingin memberikan gambaran mengenai permasalahan yang dihadapi kepala desa wanita dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Sebab penelitian mengenai permasalahan yang dihadapi wanita dalam bidang politik dan pemerintahan di Indonesia masih sangat sedikit dilakukan. Bahkan penelitian mengenai kepala desa wanita dengan perspektif wanita belum ada sama sekali yang melakukannya. Selain itu peneliti tidak mempunyai maksud menggeneralisasikan hasil data ini. Manfaat dari data awal ini adalah bahwa mungkin dapat digunakan sebagai pedoman untuk penelitian lebih jauh yang berhubungan dengan topik ini."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T1633
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>