Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 131267 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Taufik Akbar
"ABSTRAK
LATAR BELAKANG: perawatan kandung kemih dan pencegahan retensio urin postpartum sangatlah penting, apabila tidak dikenali secara baik, maka dapat berkembang menjadi kerusakan kandung kemih yang permanen akibat distensi yang berlebihan yang mengakibatkan denervasi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan resiko infeksi saluran kemih dan kerusakan saluran kencing bagian atas. Tatalaksana retensio urin saat ini adalah dengan melakukan kateterisasi. Penggunaan kateterisasi sangat bervariasi pada beberapa panduan praktek klinik. Selain kateterisasi, saat ini prostaglandin telah terbukti mampu menyebabkan terjadinya kontraksi otot polos kandung kemih sehingga diharapkan dapat menjadi stimulator kontraksi kandung kemih pada pasien retensi urin pasca persalinan pervaginam. TUJUAN: menentukan efektifitas prostaglandin E1 dan kateterisasi atau kateterisasi saja sebagai terapi pilihan dan kelayakan melalui telaah kritis suatu panduan praktek klinik dalam tatalaksana retensio urin postpartum METODE: Evidence Based Case Report ini melakukan pencarian melalui PubMed, TRIP Database, EBM Online, Clinical Evidence, Cochrane Library dan Google Scholar. Dengan menggunakan strategi pencarian ini, didapatkan 4 artikel pada PubMed, 101 artikel pada TRIP Database, 991 artikel pada EBM online, 687 artikel pada Clinical Evidence, 1 artikel pada Cochrane Library, dan 12600 artikel pada Google Scholar. Dari 21 artikel didapatkan 11 artikel yang berupa panduan praktek klinik dengan keseluruhan berupa naskah lengkap yang akan dilakukan telaah kritis dengan menggunakan AGREE II. HASIL: dari 11 panduan praktek klinik yang dilakukan telaah kritis, tidak ada satu panduan praktek klinik pun yang memperoleh penilaian pada setiap domain penilaian menurut AGREE II. Penilaian pada domain yang menjabarkan proses pengembangan panduan praktek klinik dengan pencarian evidence based, terapi alternatif, dan kebebasan editorial merupakan domain dengan penilaian terendah pada keseluruhan panduan praktek klinik. SIMPULAN: dari 11 panduan praktek klinik yang dilakukan telaah kritis, disimpulkan bahwa terapi untuk retensio urin postpartum yang digunakan saat ini adalah kateterisasi. Penggunaan terapi alternatif seperti prostaglandin tidak didapatkan pada keseluruhan panduan praktek klinik. Hanya saja keseluruhan panduan praktek klinik tidak didukung oleh evidence based yang sistematis sehingga kurang layak untuk dijadikan acuan untuk terapi. Dibutuhkan pencarian evidenced based secara sistematis terutama yang menggunakan desain randomized controlled trial RCT untuk dijadikan rujukan bagi terapi retensio urin postpartum.

ABSTRACT
Bladder management and prevention of postpartum urinary retetntion are very important, and a failure in recognizing these conditions may lead to permanent bladder injury caused by overdistention which in turn lead to denervation. This may increase the risk of urinary tract infections and upper urinary tract damage. Current management of urinary retention is catherization. Besides catherization, prostaglandin have been proven to be effective in stimulating smooth muscle contraction of the bladder and is a promising alternative management in stimulating bladder contraction in vaginal postpartum urinary retention patients. GOALS to review several guidelines on postpartum urinary retention management METHOD The literature search for this Evidence Based Case Report conducted article from PubMed, TRIP Database, EBM Online, Clinical Evidence, Cochrane Library and Google Scholar were used for article searching. Using this strategy, we obtained 4 articles from PubMed, 101 articles from TRIP Database, 991 articles from EBM online, 687 articles from Clinical Evidence,1 article from Cochrane Library, and 12600 articles from Google Scholar. From 21 articles we found 11 with attached guidelines on its full text, and these articles will be critically reviewedusing AGREE II. RESULTS From 11 guidelines that have been critically reviewed, not one guideline had an appropriate score in each assessment domain according to AGREE II. Guideline development using evidence based materials, alternative management and editorial freedom were the lowest scored domains in general. CONCLUSION From the 11 guidelines that have been critically reviewed, we concluded that the current management of postpartum urinary retention is catherization. Alternative managements such as prostaglandin usage are not present in current guidelines. In general, current guidelines are not supported by systematic evidence based materials, rendering them less reliable to be used as the basis for management. A systematic evidence based search, especially randomized controlled trial RCT , is needed for references of postpartum urinary retention management."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zita Arieselia
"Prevalensi penyakit kardiovmakular meningkat dengan tajam pada wanita pasca menopausa Pada wanita pasca menopause terjadi peningkatan produksi trombosit dan penurunan produksi prosiasiklin. Aspirin dosis rendah (75 - 150 mg) telah lama dikenal sebagai penghambat agregasi trombosit. Aspirin bekerja dengan menghambat produksi tromboksan (suatu zat proagregasi trombosit dan vasokonslriktor poten) serta produksi prostasiklin (suatu zat antiagregasi trombosit dan vasodilator poten).
Studi ini merupakan uji klinik Lidak tersamar dengan 2 kelompok paralel. Kelompok pertama terdiri dari 15 orang wanita pramenopause (3 40 tahun) dan kelompok kedua 15 orang wanita pasca menopause yang telah henti haid selama 3 - 5 tahun. Urin 24 jam dikumpulkan dari setiap subyek sebelum dan sesudah minum aspirin 100 mg salama 7 hari berturut-turut, Kadar prostasiklin dalam win dalam bentuk metabolitnya, 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1.1, dianalisis menggunakan metode EIA (Enzyme immunoassay). Tromboksan, dalam bcntuk metabolitnya (ll-dehidro-tromboksan-B2), juga diukur dalam sampel urin ini pada studi terdahulu.
Studi terdahulu menunjukkan bahwa aspirin menurunkan kadar tromboksan secara bermakna pada kedua kelompok dengan persentase penurunan yang lebih besar secara bermakna pada wanita pasca menopause dibandingkan wanita pramenopause. Hasil studi ini menunjukkan bahwa aspirin menurunkan kadar prostasiklin secara bermakna pada wanim pramenopause (selisih = 78,44 nglg kreatinin; p = 0,001) maupun wanita pasca menopause (sclisih = 35,7l ng/g kreatinin; p < 0,001), namun persentase penurunan antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna (46,26% vs_ 40,94%; p = 0,574). Penurunan kadar tromboksan dan proslasiklin oleh aspirin perlu dibandingkan (dalam bcntuk penurunan rasio kadar ll- dehidro-tromboksan-B2 / 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-Fu, dalam urin) untuk menilai ekasi aspirin sebagai antitrombodk Perhitungan rasio kadar ll-dehidro-tromboksan-B2/ 2,3-dinor-6-keto-proslaglandin-Fm sebelum pemberian aspirin jauh lebih tinggi pada wanila pascamenopause dibandingkan wanita pramenopause (4,09 vs. 1,l3; p A 0,001)_ Pcnurunan rasio kadar 11-dchidro-tromboksan-Bd 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-Fm olch aspirin jauh lebih besar pada wzmita pasca menopause dibandingkan wanita pramenopause (l,9l vs. 0, 17; p = 0,022).
Dengan demikian disimpulkan bahwa aspirin menurunkan kadar prostasiklin secara bermakna pada masing-masing kelompok dengan persentase penurunan yang tidak berbeda antara kedua kelompok, namun menurunkan rasio kadar 11-dchidro-tromboksan-BJ 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1,, yang jauh lebih besar pada wanita pasca menopause dibandingkan pada wanila pramenopausa.

The prevalence of cardiovascular diseases in women increases sharply after menopause. In postmenopausal women, thromboxane production increases while prostacyclin production decreases. Low dose mpirin (75 - 150 mg) has long been known as an antiplatelet aggregator. Aspirin reduces the production of both thromboxane (potent thrombocyte aggregator and vasoconstrictor) and prostacyclin (anti thrombocyte aggregator and potent vasodilator).
The present study was an open-label clinical trial with 2 parallel groups. One group consisted of 15 premenopausal women (age 2 40 years) while the other group 15 postmenopausal women (for 3 - 5 years). Twenty-four hours urine was collected from each subject before and after aspirin 100 mg daily for 7 days. The concentration of prostacyclin was measured as its metabolite (2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-Fm) in urine using EIA (Enzyme immunoassay). Thromboxane as its urinary metabolites (11-dehidro-tromboksan-Bg) was also measured in these same urine samples in the previous study.
Previous study showed that aspirin significantly reduced thromboxane in both groups, with significantly larger percentage reduction in postmenopausal women compared to premenopausal women. Results of the present study showed that aspirin reduced prostacyclin signilicantly in both premenopausal women (mean difference = 78.44 ng/g creatinine; p = 0.001) and postmenopausal women (mean difference = 35.71 ng/g creatinine; p < 0.001), but the percentage reduction between the groups was not significantly different (46,26% vs. 4O,94%; p = O,574). The decrease in thromboxane and prostacyclin should be compared (as the decrewe in the ratio of ll-dehidro-tromboksan-B2 / 2,3-dinor-6-keto- prostaglandin-Fia) to assess aspirin efficacy as an antithrombotic. Calculation of the ratio of 11-dehidro-trombol
It was concluded that aspirin reduced prostacyclin significantly in each group with nons ignificant percentage reduction between groups, but reduced the 11-dehidro-tromboksan-BU 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-Fi., ratio much larger in postmenopausal women compared to that in premenopausal women."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
T32325
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1983
616 PRO
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Riska Indriyati
"

Retensi urin postpartum merupakan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara spontan setelah melahirkan dengan residu urin lebih dari 200 ml. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu distensi kandung kemih, kontraksi uterus terhambat, perdarahan, otot detrusor melemah, kateterisasi intermiten dan disfungsi berkemih permanen. Penatalaksanaan keperawatan pada retensi urin postpartum dengan memberikan asuhan keperawatan secara holistik menggunakan studi kasus dan penerapan teori keperawatan. Penerapan teori self care Orem dan comfort Kolcaba pada lima kasus retensi urin postpartum dengan membahas permasalahan yang dialami dan menguraikan peran perawat pada kasus tersebut, dengan tujuan kebutuhan kenyamanan dan kemandirian pasien dapat terpenuhi. Kejadian retensi urin dapat diatasi dengan menerapkan evidence based nursing practice kegel excercise dan bladder training. Studi kasus yang dilakukan pada lima ibu postpartum yang mengalami retensi urin didapatkan bahwa kegel exercise dan bladder training mampu mengatasi retensi urin secara signifikan, menurunkan tingkat nyeri, dan meningkatkan self care.


Postpartum urinary retention is the inability to empty the bladder spontaneously after giving birth with more than 200 ml urine residue. Complications that can occur are distention of the bladder, obstructed uterine contractions, bleeding, weak detrusor muscles, intermittent catheterization and permanent voiding dysfunction. Nursing management in postpartum urinary retention by providing nursing care holistically uses case studies and the application of nursing theory. Application of self care Orem and Comfort Kolcaba theory in five cases of postpartum urine retention by discussing the problems experienced and outlining the role of nurses in the case, with the aim of comfort and independence of patients can be fulfilled. Urinary retention can be overcome by applying evidence based nursing practice kegel excercise and bladder training. Case studies conducted on five postpartum mothers who experienced urinary retention found that kegel exercise and bladder training were able to overcome urinary retention significantly, reduce pain levels, and improve self care.

"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Novi Lutfiyanti
"Latar belakang: Retensio urine pasca persalinan merupakan salah satu komplikasi tersering dalam persalinan. Salah satu jenis retensi urine yang sulit diketahui adalah tipe covert yang tidak bergejala. Akan tetapi, retensi urine tipe covert dapat menyebabkan retensi urine persisten yang dapat menurunkan kualitas hidup. Diperlukan suatu studi untuk meneliti faktor risiko terjadinya retensi urine tipe covert agar dapat dideteksi lebih dini. Tujuan: Mengetahui faktor risiko retensi urine pasca persalinan tipe covert. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode potong lintang (cross sectional). Subjek dari penelitian ini merupakan ibu yang melakukan persalinan pervaginam di RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, RSUD Koja, RSUD Kabupaten Tangerang, dan RSUD Karawang pada
20 September 2019 hingga 27 Februari 2020. Pasien dengan riwayat retensi urine sebelumnya, penggunaan kateter menetap, atau memiliki nyeri VAS 5 meski sudah diberikan analgetik dieksklusi dari penelitian. Pasien yang tidak berkemih 6 jam pasca persalinan termasuk dalam drop out.
Hasil: Didapatkan sebanyak 520 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tidak terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p > 0,05). Paritas primipara lebih berisiko mengalami kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p < 0,001, OR 3,8 IK95% 1,87-7,72). Durasi persalinan kala II ≥ 20 menit lebih berisiko mengalami kejadian retensio urine pascapersalian tipe covert (p < 0,001, OR 36,69 IK95% 14,9-90,20). Ruptur perineum
berat (derajat 3 atau 4) lebih berisiko mengalami kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p = 0,050, OR 8,54 IK95% 1,00-73,66). Berat bayi saat lahir > 3.000 gram
lebih berisiko mengalami kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p < 0,001, OR 8,54 IK95% 1,76-7,59). Persalinan pervaginam menggunakan alat lebih berisiko
mengalami kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p = 0,002, OR 4,79 IK95% 1,75-12,99). Tidak terdapat hubungan antara volume urine kala III dengan kejadian retensio urine pascapersalinan tipe covert (p > 0,05). Kesimpulan: Faktor risiko terjadinya retensi urine pasca persalinan tipe covert adalah paritas primipara, durasi persalinan kala II memanjang, ruptur perineum berat, berat
badan lahir bayi besar, dan persalinan pervaginam dengan bantuan alat.

Background: Postpartum urine retention is one of the most common complications in labor. One type of urine retention that is difficult to know is the asymptomatic covert
type. However, covert type urine retention can cause persistent urine retention which could reduce quality of life. A study is needed to examine the risk factors for covert type urine retention so that they can be detected early. Objective: To determine the risk factors for the occurrence of covert urinary retention after delivery.
Method: This study was an observational analytic study with cross sectional. method. The subjects of this study were mothers delivering vaginal deliveries at Cipto Mangunkusumo General Hospital, Friendship Hospital, Koja Regional General
Hospital, Tangerang District General Hospital, and Karawang General Hospital from September 20th 2019 to February 27th 2020. Patients with a history of previous urinary retention, moderate catheter use, or moderate pain even though analgesics have been excluded from the study. Patients who did not urinate 6 hours after delivery were dropped out.
Result: There were 520 subjects who met the inclusion and exclusion criteria. There was no relationship between maternal age and the incidence of covert postpartum urine
retention (p> 0.05). Primiparous parity was more at risk of having covert postpartum urine retention (p <0.001, OR 3.8% 95.97-7.72). Duration of second stage of labor ≥ 20 minutes is more at risk of covert postpartum urine retention (p <0.001, OR 36.69 IK95% 14.9-90.20). Severe perineal rupture (grade 3 or 4) is more at risk of having covert postpartum urine retention (p = 0.050, OR 8.54 IK95% 1.00-73.66). The birth weight > 3,000 grams is more at risk of having covert postpartum urine retention (p<0.001, OR 8.54 IK95% 1.76-7.59). Vaginal delivery using a tool is more at risk of
having covert postpartum urine retention (p = 0.002, OR 4.79 IK95% 1.75-12.99). There is no relationship between the volume of urine stage III with the incidence covert
postpartum urine retention (p> 0.05). Conclusion: Risk factors of covert type urine retention are primiparous parity, prolonged duration of second stage of labor, severe perineal rupture, birth weight of large infants, and vaginal delivery with the aid of a tool.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ummu Hani
"ABSTRAK
Latar belakang: Selama beberapa hari setelah persalinan, retensio urin dengan distensi kandung kemih adalah fenomena yang umum terjadi. Jika pasien tidak dapat berkemih spontan dalam waktu 4 jam setelah bersalin, besar kemungkinan bahwa dia mengalami Retensio Urin Post Partum RUPP . Di beberapa tempat pengukuran residu urin dilakukan 4 jam post partum, sementara di tempat lain dilakukan 6 jam post partum. Ketidakseragaman waktu pengukuran ini akan mempengaruhi diagnosis, tata laksana, serta prognosis. Waktu pengukuran yang lebih lama akan menyebabkan kandung kemih akan terisi lebih banyak urin, sehingga akan terdistensi dalam waktu yang lebih lama, sehingga waktu pemulihan akan lebih lama.Objektif: Diketahuinya lama pemulihan dan volume residu urin pada kelompok pasien dengan retensio urin pasca persalinan dengan beda waktu pengukuran,Desain penelitian dan metode: Penelitian ini menggunakan desai uji klinis acak di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSUD Karawang bulan Maret-Desember 2017. Perermpuan pasca salin dengan risiko retensio urin pasca persalinan, bersedia mengikuti penelitian, dan terdiagnosis retensio urin dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diukur residu urinnya dalam 4 jam, kelompok kedua dalam 6 jam. Pasien lalu diberikan tatalaksana retensio urin sesuai protokol RSUPNCM dan dicatat waktu pulihnya.Hasil: Karakteristik pasien pada kedua kelompok dianggap setara. Median lama pemulihan pasien retensio urin yang diukur residu urin 4 jam adalah 30 jam, berbeda 21 jam dengan pasien yang diukur resiudnya 6 jam, yaitu 51 jam p

ABSTRACT
Introduction Few days after delivery, urinary retention with bladder distention commonly happens. If patient unable to void spontaneously 4 hours after delivery, most likely she will develops post partum urinary retention PPUR . In some hospitals, the urinary residual volume was measured at 4th hour, other measures at 6th hour post delivery. This will affects the diagnosis, management, and prognosis. The longer the measurement will make the bladder filled with much more urine volume, thus the bladde will be distended in longer period, so the recovery time will be prolonged.Objective To know the differrence of recovery time and the urinary residual volume between group of patient with different time of urinary residual collecting.Study design and methode A randomized controlled trial was held at Cipto Mangunkusumo central general hospital and central Karawang hospital between March and Desember 2017. Post partum women with urinary retention risks, willing to contribute to the trial, and diagnosed as post partum urinary retention were divided into 2 groups. Urinary residual volume was meassured in 4th hour and 6th hour in each group. Patient then treated according to RSCM guideline, and the time of recovery was documented.Result Both group have similar characteristic. The median length of recovery in the group which the urinary residual was measured in 4th hour was 30 hours, 21 hours shorter than 6th hour group, 51 hours p 0.001 . The median of urinary residual volume of the 4th hour group was 600 ml, 400 ml lesser than the 6th hour group, 1000 ml p 0.001 Conclussion time of recovery are shorter in the 4th hour group and the urinary residual volume are less in the 4th hour group compared to the 6th hour group.Keywords post partum urinary retention, urine residual, urinary residual collecting time"
Depok: 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Munasirah
"Masalah yang dialami oleh ibu post partum salah satunya inkontinensia urin. Inkontinensia urin merupakan suatu keadaan keluarnya urin tanpa mampu di kontrol yang akhirnya menimbulkan berbagai masalah pada individu yang mengalaminya. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada 136 wanita (17 - 45 tahun). Tujuan untuk mengetahui angka kejadian, dampak dan penanganan inkontinensia pada ibu postpartum dengan menggunakan instrumem The Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) dan Incontinence Impact Questionnaire (UUQ) untuk mengevaluasi dampak inkontinensia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian inkontinensia pada ibu adalah 37,5% dengan usia antara 30 s/d 34, dimana multipara 80,4%, dimana 56,9% mengalami stress inkontinensia, 7,8% urge inkontinensia, dan 35,3% inkontinenisa campuran. sebagian besar (76,4%) tidak merasakan dampak dari masalah inkontinensia, dan sebagian besar (86,3%) masih kurang baik dalam penanganan inkontinensia. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlu peningkatan kesadaran pada ibu post partum terhadap masalah inkontinensia.

Problems experienced by post partum one of them is urinary incontinence. Urinary incontinence is a condition of urinary discharge without being able to control. eventually cause a variety of problems in individuals who experience. This descriptive study was conducted on 136 women (17 - 45 years). The objectives of this study were to know incidence rate, impact and managing incontinence in postpartum. To evaluate urinary incontinence used The Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID), and Incontinence Impact Questionnaire (IIQ) were used to evaluate the impact of incontinence. The incontinence incidence rate was 37.5% with age between 30 s / d 34, where multipara was 80.4%, of which 56.9% had incontinence stress, 7.8% urge incontinence, and 35.3% mixed incontinence. Most mothers (76.4%) did not feel the impact of the incontinence problem, and most (86.3%) were still poor in managing incontinence. From the result of the research, it is concluded that need to increase awareness on post partum mother to incontinence problem. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia , 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nisrina Nurfitria
"Stres oksidatif yang diinduksi hiperglikemia memainkan peran utama dalam patogenesis komplikasi ginjal di antara pasien diabetes mellitus tipe 2, yang dikenal sebagai nefropati diabetik. Peroksidasi asam arakidonat, salah satu komponen membran fosfolipid yang dapat ditemukan sebagian besar di sel mesangial glomerulus, membentuk kelompok zat mirip prostaglandin yang disebut isoprostanes. Salah satu metabolit, 8-iso-Prostaglandin F2α, diketahui memiliki aktivitas vasokonstriktif yang kuat, yang diduga terkait dengan patofisiologi hiperfiltrasi glomerulus pada tahap awal nefropati diabetik. Oleh karena itu, penelitian multisenter cross-sectional ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah 8-iso-Prostaglandin F2α dikaitkan dengan hiperfiltrasi glomerulus, yang tercermin oleh perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR) yang tinggi. Pengambilan sampel dilakukan pada tahun 2019 di Puskesmas Pasar Minggu (n = 57). Sampel yang diperoleh peneliti sebelumnya pada tahun 2015 di Rumah Sakit Sitanala, dan pada tahun 2016 dan 2017 di Puskesmas Pasar Minggu juga digunakan dalam penelitian ini (n = 154). Semua spesimen serum dan urine partisipan dianalisis untuk mengukur kreatinin serum dan konsentrasi 8-iso-Prostaglandin F2α urin mereka masing-masing. Kreatinin serum digunakan untuk menghitung eGFR berdasarkan persamaan CKD-EPI. 8-iso-Prostaglandin F2α urine diukur menggunakan metode ELISA kompetitif. Sampel (n = 211) dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan nilai eGFR ≥90 dan 60-89 mL/menit/1,73 m2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik dasar antara kedua kelompok, kecuali usia peserta (p <0,001). Rerata 8-iso-Prostaglandin F2α urin ditemukan lebih tinggi pada kelompok eGFR ≥90. Namun, perbedaannya tidak signifikan secara statistik (p = 0,214), menunjukkan bahwa 8-iso-Prostaglandin F2α mungkin terkait dengan hiperfiltrasi glomerulus tetapi masih belum cukup spesifik untuk digunakan sebagai penanda tahap awal nefropati diabetik.

Oxidative stress induced by hyperglycemia plays a major role in the pathogenesis of kidney complications among patients with type 2 diabetes mellitus, known as diabetic nephropathy. Arachidonic acid peroxidation, one of the components of the phospholipid membrane that can be found mostly in mesomer cells glomerulus, forming a group of prostaglandin-like substances called isoprostanes. One of the metabolites, 8-iso-Prostaglandin F2α, is known to have strong vasoconstrictive activity, which is thought to be related to the pathophysiology of glomerular hyperfiltration in the early stages of diabetic nephropathy. Therefore, this cross-sectional multicenter study was conducted to evaluate whether 8-iso-Prostaglandin F2α was associated with glomerular hyperfiltration, which was reflected by the high estimated glomerular filtration rate (eGFR). Sampling was carried out in 2019 at the Pasar Minggu Health Center (n = 57). Samples obtained by previous researchers in 2015 at Sitanala Hospital, and in 2016 and 2017 at Pasar Minggu Health Center were also used in this study (n = 154). All participants' serum and urine specimens were analyzed to measure serum creatinine and their respective urine 8-iso-Prostaglandin F2α concentrations. Serum creatinine is used to calculate eGFR based on the CKD-EPI equation. 8-iso-Prostaglandin F2α urine is measured using the competitive ELISA method. The sample (n = 211) was divided into two groups based on eGFR values ​​of ≥90 and 60-89 mL/min/1.73 m2. Statistical analysis showed that there were no differences in baseline characteristics between the two groups, except the age of the participants (p <0.001). The mean 8-iso-Prostaglandin F2α urine was found to be higher in the eGFR group ≥90. However, the difference was not statistically significant (p = 0.214), suggesting that 8-iso-Prostaglandin F2α might be associated with glomerular hyperfiltration but still not specific enough to be used as a marker for the early stages of diabetic nephropathy."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rendra Saputra
"Latar belakang: Prolaps organ panggul (POP) merupakan suatu permasalahan utama kesehatan dengan risiko seumur hidup pada perempuan yang menjalani paling sedikitnya satu kali intervensi pembedahan prolaps. Retensio urin pasca operasi rekonstruksi prolaps organ panggul disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari pemeriksaan hingga penanganan pasca operasi yang berkontribusi terhadap terjadinya retensio urin. Penelitian di RSCM tentang penggunaan kateter 24 jam pada pasien pasca operasi prolapse organ panggul terhadap insiden retensio urin adalah sebesar 29,5%. Penelitian ini akan melakukan perbandingan penggunaan kateter 24 jam yang dibandingkan kateter 48 jam terhadap insiden retensio urin yang nantinya akan menjadi standar baku terbaru di RSCM dan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Tujuan: Untuk mengetahui mana di antara kateter 24 jam dan 48 jam yang lebih baik untuk mengurangi angka kejadian retensio urin pascaoperasi prolaps organ panggul. Metode: Penelitian diagnosa, uji klinis acak, pengambilan sampel berturut-turut. Perbandingan antara kateter 24 jam dan 48 jam setelah operasi prolaps organ panggul Hasil: Total 54 subjek dalam penelitian ini, 3 subjek (11,1%) di antara 27 subjek dengan kateter 24 jam mengalami retensio urin. 1 subjek (3,7%) di antara 27 subjek dengan kateter 48 jam mengalami retensio urin. Kesimpulan: Penggunaan kateter 48 jam pascaoperasi prolaps organ panggul lebih baik daripada kateter 24 jam dalam mengurangi angka kejadian retensio urin.

Background: Pelvic organ prolapse (POP) is a major health problem with a lifetime risk in women who undergo at least one prolapse surgical intervention. Postoperative retention of urine pelvic organ prolapse reconstruction is caused by a number of factors ranging from examinations to postoperative clients that
contribute to the occurrence of urinary retention. Research at the RSCM about 24- hour catheter use in postoperative pelvic organ prolapse patients for the incidence of urinary retention was 29.5%. This study will compare the use of a 24-hour catheter compared to a 48-hour catheter against the incidence of urinary retention which will later become the latest standard in RSCM and RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Objective: To know which one among 24-hour and 48-hour catheter is better to decrease incidence of urinary retention after pelvic organ prolapse surgery. Methode: Diagnosis research, randomized clinical trial, consecutive sampling. Comparison between 24-hour and 48-hour catheter after pelvic organ prolapse surgery Result: Total 54 subjects in this research, 3 subjects (11.1%) among 27 subjects with 24-hour catheter experienced urinary retention. 1 subject (3.7%) among 27 subjects with 48-hour catheter experienced urinary retention. Conclussion: The application of 48-hour catheter after pelvic organ prolapse surgery is beter than 24-hour catheter to decrease the incidence of urinary retention.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anip Manfaatun
"Hingga saat ini, penanda biologis yang menggambarkan gangguan fungsi ginjal akibat diabetes melitus (DM) belum dapat mendeteksi adanya kerusakan sejak dini. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara 8-iso-Prostaglandin F2α dengan laju filtrasi glomerulus yang diestimasi (eLFG) sebagai penanda gangguan fungsi ginjal yang terjadi pada pasien DM tipe 2. Sebagai salah satu senyawa penanda terjadinya stres oksidatif, 8-iso-Prostaglandin F2α diduga berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal sebagai salah satu komplikasi diabetes. Kadar 8-iso-Prostaglandin F2α diukur dari urin dan nilai eLFG dihitung dari kreatinin serum. Sampel urin dan serum diambil dari 36 pasien DM tipe 2 dengan teknik total sampling.
Metode spektrofotometri digunakan untuk mengukur kadar kreatinin serum, sedangkan untuk pengukuran kadar 8-iso-Prostaglandin F2α digunakan metode enzyme immunoassay. Data lain yang diperlukan diperoleh melalui kuesioner. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peningkatan kadar 8-iso-ProstaglandinF2α berbanding terbalik dengan penurunan nilai eLFG pasien DM tipe 2. Namun, hubungan tersebut tidak bermakna secara statistik. Faktor usia dan kadar glukosa darah merupakan faktor yang paling mempengaruhi nilai eLFG pada pasien DM tipe 2.

Until now, biological marker that describes renal dysfunction due to diabetes mellitus (DM) have not been able to detect any damage early. This study aimed to determine the relationship between 8-iso-Prostaglandin F2α with estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) as a marker of renal dysfunction at type 2 diabetes mellitus. As one of the markers of oxidative stress, 8-iso-ProstaglandinF2α assumed to be associated with renal dysfunction as a complication of diabetes mellitus. The levels of 8-iso-Prostaglandin F2α measured from urine, and eGFR calculated from serum creatinine. Urine and serum samples taken from 36 type 2 DM patients, using total sampling method.
Spectrophotometric used to measure levels of serum creatinine and the levels of 8-iso-Prostaglandin F2α was measured by enzyme immunoassay. Other necessary data obtained through questionnaires. The results showed that increasing level of 8-iso-ProstaglandinF2α was inversely proportional to the decline in eGFR of type 2 DM patients. However, these correlation was not significant statistically. Age and blood glucose were the factors that could effect the value of eGFR in type 2 DM patients.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S47200
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>