Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 164644 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Lestari Ningsih
Perbedaan Pengetahuan Kader Tentang Desa Siaga di Desa Siaga dan Desa yang Berstatus Belum Siaga di Kabupaten Katingan Tahun 2011= In the year 2015, The Ministry of Health of Indonesia targeted that 80% of villages have become the active Alert Village. Recorded in the year 2009 the number of Alert villages in Central Kalimantan Province is 136 (9.67%) of 1406 villages in there. While in Kabupaten Katingan a number of Alert Village is 28 villages (17.3%) of 161 villages. The implementation of Alert Village program that launched by the Ministry of Health is not working. Cadre is one of the community activator that directly assist health workers in managing alert village health. The study was conducted in Kabupaten Katingan to know the differences of cadre knowledge about Alert Village in Alert village and non Alert Villages. The study design was cross sectional study. Population and the sample was a cadre in the Posyandu. The sample consisted of 68 cadre from Alert Villages and 68 cadres from non Alert Villages. The variables that’s been studied were the characteristics of cadre (age, education, occupation, and length of service), Exposure information about the alert village through Mass Media (electronic and print media), training and socializing about alert village. Samples obtained by cluster random sampling technique. Data were collected through interviews using a questionnaire and analyzed by univariate analysis and bivariate. The results showed that most of cadre in the alert village and non alert villages in the age of ≥ 32 year. Most of cadre in non Alert Villages not graduated from high school, while in Alert Village the cadre graduated from Junior High School. Cadre in both villages do not have jobs (housewife) and serve more than ≥ 4 years in the Alert village, while in non alert villages serve less than 4 years. Information obtained by the cadre of alert village is from the print media while the cadre in non alert villages get it from electronic media. Cadre of alert get more training and socialization about Alert Village compared to non Alert Villages Cadre. The results of the bivariate analysis found that cadre who receive training and socialization of the Alert Villages have a better knowledge than those who does not. There is a knowledge differences about Alert Villages between cadre in the Alert village and non Alert Villages. So that it is necessary to enhance the effort of cadre knowledge through training and socialization of about alert village in the implementation and developmet of Alert Village / Sri Lestari Ningsih
"ABSTRAK
Pada tahun 2015 Kemenkes RI menargetkan bahwa 80% desa telah
menjadi Desa Siaga aktif. Tercatat pada tahun 2009 jumlah Desa Siaga yang ada
Propinsi Kalimantan Tengah sebanyak 136 (9,67%) dari 1.406 desa dan
kelurahan yang ada. Sedangkan di Kabupaten Katingan jumlah Desa Siaga
sebanyak 28 (17,3%) dari 161 jumlah desa/kelurahan. Program Desa Siaga yang
digulirkan oleh Depkes yang pada pelaksanaannya tidak berjalan. Dimana kader
ini merupakan salah satu penggerak masyarakat yang telibat secara langsung
untuk membantu petugas kesehatan dalam mengelola Desa Siaga.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Katingan untuk mengetahui
perbedaan pengetahuan kader tentang Desa Siaga di Desa Siaga dan desa yang
berstatus belum siaga. Disain penelitian yang digunakan adalah cross sectional.
Populasi dan sampel adalah kader di Posyandu 68 orang kader di Desa Siaga dan
68 orang di desa yang berstatus belum siaga. Variabel-variabel yang diteliti adalah
karakteristik kader (umur, pendidikan, pekerjaan, dan lama mengabdi), Pajanan
informasi tentang Desa Siaga melalui media mssa (media elektronik dan cetak),
Pelatihan dan sosialisasi tentang Desa Siaga. Sampel didapatkan dengan tehnik
clusster random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan
kuesioner dean dianalisa dengan analisa univariat dan bivariat.
Hasil menunjukkan bahwa rata-rata umur kader di Desa Siaga dan desa
yang berstatus belum siaga sebagian besar berumur ≥ 32 tahun.tingkat pendidikan
kader di desa yang berstatus belum siaga tamat SLTA, sedangkan di Desa Siaga
tamat SLTP. kader di kedua status desa tersebut tidak memiliki pekerjaan (IRT)
dengan lama mengabdi jadi kader ≥ 4 tahun di desa siaga sedangkan kader di
desa yang berstatus belum siaga lama mengabdi < 4 tahun. Informasi yang
didapatkan olek kader di Desa Siaga melalui media cetak sedangkan di desa yang
berstatus belum siaga melalui media elektronik. Kader di Desa Siaga lebih banyak
mendapatkan pelatihan dan sosialisasi tentang Desa Siaga dibandingkan dengan
kader di desa yang berstatus belum siaga. Hasil analisa bivariat di dapatkan bahwa
kader yang mendapatkan pelatihan dan sosialisasi tentang Desa Siaga
pengetahuannya lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan pelatihan dan
sosialisasi tentang Desa Siaga dan didapatkan ada perbedaan pengetahuan kader
tentang Desa Siaga di Desa Siaga dan desa yang berstatus belum siaga.
Sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan kader
melalui pelatihan dan sosialisasi tentang desa siaga dalam pelaksanaan
pengembangan desa siaga

ABSTRACT
In the year 2015, The Ministry of Health of Indonesia targeted that 80% of
villages have become the active Alert Village. Recorded in the year 2009 the
number of Alert villages in Central Kalimantan Province is 136 (9.67%) of 1406
villages in there. While in Kabupaten Katingan a number of Alert Village is 28
villages (17.3%) of 161 villages. The implementation of Alert Village program
that launched by the Ministry of Health is not working. Cadre is one of the
community activator that directly assist health workers in managing alert village
health.
The study was conducted in Kabupaten Katingan to know the differences
of cadre knowledge about Alert Village in Alert village and non Alert Villages.
The study design was cross sectional study. Population and the sample was a
cadre in the Posyandu. The sample consisted of 68 cadre from Alert Villages and
68 cadres from non Alert Villages. The variables that’s been studied were the
characteristics of cadre (age, education, occupation, and length of service),
Exposure information about the alert village through Mass Media (electronic and
print media), training and socializing about alert village. Samples obtained by
cluster random sampling technique. Data were collected through interviews using
a questionnaire and analyzed by univariate analysis and bivariate.
The results showed that most of cadre in the alert village and non alert
villages in the age of ≥ 32 year. Most of cadre in non Alert Villages not graduated
from high school, while in Alert Village the cadre graduated from Junior High
School. Cadre in both villages do not have jobs (housewife) and serve more than
≥ 4 years in the Alert village, while in non alert villages serve less than 4 years.
Information obtained by the cadre of alert village is from the print media while the
cadre in non alert villages get it from electronic media. Cadre of alert get more
training and socialization about Alert Village compared to non Alert Villages
Cadre. The results of the bivariate analysis found that cadre who receive training
and socialization of the Alert Villages have a better knowledge than those who
does not. There is a knowledge differences about Alert Villages between cadre in
the Alert village and non Alert Villages.
So that it is necessary to enhance the effort of cadre knowledge through
training and socialization of about alert village in the implementation and
developmet of Alert Village."
2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novita Handayani
"Cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada tahun 2015. Tahun 2009 di Indonesia tercatat 42.295 desa dan kelurahan (56,1%) telah memulai upaya mewujudkan Desa Siaga dan Kelurahan Siaga. Sampai dengan tahun 2010, Kota Bandar Lampung memiliki 69 Kelurahan Siaga dari 98 Kelurahan yang ada. Sampai dengan tahun 2010 seluruh Kelurahan diwilayah kerja Puskesmas Kedaton sudah menjadi Kelurahan Siaga. Kelurahan Siaga di wilayah Puskesmas Kedaton telah menjadi Kelurahan Siaga Aktif berdasarkan penilaian dari Poskeskel yang buka setiap hari.
Peran kader dalam pengembangan desa siaga sangat dibutuhkan terutama dalam menggerakkan masyarakat. Bila kader memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan, kader bisa melakukan sosialisasi mengenai penanganan penyakit kepada masyarakat.
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kedaton kota Bandar Lampung yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap kader dalam implementasi Kelurahan Siaga serta diketahuinya hubungan antara faktor karakteristik kader yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap kader dalam implementasi Kelurahan Siaga.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel yang diambil adalah seluruh kader di wilayah kerja Puskesmas Kedaton. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner dan dianalisa dengan analisa univariat dan bivariat.
Hasil analisa bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara sikap responden dengan implementasi Kelurahan Siaga, serta ada hubungan yang bermakna antara lama menjadi kader dengan pengetahuan responden. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan kader dengan implementasi Kelurahan Siaga, serta tidak ada hubungan antara umur dan pendidikan responden dengan pengetahuan pengetahuan responden. Untuk meningkatkan sikap positif kader dalam implementasi Kelurahan Siaga, perlu ditingkatkan sosialisasi dan penyuluhan pada kader.

The Coverage of Active Alert Village in year 2015 is 80%. In Year 2009 in Indonesia recorded 42.295 villages (56.1%) have begun efforts to create Alert Village. Until 2010, Bandar Lampung has 69 Alert Villages of 98 villages that stand there. Until the year 2010 all areas in Puskesmas Kedaton has become the Alert Village based on the assessment of Poskeskel which is open every day.
The role of cadre in the development of Alert Village is required especially to activate the society. When cadre have enough knowledge about health, they will be able to socialize the management of disease to society.
The study was conducted in the working area of Puskesmas Kedaton Bandar Lampung, aims to determine the correlation between knowledge and attitudes of cadres in the implementation of the Alert Village and know the correlation between characteristics factors of the cadre that is related to knowledge and attitudes of cadres in the implementation of the Alert Village.
The design of the study is a cross sectional study. The samples is all of the cadre in Puskesmas Kedaton working area. Data were collected by filling out questionnaires and analyzed with univariate and bivariate analysis.
The results of bivariate analysis showed correlation between the attitudes of respondents and the implementation of the Alert Village, and significant association between long been a cadre with knowledge of respondents. There was no significant correlation between the cadre’s knowledge with the implementation of the Alert Village, and there is no correlation between age and education of respondents with knowledge of respondents. To increase the positive attitude of cadre in the implementation of Alert Village, socialization and training for cadre is need to be improved.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mochammad Bagus Qomaruddin
"Penelitian ini mengembangkan indikator pemberdayaan dan cara pengukurannya yang dapat dimanfaatkan dalam menentukan tingkat keberdayaan desa siaga. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian berupa instrumen yang sudah terbukti valid dan reliabel. Desa siaga yang memiliki skor tingkat keberdayaan 60 ke atas lebih dari 85%, namun yang memiliki skor 80 ke atas masih di bawah 25%. Tingkat keberdayaan desa siaga dapat meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, kenaikan berat badan balita (N/D) dan menurunkan jumlah balita gizi buruk. Disarankan agar instrumen ini diuji cobakan di tempat lain untuk mengetahui stabilitas dari indikator.

The objective of this research was to develop empowerment indicators in measuring empowerment level of alert villages. Qualitative and quantitative approaches were used in this research. The research found out that indicators instrument was valid and reliable. Less then 25% of alert villages had score of empowerment level was 80 or more and more then 85% of alert villages had score was 60 or more. The empowerment level of alert villages was able to increase coverage of delivery assisted by health personnel, weight gain (N/D) and decrease the amount of under five children malnutrition. It is recommended to retested the indicators instrument in other places to know stability of the indicators."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
D1385
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Sumpena
"Desa siaga merupakan salah satu program yang digulirkan Depkes.Komponen kesiapan menjadi salah satu faktor penting terhadap terlaksananya program desa siaga. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesiapan pengembangan desa siaga di Kabupaten Konawe Selatan,dengan menggunakan desain kualitatif untuk mengetahui informasi keberadaan komponen pengembangan desa siaga. Pengumpulan data dilakukan dengan metode diskusi kelompok terarah dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari Sembilan variabel yang harus dimiliki dalam pengembangan desa siaga,baru empat variabel yang sudah dimiliki. Kesimpulannya secara umum Kabupaten Konawe Selatan belum siap untuk pengembangan desa siaga. Dinkes Kabupaten diharapkan mampu meningkatkan pengadaan sarana prasarana Poskesdes yang sudah berjalan baik dan meningkatkan kemitraan dengan pemerintah kecamatan dan desa.

Village alert was one program that published by Health Departement. The readiness component be an important factor to implementate village alert programs. The objective of this study was to identify ?the readiness in village alert development at South Konawe district?, which used a qualitative method to get more information about availability of components of village alert development. Data collected with focus group discussion and in depth interview. The findings of this study showed that the village in South Konawe just have four variables from nine variables that must been available. The conclusion was South Konawe district have not been ready for village alert development. It is recommended for Health Departement to improve Poskesdes facilities that have been going on and to improve collaboration with village and sub district government.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
T41274
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Febria Kartika Irtianti
"RW Siaga sebagai salah satu strategi dalam mengatasi masalah kesehatan terkadang masih belum optimal dalam pelaksanaanya. Kader sebagai ujungtombak untuk menggerakkan masyarakat diharapkan keaktifannya dalam kegiatanRW Siaga. Skripsi ini membahas mengenai faktor-faktor yang berhubungandengan keaktifan kader tersebut di wilayah kecamatan Jatisampurna, kota Bekasipada tahun 2009. Penelitian ini adalah penelitian kwantitatif dengan bentuk survey
secara cross-sectional.
Hasil penelitian menunjukan faktor internal yangberhubungan dengan keaktifan kader RW Siaga adalah umur kader, sedangkanfaktor eksternal meliputi pelatihan, pembinaan, penghargaan, dukunganmasyarakat, fasilitas kesehatan dan situasi untuk bertindak yang berhubungan dengan keaktifan kader RW Siaga. Hasil penelitian menyarankan perlunya diperhatikan faktor umur dalam rangka kaderisasi, serta perlunya penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan bagi para kader.

Alert neighborhood mode as one of the strategies in dealing with health problems are sometimes still not optimal in its implementation. Cadre as the spearhead to mobilize the public expected activeness in events mode neighborhood. This thesis discusses the factors associated with active cadre in the region Jatisampurna district, Bekasi city in 2009. This research is quantitative research with cross-sectional survey.
The results showed that internal factors associated with the active standby neighborhood cadre is a cadre of age, whereas external factors include training, coaching, awards, community support, health facilities and to act in situations relating to cadre neighborhood active standby. The results show the need for attention in the context kaderisasi age factor, and the need for training and coaching for the cadres.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Suprihatin
"Telah diketahui bahwa tingginya AKI sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan mendeteksi adanya faktor resiko dan kurangnya memberdayakan ibu hamil pada perawatan kehamilan resiko tinggi. Kondisi ini memberikan dampak pada tingginya kematian ibu saat persalinan. Melalui program desa siaga, Lumajang telah berhasil menurunkan AKI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenonemonologi deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengalaman ibu hamil risiko tinggi dalam mencegah terjadinya komplikasi persalinan sebagai dampak pelaksanaan program desa siaga di Desa Kenongo Lumajang Jawa Timur. Informan pada penelitian ini adalah para ibu yang telah melahirkan secara fisiologis sejak tahun 2007 dengan riwayat kehamilan risiko tinggi. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang ditetapkan berdasarkan tehnik sampling purposif. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri melalui wawancara mendalam dan direkam menggunakan tape recorder. Data dianalisis dengan tehnik Colaizzi, dan menghasilkan 19 tema yang menggambarkan pengalaman ibu hamil risiko tinggi dalam mencegah terjadinya komplikasi persalinan sebagai dampak pelaksanaan program desa siaga. Dalam penelitian ini diketahui bahwa dampak program desa siaga di Desa Kenongo yang dipersepsikan ibu dalam perawatan kehamilan risiko tinggi adalah adanya pemantauan terhadap ibu hamil, keterjangkauan pelayanan kesehatan, pemberdayaan biaya persalinan, dan pengelolaan asuhan persalinan. Hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya dilakukan upaya perbaikan pada pelaksanaan program desa siaga dalam merawat ibu hamil risiko tinggi dan bagi peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian lanjutan, dengan lokasi dan informan yang lebih representatif serta pendekatan yang lebih sempurna.

It has been known that the high MMR in Indonesia is mostly caused by the late detection of risk factors and the lack empowerment of pregnant women during their high risk pregnancy care. These conditions gave impact to the high maternal mortality during childbirth. Through Desa Siaga (alert Village) Program, Lumajang has been succeeded to decrease MMR. This study was a qualitative research with descriptive phenomenology design that aims to identify high risk pregnant women's experience in preventing childbirth complication as impact about 'desa siaga' (alert village) Program in Lumajang, East Java. The informants were women who have high risk pregnancy's experience, had physiologic childbirth from 2007 in Kenongo Village. The informants size were six women and was recruited based on purposive sampling. Data were collected through in-depth interview by researcher her self and it was recorded by tape recorder. The data analyzed with Colaizzi's technique, that produced 19 themes showed the women's experience of high risk pregnancy in preventing complication as the impact of Desa Siaga Program. The women's perception about impact of Desa Siaga Program were showed by 4 themes, there are monitoring, health care to be reached, empowerment of delivery cost, and organizing of childbirth. This research is suggested to increase the effort of 'Desa Siaga' program in taking care of high risk pregnant women. The future research should be done in a more representative location with more representative informants and more perfect approach. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Djakarta : International Village for the fourth Asian-Games, 1962
992.07 WEL ;992.07 WEL (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Merita Basril
"Janin dan bayi prematur menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur di dalam dan di luar rahim. Tidur dianggap sebagai aktivitas penting pada periode neonatal, serupa dengan pernapasan dan nutrisi. Kebisingan merupakan salah satu penyebab gangguan pola tidur pada bayi prematur di ruang perawatan intensif neonatal dan berdampak pada gangguan tumbuh kembang. Studi ini memberikan gambaran penerapan Model Adaptasi Callista Roy dalam asuhan keperawatan pada lima kasus bayi prematur dengan risiko gangguan pola tidur. Desain yang digunakan adalah studi kasus yang didapatkan dari lima kasus terpilih. Teori Adaptasi Callista Roy mampu memfasilitasi perawat untuk menggali masalah keperawatan pada bayi prematur secara komprehensif. Pemberian edukasi Bundles Alert to Alarm kepada seluruh perawat neonatal menggunakan media pitstop dapat menurunkan angka kebisingan diruang perawatan neonatal. Penerapan teori Adaptasi Callista Roy dan penerapan Bundles allert to alarm dapat direkomendasikan untuk diterapkan dalam asuhan keperawatan yaitu dapat memfasilitasi istirahat tidur bayi prematur yang dirawat di ruang perawatan neonatal.

Fetuses and premature babies spend most of their time sleeping inside and outside the womb. Sleep is considered an important activity in the neonatal period, similar to breathing and nutrition. Noise is one of the causes of disturbed sleep patterns in premature babies in the neonatal intensive care room and has an impact on growth and development disorders. This study provides an overview of the application of the Callista Roy Adaptation Model in nursing care in five cases of premature babies at risk of sleep pattern disorders. The design used is a case study obtained from five selected cases. Callista Roy's Adaptation Theory is able to facilitate nurses to comprehensively explore nursing problems in premature babies. Providing Bundles Alert to Alarm education to all neonatal nurses using pitstop media can reduce noise levels in the neonatal care room. The application of Callista Roy's Adaptation theory and the application of Bundles alert to alarm can be recommended for application in nursing care, namely it can facilitate sleep for premature babies who are cared for in the neonatal care room."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
M. Ichsan Kurnia
"Performansi RNC pada sistem RAN - WCDMA dapat dipengaruhi dengan adanya sleeping cell pada Node B. Sleeping cell tidak dapat langsung terdeteksi dengan RANOS karena status Node B yang didalamnya terdapat sleeping cell secara keseluruhan tidak bermasalah (status aktif). Pada skripsi ini Penulis merancang program untuk memberikan notifikasi alert sleeping cell melalui email. Program ini sekaligus akan men - troubleshoot sleeping cell secara otomatis dengan membuat script unix. Program ini dibuat dengan melihat trafik pada Node B tersebut dengan memperhatikan nilai RRC connection antara RNC dengan Node B. Program ini akan mengirimkan data sleeping cell dan hasil troubleshoot pada mailbox pihak yang memerlukan.

RNC performance in RAN ' WCDMA system could be affected with sleeping cell at Node B. RANOS can not detect sleeping cell directly, since the status of node B which has sleeping cell is active (no alarm). This final project discusses about design program which can notificated sleeping cell alarm into mailbox and develop the program which could troubleshoot sleeping cell automatically by making some unix script. This program will behold into the traffic of node B by more focus with RRC connection value. The result of this program will send to people who needed the data into their mailbox."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51154
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ananda Howard Nixon
"Kebakaran bangunan merupakan suatu bencana yang merugikan bagi banyak pihak yang dapat mengakibatkan kerugian materi dan berpotensi terhadap kematian yang cukup besar sehingga memerlukan perhatian akan keselamatan pengguna bangunan. Skripsi ini membahas perancangan voice alert notification pada sistem evakuasi bahaya kebakaran.
Tujuan dari perancangan sistem ini adalah untuk membantu manusia untuk mendapatkan informasi dimana zona bahaya kebakaran berasal dan mengarahkan ke jalur evakuasi yang aman secara otomatis apabila terjadi kebakaran. Voice alert notification dirancang dengan menggunakan Mikrokontroler AT89S51 dengan bahasa pemrograman assembly. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan melakukan perancangan dan pengujian alat.
Berdasarkan hasil pengujian alat , baik sensor suhu LM35, LED, Voice Speaker, Buzzer, dan rangkaian secara keseluruhan dapat bekerja dengan baik. Pada alat ini, sensor suhu LM35 mendeteksi kenaikan suhu yang kemudian diproses pada mikrokontroler, apabila suhu melebihi batas yang telah ditentukan, maka output LED, Buzzer, dan Voice dari Speaker akan bekerja secara otomatis. Sistem voice alert notification pada perancangan alat ini dapat menginformasikan lokasi bahaya kebakaran dan zona evakuasi melalui output voice speaker dan penggunaan LED bertujuan untuk mengarahkan ke jalur evakuasi yang aman tersebut.

Fire building is a disaster which detrimental for many party that may result in material losses and the potential for considerable mortality and require attention to the safety of building users. This thesis discusses the design of voice alert notification on fire danger evacuation system.
The purpose of the design of this system is to assist people to obtain information which are a fire hazard zones and directing to the safe evacuation routes automatically in case of fire hazard. Voice alert notification designed using Microcontroller AT89S51 with assembly language programming. Data collection methods that used in writing this paper is to perform design and testing tools.
Based on the results of testing tools, both LM35 temperature sensor, LED, Voice Speaker, Buzzer, and the circuit series as a whole is running well. In this tool, LM35 temperature sensor detects the temperature rise which is then processed in the microcontroller, when the temperature exceeds the limit specified in the program in the microcontroller, the output LED, Buzzer, and Voice of the Speaker will work automatically. Voice alert notification system in this design can inform the location of fire and evacuation zone through voice output speaker and use of LED aims to drive to a safe evacuation routes.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44032
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>