Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 204150 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Veronica Marissa Vania
"ABSTRAK
Auditor internal merupakan pihak yang diharapkan memberikanhasil audit yang
dapatdiandalkandanberkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahuisejauhmanapengaruhkompetensi, independensi, objektivitas,
danintegritasterhadapkualitashasil audit. Metode yang digunakan adalah studi
kuantitatifdenganinstrumentkuesioner (survey). Hasil penelitian menyimpulkan
bahwa
variablekompetensidanindependensitidakmemilikipengaruhsecarasignifikanterhad
apkualitashasil audit.
Sedangkanvariabelobjektivitasdanintegritasmemilikipengaruhyang
signifikanterhadapkualitashasil audit. Dalam melakukankegiatan audit
danuntukmendapatkanhasil audit yang bisa
diandalkandanberkualitasInspektoratJenderalKemendikbudperluuntukmeningkatk
ankompetensisepertipengetahuanstatistikdananalisis. Dalam melakukankegiatan
audit perlujugapimpinanuntuktidakmelakukanintervensiterhadappenyusunan
program audit, prosedur audit, dan memodifikasi bagian tertentu dalam kegiatan audit.

ABSTRACT
Internal auditor shall be the party expected to provide reliable and qualified audit. This research is aimed to find out to what extent the impact of competency,
independency, objectivity, and integrity toward audit quality. Method used on this
research is quantitative study by means of questionnaire (conduct of survey). The
result of research concludes that variables of competency and independency do
not have significant impact on audit quality. Meanwhile, variables of objectivity
and integrity have significant impact on audit quality. In obtaining reliable and
qualified audit result, Inspectorate General of Ministry of Education and Culture
is required to improve competency such as statistic knowledge and analysis. It is
also important to have leader/manager who will not do intervention in planning
audit program, setting audit procedure, and modificating certain process of audit"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fillardhi
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan internal audit dalam meningkatkan akuntabilitas, transparansi dan efektifitas sistem pengendalian intern. Metode penelitian yang dilakukan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Inspektorat Jenderal telah mendorong, mensosialisasikan satuan kerja menerapkan akuntabilitas dengan pemantauan dan pendampingan agar para pegawai melaporkan semua bentuk kegiatan, melakukan pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah, transparansi akan informasi yang dapat diakses oleh masyarakat melalui website berisi laporan keuangan, RKAKL dan info pemenang lelang yang menjadi rekanan dalam menjalankan program, dan juga nomor telpon, email pengaduan. Tetapi permasalahan disebabkan karena masih lemahnya sistem pengendalian intern dan penerapan PP 60/2008 tentang SPIP (Sistem Pengendalian Intern Pemerintah) yang belum efektif yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, pemantauan pengendalian intern. Dalam lingkungan pengendalian penerapan kode etik yang masih belum maksimal masih adanya pelanggaran yang terjadi, penilaian kerja pegawai yang kurang transparan, peran APIP yang efektif masih terkendala atau masih belum maksimal, pada penilaian risiko yaitu sistem penilaian risiko masih belum ada, informasi atau data dari satuan kerja kurang dikomunikasikan dengan baik, pada pemantauan telah memiliki prosedur kegiatan pemantauan yang bersifat rutin maupun bersifat khusus.

This study aims to determine the role of internal audit in improving accountability, transparency and effectiveness of the internal control system. The Research method used is a qualitative method of data collection techniques field and library research.
The results show that the General Inspectorate has been encouraging, disseminating the work units implementing accountability by monitoring and assistance for employees to report all forms of activities, provide guidance to the preparation of financial statements in accordance with standards government accounting, transparency of information which can be accessed by the public through the website contains financial statements, RKAKL and the info up to the winner to become a partner in running the program, and also telephone number, e-mail complaints. But the problem is caused due to weak internal control systems and the application of Regulation 60/2008 on the SPIP ineffective control environment, risk assessment, control activities, information and communication, monitoring of internal control. In the control environment the application of the code of ethics that is still not up to the persistence of the violations that occurred, the assessment of employees working less transparent, the role of APIP effective still constrained or is not maximized, the risk assessment of the system of risk assessment is still not there, information or data from unit work less well communicated, on the monitoring procedures of monitoring activities that are routine and special character.
"
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanis Naini
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi, kecermatan
profesional, keahlian industri, dan kompleksitas terhadap kualitas audit investigasi
pada Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis data sekunder dari
penanggung jawab pengelola data tersebut. Hasil penelitian melalui pengujian
secara kuantitatif dilakukan mulai tahun 2013 sampai dengan September 2015
menunjukkan bahwa kompetensi dan keahlian industri tidak berpengaruh terhadap
kualitas audit investigasi pada Inspektorat Jenderal Kementerian Agama.
Kecermatan profesional berpengaruh negatif terhadap kualitas audit investigasi
pada Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Sementara kompleksitas
berpengaruh positif terhadap kualitas audit investigasi pada Inspektorat Jenderal
Kementerian Agama

ABSTRACT
The purposes of this study is to analyze the influence of the competence, due
professional care, industry expertise and complexity of investigative audit quality
at Inspectorate General Religious Affairs Ministry. This research is a quantitative
research using the technique of secondary data analysis of a person in charge of
managing the data. Research results through quantitative testing that is conducted
from 2013 to September 2015 shows that the competence and industry expertise
do not affect the quality of the audit investigation on the Inspectorate General of
the Ministry of Religion Affairs. Due professional care negatively affects the
quality of the audit investigation on the Inspectorate General of the Ministry of
Religion Affairs. While complexity positively affects the quality of the audit
investigation on the Inspectorate General of the Ministry of Religion Affairs"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Axtell, Guy, 1957-
Cambridge : MA Polity Press, 2016
121.4 AXT o
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Thoriq
"Di dalam kondisi globalisasi saat ini, dimana dunia seakan tidak ada batasan lagi antara satu negara dengan negara lainnya. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam setiap kegiatan pemerintahan dan merupakan aset yang bernilai bagi pemerintahan, oleh karena itu perlu adanya dukungan sumber daya yang kompeten untuk kelangsungan jalannya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Keinginan pemerintah untuk mengembangkan sumber daya manusia sangat penting mengingat lingkungan yang sudah berubah, dan masyarakat semakin kritis serta menuntut pelayanan prima pemerintahan karena mutu pelayanan masyarakat yang merupakan tujuan utama pemerintah.
Kementerian Keuangan khususnya Inspektorat jenderal harus menjadi motor penggerak dan suri tauladan bagi unit eselon 1 lainnya dalam mengelola sumber daya manusia. Inspektorat Jenderal harus berupaya terus menerus untuk meningkatkan kinerja pegawainya. Agar dapat memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat dan merubah paradigma masyarakat selama ini.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh functional kompetensi, kompetensi managerial, dan disiplin terhadap kinerja pegawai Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Analisis penelitian ini mengunakan regresi linier berganda, dimana variabel independen yang digunakan adalah functional kompetensi, kompetensi managerial dan disiplin serta variabel dependennya adalah kinerja.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : Pengaruh seluruh variabel independen terhadap kinerja pegawai adalah sebesar 64,5%, dengan model regresi yang didapat dalam penelitian ini adalah: Y = 1,305 + 0,306 X1 + 0,197 X2 + 0,227 X3, tingkat signifikansi sebesar 5%.
Saran dari hasil penelitian ini adalah mempertimbangkan functional kompetensi, kompetensi managerial dan disiplin dalam melakukan penilaian kinerja pegawai sesuai dengan proporsi masing-masing variabel.

In the current conditions of globalization, where the world seems no longer boundaries between one country to another. Human resources play an important role in every activity of government and is a valuable asset for the government, therefore we need the support of competent resources for a sustainable way a clean and authoritative government.
Government's desire to develop human resources is very important considering that the environment has changed, and increasingly critical public and governmental demands for excellent service quality of public service which is the main purpose of government. Particularly the Inspectorate General of Ministry of Finance should become the motor and the models for other first echelon units in managing human resources. Inspectorate-General should seek continuously to improve employee performance. In order to provide optimal service to the community and changing the paradigm for this community.
This study aims to analyze the influences of functional competency, managerial competency, and discipline on the performance of the Inspectorate General of Ministry of Finance officials. Analysis of this study using multiple linear regression, where the independent variables used are functional competency, managerial competency and discipline and performance as dependent variables.
The results of this study indicate that the effect of all independent variables on the performance of employees amounted to 64.5%, with regression models obtained in this study are: Y = 1.305 + 0.306 X1 + 0.197 X2 + 0.227 X3, 5% significance level.
Suggestions from the results of this study is to consider the functional competency, managerial competency and discipline in conducting employee performance appraisals in accordance with the proportion of each variable."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T31090
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Harsono
"Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, Inspektorat Jenderal Depdiknas mempunyai tugas melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Depdiknas. Pada tahun 1996 perjalanan karir aparat pengawasan memasuki babak Baru dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Kepmenpan) Nomor 19/1996 Tentang Jabatan Fungsional Auditor (JFA) dan Angka Kreditnya. Dengan terbitnya Kepmenpan ini maka pemeriksa yang semula merupakan pejabat struktural menjadi pejabat fungsional auditor. Hal yang penting dalam regulasi ini, tingkat pendidikan formal seorang auditor menjadi sangat menentukan pencapaian pangkat dan jabatan, disamping Pelatihan Sertfikasi JFA. Perubahan ini membawa konsekuensi terjadinya kesenjangan kompetensi auditor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam tentang persepsi auditor Inspektorat III Inspektorat Jenderal Depdiknas terhadap Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi JFA kaitannya dengan peningkatan kompetensi auditor pendidikan.
Kajian pustaka mengindikasikan bahwa kompetensi seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan serta pelatihan yang diterimanya. Pada penelitian ini indikator kompetensi mengacu pada batasan tentang kompetensi Spencer and Spencer (1993 ; 9 - 11) menggambarkan karakteristik kompetensi menjadi lima, yaitu: 1) Motives (Motif), adalah sesuatu dimana seseorang secara konsisten berpikir sehingga ia melakukan tindakan. 2) Traits (Karakter) adalah watak yang membuat orang untuk berperilaku atau bagaimana seseorang merespon sesuatu dengan cara tertentu, 3) Self Concept (Konsep Diri) adalah sikap atau nilai-nilai yang dimiliki seseorang. 4) Knowledge (Pengetahuan) adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang komplek. Dan 5) Skill (Keterampilan) adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun mental.
Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data dengan tiga Cara yakni melakukan studi kepustakaan, pemberian kuesioner (angket) digunakan instrumen penelitian yang disusun menurut model Skala Likert dan wawancara kepada key informan yaitu : Inspektur Jenderal Depdiknas selaku pimpinan tertinggi di Inspektorat Jenderal Depdiknas dan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selaku pimpinan lembaga yang mengadakan sertifikasi Jabatan Fungsionai Auditor. Penelitian dilakukan terhadap seluruh auditor pada Inspektorat III inspektorat Jenderal Depdiknas yang seluruhnya berjumlah 71 orang dikurangi 2 orang yaitu : I orang sakit tetap dan I peneliti sehingga rnenjadi 69 responden. Tingkat respon responden maksimal dengan pengembalian instrumen mencapai 100%.
Bardasarkan analisis statistik menunjukkan : Dengan tingkat kepercayaan 95%, terdapat hubungan (korelasi) yang berarti antara pendidikan dengan kompetensi auditor pendidikan dengan tingkat hubungan cukup dan positif, sementara itu tingkat pengaruh pendidikan terhadap kompetensi auditor pendidikan adalah 20,43%. Terdapat hubungan (korelasi) yang berarti antara pelatihan sertifikasi JFA dengan kompetensi auditor pendidikan dengan tingkat hubungan cukup dan positif, sementara itu tingkat pengaruh pelatihan sertifikasi JFA terhadap kompetensi auditor pendidikan adalah 28,62%. Demikian pula, terdapat hubungan (korelasi) yang berarti antara pendidikan dan pelatihan sertifikasi JFA dengan kompetensi auditor pendidikan dengan tingkat hubungan kuat dan positif, sementara itu pengaruh tingkat pendidikan dan pelatihan sertifikasi JFA terhadap kompetensi auditor pendidikan adalah 40,20%.
Untuk meningkatkan kompetensi auditor pendidikan perlu dilaksanakan peningkatan kualitas auditor pendidikan melalui jalur pendidikan formal dalam bentuk penugasan belajar pada jenjang Sarjana maupun Pascasarjana dalam program-program studi yang relevan dengan pengawasan. Perlu pelatihan tambahan yang dapat meningkatkan kompetensi auditor pendidikan. Pimpinan Inspektorat Jenderal Depdiknas juga perlu berperan aktif dalam memotivasi dan memfasilitasi peningkatan kompetensi auditor pendidikan yang harus menguasai berbagai aspek pemeriksaan, baik administasi pendidikan (keuangan, perlengkapan, kepegawaian) maupun substansi pendidikan (pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi).

On the basis of Ministerial Regulation of Minister of National Education Number 12 year 2005 Regarding Organization and Work Guidance of Department of National Education Inspectorate General which have its job to undertake monitoring of assignment implementation in Department of National Education. In 1996 career of audit official entered a new era with the issuance of Decree of Minister of Government Official Empowerment (Kepmenpan) Number 19/1996 Regarding Position of Functional Auditor (JFA) and its Credit Point. With the issuance of this Ministerial Decree (Kepmenpan), an auditor who formerly regarded as structural officer now shifted to functional auditor. The important part of this regulation is that an auditor's formal education is a very influential in achieving ranks and positions beside JFA Certification Training. This change creates a gap in auditors' competence. This research is aimed to deeply comprehend perception of Inspectorate Ill auditors, Department of National Education inspectorate General towards JFA Certification Education and Training with regards to improvement of Educational auditors' competence.
The library research indicates that a person's competence is influenced by his/her education and training. In this research the indicator of competence refers to Spencer and Spencer's limitation of competence (1993 ; 9 - 11) reflecting characteristics of competence under 5 characteristics, namely: 1) Motives, something(s) that make(s) a person consistently thinks and performs actions. 2) Traits is certain personality which makes a person behaves or shows how a person responds to something in certain ways, 3) Self Concept is attitude or values holds by a person. 4) Knowledge is information possessed by a person in certain fields. Knowledge is a complex competence. And 5) Skill is capability to execute certain job(s) physically and mentally.
The research was conducted by collecting data in three ways namely library study, questionnaire, the instrument used is questionnaires arranged based on Likert's model scale and interview to the key informant-Department of national education inspector general, and the highest official in department of National education Inspectorate General and Head of Auditing Educational and Training Center of Financial and Development Supreme Audit (BPKP) as the guidance body that holds certification of Functional auditor Post. This research is conducted to all auditors of Inspectorate III, Department of National Education Inspectorate General totaling 71 persons minus 2 persons due to permanent illness (1) and researcher (1) equal to 69 respondents. The level of respond of these respondents is maximum with 100% instrument return.
The statistic analysis show as follows: with 95% level of trust, there is a significant correlation between competence of Educational Auditor with a positive correlation, while the influence of education on the competence of educational auditor is 20,43%. There is a significant correlation between JFA Certification training and competence of Educational auditor with a relatively positive relationship, while the influence of JFA Certification towards competence of Educational auditor is 28,62%. Similarly there is a significant correlation beteen JFA Certification training and competence of Educational auditor with a strong and positive level of relationship, while the influence of JFA certification education and training towards competence of educational auditors is 40,20%.
To improve competence of educational auditors, a quality improvement is needed through formal education and study assignment in the undergraduate as well as post graduate programs in subjects relevant to audit and monitoring. Additional training should be carried out in order to improve competence of Educational Auditor. Chief of Department of National Education Inspectorate General need also to actively take parts in motivating and facilitating competence improvement of Educational Auditors who must master various aspects of auditing, not only educational administration (financial, Equipments, officials) but also substantial of education (basic education, intermediate education, and higher education).
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22472
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Tiurma Juliani
"Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan Risk Based Internal Audit RBIA dan perencanaan audit dengan pendekatan risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Perindustrian. Penelitian ini menggunakan kuesioner dan checklist tingkat kematangan risiko, wawancara, serta simulasi pemeringkatan risiko sederhana. Penghambat pelaksanaan RBIA secara optimal yaitu: sumber daya manusia; waktu audit; software audit; komitmen pimpinan; prioritas risiko; penilaian risiko; peraturan, prosedur, dan kebijakan; audit; serta monitoring dan evaluasi. Penghambat perencanaan audit dengan pendekatan risiko secara optimal yaitu: faktor risiko; auditor tidak berpartisipasi dalam rapat pembahasan faktor risiko; serta auditor tidak mengevaluasi ulang faktor risiko. Kata kunci:Faktor penghambat pelaksanaan RBIA; faktor penghambat perencanaan audit dengan pendekatan risiko; faktor risiko; kementerian perindustrian; manajemen risiko; program kerja pengawasan tahunan; risk based internal audit RBIA ; sistem pengendalian internal.

This qualitative descriptive study aims to determine the factors that hinder the implementation of Risk Based Internal Audit RBIA and planning the audit with risk approach in the Inspectorate General of the Ministry of Industry. This study is using questionnaires, checklists of risk maturity level, interviews, and simple risk scoring simulation. The study shows that inhibiting optimal implementation of RBIA are human resources audit time audit software management commitment risk priority risk assessment regulations, procedures, and policies audit and monitoring and evaluation. Inhibiting the audit plan using risk approach run optimally are the risk factors auditor does not participate in the meeting discussion of the risk factors and the auditor are not re evaluate risk factors, etc. Keywords Annual supervision work program internal control system ministry of industry obstacles in implementing RBIA approach obstacles in implementing risk based audit planning risk factor risk management risk based internal audit RBIA."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daviq Suparwanto
"ABSTRAK
Permasalahan dalam pengadaan barang/jasa sering terjadi karena faktor kompetensi sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi Anggota Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) dengan berbasis risiko dalam rangka meningkatkan kinerja pengadaan. Analisis kompetensi dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor risiko dalam tugas dan kewenangan Pokja ULP, kemudian dianalisis sehingga diketahui risiko dominan. Terhadap risiko yang dominan kemudian dirumuskan respon preventif dan korektif. Penelitian ini menghasilkan kompetensi Anggota Pokja ULP pada aspek pengetahuan dan keterampilan berdasarkan risiko tersebut. Hasil penelitian ini kiranya dapat dipergunakan dalam rangka pengembangan standar kompetensi bagi Anggota Pokja ULP.

ABSTRACT
The main problem in a procurement process is often caused by human competency factor. This research aimed to analyze Procurement Service Unit Working Group Members competency through risk based analysis to increase procurement performance. Competency analysis was conducted by identifying risk factors within their duties and authorities, and then was analyzed to determine the dominant risk in order to generate preventive and corrective response. This research resulted in the competency in knowledge and skill aspect based on the risk. This result is expected to be beneficial in the development of competency standard for Procurement Service Unit Working Group Member.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T45517
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rida Risman
"Penelitian ini membahas mengenai pengaruh Pendidikan Profesional Berkelanjutan PPL dan Audit Capacity Stress ACS terhadap kualitas audit. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan analisis regresi logistik binomial dengan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPL berpengaruh positif terhadap kualitas audit dengan 3 pengukuran ukuran Kantor Akuntan Publik KAP yang berbeda yaitu KAP Big 4, KAP Big 20, dan KAP yang bekerjasama dengan Kantor Akuntan Publik Asing KAPA / Organisasi Audit Asing OAA . Audit Capacity Stress berpengaruh negatif terhadap kualitas audit dengan pengukuran KAP Big 20 dan KAP yang bekerjasama dengan KAPA/OAA. Sedangkan untuk ukuran KAP Big 4, audit capacity stress ditemukan tidak memiliki hubungan terhadap kualitas audit. Implikasi dari penelitian ini bahwa regulator perlu membatasi jumlah klien yang ditangani oleh Akuntan Publik per tahunnya agar kualitas audit dapat tetap terjaga.

This study investigates the influence of Continuing Professional Education CPE and Audit Capacity Stress ACS on Audit Quality. This study uses binomial logistic regression using SPSS 20 software. The results show that CPE has positive significant influence to audit quality in three different measurements with regards to the size of Public Accounting Firms that are Big 4 Accounting Firms, Big 20 Accounting Firms and International Accounting Firm Affiliations. Audit Capacity Stress is found to have significant negative influence in Big 20 Accounting Firms and International Accounting Firm Affiliations. While in Big 4 Accounting Firms, Audit Capacity Stress is found to have no impact on audit quality. Implication from this study is that there should be regulations regarding the maximum number of clients per Public Accountant per year in order to mantain audit quality."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
S65904
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farida Rusnianah
"ABSTRAK
Dokter sebagai gate keeper di fasilitas kesehatan tingkat pertama FKTP , memerlukan kompetensi pelayanan komprehensif berpusat pada pasien, sebagai komponen utama pelayanan kesehatan primer, namun kemampuan dokter dalam pelayanan berpusat pada pasien di FKTP masih rendah. Optimalisasi implementasi sistem pelayanan kesehatan berjenjang dan program rujuk balik, merupakan program Jaminan Kesehatan Nasional yang keberhasilannya ditentukan oleh dokter di FKTP, oleh karena itu diperlukan terobosan pembelajaran dengan situasi nyata di tempat kerja, serta penilaian terstandar diperlukan untuk meningkatkan kompetensi dokter dalam pelayanan komprehensif berpusat pada pasien.Penelitian ini bertujuan membuat Model pembelajaran dan penilaian berbasis tempat kerja PPBTK untuk meningkatkan kompetensi pelayanan komprehensif berpusat pada pasien bagi dokter di FKTP. Desain penelitian adalah ldquo;Penelitian Tindakan rdquo; 4 tahap yaitu ldquo;Tindakan Diagnosis rdquo; dengan metode survei. responden terdiri 96 pasien, 56 dokter, dan 64 pendidik, bertujuan mendapatkan indikator pelayanan komprehensif berpusat pada pasien, ldquo;Tindakan Perencanaan rdquo; dengan metode Delphi, responden terdiri 2 orang ahli pendidikan kedokteran, 5 orang ahli pelayanan primer, bertujuan menyusun Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Tempat Kerja PPBTK yang tervalidasi dengan expert judgment, ldquo;Tindakan Implementasi rdquo; sebagai uji coba model, dengan rancangan eksperimen kuasi, terdiri 13 dokter sebagai kelompok intervensi dan 12 dokter sebagai kelompok kontrol. ldquo;Tindakan Evaluasi rdquo; dengan metode Kirkpatrick untuk membuktikan efektivitas model.Sebanyak 33 indikator dinilai relevan untuk mengukur pelayanan komprehensif berpusat pada pasien, menjadi instrumen Self Assessment dan Direct Observation. Case-based Discussion yang teruji konsistensinya, menjadi instrumen penilaian pertemuan modifikasi Balint group. Kompetensi ranah kognitif, afektif dan psikomotor sebelum dan sesudah intervensi Model PPBTK berbeda bermakna p value < 0,05 . Hasil uji SEM-PLS menunjukkan model efektif untuk meningkatkan kompetensi pelayanan komprehensif berpusat pada pasien di FKTP. Kata Kunci. pelayanan berpusat pada pasien, pelayanan komprehensif,pembelajaran berbasis tempat kerja.

ABSTRACT
Doctors as gatekeepers at First Level Healthcare Facility FLHF require a patient-centered and comprehensive care competency. The patient-centered care competency is necessary to determine the optimization of referral program in the National Health Insurance program implementation. Thus, learning methods with real situations in the workplace and standardized assessment are also required. The study design was Action Research with 4 stages. The first stage was diagnosing action supported by survey method. This stage consisted of many respondents involving 96 patients, 56 doctors, and 64 lecturers. The determination of respondents in the first stage was aimed to obtain a patient-centered and comprehensive care indicator. Second stage namely planning action supported by Delphi method with 2 medical education experts and 5 primary care specialists as respondents. The determination of the respondents in the second stage was to develop Workplace-Based Learning and Assessment WPBLA Model validated with expert judgment. The third stage was taking action as the test model with a quasi-experimental design, consisting of 13 doctors as an intervention group and 12 doctors as a control group. The last stage was evaluating action measures with Kirkpatrick method purposed to prove the effectiveness of the model. As many as 33 indicators were assessed to be relevant for evaluating patient-centered and comprehensive care. Case-based Discussion which its consistency had been tested, functioned as instruments of Balint Group meeting modification. The cognitive, affective and psychomotor domains before and after the intervention of WPBLA Model was significantly different p value < 0.05 . The SEM-PLS test showed the WPBLA was effective in improving patient-centered and comprehensive care competency at FLHF. Keywords. comprehensive care, patient-centered care, workplace-based learning. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>