Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 81395 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Stres kerja pada perawat dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan perubahan
perilaku yang pada akhirnya akan mempengaruhi mutu pelayanan kesebatan. Stres
kerja adalah perasaan tertekan yang dialami perawat dalam menghadapi pekerjaan.
Stresor datang dari lingkungan kerja seperti faktor lingkungan, manajemen tempat
kerja, dan individu. Penelitian tentang stagnasi pasien di Instalasi Gawat Darurat
RSUD Karawang beriujuan untuk mengetahui gambaran stagnasi pasien di
Instalasi Gawat Darurat RSUD Karawang dan untuk mengetahui gambaran stres
kerja perawat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif sederhana dengan
desain cross sectional. Sampel diambil dari total perawat yang bekerja di Instalasi
Gawat Darurat RSUD Karawang sebanyak 21 orang. Analisa data disajikan dalam
bentuk distribusi frekuensi dan proporsi. Hasil penelitian menunjukan bahwa
sebagian besar perawat adalah Iaki-laki (71,4%) dan berusia antara 26-30 tahun
(47,6%) dengan pendidikan hampir semua (90,S%) D3 keperawatan. Masa kerja
perawat kurang dari 5 tahlm (57,1%) dengan status pegawai kontrak (57,1%).
Hampir semua (90,5%) perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Karawang
mengalami stres-sedang dengan penyebab utama lamanya perawatan. Perawat
menyatakan bahwa pasien di lnstalasi Gawat Darurat RSUD Karawang dirawat
lebih dari dua puluh empat jam (95,2%)."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
TA5595
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwigi Mulya Adam Ginanjar
"Penelitian bertujuan untuk menjelaskan gambaran faktor risiko psikososial dan stres kerja pada perawat pelaksana ruang instalasi bedah sentral RSUD Sekarwangi Sukabumi tahun 2023. Penelitian menggunakan metode mix method dengan desain penelitian the explanatory sequential. Sampel penelitian merupakan perawat pelaksana ruang instalasi bedah sentral RSUD Sekarwangi Sukabumi. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner dan wawancara. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68,2% penghasilan di bawah UMR, 63,6% bekerja tidak secara rotasi, 54,5% lingkungan fisik baik, 77,3% tanggung jawab tinggi, 90,9% konflik peran rendah, 77,3% pengembangan karir rendah, 68,2% home-work interface tinggi, dan 54,5% dukungan sosial tinggi. Pihak RSUD Sekarwangi Sukabumi diharapkan dapat lebih memperhatikan dan mengendalikan faktor risiko stres kerja pada perawat.

The study aims to explain the description of psychosocial risk factors and work stress in the nurses implementing the central surgical installation room of RSUD Sekarwangi Sukabumi in 2023. The study used a mix method with the explanatory sequential research design. The research sample was the nurse implementing the central surgical installation room of RSUD Sekarwangi Sukabumi. Data collection was carried out by filling out questionnaires and interviews. Data analysis was performed using descriptive analysis. The results showed that 68.2% of income was below UMR, 63.6% work not on rotation basis, 54.5% good physical environment, 77.3% high responsibility, 90.9% low role conflict, 77.3% low career development, 68.2% high home-work interface, and 54.5% high social support. RSUD Sekarwangi Sukabumi is expected to pay more attention and control all the risk factors causing work stress in nurses."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sugijanto
"Profesi guru seperti juga tenaga kerja lainnya, tidak dapat terhindar dari penyakit akibat kerja, khususnya yang bersifat psikologis yaitu stres. Akibat stres dapat menunmkan performent kerja dan meningkablya absen ketidakhadiran. Apabila tingkat stresnya kronis maka dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti : serangan jantung, tekanan darah tinggi, tukak, ashma, emphysema, rematik, migraine dan sakit pinggang. Penelitian dilakukan pada guru-guru SLTP Negeri di wilayah Jakarta Pusat dengan subyek penelitian tentang stres yang berhubungan dengan faktor demagrafi dan faktor pribadi.
Metode penelitian adalah survai bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dimana faktor demografi dan faktor pribadi merupakan variabel independen dan stres merupakan variabel dependent Data diolah menggunakan program SPSS dengan uji univariat, bivariat dan multivariat.
Berdasarkan uji statistik bahwa dari 326 responeden yang tergolong stres berjumlah 168 orang (51,5 %) dan yang tergolong tidak stres berjumlah lebih kecil yaitu 158 orang ( 48,5 % ). Dari 10 variabel (faktor demografi : umur, jenis kelamin, lama tahun mengajar, tingkat pendidikan, status perkawinan dan faktor pribadi : idealis, ambisi, tegang, kebutuhan dihargai, penilaian diri rendah ) terdapat 4 variabel yang mempunyai hubungan secara bermakna dengan stres, yaitu lama tahun mengajar dengan nilai P : 0,040 (P < 0,05 ), idealis dengan nilai P : 0,023 (P < 0,05 ) tegang dengan nilai P : 0,000 (P < 0,05) dan penilaian diri rendah dengan nilai P : 0,000 (P < 0,05 ).
Ternyata faktor pribadi mempunyai peran lebih besar dalam hubungannya dengan stres karena terdapat 3 variabel yang menimbulkan adanya hubungan secara bermakna dengan stres, artinya pribadi guru merupakan faktor yang kuat dalam hubungannya dengan kejadian stres. Namun lama tahun mengajar merupakan variabel yang dominan diantara. 10 variabel yang paling kuat mempunyai hubungan secara bermakna dengan stres berdasarkan uji multivaliat, artinya bahwa semakin lama berkecimpung dalam pendidikan yaitu sebagai guru maka semakin tinggi tingkat kerentanan terhadap stres. Walaupun hal ini juga dipengaruhi oleh faktor pribadi seperti telah dijelaskan.
Untuk menurunan tingkat kerentanan terhadap stres, pribadi guru merupakan pertahanan yang handal dalam menghadapi segala jenis stressor, dalam hal ini perlu menerapkan menejemen stres dengan benar, meningkatkan pelatihan pengembangan pribadi guru supaya berhasil menghindarkan pribadi yang rapuh, misalnya terlalu tegang, mempunyai penilian diri yang rendah, idealis yang terlalu tinggi dan faktor pribadi lainnya sebagai stressor.

Teacher profession as another workers could not be avoided from occupational diseases, especially psychological diseases like stress. The effect of the stress may decrease the performance of the work and increase the absence. In chronic level of stress brings various of diseases such as: heart attack, high blood pressure, gastritis, asthma, emphysema, rheumatic, migraine and kidney diseases. This study was conducted on Government junior high school teachers in Central Jakarta with subject of the study was stress related to demographic and personal factors.
The method was analytic descriptive of survey with cross-sectional approach where the cause of the stress become the independent variable and stress level become the dependent variable. The data was analyzed with SPSS program through univariate, bevariate and multivariate analysis. From 326 respondent who really feel stress were 168 teachers ( 51.5 % ) and unstressed were lower 158 teachers ( 48.5 % ). From 10 variables (demographic factors age, sex, school level, year of teaching, , marital status and personality factors _ idealist, ambitious, tense, self esteem, low self esteem ) there were 4 variables have the significant relationship with stress ; year of teaching where value P : O. 040 (P < 0.05 ); idealist where value P : 0.023 (P < 0.05 ) ; tense where value P : 0.000 (P < 0.05 ) and low self.
The personality factors fact showed larger actor relationship with stress, because was found 3 variables was significant relationship with stress. This is means teachers personality is larger factors in the relationship with sires. Not withstanding the year of teaching to shape the dominant variables between 10 variables strongest was significant relationship with stress in the based univariate analyst, this is means so much the involved in education that is a. teacher therefore so much high the level of resistance in the stress. Although about that influence by the personality factors too as the clear.
To decrease the level of resistance on stress, there for in any type of stressor depend on the personality it self when a stressor was seriously responded then the response would be serious and vice versa when the stressor was un-seriously responded and make it as common occurrence or think it as the comedy occurrence then our body would be more adaptive facing the stressor, it means we have the high resistance on stress because we was success to manage the stressors."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mesayu Hesti Azizah
"Latar belakang dan tujuan:
Sebagai asset bagi perusahaan, pekerja offshore harus sehat baik fisik maupun mental untuk dapat mencapai kreativitas dan produktivitas tertinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dan gangguan mental.
Metode:
Penelitian ini menggunakan rangcangan kros seksional dengan 125 orang responder. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosiodemografi responden, kebiasaan responden, karakteristik lingkungan kerja, pengukuran stres kerja dengan menggunakan kuesioner survai diagnosis stres dan pengukuran gangguan mental dengan menggunakan kuesioner symptom check list-90.
Hasil dan kesimpulan:
Pekerja offshore yang diduga memiliki gangguan mental sebanyak 47,2%. Jenis gangguan mental terbanyak adalah sensitifitas interpersonal kemudian obsesif konpulsif (21,6%) dan phobia (19,2%). Stres kerja tidak berpengaruh secara bermakna terhadap risiko terjadinya gangguan mental. Perkembangan karir adalah stresor dominan dengan nilai P paling kecil (0,069) tetapi belum bermakna. Faktor karakteristik responden yang secara bermakna berhubungan dengan gangguan mental adalah pendidikan. Faktor karakteristik responden yang secara bermakna berhubungan dengan stres kerja adalah pangkat dan status pernikahan. Bising kerja secara bermakna berpengaruh terhadap timbulnya stres kerja.

Background and Objective:
As an asset to company, offshore personals have to stay healthy both physically and mentally to be highest creativity and productivity. The aim of this research is to study job stress and mental disorders relationship.
Methods:
This study was using cross sectional design that had 125 respondents. The data collected were respondent's characteristic of socio demography and habit, work environment's characteristic, measurement of job stress by using Survey Diagnostic Stress Questionnaire and measurement of mental disorders by using Symptoms Check List-90 Questionnaire.
Result and conclusion:
The offshore personals that presumed as mental disorders in this study is 47,2%, the prone symptom of mental disorder is interpersonal sensitivity (24,8%) followed by obsessive compulsive (21,6%) and phobia (19,2%). Job stress isn't influence the prevalence of mental disorder. Career development is job stressor that has smallest value of significance but the value isn't small enough to be significant. Respondent characteristic factor that has a significant relationship to mental disorders is education level. Respondent characteristic factors that show a significant relationship to job stress are job grade and marriage status but the prone is job grade. Working noise is the work environment characteristic that has a significant relationship to job stress.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13625
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Laksmisari Darya Yuwono
"Bekerja pada shift malam adalah periode yang sulit bagi pekerja. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, kerja shift malam dapat menimbulkan gangguan: tidur, neurologis umum, pencernaan dan juga gangguan kehidupan sosial. Gangguan-gangguan itu dapat meningkatkan absentisme pekerja dan merendahkan produktifitas kerjanya. Hal tersebut juga dapat dilihat dari lebih tingginya prosentase absensi karyawan Direct Soap (shift) dari prosentase karyawan Personnel (non shift).
Tujuan penelitian ini adalah untuk nengetahui apakah kelompok shift malam mempunyai angka ketidakthadiran yang lebih tinggi dan produktifitas yang lebih rendah daripada kelompok shift-pagi/siang. Jenis penelitian ini adalah studi prospektif dengan pengambilan sampel secara purposif. Data primer tentang gangguan yang diderita diambil dengan cara pengisian kuesioner selama 3 minggu. Data sekunder tentang absensi, produksi dan kecelakaan kerja dari seluruh pekerja Production Line Pabrik Sabun diambil selama 9 minggu. Teknik analisa yang digunakan adalah Chi-Square, Risiko Relatif, Analysis of Variance dan T-tes. Pengolahan data dan perhitungannya dilakukan dengan Statistical Analysis Package.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja shift malam mempunyai risiko menderita gangguan tidur, gangguan syaraf dan kelelahan lebih tinggi dari pekerja shift sore dan pagi. Selain itu pekerja shift malam mempunyai produktifitas kerja lebih rendah dan melakukan kesalahan kerja yang lebih tinggi dari pekerja shift sore dan pagi. Pekerja shift sore mempunyai risiko menderita gangguan kehidupan sosial lebih tinggi dari pekerja shift malam dan pagi. Selain itu angka ketidakhadiran pekerja shift sorepun lebih tinggi daripada shift pagi dan malam. Gangguan pencernaan tidak didapat hubungan nyatanya dengan kerja shift. Kecelakaan kerja tidak terjadi selama masa penelitian, jadi tidak dapat diambil kesimpulan tentang hubungan antara kecelakaan kerja dengan kerja shift.
Selanjutnya disarankan untuk membagi dua waktu istirahat shift malam, agar para pekerja shift malam tersebut terhindar dari rasa lelah dan kejenuhan."
Depok: Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Kartika Kusumanegdewi
"Tidak semua pekerja menyadari bahwa dirinya sedang mengalami stres secara psikologis terhadap pekerjaannya, yang dapat mambahayakan bagi pribadi, menurunkan performansi kerja, dan merugikan perusahaan. Saat ini sudah berkembang banyak penelitian di bidang human factor tentang stres pekerjaan (job stress), meliputi: faktor penyebab stres, dampak stres pada karyawan, serta solusi untuk menghindari terjadinya stres pekerjaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem manajemen job stress berbasis Knowledge Based - Decision Support System (KB-DSS) dan Manajemen Proyek (PM) dengan memperhatikan Human Factor sebagai alternatif solusi pencegahan stres. Aspek Human Factor didapat dari analisa faktor penyebab stres serta assessment terhadap deskripsi pekerjaan dengan pihak manajemen menggunakan metode Hierarchical Task Analysis (HTA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan IT BSS menunjukkan reaksi stres dengan faktor yang paling berpengaruh adalah kurangnya waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga penerapan sistem manajemen job stress ini diharapkan mampu mengurangi resiko terjadinya stres, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan kualitas layanan IT BSS.

Workers seldom realize they are stress because of their job, which could harm themselves, decrease productivity, and less contribute to company. There are numerous research on human factor of job stress, including: source of stress, side effect of stress on worker, and solution to avoid job stress situation.
This research aim to develop jobs stress management system based on Knowledge Base - Decision Support System (KB-DSS) and Project Management (PM) by considering human factor as alternate solution to reduce stress. Human factor can be obtained by analyzing source of stress and assessment on job description with management team with Hierarchical Task Analysis (HTA) method.
This research conclude many IT BSS (Information Technology ? Business Support System) workers show stressful reaction to the most impacting factor is tight deadline, hence implementing job stress management system could reduce stress and improve quality of IT BSS product and service.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31172
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zackya Yahya Setiawan
"ABSTRAK
Latar belakang dan tujuan
Pekerja redaksi merupakan aset utama bagi suatu perusahaan media cetak. Mereka bekerja dengan deadline yang sangat ketat, oleh karena itu mereka harus senantiasa sehat secara fisik, mental dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan stres kerja dan hubungannta dengan kecenderungan gejala gangguan mental emosional.
Metode
penelitian ini menggunakan desain potong melintang dengan analisis perbandingan internal. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosiodemografi responden, karakteristik lingkungan kerja, data pengukuran stres kerja dengan menggunakan kuesioner Survey Symptomp Check List 90 (SCL-90), serta data pengukuran tingkat kebisingan, pencahayaan, dan suhu kelembaban di lingkungan kerja.
Hasil
Dari 100 responden didapatkan prevalensi kecenderungan gejala gangguan mental sebesar 38% dengan kecenderungan gejala terbanyak adalah psikotism 36%, somatisasi dan paranoid masing-masing 33% serta obsesif-konvulsif 29%. Stres kerja bermakna berhubungan dengan kecenderungan gejala gangguan mental emosional melalui stresor pengembangan karir (p 0.00, OR 13,75, CI 3.69.51.11). Jenis stres kerja yang dominan terhadap stres kerja adalah beban kerja berlebih kuantitatif 83%. Faktor karakteristik yang bermakna berhubungan dengan stres kerja adalah pendidikan pada stresor beban kerja berlebih kuantitatif (p 0.00, OR 0.17, CI 0.05-0.52), asa kerja pada stresor konflik kerja (p 0.04, OR 2.72, CI 1.04-7.09), dan olah raga pada stresor tanggung jawab terhadap orang lain (p 0.00 OR 4.66 CI 1.66-13.08 ). Faktor kebiasaan yang bermakna berhubungan dean stres kerja adalah merokok pada stres tanggung jawab terhadap orang lain (p 0.00 OR 4.77, CI 1.37-11.64).
Kesimpulan
Stres kerja mempunyai hubungan bermakna dengan kecenderungan gejala gangguan mental emosional melalui stres pengembangan karir. Pendidikan merupakan faktor protektif terhadap stres kerja pada stresor bebas kerja berlebih kuantitatif. Masa kerja pada stresor konflik peran dan olah raga pada stresor tanggung jawab terhadap orang lain berisiko mengkonsumsi rokok empat kali lebih banyak dibanding dengan responden yang tidak stres.

Background and Objectives
The joumalist is a valuable asset for publishing company. They work with a very strict deadline and that requires them to have a good state ol' physical, mental, and social health. This research aims to find out the existance of work-related stress and its relationship with die tendency of acquiring symptom ot' mental emotional disorder.
Method
This research uses a cross sectional design with internal comparison analysis. The data collected were respondent?s characteristic of sociodemograplty, work envirenmcnfs characteristic, measurement of work-related stress by using Survey Disgnostic Stress questionnaire, data of the tendencies of acquiring symptom of mental emotional disorder by using Sympromp Check Lis! 90 (SCL-90), and data measurement of noise, lighting, and moisture level within work environment.
Result
From 100 respondents, it was found that the prevalence ofthe tendency of acquiring symptom of mental emotional disorder is 58% with tendency of phsyeotism 36%, somatisation and paranoid symptoms each of 33%, and obsesive-convulsive 29%. There is signilieant relationship between work-related stress and the tendency of acquiring symptom of mental emotional disorder on stressor of carrier development (p 0.00, OR 13. 7.5, CI 3.69-51.11 ). The dominant stressor is role of overload quantitative 83%. The significant characteristic relationship to work-related stress is education on stressor of role of overload quantitative (p 0.00. OR 0.17, CI 0.05-052), work period on stressor of role of conflict (p 0.04, OR 2.72, CI L04-7.09), and time spent on exercise on strcssor of responsibility for people (p 0.00, OR 4.66, C7 1.66-l3.08). Smoking has significant relationship to work-related stress on stressor of responsibility for people (p 0. 00, OR 4. 77, CI 1.37-11.64).
Conclusion
Work-related stress has a signilieant relationship with the tendency of acquiring symptom of mental emotional disorder on strcssor of carrier development. Education is a work-related stress protective factor on strcssor of role of overload quantitative. Work period on stressor of role of conflict and time spent on exercise on strcssor of responsibility for people have a siginificant relationship to stress at work. Respondent who experiences work-related stress because of stressor of responsibility for people has a greater tendency to smoke tour times more than one who does not experience it.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
D773
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lumban Gaol, Nova M.
"Stres mengakibatkan masalah pada kondisi fisik dan kesehatan psikologis pekerja, bahkan dapat membuat produktivitas pekerja menurun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi perjalanan ke tempat kerja yang tidak kondusif dapat memicu terjadinya stres. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat stres kerja dan jenis mekanisme koping pada pekerja, dan melihat hubungannya dengan karakteristik pekerja yang menggunakan jasa Kereta Listrik dari Bogor-Jakarta setiap hari. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sampel kelompok pekerja sebesar 106 orang yang dipilih dengan teknik quota sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja (56,6%) mengalami stres kerja dalam tingkat sedang dan memiliki distribusi frekuensi yang hampir sama antara pekerja yang memiliki mekanisme koping adaptif (50,9%) dan maladaptif (49.1%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat penghasilan pekerja (p=0,006) dan lama menjadi pekerja (p=0.006) memiliki hubungan dengan tingkat stres kerja dan status pernikahan pekerja (p=0,022) memiliki hubungan dengan mekanisme koping.

Stress effected physical and psychological problems of workers health, even decreasing worker productivity. Several studies have shown that the un-conducive journey to workplace lead to stress. This study aims to describe stress levels, types of coping mechanism, and both relationship with characteristic’s workers who use the services of Electric Trains at Bogor-Jakarta route every day. This study used cross-sectional design, using a sample group by 106 people that chosen by quota sampling technique.
The results showed that majority of workers (56.6%) experiencing moderate levels of stress work, and have nearly the same frequency distribution among workers who have adaptive coping mechanisms (50.9%) and maladaptive (49.1%). The results also showed that the level of labor income (p = 0.006) and duration become a worker (p = 0.006) had a relationship with the level of work stress, and marital status of workers (p = 0.022) had a relationship with coping mechanisms.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
S46004
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amrul M. S. Baroos
"Tidak diragukan lagi bahwa gangguan kesehatan mental karyawan dapat menimbulkan akibat-akibat yang serius bagi perusahaan maupun industri. Sebagai contoh: depresi, kehilangan harga diri, tekanan darah tinggi, kecanduan alkohol ataupun ketergantungan obat semuanya memperlihatkan hubungan dengan kesehatan mental (Ivancevich & Matteson,1980). Kesemua hal yang disebutkan ini berpengaruh langsung terhadap perusahaan baik dari segi sumberdaya manusia maupun keuangan perusahaan.
Demikian juga halnya dengan penyelam, adanya gangguan kesehatan mental pada penyelam akan memberikan pengaruh yang sangat serius tidak saja bagi diri penyelam itu sendiri tetapi juga kerugian pada perusahaan yang mempekerjakan penyelam tersebut secara operasional maupun moral, yang akhirnya bermuara pada kerugian finansial. Seberapa besar kemungkinan seorang penyelam mendapat gangguan kesehatan mental paling tidak dapat disimpulkan dari gambaran tentang pekerjaan serta lingkungan kerja yang digeluti seorang penyelam yang bekerja pada operasi perminyakan di lepas pantai sebagaimana yang digambarkan berikut ini.]
Penyelam adalah suatu profesi yang tidak dapat dikesampingkan dalam operasi pencarian dan pengeksploitasian lapangan minyak dan gas bumi di lepas pantai. Lingkungan pekerjaan dan cara-cara melakukan tugas yang harus dilaksanakan dengan menyelam di dalam laut sangatlah berbeda dengan lingkungan pekerjaan dan cara-cara bekerja yang dilakukan orang di darat. Lingkungan pekerjaan di dalam air menuntut ketahanan fisik dan kesehatan seorang penyelam tetap prima serta membutuhkan peralatan khusus yang harus dapat melindungi para penyelam dari pengaruh lingkungan kerja yang mengelilinginya. Beberapa perlengkapan selam yang dikenakan pada tubuh seperti pengatur aliran udara untuk bernafas, tangki cadangan udara, pakaian selam yang melindungi penyelam dari penurunan suhu badan, alat pemberat yang membantu penyelam untuk turun ke kedalaman yang lebih besar, sepatu selam dengan ship dan lain-lain peralatan, menuntut kemampuan penyelam untuk menyesuaikan diri dalam menggunakannya.
Pada pekerjaan menyelam yang membutuhkan waktu relatif lama serta kedalaman yang lebih besar, teknik dan peralatan yang digunakan lebih khusus lagi. Selain itu diperlukan pula suatu proses treatment terhadap penyelam untuk mengembalikan kondisi fisiknya kepada keadaan normal setelah baru saja mengalami tekanan-tekanan fisik ketika berada di kedalaman laut. Treatment dilakukan baik ketika sedang menyelam yaitu berupa penggunaan gas-gas campuran untuk meringankan pernafasan, maupun setelah selesai menyelam yaitu dengan proses dekompresi secara bertahap untuk mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ tubuh penyelam seperti pecahnya paru paru, pendarahan otak, keracunan gas dan lain-lain. Demikian pula lingkungan kerja di dalam laut yang sifatnya sangat berbeda dengan kondisi lingkungan kerja di darat, seperti ombak, arus laut, suhu yang dingin, tekanan air terhadap tubuh, bouyancy, visibility, maupun ancaman dari binatang laut merupakan stresor yang dapat memberikan tekanan secara fisik maupun psikis kepada penyelam. Di samping itu dibutuhkan kemaanpuan untuk dapat bekerja sendiri di dalam air karena keterbatasan jarak pandang serta adanya hambatan-hambatan untuk dapat berkomunikasi antara seorang penyelam dengan penyelam lainnya.
Bentuk pekerjaan yang dilakukan para penyelam pada operasi eksploitasi minyak dan gas bumi di lepas pantai sebagian terbesar merupakan pekerjaan-pekerjaan yang banyak hubungannya dengan pemasangan konstruksi bawah laut. Pemasangan pipa-pipa untuk mengalirkan minyak dan gas bumi, penempatan anjungan-anjungan produksi maupun anjungan pemboran pada posisinya yang tepat di dasar laut, pemeriksaan dan perbaikan kerusakan-kerusakan yang terdapat pada fasilitas bawah air karena adanya keretakan pada sambungan las kaki-kaki anjungan, kebocoran pipa-pipa alir minyak dan gas maupun kerusakan-kerusakan yang ada pada dinding kapal yang ada di bawah permukaaan air. Jenis pekerjaan yang diutarakan di atas melibatkan ukuran maupun bentuk benda-benda yang besar dan rumit dengan berat yang tidak biasa bila dibandingkan dengan ukuran, bentuk maupun berat benda-benda yang biasa ditangani di darat? "
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silaen, Ratna Nurlely
"Latar belakang. Nyeri haid yang berkaitan dengan kerja gilir, stres kerja merupakan salah satu gangguan haid yang mengganggu aktivitas sehari-hari wanita pekerja yang memerlukan pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.
Metode. Penelitian ini di unit produksi pabrik sepatu PT `H' di Tangerang bulan Mei-Juni 2004. Analisis memakai pendekatan rasio odds.. Kasus adalah subyek yang mengeluh nyeri haid yang memerlukan pengobatan (NHMO). Kontrol adalah subyek yang mengeluh nyeri haid tetapi tidak memerlukan pengobatan, Kasus dan kontrol diidentifikasi melalui survei.
Hasil. Kasus sebanyak 80 orang dan kontrol 80 orang. Kaitan stresor kerja dengan keluhan NHMO tidak dapat dibuktikan secara statistik. Sedangkan, keluhan NHMO lebih kecil sebanyak 67% di antara yang berpendidikan SLTA/Akademi dibandingkan pekerja berpendidikan SMP [rasio odds (OR) suaian = 0,33; 95% interval kepercayaan (CI) = 0,09-1,13]. Pekerja yang sudah melahirkan anak 59% lebih kecil mengalami keluhan NHMO (OR suaian = 0,41; 95% CI = 0,20-0,82) dibandingkan dengan yang belum pernah melahirkan. Lebih lanjut, wanita pekerja yang bekerja secara gilir 43% lebih kecil untuk mengalami keluhan NHMO (OR suaian = 0,57; 95% CI = 0,25-1,31) bila dibandingkan dengan yang tidak bekerja gilir. Bila dibandingkan dengan yang hanya untuk membantu keluarga, pekerja yang berperan sebagai pencari nafkah utama keluarga 5 kali lebih besar untuk mengalami keluhan NHMO (OR suaian=5,34; 95%CI=1,01-28,32).
Kesimpulan: Perhatian khusus perlu diberikan kepada pekerja yang berpendidikan SMP, yang bekerja tidak gilir, pencari nafkah utama keluarga, atau yang belum mempunyai anak terhadap keluhan nyeri haid yang memerlukan pengobatan.

The Relationship Between Work Stressors And The Dysmenorrhoea With Therapy Among Of Shoes Employees At PT 'H' In TangerangBack ground Dysmenorrhoea is one of menstrual dysfunction which can found and makes problems, among others related to shift work, job stress. Therefore, the objective of this study was to identify the relationship those risk factors.
Methods. This study was carried out among workers at PT in Tangerang during May to June 2004. The analysis using odds ratio to ident the risks, Case was those who had dysmenorrhoea who needed medication (DIVM), whiles control was those who did not need medication.
Result. There were 80 cases and 80 controls. There was noted that no relationship between job stressors and DMv!.. The factors related to DNM were education, parity. shift work, and the function in the family. Compared to lower junior high school workers, senior high school or undergrade had a lower risk being DNM for 67% /adjusted odds ratio (OR) = 0.33; 95% confidence interval (CI) ; 0.09-1.13]. In addition, those who had baby had 59% lowered being DNM than who did not have baby (OR = 0.41; 95% CI 0.20-0.82), and shift workers also had a lower risk of being DNM for 43% (OR 0.57; 95% CI 0.25-1.31). however, the main earners for family worker had higher risk DNM for 5.3 times than who work to increase their family income (OR = 5,34; 95% CI 1.01-28.32).
Conclusion. The workers who had lower education, no parity, and who were not in shift workers need special attention to lower DNM."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13654
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>